Tibanndaru: Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi Volume 7 Nomor 1. April Pelaksanaan Kode Etik Pustakawan Untuk Memaksimalkan Kualitas Layanan Perpustakaan SMP Negeri 1 Sumberrejo Dede Meiliya Ariani. Prisca Juvitasari2 1,2Program Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam. Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung 1dedemeiliyaariani@gmail. com , 2priscajuvita@gmail. Received: 19 Juni 2022 DOI: 10. 30742/tb. Revised: 6 Oktober 2022 Accepted: 8 Maret 2023 ABSTRACT The librarian's code of ethics is the key to customer service satisfaction. Professional librarians must have high integrity with the ability and expertise of their field and have a personality by the values of the professional code of ethics. Purpose Research. This study aimed to determine the application of the librarian's code ethics in the library of SMP Negeri 1 Sumberrejo in serving the users and explain what obstacles were experienced by librarians in implementing the librarian's code ethics. Methods. The qualitative approach is the method used in this research. Data collection techniques using interviews, observation, and documentation. Two informants were interviewed, namely the head of the library and the librarian. Result. The result of this research is that application of the librarian's code ethics in the SMP Negeri 1 Sumberrejo is still not The librarian's response is not good when communicating with the users in providing services, and the librarian is not firm when library facilities are misused. Conclusion. Librarians still face obstacles from internal factors, and librarians do not understand the librarian's code of ethics and the varying level of librarian education. External factors are the lack of socialization regarding the librarian's code of ethics and the lack of strict sanctions violating the code of ethics. Keywords: Code of Ethics. Librarian. School Library ABSTRAK Kode etik pustakawan merupakan kunci dari kepuasan pelayanan terhadap pemustaka. Seorang pustakawan profesional harus memiliki intregitas tinggi dengan kemampuan dan keahlian dibidangnya, juga memiliki kepribadian yang sesuai dengan nilai kode etik profesi. Tujuan penelitian. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui Penerapan Kode Etik Pustakawan di Perpustakaan SMP Negeri 1 Sumberrejo dalam melayani pemustaka, dan menjelaskan kendala apa saja yang dialami pustakawan dalam menerapkan kode etik Metode. Pendekatan kualitatif merupakan metode yang digunakan pada penelitian ini. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi dan Ada dua informan yang di wawancara yakni kepala perpustakaan dan Hasil Penelitian. Hasil penelitian ini yaitu penerapan kode etik pustakawan di perpustakaan SMP Negeri 1 Sumberrejo masih belum maksimal. Respon pustakawan yang kurang baik saat berkomunikasi dengan pemustaka dalam memberikan pelayanan dan pustakawan kurang tegas saat ada penyalahgunaan fasilitas perpustakaan. Kesimpulan. Program Studi Ilmu Perpustakaan. Universitas Wijaya Kusuma Surabaya || Copyright@2023 Tibanndaru: Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi Volume 7 Nomor 1. April Pustakawan masih menghadapi kendala dari faktor internal pustakawan belum memahami kode etik pustakawan, dan tidak meratanya jenjang pendidikan pustakawan. Faktor eksternal yaitu kurang sosualisasi mengenai kode etik pustakawan dan kurang tegas sanksi pelanggaran kode etik. Kata Kunci: Kode Etik. Pustakawan. Perpustakaan Sekolah PENDAHULUAN Pustakawan merupakan seorang yang bekerja dengan profesional dalam bidang perpustakaan dan dokumentasi. Mengetahui bahwa pengetahuan mengenai profesi pustakawan untuk masyarakat, dan perlu membuat aturan sebagai pedoman kerja (Hermawan dan Zen, 2. Pada tahun 1988 pemerintah Indonesia telah mengatur pedoman pustakawan dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. Tahun 2007 tentang: perpustakaan pasal 36 ayat 1, menjelaskan pengertian kode etik pustakawan adalah: norma atau aturan yang harus dipatuhi oleh pustakawan untuk menjaga kehormatan, martabat, citra dan profesionalitas. Kode etik digunakan sebagai pedoman dalam bekerja yang harus dilakukan oleh pustakawan Kode etik pustakawan merupakan aturan yang digunakan sebagai batasan perilaku yang digunakan pustakawan untuk melaksanakan tugas profesinya dalam keseharian (Suwarno, 2. Kebebasan intelektual dapat memperluas akses informasi bagi masyarakat, keberadaannya sangatlah penting di dalam keterbukaan informasi. Pustakawan berperan untuk membawa peningkatkan pengetahuan masyarakat untuk berpartisipasi dalam perkembangan di masa datang (Hermawan dan Zen, 2. Pustakawan tidak hanya sebagai pengelola namun juga seorang informan di lingkungan perpustakaan. Pustakawan sebagai pengelola harus memberikan pelayanan yang optimal. Artinya memberikan kemudahan dan menyenangkan bagi Sikap pustakawan yang luwes, sopan, ramah dan komunikatif merupakan sumber dari pelayanan menyenangkan. Setiap perpustakaan memiliki tanggung jawab untuk menjawab tuntutan profesionalisme manajemen dan memenuhi kebutuhan pengguna yang selalu berkembang (Suwarno, 2. Layanan perpustakaan memberikan informasi dan fasilitas kepada pengguna agar mereka mendapatkan informasi yang mereka butuhkan dari berbagai media. Layanan yang ada di perpustakaan di antaranya layanan sirkulasi, layanan informasi, layanan silang, layanan multimedia dan jasa pendidikan pengguna. Pelayanan yang disediakan ini dapat diterapkan secara manual ataupun elektronik (Rahma, et. , 2. Perpustakaan SMPN 1 Sumberrejo memiliki dua kategori jenis koleksi yaitu refrensi dan umum. Berdasarkan jenis koleksi perpustakaan memiliki karya cetak buku sebagai bahan pustaka dan karya terbitan berseri di antaranya surat kabar atau Program Studi Ilmu Perpustakaan. Universitas Wijaya Kusuma Surabaya || Copyright@2023 Tibanndaru: Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi Volume 7 Nomor 1. April koran, majalah dan beberapa laporan yang dibuat dalam jangka waktu tahunan. Melayani anggota perpustakaan yang terdiri dari siswa-siswi, guru dan staf SMP Negeri 1 Sumberrejo dengan jumlah kurang lebih 700 anggota (NS, wawancara, 26 Mei 2. Sarana dan prasarana sebagai pendukung aktifitas perpustakaan gedung dibangun dengan nuansa alami dihiasi banyak bunga yang menambah daya tarik pengguna juga memberikan kesan nyaman. Pustakawan dalam melayani pengguna memiliki peran yang sangat beragam misalnya: edukator . , manajer, administrator, dan supervisior. Jika dikaitkan dengan penjelasan tersebut pustakawan SMP Negeri 1 Sumberrejo sudah melaksanakan tugasnya sebagai edukator walaupun tidak secara langsung di dalam kelas tetapi pustakawan dapat menjelaskan beberapa hal yang dapat menjadi pertanyaan bagi pengguna perpustakaan. Pustakawan juga menjadi manajer di perpustakaan karena mengelola segala informasi yang berkaitan dengan Pustakawan juga mengelola jalannya perpustakaan dari pelayanan di meja sirkulasi hingga pengelolaan koleksi. Selain itu pustakawan juga sering mengikuti pelatihan sebagai sarana untuk menambah pengetahuan baru agar bisa diterapkan di perpustakaan. Adapun karya penelitian sebelum penelitian yang akan dilaksanakan ini saling terkait, yaitu: Penelitian dengan judul AuImplementasi Kode Etik Pustakawan dalam Meningkatkan Kualitas Kinerja Pelayanan Pustakawan di Badan Perpustakaan. Arsip dan Dokumentasi Propinsi Sulawesi UtaraAy oleh Risno Mbonuong . menjelaskan keutamaan pelaksanaan kode etik pustakawan untuk meningkatkan kualitas kinerja pelayanan pustakawan dan membuktikan bahwa penerapan kode etik pustakawan memberikan peningkatan kualitas kinerja pustakawan. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang akan dilakukan adalah penelitian sebelumnya dilingkup perpustakaan daerah atau perpustakaan umum sedangkan penelitian akan dilaksanakan ini berada dilingkup perpustakaan sekolah. Selanjutnya Penelitian AuPeran Etika Kerja Islam Dalam Meningkatkan Kinerja Pustakawan Pada Perpustakaan Perguruan TinggiAy oleh M. Arif Hakim . dalam penelitian tersebut menerangkan bahwa, tuntutan peningkatan kualitas kinerja pustakawan berdasarkan sistem karier dan prestasi kerja dengan memberikan penghargaan dan sanksi telah diamanatkan dalam UU No. 43 tahun 1999 tentang pokok-pokok kepegawaian dan ketentuannya diatur dalam keputusan MENPAN No. 123/KEP/M. PAN/12/2002 mengenai jabatan fungsional pustakawan dan angka Terdapat perbedaan pada penelitian ini dengan sebelumnya ialah pada penelitian ini berfokus pada pedoman kode etik pustakawan, sedangkan penelitian sebelumnya menggunakan pedoman nilai-nilai etika keislaman dan indikatorindikator etos kerja islam yang kemudian di implementasikan ke kinerja Program Studi Ilmu Perpustakaan. Universitas Wijaya Kusuma Surabaya || Copyright@2023 Tibanndaru: Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi Volume 7 Nomor 1. April Fokus penelitian ini adalah sikap pustakawan SMP Negeri 1 Sumberrejo dalam melayani pemustaka selama ini dianggap masih belum bisa komunikatif, karena saat berkomunikasi dengan pemustaka dari siswa hanya menjawab sebatasnya dan dengan suara tinggi. Penelitian ini berfokus pada topik kode etik pustakawan karena menurut peneliti sikap dan tingkah laku yang ditunjukkan pustakawan mempengaruhi citra profesi juga kualitas pada diri pustakawan. Penelitian ini dilaksanakan di Perpustakaan SMP Negeri 1 Sumberrejo karena belum pernah ada yang meneliti tentang pelayanan perpustakaan berdasarkan kode etik pustakawan di wilayah Bojonegoro Khususya Sumberrejo. Peneliti mengkaji penerapan atau pelaksanaan kode etik pustakawan untuk memaksimalkan kualitas layanan perpustakaan. Menggunakan pedoman Kode Etik Pustakawan Indonesia yang sudah dibuat dan disahkan oleh Ikatan Pustakawan Indonesia. Demikian dapat dilihat sejauh mana kode etik pustakawan telah dilaksanakan dan menjadi pedoman pustakawan dalam melaksanakan tugas dan Hampir semua pustakawan tahu adanya kode etik pustakawan namun banyak juga pustakawan yang kurang mengerti mengenai tugas dan profesinya untuk melaksanakan tugasnya, dapat dilihat saat melayani pemustaka dengan sopan, ramah, bijaksana, baik dari ucapan ataupun perbuatan. Berdasarkan penjabaran tersebut penulis menganggap pustakawan di SMP Negeri 1 Sumberrejo dalam melaksanakan tugasnya masih belum menerapkan secara keseluruhan kode etik pustakawan dengan baik untuk memaksimalkan kualitas layanan perpustakaan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui bagaimana Penerapan Kode Etik Pustakawan di Perpustakaan SMP Negeri 1 Sumberrejo dalam melayani pemustaka, dan menjelaskan dalam penerapan kode etik pustakawan kendala apa saja yang Berdasarkan penjelasan di atas penulis ingin mengangkat kasus terhadap pustakawan yang mengesampingkan penerapan kode etik pustakawan dalam pelaksanaan tugasnya. Oleh karena itu penulis mengambil judul penelitian Pelaksanaan Kode Etik Pustakawan Untuk Memaksimalkan Kualitas Layanan Perpustakaan SMP Negeri 1 Sumberrejo. TINJAUAN PUSTAKA Kode Etik Kode etik diartikan secara etimologi berasal dari dua kata, yaitu kode dan Dalam bahasa Inggris kata code memiliki beberapa makna: tingkah laku, perilaku, yaitu aturan yang menjelaskan bagaiman orang berperilaku dalam Aturan undang-undang tertulis yang harus ditaati. Hermawan dan Zen . , etika Kepustakawanan menjelaskan penerapan kode etik pustakawan dapat diimplementasikan dalam berbagai perilaku di berbagai kegiatan berikut: Program Studi Ilmu Perpustakaan. Universitas Wijaya Kusuma Surabaya || Copyright@2023 Tibanndaru: Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi Volume 7 Nomor 1. April Pergaulan di masyarakat, pustakawan berpegang pada dasar etika pergaulan yang berlaku meliputi. sopan, sabar, penolong, menghormati orang lain, perhatian, tidak selalu memikirkan diri sendiri, toleransi, percaya diri, dan mudah bergaul Pelayanan kepada masyarakat, pustakawan dapat menampilkan pelayanan terbaik kepada pengguna, beberapa sikap yang harus dikembangkan meliputi. memahami pengguna, bersikap luwes saat melayani, memahami keinginan pengguna, menawarkan layanan, melayani sampai selesai, tidak menuntut keinginan pribadi, melayani dengan ceria, menjamin kerahasiaan, mampu menerima keluhan, berfikir positif, dan berterima kasih Hubungan dengan rekan sejawat, pustakawan seharusnya menjalin komunikasi yang baik bersama rekan kerja, agar dapat mendukung terciptanya suasana keharmonisan tersebut harus memperhatikan beberapa sikap seperti. hati, mudah beradaptasi dengan lingkungan, dan tidak suka berbuat jahat Hubungan dengan atasan, pustakawan harus mampu menjalin hubungan kerja yang baik dan harmonis dengan atasan. Sikap yang dapat diberikan oleh pustakawan meliputi. totalitas dalam pekerjaan, membantu memecahkan Penampilan pribadi, pustakawan dapat memberikan layanan kepada pengguna dengan memberikan penampilan seperti. bersikap sewajarnya, tidak suka berbohong, berpakaian sopan, tampil tenang, tampil ceria, selalu berkata baik, pandai bersosial, tidak menghitung segalanya dengan materi, dan mudah Pustakawan Pustakawan merupakan orang yang bekerja di bidang perpustakaan dan telah mengenyam pendidikan dasar ilmu perpustakaan, baik didapat dari pelatihan, seminar, kursus, maupun dengan kegiatan pendidikan secara formal Suwarno . Pustakawan adalah seorang yang bertanggung jawab atas majunya Undang-undang No. 43 Tahun 2007 Bab I Pasal I dinyatakan bahwa pustakawan adalah seseorang yang memiliki kompetensi dapat diperoleh melalui pendidikan atau pelatihan kepustakawanan serta memiliki tugas dan tanggung jawab melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan (Azura, 2. Seorang dapat dikatakan pustakawan mengetahui tentang ilmu perpustakaan, setidaknya mengikuti latihan kepustakawanan yang selanjutnya bertugas dan bertanggung jawab oleh instansi yang berwenang untuk mengabdi di perpustakaan sesuai dengan ilmu dan keahlian. Program Studi Ilmu Perpustakaan. Universitas Wijaya Kusuma Surabaya || Copyright@2023 Tibanndaru: Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi Volume 7 Nomor 1. April Kualitas Layanan Perpustakaan Pelayanan perpustakaan merupakan kegiatan membantu pemustaka dengan beberapa fasilitas, aturan dan tata cara tertentu pada sebuah perpustakaan, supaya koleksi perpustakaan dapat digunakan dengan baik. Tanpa pelayanan perpustakaan tidak memiliki arti apa-apa. Pelayanan perpustakaan merupakan usaha yang digunakan pihak perpustakaan agar dapat memenuhi kebutuhan pengguna (Aini. Kualitas pelayanan memiliki lima dimensi menurut Parasuraman di antaranya: Tangible atau bukti fisik, ialah organisasi dapat menunjukkan kredibilitasnya kepada pihak luar. Reability atau keandalan, yaitu organisasi mampu memberikan layanan yang akurat dan terpercaya. Responsiveness atau ketanggapan, yaitu keinginan dalam memberikan layanan dengan cepat dan tepat kepada pengguna, dengan memberikan informasi yang . Assurance atau jaminan dan kepastian, yaitu pemahaman sopan santun dan pegawai mampu untuk meningkatkan kepercayaan para pengguna. Empathy, yaitu memberikan perhatian kepada pengguna dengan berupaya mengerti keinginan pengguna (Rodin, 2. METODE PENELITIAN Metode penelitian kualitatif deskriptif digunakan dalam penelitian yang dilaksanakan di Perpustakaan SMP Negeri 1 Sumberrejo. Penelitian dengan metode kualitatif adalah suatu metode yang digunakan untuk meneliti objek secara alamiah, peneliti menjadi instrumen kunci, selanjutnya untuk teknik pengumpulan data menggunakan teknik triangulasi, analisis datanya bersifat induktif, dan hasil penelitian lebih mengutamakan arti (Sugiyono, 2. Karena peneliti beranggapan bahwa permasalahan yang diteliti cukup kompleks dan dinamis sehingga data yang didapatkan dari para narasumber dijaring dengan metode yang lebih alamiah yaitu wawancara langsung sehingga mendapatkan jawaban alamiah. Selain itu peneliti bertujuan agar dapat memahami situasi sosial di lingkungan perpustakaan, menemukan teori yang sesuai dengan data dari lapangan. Observasi, wawancara, dan dokumentasi merupakan teknik pengumpulan data yang digunakan. Observasi pada penelitian ini dilakukan secara langsung mendatangi Perpustakaan SMP Negeri 1 Sumberrejo untuk mengamati penerapan kode etik pustakawan dalam peningkatan kualitas pelayanan perpustakaan. Data yang didapatkan dalam penelitian ini menggunakan teknik wawancara dengan pustakawan dari perpustakaan SMPN 1 Sumberrejo. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara terstruktur kepada kepala perpustakaan dan pemustaka. Program Studi Ilmu Perpustakaan. Universitas Wijaya Kusuma Surabaya || Copyright@2023 Tibanndaru: Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi Volume 7 Nomor 1. April Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini dengan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. HASIL DAN DISKUSI Penelitian ini membahas mengenai dua pembahasan utama, yaitu pertama pelaksanaan kode etik pustakawan untuk memaksimalkan kualitas Layanan perpustakaan SMP Negeri 1 Sumberrejo. Kedua, kendala yang dihadapi oleh pustakawan dalam melaksanakan kode etik pustakawan di perpustakaan SMP Negeri 1 Sumberrejo. Berikut merupakan hasil penelitian yang telah dilaksanakan. Penerapan Kode Etik Pustakawan untuk Memaksimalkan Pelayanan di Perpustakaan SMP Negeri 1 Sumberrejo Kode etik sangat penting baik di lingkungan masyarakat maupun lingkungan kerja, kode etik sendiri bentuk penerapan sikap dalam sebuah lingkungan agar tercapainya suasana damai dan profesionalitas dalam bekerja. Penerapan kode etik salah satunya diterapkan pada perpustakaan dalam bagian layanan, hal ini terjadi di perpustakaan SMP Negeri 1 Sumberrejo. Penerapan kode etik pustakawan di perpustakaan SMP Negeri 1 Sumberrejo masih belum optimal hal tersebut didasarkan pada hasil wawancara yang diungkapkan oleh kepala perpustakaan dan pustakawan sebagai berikut. AuKode etik pustakawan merupakan sebuah peraturan untuk pengelola perpustakaan yang memiliki tujuan untuk memperbaiki kualitas pelayanan perpustakaanAy (SH, wawancara, 25 Mei 2. AuKode etik pustakawan menurut saya sebuah aturan dan harus ditaati oleh setiap pengelola perpustakaan utamanya pustakawan, hal tersebut bertujuan untuk meningkatkan kualitas pelayanan di sebuah perpustakaanAy (NS, wawancara, 26 Mei 2. Pernyataan tersebut memberikan pendapat bahwa pengertian dari kode etik pustakawan dapat didefinisikan sebagai sebuah aturan yang harus ditaati oleh pengelola perpustakaan. Hal ini ditujukan untuk pengembangan perpustakaan yang lebih baik. Berikut hasil wawancara dengan kepala perpustakaan mengenai pengaruh kode etik pustakawan terhadap keberlangsungan sebuah perpustakaan. AuMenurut saya kode etik pustakawan merupakan bagian penting dalam berjalannya sebuah perpustakaan karena adanya aturan yang menata keberlangsungan perpustakaan untuk lebih baik kaitannya dengan pelayanan perpustakaan yang dapat menarik peminat dan memberikan kenyamanan kepada pengunjungAy (SH, wawancara, 25 Mei 2. Program Studi Ilmu Perpustakaan. Universitas Wijaya Kusuma Surabaya || Copyright@2023 Tibanndaru: Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi Volume 7 Nomor 1. April Berdasarkan data di atas dapat diartikan pentingnya sebuah peraturan disebuah instansi memberikan pengaruh yang kuat terhadap tatanan di dalamnya. Perpustakaan memberikan pelayanan sebagai penyedia bahan pustaka dan menyediakan informasi yang dibutuhkan dari pengguna, pelayanan diberikan dari setiap perpustakaan memiliki ciri khas dan keunggulan masing-masing sama halnya di perpustakaan SMP Negeri 1 Sumberrejo. ihat gambar . Hal ini sebagaimana telah dipaparkan oleh kepala perpustakaan dalam AuDi sini ada beberapa pelayanan yang ditawarkan ada layanan sirkulasi, layanan koleksi bacaan, dan layanan ruang baca. Pelayanan yang paling menonjol di perpustakaan sini ada di bagian pelayanan sirkulasi peminjaman dan pengembalian koleksi karena untuk pelayanan baca di tempat siswa masih sedikit peminatnya karena terbatas jam istirahat, selain hal tersebut adanya program pojok baca di setiap kelas dapat mengurangi peminat perpustakaanAy (SH, wawancara, 25 Mei Berdasarkan data wawancara yang diperoleh oleh peneliti, dapat diartikan bahwa perpustakaan memiliki berbagai pelayanan yang disediakan untuk pengguna ada layanan sirkulasi atau peminjaman dan pengembalian koleksi, layanan referensi, layanan ruang baca dan layanan informasi. Namun dari kedua pelayanan yang ditawarkan pelayanan sirkulasi paling dominan digunakan pemustaka karena terbatasnya waktu menjadikan peminjaman buku lebih banyak peminatnya agar lebih tenang untuk membaca buku koleksi. Sedangkan layanan informasi sering digunakan pengunjung untuk mendapatkan kebutuhan informasinya kepada . ihat gambar . Pustakawan merupakan pengelola dari berbagai macam layanan di perpustakaan yang akan melibatkan pustakawan untuk berinteraksi secara langsung dengan banyak pengunjung. Pustakawan harus selalu bersedia memberikan pelayanan terbaiknya. Hal tersebut dapat memberikan nilai tambah atas profesionalitas seorang pustakawan. Sebuah perpustakaan memiliki upaya tersendiri untuk meningkatkan eksistensinya, supaya untuk menciptakan hal tersebut adalah dengan membentuk jaringan kerja sama dengan pihak luar untuk kepentingan bersama. Namun hal tersebut belum dimiliki oleh perpustakaan SMP Negeri 1 Sumberrejo. Hal tersebut sebagaimana telah dijelaskan oleh pustakawan. AuUpaya kerjasama dengan pihak luar perpustakaan selama ini masih belum ada, namun rencana dari pihak perpustakaan dengan OSIS untuk membuat kegiatan lomba gemar membaca atau hal semacamnya untuk kedepan. Rencana tersebut memiliki tujuan untuk meningkatkan minat baca bagi siswaAy (NS, wawancara, 26 Mei 2. Program Studi Ilmu Perpustakaan. Universitas Wijaya Kusuma Surabaya || Copyright@2023 Tibanndaru: Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi Volume 7 Nomor 1. April Pernyataan informan tersebut dapat dijelaskan bahwa perpustakaan SMP Negeri 1 Sumberrejo belum pernah bekerja sama dengan pihak lain. Selama ini perpustakaan masih berfokus pada perkembangan minat baca di dalam lingkup sekolah, serta upaya tersebut dilakukan dalam instansi itu sendiri tanpa bantuan pihak lain. Pada kegiatan pelayanan di perpustakaan pustakawan selalu dihadapkan dengan banyak pemustaka setiap harinya, hal tersebut dipaparkan oleh pustakawan yang menjadi informan pada wawancara AuDi perpustakaan ini pustakawan menjadi penyelenggara berjalannya perpustakaan, menjadi kegiatan saya setiap hari berhadapan dengan banyak pemustaka yang didominasi para siswa, mereka memiliki karakter, tingkah laku yang berbeda-beda. Ada juga pemustaka yang selalu membuat gaduh dengan tingkah jailnya, tidak sering membuat saya terbawa suasana. Hal tersebut menjadikan saya agar untuk bersifat lebih tegas, memberikan pelayanan terbaik adalah tujuan saya sengan semampu sayaAy (NS, wawancara, 26 Mei 2. Penjelasan tersebut dapat diartikan bahwa pustakawan berhadapan dengan banyak orang yang berbeda setiap harinya. Menjadikan pustakawan lebih banyak pengalaman dalam berkomunikasi namun tidak sering pustakawan menghadapi pemustaka yang suka jahil entah kepada sesama teman maupun pustakawan. Dengan adanya hal tersebut kesabaran pustakawan teruji kesabarannya dan menjadi tantangan agar pemustaka lebih mengerti tempat, situasi dan kondisi. Penerapan kode etik akan sedikit terganggu. Perpustakaan memiliki berbagai macam fasilitas untuk menunjang pelayanan Fasilitas tersebut disetiap perpustakaan memiliki keberagaman dan berbeda dari setiap perpustakaan yang disesuaikan dengan kebutuhan pengguna. Adanya fasilitas tersebut tidak menutup kemungkinan bahwa ada penyalahgunaan. Hal tersebut dipaparkan oleh pustakawan sebagai informan. AuKami dari pihak pengelola perpustakaan tidak terlalu mengambil pusing jika ada yang menggunakan pelayanan yang disediakan perpustakaan digunakan oleh guru, staf atau pegelola perpustkaan sendiri. Selama penggunaannya tidak mengganggu jam kerja kita selagi fasilitas-fasilitas tersebut digunakanAy (NS, wawancara, 26 Mei 2. Pernyataan wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa penggunaan fasilitas perpustakaan, untuk kepentingan pribadi di perpustakaan SMP Negeri 1 Sumberrejo dalam penggunaannya masih dibebaskan dengan syarat tidak mengganggu jam kerja pihak perpustakaan dan dapat menurunkan kinerja Penampilan dari seorang pustakawan akan selalu menjadi sebuah penilaian khusus dari pengguna. Segala tingkah laku dan sikap dari pustakawan sangat berpengaruh terhadap peningkatan kualitas pelayanan perpustakaan . ihat Program Studi Ilmu Perpustakaan. Universitas Wijaya Kusuma Surabaya || Copyright@2023 Tibanndaru: Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi Volume 7 Nomor 1. April gambar . Hal ini sebagaimana telah dipaparkan oleh kedua informan di dalam pernyataan wawancara. AuPustakawan akan memberikan pelayanan kepada pemustaka dengan sepenuh hati baik kepada siswa maupun guru atau staf yang berada di lingkup sekolahAy (SH, wawancara, 25 Mei 2. AuDalam memberikan pelayanan kepada pemustaka penampilan dan performa saya selalu menjadi sorotan, baik atau kurang dapat menjadi nilai bagi pengguna terhadap saya. Pada awalnya hal tersebut menjadi tuntutan bagi saya namun seiring berjalannya waktu memberikan pelayanan terbaik menjadi prinsip saya sebagai pustakawanAy (NS, wawancara, 26 Mei 2. Pernyataan wawancara tersebut dapat memberikan kesimpulan bahwa segala sikap dan tingkah laku pustakawan menjadi penilaian yang besar bagi pemustaka, pelayanan terbaik yang ditujukan dapat menjadi pembangkit minat kunjung perpustakaan. Pengelola perpustakaan terdiri dari beberapa orang yang akan bekerja sama demi kegiatan di dalam perpustakaan berjalan dengan lancar. Hal ini sebagaimana telah dipaparkan oleh kedua informan dalam pernyataan AuDi dalam lingkup perpustakaan terdapat bagan pengelola diantaranya yang pertama ada kepala sekolah sebagai penanggung jawab, selanjutnya koordinator atau kepala perpustakaan sebagai pembina dan pustakawan atau staf pengelolaAy (SH, wawancara, 25 Mei 2. AuDari beberapa pengurus perpustakaan kami selalu menjaga hubungan dengan baik dan bekerja sama untuk menjalankan perpustakaan, untuk menciptakan suasana yang harmonis dalam bekerja kami selalu menjaga komunikasi da saling membantu. Sedangkan hubungan saya sebagai pustakawan dengan atasan saya lebih sering berdiskusi dengan kepala perpustakaan setelah hasil diskusi kami mendapatkan hasil baru kepala perpustakaan menghadap ke kepala sekolahAy (NS, wawancara, 26 Mei 2. Dari pernyataan tersebut dapat diartikan bahwa pengelola perpustakaan tidak hanya terdiri dari satu anggota saja untuk dapat mencapai tujuan perpustakaan dan memberikan pelayanan terbaik untuk pengguna. Pustakawan dan kepala perpustakaan selalu menjaga komunikasi untuk menciptakan keharmonisan dalam Program Studi Ilmu Perpustakaan. Universitas Wijaya Kusuma Surabaya || Copyright@2023 Tibanndaru: Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi Volume 7 Nomor 1. April Gambar 1 Kondisi koleksi referensi di perpustakaan SMP Negeri 1 Sumberrejo Gambar 2 Kondisi meja sirkulasi perpustakaan SMP Negeri 1 Sumberrejo Gambar 3 Kondisi ruang baca perpustakaan SMP Negeri 1 Sumberrejo Program Studi Ilmu Perpustakaan. Universitas Wijaya Kusuma Surabaya || Copyright@2023 Tibanndaru: Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi Volume 7 Nomor 1. April Kendala yang dialami Pustakawan dalam Melaksanakan Penerapan Kode Etik Pustakawan di Perpustakaan SMP Negeri 1 Sumberrejo Pelaksanaan kode etik pustakawan tidak mudah dan memiliki hambatan dimulai dari faktor internal. Sesuai yang diutarakan kepala perpustakaan dan pustakawan dalam wawancara. AuKendala dari kode etik pustakawan di perpustakaan SMP Negeri 1 Sumberrejo kami bertugas sebagai pengelola perpustakaan baik saya sebagai kepala perpustakaan maupun bu Ninik sebagai pustakawan tidak memiliki ilmu yang mendalam tentang perpustakaan karena kami tidak dari lulusan ilmu perpustakaan yang menjadikan kurangnya pemahaman kami tentang pengelolaan perpustakaan itu sendiri, jadi kami mendapatkan ilmu dari pelatihan dan seminar yang selanjutnya kami terapkan dalam pengelolaan perpustakaan. Selain itu kesibukan dari pustakawan yang memegang penuh jalannya perpustakaan sendiri, selain itu kesibukan dari kepala perpustakaan yang menjadi guru mata pelajaran juga merangkap sebagai wali kelas yang dapat menyita waktu untuk memikirkan jalannya perpustakaanAy (SH, wawancara, 25 Mei 2. AuBeberapa kendala yang saya alami dalam melaksanakan kode etik pustakawan kurangnya pengetahuan tentang ilmu perpustakaan didasarkan saya buka lulusan dari bidang tersebut, jadi selama ini saya mengikuti pelatihan dan seminar ilmu yang saya dapatkan akan menjadi bahan evaluasi di perpustakaan untuk memberikan pelayanan yang lebih baik. Bahkan saya belum pernah mengikuti seminar maupun pelatihan yang mengangkat tema kode etik Selain itu sebagai pustakawan perpustakaan sekolah hampir 80% saya menghadapi pemustaka dari kalangan siswa yang memiliki berbagai macam karakter dan menuntut saya untuk bersikap lebih tegas dan kendala yang terakhir di perpustakaan ini dari menurunnya tingkat minat baca bagi para siswaAy (NS, wawancara, 26 Mei 2. Penjelasan dari kedua informan tersebut memiliki kesimpulan bahwa perpustakaan SMP Negeri 1 Sumberrejo masih memiliki banyak kendala ditinjau dari faktor internal tidak meratanya jenjang pendidikan pustakawan menyebabkan kurangnya pemahaman pustakawan dengan nilai-nilai kode etik pustakawan, dan kurang berbakatnya pustakawan dalam berkomunikasi dengan pengunjung. Selain adanya kendala dari faktor internal ada juga faktor eksternal hal tersebut sesuai dengan pemaparan dari kepala perpustakaan dalam wawancara. AuKami pihak perpustakaan sekolah belum penah mendapatkan undangan seminar yang membahas tentang kode etik pustakawan yang membuat kami kurang memahami secara mendalam tentang kode etik pustakawanAy (SH, wawancara, 25 Mei 2. Penjelasan dari informan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa faktor eksternal kendala dari luar perpustakaan adalah kurang populernya kode etik pustakawan karena minimnya sosialisasi mengenai kode etik pustakawan. Adanya kendala tersebut menjadikan pihak pengelola perpustakaan mencari solusi untuk Program Studi Ilmu Perpustakaan. Universitas Wijaya Kusuma Surabaya || Copyright@2023 Tibanndaru: Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi Volume 7 Nomor 1. April mengatasi kendala yang dialami, sesuai dengan pemaparan kedua informan dalam AuDari kendala yang kami rasakan tadi membuat kami untuk terus mencari solusi agar dapat mengatasi hal tersebut, diantaranya saya selalu mengunjungi perpustakaan walaupun hanya sebentar untuk melihat dan mengontrol jalannya perpustakaan dan menjaga komunikasi dengan pustakawan walaupun tidak setiap hari kami membahas tentang perpustakaanAy (SH, wawancara, 25 Mei 2. AuUpaya yang saya lakukan untuk mengatasi kendala tersebut dengan menjaga komunikasi bersama kepala perpustakaan, melayani dengan ramah dan sabar saat berinteraksiAy (NS, wawancara, 26 Mei 2. Penjelasan dari kedua informan tersebut dapat memberikan kesimpulan bahwa, upaya yang dilakukan informan untuk mengatasi kendala saat melaksanakan kode etik pustakawan. Informan selalu berusaha untuk menjaga komunikasi agar lebih komunikatif saat melayani pengguna. Bersikap ramah kepada pengguna yang DISKUSI Penerapan Kode Etik Pustakawan untuk Memaksimalkan Pelayanan di Perpustakaan SMP Negeri 1 Sumberrejo Kode etik yang ditetapkan oleh Ikatan Pustakawan Indonesia seringkali menjadi dasar instrumen penelitian. Hasil data dalam penelitian ini didapatkan dari wawancara yang dilakukan kepada 2 informan yang merupakan kepala perpustakaan dan pustakawan di SMP Negeri 1 Sumberrejo. Data ini menjadi dasar untuk menjawab masalah penelitian mengenai penerapan sikap dasar pustakawan, hubungan antar sejawat, pelayanan kepada masyarakat, hubungan dengan atasan, penampilan pribadi, dan sikap pustakawan untuk menerapkan kode etik pustakawan SMP Negeri 1 Sumberrejo pada kehidupan di masyarakat. Pemahaman pustakawan SMP Negeri 1 Sumberrejo tentang kode etik pustakawan adalah sebuah aturan yang harus ditaati pengelola perpustakaan. Hal ini ditujukan untuk pengembangan perpustakaan yang lebih baik. Pengertian yang dijelaskan oleh kedua informan memiliki kesamaan dengan teori dari Nurhidayah . Kode etik ialah seperangat aturan yang dirancang oleh sekelompok profesi untuk mengatur anggotanya dalam melaksanakan tugasnya dan mengarahkan tanggung jawabnya juga sebagai panduan. Fungsi dari kode etik ini sebagai panduan sikap pustakawan saat bekerja dan menjadi pegangan disaat menyelesaikan masalah. Pentingnya penerapan kode etik pustakawan terhadap keberlangsungan sebuah perpustakaan. Dapat diartikan pentingnya sebuah peraturan disebuah instansi memberikan pengaruh yang kuat terhadap tatanan di dalamnya. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Teori dari Nurhidayah . adanya kode etik pustakawan menjamin pengguna dari kemungkinan dirugikan baik disengaja maupun Program Studi Ilmu Perpustakaan. Universitas Wijaya Kusuma Surabaya || Copyright@2023 Tibanndaru: Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi Volume 7 Nomor 1. April tidak disengaja dari kaum profesional. Adanya kode etik memberikan kepercayaan kepada pengguna karena mempunyai kepastian kepentingannya akan terjamin. Perpustakaan SMP Negeri 1 Sumberrejo memiliki berbagai pelayanan yang disediakan untuk pengguna di antaranya layanan sirkulasi atau layanan peminjaman dan pengembalian, layanan referensi, layanan ruang baca dan layanan informasi. Pelayanan yang disediakan oleh perpustakaan sekolah bertujuan untuk mendukung pendidikan, dengan menyediakan koleksi buku yang dapat digunakan referensi. Hal ini sesuai dengan teori dari Mufli et al . tentang layanan umum yang disediakan perpustakaan ada: layanan peminjaman dan pengembalian koleksi, layanan koleksi referensi, layanan ruang baca, layanan audio visual, layanan bercerita dan layanan kemas ulang informasi. Perpustakaan SMP Negeri 1 Sumberrejo belum pernah bekerja sama dengan pihak lain. Selama ini perpustakaan masih berfokus pada perkembangan minat baca di dalam lingkup sekolah, serta upaya tersebut dilakukan dalam instansi itu sendiri tanpa bantuan pihak lain. hal ini sangat disayangkan karena perpustakaan akan dapat lebih berkembang dapat memenuhi kebutuhan pengguna, sesuai dengan pernyataan dari Suratmi . indikator utama dalam kesuksesan perpustakaan dapat ditinjau dari penyedia dan pengelola informasi yang mana menjadi kepuasan Namun ada kalanya perpustakaan tidak dapat mencukupi kebutuhan Disebabkan minimnya sumber daya yang ada di perpustakaan, maka dibutuhkan kerja sama dengan instani lain. Kerja sama yang dilakukan guna memperluas jaringan pemustaka ke sumber informasi milik perpustakaan lain yang telah melakukan kerjasama. Sikap pustakawan saat melayani pemustaka dalam penerapan kode etik pustakawan, dapat diartikan bahwa pustakawan berhadapan dengan banyak orang yang berbeda setiap harinya. Menjadikan pustakawan lebih banyak pengalaman dalam berkomunikasi namun tidak sering pustakawan menghadapi pemustaka yang suka jahil entah kepada sesama teman maupun pustakawan. Adanya hal tersebut kesabaran pustakawan teruji dan menjadi tantangan agar pemustaka lebih mengerti tempat, situasi dan kondisi. Hal tersebut dapat mengurangi nilai profesionalitas seorang pustakawan berdasarkan teori NurAoaini . tingkah laku pustakawan harus berdasarkan ilmu pengetahuan, tampil dengan baik dan menarik, rapi dalam berpakaian, bersikap ramah, sopan santun, suka membantu dan juga mampu bersosial dengan baik. Perilaku ini harus dilakukan oleh pustakawan untuk menjaga eksistensi pustakawan di hadapan umum lebih baik dan mempunyai etika yang baik. Penggunaan fasilitas perpustakaan untuk kepentingan pribadi di perpustakaan SMP Negeri 1 Sumberrejo dalam penggunaannya masih dibebaskan dengan syarat tidak mengganggu jam kerja pihak perpustakaan dan dapat menurunkan kinerja pustakawan. Hal ini dapat menurunkan citra pustakawan karena kemungkinan dapat merugikan perpustakaan. Serupa dengan teori dari Program Studi Ilmu Perpustakaan. Universitas Wijaya Kusuma Surabaya || Copyright@2023 Tibanndaru: Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi Volume 7 Nomor 1. April Agniken . dalam bertugas sebagai pustakawan, harus bersih dan jujur. Dilarang menyalahgunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi. Segala sikap dan tingkah laku pustakawan menjadi penilaian yang besar bagi pemustaka, pelayanan terbaik yang ditujukan dapat menjadi pembangkit minat kunjung perpustakaan. Hal ini sesuai dengan teori dari Antika . pentingnya penerapan kode etik profesi pustakawan bertujuan agar pustakawan dapat bekerja sesuai batasan dan aturan yang telah dirancang. Tujuan adanya standar tersebut agar tidak ada lagi pelanggaran dan kegiatan di perpustakaan berjalan tanpa ada Fungsi kode etik sebagai batasan sosial bagi masyarakat dengan profesi Pengelola perpustakaan tidak hanya terdiri dari satu anggota saja untuk dapat mencapai tujuan perpustakaan dan memberikan pelayanan terbaik untuk Pustakawan dan kepala perpustakaan selalu menjaga komunikasi untuk menciptakan keharmonisan dalam bekerja. Hal ini sesuai dengan pernyataan dari Jafar . mengenai hubungan antar pustakawan. Profesi pustakawan mempunyai tempat dalam organisasinya. Hal ini bermakna pustakawan tidak sendiri, namun dari individu-individu mempunyai tujuan yang sama dalam profesi, pustakawan dengan teman kerja harus menumbuhkan rasa kekeluargaan, mampu menghargai sesama, menghormati dan bertanggung jawab. Meraih kesuksesan dalam profesi pustakawan harus mampu membuat kerja sama dengan pustakawan lain untuk meningkatkan keahlian profesi, memiliki kesadaran, kesetiaan dan penghargaan terhadap perpustakaan. Kendala yang dialami Pustakawan dalam Melaksanakan Penerapan Kode Etik Pustakawan di Perpustakaan SMP Negeri 1 Sumberrejo Kendala yang dialami pustakawan SMP Negeri 1 Sumberrejo dalam melaksanakan penerapan kode etik pustakawan baik dalam perpustakaan . aktor interna. maupun dari luar . aktor eksterna. di antaranya, penerapan kode etik pustakawan tidak jauh dengan adanya suatu kendala, berikut beberapa kendala penerapan kode etik pustakawan dari faktor internal antara lain, tidak meratanya tingkat pendidikan pustakawan. Kurang pahamnya pustakawan terhadap kode etik pustakawan. Kurangnya mahirnya pustakawan dalam berkomunikasi. Sesuai teori yang diungkapkan Misnah . tentang kendala yang sering ditemukan dalam pelaksanaan kode etik pustakawan yaitu tidak semua pustakawan mengerti tentang kode etik pustakawan dan kurang berbakatnya pustakawan dalam bersosial. Kendala dari luar perpustakaan . aktor eksterna. yaitu kurang populernya kode etik pustakawan karena kurangnya sosialisasi. Kurang tegas sanksi pelanggaran kode etik pustakawan. Kendala pustakawan SMP Negeri 1 Sumberrejo secara garis besar merupakan kendala yang sama dialami pustakawan di perpustakaan lain. Hal ini sesuai dengan teori dari Misnah . upaya yang dapat dilaksanakan unuk mengurangi kendala penerapan kode etik di antaranya, mengadakan workshop atau Program Studi Ilmu Perpustakaan. Universitas Wijaya Kusuma Surabaya || Copyright@2023 Tibanndaru: Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi Volume 7 Nomor 1. April seminar mengenai kode etik pustakawan, partisispan pustakawan setiap kegiatan yang menyangkut kode etik. Sedangkan dari kendala kurang berbakatnya pustakawan dalam berkomunikasi dapat memberikan upaya untuk mengadakan kegiatan yang berkaitan dengan keahlian bersosial, dengan tujuan melatihan komunikasi dengan baik. Upaya yang dilakukan pustakawan dalam mengatasi kendala yaitu pustakawan dan kepala perpustakaan selalu menjaga komunikasi setiap hari meski tidak dapat membahas mengenai perpustakaan, dan selalu bersikap ramah dengan Baik pustakawan maupun kepala perpustakaan selalu mengikuti pelatihan maupun seminar setiap mendapatkan undangan. KESIMPULAN Pelaksanaan kode etik pustakawan di perpustakaan SMP Negeri 1 Sumberrejo dapat dikatakan belum maksimal, karena pustakawan masih memberikan sikap yang tidak sesuai dengan kode etik pustakawan. Dibuktikan dengan sikap pustakawan yang mudah terbawa suasana hingga bersuara lantang ketika menghadapi pemustaka yang susah diatur. Pustakawan kurang memahami kode etik sehingga dalam penerapannya masih belum maksimal. Kurang tegasnya pustakawan terhadap penyalah gunaan fasilitas perpustakaan. Perpustakaan SMP Negeri 1 Sumberrejo belum memiliki relasi untuk mengembangkan kualitas Hambatan yang dihadapi pustakawan baik ditinjau dari faktor internal dan Faktor internal yaitu jenjang pendidikan pustakawan yang tidak merata, kurang pahamnya pustakawan terhadap kode etik pustakawan, pustakawan masih memiliki bakat komunikasi yang minim. Faktor eksternal yaitu kurang populernya kode etik pustakawan karena kurangnya sosialisasi. Kurang tegas sanksi pelanggaran kode etik pustakawan. Adapun usaha yang dilakukan pustakawan dalam mengatasi kendala tersebut, pustakawan dan kepala perpustakaan selalu menjaga komunikasi, berusaha selalu bersikap ramah dengan pengguna dan pengelola perpustakaan selalu mengikuti atau menghadiri undangan pelatihan ataupun seminar untuk mengasah kemampuan dan menambah wawasan mengenai perpustakaan. Program Studi Ilmu Perpustakaan. Universitas Wijaya Kusuma Surabaya || Copyright@2023 Tibanndaru: Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi Volume 7 Nomor 1. April DAFTAR PUSTAKA