The Influence Of Fundamental Analysis On Banking Sector Stock Prices In The LQ45 Index For The Period 2020Ae2023 Pengaruh Analisis Fundamental Terhadap Harga Saham Sektor Perbankan Pada Indeks LQ45 Tahun 2020-2023 Riswan 1. Noprian 2 Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi. Universitas Sumatera Selatan Email: . riswan0206@students. noprian@uss. ARTICLE HISTORY Received . Agustus 2. Revised . Oktober 2. Accepted . Oktober 2. KEYWORDS Earnings Per Share (EPS). Price to Book Value (PBV). Price to Earnings Ratio (PER). Stock Price This is an open access article under the CCAeBY-SA ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Earning Per Share (EPS). Price Book Value (PBV), dan Price Earning Ratio (PER) terhadap Harga Saham sektor perbankan pada Indeks LQ45 tahun 2020-2023. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan perbankan yang terdaftar di Indeks LQ45 periode 2020-2023 di Bursa Efek Indonesia. Data yang digunakan dalam penelitian berupa data sekunder. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling, yaitu dengan cara memilih sampel berdasarkan dengan kriteria yang telah ditentukan oleh peneliti dan diperoleh sampel penelitian sebanyak 5 perusahaan. Adapun metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif, uji asumsi klasik, analisis regresi linear berganda, dan uji Hasil penelitian ini menyatakan bahwa secara parsial Earning Per Share (EPS) berpengaruh positif dan signifikan terhadap Harga Saham. Price Book Value (PBV) tidak berpengaruh signifikan terhadap Harga Saham. Price Earning ratio (PER) berpengaruh positif dan signifikan terhadap Harga Saham. Sedangkan secara simultan. Earning Per Share (EPS). Price Book Value (PBV), dan Price Earning ratio (PER) berpengaruh positif dan signifikan terhadap Harga Saham. ABSTRACT This study aims to examine the influence of Earnings Per Share (EPS). Price to Book Value (PBV), and Price to Earnings Ratio (PER) on the stock prices of the banking sector listed in the LQ45 Index during the period 2020Ae2023. The population in this research consists of banking companies included in the LQ45 Index for the 2020Ae2023 period on the Indonesia Stock Exchange. The data used are secondary data. The sampling technique employed in this study is purposive sampling, which involves selecting samples based on criteria determined by the researcher, resulting in a total sample of 5 companies. The data analysis methods used include descriptive analysis, classical assumption tests, multiple linear regression analysis, and hypothesis testing. The findings of this research indicate that partially. Earnings Per Share (EPS) has a positive and significant effect on stock prices. Price to Book Value (PBV) has no significant effect on stock prices, and Price to Earnings Ratio (PER) has a positive and significant effect on stock prices. Meanwhile, simultaneously. Earnings Per Share (EPS). Price to Book Value (PBV), and Price to Earnings Ratio (PER) have a positive and significant effect on stock prices. PENDAHULUAN Fenomena pergerakan harga saham pada awal tahun 2024 menunjukkan bahwa empat perusahaan perbankan berkapitalisasi besar . ig cap. yang tergabung dalam indeks LQ45 mengalami lonjakan signifikan hingga menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah . ll time high/ATH). Berdasarkan data RTI Business, sepanjang tahun berjalan . ear to dat. , saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mencatatkan harga Rp6. 450 pada 13 Maret 2024, yang merupakan level tertinggi dalam lima tahun terakhir pada perdagangan intraday. Saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) juga mencapai rekor ATH di level Rp6. 250 per lembar pada tanggal yang sama. Sementara itu. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) berhasil menembus level Rp7. 500 per saham pada 15 Maret 2024, sedangkan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatatkan kenaikan harga tertinggi hingga Rp10. 400 per saham pada 13 Maret Tabel 1. Earning Per Share (YoY) Ticker Q4 2022 Q4 2023 BBRI BMRI BBCA BBNI Growth 25,47% 51,32% 3,12% 11,29% Growth 17,45% 33,78% 19,69% 14,25% Jurnal Fokus Manajemen. Vol. 5 No. 4 November 2025 page: 673 Ae 682 | 673 p-ISSN 2809-9931 e-ISSN 2809-9141 Berdasarkan Tabel 1, dapat diketahui bahwa rasio Earnings Per Share (EPS) menunjukkan pertumbuhan positif secara year on year (YoY), yaitu dengan membandingkan kinerja Kuartal IV tahun 2023 terhadap Kuartal IV tahun 2022 serta laporan keuangan tahunan 2023 terhadap laporan keuangan Data tersebut memperlihatkan bahwa EPS pada PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. PT Bank Mandiri Tbk. PT Bank Central Asia Tbk, dan PT Bank Negara Indonesia Tbk mengalami peningkatan. Fenomena kenaikan harga saham sektor perbankan yang mencapai rekor tertinggi . ll time hig. pada awal tahun 2024 terjadi setelah diterbitkannya laporan keuangan tahunan 2023 oleh masing-masing Kondisi ini menjadikan sektor perbankan menarik untuk diteliti lebih lanjut, khususnya dengan melihat keterkaitan antara kinerja fundamental perusahaan dan fenomena kenaikan harga saham Tabel 2. Kinerja Saham 4 Emiten Pasca Tembus ATH Ticker Harga Saham ATH Harga Saham . /6/2. Penurunan Harga Sejak ATH BBRI -36,43% BMRI -23,33% BBCA -12,98% BBNI -31,20% Namun, setelah harga saham perbankan mencapai level tertinggi atau all time high, terjadi penurunan yang cukup tajam hingga 19 Juni 2024. Berdasarkan data pada Tabel 2, terlihat bahwa harga saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mengalami penurunan sebesar -36,43%. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) turun sebesar -23,33%. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun sebesar -12,98%, serta PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) mencatatkan penurunan sebesar -31,20%. Fenomena ini menunjukkan adanya volatilitas harga saham yang signifikan dalam sektor perbankan setelah periode kenaikan yang kuat. Tabel 3. Price Book Value (PBV) dan Price Earning Ratio (PER) Ticker PBV Rata-rata 5 Rata-rata 3 PER (ATH) Tahun Tahun (ATH) Rata-rata 5 Tahun Rata-rata 3 Tahun BBRI 3,14 2,54 2,57 16,21 17,97 18,00 BMRI 2,68 1,86 2,06 12,71 12,63 12,48 BBCA 5,29 4,68 4,85 26,33 27,19 27,04 BBNI 1,55 1,12 1,22 11,14 15,78 14,82 Berdasarkan Tabel 3, terlihat bahwa Price to Book Value (PBV) pada PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. PT Bank Mandiri Tbk. PT Bank Central Asia Tbk, dan PT Bank Negara Indonesia Tbk berada di atas rata-rata 5 tahun maupun rata-rata 3 tahun. Hal ini mengindikasikan bahwa investor cenderung menilai saham dengan PBV tinggi sebagai saham yang sudah mahal. Kondisi ini dapat menjadi salah satu alasan terjadinya penurunan harga saham setelah mencapai level tertinggi atau all time high (ATH). Sementara itu. Price to Earnings Ratio (PER) dari keempat bank tersebut tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dibandingkan rata-rata 5 tahun maupun 3 tahun. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa PER tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Namun demikian, investor tetap dapat menggunakan perbandingan PER dengan rata-rata jangka panjang atau mempertimbangkan prospek perusahaan di masa depan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan investasi. Penelitian terdahulu juga memberikan gambaran beragam mengenai pengaruh variabel fundamental terhadap harga saham. Indah et al. meneliti PT Bank Mega Tbk dan menemukan bahwa EPS berpengaruh terhadap harga saham. Hasil serupa ditunjukkan oleh Rusdiyanto et al. yang menyatakan bahwa EPS memiliki dampak positif terhadap harga saham, serta penelitian Kurniati et . yang menemukan bahwa EPS berpengaruh terhadap harga saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. Namun, berbeda dengan Labiba et al. yang menyatakan bahwa EPS tidak berpengaruh terhadap harga saham pada perusahaan sektor pertambangan. 674 | Riswan. Noprian. The Influence Of Fundamental Analysis On . Earnings Per Share (EPS) merupakan informasi yang mencerminkan jumlah laba bersih yang dialokasikan bagi pemegang saham. Investor sering menjadikan EPS sebagai dasar pertimbangan dalam membeli atau mempertahankan saham perusahaan dengan harapan memperoleh dividen maupun capital gain. Laba menjadi indikator penting dalam menentukan besarnya dividen serta peningkatan nilai saham di masa mendatang. Oleh karena itu, pemegang saham cenderung memperhatikan nilai EPS yang dipublikasikan perusahaan (Husnan, 2005, dalam Indah & Parlia, 2. Dengan demikian, semakin tinggi nilai EPS maka semakin baik bagi pemegang saham, sehingga dapat menarik minat investor untuk Sebaliknya, penurunan EPS dapat mengakibatkan penurunan harga saham. Menurut Hayat et al. PBV menggambarkan seberapa besar nilai perusahaan dibandingkan dengan investasi yang telah atau sedang dilakukan oleh pemilik. Semakin tinggi rasio PBV, maka semakin besar pula nilai tambah yang diperoleh pemilik perusahaan. Hubungan antara PBV dan harga saham bersifat searah, yaitu semakin tinggi PBV maka harga saham juga cenderung meningkat, demikian pula sebaliknya. Hasil ini sejalan dengan penelitian Martha dan Yanti . yang menemukan bahwa PBV berpengaruh terhadap harga saham. Namun, hasil berbeda ditunjukkan oleh Putri . yang menyatakan bahwa PBV secara parsial tidak berpengaruh terhadap harga saham. Adapun PER merupakan rasio yang menunjukkan perbandingan harga saham dengan laba per saham (Wahyudiono, 2. PER digunakan untuk menilai apakah suatu investasi menguntungkan atau merugikan dengan cara membandingkan harga per lembar saham dengan laba bersih per saham (Sursanti, 2. Rasio ini menggambarkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba serta kesediaan investor membayar sejumlah tertentu untuk setiap rupiah laba perusahaan (Desiana, 2. Penelitian Azzochrah et al. menyatakan bahwa PER berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham perusahaan yang tergabung dalam Jakarta Islamic Index (JII). Hasil yang sama juga ditunjukkan oleh Pratama & Panggiarti . yang menemukan bahwa PER berpengaruh signifikan terhadap harga saham perusahaan LQ45 periode 2019Ae2020. Namun, temuan tersebut tidak sejalan dengan Tannia & Surharti . yang menyatakan bahwa PER tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham pada perusahaan sektor pertanian yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2015Ae LANDASAN TEORI Teori Sinyal (Signalling Theor. Teori sinyal pertama kali diperkenalkan oleh Spence pada tahun 1973 yang menjelaskan bahwa pihak yang memiliki informasi . memberikan sinyal atau isyarat yang mencerminkan kondisi perusahaan kepada pihak penerima . Sinyal ini berupa informasi mengenai upaya manajemen dalam memenuhi kepentingan pemilik perusahaan. Informasi tersebut dianggap sebagai indikator penting bagi investor maupun pelaku bisnis dalam membuat keputusan investasi. Investasi Menurut Filbert . , investasi adalah aktivitas yang dilakukan oleh individu yang berani mengambil risiko. Tandellin . mendefinisikan investasi sebagai alokasi sejumlah dana atau sumber daya lain yang dilakukan pada saat ini dengan harapan memperoleh manfaat di kemudian hari. Herlianto . menambahkan bahwa investasi merupakan bentuk penanaman dana atau modal untuk menghasilkan kekayaan, yang dapat memberikan tingkat pengembalian . baik pada masa sekarang maupun di masa depan. Pasar Modal Menurut Tandelilin . , pasar modal adalah tempat bertemunya pihak yang memiliki kelebihan dana dengan pihak yang membutuhkan dana melalui perdagangan sekuritas. Pasar modal juga merujuk pada tempat perdagangan instrumen dengan jangka waktu lebih dari satu tahun, seperti saham dan Tempat berlangsungnya perdagangan sekuritas ini disebut bursa efek. Salah satu fungsi utama pasar modal adalah sebagai perantara, yang menekankan peran pentingnya dalam mendukung perekonomian dengan menghubungkan pihak yang memiliki kelebihan dana dengan pihak yang membutuhkan dana. Saham Saham merupakan salah satu instrumen pasar modal yang banyak diminati investor karena memberikan potensi keuntungan yang menarik. Saham juga dapat didefinisikan sebagai tanda penyertaan modal seseorang atau suatu pihak . adan usah. dalam sebuah perusahaan berbentuk Perseroan Terbatas (PT). Dengan memberikan modal, pemegang saham memiliki klaim atas pendapatan perusahaan, aset perusahaan, serta berhak menghadiri Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Jurnal Fokus Manajemen. Vol. 5 No. 4 November 2025 page: 673 Ae 682 | 675 p-ISSN 2809-9931 e-ISSN 2809-9141 Harga Saham Harga saham mencerminkan nilai suatu perusahaan yang tercatat di bursa. Harga tersebut ditentukan oleh mekanisme pasar, yaitu permintaan dan penawaran. Jika perusahaan menunjukkan prospek positif, maka investor cenderung lebih percaya dan meningkatkan investasinya, sehingga harga saham naik. Sebaliknya, jika perusahaan dianggap tidak memiliki prospek yang baik di masa depan, investor akan cenderung mengurangi investasinya, yang berakibat pada penurunan harga saham (Dwiananda, 2. Analisis Fundamental Menurut Mamangkay . , analisis fundamental bertujuan memproyeksikan harga saham di masa depan dengan mengevaluasi nilai faktor-faktor fundamental yang memengaruhi harga saham serta menghubungkan variabel-variabel tersebut untuk menghasilkan estimasi harga saham. Analisis ini mencakup penilaian terhadap kondisi ekonomi, laba perusahaan, dan tingkat suku bunga. Faktor-faktor fundamental ini sangat berperan dalam memengaruhi keputusan investasi. Adapun analisis fundamental yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: Earnings Per Share (EPS) Menurut Darmadji dan Fakhruddin . Earnings Per Share (EPS) adalah rasio yang menunjukkan besarnya laba bersih yang diperoleh untuk setiap lembar saham yang beredar. Rumus yang digunakan (Rusdin, 2. Price to Book Value (PBV) Menurut Hayat et al. PBV merupakan rasio antara nilai pasar dengan nilai buku yang menggambarkan seberapa besar nilai perusahaan dibandingkan dengan modal yang telah ditanamkan Semakin tinggi PBV, semakin besar pula kekayaan tambahan yang diterima pemilik perusahaan. Rumus (Rusdin, 2. Price Earning Ratio (PER) Price Earning Ratio menunjukkan perbandingan antara harga pasar per lembar saham dengan EPS. Menurut Tandelilin . PER memberikan gambaran mengenai seberapa besar investor bersedia membayar harga saham berdasarkan laba perusahaan. Rumus (Rusdin, 2. Perumusan Hipotesis H1 : Diduga Earnings Per Share (EPS) berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham. H2 : Diduga Price to Book Value (PBV) berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham. H3 : Diduga Price Earning Ratio (PER) berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham. H4 : Diduga Earnings Per Share (EPS). Price to Book Value (PBV), dan Price Earning Ratio (PER) secara simultan berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham. METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode asosiatif, yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh analisis fundamental terhadap harga saham sektor perbankan pada indeks LQ45 periode 2020Ae2023. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan perbankan yang terdaftar dalam indeks LQ45 selama periode penelitian. Dari populasi tersebut, dipilih empat bank besar, yaitu PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI). PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), sebagai sampel penelitian dengan teknik purposive sampling karena memenuhi kriteria tertentu sesuai tujuan penelitian. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi, yaitu dengan mengumpulkan data sekunder berupa laporan keuangan tahunan dan laporan kuartalan perusahaan perbankan, serta data harga saham yang dipublikasikan melalui Bursa Efek Indonesia (BEI) dan sumber resmi terkait. Selanjutnya, teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda dengan bantuan perangkat lunak statistik, untuk menguji pengaruh variabel fundamental yang terdiri dari Earnings Per Share (EPS). Price to Book Value (PBV), dan Price to Earnings Ratio (PER) terhadap harga saham sektor perbankan pada indeks LQ45. 676 | Riswan. Noprian. The Influence Of Fundamental Analysis On . HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Analisis Deskriptif Tabel 4. Hasil Analisis Statistik Deskriptif Berdasarkan hasil analisis statistik deskriptif yang ditampilkan dapat dijelaskan bahwa variabel Earning Per Share (EPS) memiliki jumlah sampel (N) sebanyak 20, dengan nilai minimum sebesar 151 dan nilai maksimum sebesar 1100. Rata-rata yang diperoleh dari variabel ini adalah 419,05 dengan standar deviasi sebesar 258,628. Pada variabel Price to Book Value (PBV), jumlah sampel yang digunakan juga sebanyak 20, dengan nilai minimum 0,55 dan nilai maksimum 4,78. Nilai rata-rata PBV adalah 2,1735 dengan standar deviasi sebesar 1,41840. Selanjutnya, variabel Price Earning Ratio (PER) menunjukkan jumlah sampel sebanyak 20, dengan nilai minimum sebesar 4,69 dan nilai maksimum 35,09. Rata-rata PER yang diperoleh adalah 15,88 dengan standar deviasi 8,81000. Sementara itu, variabel Harga Saham memiliki jumlah sampel sebanyak 20, dengan nilai minimum 1250 dan nilai Rata-rata harga saham sebesar 5693,50 dengan standar deviasi sebesar 2667,830. Uji Normalitas Tabel 5. Hasil Uji Normalitas Berdasarkan tabel hasil uji normalitas di atas, dapat diketahui bahwa variabel Earning Per Share (EPS). Price Book Value (PBV). Price Earning Ratio (PER), dan Harga Saham memiliki nilai probabilitas (Asymp. Sig. 2-taile. lebih besar dari 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa seluruh variabel penelitian berdistribusi normal, sehingga dapat dilanjutkan ke tahap pengujian asumsi klasik berikutnya maupun analisis regresi. Uji Multikolinearitas Tabel 6. Hasil Uji Multikolinearitas Jurnal Fokus Manajemen. Vol. 5 No. 4 November 2025 page: 673 Ae 682 | 677 p-ISSN 2809-9931 e-ISSN 2809-9141 Berdasarkan hasil uji multikolinearitas yang ditampilkan pada tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi multikolinearitas antar variabel independen. Hal ini ditunjukkan oleh nilai Variance Inflation Factor (VIF) yang seluruhnya kurang dari 10 dan nilai Tolerance yang lebih besar dari 0,1. Dengan demikian, model regresi yang digunakan dalam penelitian ini bebas dari masalah multikolinearitas dan layak untuk digunakan dalam analisis selanjutnya. Uji Heteroskedastisitas Tabel 7. Hasil Uji Heteroskedastisitas Berdasarkan hasil uji heteroskedastisitas yang ditampilkan pada tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat gejala heteroskedastisitas dalam model regresi. Hal ini ditunjukkan oleh nilai signifikansi masing-masing variabel yang lebih besar dari 0,05, sehingga variabel bebas dan nilai absolut residual tidak memiliki hubungan yang signifikan. Dengan demikian, model regresi memenuhi asumsi homoskedastisitas dan layak digunakan untuk analisis selanjutnya. Uji Autokorelasi Tabel 8. Hasil Uji Autokorelasi Berdasarkan hasil uji autokorelasi yang ditunjukkan pada tabel di atas, diperoleh nilai DurbinWatson (D-W) sebesar 1,497. Nilai ini berada pada kisaran yang menunjukkan tidak adanya autokorelasi dalam model regresi penelitian ini. Dengan demikian, model regresi yang digunakan memenuhi asumsi bebas autokorelasi dan dapat digunakan untuk analisis lebih lanjut. Analisis Regresi Linier Berganda Tabel 9. Hasil Pengujian Regresi Berganda Berdasarkan tabel hasil uji regresi berganda, diperoleh persamaan regresi sebagai berikut: Y = -1882. 467 EPS 148. 779 PBV 233. 265 PER 678 | Riswan. Noprian. The Influence Of Fundamental Analysis On . Adapun interpretasi dari persamaan regresi tersebut adalah sebagai berikut: Konstanta . = -1. Nilai konstanta menunjukkan bahwa apabila variabel EPS. PBV, dan PER bernilai konstan atau tidak mengalami perubahan, maka nilai harga saham adalah sebesar -1. 361 satuan. Koefisien EPS (XCA = 8,. Koefisien regresi EPS bernilai positif sebesar 8,467. Hal ini berarti bahwa setiap peningkatan satu satuan EPS akan meningkatkan harga saham sebesar 8,467 satuan, dengan asumsi variabel lain Koefisien positif ini menunjukkan adanya hubungan positif antara EPS dan harga saham. Koefisien PBV (XCC = 148,. Koefisien regresi PBV bernilai positif sebesar 148,779. Artinya, setiap peningkatan satu satuan PBV akan meningkatkan harga saham sebesar 148,779 satuan, dengan asumsi variabel lain konstan. Hal ini menunjukkan adanya hubungan positif antara PBV dan harga saham. Koefisien PER (XCE = 233,. Koefisien regresi PER bernilai positif sebesar 233,265. Hal ini berarti bahwa setiap peningkatan satu satuan PER akan meningkatkan harga saham sebesar 233,265 satuan, dengan asumsi variabel lain Koefisien positif ini menunjukkan adanya hubungan positif antara PER dan harga saham. Uji Hipotesis Koefisien Determinasi (R-Squar. Tabel 10. Hasil Uji Koefisien Determinasi Berdasarkan output SPSS, nilai Adjusted R Square (Adjusted RA) sebesar 0,748. Hal ini menunjukkan bahwa derajat hubungan . antara variabel independen dengan variabel dependen adalah sebesar 74,8%. Artinya, variabel EPS. PBV, dan PER memiliki hubungan yang kuat dengan variabel dependen yaitu harga saham. Hasil uji koefisien determinasi tersebut menegaskan bahwa 74,8% variasi harga saham dapat dijelaskan oleh variasi EPS. PBV, dan PER, sedangkan sisanya 25,2% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain di luar model regresi yang digunakan dalam penelitian ini. Uji Simultan (Uji F) Tabel 11. Hasil Uji Simultan (Uji F) Berdasarkan hasil uji simultan (Uji F) yang ditunjukkan pada tabel di atas, diperoleh nilai F hitung sebesar 19,780 dengan F tabel sebesar 3,24. Karena nilai F hitung lebih besar dari F tabel . ,780 > 3,. , maka terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel independen terhadap variabel dependen. Selain itu, hasil output SPSS pada tabel ANOVA menunjukkan bahwa nilai signifikansi (Sig. ) sebesar 0,001, yang lebih kecil dari taraf probabilitas 0,05 . ,001 < 0,. Hal ini menegaskan bahwa hipotesis penelitian diterima. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa variabel Earning per Share (EPS). Price to Book Value (PBV), dan Price Earning Ratio (PER) secara simultan berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Jurnal Fokus Manajemen. Vol. 5 No. 4 November 2025 page: 673 Ae 682 | 679 p-ISSN 2809-9931 e-ISSN 2809-9141 Hasil Uji Parsial (Uji . Tabel 12. Hasil Pengujian Regresi Berganda Pengujian EPS (X. terhadap Harga Saham (Y) Hasil analisis menunjukkan bahwa variabel Earning per Share (EPS) memiliki nilai t hitung sebesar 5,670 lebih besar dibandingkan dengan t tabel sebesar 2,120 . ,670 > 2,. Nilai signifikansi (Sig. sebesar 0,001 < 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa H1 diterima dan H0 ditolak. Artinya, terdapat pengaruh positif dan signifikan antara EPS terhadap harga saham. Pengujian PBV (X. terhadap Harga Saham (Y) Hasil analisis menunjukkan bahwa variabel Price to Book Value (PBV) memiliki nilai t hitung sebesar 0,549 lebih kecil dibandingkan dengan t tabel sebesar 2,120 . ,549 < 2,. Nilai signifikansi (Sig. ) sebesar 0,590 > 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa H2 ditolak dan H0 diterima. Artinya. PBV tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Pengujian PER (X. terhadap Harga Saham (Y) Hasil analisis menunjukkan bahwa variabel Price Earning Ratio (PER) memiliki nilai t hitung sebesar 4,870 lebih besar dibandingkan dengan t tabel sebesar 2,120 . ,870 > 2,. Nilai signifikansi (Sig. ) sebesar 0,001 < 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa H3 diterima dan H0 ditolak. Artinya. PER berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham . KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis data dan pengujian hipotesis yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa Pertama, variabel Earning per Share (EPS) berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham. Hal ini dibuktikan dengan nilai koefisien regresi sebesar 8,467 serta hasil uji t yang menunjukkan nilai t hitung 5,670 > t tabel 2,120 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,001 < 0,05. Artinya, semakin tinggi nilai EPS, maka harga saham perusahaan juga cenderung meningkat. Kedua, variabel Price to Book Value (PBV) memiliki koefisien regresi positif sebesar 148,779, yang mengindikasikan adanya hubungan positif antara PBV dengan harga saham. Namun demikian, hasil uji t menunjukkan bahwa variabel PBV tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham, karena nilai t hitung 0,549 < t tabel 2,120 dengan tingkat signifikansi 0,590 > 0,05. Dengan demikian. PBV dalam penelitian ini tidak mampu menjelaskan perubahan harga saham secara signifikan. Ketiga, variabel Price Earning Ratio (PER) berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham. Hal ini ditunjukkan dengan nilai koefisien regresi sebesar 233,265 serta hasil uji t yang memperoleh nilai t hitung 4,870 > t tabel 2,120 dengan tingkat signifikansi 0,001 < 0,05. Artinya, semakin tinggi PER, maka harga saham perusahaan juga mengalami peningkatan. Keempat, secara simultan variabel EPS. PBV, dan PER berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham. Hal ini terbukti dari hasil uji F dengan nilai F hitung 19,780 > F tabel 3,24 dan tingkat signifikansi 0,001 < 0,05. Dengan demikian, ketiga variabel independen tersebut secara bersamasama mampu menjelaskan variasi harga saham yang terjadi pada perusahaan yang menjadi objek Saran Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, terdapat beberapa saran yang dapat diberikan baik secara praktis maupun akademis. Pertama, bagi perusahaan yang menjadi objek penelitian, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa EPS dan PER memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap harga 680 | Riswan. Noprian. The Influence Of Fundamental Analysis On . Oleh karena itu, perusahaan perlu menjaga dan meningkatkan kinerja keuangan agar dapat menghasilkan laba yang optimal serta memberikan keyakinan kepada investor melalui rasio PER yang Transparansi laporan keuangan juga perlu ditingkatkan agar para pemegang saham maupun calon investor dapat menilai kondisi perusahaan dengan lebih objektif. Kedua, bagi investor dan calon investor, temuan penelitian ini dapat dijadikan pertimbangan dalam pengambilan keputusan investasi. Investor disarankan untuk lebih memperhatikan indikator EPS dan PER sebagai tolok ukur dalam menilai prospek saham, karena kedua variabel ini terbukti memengaruhi harga saham secara signifikan. Sementara itu, meskipun PBV tidak terbukti signifikan dalam penelitian ini, indikator tersebut tetap dapat dijadikan bahan pertimbangan tambahan dalam analisis fundamental untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai nilai wajar saham. Ketiga, bagi peneliti selanjutnya, disarankan untuk memperluas objek penelitian dengan melibatkan jumlah perusahaan yang lebih banyak, sektor industri yang berbeda, serta periode penelitian yang lebih panjang, sehingga hasil penelitian menjadi lebih komprehensif dan generalisasi yang dihasilkan semakin kuat. Selain itu, peneliti juga dapat menambahkan variabel fundamental lain, seperti Return on Assets (ROA). Debt to Equity Ratio (DER), atau Current Ratio (CR), yang berpotensi memengaruhi harga saham. DAFTAR PUSTAKA