EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 3 No. 1 Februari 2023 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 UPAYA MENINGKATKAN KEAKTIFAN SISWA MELALUI MODEL PROBLEM BASED LEARNING PADA MATA PELAJARAN IPA DI SEKOLAH DASAR TRI HANDAYANINGTYAS SD Negeri 2 Mulyoasri Kabupaten Malang e-mail: trihandayaningtyas51@guru. ABSTRAK Selain hasil belajar, keaktifan siswa dalam kegiatan belajar mengajar juga penting untuk Keaktifan siswa menunjukkan antusiasme, keterampilannya dalam berpikir, dan keterampilan dalam memecahkan masalah. Penelitian tindakan ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana model problem based learning dalam meningkatkan keaktifan siswa selama kegiatan belajar mengajar berlangsung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilakukan dalam 2 siklus, setiap siklus terdiri dari 4 tahapan, dimana tiap siklusnya dilaksanakan dalam 2 kali pertemuan. Subjek penelitian ini adalah siswa Kelas VI SD Negeri 2 Mulyoasri sejumlah 24 anak, yang terdiri dari 10 laki-laki dan 14 Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa prosentase keaktifan siswa meningkat mulai dari siklus I hingga akhir siklus II. Pada siklus I, prosentase keaktifan siswa sebesar 71,46% dan naik pada siklus II menjadi 78,65% dengan kategori baik. Penggunaan model belajar ini dinilai mampu meningkatkan prosentase keaktifan siswa sebesar 16,77% dari parasiklus yang prosentasenya hanya sebesar 61,88%. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan model problem based learning dapat meningkatkan keaktifan siswa Kelas VI SD Negeri 2 Mulyoasri Kecamatan Ampelgading Kabupaten Malang. Jawa Timur. Kata Kunci: problem based learning, aktivitas belajar, keaktifan siswa ABSTRACT In addition to learning outcomes, student activity in teaching and learning activities is also important to note. The activeness of students shows their enthusiasm, skills in thinking, and skills in solving problems. This action research was conducted to find out how the problembased learning model increased student activity during teaching and learning activities. The method used in this study was classroom action research conducted in 2 cycles, each cycle consisting of 4 stages, where each cycle was carried out in 2 meetings. The subjects of this study were 24 students of Class VI at SD Negeri 2 Mulyoasri, consisting of 10 boys and 14 The results of this study indicate that the percentage of student activity increased from cycle I to the end of cycle II. In cycle I, the percentage of student activity was 71. 46% and rose in cycle II to 78. 65% in the good category. The use of this learning model is considered capable of increasing the percentage of student activity by 16. 77% from the para-cycle which percentage is only 61. This shows that the application of the problem-based learning model can increase the activity of Grade VI students at SD Negeri 2 Mulyoasri. Ampelgading District. Malang Regency. East Java. Keywords: problem based learning, learning activities, student activity PENDAHULUAN Ilmu Pengetahuan Alam merupakan hasil kegiatan manusia berupa pengetahuan, gagasan dan konsep yang terorganisasi tentang alam sekitarnya, yang diperoleh dari pengalaman melalui serangkaian proses ilmiah antara lain. penyelidikan, penyusunan dan pengujian gagasan. Selain hal tersebut. Ilmu Pengetahuan Alam dapat menjadi media dalam menanamkan dan mengembangkan pengetahuan, keterampilan, sikap ilmiah pada siswa serta menumbuhkan rasa cinta dan menghargai ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Ilmu Pengetahuan Alam bukanlah ilmu Copyright . 2023 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 3 No. 1 Februari 2023 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 yang dipelajari dengan cara menghafal, tetapi dapat dipelajari dengan mengaktifkan siswa melalui mytode dan model pembelajaran tertentu. Dalam kegiatan belajar mengajar terdapat beberapa komponen yang menentukan tingkat pencapaian siswa, salah satu faktor penentu dalam pencapaian kualitas pembelajaran di sebuah kelas adalah guru. Dewantara dan Nurgiansah mengemukakan bahwa salah satu peran guru yang penting dalam pembelajaran adalah kemampuan untuk melakukan refleksi pembelajaran dan mengatasi permasalahan belajar siswa seperti permasalahan aktivitas belajar, motivasi belajar, dan rendahnya hasil belajar yang dicapai oleh siswa (Dewantara & Nurgiansah, 2. Hasil yang diukur dalam suatu pembelajaran mencakup beberapa aspek, selain hasil belajar yang terlihat melalui evaluasi dan penilaian lainnya, keaktifan siswa dalam pembelajaran menjadi hal penting untuk diperhatikan. Aktivitas belajar adalah keterlibatan siswa selama proses pembelajaran baik secara fisik, intelektual maupun emosional (Wati et al. , 2. Artinya aktivitas belajar merupakan segala bentuk keaktifan siswa dalam proses pembelajaran. Aktivitas belajar berindikator pada seberapa aktif siswa terlibat dalam proses pembelajaran. Misalnya keaktifan siswa bertanya kepada guru atau teman terkait materi yang belum ia dipahami, keaktifan siswa dalam mengerjakan tugas, kemampuan siswa dalam melakukan presentasi, partisipasi siswa ketika melakukan diskusi atau melakukan pemecahan masalah, dan sejenisnya (Prasetyo & Abduh. Sehingga, keaktifan siswa menjadi salah satu unsur penting bagi pencapaian pengalaman belajar yang maksimal. Sebagai pemimpin dalam suatu kegiatan belajar, guru memiliki peran untuk mendukung aktivitas belajar siswa. Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran memiliki potensi untuk meningkatkan hasil belajar (Nugroho & Nugroho, 2. Hal tersebut selaras dengan penjelasan Sardiman bahwa keaktifan belajar siswa termasuk unsur dasar untuk mencapai keberhasilan belajar (Sardiman, 2. Untuk meningkatkan keaktifan siswa dalam kegiatan belajar, guru dapat melakukan berbagai cara diantaranya menggunakan model belajar yang beragam, mengkreasikan berbagai jenis media pembelajaran hingga menetapkan metode tertentu di kelasnya. Dalam penelitian tindakan kelas ini, hal yang dilakukan guru untuk meningkatkan keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar adalah dengan memanfaatkan model pembelajaran yang terpusat pada aktivitas siswa yaknimodel problem-based learning. Penelitian tindakan kelas ini dilakukan pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam, materi pokok tata surya di kelas VI SD Negeri 2 Mulyoasri Kecamatan Ampelgading Kabupaten Malang. Jawa Timur. Dalam penelitian ini, peneliti menemukan bahwa prosentase keaktifan siswa selama pembelajaran cukup rendah, yaitu 61,88%. Hal tersebut dipicu oleh beberapa masalah. Masalah pertama adalah proses belajar mengajar yang dilakukan guru. Guru masih menggunakan metode mengajar konvensional yakni metode ceramah, sekalipun guru sudah berupaya mengkonkretkan materi dengan menggunakan media belajar modern seperti power point. Permasalahan kedua, belum ada kegiatan yang mendorong siswa untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Ketika guru mencoba melakukan tanya jawab, sebagian besar siswa pasif dan nampak tidak terlatih untuk mengajukan pendapat. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran masih rendah. Dengan mempertimbangkan hal tersebut, penelitian tindakan kelas ini akan berfokus pada bagaimana penerapan model problem-based learning dalam meningkatkan keaktifan siswa di mata pelajaran IPA materi pokok tata surya Kelas VI SD Negeri 2 Mulyoasri tahun pelajaran METODE PENELITIAN Tulisan ini merupakan hasil penelitian tindakan kelas berjudul AuUpaya Meningkatkan Keaktifan Siswa Melalui Model Problem Based Learning pada Mata Pelajaran IPA di Sekolah Copyright . 2023 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 3 No. 1 Februari 2023 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Dasar. Penelitian dilaksanakan di SD Negeri 2 Mulyoasri Kecamatan Ampelgading Kabupaten Malang. Jawa Timur. Penelitian dilakukan selama 1 bulan pada bulan Februari 2023 tahun pelajaran 2022-2023. Penelitian ini dilakukan dalam 2 siklus, tiap siklus terdiri dari 4 tahapan, yakni tahap perencanaan, pelaksanaan Tindakan, observasi, dan refleksi. Dalam satu siklus dilaksanakan 2 kali pertemuan. Subyek penelitian adalah 24 peserta didik Kelas VI yang terdiri dari 10 laki-laki dan 14 perempuan. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode observasi dan dokumentasi. Metode analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif kualitatif. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Prosentase keaktifan siswa pada Siklus I pertemuan pertama mencapai 71,04%, sedangkan pada pertemuan kedua mengalami peningkatan menjadi 71,88%. Dari kedua pertemuan pada Siklus I, dapat kita ketahui rata-rata prosentase keaktifan siswa sebesar 71,46% dengan kategori baik. Berikut ini data prosentase keaktifan siswa dan perhitungan observasi keaktifan siswa Siklus I pada pertemuan pertama dan kedua: Tabel 1. Data Keaktifan Siswa di Siklus I Nama Siswa Jumlah Skor Perte Perte muan muan 14,20 14,38 Prosentase Perte Pertem 71,04 71,88% Rata-Rata Prosentase aktivitas Siswa Kategori Pertemuan Pertemuan 72,5% Baik ARW Cukup AAR Baik 87,5% Sangat Baik CRN Baik 67,5% Baik EDD Cukup GEFA 62,5% Cukup Cukup MHP 62,5% Cukup NMM 82,5% Baik NDM Sangat Baik NDS Baik NPR Baik NDP Baik RES Baik RAA 57,5% Cukup Baik 62,5% Baik SAT 72,5% Baik SAS Baik TNJP 82,5% Baik VAK Baik VNA Sangat Baik Jumlah Rata-Rata 71,45% Baik Aktivitas Siswa Pedoman Kriteria: 0 Ae 20 : Sangat Kurang (E) 21 Ae 40 : Kurang (D) 41 Ae 60 : Cukup (C) Copyright . 2023 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Baik Cukup Baik Sangat Baik Baik Baik Cukup Baik Cukup Baik Sangat Baik Sangat Baik Baik Baik Baik Baik Cukup Baik Cukup Baik Baik Sangat Baik Baik Sangat Baik Baik EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 3 No. 1 Februari 2023 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 61 Ae 80 : Baik (B) 81 Ae 100 : Sangat Baik (A) Tabel 2. Nilai Rata-Rata Keaktifan Siswa Siklus I Jumlah Siswa Pertemuan 1 71,04% Prosentase Aktivitas Siswa Siklus I Pertemuan 2 71,88% Rata-Rata 71,46% Sebagaimana data yang disajikan dalam Tabel. 2, rata-rata keaktifan siswa di siklus I pada pertemuan pertama sebesar 71,04% dan meningkat menjadi 71,88% pada pertemuan kedua. Dari kedua pertemuan pada siklus I diperoleh rata-rata sebesar 71,45%. Data keaktifan siswa pada siklus II pertemuan pertama dan pertemuan kedua dapat dilihat pada Tabel. sebagai berikut: Tabel 3. Data Keaktifan Siswa di Siklus II Nama Siswa Jumlah Skor Perte Perte muan muan 16,04 ARW AAR CRN EDD GEFA MHP NMM NDM NDS NPR NDP RES RAA SAT SAS TNJP VAK VNA Jumlah Rata-Rata Aktivitas Siswa Pedoman Kriteria: 0 Ae 20 : Sangat Kurang (E) 21 Ae 40 : Kurang (D) 41 Ae 60 : Cukup (C) 61 Ae 80 : Baik (B) 81 Ae 100 : Sangat Baik (A) Prosentase Perte Perte muan muan 77,50 79,79 Rata-Rata Prosentase aktivitas Siswa 72,5% 92,5% 87,5% 77,5% 72,5% 77,5% 77,5% 87,5% 82,5% 77,5% 82,5% 72,5% 77,5% 72,5% 87,5% 78,65 Kategori Pertemuan 1 Pertemuan 2 Baik Baik Baik Sangat Baik Sangat Baik Baik Baik Baik Baik Baik Sangat Baik Sangat Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Sangat Baik Baik Sangat Baik Baik Baik Baik Sangat Baik Sangat Baik Baik Baik Baik Baik Baik Sangat Baik Sangat Baik Baik Baik Sangat Baik Baik Baik Sangat Baik Baik Baik Baik Sangat Baik Baik Sangat Baik Baik Sangat Baik Copyright . 2023 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 3 No. 1 Februari 2023 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Tabel 4. Nilai Rata-Rata Keaktifan Siswa Siklus II Jumlah Siswa Prosentase Aktivitas Peserta Didik Siklus II Pertemuan 1 Pertemuan 2 Rata-Rata 77,50% 79,79% 78,65% Sebagaimana data yang ditampilkan pada Tabel. 4, rata-rata prosentase keaktifan siswa pada siklus II dari pertemuan pertama dan kedua yakni 78,65% dengan kategori baik. Berdasarkan hasil refleksi pada akhir siklus II, diketahui bahwa prosentase keaktifan siswa terus meningkat dari siklus I ke siklus II. Peningkatan prosentase keaktifan siswa pada siklus I dan siklus II dapat dilihat pada Tabel. 5 berikut ini: Tabel 5. Nilai Rata-Rata Keaktifan Siswa Pada Siklus I dan Siklus II Jumlah Siswa Prosentase Aktivitas Peserta Didik pada Siklus I dan Siklus II Pra siklus Siklus I Siklus II Rata-Rata 61,88% 71,46% 78,65% 75,05% Tabel 5 menunjukkan bahwa perolehan skor rata-rata pada siklus I 71,46%. Sedangkan pada siklus II prosentase rata-rata sebesar 78,65%. Setelah menggunakan model pembelajaran problem-based learning prosentase keaktifan siswa mengalami kenaikan sebesar 16,77%. Rekapitulasi keaktifan siswa dalam pembelajaran dengan menggunakan model problem-based learning dapat dilihat pada Tabel. 6 di bawah ini: Tabel 6. Rekapitulasi Keaktifan Siswa Jumlah Siswa Pertemuan I 71,04% Rata-Rata Peningkatan Siklus I Siklus II Pertemuan II Pertemuan I 71,88% 77,50% 71,46% Rata-Rata Pertemuan II 79,79% 78,65%. 16,77% Berikut ini diagram yang menunjukkan prosentase keaktifan siswa pada pra-siklus, siklus I dan siklus II: Pra Siklus Pra Siklus Siklus I Siklus II Pertemuan I Pertemuan II Gambar 1. Prosentase Keaktifan Siswa Pembahasan Pada tahap prasiklus prosentase keaktifan siswa cukup rendah yakni sebesar 61,88% dengan kriteria cukup. Hal tersebut terlihat dari keaktifan siswa selama proses pembelajaran di Siswa cenderung pasif, karena Sebagian besar dari proses pembelajaran dilakukan dengan transfer ilmu dari guru ke siswa melalui metode ceramah. Akan terjadi komunikasi dua arah hanya ketika guru melalukan tanya jawab untuk memeriksa pemahaman siswa akan materi yang telah disampaikan. Pada Siklus I, dengan diterapkannya model problem-based learning aktivitas siswa mengalami peningkatan dengan prosentase keaktifan sebesar 71,45%. Siswa menunjukkan Copyright . 2023 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 3 No. 1 Februari 2023 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 ketertarikan untuk memecahkan masalah yang tanpa disadari telah terjadi di sekitar mereka. Masalah tersebut menjadi perhatian ketika guru dengan sengaja memunculkannya di awal pembelajaran, siswa tergerak untuk mempelajari penyebab dan mencari pemecahan akan masalah tersebut. Hal ini berdampak pada keaktifan siswa selama kegiatan pembelajaran dan juga hasil belajar siswa di akhir pembelajaran. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Kristin . yang menyatakan bahwa hasil belajar merupakan perubahan perilaku siswa akibat lingkungan belajar yang dibuat secara sengaja oleh guru melalui model pembelajaran yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar. Capain aktivitas peserta didik yang diinginkan adalah minimal 75% dengan kriteria baik, oleh karena itu penelitian dilanjutkan ke siklus selanjutnya, yakni siklus II. Pada siklus II terjadi peningkatan signifikan sebesar 16,77%. Dari semula 61,88% pada tahap prasiklus menjadi 78,65% di akhir Siklus II. Dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran problem based learning mampu meningkatkan aktivitas peserta didik karena dapat membantu peserta didik untuk berperan aktif dalam proses pembelajaran. Selain dapat meningkatkan aktivitas peserta didik juga berdampak pada ketertarikan peserta didik dalam mengikuti pembelajaran serta mampu meningkatkan hasilbelajar peserta didik. Hasil penelitian ini diperkuat dan memperkuat penelitian serupa yang telah dilaksanakan terlebih dahulu, seperti penelitian yang dilakukan oleh Siti Febriyanti, dkk . dimana penerapan model problem based learning dapat meningkatkan keaktifan siswa selama pembelajaran yang dilakukan di masa pandemi covid-19. Model problem based learning juga digunakan oleh Suci Setyawati, dkk . dalam penelitiannya yang menunjukkan bahwa penggunaan metode problem based learning mampu meningkatkan keaktifan peserta didik selama kegiatan pembelajaran, dengan hasil penelitian yang menunjukkan peningkatan prosentase keaktifan siswa hingga 88% pada akhir siklus. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis data dalam penelitian tindakan ini, dapat diambil kesimpulan bahwa keterlaksanaan pembelajaran siklus I pertemuan pertama prosentase keaktifan siswa sebesar 71,04%, dan pertemuan kedua prosentase keaktifan siswa naik menjadi 71,88% dengan rata-rata prosentase keaktifan siswa sebesar 71,46%. Pada siklus II pertemuan pertama prosentase keaktifan siswa sebesar 77,50%, dan pertemuan kedua prosentase keaktifan siswa naik menjadi 79,79% dengan rata-rata prosentase keaktifan siswa sebesar 78,65%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dari siklus I ke siklus II prosentase keaktifan siswa mengalami peningkatan sebesar dengan kategori baik. Dengan demikian, model problem based learning mampu meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam materi pokok tata surya di kelas VI SD Negeri 2 Mulyoasri Kecamatan Ampelgading Kabupaten Malang. Jawa Timur. DAFTAR PUSTAKA