AuTransformasi Pembelajaran dan Pengelolaan Pendidikan Islam Prospektif Sustainable Development GoalsAy Ana Dwi Lestari. Anggi Anggraini PROGRAM LEADERSHIP & SCHOOL CULTURE DALAM MEWUJUDKAN TUJUAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN (SDG. Ana Dwi Lestari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Anadwi532@gmail. Anggi Anggraini UIN Maulana Malik Ibrahim Malang anggianggraini0331@gmail. Abstract: Program Leadership and School Culture berfokus pada pembentukan karakter kepemimpinan peserta didik yang memiliki nilai juang, kesabaran, tanggung jawab, kedisiplinan, kemandirian, kerja sama, serta pengabdian yang ikhlas. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui bagaimana program Leadership and School Culture ikut berperan dalam proses Pembangunan karakter peserta didik di Pondok Pesantren Al-Izzah guna mendukung pencapaian tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals Ae SDG. Hal ini dibuktikan dengan profil lulusan yang ditetapkan oleh Pondok Pesantren Al-Izzah meliputi empat dimensi utama, yaitu: . Ketaqwaan, di mana peserta didik memiliki aqidah yang lurus, kemampuan ibadah yang benar, akhlak mulia, dan semangat perjuangan keislaman. Kecerdasan, yang diwujudkan melalui prestasi akademik dan non-akademik, seperti hafalan Al-QurAoan, kemampuan bahasa asing (Inggris dan Ara. , pemenuhan standar PISA, hingga kelulusan ujian internasional seperti CIE. TOEFL, dan TOAFL. Kemandirian, meliputi kemampuan menghasilkan karya, menyelesaikan masalah hidup, dan beradaptasi di lingkungan sosial. Kepemimpinan, yang mencakup fisik yang sehat, kepribadian tangguh, kemampuan memimpin diri dan orang lain, serta komunikasi Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode pengumpulan data melalui wawancara dan observasi di Pondok Pesantren Al-Izzah. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai efektivitas program Leadership dan School Culture dalam membangun karakter peserta didik yang sesuai dengan kebutuhan SDGs, terutama dalam menciptakan generasi yang bertaqwa, cerdas, mandiri, dan berjiwa kepemimpinan Islami. Penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi rujukan bagi lembaga pendidikan lain dalam merancang program serupa guna mendukung pengembangan karakter peserta didik secara keseluruhan yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Halaman 516 Surabaya, 12 Desember 2024 UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. Yani 117 Surabaya Program Leadership & School Culture Ana Dwi Lestari. Anggi Anggraini Keywords: Leadership. SDGs. Culture. Pesantren. PENDAHULUAN Pendidikan dijadikan fondasi bagi pembangunan berkelanjutan dan diakui sebagai hak asasi manusia yang fundamental. Hal tersebut dijelaskan dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia 1948 dan diperkuat oleh berbagai konvensi internasional, termasuk TPB/SDGs yang dicanangkan PBB pada tahun 1 Dalam sejumlah penelitian, menunjukkan peran dari pendidikan dalam memberdayakan individu dan mentransformasikan masyarakat. Dalam mengatasi tantangan global, dibangunlah pendidikan, kerampilan, nilai, dan Pendidikan berkualitas dapat mengurangi kemiskinan, mengatasi ketimpangan gender dan sosial, serta membangun ketahanan terhadap perubahan iklim. Dilihat dari perspektif pendidikan, sekolah memiliki peran yang sangat krusial guna mewujudkan tujuan yang telah ditetapkan, terutama melalui program kepemimpinan dan budaya sekolah yang mendukung. 3 Program kepemimpinan bermaksud menghasilkan karakter kepemimpinan yang menjadi hal yang tak dapat ditawarkan lagi keberadaannya untuk menghadapi ketatnya persaingan global. 4 Selain itu, program kepemimpinan juga mampu membantu siswa dalam pengambilan keputusan ketika mereka dihadapkan dengan Dalam upaya peningkatan kualitas sekolah, harus dimuali dari internal sekolah yang meliputi perhatian nilai-nilai hidup sebagai budaya sekolah. Suatu lembaga dikatakan berhasil tidak hanya dilihat dari lengkapnya sarana dan prasarana, guru yang berualitas dan profesional serta output siswa yang baik, namun juga dilihat dari budaya sekolah. Budaya sekolah merupakan jiwa dari sebuah kelembagaan yang didalamnya memuat makna terhadap kegiatan lembaga sekolah tersebut. Apabila budaya sekolah tersebut lemah, maka pembentukan sekolah efektifpun akan lemah. Apabila budaya sekolah kuat, maka pembentukan sekolah efektif dapat mengalami peningkatan. 5 Namun melalui program leadership dan scool culture yang diterapkan ebberapa pondok pesantren di Indonesia, diharapkan memiliki potensi besar dalam membantu tercapainya program pembangunan berkelanjutan. 1 Devi Milasari and Nursiwi Nugraheni. AuIntegrasi Pendidikan Konservasi Dan Teknologi Untuk Mewujudkan Pendidikan Inklusif Dan Berkualitas Dalam Pencapaian SDGs,Ay Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia (JPPI) 1, no. : 120. 2 Mirna Amirya and Gugus Irianto. AuTantangan Implementasi Sustainable Development Goals (SGD. Di Indonesia,Ay Jurnal Ilmiah Akuntansi Peradaban 9, no. : 189. 3 Hendro Widodo. Pendidikan Holistik Berbasis Budaya Sekolah (Uad Press, 2. 4 Mujahidin Mujahidin and Muhamad Rizky Malusu. AuMembangun Karakter Kepemimpinan Melalui Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS),Ay At Tadbir: Islamic Education Management Journal 2, no. : 234. 5 Widodo. Pendidikan Holistik Berbasis Budaya Sekolah, 161Ae62. Annual Islamic Conference for Learning and Management UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. Yani 117 Surabaya Halaman 517 AuTransformasi Pembelajaran dan Pengelolaan Pendidikan Islam Prospektif Sustainable Development GoalsAy Ana Dwi Lestari. Anggi Anggraini Pondok pesantren Al-Izzah di Batu merupakan salah satu contoh institusi yang menerapkan program kepemimpinan dan budaya sekolah yang Hal tersebut bertujuan untuk membentuk generasi muda yang tidak hanya cerdas, tetapi juga mampu berkontribusi positif terhadap masyarakat. Pondok pesantren Al-Izzah menyadari bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya bergantung pada kemampuan akademik siswa, namun juga kemmapuan untuk menjadi pemimpin yang visioner dan bertanggung jawab. Sebagaimana yang dapat dilihat pada website dari pondok pesantren ini, terdapat tujuan yang hendak dicapai pada program scool culture yaitu berkepribadian islami, berjiwa juang tinggi dan pantang menyerah, mandiri, peduli pada sesama, disiplin dan tanggung jawab, sopan dan santun, serta sederhana, bersih dan rapi. Hal tersebut tentunya sejalan dengan tujuan SDGs yang menekankan pentingnya pendidikan berkualitas, pengurangan ketidaksetaraan, serta pembangunan masyarakat yang Penelitian ini ingin mengeksplorasi bagaimana Pondok Pesantren Al-Izzah Batu menerapkan program kepemimpinan dan budaya sekolah dalam rangka mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan. Karena meskipun banyak potensi yang dimiliki oleh pondok pesantren Al-Izzah dalam mendukung SDGs, tentunya memiliki tantangan pada implementasi program-program tersebut. Sehingga, melalui proses pendekatan ini, diharapkan dapat memberikan wawasan bagi lembaga pendidikan lain dalam mengembangkan program serupa serta memperkuat peran pendidikan dalam menciptakan masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang. KONSEP DASAR LEADERSHIP & SCHOOL CULTURE Definisi Dan Pentingnya Kepemimpinan Dalam Konteks Pendidikan Proses kepemimpinan berlangsung di mana saja dan kapan saja dalam hubungan timbal balik antar individu dan kelompok manusia karena pada dasarnya kepemimpinan termasuk dalam kajian konsep hubungan manusia. Secara etimologi. AukepemimpinanAy berasal dari kata Aupemimpin dalam bahasa inggris leader bentuk kata kerja dari to lead, yang berarti pemimpin. 6 Overton menjelaskan: Auleadership is the ability to get done with and trhough others while gaining their confidence and cooperationAy. 7 Maka dapat dipahami bahwa kepemimpinan merupakan kemampuan untuk memperoleh tinfakan melalui orang lain dengan kepercayaan dan kerja sama. Dalam konteks pendidikan, peran sekolah, dekan, atau rektor juga memiliki peran dalam konteks kepemimpinan guna bertanggung jawab untuk mengarahkan dan mengawasi proses belajar mengajar agar dapat mencapai sasaran lembaga pendidikan. 6 Jaja Jahari and Rusdiana. Kepemimpinan Pendidikan Islam, 1st ed. (Bandung: Yayasan Darul Hikam, 2. , 15. 7 Syafaruddin. Kepemimpinan Pendidikan: Akuntabilitas Pimpinan Pendidikan Pada Era Otonomi Daerah, 1st ed. (Depok: PT RajaGrafindo Persada, 2. , 35. Halaman 518 Surabaya, 12 Desember 2024 UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. Yani 117 Surabaya Program Leadership & School Culture Ana Dwi Lestari. Anggi Anggraini Secara garis besar, setiap orang yang diangkat menjadi seorang pemimpin didasarkan atas beberapa kelebihan yang dimilikinya, maka diperlukan beberapa syarat tertentu yang biasa disebut dengan karakteristik atau sifat. Diantara sifat-sifat dari kepemimpinan yaitu terdiri dari pribadi yang mampu mengamalkan nilai-nilai luhur dalam pancasila, kualitas kemampuan pribadi . erwibawa, jujur, terpercaya, dan bijaksan. Kepemimpinan dalam pendidikan merupakan kunci keberhasilan dalam menghadapi tantangan globalisasi. Dalam era persaingan yang semakin ketat, perubahan paradigma kepemimpinan dari hierarkis menjadi kemitraan menjadi semakin krusial. Pemimpin pendidikan tidak hanya sekadar memberikan perintah, tetapi juga harus mampu menginspirasi, membimbing, dan bekerja sama dengan seluruh anggota komunitas sekolah. Keberhasilan pendidikan bukanlah hasil kerja individu, melainkan hasil sinergi dari seluruh komponen yang ada. Pemimpin yang efektif mampu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, memotivasi guru dan siswa, serta menjalin kerja sama yang baik dengan masyarakat. Dengan demikian, kepemimpinan yang kuat dan melayani menjadi faktor penentu keberhasilan dalam mencapai tujuan pendidikan yang lebih tinggi. 9 Maka, kunci keberhasilan seorang pemimpin dalam menghadapi tantangan globalisasi yaitu kemampuan untuk mempengaruhi, memotivasi, dan mengelola sumberdaya secara efektif. Seorang pemimpin hendaknya mampu menjadi pemimpin yang visioner dan inspiratif sehingga mampu membawa sekolah menjadi lebih baik. Pengertian Budaya Sekolah Dan Bagaimana Budaya Tersebut Mempengaruhi Proses Belajar Mengajar Budaya sekolah bersifat dinamis, dimiliki oleh seluruh warga sekolah dan merupakan hasil dari interaksi berbagai kekuatan yang masuk ke dalam lingkungan sekolah. Budaya sekolah menurut Sukmadinata, merupakan sekumpulan pola nilai, prinsip, tradisi, dan kebiasaan yang terbentuk selama perjalanan panjang suatu sekolah. 10 Kemudian budaya dikembangkan dalam jangka waktu yang lama dan diyakini oleh seluruh warga sekolah, sehingga mendorong munculnya sikap dan perilaku yang konsisten di antara mereka. Dalam membentuk sistem nilai yang berbudaya dan menjadi milik bersama, diperlukan kondisi sekolah yang dinamis mencerminkan perpaduan antara berbagai latar belakang sosial anggota sekolah yang saling berinteraksi 8 Muhammad Yani. AuKonsep Dasar Karakteristik Kepemimpinan Dalam Pendidikan Islam,Ay AL- HIKMAH (Jurnal Pendidikan Dan Pendidikan Agama Isla. 3, no. : 168. 9 Eneng Siti Suherni. Anis Zohriah, and Machdum Bachtiar. AuPeran Kepemimpinan Dalam Lembaga Pendidikan Pada Kajian Manajemen Pendidikan Islam,Ay Journal on Education 6, no. : 2518. 10 Muhammad Dahlan. Yasir Arafat, and Syaiful Eddy. AuPengaruh Budaya Sekolah Dan Diklat Terhadap Kinerja Guru,Ay Journal of Education Research 1, no. : 218Ae25. 11 Sri Lestari. Pengembangan Karakter Berbasis Budaya Sekolah (CV. Pilar Nusantara, 2. Annual Islamic Conference for Learning and Management UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. Yani 117 Surabaya Halaman 519 AuTransformasi Pembelajaran dan Pengelolaan Pendidikan Islam Prospektif Sustainable Development GoalsAy Ana Dwi Lestari. Anggi Anggraini secara kontinu. 12 Budaya yang berintikan tata nilai memiliki fungsi penting dalam memberikan kerangka dan landasan berupa ide, semangat, gagasan, serta cita-cita bagi seluruh warga sekolah. Lebih lanjut, budaya sekolah sering kali disebut sebagai iklim kerja yang menggambarkan suasana hubungan kerja antara guru-guru, antara guru dan kepala sekolah, serta antara guru dan tenaga kependidikan lainnya. 13 Hal ini mencerminkan lingkungan yang kondusif untuk proses belajar mengajar. Menurut Zamroni, penting bagi sebuah sekolah untuk memiliki budaya atau kultur yang kuat agar memenuhi:14 Hidup, tumbuh, berkembang dan beradaptasi dengan berbagai lingkungan yang ada Memiliki integrasi internal yang memungkinkan terciptanya individu atau kelompok dengan sifat-sifat positif. Oleh karena itu, suatu organisasi pendidikan harus memiliki pola asumsi dasar yang dipegang bersama oleh seluruh warga sekolah. Setiap sekolah harus memiliki budaya sekolahnya sendiri sebagai identitas diri dan juga sebagai rasa kebanggan akan sekolahnya. Berdasarkan salah satu penelitian, disebutkan bahwa kegiatan-kegiatan dari budaya sekolah yang diterapkan dalam keseharian peserta didik itu berpengaruh terhadap perkembangan karakter religius siswa. Adapun contoh dari budaya sekolah diantaranya kegiatan sholat dhuha berjamaah, tahfidzul quran, dan lain sebagainya. 16 Selain berpengaruh terhadap perkembangan karakter religius siswa, juga berpengaruh terhadap proses belajar mengajar. Mencipakan lingkungan kondusif: siswa akan lebih senang untuk berpartisipasi pada proses belajar mengajar apabila mereka merasa diterima dan dihargai di lingkungan sekolah. Maka untuk menciptakan budaya sekolah yang nyaman dan mendukung diperlukan budaya sekolah yang Meningkatkan motivasi siswa: budaya yang mendorong kolaborasi dan saling menghormati dapat meingkatkan motivasi siswa untuk belajar. Siswa akan lebih termotivasi ketika mereka melihat bahwa usaha mereka dihargai dan diakui oleh guru dan teman-teman mereka. 12 HASMA A Y U SARI. AuPengaruh Budaya Sekolah Terhadap Efektivitas Pembelajaran Di SMK Negeri 2 Somba Opu Kabupaten Gowa,Ay 2022. 13 Dahlan. Arafat, and Eddy. AuPengaruh Budaya Sekolah Dan Diklat Terhadap Kinerja Guru. Ay 14 Vira Natalia and Damai Damai. AuPeran Guru Dalam Budaya Sekolah Untuk Membentuk Sikap Disiplin Peserta Didik,Ay Jurnal Pendidikan Dasar Dan Menengah 2, no. : 93Ae102. 15 Azhar Sulistiyono. AuPeran Guru Dalam Menanamkan Nilai-Nilai Demokrasi Melalui Budaya Sekolah,Ay Mahaguru: Jurnal Pendidikan Guru Sekolah 2, no. : 1Ae8. 16 Intan Nuraeni and Erna Labudasari. AuPengaruh Budaya Sekolah Terhadap Karakter Religius Siswa Di Sd It Noor Hidayah,Ay DWIJA CENDEKIA: Jurnal Riset Pedagogik 5, no. : 125. 17 Lestari. Pengembangan Karakter Berbasis Budaya Sekolah. Halaman 520 Surabaya, 12 Desember 2024 UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. Yani 117 Surabaya Program Leadership & School Culture Ana Dwi Lestari. Anggi Anggraini Pembentukan karakter: Budaya sekolah memainkan peran penting dalam pembentukan karakter siswa. Nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, dan kerja sama yang ditanamkan melalui budaya sekolah akan membentuk sikap siswa baik di dalam maupun di luar pendidikan. Pengembangan keterampilan sosial: interaksi di lingkungan sekolah yang kaya akan budaya positif membantu siswa mengembangkan keterampilan sosial yang penting. Melalui kegiatan kelompok dan kolaboratif, siswa belajar untuk bekerja sama, berkomunikasi dengan baik, dan menyelesaikan konflik secara konsturktif. Peningkatan prestasi akademik. Penelitian menunjukkan bahwa budaya sekolah yang kuat dapat berkontribusi pada peningkatan prestasi akademik Ketika budaya mendukung pembelajaran aktif dan inovatif, siswa lebih mungkin untuk mencapai hasil belajar yang lebih baik. Secara keseluruhan, budaya sekolah memiliki dampak signifikan terhadap proses belajar mengajar. Dengan membangun budaya yang positif dan inklusif, lembaga pendidikan dapat menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan akademis dan karakter siswa secara holistik. PENERAPAN PROGRAM LEADERSHIP CULTURE DI PONDOK PESANTREN AL-IZZAH Pondok pesantren Alizzah Batu menerapkan program kepemimpinan dengan sangat insentif dan sistematik, terutama melalui integritas kurikulum dan bduaya sekolah yang kuat. Leadership culture merupakan budaya kepemimpinan yang kuat dan menjadi landasan bagi seluruh kegiatan maAohad ALS, mendorong setiap individu untuk mengembangkan potensi kepemimpinannya dan berkontribusi bagi masyarakat. Deskripsi Program Kepemimpinan yang Diterapkan di Al-Izzah Pondok pesantren Al-Izzah terdiri dari Mahad Putra dan Putri yang masing-masing memiliki bangunan yang berbeda. Al-Izzah menyelenggarakan pendidikan menengah (SMP) pada tahun 2006 dan memulai program pendidikan menengah ke atas (SMA) pada tahun 2011. Masing-masing mahad putra dan putri memiliki program yang berbeda. Program Leadership culture sendiri diimplementasikan pada mahad putra, mulai dari SMP hingga SMA. Kurikulum Berbasis Kepemimpinan Pondok pesantren Al-Izzah mengembangkan kurikulum yang mengintegrasikan nilai-nilai kepemimpinan ke dalam setiap mata pelajaran. Kurikulum ini dirancang untuk tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga pada pengembangan karakter dan keterampilan kepemimpinan siswa. Konsep leadership yang diterapkan di SMP-SMA Putra Al-Izzah memiliki https://alizzahbatu. id/leadership-culture/ yang juga memuat tujuan dari program ini. Adapun tujuan dari program leadership culture yakni: Annual Islamic Conference for Learning and Management UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. Yani 117 Surabaya Halaman 521 AuTransformasi Pembelajaran dan Pengelolaan Pendidikan Islam Prospektif Sustainable Development GoalsAy Ana Dwi Lestari. Anggi Anggraini Gambar tujuh pilar kepemimpinan Penerapan tujuh pilar yang telah disebutkan tadi bertujuan untuk membentuk karakter siswa agar menjadi pemimpin yang tidak hanya cerdas secara akademis, namun juga mampu memiliki akhlak yang baik dan mampu berkontribusi positif bagi masyarakat. Sebagaimana yang telah disebutkan dalam salah satu penelitian yang di dalamnya memuat wawancara bersama salah satu ustadz dari pondok Al-Izzah dan menyampaikan. Aukami menerapkan kurikulum leadhership bertujuan untuk membentuk karakter siswa sebagai pemimpin di masa mendatang, dengan menerapkan leadhership cultureAy. Pelatihan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pondok Pesantren Al-Izzah memberikan pelatihan kepada guru dan staf mengenai pentingnya membangun budaya kepemimpinan di lingkungan pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan gutu dalam mendidik siswa agar menjadi pemimpin yang baik. Kegiatan Ekstrakulikuler Program kepemimpinan di Al-Izzah juga bencakup berbagai kegiatan ekstrakulikuler yang dirancang untuk mengembangkan keterampilan sosial dan kepemimpinan siswa. Kegiatan seperti organisasi siswa, proyek sosial, dan kegiatan komunitas memungkinkan siswa untuk berlatih memimpin dalam situasi nyata. Misalnya pada kegiatan pramuka yang menjadi program wajib untuk diikuti oleh para siswa. 18 Imam Mafruch. AuMANAJEMEN KURIKULUM BERBASIS LEADERSHIP,Ay 2020. Halaman 522 Surabaya, 12 Desember 2024 UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. Yani 117 Surabaya Program Leadership & School Culture Ana Dwi Lestari. Anggi Anggraini Model Kepemimpinan yang Digunakan Kepemimpinan termasuk kombinasi ilmu dan seni dalam memengaruhi individu atau kelompok supaya bertindak sesuai dengan tujuan yang diinginkan dengan cara yang efektif dan efisien. 19 Gaya kepemimpinan di sisi lain merujuk pada cara seorang pemimpin menjalankan perannya dengan memakai keterampilan serta sikapnya. 20 Gaya kepemimpinan ini mencakup perilaku, komunikasi, serta interaksi pemimpin dengan orang lain dalm usahanya memotivasi mereka untuk bertindak. 21 Pondok pesantren Al-Izzah menerapkan model kepemimpinan yang melibatkan semua anggota komunitas sekolah. Kepala sekolah sebagai pemimpin visioner: Kepala sekolah berperan sebagai pemimpin yang menetapkan visi dan misi lembaga pendidikan serta menginspirasi seluruh anggota sekolah untuk mencapai tujuan tersebut. Sebagaimana dalam wawancara kepada salah satu pengajar, menyatakan bahwa seluruh proses dalam penetapan, perencanaan, dan evaluasi harus disetujui terlebih dahulu oleh pimpinan. Kolaborasi antara guru dan siswa: Guru tidak hanya sebagai pengajar tetapi juga sebagai mentor yang membimbing siswa dalam mengembangkan potensi kepemimpinan mereka. Misalnya saja setiap pagi sebelum siswa berangkat sekolah, para ustadz mengingatkan mereka untuk menjaga kerapian kamar, dan mengingatkan untuk kerapian seragam. Pemberdayaan siswa: Siswa didorong untuk mengambil inisiatif dalam berbagai kegiatan, memberikan mereka kesempatan untuk belajar dari pengalaman langsung dalam memimpin kelompok atau proyek. Dengan menerapkan program kepemimpinan yang terstruktur dan model kepemimpinan partisipatif. Pondok Pesantren Al-Izzah di Batu berhasil menciptakan lingkungan pendiidkan yang mendukung pengembangan karakter pemimpin di kalangan siswanya. INTEGRASI NILAI-NILAI SDGs DALAM KURIKULUM Cara Pondok Pesantren Al-Izzah Mengintegrasikan Tujuan SDGs ke Dalam Kurikulum Perencanaan Kurikulum yang Strategis Pondok Pesantren Al-Izzah merancang kurikulum yang menggabungkan nilai-nilai SDGs dengan tujuan pendidikan Islam. Proses perencanaan ini melibatkan analisis kebutuhan lokal dan global, sehingga materi yang diajarkan relevan dengan tantangan yang dihadapi masyarakat saat ini. 19 Jonni Mardizal et al. AuModel Kepemimpinan Transformational. Visioner Dan Authentic Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan Di Era 4. 0,Ay Innovative: Journal Of Social Science Research 3, no. : 2994Ae3003. 20 M S Yusuf. AuPenggunaan Ilmu Munysabah Dalam Istinbyth Hukum,Ay TAJDID 26, no. 21 Sulis Tyaningsih and Kun Nurachadijat. AuPengaruh Gaya Kepemimpinan Dan Motivasi Dalam Suatu Organisasi,Ay Journal on Education 6, no. : 3286Ae99. Annual Islamic Conference for Learning and Management UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. Yani 117 Surabaya Halaman 523 AuTransformasi Pembelajaran dan Pengelolaan Pendidikan Islam Prospektif Sustainable Development GoalsAy Ana Dwi Lestari. Anggi Anggraini Adapun perencanaan tersebut disesuaikan dengan profil lulusan santri yang diharapkan oleh Al-Izzah. Pendekatan Interdisipliner Integrasi nilai-nilai SDGs dilakukan melalui pendekatan interdisipliner, di mana berbagai mata pelajaran saling terkait untuk membahas isu-isu Misalnya, pelajaran agama dapat dihubungkan dengan pelajaran sains untuk membahas tanggung jawab lingkungan dari perspektif Islam. Kegiatan Praktis dan Proyek Sosial Santri dilibatkan dalam proyek sosial yang berfokus pada isu-isu keberlanjutan, seperti program penghijauan, pengelolaan sampah, dan kegiatan sosial lainnya. Hal ini tidak hanya meningkatkan kesadaran mereka terhadap isu-isu lingkungan tetapi juga mengajarkan nilai-nilai kepemimpinan dan tanggung jawab sosial. Contoh Mata Pelajaran atau kegiatan yang mendukung pencapaian SDGs Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) Dalam mata pelajaran PAI, siswa diajarkan tentang pentingnya menjaga lingkungan dan berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat sesuai dengan ajaran Islam. Materi tentang etika lingkungan dan tanggung jawab sosial menjadi bagian dari kurikulum. Kegiatan Ekstrakulikuler Kegiatan seperti Pramuka, organisasi siswa, dan proyek komunitas memberikan kesempatan bagi santri untuk menerapkan nilai-nilai SDGs dalam praktik. Misalnya, kegiatan Pramuka dapat mencakup pelatihan tentang konservasi alam dan pengembangan keterampilan hidup Program Pengabdian Masyarakat Santri terlibat dalam program pengabdian masyarakat yang bertujuan untuk membantu komunitas lokal dalam isu-isu seperti pendidikan, kesehatan, dan Kegiatan ini membantu mereka memahami pentingnya kolaborasi dan kontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan. Metode Pengajaran yang digunakan untuk menanamkan nilai-nilai keberlanjutan kepada siswa Metode Pembelajaran Aktif Pondok Pesantren Al-Izzah menggunakan metode pembelajaran aktif seperti diskusi kelompok, studi kasus, dan proyek kolaboratif untuk mendorong siswa berpikir kritis tentang isu-isu keberlanjutan. Metode ini memungkinkan siswa untuk terlibat langsung dalam proses belajar. Penggunaan Teknologi Digital Teknologi digital digunakan untuk memperkenalkan konsep-konsep SDGs kepada santri melalui media interaktif dan sumber daya online. Ini membantu siswa memahami isu-isu global dengan cara yang lebih menarik dan relevan Halaman 524 Surabaya, 12 Desember 2024 UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. Yani 117 Surabaya Program Leadership & School Culture Ana Dwi Lestari. Anggi Anggraini Pendekatan Kontestual Pengajaran dilakukan dengan mengaitkan materi pelajaran dengan konteks lokal dan masalah nyata yang dihadapi oleh masyarakat sekitar. Pendekatan ini membuat pembelajaran lebih bermakna dan aplikatif bagi santri Hubungan Antara Kurikulum dan Profil Lulusan dengan Pembangunan Berkelanjutan (SDG. Ketaqwaan: Lulusan Al-Izzah diharapkan memiliki aqidah yang lurus, kemampuan ibadah yang benar, dan akhlak mulia. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai SDGs ke dalam kurikulum, santri diajarkan untuk memahami tanggung jawab moral mereka terhadap lingkungan dan masyarakat. Misalnya, melalui pelajaran agama yang menekankan pentingnya menjaga lingkungan sebagai bagian dari ibadah dan tanggung jawab sosial. Kecerdasan: Kecerdasan diukur melalui prestasi akademik dan nonakademik, termasuk hafalan Al-QurAoan dan kemampuan bahasa asing. Kurikulum yang menggabungkan SDGs mendukung pengembangan keterampilan kritis dan analitis siswa. Misalnya, materi tentang perubahan iklim atau keadilan sosial tidak hanya diajarkan dalam konteks teori tetapi juga melalui proyek praktis yang melibatkan penelitian dan pemecahan Kemandirian: Kemandirian mencakup kemampuan menghasilkan karya dan menyelesaikan masalah hidup. Dengan menerapkan proyek sosial terkait SDGs, seperti program pengelolaan sampah atau kegiatan penghijauan, santri dilatih untuk beradaptasi dan berinovasi dalam menghadapi tantangan nyata di masyarakat. Hal ini mendorong mereka untuk menjadi individu yang mandiri dan kreatif dalam mencari solusi. Kepemimpinan: Kepemimpinan di Al-Izzah tidak hanya mencakup kemampuan memimpin diri sendiri tetapi juga orang lain. Melalui kegiatan ekstrakurikuler dan organisasi siswa yang berfokus pada isu-isu keberlanjutan, santri dilatih untuk menjadi pemimpin yang mampu berkomunikasi dengan baik dan mengambil inisiatif dalam proyek-proyek Ini sejalan dengan tujuan SDGs yang mendorong partisipasi aktif dalam pembangunan komunitas. KESIMPULAN Penelitian ini telah berhasil menunjukkan bagaimana Pondok Pesantren AlIzzah di Batu telah mengintegrasikan program kepemimpinan dan budaya sekolah untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan (SDG. Dengan merancang kurikulum yang komprehensif dan relevan, melibatkan siswa dalam berbagai kegiatan ekstrakurikuler, serta menerapkan model kepemimpinan partisipatif. Al-Izzah berhasil mencetak lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang kuat dan peduli terhadap isu-isu Program ini dapat menjadi contoh bagi lembaga pendidikan lainnya Annual Islamic Conference for Learning and Management UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. Yani 117 Surabaya Halaman 525 AuTransformasi Pembelajaran dan Pengelolaan Pendidikan Islam Prospektif Sustainable Development GoalsAy Ana Dwi Lestari. Anggi Anggraini dalam upaya mewujudkan pendidikan yang berkualitas dan berkelanjutan. Namun, perlu diingat bahwa keberhasilan program ini juga membutuhkan evaluasi yang berkelanjutan dan adaptasi terhadap perubahan zaman. DAFTAR PUSTAKA