Griya Widya: Journal of Sexual and Reproductive Health, 5. Available at: https://journal. id/index. php/griyawidya EISSN: 2809-6797 Hubungan antara Prostatitis Kronis dan Gangguan Reproduksi Pria: Tinjauan Literatur Terkini Abdul Hafiidh Surya Putra1. Kemal Akbar Suryoadji2. Armand Achmadsyah2. Ponco Birowo2* Fakultas Kedokteran. Universitas Indonesia Departemen Urologi. Rumah Sakit Nasional Cipto Mangunkusumo - Fakultas Kedokteran. Universitas Indonesia *Email: ponco. birowo@gmail. Submitted: 2025-05-07 Accepted: 2025-09-01 Published: 2025-09-04 Kata Kunci Male infertility Erectile Sperm parameter Reproductive Abstrak Background: This literature review aims to present the latest scientific findings that explain the relationship between chronic prostatitis and male reproductive Method: This study was a narrative literature review that identified articles from PubMed. Scopus, and Google Scholar using the keywords "chronic prostatitis", "CP/CPPS", "male infertility", "erectile dysfunction", and "ejaculatory dysfunction". Inclusion criteria include publications in the last 10 years that discuss the association between chronic prostatitis and male reproductive disorders. The data were analyzed descriptively to identify patterns of interdependence. Results: Data synthesis showed that chronic prostatitis was associated with a significant decrease in sperm concentration, motility, morphology, and viability. Patients also had a threefold risk of erectile dysfunction, as well as a high prevalence of painful ejaculation . Ae65%) and premature ejaculation (A40%). Inflammatory mechanisms and oxidative stress have been shown to play an important role in pathogenesis, while multimodal therapies, including antibiotics, antioxidants. PDE5 inhibitors, phytotherapy, and pelvic floor physiotherapy, show better effectiveness than monotherapy. Implications: These results confirm the need to evaluate the reproductive aspect in patients with chronic prostatitis, as well as a multidisciplinary approach to improve quality of life and fertility. Novelty: This study presents an up-to-date comprehensive review that integrates clinical evidence, pathophysiology, and therapeutic strategies, thereby enriching understanding and supporting the development of more effective management. A 2025. This work is licensed under a CC BY-SA 4. DOI: 10. 53088/griyawidya. Griya Widya: Journal of Sexual and Reproductive Health, 5. PENDAHULUAN Prostatitis kronis merupakan salah satu kelainan urologis yang paling sering dijumpai pada pria usia produktif maupun lanjut usia, dengan prevalensi global dilaporkan berkisar antara 2Ae10% (Hua et al. , 2. Kondisi ini menyumbang sekitar 90Ae95% dari seluruh kasus prostatitis, sehingga menempati proporsi terbesar dalam praktik klinis urologi (Nickel. Walaupun tidak bersifat fatal, prostatitis kronis dapat menimbulkan gejala kronis berupa nyeri pelvis, ketidaknyamanan saat berkemih, serta gangguan fungsi seksual dan reproduksi yang berimplikasi pada penurunan kualitas hidup(McAninch & Lue, 2. Dalam konteks kesehatan reproduksi, prostat memiliki peran sentral karena menghasilkan cairan prostat yang penting bagi viabilitas dan motilitas sperma. Peradangan kronis pada organ ini dapat mengganggu spermatogenesis, ejakulasi, dan mekanisme ereksi melalui berbagai jalur biologis, termasuk inflamasi, stres oksidatif, dan disfungsi neurovascular (McAninch & Lue, 2020. Nickel, 2. Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian terhadap hubungan antara prostatitis kronis dan gangguan reproduksi pria semakin meningkat, seiring dengan munculnya bukti bahwa peradangan prostat yang menetap dapat mempengaruhi fungsi spermatogenik, ejakulatorik, dan vaskulogenik. 3 Berbagai studi menunjukkan bahwa gangguan seksual terjadi pada lebih dari separuh pria dengan prostatitis kronis, termasuk disfungsi ereksi, ejakulasi dini, dan ejakulasi yang nyeri. Selain itu, kualitas semen dan parameter fertilitas juga dilaporkan mengalami penurunan, baik melalui mekanisme inflamasi lokal, obstruksi saluran genital, maupun gangguan hormonal dan neurovascular (McAninch & Lue, 2020. Nickel, 2. Meskipun prostatitis kronis bukan penyakit yang mengancam nyawa, dampaknya terhadap kesehatan reproduksi pria sering kali masih diabaikan dalam praktik klinis seharihari. Banyak pasien melaporkan keluhan infertilitas, disfungsi ereksi, maupun ejakulasi nyeri, tetapi hubungan kausal antara prostatitis kronis dengan gangguan reproduksi belum sepenuhnya dipahami. Selain itu, terdapat variasi yang cukup luas dalam diagnosis dan pengobatan, sehingga menimbulkan kesulitan dalam menentukan strategi penatalaksanaan yang tepat (Hua et al. , 2. Berbagai meta-analysis menunjukkan kaitan erat antara prostatitis kronis dan penurunan kualitas semen. Condorelli et al. menganalisis 27 studi . 241 partisipa. dan menemukan bahwa pasien dengan chronic bacterial prostatitis (CBP) mengalami penurunan signifikan pada konsentrasi, vitalitas, serta motilitas sperma, sedangkan pada chronic pelvic pain syndrome (CP/CPPS) juga terjadi penurunan volume semen, morfologi normal, serta kadar zinc seminal (SMD -20. p=0. , disertai peningkatan antibodi antisperma (OR 3. p<0. (Condorelli et al. , 2. Temuan serupa dilaporkan oleh Fu et al. yang melibatkan 12 studi . CP/CPPS, 455 kontro. , dengan penurunan signifikan pada konsentrasi sperma (SMD -14. , motilitas progresif (SMD -5. , dan morfologi normal (SMD -8. , meskipun volume semen sedikit meningkat (SMD 0. (Fu et al. Walaupun bukti ilmiah menunjukkan prostatitis kronis berhubungan dengan penurunan kualitas sperma, disfungsi ereksi, dan gangguan ejakulasi, sebagian besar penelitian masih bersifat potong lintang dengan kriteria diagnosis yang bervariasi sehingga menyulitkan generalisasi hasil. Kajian molekuler terkait biomarker spesifik serta mekanisme patofisiologi juga masih terbatas, sementara efektivitas terapi yang ada menunjukkan hasil yang tidak Oleh karena itu, tinjauan literatur ini bertujuan menyajikan temuan-temuan ilmiah terkini yang menjelaskan hubungan antara prostatitis kronis dan gangguan reproduksi pria, guna memperkaya pemahaman klinis dan mendukung pengembangan strategi diagnosis serta penatalaksanaan yang lebih tepat. Griya Widya: Journal of Sexual and Reproductive Health, 5. METODE Jenis dan Desain Studi Penelitian ini menggunakan metode tinjauan literatur dengan desain naratif. Tujuan utama kajian adalah meninjau hubungan antara prostatitis kronis dan gangguan reproduksi pada pria. Desain ini dipilih karena memungkinkan peneliti mengompilasi, membandingkan, dan mendeskripsikan temuan-temuan dari berbagai publikasi yang relevan. Data dan Sumber Data Data dalam penelitian ini berasal dari artikel ilmiah yang diperoleh melalui basis data elektronik PubMed. Scopus, dan Google Scholar. Kata kunci yang digunakan meliputi: Auchronic prostatitisAy. AuCP/CPPSAy. Aumale infertilityAy. Auerectile dysfunctionAy. Auejaculatory dysfunctionAy. Aureproductive healthAy, dan Ausperm parametersAy. Kriteria inklusi ditetapkan sebagai berikut: Artikel berbahasa Inggris atau Indonesia. Dipublikasikan dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Membahas hubungan prostatitis kronis dengan gangguan reproduksi pria, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kriteria eksklusi adalah: Studi dengan populasi hewan. Artikel non-ilmiah seperti editorial, opini, atau komentar. Teknik Pengumpulan Data Proses seleksi artikel dilakukan dalam dua tahap. Pertama, penapisan dilakukan melalui judul dan abstrak untuk menilai relevansi awal. Kedua, artikel yang memenuhi kriteria kemudian ditelaah secara penuh guna memastikan kesesuaian dengan topik penelitian. Analisis Data Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif. Analisis diarahkan untuk mengidentifikasi pola hubungan yang dilaporkan dalam berbagai studi mengenai keterkaitan prostatitis kronis dengan aspek reproduksi pria. HASIL Anatomi dan Fisiologi Prostat dalam Sistem Reproduksi Pria Prostat merupakan kelenjar yang memiliki peran sentral dalam sistem reproduksi pria, meskipun sering kali keberadaannya kurang mendapat perhatian hingga timbul masalah Prostat terletak di rongga panggul pria, tepat di bawah kandung kemih dan di depan rektum, dengan bentuk menyerupai kerucut terbalik dan ukuran seukuran buah kenari . erat sekitar 20Ae30 gram pada pria dewas. Uretra melewati pusat prostat, sehingga kelenjar ini memiliki peran penting dalam fungsi urinaria dan reproduksi. Prostat terdiri atas jaringan glandular dan fibromuskular, serta dilapisi oleh dua lapisan kapsul: kapsul sejati dari jaringan ikat dan kapsul palsu dari fasia pelvis (McAninch & Lue, 2. Secara anatomi, prostat dibagi menjadi beberapa zona, yaitu zona perifer . encakup 70% volume prostat dan merupakan lokasi paling umum kanker prosta. , zona transisi . engelilingi uretra bagian distal dan menjadi lokasi utama pembesaran prostat jinak atau benign prostatic hyperplasi. , serta zona sentral yang mengelilingi duktus ejakulatorius dan menyumbang sekitar 25% volume prostat (Hua et al. , 2025. McAninch & Lue, 2. Vaskularisasi prostat terutama berasal dari arteri vesikalis inferior, dengan kontribusi tambahan dari arteri pudenda interna dan rektalis media. Sementara itu, persarafan prostat berasal dari sistem saraf otonom, melibatkan komponen simpatis dan parasimpatis, dengan nervus pudendus sebagai saraf utama yang mengatur sekresi prostat serta kontraksi otot polos saat ejakulasi (McAninch & Lue, 2. A 2025. This work is licensed under a CC BY-SA 4. Griya Widya: Journal of Sexual and Reproductive Health, 5. 2025 Gambar 1. Anatomi dan bagian prostat (McAninch & Lue, 2. Secara fisiologis, prostat berperan dalam menghasilkan cairan prostat yang menyumbang 20Ae30% volume cairan semen, mengandung enzim proteolitik, seng, dan asam sitrat yang berfungsi mempertahankan viabilitas dan motilitas sperma. Prostat juga memproduksi antigen spesifik prostat (PSA) yang membantu mencairkan semen, serta terlibat dalam metabolisme hormon androgen, khususnya dihidrotestosteron (DHT). Selain itu, kontraksi otot prostat berkontribusi dalam mendorong semen ke uretra saat ejakulasi (McAninch & Lue, 2. Klasifikasi Prostatitis Menurut NIH Dalam konteks patologis, prostatitisAiyakni peradangan pada prostatAimemiliki klasifikasi khusus menurut konsensus dari National Institutes of Health (NIH) yang membaginya menjadi empat kategori, yakni (Fu et al. , 2014. Condorelli et al. , 2. Tabel 1. Klasifikasi prostatitis menurut NIH (Kim, 2. Kategori Jenis Prostatitis Ciri Klinis Utama Temuan Laboratorium Keterangan Tambahan Prostatitis Bakterial Akut Onset mendadak, demam, menggigil, gejala infeksi saluran kemih Leukosit ( ). Bakteri ( ) pada urin sebelum/sesudah pijat Disertai gejala sistemik seperti Prostatitis Bakterial Kronis Infeksi saluran kemih berulang, nyeri pelvis, disuria Leukosit ( ). Bakteri ( ) pada urin pasca-pijat Patogen sama muncul berulang ia Prostatitis Kronis Nyeri pelvis, / CPPS Tipe gangguan seksual. Inflamasi disfungsi berkemih Leukosit ( ). Bakteri (A. pada urin/semen pasca Tipe paling umum dari prostatitis ib Prostatitis Kronis / CPPS Tipe Noninflamasi Sama seperti ia: nyeri, gangguan Leukosit (A. Bakteri (A. Juga dikenal sebagai Prostatitis Inflamasi Asimtomatik Tanpa gejala Leukosit ( ). Bakteri (A. pada urin/semen atau jaringan prostat Ditemukan secara insidental, mis. evaluasi infertilitas Jenis Gangguan Reproduksi Pria Terkait Prostatitis Prostatitis kronis terbukti memiliki dampak signifikan terhadap fungsi reproduksi pria. Dalam hal fertilitas, peradangan prostat dapat mengubah komposisi cairan prostat yang Griya Widya: Journal of Sexual and Reproductive Health, 5. 2025 esensial bagi sperma, memicu disfungsi transportasi sperma, hingga menyebabkan obstruksi duktus ejakulatorius dan azoospermia obstruktif (Magri et al. , 2. Selain itu, infeksi dapat menyebar ke epididimis dan menurunkan potensi reproduksi. Beberapa studi menyatakan bahwa prostatitis merupakan penyebab yang sering terabaikan dalam kasus infertilitas pria (Evans-duryn et al. , 2. Disfungsi ereksi (DE) juga merupakan komplikasi yang sering dikaitkan dengan prostatitis, terutama tipe kronis. Proses inflamasi dapat mengganggu fungsi endotelium korpus kavernosum melalui pelepasan sitokin proinflamasi dan radikal bebas (ROS), yang merusak jaringan vaskular dan saraf penis (Evans-duryn et al. , 2. Hal ini dapat menimbulkan fibrosis korpus kavernosum, penurunan elastisitas dan compliance penis, serta gangguan pada sinyal saraf genital akibat edema dan infiltrasi pada pleksus saraf Akibatnya, pria dengan prostatitis kronis berisiko tinggi mengalami penurunan kualitas ereksi (Su, 2020. Yuan et al. , 2. Selain itu, gangguan ejakulasi merupakan manifestasi klinis lain yang kerap menyertai Ejakulasi nyeri merupakan gejala dominan yang dilaporkan pada 30Ae75% pasien prostatitis, dengan nyeri yang dirasakan selama atau setelah ejakulasi di area penis, kandung kemih, atau rektum, dan dapat berlangsung hingga 24 jam. Kondisi ini juga dapat menyebabkan ejakulasi dini sebagai respon psikologis terhadap antisipasi rasa sakit. Volume ejakulat yang menurun dan hematospermia . arah dalam seme. juga sering ditemukan, sebagai akibat langsung dari inflamasi dan gangguan fungsi sekresi prostat (Fan et al. , 2021. Rew et al. , 2. Patofisiologi Prostatitis Kronis dengan Gangguan Reproduksi Pria Peradangan kronis pada prostat memicu pelepasan sitokin proinflamasi seperti IL-1. IL6. IL-8. IL-17, dan TNF- yang memperkuat reaksi inflamasi lokal maupun sistemik, mengganggu fungsi fisiologis prostat dan organ reproduksi sekitarnya. Dalam banyak kasus, terdapat juga keterlibatan reaksi autoimun terhadap antigen spesifik prostat seperti PSA dan prostatic acid phosphatase, yang menyebabkan aktivasi limfosit T-helper 1 (Th. dan Th17, serta infiltrasi leukosit ke dalam cairan semen. Reaksi ini berkontribusi terhadap penurunan kadar sitrat seminal dan gangguan fungsi sekretori prostat. (Rew et al. , 2. Selain itu, stres oksidatif akibat produksi berlebih reactive oxygen species (ROS) memperburuk kerusakan sel sperma (Ihsan et al. , 2. Penurunan aktivitas antioksidan seperti seng dan superoksida dismutase menyebabkan peroksidasi lipid pada membran sperma, fragmentasi DNA mitokondrial, serta apoptosis sel spermatogenik. Secara klinis, hal ini berdampak pada penurunan motilitas, viabilitas, serta konsentrasi sperma. (Shang et al. Komponen neurogenik juga berperan, di mana inflamasi kronis menyebabkan sensitisasi saraf pelvis dan hiperaktivasi sistem saraf pusat. Adanya kalsifikasi prostat dan biofilm bakteri yang persisten memicu pelepasan nerve growth factor (NGF), yang memperkuat nyeri dan inflamasi melalui jalur neuroinflamasi. Selain itu, hiperaktivitas otot dasar panggul dapat menekan nervus pudendus, yang mengakibatkan disfungsi ereksi dan nyeri ejakulasi (Cho et al. , 2. Pengaruh terhadap Kualitas Sperma dan Fungsi Seksual Sebuah studi meta-analisis terhadap 3. 241 pasien prostatitis kronis menunjukkan adanya penurunan signifikan pada berbagai parameter semen. Pada prostatitis bakterial kronis (CBP), ditemukan penurunan konsentrasi sperma sebesar 1,14 SMD . < 0,. , motilitas total 1,00 SMD, dan motilitas progresif 0,81 SMD. Pada pasien CP/CPPS, penurunan motilitas dan morfologi sperma juga signifikan, disertai volume ejakulat yang rendah dan kadar seng seminal yang turun drastis (SMD: Ae20,73. p = 0,. Peningkatan kadar elastase >850 ng/mL dalam plasma seminal juga ditemukan, yang secara klinis dapat menjadi penanda infertilitas (Tabel . (Condorelli et al. , 2017. Shang et al. , 2. A 2025. This work is licensed under a CC BY-SA 4. Griya Widya: Journal of Sexual and Reproductive Health, 5. 2025 Tabel 2. Dampak prostatitis terhadap kualitas sperma (Condorelli et al. , 2. Parameter Chronic Bacterial Prostatitis (CBP) CP/CPPS Sperm Concentration Ie 1. 14 SMD . < 0. Ie 0. 73 SMD Total Motility Ie 1. 00 SMD . < 0. Ie 0. 41 SMD Progressive Motility Ie 0. 81 SMD . < 0. Ie 0. 35 SMD Normal Morphology SMD: standardized mean difference Ie 0. 29 SMD Secara mekanis, peradangan prostat dapat menyebabkan azoospermia obstruktif akibat fibrosis pada duktus ejakulatorius, pembentukan antibodi antispermatozoa (ASA) yang meningkatkan aglutinasi sperma (OR 3,26. p < 0,. , serta peningkatan kadar IL-8 dalam semen (>250 pg/mL), yang dikaitkan dengan penurunan tingkat kehamilan hingga 50% dalam program fertilisasi in vitro (IVF) (Graziani et al. , 2. Disfungsi seksual merupakan manifestasi klinis yang sangat umum pada prostatitis Pasien dengan kondisi ini memiliki risiko disfungsi ereksi (DE) sebesar 3,02 kali lipat lebih tinggi dibandingkan populasi umum (CI 95%: 2,18Ae4,. Hal ini berkaitan dengan disfungsi endotel akibat inflamasi sistemik yang menurunkan bioavailabilitas nitric oxide, serta peningkatan TGF-1 yang menyebabkan fibrosis korpus kavernosum dan kebocoran vena (Zhang et al. , 2. Faktor psikogenik juga berperan, di mana gejala depresi (PHQ-9 >. diketahui memediasi hingga 32% tingkat keparahan DE pada pasien prostatitis (Chen et al. , 2. Gangguan ejakulasi, seperti ejakulasi nyeri, dijumpai pada 30Ae65% pasien, dan dalam 40% kasus, nyeri dapat berlangsung lebih dari 24 jam. Ejakulasi dini juga umum terjadi akibat kecemasan antisipatif terhadap rasa sakit, dengan prevalensi mencapai 39Ae40%. Hematospermia, atau munculnya darah dalam semen, dilaporkan pada 15% kasus akibat robekan mikroskopis pada mukosa saluran ejakulasi (Jun & Ying, 2016. Zhang et al. , 2. Data epidemiologis menunjukkan bahwa 62% pasien prostatitis kronis mengalami gangguan seksual seperti DE, ejakulasi dini, atau ejakulasi nyeri, sedangkan sekitar 23% pria infertil ditemukan memiliki prostatitis kronis yang tidak terdiagnosis sebelumnya. Dalam studi kohort selama 10 tahun, pasien prostatitis kronis memiliki risiko 2,8 kali lebih tinggi untuk mengalami DE (HR: 2,8. CI 95%: 1,9Ae4,. dan 1,5 kali lebih tinggi mengalami infertilitas sekunder (HR: 1,5. CI 95%: 1,1Ae2,. dibandingkan kelompok kontrol. (Jun & Ying, 2. Tata Laksana Terapi Antimikroba Antibiotik tetap menjadi terapi lini pertama pada prostatitis bakterial kronis . ategori NIH I/II). Pemberian fluorokuinolon seperti siprofloksasin selama 4Ae6 minggu terbukti efektif dalam mengeradikasi patogen seperti E. coli dan memperbaiki parameter semen. Pada kasus prostatitis bakterial kronis (CBP), terapi jangka panjang hingga 6Ae8 bulan dapat menormalkan konsentrasi dan motilitas sperma pada 70% pasien, dengan 30% pasangan berhasil mencapai kehamilan pasca-terapi. Namun, penggunaan antibiotik yang tidak tepat pada kasus non-bakterial dapat meningkatkan risiko resistensi dan mengganggu mikrobiota reproduksi (Lee & Yu, 2. Alpha-Blocker Antagonis alfa-adrenergik seperti tamsulosin digunakan untuk mengurangi gejala saluran kemih bagian bawah (LUTS) dengan mengendurkan otot polos prostat dan leher kandung kemih. Meski efektif untuk gejala urinaria, alpha-blocker selektif seperti 1A dapat mengganggu ejakulasi melalui pengurangan kontraksi otot bulbokavernosus dan volume Griya Widya: Journal of Sexual and Reproductive Health, 5. 2025 semen, sehingga penggunaannya perlu dipertimbangkan secara hati-hati pada pria yang sedang merencanakan keturunan (Dutta et al. , 2022. Lee & Yu, 2. Terapi Anti-Inflamasi dan Antioksidan NSAID dapat mengurangi inflamasi dan nyeri prostat, tetapi tidak menunjukkan dampak signifikan terhadap kualitas semen. Agen antioksidan seperti N-acetylcysteine (NAC) . mg/har. terbukti menurunkan kadar ROS seminal hingga 42% dan meningkatkan motilitas sperma sebesar 18% bila dikombinasikan dengan alpha-blocker. Suplementasi dengan likopen dan seng juga mampu memperbaiki pertahanan antioksidan, mengurangi peroksidasi lipid, serta menurunkan fragmentasi DNA sperma (Dutta et al. , 2. Inhibitor Fosfodiesterase-5 (PDE. Tadalafil . mg/har. tidak hanya meningkatkan aliran urin melalui relaksasi otot polos berbasis cGMP, tetapi juga meningkatkan fungsi ereksi dengan peningkatan skor IIEF-5 ratarata sebesar 4,54 poin serta mengurangi nyeri pelvis (Rees et al. , 2. Fitoterapi Ekstrak Serenoa repens . aw palmett. terbukti mengurangi inflamasi prostat dan menurunkan viskositas semen tanpa memengaruhi jumlah sperma. Sementara itu, quercetin, flavonoid dengan sifat antiinflamasi, mampu menurunkan kadar IL-8 dan TNF- dalam semen serta meningkatkan motilitas sperma pada pasien CP/CPPS (Rees et al. , 2. Fisioterapi Dasar Panggul (Pelvic Floor Physical Therapy. PFPT) Terapi ini ditujukan untuk mengatasi hipertoni otot dasar panggul, yang ditemukan pada mayoritas pasien prostatitis kronis. Latihan dan manipulasi manual yang terarah dapat mengurangi kompresi nervus pudendus dan memperbaiki fungsi ejakulasi, dengan tingkat keberhasilan mencapai 68%. 23 Kombinasi dari beberapa pendekatan, seperti tadalafil Lkarnitin Serenoa repens, menunjukkan hasil klinis superior dibanding monoterapi. Motilitas sperma meningkat dari 32% menjadi 48% . < 0,. , dan skor NIH-CPSI menurun lebih signifikan (Lee & Yu, 2. Dampak Terapi terhadap Fungsi Reproduksi Perbaikan Parameter Sperma Studi menunjukkan bahwa antibiotik dapat meningkatkan konsentrasi sperma sebesar rata-rata 28,5 juta/mL, meningkatkan motilitas sebesar 22%, dan menurunkan fragmentasi DNA sperma hingga 15%. Kombinasi NAC dan antioksidan meningkatkan motilitas sebesar 18% dan menurunkan fragmentasi DNA hingga 27%. Terapi multimodal juga menghasilkan peningkatan signifikan dalam konsentrasi sperma ( 12,1 juta/mL), motilitas ( 16%), dan penurunan fragmentasi DNA (-19%) (Graziani et al. , 2. Pemulihan Fungsi Seksual Disfungsi ereksi membaik secara bermakna setelah terapi dengan tadalafil, di mana 64% pasien mencapai skor IIEF-5 normal dalam waktu 3 bulan. Untuk ejakulasi nyeri, fisioterapi dasar panggul mampu menurunkan skor nyeri sebesar 50% pada 82% kasus, disertai dengan peningkatan kualitas semen. (Chen et al. , 2015. Graziani et al. , 2. Luaran Fertilitas Pada pasien CBP yang mendapat antibiotik, tingkat kehamilan mencapai 30% dibandingkan hanya 4,3% pada kelompok tanpa pengobatan. Suplementasi seng . mg/har. meningkatkan angka kehamilan hingga 22,5% pada pria dengan Meskipun banyak terapi memperbaiki fungsi reproduksi, efek samping perlu diperhatikan. Alpha-blocker dapat menyebabkan ejakulasi retrograd pada 18% pengguna, mengurangi volume semen. Antibiotik jangka panjang juga dapat mengubah komposisi mikrobiota seminal, yang justru memperburuk inflamasi pada kasus nonbakterial. (Graziani et al. , 2023. Shang et al. , 2. Rekomendasi Klinis A 2025. This work is licensed under a CC BY-SA 4. Griya Widya: Journal of Sexual and Reproductive Health, 5. 2025 Untuk prostatitis bakterial kronis (CBP), terapi lini pertama adalah antibiotik berbasis kultur selama 4Ae6 minggu. Pada prostatitis non-bakterial, terapi kombinasi yang melibatkan PDE5 inhibitor, antioksidan, dan PFPT menjadi pendekatan yang paling efektif. Dalam konteks kesuburan, alpha-blocker tipe 1A sebaiknya dihindari dan digantikan dengan tadalafil atau fitoterapi yang lebih ramah reproduksi (Graziani et al. , 2. Untuk kasus refrakter, perlu rujukan ke tim multidisipliner guna mempertimbangkan neuromodulator . eperti gabapenti. atau teknik pengambilan sperma jika terdapat obstruksi menetap (Lee & Yu, 2. PEMBAHASAN Tinjauan ini menunjukkan bahwa prostatitis kronis memiliki implikasi penting terhadap fungsi reproduksi pria, baik melalui penurunan kualitas semen maupun gangguan fungsi Mekanisme inflamasi kronis dengan pelepasan sitokin proinflamasi dan peningkatan reactive oxygen species berperan besar dalam kerusakan DNA sperma, penurunan motilitas, dan perubahan morfologi. Fakta bahwa sebagian pria infertil ternyata memiliki prostatitis yang sebelumnya tidak terdiagnosis menegaskan kondisi ini sebagai faktor penyebab infertilitas yang sering terabaikan (Graziani et al. , 2023. Cho et al. , 2. Selain aspek fertilitas, prostatitis kronis juga berkaitan erat dengan disfungsi seksual. Risiko disfungsi ereksi meningkat hampir tiga kali lipat pada pasien dengan kondisi ini, yang dipicu oleh kombinasi disfungsi endotel, fibrosis korpus kavernosum, serta faktor psikogenik seperti depresi. Gangguan ejakulasi, termasuk ejakulasi nyeri dan ejakulasi dini, muncul akibat inflamasi prostat, sensitisasi saraf pelvis, dan respon psikologis terhadap rasa sakit yang dialami pasien (Zhang et al. , 2. Dalam penatalaksanaan, antibiotik masih menjadi standar utama pada prostatitis bakterial kronis, namun bukti terkini menunjukkan bahwa pendekatan multimodal, menggabungkan antioksidan, inhibitor PDE5, fitoterapi, dan fisioterapi dasar panggul, lebih efektif dalam memperbaiki parameter semen sekaligus meningkatkan fungsi seksual (Graziani et al. , 2023. Magri et al. , 2. Meski demikian, variasi hasil antar penelitian dan keterbatasan uji klinis jangka panjang menunjukkan perlunya riset lanjutan untuk menentukan strategi terapi yang paling optimal. Secara keseluruhan, prostatitis kronis tidak hanya perlu dipandang sebagai masalah nyeri pelvis atau infeksi prostat semata, tetapi juga sebagai kondisi yang berperan besar terhadap infertilitas dan disfungsi seksual pria. Pendekatan multidisipliner yang melibatkan aspek urologi, reproduksi, dan psikologis sangat dibutuhkan untuk meningkatkan luaran klinis dan kualitas hidup pasien (Evans-duryn et al. , 2022. Magri et al. , 2. KESIMPULAN Kebaruan dan Kontribusi Tinjauan literatur ini memberikan kontribusi penting dalam memahami keterkaitan prostatitis kronis dengan gangguan reproduksi pria secara komprehensif. Kebaruan penelitian ini terletak pada sintesis bukti terkini yang menggabungkan aspek fertilitas, fungsi seksual, dan luaran klinis, sekaligus menekankan peran mekanisme inflamasi, stres oksidatif, dan gangguan neurogenik dalam patofisiologinya. Hasil kajian ini memperkaya perspektif klinis bahwa prostatitis kronis tidak hanya masalah nyeri pelvis atau infeksi urologis, tetapi juga merupakan faktor signifikan dalam infertilitas pria, sehingga perlu menjadi perhatian dalam praktik klinis dan penelitian lanjutan. Keterbatasan dan Penelitian Lanjut Meskipun kajian ini berhasil merangkum bukti ilmiah terkini, terdapat beberapa Pertama, sebagian besar studi yang tersedia bersifat potong lintang sehingga tidak mampu menilai hubungan kausal jangka panjang antara prostatitis kronis dan Griya Widya: Journal of Sexual and Reproductive Health, 5. 2025 Kedua, variasi kriteria diagnosis, khususnya pada kasus non-bakterial, masih menjadi hambatan dalam standardisasi hasil penelitian. Ketiga, eksplorasi molekuler mengenai biomarker spesifik maupun mekanisme patofisiologi yang lebih dalam masih Oleh karena itu, penelitian di masa depan perlu diarahkan pada studi longitudinal jangka panjang, penggunaan kriteria diagnosis yang lebih seragam, serta pengembangan riset translasional berbasis biomarker untuk memperkuat bukti klinis dan biologis. Implikasi Berdasarkan temuan ini, terdapat beberapa implikasi klinis yang perlu diperhatikan. Pertama, tenaga kesehatan di bidang urologi dan andrologi perlu meningkatkan kesadaran bahwa prostatitis kronis dapat menjadi penyebab tersembunyi infertilitas pria, sehingga skrining dan evaluasi reproduksi harus mencakup faktor ini (Graziani et al. , 2. Kedua, penatalaksanaan sebaiknya dilakukan secara multidisipliner dengan pendekatan multimodal, menggabungkan antimikroba, antiinflamasi, antioksidan. PDE5 inhibitor, fitoterapi, dan fisioterapi dasar panggul sesuai indikasi (Magri et al. , 2. Ketiga, pemerintah, lembaga penelitian, dan praktisi klinis perlu mendorong penelitian terarah yang berfokus pada terapi berbasis mekanisme dan biomarker, agar strategi diagnosis serta penatalaksanaan prostatitis kronis dapat semakin efektif dan berorientasi pada peningkatan kualitas hidup serta fertilitas pria. DAFTAR PUSTAKA