Griya Widya: Journal of Sexual and Reproductive Health, 4. Available at: https://journal. id/index. php/griyawidya EISSN: 2809-6797 Analisis Deskriptif Layanan Infeksi Menular Seksual (IMS) dan Voluntary Counselling and Testing (VCT) di Klinik Griya ASA Muhamad Taufik Hidayat PKBI Kota Semarang. Semarang. Indonesia *Email : muhtaufikh@gmail. Submitted: 2024-11-02 Accepted: 2024-12-21 Published: 2024-12-29 DOI: 10. 53088/griyawidya. Keywords: Abstract Outreach program Background: This descriptive quantitative study analyzed secondary data from the Sexually Transmitted Infection (STI) and Voluntary Counselling and Testing (VCT) services at Griya ASA Clinic. PKBI Semarang, from July 2013 to March The study aimed to describe the service performance and assess the effectiveness of outreach and referral programs in controlling STI and HIV transmission among key populations. Method: Data were obtained from monthly STI and VCT reports, including individual service records and population statistics of female sex workers (FSW. in Argorejo (SK). Descriptive analysis was applied using frequency tables and visual diagrams to examine service trends, demographic characteristics, and case findings. Result: Results show that clinic visits for both STI and VCT services remained low, especially among non-FSW clients. Only 0. 9% of VCT clients were HIV positive, and 25% of STI clients tested positive. Service coverage among Argorejo FSWs reached 14. 43% for STI and 51. 5% for VCT. Implication: These findings indicate a need to strengthen outreach, referral, and cross-sector collaboration, as well as to integrate data systems such as SIHA and CMIS. The study provides baseline evidence for improving community-based HIV and STI service performance in local clinical settings. Data integration Risk behavior Health PENDAHULUAN Kasus HIV/AIDS di Kota Semarang terus meningkat. Catatan tersebut merupakan data yang terkumpul dari rumah sakit dan klinik voluntary counselling and testing (VCT) di Kota Semarang di antaranya RSUP dr Kariadi. RS Tugu. RSUD Kota Semarang Ketileng. RS Panti Wiloso Citarum. RS Bhayangkara. PMI Kota Semarang, dan Klinik Griya ASA. (Oktaviandini. Sementara itu menurut data IMS (Infeksi Menular Sek. di kota Semarang, dari tahun 1994 sampai 2000 tercatat 463 kasus syphilis, 647 Gonorrhea, dan 3. 409 jumlah penyakit (Dinkes Kota Semarang, 2. Untuk mengurangi pertumbuhan angka penderita HIV/AIDS (Humam Immunodeficiency Virus / Acquired Immunodeficiency Syndrom. dan IMS maka dipandang perlu untuk meningkatkan pelayanan penanganan IMS dan VCT. Upaya peningkatan pelayanan tersebut ditempuh dengan membuka layanan VCT dan layanan khusus IMS. A 2024. This work is licensed under a CC BY-SA 4. Griya Widya: Journal of Sexual and Reproductive Health, 4. 2024 Melalui VCT, diharapkan klien mendapatkan bantuan untuk dapat mengubah perilakunya dari berisiko menjadi tidak berisiko. Hal ini dapat dicapai dengan metode konseling yang memungkinkan klien mampu mengelola kejiwaannya dan mampu berproses menggunakan pikirannya secara mandiri. Dalam VCT juga didapatkan proses motivasi untuk mendorong nurani dan logika melalui perubahan emosional dan pengetahuan (Anindyajati. Sementara melalui pelayanan khusus IMS, pengendalian kasus IMS bisa lebih optimal. Penanganan IMS selama ini, masih disatukan dengan pelayanan penyakit lainnya sehingga penemuan kasus IMS menjadi tidak begitu signifikan. Sementara jenis penyakit IMS ini, menyangkut hal yang sensitif di masyarakat sehingga penanganannya tidak bisa terbuka begitu saja. Griya ASA sebagai salah satu klinik di Kota Semarang yang mempunyai layanan khusus IMS dan VCT menjadi pihak yang berperan dalam upaya menekan laju peningkatan kasus IMS dan HIV/AIDS. Mudahnya akses yang bisa diperoleh kelompok risiko tinggi . pada layanan di Griya ASA turut meningkatkan peran strategis Griya ASA. Potensi yang besar ini hakikatnya sebanding dengan tanggung jawab yang harus dipikul. Oleh karena itu perlu adanya pengendalian dan evaluasi pencapaian target pelayanan di klinik Griya ASA. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini diarahkan untuk memberikan gambaran empiris mengenai pencapaian layanan IMS dan VCT di Klinik Griya ASA PKBI Kota Semarang selama periode Juli 2013 Ae Maret 2014. Rumusan masalah dalam penelitian ini meliputi: . bagaimana fluktuasi jumlah kunjungan layanan IMS dan VCT, . bagaimana karakteristik pasien yang menerima layanan, . bagaimana tingkat efektivitas promosi dan rujukan ke layanan VCT, dan . sejauh mana target capaian layanan IMS dan VCT pada kelompok risiko tinggi tercapai. Sejalan dengan rumusan masalah tersebut, tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis capaian dan efektivitas layanan IMS dan VCT di Klinik Griya ASA PKBI Kota Semarang melalui telaah terhadap data kunjungan, hasil pemeriksaan, dan distribusi pasien berdasarkan kelompok risiko. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bagi peningkatan mutu layanan dan dasar pengambilan kebijakan kesehatan masyarakat di tingkat lokal. METODE Jenis dan Desain Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan analisis data Pendekatan ini bertujuan menggambarkan capaian layanan IMS dan VCT di Klinik Griya ASA PKBI Kota Semarang berdasarkan data laporan klinik periode Juli 2013 hingga Maret 2014. Penelitian deskriptif dipilih karena tidak memberikan perlakuan atau intervensi terhadap subjek, melainkan menganalisis data yang telah dikumpulkan secara rutin untuk mengetahui pola, tren, dan efektivitas pelayanan. Data dan Sumber Data Sumber data berasal dari dokumen administratif resmi Klinik Griya ASA, yaitu: . laporan bulanan layanan IMS, . laporan bulanan konseling dan tes sukarela (VCT), . laporan data individu pasien IMS dan VCT, serta . data populasi wanita pekerja seks (WPS) resosialisasi Argorejo (SK) sebagai kelompok berisiko tinggi. Semua data bersifat sekunder dan diakses melalui izin internal PKBI Kota Semarang. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data dilakukan dengan metode dokumentasi dan record review terhadap laporan klinik yang tersimpan di unit administrasi. Peneliti menelusuri setiap lembar laporan bulanan dan data individu untuk menyalin variabel yang relevan, seperti Griya Widya: Journal of Sexual and Reproductive Health, 4. 2024 jenis kelamin pasien, kelompok risiko, hasil pemeriksaan (IMS positif atau negatif. HIV positif atau negati. , serta jumlah kunjungan setiap bulan. Data kemudian dikompilasi ke dalam lembar kerja elektronik untuk memudahkan proses pengolahan dan analisis. Analisis Data Analisis data menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Data yang telah dikompilasi ditabulasi dan disajikan dalam bentuk tabel distribusi serta grafik batang untuk menunjukkan fluktuasi kunjungan layanan berdasarkan waktu, jenis kelamin, dan kelompok Selanjutnya dilakukan perhitungan proporsi pasien yang terdeteksi IMS( ) dan HIV( ), efektivitas rujukan ke layanan VCT, serta capaian target layanan pada kelompok WPS di kawasan resosialisasi Argorejo. Hasil analisis kemudian diinterpretasikan secara deskriptif untuk menggambarkan kinerja layanan IMS dan VCT di Klinik Griya ASA selama periode HASIL Selama periode Juli 2013AeMaret 2014, total kunjungan layanan Infeksi Menular Seksual (IMS) di Klinik Griya ASA mencapai 1. 888 pasien, terdiri dari 1. 876 perempuan dan 12 lakilaki. Jumlah kunjungan tertinggi terjadi pada Desember 2013 . , sedangkan terendah pada JuliAeAgustus 2013 . ekitar 100 pasie. Tren kunjungan menunjukkan peningkatan hingga akhir 2013 lalu menurun kembali pada awal 2014, menandakan kegiatan promosi dan skrining masih belum stabil dan bergantung pada aktivitas outreach. Gambar 1: Diagram Fluktuasi kunjungan layanan IMS klinik Griya ASA Kunjungan layanan Voluntary Counselling and Testing (VCT) tercatat sebanyak 775 pasien, dengan 596 perempuan dan 179 laki-laki. Peningkatan terjadi pada September. Desember 2013, dan Maret 2014, kemungkinan karena kegiatan promosi dan rujukan. Meski demikian, layanan VCT belum berlangsung rutin dan masih dipengaruhi kegiatan Dari sisi demografi, kelompok WPS merupakan pengguna layanan utama baik untuk IMS maupun VCT. Kelompok LSL (Lelaki Seks dengan Lelak. , pelanggan WPS, dan pasangan berisiko hampir tidak tercatat dalam layanan selama sembilan bulan pengamatan. Lonjakan kunjungan pelanggan WPS baru muncul pada Maret 2014, saat operator SK dilibatkan dalam pemeriksaan massal. Kondisi ini menunjukkan bahwa layanan masih berfokus pada komunitas resosialisasi dan belum menjangkau populasi risiko lainnya secara memadai. Selama periode penelitian, ditemukan 7 kasus HIV positif . ,9%) dari 775 pasien VCT, dengan sebaran satu kasus pada September 2013, dua kasus pada Januari, dua pada A 2024. This work is licensed under a CC BY-SA 4. Griya Widya: Journal of Sexual and Reproductive Health, 4. 2024 Februari, dan dua pada Maret 2014. Efektivitas promosi dan rujukan ke layanan VCT juga rendah, hanya 0,9%, mengindikasikan bahwa sebagian besar pasien yang mengikuti tes bukan berasal dari kelompok risiko tinggi. Pencapaian layanan pada WPS SK masih belum optimal, dengan capaian 14,43% untuk IMS dan 51,5% untuk VCT. Angka tersebut jauh di bawah target pemeriksaan rutin bulanan yang diwajibkan pihak resosialisasi, menunjukkan perlunya pengawasan lebih ketat dan peningkatan kepatuhan terhadap kewajiban skrining. Dari total pasien IMS, 25% ditemukan positif, sedangkan pada kelompok WPS angkanya 24,8%. Hasil ini menunjukkan deteksi kasus di antara pengguna layanan sudah berjalan, namun belum sepenuhnya mencerminkan kondisi populasi berisiko secara keseluruhan karena sebagian besar belum Gambar 2: Grafik pencapaian layanan VCT pada WPS SK. PEMBAHASAN Jumlah pasien layanan Infeksi Menular Seksual (IMS) dan Voluntary Counselling and Testing (VCT) di Klinik Griya ASA masih jauh di bawah estimasi populasi kelompok berisiko tinggi sekitar 1. 000 orang. Hasil ini konsisten dengan temuan Setiawan & Adi . dan yang menunjukkan rendahnya pemanfaatan layanan VCT di Indonesia akibat hambatan akses, minimnya informasi, dan kekhawatiran terhadap stigma sosial. Faktor-faktor ini menyebabkan sebagian pasien non-WPS lebih memilih fasilitas kesehatan umum. Dari sisi demografi, layanan didominasi oleh wanita pekerja seks (WPS), sedangkan pelanggan, pasangan berisiko, dan kelompok LSL hampir tidak terjangkau. Pola ini serupa dengan hasil Fauk et al. yang menegaskan bahwa intervensi HIV di Indonesia lebih berfokus pada WPS dibanding klien mereka, padahal kedua pihak berperan sama pentingnya dalam rantai penularan. Fluktuasi kunjungan VCT yang tidak stabil memperlihatkan ketergantungan terhadap promosi temporer, menyebabkan ketidakkonsistenan layanan di klinik komunitas. Rendahnya temuan HIV positif . ,9%) juga mengindikasikan rendahnya jangkauan pemeriksaan terhadap populasi risiko tinggi, meski prevalensi nasional di perkotaan umumnya melebihi 1%. Efektivitas promosi dan rujukan ke layanan VCT yang hanya mencapai 0,9% menegaskan pentingnya pendekatan berbasis komunitas. Whitford et al. menunjukkan bahwa dukungan sebaya dan relasi sosial positif berpengaruh kuat terhadap keputusan individu Griya Widya: Journal of Sexual and Reproductive Health, 4. 2024 melakukan tes HIV. Hal serupa ditunjukkan oleh Tarigan et al. bahwa perluasan layanan HIV tanpa pendampingan komunitas sering tidak berkelanjutan. Persentase pasien IMS positif sebesar 25% dan WPS positif 24,8% mencerminkan efektivitas deteksi dini, tetapi belum menggambarkan kondisi populasi risiko secara Dengan demikian, peningkatan frekuensi skrining, promosi berbasis komunitas, dan koordinasi antar-lembaga menjadi kunci penguatan layanan IMS dan VCT di tingkat lokal. SIMPULAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah kunjungan layanan IMS dan VCT di Klinik Griya ASA selama periode Juli 2013AeMaret 2014 masih tergolong rendah. Partisipasi kelompok berisiko non-WPS hampir tidak terlihat, terutama pada layanan IMS. Temuan pasien HIV positif pada layanan VCT juga rendah, yaitu hanya tujuh kasus, sejalan dengan sedikitnya jumlah kunjungan. Keefektifan promosi klinik dan rujukan menuju layanan VCT hanya mencapai 0,9 persen, sedangkan pencapaian layanan pada WPS Resosialisasi Argorejo untuk IMS sebesar 14,43 persen dan VCT sebesar 51,5 persen. Selain itu, proporsi pasien IMS positif tercatat 25 persen, dan di antara pasien WPS angka tersebut sebesar 24,8 Untuk meningkatkan efektivitas layanan, perlu dilakukan perluasan dan penguatan kegiatan penjangkauan serta pendampingan bagi kelompok berisiko tinggi. Promosi dan rujukan layanan IMS dan VCT perlu ditingkatkan baik dari segi kuantitas maupun kualitas melalui pendekatan berbasis komunitas. Kerja sama dengan pihak resosialisasi juga penting dalam menegakkan aturan skrining dan VCT rutin bagi seluruh WPS. Selain itu, integrasi dan sinkronisasi antara sistem data SIHA dan CMIS perlu segera dilakukan agar pemantauan capaian layanan dapat dilakukan secara lebih akurat dan terpadu. DAFTAR PUSTAKA