P- ISSN: 2798-2645 E- ISSN: 2798-2653 Vol. 2 No. Page:235-247 hed by LP3MKIL Yayasan Linggau Inda Pena Sumatera. Indonesia Jurnal Language education literature PENINGKATAN KEMAMPUAN MENELAAH STRUKTUR FABEL MELALUI MODEL PEMBELAJARAN SRT (SURCH. REWRATE AND TEST) DI KELAS VII SMP NEGERI 02 SEBERANG MUSI Atiya Hartini SMP Negeri 02 Sebarang Musi. Indonesia Email: atiyahartini03@guru. ABSTRAK Tujuan penelitian ini untuk mengetahui peningkatan kemampuan Menelaah Struktur Fabel Melalui Model Pembelajaran SRT (Surch. Rewrate and Tes. pada siswa kelas VII SMP Negeri 02 Seberang Musi. Model penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas dari pratindakan sampai dengan Siklus II. Pengumpulan data dengan teknik tes. Pada hasil pratindakan diketahui hasil rata-rata nilai adalah 66,5 dengan ketuntasan klasikal 50%. Pada kegiatan siklus I diketahui rata-rata nilai adalah 71,75 Dengan ketuntasan klasikal 65%. Pada siklus II diketahui rata-rata nilai adalah 75,75 dengan ketuntasan klasikal 90%. Berdasarkan hasil rata-rata dikatahui peningkatan dari pratindakan ke siklus I adalah 5,25 sedangkan peningkatan ketuntasan klasikal dari pratindakan ke siklus I adalah 15%. Pada Siklus I ke siklus II diketahui peningkatan ratarata nilai adalah 4,6 sedangkan ketuntasan mengalami peningkatan 25%. Selanjutnya peningkatan rata-rata nilai pratindakan ke siklus II adalah 9,25 Dengan ketuntasan klasikal dari pratindakan ke siklus II adalah 40%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa melalui model pembelajaran SRT (Surch. Rewrate and Tes. kemampuan menelaah struktur fabel pada siswa kelas VII SMP Negeri 02 Seberang Musi dapat Kata kunci : Model. SRT (Surch. Rewrate and Tes. , fabel. ABSTRACT The purpose of this research is to determine the increase in the ability to study the structure of fables through the SRT (Surch. Rewrate and Tes. learning model in class VII students at SMP Negeri 02 Seberang Musi. The research model used is Classroom Action Research from pre-action to Cycle II. Data collection using test techniques. In the preaction results, it was found that the average score was 66. 5 with classical completeness of 50%. In the first cycle of activities, it was found that the average score was 71. 75 with classical completeness of 65%. In cycle II it was found that the average score was 75. with classical completeness of 90%. Based on the results, the average increase from preaction to cycle I was 5. 25, while the increase in classical completeness from pre-action to cycle I was 15%. From Cycle I to Cycle II, it was found that the average increase in score 6, while completion increased by 25%. Furthermore, the average increase in the pre-action score to cycle II was 9. With classical completeness from pre-action to cycle II being 40%. Thus, it can be concluded that through the SRT (Surch. Rewrate and Tes. learning model, the ability to study the structure of fables in class VII students at SMP Negeri 02 Seberang Musi can increase. Keywords: Model. SRT (Surch. Rewrate and Tes. , fable. hed by LP3MKIL Yayasan Linggau Inda Pena Sumatera. Indonesia Jurnal Language education literature P- ISSN: 2798-2645 E- ISSN: 2798-2653 Vol. 2 No. Page:235-247 PENDAHULUAN Pembelajaran bahasa Indonesia pada fokus sastra sangat mempengaruhi proses belajar siswa aktif. Pada pembelajaran sastra pada kurikulum 2013 mengarahkan pada keterampilan abad 21 yaitu mampu berfikir secara kritis. Perangkat pembelajaran diarahkan pada teks, sehingga mampu meningkatkan budaya literasi bagi siswa. Mengingat kedudukan siswa siswa sebagai subjek sekaligus objek dalam pengajaran, maka inti proses pengajaran tidak lain adalah kegiatan belajar siswa dalam mencapai suatu tujuan pengajaran (Sudjana, 2005:. Hal ini sejalan dengan pendapat Helmi, . kompetensi profesional merupakan orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal. Dari pernyataan ini jelas terlihat jika proses pembelajaran yang kembangkan guru harus mampu meningkatkan motivasi dan kemampuan siswa untuk belajar. Pembelajaran sastra yang mengarahkan pada keterampilan berfikir kritis, harus mampu dikembangkan secara baik sesuai dengan kehidupan sehari-hari pada siswa. Rahmanto (Hermawati, 2020:. menjelaskan pembelajaran sastra siswa dibelajarkan untuk memahami konsep atau teori, mampu berkarya, serta mampu mengaplikasikan konsep atau teori yang dimilikinya untuk menilai, mengkritik, dan menganalisis karya sastra itu sendiri. Salah satu materi yang sesuai dengan karateristik siswa adalah pembelajaran fabel. Pembelajaran fabel khususnya menelaah unsur fabel memerlukan inovasi baru, sehingga siswa tidak monoton dan hasil yang diperoleh lebih maksimal. Dadela . menjelaskan jika untuk memahami fabel yang baik dengan sajian yang menarik, siswa harus memperhatikan struktur fabel . rientasi, komplikasi, resolusi, dan kod. Menelaah unsur fabel pada siswa kelas VII menuntut siswa untuk mampu menentukan unsur pembangun fabel, sehingga pesan yang ada di dalamnya dapat dipahami dengan baik. Pembelajaran fabel merupakan salah satu jenis sastra yang dapat menanamkan nilai-nilai karakter melalui pembelajaran sastra adalah cerita fabel. Fabel dapat membentuk kepribadian anak dan orang dewasa karena karakter yang diperankan oleh binatang, tanaman, atau benda lainnya dapat dibaratkan sebagai sifat manusia (Yono, 2014:. Sastra berfungsi sebagai penghalus budi sangat dekat dengan kehidupan manusia dan merupakan media atau sarana yang membantu orang tua pendidik mewujudkan karakter anak yang lebih baik (Juanda, 2018:. Fabel memiliki bentuk teks narasi yang mengisahkan tentang kehidupan binatang yang berperilaku menyerupai manusia. Fabel merupakan suatu cerita yang menceritakan dunia binatang yang tingkah lakunya seperti Fabel juga sering disebut cerita moral, karena pesan yang ada di dalam cerita fabel berkaitan dengan moral, (Megawati, dkk. ,2020:. Berdasarkan hasil ulangan harian sekaligus sebagai data pratindakan diketahui jika nilai siswa belum maksimal sehingga masih di bawah KKM yaitu Pembelajaran bahasa Indonesia di kelas VII SMP 02 Seberang Musi masih menggunakan Kurikulum 2013. Adapun berbagai permasalahan yang muncul akibat dari rendahnya kemampuan menelaah struktur fabel salah satunya belum maksimalnya media pembelajaran dan fariasi model pembelajaran sehingga hed by LP3MKIL Yayasan Linggau Inda Pena Sumatera. Indonesia Jurnal Language education literature P- ISSN: 2798-2645 E- ISSN: 2798-2653 Vol. 2 No. Page:235-247 kurang memotivasi siswa untuk belajar. Selain itu hasil penilaian menelaah struktur fabel yang dilakukan, di bawah rata-rata hasil belajar pada pratindakan yaitu 50% yang berada di bawah KKM mata pelajaran yaitu 70. Dari data yang diperoleh pada tahap ini hanya ada 10 siswa yang tuntas dari 20 siswa dan sisanya 10 siswa atau 50% yang belum tuntas. Nilai rata-rata yang diperoleh adalah 66,5 hal ini membuktikan perlunya dilakukan kegiatan PTK untuk meningkatkan hasil belajar bahasa Indonesia. PTK (Penelitian Tindakan Kela. merupakan metode penelitian dengan tujuan memperbaiki pembelajaran dikelasnya. Dadela . mengatakan dalam pelaksanaanya. Penelitian Tindakan Kelas ini melalui empat tahapan yaitu . perencanaan, . pelaksanaan, . observasi dan . Dengan adanya tahapan tersebut, maka akan terlihat peningkatan setiap hasilnya, sehingga masalah yang ada di dalam kelas dapat terpecahkan. Berdasarkan permasalahan yang ada guru merasa memerlukan perbaikan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran yang dapat memudahkan berinteraksi dengan siswa secara langsung guna memberikan pengalaman baru serta memudahkan siswa dalam memahami materi yang tengah diajarkan. Toriyani, dkk. , . menjelaskan proses belajar mengajar adalah upaya secara sistematis yang dilakukan guru untuk mewujudkan proses pembelajaran berjalan secara efektif dan efisien yang di mulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Para guru pada dasarnya adalah orang yang paling mengetahui berbagai masalah pembelajaran yang ada. Guru kadang menemui kegagalan dan kesulitan dalam kegiatan pembelajaran, sehingga guru perlu solusi alternatif kesulitan dan kegagalan dalam kegiatan pembelajaran. Mengingat pentingnya mata pelajaran bahasa Indonesia yang merupakan mata pelajaran wajib diajarkan dalam jenjang pendidikan. Pembelajaran Bahasa Indonesia yang dikelola guru tidak hanya dengan keterampilan mengajar, akan tetapi dengan faktor-faktor pendukung yang lain seperti penggunaan media. Model atau model pembelajaran dan sarana dan prasarana dalam Melihat kurangnya perhatian terhadap hasil belajar dalam pembelajaran bahasa Indonesia, perlu diupayakan suatu pendekatan pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Salah satu model pembelajaran yang diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar bahasa Indonesia dan meningkatkan keaktifan serta motivasi siswa belajar mengajaradalah Model SRT. Yusra . menjelaskan model SRT adalah urutan langkah membaca dengan surch, rewrate, and Test. Model dimungkinkan untuk membaca teks drama. Tujuannya adalah supaya pembacadapat memahami bacaan dengan cepat. Oleh karena itu, peneliti beranggapan bahwa Model ini sesuai untuk digunakan dalam pembelajaran menelaah unsur fabel. Berdasarkan pada permasalahan di atas, penulis menerapkan model pembelajaran SRT dalam meningkatkan kemampuan menelaah struktur fabel di SMP Negeri 02 Seberang Musi. Penerapan model pada pembelajaran menelaah struktur fabel ini kreaktif yang mudah digunakan oleh siswa dalam pembelajaran. Dengan adanya model pembelajaran ini dapat memudahkan siswa dalam memahami materi yang tegah diajarkan. Peneliti juga menawarkan solusi berupa sebuah penelitian dengan judul AuUpaya Meningkatkan Kemampuan Menelah P- ISSN: 2798-2645 E- ISSN: 2798-2653 Vol. 2 No. Page:235-247 hed by LP3MKIL Yayasan Linggau Inda Pena Sumatera. Indonesia Jurnal Language education literature Unsur Fabel melalui Model Pembelajaran SRT (Surch. Rewrate, and Tes. pada siswa Kelas VII SMP Negeri 02 Sebarang MusiAy. METODOLOGI PENELITIAN Metode yang digunakan adalah metode PTK . enelitian tindakan kela. Winarni . PTK adalah penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan tertentu agar dapat memperbaiki dan atau meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran yang diselengarakan secara profesional. Komponen PTK terbagi dalam empat tahapan yaitu, perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Metode ini digunakan untuk mengetahui bagaimana model pembelajaran SRT (Surch. Rewrate and Tes. dalam meningkatkan kemampuan menelaah stuktur teks fabel. Pengambilan data dalam penelitian ini dilakukan dengan beberapa tahap dari pratindakan, siklus I dan siklus II. Tempat pelaksanaan penelitian ini adalah di SMP Negeri 02 Sebarang Musi. Kebupaten Kapahiang. Provinsi Bengkulu. Penelitian ini akan dilakukan bulan September tahun ajaran 2022/2023. Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas VII. 2 sebagai subjek, hal ini dikarenakan siswa kelas VII. 2 merupakan siswa yang nilai masih di bawah KKM yaitu 70. Sehingga memerlukan perbaikan pembelajaran melalui PTK. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif, yang diperoleh dari hasil tes. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan dua teknik dalam pengumpulan data yaitu teknik tes dan teknik angket. Teknik tes dilakukan sebanyak dua kali yaitu Siklus I dan Siklus II pada materi menelaah struktur fable. Untuk mengukur penerapan pembelajaran menelaah struktur fabel penulis menggunakan teknik angket tertutup (Observas. yang ditujukan kepada siswa yang berisi 10 pernyataan. Menurut Riduan . , angket yang disajikan dalam bentuk sedemikian rupa sehingga responden diminta untuk memilih satu jawaban yang sesuai dengan karakteristik dirinya dengan cara memberikan tanda silang . atau tanda checklist (E). Analisa data dilakukan setiap pertemuan dan siklus, sehingga tindakan perbaikan yang dilakukan pada siklus berikutnya dapat menghasilkan perubahan yang signifikan dan pencapaian maksimal. Untuk melihat peningkatan kemampuan siswa secara individu penulis mengunakan penskoran hasil tes kemampuan menelaah teks fabel pada siswa kelas VII SMP Negeri 02 Seberang Musi. Perhitungan nilai akhir menggunakan rumus berikut: Nilai Akhir = Perhitungan nilai akhir, jika siswa mendapatkan nilai di atas KKM 70 siswa dinyatakan tuntas. Untuk melihat kemampuan siswa kelas VII SMP Negeri 02 Seberang Musi terhadap kemampuan menelaah struktur teks fabel pada siswa kelas VII SMP Negeri 02 Seberang Musi baik pada saat siklus 1 maupun siklus 2 dan siswa telah mendapatkan skor rata-rata di atas KKM 70. hed by LP3MKIL Yayasan Linggau Inda Pena Sumatera. Indonesia Jurnal Language education literature P- ISSN: 2798-2645 E- ISSN: 2798-2653 Vol. 2 No. Page:235-247 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 01 September 2022 sampai dengan 27 September 2022 di kelas VII. 2 SMP Negeri 02 Seberang Musi yang berjumlah 20 siswa. Pelaksanaan penelitian dilakukan secara langsung oleh penulis sebagai guru yang sesuai dengan jadwal matapelajaran bahasa Indonesia di sekolah Model pembelajaran yang digunakan adalah model pembelajaran SRT (Surch. Rewrate and Tes. pada materi menelaah struktur fabel. Jumlah pertemuan tatap muka yang dilakukan pada penelitian ini yaitu dua kali siklus dengan rincian siklus I dua kali pertemuan dan siklus II degan dua pertemuan dengan model pembelajaran SRT (Surch. Rewrate and Tes. sekaligus pemberian refleksi pada akhir siklus. Selama dua kali proses pelaksanaan penelitian tersebut, penulis merekapitulasi nilai tes dalam setiap siklusnya. Hal ini dilakukan untuk melihat perkembangan peningkatan baik peningkatan rata-rata maupun peningkatan ketuntasan klasikal pada siswa kelas VII. 2 SMP Negeri 02 Seberang Musi. Berikut penjelasan hasil penelitian tersebut mengenai peningkatan hasil belajar bahasa Indonesia melalui media model pembelajaran SRT (Surch. Rewrate and Tes. dalam materi menelaah struktur fabel siswa kelas VII SMP Negeri 02 Seberang Musi. Deskripsi Data tes Hasil Tes Pratindakan Pengambilan data pratindakan dilakukan pada hari Selasa, tanggal 1 September 2022 di kelas VII. 2 SMP Negeri 02 Seberang Musi. Untuk memperoleh suatu data, penulis mengambil data ulangan harian sebagai data Dari hasil pengamatan dan penelitian terhadap kemampuan menelaah struktur teks fabel pada siswa kelas VII. 2 SMP Negeri 02 Seberang Musi. Berdasarkan hasil nilai pratindakan, siswa yang mendapatkan nilai lebih dari 70 sesuai dengan KKM dalam pratindakan sebanyak 10 siswa . %) dan yang belum tuntas sebanyak 10 siswa . %). Nilai tertinggi adalah 80 dan yang Rata-rata nilai keseluruhan sebesar 66,5. Secara deskriptif dapat dikatakan bahwa kemampuan awal/pratindakan siswa belum dalam kategori tuntas secara klasikal, karena rata-rata nilai <70 dan belum mencapai ketuntasan secara klasikal 75%. Rendahnya nilai pratindakan disebabkan baberapa faktor, antara lain kurangnya pemahaman siswa terhadap struktur teks fabel, dan faktor utama adalah kurang tepatnya materi pembelajaran dengan model yang digunakan. Model pembelajaran harusnya mampu memberikan langkah mudah siswa dalam memahami suatu materi. Model pembelajaran harusnya memberikan motivasi penuh pada materi tertentu khususnya pada materi kemampuan menelaah struktur teks fabel. Oleh sebab itu diperlukan model pembelajaran yang sesuai salah satu yang dicobakan penulis adalah model pembelajaran SRT (Surch. Rewrate and Tes. Hasil Siklus I Siklus 1 adalah proses perbaikan pembelajaran dari kegiatan pratindakan. Adapun siklus I dilaksanakan dua kali pertemuan . y40 meni. pada pertemuan hed by LP3MKIL Yayasan Linggau Inda Pena Sumatera. Indonesia Jurnal Language education literature P- ISSN: 2798-2645 E- ISSN: 2798-2653 Vol. 2 No. Page:235-247 pertama tanggal 6 September 2022 dan pertemuan ke-dua tanggal 13 September 2022 di SMP Negeri 02 Seberang Musi Kabupaten Kepahiang. Provinsi Bengkulu. Tahap Perencanaan Pada tindakan pertama dilakukan kegiatan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran SRT (Surch. Rewrate and Tes. Pada pertemuan pertama pembelajaran membahas materi struktur teks fabel pada siswa kelas VII SMP Negeri 02 Seberang Musi. Pada tahap perencanaan penulis sebagai pelaksana tindakan mempersiapkan tahap pembelajaran pada perencanaan ini. Perencanaan pembelajaran, lembar observasi dan sejumlah keperluan mengajar . Pelaksanaan Pelaksanaan siklus I pertemuan pertama dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 06 September 2022. Pada tahap ini penulis melaksanakan pembelajaran sesuai dengan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajara. yang telah disusun Langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran yang dilaksanakan sesuai dengan model yang digunakan. Hasil Observasi Pada tahap ini pelaksanaan pembelajaran, diamati oleh Kepala SMP dan guru atau teman sejawat SMP Negeri 02 Seberang Musi. Pengamatan ini dilakukan penulis dan observer menggunakan lembar observasi yang sudah berisi indikator yang diperlukan dalam menjawab permasalahan proses pembelajaran yang berlangsung. Hasil observasi menunjukkan pada siklus I pertemuan pertama sebagian besar siswa kurang aktif dalam kegiatan proses belajar berlangsung. Berdasarkan hasil dari observer secara umum pelaksanaan pembelajaran berjalan dengan baik, walaupun dalam proses yang dilakukan oleh penulis masih memiliki kelemahan, terutama terhadap penggunaan media pembelajaran. Dalam pemanfaatan media kurang efisien karena ketika proses memahami materi pada siswa kelas VII SMP Negeri 02 Seberang Musi media kurang beroprasi dengan baik, dikarenakan jaringan listrik, sehingga materi pembelajaran tidak tersampaikan dengan baik. Selain itu juga, pada saat kegiatan proses pembelajaran guru kurang memberikan simulasi pengerjaan latihan dan pembimbingan yang intensif. Hasil Siklus I Pertemuan 2 . Tahap Perencanaan Penulis memulai pelaksanaan siklus I pertemuan kedua dengan Pada tahap ini penulis menyiapkan semua hal yang diperlukan pada pelaksanaan tindakan. Hal-hal yang perlu disiapkan antara lain: Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan lembar observasi. Tahap Pelaksanaan Pelaksanaan siklus pertama pertemuan ke-dua dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 13 September 2022. Pada tahap ini penulis melaksanakan pembelajaran sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang telah disusun sebelumnya. Langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran yang penulis laksanakan sesuai dengan waktu yang ditetapkan . Kegiatan akhir pelaksanaan siklus I pertemuan ke-dua, maka pelaksanaan siklus I telah selesai dilaksanakan. Oleh karena itu untuk mengetahui peningkatan hed by LP3MKIL Yayasan Linggau Inda Pena Sumatera. Indonesia Jurnal Language education literature P- ISSN: 2798-2645 E- ISSN: 2798-2653 Vol. 2 No. Page:235-247 kemampuan menelaah struktur teks fabel pada siswa kelas VII SMP Negeri 02 Seberang Musi, penulis memberikan latihan kepada siswa. Tes yang diberikan berupa penugasan kepada siswa untuk mengerjakan soal berkaitan menelaah struktur teks fabel. Pelaksanaan tes dikuti oleh seluruh subyek penelitian yaitu seluruh siswa kelas VII. 2 SMP Negeri 02 Seberang Musi, yang berjumlah 20 . Hasil Pelaksanaan Tindakan Hasil pelaksanaan siklus I akan memberikan gambaran perlunya dilaksanakan siklus II atau tidak. Berdasarkan hasil pembelajaran siklus I belum menunjukan keaktifan siswa sebagaimana yang diharapkan. Dari hasil tes kemampuan menelaah struktur teks fabel pada siswa kelas VII SMP Negeri 02 Seberang Musi menunjukan siswa masih belum mencapai nilai ketuntasan. Berdasarkan dari hasil tes siklus I diketahui bahwa siswa yang dinyatakan tuntas sebanyak 13 siswa atau 65%, dan 7 siswa atau 35% dinyatakan belum Rata-rata nilai adalah 71,75, secara deskriptif dapat dikatakan bahwa siklus I secara klasikal belum tuntas, karena masih di bawah ketuntasan klasikal yaitu sebesar 75%. Pada kegiatan siklus 1 terjadi peningkatan kemampuan menelaah struktur teks fabel pada siswa kelas VII SMP Negeri 02 Seberang Musi dari pratindakan dengan rata-rata 66,5 sedangkan pada siklus I rata-rata nilai adalah 71,75, sehingga terjadi peningkatan rata-rata sebesar 5,25. Selain itu dari hasil siklus 1 diperoleh data peningkatan ketuntasan klasikal dari ketuntasan pratindakan 50% sedangkan silkus I sebesar 65%. Peningkatan ketuntasan klasikal dari pratindakan ke siklus I sebesar 15%. Hasil Observasi Pelaksanaan observasi dilaksanakan selama proses pembelajaran Observasi ini dilaksanakan oleh kepala sekolah dan guru matapelajaran bahasa Indonesia mengamati pelaksanaan pembelajaran yang dilaksanakan dan mengisi lembar observasi yang telah disiapkan dan kemudian memberikan saran dan kritik terhadap proses pembelajaran yang dilaksanakan. Saran dan kritikan yang diberikan oleh pengamat pada pelaksanaan siklus 1 pertemuan kedua adalah sebagai berikut: Hasil observasi menunjukkan pada siklus I pertemuan ke dua sebagian besar siswa merasa lebih aktif dan termotivasi mengerjakan latihan menelaah struktur teks fabel pada siswa kelas VII SMP Negeri 02 Seberang Musi dengan diterapkanya model pembelajaran SRT (Surch. Rewrate and Tes. Berdasarkan pengamatan antara guru, penulis dan kolaborator siswa terlihat lebih aktif, ada kompetitif antar kelompok. Refleksi Setelah dilaksanakan siklus I pertemuan pertama dan pertemuan kedua, penulis mendapatkan saran-saran atau tangapan dari para observer. Saran-saran tersebut ditindak lanjuti dengan memperbaki langkah RPP yang akan diterapkan pada siklus II sesuai dengan saran-saran atau hasil pengamatan dari para observer dalam siklus I, selain itu perlunya mengoptimalkan contoh dan latihan yang Hasil Siklus II Siklus II dilaksanakan dalam 2 x pertemuan . x 40 meni. pada tanggal 20 September 2022 (Pertemuan . sampai dengan 27 September 2022 (Pertemuan . hed by LP3MKIL Yayasan Linggau Inda Pena Sumatera. Indonesia Jurnal Language education literature P- ISSN: 2798-2645 E- ISSN: 2798-2653 Vol. 2 No. Page:235-247 di kelas VII. 2 SMP Negeri 02 Seberang Musi. Pertemuan pertama pada siklus II menjelaskan struktur fabel. Pada pertemuan ke dua siklus II membahas menelaah struktur fabel. Perencanaan Tindakan Tahap perencanan pada siklus II adalah refleksi dari siklus I. Masukan dari tahap refleksi kegiatan siklus 1 hal yang menjadi perbaikan adalah, apersepsi pembelajaran disiapkan semenarik mungkin, tujuan pembelajaran lebih terperinci, mengkondisikan setiap kelompok belajar, menguatkan dan mengapresiasi kerja siswa dan pengoptimalan media pembelajaran pada proses belajar mengajar. Selain itu diperlukan latihan-latihan yang membuat siswa lebih termotivasi untuk meningkatkan hasil belajar bahasa Indonesia. Tahap Pelaksanaan Sesuai dengan masukan dan saran yang diperoleh dari siklus I. Selanjutnya langkah-langkah yang perlu ditempuh pada pelaksanaan siklus II. Langkah yang dipersiapkan dimulai dari kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan penutup, sehingga lebih mengoptimalkan media pembelajaranya. Pelaksanaan siklus II bertujuan untuk memperbaiki kekurangan yang terjadi pada siklus I. Berdasarkan kritik dan saran dari observer, maka penulis melakukan perbaikan meningkatkan kualitas bentuk latihan dengan mengoptimalkan langkah model pembelajaran yang tepat agar lebih efektif. Perbaikan pada pembagian alokasi waktu untuk mengkondisikan kelompok belajar. Untuk mengetahui peningkatan siklus II, diadakan latihan menelaah struktur teks fabel pada siswa yang dikerjakan secara individu. Berdasarkan hasil tes tersebut terlihat peningkatan nilai siswa pada siklus II. Berdasarkan hasil siklus II bahwa siswa yang mendapatkan nilai >70 ketegori tuntas sebanyak 18 siswa . %). Siswa yang nilainya kurang dari <70 adalah 2 siswa . %). Nilai tertinggi adalah 85 dan yang terendah 65 rata-rata keseluruhan sebesar 75,75. Pada siklus II kemampuan menelaah struktur teks fabel pada siswa kelas VII SMP Negeri 02 Seberang Musi telah tuntas dengan rata-rata 75,75. Secara deskripsi pembelajaran pada siklus II dikatakan tuntas secara klasikal, karena siswa tuntas lebih dari 75% yang mendapatkan nilai >70. Berdasarkan hasil tersebut model pembelajaran SRT (Surch. Rewrate and Tes. mampu meningkatkan kemampuan menelaah struktur teks fabel pada siswa kelas VII SMP Negeri 02 Seberang Musi. Hasil Observasi Berdasarkan hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran SRT (Surch. Rewrate and Tes. mampu meningkatkan kemampuan menelaah struktur teks fabel pada siswa kelas VII SMP Negeri 02 Seberang Musi. Dapat dilihat dari hasil tes dan kegiatan pembelajaran siswa dalam menerima pelajaran serta memberikan respon yang baik yang diajarkan oleh guru pada saat proses belajar mengajar berlangsung. Hasil observasi menunjukkan pada siklus II sebagian besar siswa lebih termotivasi untuk menyelesaikan latihan menelaah struktur teks fabel. Pada tahap ini menunjukkan bahwa model pembelajaran SRT (Surch. Rewrate and Tes. yang digunakan dalam pembelajaran meningkatkan motivasi dan hasil belajar bahasa Indonesia. Sebagian siswa juga menyatakan bahwa pembelajaran dengan model SRT (Surch. Rewrate and Tes. ini sangat efektif digunakan karena memberikan peluang kepada siswa berfikir kritis. hed by LP3MKIL Yayasan Linggau Inda Pena Sumatera. Indonesia Jurnal Language education literature P- ISSN: 2798-2645 E- ISSN: 2798-2653 Vol. 2 No. Page:235-247 . Refleksi Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar melalui model pembelajaran SRT (Surch. Rewrate and Tes. pada siklus II mengalami peningkatan dari sebelumnya, di antaranya siswa termotivasi dalam mengerjakan latihan materi menelaah struktur teks fabel jika dibandingkan dengan pelaksanaan siklus I. Melihat proses pembelajaran yang aktif, dapat disimpulkkan kemampuan menelaah struktur teks fabel pada siswa kelas VII SMP Negeri 02 Seberang Musi meningkat. Dapat dilihat dari hasil pratindakan dengan nilai rata-rata 66,5, siswa yang belum tuntas 11 atau 50%. Sedangkan rata-rata siklus I sebesar 71,75 dengan jumlah siswa tidak tuntas sebesar 13 siswa atau 65% dan siswa belum tuntas sebanyak 7 siswa atau 35%. Terjadi peningkatan ketuntasan dari pratindakan ke siklus I yaitu 5,25 atau 15%. Pada siklus II rata-rata hasil tes sebesar 75,75 dibandingkan dengan nilai rata-rata siklus I sebesar 71,75. Jumlah siswa yang tuntas belajar pada siklus II sebanyak 18 siswa . %). Sedangkan siklus I sebanyak 13 siswa . %) dengan demikian, terdapat peningkatan siswa yang tuntas sebanyak 5 orang atau 25%. Dapat dilihat dari hasil nilai pratindakan ke siklus II terjadi peningkatan dengan jumlah siswa 8 orang atau 40%. Oleh sebab itu, tindakan pada siklus berikutnya tidak perlu dilaksanakan, karena kriteria ketuntasan secara klasikal sudah mencapai klasikal atau 75% pada siklus II dan siswa yang memperoleh nilai >70. Peningkatan secara signifikan ketuntasan belajar bahasa Indonesia yang dapat dicapai dengan memperbaiki kekurangan-kekurangan pada proses siklus I dan penerapan hasil dari koordinasi dengan kepala sekolah dan teman sejawat dalam proses penelitian berlangsung sehingga nilai yang dicapai oleh siswa memperoleh nilai ketuntasan yang baik secara individu maupun keseluruhan. Pembahasan Analisis Peningkatan Kemampuan Menelaah Struktur Teks Fabel melalui Model Pembelajaran SRT (Surch. Rewrate and Tes. Kegiatan Pratindakan Pada tahap pratindakan dilakukan untuk mengatahui hasil kemampuan menelaah struktur teks fabel pada siswa kelas VII SMP Negeri 02 Seberang Musi sebagai data awal. Data diperoleh melalui hasil ulangan harian pada materi menelaah struktur teks fabel. Selanjutnya data akan diolah untuk melihat persentase ketuntasan dan belum tuntas pada siswa. Hasil siswa pada pratindakan digunakan untuk memecahkan permasalahan yang ada baik dari siswa, guru dan proses pembelajaranya. Hasil ulangan harian digunakan sebagai data pratindakan dan oleh sehingga didapatkan bahwa siswa yang mendapatkan nilai >70 kategori tuntas terdapat 10 siswa atau 50%. Hasil pratindakan dengan nilai rata-rata 66,5, sedangkan siswa yang belum tuntas 10 atau 50%. Berdasarkan hasil pratindakan dapat dikatakan bahwa kemampuan awal siswa dalam kategori belum tuntas secara klasikal. Rendahnya hasil dari pratindakan dapat disebabkan dengan penggunaan model pembelajaran yang belum sesuai dengan materi yang diberikan. Model pembelajaran harus sesuai dalam pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar bahasa Indonesia. Motivasi belajar siswa terhadap materi belum maksimal sehingga diperlukan model yang sesuai. Model yang sesuai dengan materi hed by LP3MKIL Yayasan Linggau Inda Pena Sumatera. Indonesia Jurnal Language education literature P- ISSN: 2798-2645 E- ISSN: 2798-2653 Vol. 2 No. Page:235-247 pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan mengoptimalkan pembelajaran yang kreatif dan inovatif. Berdasarkan faktor-faktor penghambat peningkatan pembalajaran bahasa Indonesia, tersebut penulis menyimpulkan bahwa untuk mencapai hasil belajar yang memungkinkan siswa dapat belajar secara efektif dan efisien, maka perlu dicarikan solusi pemecahan masalahnya. Oleh karena itu untuk meningkatkan kemampuan siswa, penulis menggunakan model pembelajaran SRT (Surch. Rewrate and Tes. dalam kemampuan menelaah struktur teks fabel pada siswa kelas VII SMP Negeri 02 Seberang Musi. Pembahasan Siklus I Kegiatan siklus I dilakukan untuk memperbaiki kondisi awal hasil belajar siswa, untuk itu pada proses pembelajaran diterapkan model SRT (Surch. Rewrate and Tes. Pada proses kegiatan pembelajaran pada siklus I siswa masih dalam kategori belum tuntas secara klasikal terhadap kemampuan menelaah struktur teks Pada siklus I digunakan model pembelajaran SRT (Surch. Rewrate and Tes. untuk meningkatkan kemampuan menelaah struktur teks fabel pada siswa kelas VII SMP Negeri 02 Seberang Musi. Pada siklus I ini penelitian dilakukan dengan kegiatan pembelajaran menggunakan model pembelajaran SRT (Surch. Rewrate and Tes. penulis bertindak sebagai guru. Pembelajaran yang dilakukan secara klasikal difokuskan pada proses pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan siswa dan hasil belajar siswa. Dalam pelaksanaan tindakan sebagai upaya meningkatkan kemampuan menelaah struktur teks fabel pada siswa kelas VII SMP Negeri 02 Seberang Musi. Pada awal pembelajaran, setelah memberikan salam dan menyapa siswa guru mengabsen siswa serta menjelaskan dan memberikan motivasi kepada Kemudian guru menginformasikan dengan jelas tentang model pembelajaran SRT (Surch. Rewrate and Tes. Informasi ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menelaah struktur teks fabel pada siswa kelas VII SMP Negeri 02 Seberang Musi. Siklus 1 digunakan sebagai alat ukur untuk menggetahui keberhasilan tindakan pertama, maka digunakan 1 soal dalam meningkatkan kemampuan menelaah struktur teks fabel pada siswa kelas VII SMP Negeri 02 Seberang Musi. Berdasarkan hasil tes nilai yang diperoleh pada siklus I menunjukan rata-rata siklus I sebesar 71,75. Diketahui jumlah siswa tidak tuntas sebesar 13 siswa atau Dalam hal ini berarti tujuan dari pembelajaran secara klasikal 75% belum Perlu adanya perbaikan yang dilaksanakan pada siklus II, walaupun setelah dilaksanakan pembelajaran pada siklus I terlihat banyak perubahan dan peningkatan nilai terjadi pada kemampuan menelaah struktur teks fabel pada siswa kelas VII SMP Negeri 02 Seberang Musi. Pembahasan pada Siklus II Pada kegiatan siklus II penelitian dilakukan dengan kegiatan pembelajaran menggunakan model pembelajaran SRT (Surch. Rewrate and Tes. , penulis bertindak sebagai guru. Pembelajaran yang dilakukan difokuskan pada proses pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan siswa dan hasil belajar siswa. Pelaksanaan tindakan sebagai upaya meningkatkan kemampuan menelaah struktur teks fabel pada siswa kelas VII SMP Negeri 02 Seberang Musi. Menggetahui P- ISSN: 2798-2645 E- ISSN: 2798-2653 Vol. 2 No. Page:235-247 hed by LP3MKIL Yayasan Linggau Inda Pena Sumatera. Indonesia Jurnal Language education literature keberhasilan tindakan siklus II digunakan satu soal dalam meningkatkan kemampuan menelaah struktur teks fabel pada siswa kelas VII SMP Negeri 02 Seberang Musi. Adapun pengunaan teori dalam materi menelaah struktur teks fabel didasarkan pada hasil latihan yang diberikan. Hasil tes siklus II dilaksanakan menunjukkan bahwa siswa yang dinyatakan tuntas sebanyak 18 siswa 90%, dan 2 siswa atau 10% yang dinyatakan belum tuntas. Nilai tertinggi yang diperoleh adalah 85 nilai terendah adalah 65 dan nilai rata-rata pada siklus II adalah 75,75. Dari hasil tersebut diketahui adanya ketuntasan secara klasikal karena lebih dari 75%, maka dapat disimpulkan jika model pembelajaran SRT (Surch. Rewrate and Tes. dapat meningkatkan kemampuan menelaah struktur teks fabel pada siswa kelas VII SMP Negeri 02 Seberang Musi. Analisis Hasil Belajar Hasil belajar siswa kelas VII. 2 SMP Negeri 02 Seberang Musi memahami materi menelaah struktur teks fabel melalui model pembelajaran SRT (Surch. Rewrate and Tes. dapat diketahui adanya peningkatan. Peningkatan dari pratindakan, siklus I dan siklus II. Peningkatan siswa yang tuntas belajar, nilai rata-rata hasil tes, dan rekapitulasi dapat dilihat di bawah: Tabel 1. Rekapitulasi Pratindakan. Siklus 1, dan Siklus 2 Pratindakan Siklus I Siklus II Nilai Prekuensi Persen Prekuensi Persen Prekuensi Persen >70 10 siswa 13 siswa 18 siswa <70 10 siswa 7 siswa 2 siswa Jumlah Rata-rata 71,75 75,75 Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat nilai rata-rata hasil pratindakan sebesar 66,5 sedangkan tes pada siklus I yaitu 71,75. Jika dibandingkan dengan pratindakan mengalami peningkatan dengan rata-rata sebesar 5,25. Sedangkan siswa dinyatakan tuntas pada saat pratindakan sebanyak 10 siswa . %) dan siklus I meningkat menjadi 13 siswa . %). Peningkatan siswa tuntas pada pratindakan ke siklus I sebanyak 3 siswa . %). Nilai rata-rata pada tes siklus II jika dibandingkan dengan siklus I juga mengalami peningkatan. Pada siklus 1 siswa yang tuntas 13 siswa . %), pada siklus II meningkat menjadi 18 siswa . %) pada siklus II, berarti meningkat sebanyak 5 siswa . %). Peningkatan pratindakan ke siklus II yaitu: X 100% Dengan: R1: Rata-rata pratindakan = 66,5 R2: Rata-rata siklus I = 71,75 R2: Rata-rata siklus II = 75,75 P- ISSN: 2798-2645 E- ISSN: 2798-2653 Vol. 2 No. Page:235-247 hed by LP3MKIL Yayasan Linggau Inda Pena Sumatera. Indonesia Jurnal Language education literature x 100% x 100% = 0,0601 x 100% = 6,015% Siswa yang tuntas pada saat pratindakan berjumlah 10 siswa . %) setelah dilakukan siklus II menjadi 18 siswa . %), berarti telah terjadi peningkatan dari pratindakan sampai siklus II sebanyak 8 siswa . %). Peningkatan hasil belajar bahasa Indonesia juga diperkuat dari nilai rata-rata kemampuan menelaah struktur teks fabel mengalami perubahan, dari rata-rata pratindakan sebesar 66,5 pada siklus I menjadi 71,75 dan mengalami peningkatan disiklus II sebesar 75,75. Nilai rata-rata pratindakan 66,5 dan pada siklus II menjadi 75,75. Peningkatan hasil belajar dari pratindakan ke siklus II dengan rata-rata sebesar 9,25. Dari hasil persiklus mengalami peningkatan secara klasikal. Dengan demikian pembelajaran model pembelajaran SRT (Surch. Rewrate and Tes. mampu meningkatkan kemampuan menelaah struktur teks fabel pada siswa kelas VII SMP Negeri 02 Seberang Musi. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut: Secara umum kemampuan menelaah struktur teks fabel pada siswa kelas VII SMP Negeri 02 Seberang Musi dapat ditingkatkan melalui model pembelajaran SRT (Surch. Rewrate and Tes. Berdasarkan hasil tes nilai yang diperoleh pada pratindakan mengalami peningkatan dengan rata-rata sebesar 66,5. Sedangkan siswa dinyatakan tuntas pada saat pratindakan sebanyak 10 siswa . %) dan siklus I meningkat menjadi 13 siswa . %). Peningkatan siswa tuntas pada pratindakan ke siklus I sebanyak 3 siswa . %). Nilai rata-rata pada pratindakan sampai siklus II sebanyak 8 siswa . %). Peningkatan hasil belajar juga diperkuat dari nilai rata-rata, pratindakan sebesar 66,5 pada siklus I menjadi 71,75 dan mengalami peningkatan disiklus II sebesar 75,75. Dari pratindakan ke siklus II mengalami peningkatan ratarata sebesar 9,25 . %). DAFTAR PUSTAKA