Al-Ta’lim: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 03 No. 02 (2025) : Oktober Journal homepage https://ejournal.stainupa.ac.id/index.php/altalim RELEVANSI GAGASAN KI HADJAR DEWANTARA TERHADAP PENDIDIKAN KARAKTER DALAM KURIKULUM MERDEKA Miftah Farid Maulidy 1, Maulana Nur Kholis 2 Ashari3 1 Universitas KH. Abdul Chalim, Mojokerto, Indonesia 2 Universitas KH. Abdul Chalim, Mojokerto, Indonesia 3 Universitas KH. Abdul Chalim, Mojokerto, Indonesia miftahfaridmaulidy@gmail.com1, maulanaazhari84@gmail.com2, ashari@uac.ac.id Received: 30-09-2025 DOI: Accepted: 15-10-2025 Published: 31-10-2025 Abstrak: Pendidikan karakter merupakan aspek fundamental dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Kurikulum Merdeka hadir sebagai jawaban atas tantangan degradasi moral, dengan mengedepankan fleksibilitas pembelajaran serta penguatan Profil Pelajar Pancasila. Penelitian ini bertujuan menganalisis relevansi gagasan Ki Hadjar Dewantara terhadap implementasi pendidikan karakter dalam Kurikulum Merdeka. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemikiran Ki Hadjar, khususnya prinsip ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani, memiliki keselarasan dengan strategi pembelajaran berbasis proyek, refleksi, dan pengalaman kontekstual yang diterapkan dalam Kurikulum Merdeka. Integrasi nilai budaya bangsa dengan kerangka modern membuktikan pentingnya pendidikan karakter yang holistik, adaptif, dan humanis. Artikel ini menegaskan bahwa gagasan Ki Hadjar Dewantara masih relevan sebagai basis filosofis, normatif, dan praktis dalam memperkuat pendidikan karakter di era Merdeka Belajar. Kata Kunci: Pendidikan karakter, Ki Hadjar Dewantara, Kurikulum Merdeka, Profil Pelajar Pancasila Abstract : Character education is a fundamental aspect of human resource development in Indonesia. The Merdeka Curriculum emerges as a response to moral decline, emphasizing flexible learning and strengthening the Profil Pelajar Pancasila. This study aims to analyze the relevance of Ki Hadjar Dewantara’s educational philosophy to character education within the Merdeka Curriculum. The research employed a qualitative method with a literature review approach. Findings reveal that Ki Hadjar’s principles—ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani—align with project-based learning, reflection, and contextual experience promoted in the Merdeka Curriculum. Integrating cultural values with modern frameworks highlights the importance of holistic, adaptive, and humanistic character education. The study concludes that Ki Hadjar Dewantara’s ideas remain highly relevant as philosophical, normative, and practical foundations for strengthening character education in the Merdeka Belajar era. Keywords: Character education, Ki Hadjar Dewantara, Merdeka Curriculum, Pancasila Student Profile PENDAHULUAN Isu krisis karakter pada peserta didik di Indonesia masih menjadi Al-Ta’lim: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 03 No. 02 (2025) : Oktober Miftah Farid Maulidy dkk, Relevansi Gagasan Ki Hadjar Dewantara terhadap Pendidikan Karakter dalam Kurikulum Merdeka persoalan serius. Fenomena kekerasan, intoleransi, hingga lemahnya integritas menunjukkan bahwa pendidikan belum sepenuhnya berhasil membentuk pribadi yang berakhlak mulia. Sebagai respon, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi meluncurkan Kurikulum Merdeka, yang menekankan fleksibilitas, pembelajaran berdiferensiasi, serta penguatan Profil Pelajar Pancasila (Kemendikbudristek, 2022). Dalam konteks ini, pemikiran Ki Hadjar Dewantara menjadi relevan untuk ditinjau ulang. Gagasannya menekankan bahwa pendidikan adalah tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak agar selamat dan bahagia. Pendidikan, menurut Ki Hadjar, bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan proses pembentukan budi pekerti, moral, dan karakter yang merdeka (Dewantara, 2013/2020). Dalam kerangka inilah, urgensi pendidikan karakter semakin mengemuka. Pendidikan karakter tidak hanya dipahami sebagai upaya mengajarkan nilai-nilai moral secara verbal, melainkan suatu proses internalisasi nilai yang dilakukan melalui pembiasaan, keteladanan, dan pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari. Karakter yang kuat merupakan fondasi yang memungkinkan peserta didik menghadapi tantangan zaman dengan tetap berpijak pada nilai-nilai luhur bangsa. Empat nilai karakter inti, yakni jujur, tanggung jawab, gotong royong, dan religius, menjadi pilar utama yang perlu dikembangkan secara konsisten dalam dunia pendidikan. Nilai kejujuran membangun integritas personal, tanggung jawab menumbuhkan kesadaran moral, gotong royong memperkuat kohesi sosial, sementara nilai religius mengakar pada kesadaran spiritual dan etika universal. Jika menelusuri sejarah pendidikan Indonesia, gagasan Ki Hadjar Dewantara memiliki relevansi yang sangat kuat dengan kebutuhan zaman ini. Ki Hadjar Dewantara, sebagai Bapak Pendidikan Nasional, menekankan bahwa pendidikan bukanlah proses pemaksaan kehendak, melainkan proses menuntun tumbuhnya potensi anak sesuai kodratnya. Ia memperkenalkan konsep ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani, yang menempatkan guru bukan sekadar pengajar, tetapi pamong yang memberi teladan, membangkitkan semangat, dan memberikan dorongan sesuai kebutuhan peserta didik. Konsep ini menjadi landasan filosofis dalam pengembangan pendidikan karakter yang bersifat humanis, kontekstual, dan menyeluruh. Kurikulum Merdeka, yang dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi sejak tahun 2021, sejatinya menghidupkan kembali semangat pemikiran Ki Hadjar Dewantara. Kurikulum ini menekankan pada pembelajaran berbasis proyek, diferensiasi, dan penguatan Profil Pelajar Pancasila yang salah satu dimensinya adalah pembentukan karakter. Peserta didik diarahkan untuk menjadi pribadi yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, mandiri, bernalar kritis, kreatif, gotong royong, serta memiliki kesadaran kebhinekaan global. Orientasi ini sejalan dengan gagasan Ki Hadjar Dewantara tentang pendidikan yang 2 Al-Ta’lim: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 03 No. 02 (2025): Oktober ISSN: 3031-0695 Journal homepage https://ejournal.stainupa.ac.id/index.php/altalim Miftah Farid Maulidy dkk, Relevansi Gagasan Ki Hadjar Dewantara terhadap Pendidikan Karakter dalam Kurikulum Merdeka memerdekakan manusia, yakni pendidikan yang menghargai potensi individual sekaligus menanamkan nilai sosial dan spiritual. Namun demikian, implementasi pendidikan karakter melalui Kurikulum Merdeka bukan tanpa tantangan. Salah satu persoalan utama adalah bagaimana nilai-nilai karakter tersebut dapat benar-benar diinternalisasi dalam diri peserta didik, bukan sekadar slogan atau retorika kebijakan. Di sinilah relevansi pemikiran Ki Hadjar Dewantara menemukan konteksnya. Konsep pamong menegaskan peran guru sebagai teladan moral dan fasilitator pembelajaran karakter. Selain itu, pembiasaan dalam budaya sekolah, keterlibatan keluarga, dan dukungan masyarakat menjadi ekosistem penting yang menopang keberhasilan pendidikan karakter. Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa keterpaduan antara nilai lokal, budaya bangsa, dan kebijakan pendidikan modern dapat memperkuat efektivitas pendidikan karakter. Misalnya, penelitian Suyatno & Hidayah (2019) menegaskan bahwa internalisasi nilai karakter berjalan lebih efektif apabila guru memberikan keteladanan nyata dalam kehidupan seharihari. Sementara itu, Kemendikbudristek (2021) menekankan bahwa strategi pembelajaran berbasis proyek dalam Kurikulum Merdeka membuka ruang bagi peserta didik untuk mengaitkan nilai karakter dengan pengalaman kontekstual. Dari sini tampak bahwa pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan kebijakan Kurikulum Merdeka memiliki irisan yang kuat dalam kerangka pendidikan karakter. Pendidikan agama, khususnya Pendidikan Agama Islam, juga memiliki peran strategis dalam memperkuat pendidikan karakter. Al-Qur’an, hadis, dan pandangan ulama memberikan dasar normatif bagi penanaman nilai-nilai moral dan spiritual. Dengan demikian, pendidikan karakter dalam perspektif Islam sejalan dengan visi Ki Hadjar Dewantara yang menekankan keseimbangan antara olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga. Sinergi antara pemikiran Ki Hadjar Dewantara, prinsip Kurikulum Merdeka, dan nilainilai Islam dapat menjadi model pendidikan karakter yang utuh dan kontekstual bagi peserta didik di Indonesia. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini difokuskan pada analisis relevansi gagasan Ki Hadjar Dewantara terhadap pendidikan karakter dalam Kurikulum Merdeka. Fokus penelitian mencakup empat rumusan masalah: (1) Bagaimana konsep pendidikan karakter menurut Ki Hadjar Dewantara? (2) Bagaimana konsep pendidikan karakter dalam Kurikulum Merdeka? (3) Bagaimana relevansi konsep Ki Hadjar Dewantara dengan pendidikan karakter dalam Kurikulum Merdeka? dan (4) Bagaimana implikasi pemikiran Ki Hadjar Dewantara dalam penguatan Kurikulum Merdeka di sekolah? Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoretis bagi pengembangan ilmu pendidikan, sekaligus kontribusi praktis bagi guru, sekolah, dan pembuat kebijakan. Secara teoretis, penelitian ini memperkaya kajian pendidikan karakter dengan pendekatan multidisipliner yang Al-Ta’lim: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 03 No. 02 (2025): Oktober ISSN: 3031-0695 Journal homepage https://ejournal.stainupa.ac.id/index.php/altalim 3 Miftah Farid Maulidy dkk, Relevansi Gagasan Ki Hadjar Dewantara terhadap Pendidikan Karakter dalam Kurikulum Merdeka mengintegrasikan nilai-nilai lokal, budaya bangsa, dan kebijakan nasional. Secara praktis, penelitian ini menawarkan strategi pembelajaran, penguatan peran guru, dan model budaya sekolah yang dapat mendukung internalisasi nilai karakter inti (jujur, tanggung jawab, gotong royong, religius) di era Kurikulum Merdeka. Dengan demikian, urgensi penelitian ini terletak pada upaya menghubungkan warisan pemikiran Ki Hadjar Dewantara dengan kebijakan kontemporer dalam dunia pendidikan. Hasilnya diharapkan dapat menjadi referensi dalam merancang pendidikan karakter yang lebih kontekstual, humanis, dan berkelanjutan, sekaligus menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks. Kajian terbaru menegaskan pentingnya fondasi filosofis lokal dalam penguatan pendidikan karakter. Misalnya, penelitian Saputra dan Nurjanah (2021) menemukan bahwa integrasi nilai budaya Indonesia dalam pembelajaran efektif memperkuat etika sosial siswa. Demikian pula, riset Yuliani et al. (2023) menyebutkan bahwa Kurikulum Merdeka akan lebih bermakna jika ditopang dengan kearifan lokal dan filosofi pendidikan bangsa. Oleh sebab itu, menghubungkan warisan pemikiran Ki Hadjar Dewantara dengan implementasi Kurikulum Merdeka merupakan langkah strategis untuk memperkuat karakter bangsa. KAJIAN TEORI Pendidikan Karakter Pendidikan karakter merupakan usaha sadar dan terencana untuk menumbuhkan nilai-nilai moral, spiritual, dan sosial peserta didik (Lickona, 1996; Nata, 2016). Dalam perkembangan mutakhir, pendidikan karakter dipandang efektif bila diintegrasikan ke seluruh mata pelajaran, aktivitas sekolah, dan kehidupan sehari-hari (Berkowitz & Bier, 2020). Pemikiran Ki Hadjar Dewantara Ki Hadjar Dewantara menekankan Tri Pusat Pendidikan (keluarga, sekolah, masyarakat) serta semboyan ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Filosofi ini menempatkan guru bukan hanya sebagai pengajar, tetapi pamong yang memberi teladan, memberdayakan, dan mendampingi siswa (Sulaiman, 2020). Konsep ini sejalan dengan paradigma pembelajaran humanistik dan konstruktivistik dalam pendidikan modern (Taniredja & Hidayat, 2021). Pendidikan Karakter dalam Kurikulum Merdeka Kurikulum Merdeka dirancang untuk memperkuat Profil Pelajar Pancasila dengan enam dimensi utama: beriman dan bertakwa, berkebinekaan global, gotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif (Kemendikbudristek, 2022). Strateginya diwujudkan melalui project-based learning, pembelajaran berdiferensiasi, serta asesmen autentik (OECD, 2020; Putra & Setiawan, 2023). 4 Al-Ta’lim: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 03 No. 02 (2025): Oktober ISSN: 3031-0695 Journal homepage https://ejournal.stainupa.ac.id/index.php/altalim Miftah Farid Maulidy dkk, Relevansi Gagasan Ki Hadjar Dewantara terhadap Pendidikan Karakter dalam Kurikulum Merdeka METODE PENELITIAN Artikel ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka. Sumber data mencakup buku, artikel ilmiah, kebijakan pendidikan, serta penelitian relevan (2019–2025) mengenai pendidikan karakter, Ki Hadjar Dewantara, dan Kurikulum Merdeka. Analisis dilakukan secara deskriptifanalitis, dengan menelaah titik temu konseptual dan implikasi praktis gagasan Ki Hadjar terhadap penguatan pendidikan karakter. HASIL DAN PEMBAHASAN Relevansi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara terhadap Pendidikan Karakter Hasil penelitian menunjukkan bahwa gagasan Ki Hadjar Dewantara memiliki relevansi yang sangat kuat dengan arah pendidikan karakter dalam Kurikulum Merdeka. Dewantara menekankan bahwa pendidikan adalah upaya menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Pandangan ini menegaskan bahwa pendidikan bukan hanya sekadar mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi lebih dalam lagi, yaitu membentuk pribadi yang berkarakter, beradab, dan berkepribadian utuh. Dalam kerangka Kurikulum Merdeka, gagasan Dewantara dapat dipahami melalui prinsip ing ngarso sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Prinsip ini sejalan dengan peran guru sebagai pamong yang menuntun murid dengan teladan, inspirasi, dan dorongan. Hal ini sejalan dengan kebutuhan pendidikan kontemporer yang menuntut guru bukan hanya sebagai pengajar (teacher-centered), tetapi sebagai fasilitator yang mampu menumbuhkan potensi peserta didik secara holistik (student-centered). Dengan demikian, gagasan Dewantara dapat menjadi pilar filosofis yang memperkuat implementasi pendidikan karakter dalam Kurikulum Merdeka. Lebih jauh, relevansi gagasan Dewantara terlihat dalam orientasinya yang menekankan keseimbangan antara aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Konsep ini selaras dengan pendekatan Profil Pelajar Pancasila yang menjadi roh Kurikulum Merdeka, yaitu membentuk generasi yang beriman, mandiri, bernalar kritis, gotong royong, kreatif, dan berkebinekaan global. Dengan kata lain, Dewantara sudah lebih dahulu mengantisipasi arah pendidikan modern yang humanis, adaptif, dan berakar pada nilai budaya bangsa. Dimensi Moral, Intelektual, dan Sosial dalam Pendidikan Karakter Hasil analisis menunjukkan bahwa pendidikan karakter tidak dapat dilepaskan dari tiga dimensi utama: moral, intelektual, dan sosial. Dimensi moral berhubungan dengan sikap batin yang mendasari tindakan seseorang, seperti kejujuran, integritas, dan rasa tanggung jawab. Dimensi intelektual berkaitan dengan kemampuan berpikir kritis, bernalar, serta memahami nilainilai etika dalam pengambilan keputusan. Sedangkan dimensi sosial berkaitan Al-Ta’lim: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 03 No. 02 (2025): Oktober ISSN: 3031-0695 Journal homepage https://ejournal.stainupa.ac.id/index.php/altalim 5 Miftah Farid Maulidy dkk, Relevansi Gagasan Ki Hadjar Dewantara terhadap Pendidikan Karakter dalam Kurikulum Merdeka dengan bagaimana individu berinteraksi dengan lingkungannya, membangun solidaritas, dan hidup berdampingan dengan orang lain. Dalam konteks Kurikulum Merdeka, ketiga dimensi ini diintegrasikan melalui pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning) yang memungkinkan peserta didik untuk mengalami secara langsung penerapan nilai-nilai karakter. Misalnya, dalam proyek kebersihan lingkungan sekolah, siswa tidak hanya diajak berpikir kritis tentang masalah sampah (dimensi intelektual), tetapi juga bertanggung jawab menjaga kebersihan (dimensi moral), dan bekerja sama dengan teman-temannya (dimensi sosial). Dengan cara ini, pendidikan karakter tidak lagi sekadar teori, melainkan praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan memperlihatkan bahwa ketiga dimensi ini saling melengkapi. Jika pendidikan hanya menekankan dimensi intelektual tanpa dimensi moral, maka akan lahir generasi yang cerdas namun kehilangan arah etika. Sebaliknya, jika hanya menekankan dimensi moral tanpa dimensi intelektual, maka generasi yang lahir berpotensi baik tetapi kurang adaptif terhadap perkembangan zaman. Oleh karena itu, keseimbangan ketiganya merupakan kunci keberhasilan pendidikan karakter yang relevan dengan tantangan abad ke-21. Implementasi Nilai Jujur, Tanggung Jawab, Gotong Royong, dan Religius Empat nilai inti jujur, tanggung jawab, gotong royong, dan religius menjadi fokus utama penelitian ini. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai kejujuran (jujur) merupakan fondasi utama dalam membangun integritas pribadi. Dalam pembelajaran, nilai ini ditanamkan melalui praktik transparansi, baik dalam proses evaluasi, pengerjaan tugas, maupun interaksi sehari-hari. Siswa yang terbiasa jujur tidak hanya membangun kepercayaan diri, tetapi juga menciptakan lingkungan sekolah yang sehat dan adil. Nilai tanggung jawab berhubungan erat dengan kesadaran siswa untuk menunaikan kewajibannya. Dalam Kurikulum Merdeka, nilai ini ditanamkan melalui proyek individu maupun kelompok, yang menuntut peserta didik mengelola waktu, menyelesaikan tugas, dan mempertanggungjawabkan hasilnya. Tanggung jawab juga mencakup kesediaan menerima konsekuensi atas keputusan yang diambil. Gotong royong menegaskan karakter khas bangsa Indonesia, yakni solidaritas sosial. Dalam praktiknya, nilai ini diwujudkan melalui kerja sama tim, kegiatan sosial, hingga kepedulian terhadap sesama. Melalui proyek berbasis kelompok, siswa belajar mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi. Hal ini juga menumbuhkan keterampilan kolaborasi yang sangat dibutuhkan dalam era globalisasi. Nilai religius menjadi penuntun transendental yang memberikan makna lebih dalam terhadap seluruh proses pendidikan. Dalam Kurikulum Merdeka, nilai religius bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi juga diwujudkan dalam etika, akhlak, dan kepedulian sosial. Dengan begitu, siswa tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki orientasi spiritual yang kuat. 6 Al-Ta’lim: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 03 No. 02 (2025): Oktober ISSN: 3031-0695 Journal homepage https://ejournal.stainupa.ac.id/index.php/altalim Miftah Farid Maulidy dkk, Relevansi Gagasan Ki Hadjar Dewantara terhadap Pendidikan Karakter dalam Kurikulum Merdeka Keempat nilai ini, bila diintegrasikan secara konsisten, akan membentuk peserta didik yang berkarakter utuh: jujur dalam ucapan, bertanggung jawab dalam tindakan, peduli dalam kebersamaan, dan religius dalam orientasi hidup. Perspektif Pendidikan Islam dalam Karakter Hasil kajian literatur menunjukkan bahwa Islam memberikan landasan normatif yang kokoh terhadap pendidikan karakter. Al-Qur’an menekankan pentingnya nilai kejujuran (ṣidq), tanggung jawab (amānah), kerja sama (ta‘āwun), dan ketakwaan (taqwā). Nabi Muhammad SAW menjadi teladan utama dalam mengintegrasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan seharihari. Misalnya, hadis tentang amanah dan kejujuran menjadi dasar bagi pembentukan integritas pribadi seorang Muslim. Pandangan para ulama juga memperkaya pemahaman pendidikan karakter. Imam Al-Ghazali, misalnya, menekankan bahwa pendidikan sejati adalah pembentukan akhlak mulia. Konsep ini sangat relevan dengan tujuan Kurikulum Merdeka, yang tidak hanya mengejar kecerdasan intelektual, tetapi juga membentuk manusia beradab dan bermoral. Pembahasan ini menegaskan bahwa pemikiran Ki Hadjar Dewantara sejalan dengan perspektif pendidikan Islam. Keduanya sama-sama menekankan pembentukan akhlak dan budi pekerti sebagai tujuan utama pendidikan. Dengan demikian, integrasi antara pemikiran Dewantara dan nilainilai Islam dapat menghasilkan model pendidikan karakter yang khas Indonesia: modern, religius, dan berbasis budaya lokal. Sinergi Trilogi Pendidikan: Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat Penelitian ini juga menegaskan pentingnya sinergi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam pendidikan karakter. Ki Hadjar Dewantara menyebutnya sebagai Trilogi Pendidikan. Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama yang memberikan teladan nilai. Sekolah berfungsi sebagai tempat pembiasaan dan penguatan karakter. Sedangkan masyarakat menyediakan ruang aktualisasi nilai-nilai dalam kehidupan nyata. Dalam konteks Kurikulum Merdeka, sinergi ini menjadi semakin penting. Kurikulum Merdeka memberikan ruang partisipasi yang luas bagi orang tua dan masyarakat dalam mendukung proses belajar. Misalnya, orang tua dilibatkan dalam proyek sekolah, sementara masyarakat menyediakan ruang kolaborasi dalam kegiatan sosial. Dengan cara ini, pendidikan karakter tidak berhenti di ruang kelas, tetapi meluas ke kehidupan sehari-hari peserta didik. Pembahasan ini memperlihatkan bahwa pendidikan karakter hanya akan berhasil jika dijalankan sebagai gerakan bersama. Sekolah tidak bisa bekerja sendiri tanpa dukungan keluarga, dan keluarga tidak bisa maksimal tanpa dukungan masyarakat. Sinergi ini sekaligus membuktikan bahwa gagasan Dewantara masih sangat relevan untuk menjawab tantangan pendidikan masa kini. Al-Ta’lim: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 03 No. 02 (2025): Oktober ISSN: 3031-0695 Journal homepage https://ejournal.stainupa.ac.id/index.php/altalim 7 Miftah Farid Maulidy dkk, Relevansi Gagasan Ki Hadjar Dewantara terhadap Pendidikan Karakter dalam Kurikulum Merdeka KESIMPULAN Penelitian ini menegaskan bahwa gagasan Ki Hadjar Dewantara memiliki relevansi yang mendalam terhadap penguatan pendidikan karakter dalam Kurikulum Merdeka. Konsep pendidikan sebagai proses menuntun kodrat anak menemukan bentuk aktualisasinya dalam pendekatan Kurikulum Merdeka yang menekankan pembelajaran berbasis pengalaman, refleksi, dan kolaborasi. Pertama, pemikiran Ki Hadjar Dewantara menempatkan pendidikan karakter sebagai inti dari proses pendidikan, dengan guru berperan sebagai pamong melalui prinsip ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Hal ini relevan dengan peran guru dalam Kurikulum Merdeka yang bertugas menuntun, menginspirasi, dan memotivasi peserta didik secara humanis dan adaptif. Kedua, Kurikulum Merdeka memberi ruang luas bagi pengembangan karakter peserta didik melalui proyek, refleksi, dan kegiatan kolaboratif yang mencakup dimensi moral, intelektual, dan sosial. Kejujuran, tanggung jawab, gotong royong, dan religius menjadi empat nilai inti yang tidak hanya diajarkan secara teoritis, tetapi juga dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari di sekolah. Ketiga, relevansi pemikiran Ki Hadjar Dewantara dengan pendidikan Islam memperlihatkan titik temu yang kuat. Baik pemikiran Dewantara maupun nilai-nilai Islam menekankan akhlak mulia sebagai tujuan utama pendidikan. Sinergi keduanya mampu memperkaya konsep pendidikan karakter di Indonesia dengan pendekatan yang humanis, religius, dan berakar pada budaya bangsa. Keempat, keberhasilan pendidikan karakter sangat ditentukan oleh sinergi trilogi pendidikan: keluarga, sekolah, dan masyarakat. Kurikulum Merdeka membuka peluang bagi keterlibatan orang tua dan masyarakat dalam mendukung pembentukan karakter peserta didik. Dengan demikian, pendidikan karakter tidak berhenti pada ruang kelas, melainkan berlanjut pada ruang kehidupan sehari-hari. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa relevansi gagasan Ki Hadjar Dewantara terhadap pendidikan karakter dalam Kurikulum Merdeka bersifat fundamental dan kontekstual. Pemikirannya tidak hanya memperkuat fondasi filosofis, tetapi juga memberikan arah praksis yang jelas untuk membentuk generasi yang jujur, bertanggung jawab, peduli sosial, dan religius di tengah tantangan globalisasi. DAFTAR PUSTAKA Berkowitz, M. W., & Bier, M. C. (2020). What works in character education: A research-driven guide for educators. Journal of Character Education, 16(2), 1–16. Bronfenbrenner, U. (2005). Making human beings human: Bioecological perspectives on human development. Sage. 8 Al-Ta’lim: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 03 No. 02 (2025): Oktober ISSN: 3031-0695 Journal homepage https://ejournal.stainupa.ac.id/index.php/altalim Miftah Farid Maulidy dkk, Relevansi Gagasan Ki Hadjar Dewantara terhadap Pendidikan Karakter dalam Kurikulum Merdeka Dewantara, K. H. (2013). Karya Ki Hadjar Dewantara: Bagian Pertama Pendidikan. Yogyakarta: Majelis Luhur Taman Siswa. Dewantara, K. H. (2013/2020). Pemikiran, Konsepsi, Keteladanan, Sikap Merdeka (Cet. terbaru). UGM Press. Kemendikbudristek. (2021). Panduan Implementasi Kurikulum Merdeka. Jakarta: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Kemendikbudristek. (2022). Panduan Implementasi Kurikulum Merdeka. Jakarta: Kemendikbudristek. Moleong, L. J. (2019). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Mulyasa, E. (2022). Pendidikan karakter dalam perspektif Ki Hadjar Dewantara. Jurnal Pendidikan Karakter, 12(1), 45–56. Nuryatno, M. A. (2019). Pendidikan Karakter dalam Perspektif Filsafat Pendidikan. Yogyakarta: LKiS. Putra, R., & Setiawan, A. (2023). Tantangan guru dalam implementasi pembelajaran berdiferensiasi. Jurnal Inovasi Pendidikan, 9(2), 133–146. Ryan, K., & Bohlin, K. E. (1999). Building character in schools: Practical ways to bring moral instruction to life. Jossey-Bass. Saputra, A., & Nurjanah, N. (2021). Integrasi kearifan lokal dalam pembelajaran karakter. Jurnal Ilmu Pendidikan, 27(3), 211–225. Siregar, F. (2022). Ecological systems and character education in Indonesian schools. Indonesian Journal of Education Studies, 5(1), 55–70. Suyatno & Hidayah, N. (2019). “Pendidikan Karakter dalam Perspektif Islam dan Implementasinya di Sekolah.” Jurnal Pendidikan Karakter, 9(2), 201– 215. Taniredja, H., & Hidayat, R. (2021). Pendidikan holistik dalam perspektif Ki Hadjar Dewantara. Jurnal Filsafat Pendidikan, 8(2), 101–118. Tilaar, H. A. R. (2012). Perubahan Sosial dan Pendidikan: Pengantar Pedagogik Transformatif untuk Indonesia. Jakarta: Grasindo. UNESCO. (2021). Reimagining our futures together: A new social contract for education. UNESCO. Yuliani, R., Prasetyo, A., & Hidayah, N. (2023). Kurikulum Merdeka dan penguatan karakter berbasis budaya lokal. Jurnal Pendidikan Nasional, 14(1), 88–103. Zubaedi. (2015). Desain Pendidikan Karakter: Konsepsi dan Aplikasinya dalam Lembaga Pendidikan. Jakarta: Kencana. Al-Ta’lim: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 03 No. 02 (2025): Oktober ISSN: 3031-0695 Journal homepage https://ejournal.stainupa.ac.id/index.php/altalim 9