PENDIDIKAN ANAK USIA DINI DALAM HADIS RIWAYAT BUKHARI (SETIAP ANAK DILAHIRKAN DALAM KEADAAN FITRAH) 1,2,3 Satriyadi, 2Hemawati, 3Rendika Parinduri STAI Syekh H. Abdul Halim Hasan Al Ishlahiyah Binjai satriyadi@ishlahiyah. hemawati@ishlahiyah. rendikaparindurig@gmail. ABSTRAK Dalam Hadis disebutkan bahwa Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan suci. Hadis tersebut jelas menyebutkan bahwa setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah, polos bagai kain kanvas putih yang akan dapat dengan mudah dicoreti tinta warna apapun dan dengan bentuk gambar bagaimanapun sehingga orang tua akan dapat dengan mudah melukiskan dengan corak, warna dan model yang sesuai dengan Dalam hal ini seakan Rasulullah memberikan otoritas penuh kepada orang tua tanpa adanya campur tangan dari pihak lain sampai Rasulullah mengungkapkan bahwa anak . ari orang musli. tergantung atas orang tuanya yang mau membentuknya sebagai generasi Yahudi. Nasrani ataupun Majusi. Begitu besar tanggung jawab orang tua terhadap pendidikan anak sejak dini agar kelak besar nanti anak. Tujuan penelitian ini adalah: Untuk mengetahui apakah terdapat konsep pendidikan usia dini dalam hadis riwayat Bukhari tentang setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah dan untuk mengetahui nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam hadis Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, dalam menyusun dan menganalisa data dan hanya menggunakan bahan bacaan atau biasa disebut dengan penelitian pustaka . ibrary researc. Berdasarkan hasil analisis penelitian diatas, maka disini dapat penulis simpulkan hasil penelitian ini, yaitu: . Terdapat konsep pendidikan anak usia dini dalam hadis riwayat Bukhari tentang setiap anak yang dilahirkan dalam keadaan Konsep yang ada dalam hadis tersebut tentang perlunya peranan dan tanggungjawab orangtua dalam memberikan dan mengembangkan fitrah anak yang dibawanya sejak lahir. Karena Orangtua merupakan pendidik pertama dan utama bagi seorang anak. Lingkungan keluarga menjadi tempat pendidikan anak yang pertama, sehingga orangtua memiliki peranan yang utama dalam membesarkan dan mengembangkan fitrah keimanan seorang anak. Nilai-nilai pendidikan anak usia dini dalam hadis tersebut tentang keimanan yang sudah ada sejak lahir yaitu Islam. Untuk itu sebagai orangtua memiliki pengaruh yang sangat besar dalam membentuk dan mengembangkan keimanan seorag anak. Sehingga apabila seorang anak menjadi Majusi. Nasrani ataupun Yahudi, maka orangtuanyalah yang menjadikanya seperti itu. Oleh sebab itu, tanggungjawab orangtualah terhadap pendidikan tentang keIslaman yang dimiliki seorang anak. PENDAHULUAN Hadis yang merupakan sumber hukum Islam pertama setelah Alquran, dan menjadi sumber acuan dalam menetapkan hukum Islam, apabila tidak ditemukan di dalam Alquran, sehingga segala permasalahan yang tidak ditemukan di dalam Alquran, maka hadislah yang menjadi jalan keluarnya. Oleh karena itulah hadis sangat penting bagi umat Islam sebagai pedoman dalam melaksanakan ajaranajaran Islam. Allah telah mengisyaratkan kepada umat Islam agar mereka melaksanakan sunnah Nabi Saw sebagaimana mereka mengamalkan Alquran, karena keduanya merupakan satu kesatuan. Dalam Hadis disebutkan bahwa Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan suci. Hal ini berdasarkan hadis nabi yang berbunyi sebagai berikut: AI I I I O I EONO I O EI I EII I O NOA A CE EIO AEO NEE EON O EI EE IOEO OOE EO EA AONA: AO NEE IN CEA AONOIN O OIAN O IOIN EIE ENOI I ENOI NE O AON A Telah menceritakan pada kami adam telah menceritakan pada kami Ibnu Abi Dzi. b dari al-Wahri dari Abi Salamah b. Abdul Rahman dari Abu Hurairah ra berkata: Bersabda Nabi Saw setiap bayi yang dilahir dalam keadaan suci maka orang tuanyalah yang mempengaruhinya menjadi Yahudi. Nasrani atau Majusi sebagaimana ia tumbuh dan berkembang sampai jadi kakek-kakek. (HR. Bukhar. Untuk menjadikan insan yang bertakwa itu tentunya dibutuhkan pendidikan sejak dini bagi anak agar bisa tumbuh sesuai dengan harapan agama yang disebut dengan anak shaleh. Anak sholeh merupakan tuntutan agama yang juga menjadi harapan setiap orang tua tetapi tidaklah mudah untuk meraihnya, karena orang tua sebagai pendidik pertama . ist schoo. yang memiliki tanggung jawab terhadap perkembangan pendidikan anaknya. Muzir Suparta dan Utang Ranu Wijaya. Ilmu Hadits. Cet. II (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1. , hal. Al-Bukhari. Abu Abdillah. Muhammad Ibn Ismail. Sahih Bukhari (Istanbul: Dar Sahnun, 1. Nomor Hadis 456 Untuk itu sebagai orang tua dianjurkan mampu memotivasi perkembangan anak secara total yang mencakup fisik, emosi, intelektual dan religius-spiritua, bahwa Auperkembangan intelektual senantiasa dibarengi dan seirama dengan perkembangan religius adalah suatu keniscayaan dalam pendidikan IslamAy,3 sehingga dalam mengukirnya sesuai dengan ajaran agama agar terbentuk generasi yang stabil dalam mengarungi kehidupan dunia dan akhirnya selamat sampai kehidupan di akhirat nanti. Sudah menjadi keharusan bahwa pendidikan terhadap anak merupakan tanggung jawab orang tua sepenuhnya karena pada dasarnya anak lahir dalam keadaan fitrah. Hadis tersebut jelas menyebutkan bahwa setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah, polos bagai kain kanvas putih yang akan dapat dengan mudah dicoreti tinta warna apapun dan dengan bentuk gambar bagaimanapun sehingga orang tua akan dapat dengan mudah melukiskan dengan corak, warna dan model yang sesuai dengan kehendaknya. Dalam hal ini seakan Rasulullah memberikan otoritas penuh kepada orang tua tanpa adanya campur tangan dari pihak lain sampai Rasulullah mengungkapkan bahwa anak . ari orang musli. tergantung atas orang tuanya yang mau membentuknya sebagai generasi Yahudi. Nasrani ataupun Majusi. Begitu besar tanggung jawab orang tua terhadap pendidikan anak sejak dini agar kelak besar nanti anak tidak menempuh jalan yang sesat, diantara pendidikan terhadap anak sejak awal. Berdasarkan Hadis tersebut di atas, terdapat masalah yang akan dibahas yaitu: setiap anak yang dilahirkan dalam keadaan suci seperti kertas putih yang belum ditulis, sehingga yang menjadikannya berisi atau tertulis adalah orangtuanya. Jadi pendidikan yang diberikan oleh orangtua dapat mempengaruhi perkembangan anak-anaknya dimasa yang akan datang. Berdasarkan hadis tersebut setiap anak dilahirkan beragama Islam, namun karena ajaran dan didikan dari orangtualah setiapa anak tersebut bisa menjadi Yahudi atau Nasrani. Untuk mendidik jiwa keagamaan pada anak, orangtua harus dapat berperan aktif dalam menciptakan dan menumbuhkan jiwa keagamaan dalam diri anak. Abdurrahman MasAoud. Azan Di Telinga Anak. Dalam Nurcholish Madjid, dkk. Puasa Titian Menuju Rayyan. Cet. I (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2. , hal. Menurut Darajat kondisi keagamaan anak berkembang sejalan dengan perkembangan kejiwaannya. Jiwa keagamaan ini semakin berkembang pesat dengan bertambahnya pengetahuan tentang agama. 4 Pada usia empat sampai lima tahun misalnya, anak dengan kemampuan bahasanya telah memulai bertanya tentang surga, neraka, bagaimana cara menuju kesana, dan juga tentang Anak akan menerima semua jawaban yang diberikan tanpa Baru nanti ketika menginjak usia baligh ia mulai kritis, mencari jawaban secara rasional. Lalu bagaimana mengembangkan jiwa keagamaan anak tersebut? Menurut Ahmad Tafsir saran-saran berikut dapat membantunya: Kondisikan kehidupan di rumah tangga dengan kehidupan muslim, dalam segala hal. Sejak kecil anak-anak sering dibawa ke masjid, ikut salat, ikut mengaji, sekalipun ia belum menjalankannya dengan benar. Adakan pepujian di dalam rumah, musholla atau masjid. Pada saat libur sekolah anak kita masukkan kedalam pesantren kilat. Libatkan anak-anak dalam setiap acara keagamaan di kampung, seperti ramadlan, panitia zakat fitrah, panitia idul fitri dan idul qurban, dan Jadi anak dimungkinkan dapat mengenal Islam pada mulanya melalui tanda/media keIslaman seperti masjid dan lainnya. Terkadang anak juga mempertanyakan kepada orang tuanya tentang ketuhanan, sehingga anak berikutnya membiasakan diri untuk mengikuti orang tuanya dalam beribadah. Menurut Zakiyah. Rasa keagamaan seperti ini sudah mulai tumbuh disaat anak berumur enam tahun. Tentang jiwa keagamaan anak ini seperti dikutip Zuhairini menurut psikolog Sigmun Freud bahwa pada usia tiga tahun pertama sudah merasa akan adanya tuhan, sehingga dalam bentuk miniatur anak menganggap kedua orang tuanya sebagai tuhan. Anak beranggapan kedua orang tua adalah sumber keadilan, kasih sayang, kekuasaan dan pertolongan, bahkan pemberi segala Zakiyah Darajat. Ilmu Jiwa Agama (Jakarta: Bulan Bintang, 1. , hal. Ibid. Ahmad Tafsir. Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam (Bandung: Rosdakarya, 1. Zakiyah Darajat. IlmuA. Ibid. Tetapi setelah ia dewasa, dengan sendirinya ia mengetahui kekurangan orang tuanya, sehingga berubahlah orientasi ketuhanannya. Pada saat seperti itulah orang tua memiliki peran penting untuk membimbing dan memberikan pengetahuan tetang ketuhanan secara memadahi. Yakni memahamkan bahwa tuhan yang sebenarnya adalah Allah yang telah menciptakan semua manusia dan bukan orang tuanya seperti yang ia rasakan Demikian juga pendapat Dorothy Wilson bahwa anak secara tabiat mengakui adanya tuhan, yaitu ketika ia bermain boneka,lalu ia rusak, maka ia akan berdoa pada tuhan. Rumke menegaskan bahwa anak membenarkan adanya tuhan dan hal ini akan berkembang pesat ketika ia sampai usia akan baligh. Perkembangan jiwa anak pada usia empat atau lima tahun ketika menginjak usia taman kanak-kanak, ia mulai gemar menghafal doa-doa pendek yang diajarkan oleh pendidiknya di sekolahan atau keluarganya di rumah. Anak pada usia enam sampai sembilan tahun menurut Arifin sudah dapat mengerti sesungguhnya Allah adalah Tuhan pencipta alam raya, manusia, binatang, tumbuhan dan lain-lain. Pemahaman agama anak pada usia ini telah mulai menguat. Terbukti gemar melakukan ibadah meskipun atas perintah orang 11 Ia suka berdoa, beramal sesuai dengan kehendak Allah dan orang tuanya, rajin pergi ketempat-tempat pendidikan sekolah dengan temantemannya. Suka Sedangkan pemahamannya tentang kematian juga mulai tumbuh, terlebih ketika ditinggal mati oleh keluarganya. Oleh karena setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci, maka orangtuanyalah yang memberikan dan menanamkan pendidikan kepada anak, karena orangtualah sebagai guru pertamanya dalam menerima pendidikan. Sehingga pendidikan anak dapat berlangsung secara nyata dalam kehidupan Zuhairini ed. Metodologi Pendidikan Agama (Surabaya: Ramadloni, 1. , hal. Ibid. Arifin. Psikologi Dan Beberapa Aspek Kehidupan Rohaniyah Manusia (Jakarta: Bulan Bintang, 1. , hal. Ibid. Arifin. Pokok-pokok Pikiran Tentang BP Agama di Sekolah dan Luar Sekolah (Jakarta: Bulan Bintang, 1. , hal. seseorang setelah anak tersebut lahir kedunia. Dengan lahirnya seorang anak kedunia, maka anak tersebut dapat menerima pendidikannya sejak usia dini yakni pendidikan dari bayi sampai masa kanak-kanak sebelum masa sekolah. Hal ini dikarena setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah atau suci, orangtuanyalah yang menjadikannya sebagai Yahudi atau Nasrani. Sehingga pendidikan dapat berlangsung sejak seorang anak dilahirkan. Berdasarkan pemikiran tersebut, maka penulis mengangkat sebuah penelitian yang berjudul: Pendidikan anak Usia Dini dalam Hadis Riwayat Bukhari (Setiap Anak Dilahirkan dalam Keadaan Fitra. Pembahasan Konsep berasal dari kata AuconceptAy yang berarti Aua general notion or ideaAy atau pengertian, pendapat, rancangan . ita-cit. yang telah ada dalam pikiran. Jadi yang dimaksud konsep di sini adalah rancangan terhadap pendidikan, khususnya pendidikan anak pada usia dini. Pendidikan Anak Usia Dini Pengertian pendidikan adalah suatu bimbingan atau peran secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utam. 13 Anak usia dini adalah kelompok manusia yang berusia 0-6 tahun. 14 Proses Pendidikan dan Pembelajaran pada Anak Usia Dini (PAUD) hendaknya dilakukan dengan tujuan memberikan konsep yang bermakna bagi anak melalui pengalaman Hanya pengalaman nyatalah yang memungkinkan anak menunjukkan aktivitas dan rasa ingin tahu secara optimal dan menempatkan posisi pendidik sebagai pendamping, pembimbing serta fasilitator bagi anak. Melalui proses pendidikan diharapkan dapat menghindari bentuk pembelajaran yang hanya berorientasi pada kehendak guru yang menempatkan anak secara pasif dan guru menjadi dominan. Pada masa usia dini anak mengalami masa keemasan . he golden year. yang merupakan Ahmad D. Marimba. Pengantar Filsafat Pendidikan, (Bandung: Al MaAoarif, 1989, hal. Depdiknas. Standar Kompetensi Pendidikan Anak Usia Dini Taman Kanak-Kanak dan Raudhatul Athfal (Jakarta: Depdiknas, 2. , hal. masa dimana anak mulai peka/sensitif untuk menerima berbagai rangsangan. Masa peka pada masing-masing anak berbeda, seiring dengan laju pertumbuhan dan perkembangan anak secara individual. Masa peka adalah masa terjadinya kematangan fungsi fisik dan psikis yang siap merespon stimulasi yang diberikan oleh lingkungan. Masa ini juga merupakan masa peletak dasar untuk mengembangkan kemampuan kognitif, motorik, bahasa, sosio emosional, agama dan moral. Adapun berdasarkan para pakar pendidikan anak, yaitu kelompok manusia yang berusia 6-8 tahun. Anak usia dini adalah kelompok anak yang berada dalam proses pertumbuhan dan perkembangan yang bersifat unik, dalam arti memiliki pola pertumbuhan dan perkembangan . oordinasi motorik halus dan kasa. , intelegensi . aya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritua. , sosial emosional . ikap dan perilaku serta agam. , bahasa dan komunikasi yang khusus sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan anak. Pendidikan usia dini merupakan wahana pendidikan yang sangat berkembangnya dasar-dasar pengetahuan, sikap dan keterampilan pada anak. Keberhasilan proses pendidikan pada masa dini tersebut menjadi dasar untuk proses pendidikan selanjutnya. Keberhasilan penyelenggaraan pendidikan pada lembaga pendidikan anak usia dini, seperti: Kelompok Bermain. Taman Penitipan Anak. Satuan Padu Sejenis maupun Taman Kanak-kanak sangat tergantung pada sistem dan proses pendidikan yang dijalankan. Pendidikan merupakan perluasan dari pandangannya terhadap dunia pendidikan, tentang hubungan manusia sebagai individu dan makhluk Tuhan yang memiliki fitrah suci untuk dikembangkan. Anak usia dini adalah anak yang baru dilahirkan sampai usia 6 tahun. Usia ini merupakan usia yang sangat menentukan dalam pembentukan karakter dan kepribadian anak. 15 Usia dini merupakan usia di mana anak Yuliani Nurani Sujiono. Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini (Jakarta: Indeks, 2. , hal. mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang pesat. Usia dini disebut sebagai usia emas . olden ag. Makanan yang bergizi yang seimbang serta stimulasi yang intensif sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan tersebut. Hadis Riwayat Bukhari (Setiap Anak Dilahirkan Dalam Keadaan Fitrah Tentang Fitrah Sudah menjadi keharusan bahwa pendidikan terhadap anak merupakan tanggung jawab orang tua sepenuhnya karena pada dasarnya anak lahir dalam keadaan fitrah sebagaimana sabda Nabi: AI I I I O I EONO I O EI I EIIA A CE EIO AEO NEE EON O EI EE IOEOA: AI O NO O NEE IN CEA AOOE EO EA AON ONOIN O OIAN O IOIN EIE ENOI IA AENOI NE O AON A Matan Hadis Tentang Fitrah AOA AOA AE EIacO AEacO ac OA acEEa aEaeON aO aEac aI aI I eI aI eOEaO uOEac OaOEa a aEaO EeAeaO a aONA a ca a aACA AAIOON aO aIOa OIOON aEI aeI a Ee ONOIa aOA AOOA AOA AOI U aae aa aN eE Oa acO aIA a a a a a a e a aAOa aN OOaIN eaO OaIA AOE aO NO a OO ac OA AAOON OA ca A acOA AacA ACA AOA a AA AIA AIA ca a AacEEa aeINa AeaA a AacEE E Oa a EIA )AaEaeO aN eEOa a (ON EOA Dari Abu Hurairah r. berkata: Rasulullah Saw bersabda: Tiada seorang anakpun yang lahir kecuali ia dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan ia beragama Yahudi. Nasrani dan Majusi (HR. Bukhar. Hadis ini diriwayatkan dari Bukhari. Dilihat dari sanad para rawinya tidak terdapat cacat dinilai adil dan dhabith. Secara matan . Hadis tidak terdapat syadz . atau bertentangan dengan Alquran dan logika Al-Bukhari. Abu Abdillah. Muhammad Ibn Ismail. Sahih Bukhari (Istanbul: Dar Sahnun, 1. Nomor Hadis 456 sehingga Hadis ini bisa dinyatakan shahih secara sanad dan matan dan bisa dijadikan hujah untuk diamalkan. Adapun yang menjadi asbab al-wurud Hadis, sebagaimana terdapat dalam riwayat Imam Ahmad. Darimi. NasaAoi. Ibnu Juraij. Ibn Hibban. Thabrani dalam al-Kabir dan al-Hakim dari aswad b. Suwaid ra, sebab dari Hadis tersebut muncul adalah suatu ketika Rasulullah dihasud untuk mengistimewakan satu kelompok terhadap yang lainnya, orang tersebut berusaha untuk membunuh orang-orang pada hari itu, sehingga orang tersebut Maka peristiwa tersebut sampai pada Rasulullah Saw. Beliau bersabda, apa keadaan yang membuat kalian menimbang untuk membunuh pada hari itu sampai anak-anak pun dibunuh. Berkata laki-laki tersebut. Wahai. Rasulullah Saw, sesungguhnya anak-anak mereka orang-orang Beliau bersabda, ingatlah, sesungguhnya anak-anak kaum musrik adalah modal kalian. Kemudian, beliau bersabda, ingatlah, jangan bunuh anak-anak, ketahuilah, jangan kalian bunuh anak-anak dan beliau bersabda Nabi Saw setiap bayi yang dilahir dalam keadaan suci maka orang tuanya yang mempengaruhinya menjadi Yahudi. Nasrani atau Majusi sebagaimana ia tumbuh dan berkembang sampai jadi kakek-kakek. (Sumber Kitab alBayan wa taAorif dalam maktabah syamila. e A )AAdari segi bahasa terambil dari akar kata al-fathr Kata fithrah (UAa aA yang berarti terbukanya sesuatu atau belahan. Dari makna ini lahir maknamakna lain seperti penciptaan atau kejadian. Fitrah manusia berarti kejadian atau penciptaannya sejak semula atau bawaan sejak lahirnya. Fithrah dalam e aAUacEEA a a A a NA bahasa Arab berarti penciptaan, sebagaimana sebuah ungkapan: ACA Ua AUE eaEA dalam arti UA Ae aEaCa aN eIAAllah menciptakan mereka. Nabi saw pernah bersabda: Tidak ada seorang anakpun yang dilahirkan kecuali ia dilahirkan dalam keadaan fithrah, maka kedua orang tuanya dapat mengalihkannya menjadi Yahudi. Nasrani atau Majusi, sebagaimana halnya binatang yang normal akan melahirkan anak yang normal pula. Apakah kalian menemukan kekurangan di dalamnya? Penjelasan dan Analisis Hadis Berdasarkan tinjauan munasabahnya, hadis tersebut berkaitan dengan peristiwa Ibnu Syihab yang melaksanakan salat jenazah pada setiap anak yang lahir. Meskipun anak dari seorang pelacur, ia tetap dalam keadaan Islam e A)AA, baik kedua orang tuanya menyebutnya dengan . ithrat al-Islam Ae UAEU eUEa aIA a Ua aA Islam, atau hanya bapaknya saja yang menyebutnya Islam, sementara ibunya menyebut bukan Islam. Jika keadaan anak yang meninggal tersebut telah diketahui tanda-tanda kehidupan atau terdengar jeritan suara tangis atau lainnya saat dilahirkan, maka salat tetap dilakukan, tetapi jika tidak demikian atau karena keguguran maka salat tidak dilaksanakan. Hal tersebut dilakukan, karena mengingat bahwa Abu Hurairah ra pernah bercerita bahwa Nabi saw pernah bersabda: Tidak ada seorang anakpun yang dilahirkan kecuali ia dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orangtuanya . dapat mengalihkannya dari fitrah itu untuk menjadi Yahudi. Nasrani atau Majusi, sebagaimana halnya binatang yang normal dapat melahirkan anak yang normal pula, ia dilahirkan dalam keadaan lengkap dan sempurna, atau kebiasaan binatang dapat merawat dan memelihara anaknya secara sempurna. Apakah kamu mendaptkannya ia cacat?, apakah kalian melihat, menyaksikan atau memperhatikannya dalam keadaan berkurang? atau apakah binatang tersebut akan memberikan makanan terjelek kepadanya? Kemudian Abu Hurairah ra. membaca Alquran surat Al-Rum ayat 30: UEOeaAuAAEaAU UaEAIAU UEAaEaAuAAE UCaU UaCsEEuEaEU UAU UAAoECUEaAoAA UACACAoaU UCsEuEU UeOAUCa UCAACEEaCOEAAU UCAU UAU UaECaAE UCoCAEaACCUU UAU UCaU UEOAEAAEuEaA UEAaEsACOAEaU UEoeaAua UCAU UEECACAoaU UICaAoEaU UCEIEIACAIA AycEoAEiCE Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah. etaplah ata. fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. ada peubahan pada fitrah Allah. (Itula. agama yang lurus. kebanyakan manusia tidak mengetahui. Kata fithrah pada QS. al-Rum ayat 30 tersebut sering dihubungkan e A )AAsebagai asal dengan hadis di atas. Ulama sepakat mengartikan fithrah (UAa aA kejadian atau kondisi awal. Akan tetapi mereka berbeda pendapat di dalam menetapkan kondisi awal atau asal kejadian tersebut. Sementara ulama mengartikan bahwa Allah menciptakan potensi ma`rifat al-iman (UAIA a AuE eO aIA a A) aI e aUEA pada diri manusia berbarengan dengan waktu penciptaannya. Potensi ini dapat dikembangkan manusia sendiri dengan bantuan daya-daya yang dimilikinya dan bimbingan rasul, yang pada akhirnya dapat mengantarkannya beriman kepada Allah Swt. Pendapat ini berbeda dengan pendapat yang e A )AAberarti Auiman bawaan dari lahirAy atau bahwa mengatakan bahwa fithrah (Aa aA Allah Swt. memberikan iman kepadanya ketika masih di dalam rahim Pendapat terakhir ini didasarkan pada pemahaman dari arti surat alA`raf ayat 172 yang menyatakan: UAAEaACU UAACiAICcU UACUaU UECUEaAIA UAEaACU UaCOAIEU UesAA UEAaEuAoCCEEsACciCUU UEAaEaAEsCcycEAIeE UACeAEU UEAaiAACOAAECAAIA UIeAsECaU UEAaEsAEICIeEAeAA UACeAAUUAAycEauAUUEAaEAEaACsEaA UAAycEAycIeAAUUaUUCUUaeECOEaCUUC UACAeEaAU UEaoCICOEOAEaU UAaEycCE U UEAEaAEaECAEUAACUCAAUEAEUACAoIeA Dan . , ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka . eraya berfirma. : "Bukankah aku ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kam. Kami menjadi saksi". ami lakukan yang demikian it. agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya Kami (Bani Ada. adalah orang-orang yang lengah terhadap ini . eesaan Tuha. Departemen Agama RI. Al QurAoanA. Ibid. Ibid, hal. Jika pendapat yang menyatakan bahwa bawaan sejak lahir diterima, maka konsekuensinya manusia wajib bersyukur kepada Allah swt, sekalipun para rasul tidal datang. Hal ini bisa berarti bahwa manusia tidak perlu mempertanggungjawabkan segala usahanya, karena semuanya telah menjadi bawaan sejak dalam kandungan bundanya, atau dengan kata lain bahwa ia harus mempertanggungjawabkan ke-imanannya, yang pada hakekatnya bukan merupakan usahanya sendiri. Hal demikian tentunya tidak logis, karena dalam konteks ini berarti manusia akan mempertanggungjawabkan sesuatu yang bukan dari usahanya. Oleh karena itu, pendapat yang logis adalah bahwa Allah swt hanya membekali manusia dengan potensi iman dan manusia sendirilah yang bertanggungjawab terhadap aktualisasi atau pengejawentahannya berupa perbuatan. Dalam hal ini berarti manusia benarbenar bertanggungjawab atas segala perbuatannya sendiri. Dengan kata lain, bahwa fitrah manusia adalah untuk menerima kebenaran . l-ha. , karena petunjuk yang diberikan kepadanya adalah bersumber dari Allah swt. Melaui hidayah itu maka manusia manjdi tahu sehingga dapat dijadikan sebagai petunjuk dalam bertindak. Potensi maupun fitrah yang diberikan oleh Allah kepada manusia antara lain dapat berupa iman, tauhid, maupun agama Islam. Namun, keadaan fitrah, iman, pengetahuan, tauhid dan Agama Islam seseorang tersebut boleh jadi bisa berubah kepada lainnya yang disebabkan oleh upaya orang tua, keluarga maupun lingkungannya sebagaimana diisyaratkan pada matan hadis: a ON O N OOIOON aO O Ia OA aIOON eaO aIOa O aIOONA a e a a a a aa Maka kedua orang tuanya . ingkungannya dapat mengalihkannya dari fitrah itu untuk menjadi Yahudi. Nasrani atau Majusi. Sehingga lisannya secara jelas dan tegas mengalihkan dari fitrahnya atau justru mengembangkannya, apakah ia tetap Islam atau justru berubah untuk mengingkarinya. Ibnu Hajar menegaskan bahwa keadaan ma`rifah sebagaimana dimaksud di atas merupakan hasil . dari esensi fiArah. Apabila pengetahuan . roduk fitra. itu tidak sesuai dengan esensinya, berarti pengetahuannya itu bersumber dari manusia, baik dirinya maupun lainnya, karena redaksi hadis tersebut menyatakan: aUAIa aNU a aONA a A Oa aN aOaIaNaU a eOU OaIAa a aIaNaU a eOU Oa aI aA maka kedua orang tuanya . dapat mengalihkannya dari fitrah itu untuk menjadi Yahudi. Nasrani atau Majusi. 19 Menurutnya, kesesatan bukan merupakan esensi dan maksud utama anak yang dilahirkan, kesesatan bukan menjadi karakter dasar bagi anak yang dilahirkan, tetapi kesesatan merupakan hasil dari sebab lain yang bukan bersumber dari fitrahnya. Penjelasan di atas memberikan isyarat bahwa setiap manusia yang dilahirkan pada hakekatnya adalah dalam keadaan fitrah sebagai potensi yang dianugrahkan oleh Allah kepada-nya, baik dalam bentuk ruhaniah maupun jasmaniah untuk mendapatkan pemeliharaan, perawatan, bimbingan, pendidikan, pelatihan, pembiasaan, dijaga, diarahkan, diaktualisasikan dan dipertanggungjawabkan serta dikembangkan dalam berbagai kehidupan sehingga dapat mengantarkannya pada kebenaran dan kebahagiaan dunia Manusia tidak dapat dibenarkan mengalihkan fitrah tersebut menuju kesesatan, karena hal demikian akan menjauhkan-nya dari hakekat Dengan demikian, tujuan pokok Bimbingan Konseling Islam mengembangkan fitrah manusia, demi tercapainya kehidupan yang religius dan Islami. Dengan kata lain, pengembangan dan pemeliharaan tersebut dapat ditempuh melalui integrasi tiga dimensi yaitu: pemeliharaan dan pengembangan nilai-nilai fitrah . dengan memperhatikan nilainilai terbaik pada lingkungan maupun pendidikan dan Bimbingan Konseling Islam, dan konvergensi, yakni perpaduan di antara fitrah dan pendidikan. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis penelitian diatas, maka disini dapat penulis simpulkan hasil penelitian ini, yaitu: Terdapat konsep pendidikan anak usia dini dalam hadis riwayat Bukhari tentang setiap anak yang dilahirkan dalam keadaan Konsep yang ada dalam hadis tersebut tentang perlunya peranan dan Ibnu Hajar. Fathul Baa rii (Beirut: Dar Al-Fikr, t. ), hal. tanggungjawab orangtua dalam memberikan dan mengembangkan fitrah anak yang dibawanya sejak lahir. Karena Orangtua merupakan pendidik pertama dan utama bagi seorang anak. Lingkungan keluarga menjadi tempat pendidikan anak yang pertama, sehingga orangtua memiliki peranan yang utama dalam membesarkan dan mengembangkan fitrah keimanan seorang anak. Nilai-nilai pendidikan anak usia dini dalam hadis tersebut tentang keimanan yang sudah ada sejak lahir yaitu Islam. Untuk itu sebagai orangtua memiliki pengaruh yang sangat besar dalam membentuk dan mengembangkan keimanan seorag anak. Sehingga apabila seorang anak menjadi Majusi. Nasrani ataupun Yahudi, maka orangtuanyalah yang menjadikanya seperti itu. Oleh sebab itu, tanggungjawab orangtualah terhadap pendidikan tentang keIslaman yang dimiliki seorang anak. DAFTAR PUSTAKA