KHIDMAH: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Mei 2026. Vol. 3 No. 1: 40-47 Peningkatan Literasi Dan Numerasi Siswa Sekolah Indonesia Kuala Lumpur Melalui Pembelajaran Kreatif Dan Interaktif Naya Afira1. Khodijah Ishak2. Kurniatul Fil Khoirin3 1,2,3Institut Syariah Negeri Junjungan Bengkalis. Riau. Indonesia https://doi. org/10. 46367/khidmah. Info Artikel Riwayat: Dikirim: 05 Maret 2026 Direvisi: 31 Maret 2026 Diterima: 28 April 2026 Kata Kunci: Literasi, pembelajaran kreatif. Sekolah Indonesia Kuala Lumpur. Abstrak Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan peran pembelajaran kreatif dan interaktif berbasis pendekatan Asset Based Community Development (ABCD) dalam meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi siswa di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik observasi terhadap pelaksanaan pembelajaran yang memanfaatkan aset sekolah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan ABCD mampu meningkatkan keterlibatan siswa secara Siswa yang sebelumnya pasif menjadi lebih aktif bertanya, berdiskusi, dan mengeksplorasi materi pelajaran. Dalam aspek literasi, pemahaman bacaan siswa meningkat karena pembelajaran dirancang berbasis potensi lokal dan sumber daya yang tersedia di sekolah, seperti pojok baca, majalah dinding, serta cerita rakyat Nusantara. Sementara itu, kemampuan numerasi siswa juga mengalami peningkatan melalui aktivitas interaktif seperti permainan angka, studi kasus sederhana, dan proyek hitung berbasis lingkungan sekitar. Pembelajaran kreatif yang diterapkan tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga menciptakan suasana belajar yang lebih aktif, menyenangkan, dan Guru berperan sebagai fasilitator yang memanfaatkan aset yang dimiliki siswa, kelas, dan komunitas sekolah. Pendekatan ABCD terbukti efektif membangun rasa percaya diri siswa, karena pembelajaran bertolak dari kekuatan yang sudah mereka miliki, bukan dari kekurangan. Secara keseluruhan, pembelajaran kreatif dan interaktif berbasis ABCD memberikan dampak positif yang holistik, baik terhadap peningkatan kompetensi literasi dan numerasi, maupun terhadap pengembangan karakter siswa seperti kerja sama, kemandirian, dan rasa ingin tahu. Korespondensi: Naya Afira nayaafira@gmail. This work is licensed under a Creative Commons AttributionNonCommercialShareAlike 4. International License. E-ISSN: 3047-5155 https://ejournal. id/index. php/khidmah KHIDMAH: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Mei 2026. Vol. 3 No. 1: 40-47 PENDAHULUAN Pendidikan ialah suatu tahapan yang bertujuan untuk memengaruhi siswa-siswi agar mampu beradaptasi dengan lingkungannya secara optimal. Melalui proses pendidikan ini, diharapkan terjadi perubahan dalam diri siswa yang memungkinkan mereka untuk berperan baik dalam masyarakat (Hasan & Rohman, 2. Ilmu Pendidikan terdiri dari dua istilah yakni Sains dan Pendidikan, yang keduanya memiliki definisi dan interpretasi yang berbeda. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang diterbitkan oleh Balai Pustaka. Sains didefinisikan sebagai pengetahuan terorganisir mengenai bidang tertentu yang mengikuti metodologi yang telah ditentukan dan dapat digunakan untuk menjelaskan fenomena tertentu dalam bidang tersebut. Pendidikan merupakan usaha secara sadar untuk mewujudkan sesuatu pewarisan budaya dari satu generasi ke generasi yang lain. Pendidikan menjadikan generasi ini sebagai sosok panutan dari pengajaran generasi yang terdahulu. Sampai sekarang ini, pendidikan tidak mempunyai batasan untuk menjelaskan arti pendidikan secara lengkap karena sifatnya yang kompleks seperti sasarannya yaitu manusia (Abd Rahman et al. , 2. Manusia bukan hanya penerima pendidikan, mereka juga berperan sebagai fasilitator dan pihak yang memperoleh manfaat dari perjalanan pendidikan. Dalam ranah pendidikan, manusia diharapkan untuk mengembangkan dan meningkatkan diri melalui perolehan pengetahuan, pengembangan karakter, dan kemajuan pribadi. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Programme for International Student Assessment (PISA) yang dirilis oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) pada tahun 2019. Indonesia berada pada peringkat ke-62 dari 70 negara, atau termasuk dalam sepuluh negara dengan tingkat literasi terendah. Temuan tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan literasi, khususnya di Indonesia, masih memerlukan banyak perbaikan. Rendahnya tingkat literasi ini dapat disebabkan oleh kurangnya pemahaman terhadap konsep literasi dasar yang tepat, serta pelaksanaan kegiatan literasi yang belum berjalan secara optimal dan berkelanjutan. Sehubungan dengan implementasi kegiatan literasi, peserta didik pada jenjang sekolah dasar memiliki karakteristik yang sangat mendukung untuk penanaman kemampuan literasi, karena pada usia tersebut perkembangan kemampuan anak berlangsung sangat pesat. Pemahaman yang paling umum dari literasi adalah seperangkat keterampilan nyata, khususnya keterampilan kognitif membaca dan menulis. Literasi numerasi adalah keterampilan dan kemampuan menggunakan berbagai angka dan simbol yang berkaitan dengan matematika dasar untuk memecahkan Literasi numerasi terdiri dari tiga aspek berupa berhitung, relasi numerasi, dan operasi Kemampuan literasi numerasi dapat dimanfaatkan untuk memecahkan masalah dalam pembelajaran matematika maupun di kehidupan sehari-hari dengan menganalisis informasi serta menginterpretasi dan mengambil keputusan (Pamungkas et al. , 2. Seperti yang dikemukakan oleh (Iasha et al. , 2. , pentingnya kecakapan literasi numerasi tidak hanya terbatas pada penguasaan rumus matematika, tetapi juga berperan dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan penalaran siswa dalam pemecahan masalah. Keterampilan ini menjadi semakin krusial mengingat siswa akan terus berhadapan dengan berbagai persoalan terkait literasi dan numerasi ketika mereka terjun ke masyarakat. Dampak dari penguasaan literasi dan numerasi tidak hanya dirasakan oleh siswa secara personal, tetapi juga memberikan kontribusi yang lebih luas bagi masyarakat, bangsa, dan negara. Media pembelajaran dapat memberikan siswa keterampilan yang relevan dengan kehidupan seharihari, tidak hanya terbatas pada literasi dan numerasi saja, tetapi juga pada keterampilan yang diperlukan dalam era digital, seperti keterampilan teknologi dan literasi media. Media pembelajaran dapat menciptakan pengalaman pembelajaran yang kontinu dan konsisten diluar ruang kelas, mendukung kesinambungan pembelajaran di berbagai konteks (Laksana, 2. Kemampuan berhitung siswa yang belum tuntas terlihat dari kurangnya pemahaman mereka tentang informasi menggunakan angka dan kesulitan mereka dalam menerapkan konsep matematika untuk memecahkan masalah sehari-hari yang sederhana. Kondisi ini menunjukkan bahwa siswa tidak mampu menghubungkan konsep berhitung dengan situasi dunia nyata, seperti membaca informasi dari tabel atau grafik, memilih metode perhitungan yang tepat, dan menjelaskan alasan di balik hasilnya. Akibatnya, kemampuan berhitung masih dipandang hanya sebagai aktivitas menghitung, belum sebagai kemampuan berpikir logis dan pengambilan keputusan berdasarkan data dan angka. Dengan mempertimbangkan faktor-faktor di atas, pengembangan media-media untuk aspek literasi dan numerasi di sekolah dasar menjadi strategi yang penting dalam meningkatkan kualitas pembelajaran dan persiapan siswa menghadapi tuntutan zaman yang terus berubah. Selain itu, dengan memanfaatkan berbagai keunggulan tersebut, media pembelajaran berbasis literasi dan numerasi dapat menjadi sarana yang efektif untuk meningkatkan pembelajaran yang kreatif dan interaktif bagi siswa Sekolah Indonesia E-ISSN: 3047-5155 https://ejournal. id/index. php/khidmah KHIDMAH: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Mei 2026. Vol. 3 No. 1: 40-47 Kuala Lumpur, sekaligus memperkaya pengalaman belajar mereka. Keberhasilan pembelajaran tidak hanya bergantung pada metode pengajaran yang efektif, tetapi juga pada relevansi materi pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari siswa. Dalam kerangka ini, pengembangan media pembelajaran menjadi langkah penting guna memenuhi kebutuhan tersebut. Penelitian ini mengunakan pendekatan Asset Based Community Development (ABCD), yaitu pendekatan pemberdayaan yang berfokus pada pengembangan aset dan potensi yang telah dimiliki oleh sekolah. Melalui pemetaan aset dapat mengidentifikasi berbagai potensi yang bisa dikembangkan, seperti fasilitas kelas, ketersediaan media pembelajaran, budaya sekolah yang positif, serta dukungan dari pihak sekolah dan orang tua. Dengan penelitian ini, diharapkan dapat memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan kualitas literasi dan numerasi siswa melalui pembelajaran kreatif dan interaktif di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan model Asset Based Community Development (ABCD). Metode penelitian tersebut dipilih oleh penulis karena pendekatan ABCD digunakan untuk mengidentifikasi, memetakan, dan mengoptimalkan aset yang dimiliki oleh komunitas Sekolah Indonesia Kuala Lumpur dalam mendukung peningkatan literasi dan numerasi siswa melalui pembelajaran kreatif dan interaktif. Penelitian dilaksanakan di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur dengan subjek penelitian meliput siswa, guru, dan lingkungan sekolah yang terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi. Observasi dilakukan secara langsung selama proses pembelajaran kreatif dan interaktif berlangsung untuk memperoleh gambaran nyata mengenai aktivitas siswa, serta pemanfaatan aset sekolah dalam pembelajaran literasi dan numerasi. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi yang berisi indikator mengenai keterlibatan siswa, aktivitas membaca dan memahami informasi, aktivitas berhitung, penalaran numerik, serta penggunaan aset sekolah dalam proses belajar. Hasil obeservasi tersebut dianalisis secara kualitatif deskriptif dengan beberapa tahap, yaitu menyederhanakan data yang diperoleh, mempresentasikan data dalam bentuk yang jelas, serta mengambil kesimpulan mengenai peran pendekatan Asset Based Community Development dalam meningkatkan kemampuan lieterasi dan numerasi siswa melalui metode pembelajaran yang kreatif dan interaktif. Prosedur penelitian dilaksanakan melalui tahapan pendekatan Asset Based Community Development (ABCD) sebagai berikut : Tahap identifikasi aset . Peniliti melakukan observasi untuk mengidentifikasi aset yang dimiliki oleh sekolah, meliput aset sumber daya manusia . uru dan sisw. , aset sarana dan prasarana pembelajaran, aset lingkungan sekolah, serta aset kegiatan dan budaya belajar yang mendukung pembelajaran kreatif dan interaktif. Tahap perencanaan pemanfaatan aset . ream dan desig. Berdasarkan hasil observasi pada tahap discovery, peneliti merancang kegiatan pembelajaran kreatif dan interaktif yang memanfaatkan aset-aset yang telah terindentifikasi untuk mendukung peningkatan literasi dan numerasi siswa. Tahap pelaksanaan kegiatan . efine dan destin. Pembelajaran kreatif dan interaktif dilaksanakan di kelas dengan memanfaatkan aset sekolah, seperti media pembelajaran yang tersedia, lingkungan belajar, serta kompetensi guru. Pada tahap ini, peneliti melakukan observasi terhadap proses pembelajaran, partisipasi siswa, serta aktivitas literasi dan numerasi yang muncul selama pembelajaran berlangsung. Tahap refleksi/evaluasi. Dalam pendekatakan Asset Based Community Development digunakan untuk menilai sejauh mana pelaksanaan pembelajaran kreatif dan interaktif yang diterapkan pada siswa Sekolah Indonesia Kuala Lumpur mampu meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi, baik dari segi aspek ketercapaian tujuan pembelajaran, keterlibatan siswa, maupun efektivitas strategi yang digunakan, serta untuk mengidentifikasi kendala selama pelaksanaan sebagai dasar perbaikan program pembelajaran pada tahap selanjutnya. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil observasi selama pelaksaan pembelajaran kreatif dan interaktif, diperoleh temuan bahwa pendekatan Asset Based Community Development (ABCD) mampu mengoptimalkan pemanfaatan aset yang dimiliki sekolah dalam mendukung kegiatan pembelajaran literasi dan numerasi E-ISSN: 3047-5155 https://ejournal. id/index. php/khidmah KHIDMAH: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Mei 2026. Vol. 3 No. 1: 40-47 Tahap Discovery. Pada tahap discovery, peneliti melakukan observasi kelas, diskusi ringan bersama siswa, serta pengamatan terhadap gaya belajar siswa untuk mencermati potensi dan aset yang mendukung pembelajaran literasi dan numerasi. Hasil obeservasi menunjukkan bahwa siswa memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, menunjukkan kreativitas dalam menyelesaikan tugas dan kuis, serta bersikap terbuka terhadap metode pembelajaran baru. Selain itu, di kelas tersedia fasilitas pendukung berupa perangkat teknologi, yaitu proyektor yang bisa digunakan untuk menampilkan ilustrasi, animasi, dan contoh visual selama pembelajaran. Gambar 1 Observasi pembelajaran literasi melalui film sejarah sumpah pemuda Tahap dream Pada tahap dream, siswa diajak berdiskusi untuk menyampaikan harapan mereka terkait pembelajaran literasi dan numerasi. Hasil diskusi menunjukkan bahwa setiap siswa berharap dapat : Lebih percaya diri dalam membaca. Lebih mudah memahami isi teks bacaan. Mampu mengerjakan soal numerasi tanpa merasa takut atau bingung. Selain itu, siswa juga menyampaikan keinginan agar pembelajaran dilaksanakan secara lebih menyenangkan melalui permainan edukasi, cerita visual, dan kegiatan kelompok. Selama pelaksanaan penelitian, bentuk pembelajaran yang diharapkan siswa tersebut mulai diterapkan di kelas, antara lain melalui permainan edukatif, penyajian cerita visual, dan kegiatan kelompok. Gambar 2 kegiatan kelompok dalam bentuk permainan . erdansa, mendayung sampan, mobil, dan lampu mera. dan cerita visual Tahap Design Pada tahap design, dirancang kegiatan pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan dan potensi siswa berdasarkan hasil tahap sebelumnya. Kegiatan pembelajaran yang dirancang meliputi : Permainan literasi berbasis cerita. Latihan numerasi menggunakan media visual. Penggunaan alat peraga. E-ISSN: 3047-5155 https://ejournal. id/index. php/khidmah KHIDMAH: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Mei 2026. Vol. 3 No. 1: 40-47 Pembelajaran kolaboratif dalam kelompok. Setiap kegiatan disusun untuk melibatkan siswa secara aktif dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpartisipasi langsung selama proses pembelajaran. Gambar 3 permainan literasi berbasis cerita pendek tentang kejujuran Nabi Muhammad SAW, melukis dengan menggunakan objek daun, dan pembelajaran kolaboratif dalam kelompok Tahap Destiny Pada tahap destiny, seluruh rancangan pembelajaran diterapkan dalam kegiatan belajar di kelas. Siswa mengikuti berbagai aktivitas pembelajaran, antara lain: Permainan membaca. Teka-teki logika. Tantangan numerasi. Diskusi kelompok interaktif. Selama pelaksanaan kegiatan, siswa terlibat dalam membaca insstruksi, menyelesaikan tugas literasi, mengerjakan soal numerasi, serta berdiskusi dengan teman satu kelompok. Pendampingan juga dilakukan kepada siswa selama kegiatan berlangsung. Gambar 4 Tantangan numerasi dan teka-teki, dan kegiatan menari tarian AuSemarang rumah kitaAy sebagai pengenalan budaya Indonesia Tahap Refleksi/Evaluasi Pada tahap refleksi dan evaluasi, dilakukan observasi terhadap perkembangan kemampuan membaca, pemahaman isi teks, serta ketepatan siswa dalam menyelesaikan soal numerasi selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Hasil observasi menunjukkan bahwa sebagian besar siswa mampu membaca instruksi dengan lebih lancar, menjawab pertanyaan berdasarkan bacaan, serta menyelesaikan soal numerasi yang diberikan dalam kegiatan pembelajaran berlangsung. Selain itu, siswa menyampaikan tanggapan lisan mengenai pengalaman belajar yang telah diikuti. Sebagian besar siswa menyebutkan bahwa kegiatan permainan dan kerja kelompok cenderung lebih mudah untuk diikuti dibandingkan pembelajaran biasa. Beberapa siswa juga menyampaikan bagian kegiatan yang masih terasa sulit, khususnya pada soal numerasi yang memerlukan beberapa langkah perhitungan. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran kreatif dan interaktif berbasis pendekatan Asset Based Community Development (ABCD) menunjukkan kecenderungan peningkatan untuk mendukung siswa yang lebih aktif dalam kegiatan literasi dan numerasi. Media pembelajaran yang berakar pada literasi dan numerasi memperoleh penilaian yang sangat baik berdasarkan hasil observasi pelaksanaan pembelajaran. Keterlibatan siswa tersebut terlihat dari E-ISSN: 3047-5155 https://ejournal. id/index. php/khidmah KHIDMAH: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Mei 2026. Vol. 3 No. 1: 40-47 partisipasi siswa dalam kegiatan membaca, diskusi, serta penyelesaian tugas numerasi secara Kondisi ini menunjukkan bahwa pembelajaran yang dirancang berdasarkan potensi dan aset Sekolah Indonesia Kuala Lumpur mampu menciptakan suasana belajar yang lebih partisipasif. Penelitian ini dimulai dengan mengidentifikasi kebutuhan yang signifikan akan pembelajaran literasi dan numerasi. Dalam konteks kurikulum merdeka, diakui bahwa literasi dan numerasi memiliki peran sentral dalam pembentukan pemahaman dan pengetahuan siswa. Langkah selanjutnya melibatkan pendekatan Asset Based Community Development yang berperan dalam mengarahkan pemanfaatan aset Sekolah Indonesia Kuala Lumpur, seperti media pembelajaran dan kompetensi guru, sehingga kegiatan pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian (Maslahah, 2. yang menyatakan bahwa pembelajaran kreatif dan interaktif mampu meningkatkan keterlibatan siswa dalam kegiatan membaca, diskusi, dan pemecahan masalah numerasi. Dengan bantuan media pembelajaran interaktif penyampaian menjadi lebih menarik dan mudah dimengerti oleh peserta didik. Banyak konsep-konsep dalam matematika yang tidak dapat dituangkan secara langsung dalam pembelajaran, namun mampu dijelaskan dengan bantuan media pembelajaran interaktif. Penggunaan media pembelajaran interaktif selain untuk memperdalam pemahaman peserta didik, dapat juga digunakan sebagai alat bantu untuk memvisualisasikan matematika dalam kehidupan sehari-hari dan peserta didik akan lebih mudah mengingat materi pelajaran. Pengembangan media pembelajaran untuk literasi dan numerasi di tingkat Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL) memiliki dampak yang signifikan dalam meningkatkan kualitas proses pembelajaran (Atmojo et al. , 2. Media pembelajaran yang efektif tidak hanya mendukung implementasi Kurikulum Merdeka, tetapi juga memfasilitasi guru untuk menyampaikan materi dengan lebih efektif dan menarik bagi Dengan menggunakan pendekatan Asset Based Community Development (ABCD), keberagaman gaya belajar siswa dapat disesuaikan, sementara unsur pemanfaatan aset yang dimiliki sekolah dan lingkungan sekitar siswa, penguatan aktivitas literasi dan numerasi, serta keterlibatan aktif siswa dalam diskusi, membaca, dan penyelesaian tugas secara kolaboratif menjadi bagian utama dalam proses pembelajaran kreatif dan interaktif. Selain itu, media pembelajaran membantu meningkatkan motivasi siswa, menciptakan lingkungan pembelajaran yang lebih interaktif, dan merangsang keterampilan berpikir kritis siswa melalui konten yang menantang (Laksana, 2. Temuan ini menjadi dasar untuk melihat kemampuan siswa bukan dari kekurangan mereka, tetapi dari potensi besar yang bisa dikembangkan melalui pembelajaran kreatif dan interaktif. Dengan menyajikan materi secara lebih jelas dan konkret, sesi pembelajaran dapat membantu siswa memahami konsep literasi dan numerasi dengan lebih baik (NafiAoa et al. , 2. Selain itu, pembelajaran literasi dan numerasi juga mempersiapkan siswa untuk menghadapi tantangan global, memperkuat keterampilan dasar yang esensial untuk kehidupan modern. Sejalan dengan hal tersebut, mimpi dan harapan yang tumbuh dalam proses pembelajaran ini tidak hanya mencerminkan keinginan siswa, tetapi juga menjadi sumber motivasi bagi mereka untuk terus berkembang dan mencapai hasil belajar yang lebih baik (Laksana, 2. Temuan ini memberikan landasan yang kuat bahwa pengembangan media pembelajaran kreatif dan interaktif berbasis pendekatan Asset Based Community Development (ABCD) mampu memberikan kontribusi positif terhadap efektivitas pembelajaran literasi dan numerasi pada jenjang Sekolah Indonesia Kuala Lumpur. Sejalan dengan hal tersebut, studi oleh Ainley dan Ainley . menekankan pentingnya motivasi siswa dalam proses pembelajaran. Penggunaan media pembelajaran yang menarik, konteksual, serta memanfaatkan aset yang dimiliki Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL) dan lingkungan sekitar siswa terbukti dapat meningkatkan partisipasi dan ketertarikan siswa dalam kegiatan belajar. Kondisi ini menjadi bukti empiris bahwa media pembelajaran yang dirancang berbasis potensi dan kekuatan lokal berpengaruh positif terhadap motivasi belajar siswa serta mendukung peningkatan kemampuan literasi dan numerasi (Setyawan et al. , 2022. Hidayati & Fatikh, 2. Dengan demikian, penerapan pembelajaran kreatif dan interaktif berbasis pendekatan Asset Based Community Development dalam penelitian ini menunjukkan bahwa pemanfaatan aset Sekolah Indonesia Kuala Lumpur, kompetensi guru, serta lingkungan belajar yang mendukung mampu memperkuat keterlibatan siswa dalam kegiatan literasi dan numerasi. Temuan ini sejalan dengan tujuan penelitian, yaitu untuk mendeskripsikan peran pendekatan ABCD dalam mendukung peningkatan literasi dan numerasi siswa melalui pembelajaran yang berpusat pada potensi dan kekuatan komunitas Sekolah Indonesia Kuala Lumpur. E-ISSN: 3047-5155 https://ejournal. id/index. php/khidmah KHIDMAH: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Mei 2026. Vol. 3 No. 1: 40-47 KESIMPULAN Media pembelajaran literasi dan numerasi menjadi sangat penting, terutama karena Kurikulum Merdeka menekankan pada kedua aspek tersebut. Dalam menjawab kebutuhan tersebut, penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran kreatif dan interaktif berbasis pendekatan Asset Based Community Development (ABCD) mampu mendukung peningkatan keterlibatan siswa dalam kegiatan literasi dan numerasi. Melalui pemanfaatan aset yang dimiliki Sekolah Indonesia Kuala Lumpur, seperti sarana pembelajaran, kompetensi guru, serta potensi siswa, proses pembelajaran menjadi lebih partisipatif dan kontekstual. Hasil observasi menunjukkan bahwa siswa lebih aktif dalam kegiatan membaca, berdiskusi, serta menyelesaikan tugas numerasi secara kolaboratif. Dengan demikian, melalui pengembangan media pembelajaran ini diharapkan dapat memberikan dampak positif pada peningkatan literasi dan numerasi siswa Sekolah Indonesia Kuala Lumpur, sekaligus memperkaya pengalaman belajar yang lebih bermakna. UCAPAN TERIMAKASIH Ucapan terima kasih disampaikan kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam pelaksanaan kegiatan pangabdian ini, khususnya kepada pengelola dan siswa Sekolah Indonesia Kuala Lumpur atas partisipasi aktif dan antusiasme mereka selama kegiatan berlangsung. Penghargaan khusus juga ditujukan kepada Instusi Syariah Negri Junjungan Bengkalis atas kesempatan dan dukungan penuh selama kegiatan berlangsung. Semoga kegiatan ini dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi peningkatan literasi dan numerasi bagi siswa Sekolah Indonesia Kuala Lumpur. E-ISSN: 3047-5155 https://ejournal. id/index. php/khidmah KHIDMAH: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Mei 2026. Vol. 3 No. 1: 40-47 DAFTAR PUSTAKA