Pengungkapan Diri danAA (Aprilia Shelma ) 385 PENGUNGKAPAN DIRI DAN INTERAKSI TEMAN SEBAYA : PERBANDINGAN PERILAKU DI DUNIA NYATA DAN DI MEDIA SOSIAL SELF-DISCLOSURE AND PEER INTERACTION: A BEHAVIORAL COMPARISON IN THE REAL LIFE AND SOCIAL MEDIA Oleh: Aprilia Shelma Palupi. Prodi Bimbingan dan Konseling. Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta, aprilia. shelma2016@student. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: . perbedaan pengungkapan diri di dunia nyata dan di media sosial . perbedaan interaksi teman sebaya di dunia nyata dan di media sosial. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Penelitian ini merupakan penelitian sampel siswa kelas XI di SMA N 1 Ngaglik yang berjumlah 133 orang dilibatkan sebagai responden penelitian. Teknik pengumpulan data menggunakan skala pengungkapan diri di dunia nyata, skala pengungkapan diri di media sosial, skala interaksi teman sebaya di dunia nyata dan skala interaksi teman sebaya di media sosial. Uji validitas instrumen menggunakan expert judgement. Uji reliabilitas instrumen menggunakan Alpha Cronbach, diperoleh nilai koefisien alpha 0,896 pada instrumen pengungkapan diri di dunia nyata, 0,772 pada instrumen pengungkapan diri di media sosial, 0,824 pada instrumen interaksi teman sebaya di dunia nyata dan 0,794 pada instrumen interaksi teman sebaya di media Teknik analisis data penelitian ini menggunakan analisis statistika non parametric uji wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: . terdapat perbedaan pengungkapan diri di dunia nyata dan pengungkapan diri di media sosial dengan nilai sig. sebesar 0,003 dan . terdapat perbedaan interaksi teman sebaya di dunia nyata dan di media sosial dengan nilai sig. sebesar 0,023 dengan taraf signifikansi Penelitian ini juga menemukan bahwa pengungkapan diri dan interaksi teman sebaya lebih tinggi di dunia nyata dibanding di media sosial. Kata kunci: pengungkapan diri, interaksi teman sebaya, dunia nyata, media sosial Abstract This study aims to find out: . The differences between self-disclosure in the real life and social media . The differences between peer interaction in the real life and social media. This study is a sample research of 133 students of the eleventh grade in SMA N 1 Ngaglik, which involved as the research respondents. The quantitative approach with survey methods were used in this The data were collected using scale of self-disclosure in real life, scale of self-disclosure on social media, scale of peer interaction in real life and scale of peer interaction on social media. An instrument validity test using an expert judgement. An instrument reliability test using Alpha Cronbach, the alpha coefficient value of 0 was obtained at the self- disclosure instrument in the real life, 0, at the self-disclosure instrument on the social media, 0, at the peer interaction instrument in the real life, and 0, at the peer interaction instrument on the social media. The data analysis technique used in this study was non parametric uji wilcoxon statistical analysis. The findings show that: . There are differences of self-disclosure in the real life and social media with the sig. of 0,003 and . There are differences of peer interaction in the real life and social media with the sig. of 0,023 with the significancy stage of 5%. This study finding that self-disclosure and peer interaction in the real life higher than on social media. Keywords: self-disclosure, peer interaction, real life, social media 386 Jurnal Riset Mahasiswa Bimbingan dan Konseling. Volume 7. Nomor 8. Agustus 2021 tidak dapat melewati tahap ini yang akan dapat PENDAHULUAN menunda perkembangan psikologisnya. Salah satu jenjang pendidikan formal di Di usia remaja, individu cenderung lebih Indonesia adalah Sekolah Menengah Atas (SMA). banyak menghabiskan waktu dan berinteraksi Peserta didik yang tengah menempuh pendidikan pada jenjang SMA umumnya berada pada fase Hal tersebut sejalan dengan Papalia, . Sehubungan dengan hal tersebut. Papalia, dkk . menerangkan bahwa masa remaja secara banyak waktu dengan sebaya dan kurang waktu kasar berada antara usia 11 dan 19 atau 20 tahun. dengan keluarga. Perkembangan teknologi yang Masa remaja dikenal sebagai masa peralihan dari semakin pesat, nyatanya sangat membantu anak ke masa dewasa. Pendapat tersebut sejalan dengan pendapat Santrock . bahwa masa Menjalin hubungan pertemanan kini remaja merupakan masa transisi dari masa kanak- tidak hanya dilakukan secara offline, namun kanak menuju masa dewasa yang akan melibatkan juga dapat dilakukan secara online atau melalui sejumlah perubahan seperti perubahan biologis, jejaring sosial dunia maya. kognitif, dan sosial emosional. Masa remaja ini Media dilalui dengan banyak permasalahan yang menjadi berbagai macam fitur mampu menjadi platfrom pembelajaran bagi remaja, sehingga masa remaja yang membuat individu menjadi lebih terbuka. disebut dengan masa proses pencarian jati diri. Selain itu dengan adanya aplikasi chat dan Proses pencarian jati diri remaja tidak dapat direct message di media sosial juga semakin terlepas dari kehidupan sosialnya. Hal tersebut didukung oleh pendapat Arifin . yang dengan teman sebayanya. Menjalin pertemanan menegaskan bahwa hakikat manusia di mana pun di dunia maya semakin dianggap lebih mudah berada tidak dapat dipisahkan dari lingkungan dan praktis dengan alasan tidak harus bertatap Erikson ( Papalia, dkk:2. menjelaskan secara face to face. bahwa tugas utama remaja adalah melawan krisis Remaja berada di posisi pertama sebagai identitas versus kebingungan identitas atau identitas pengguna internet terbanyak di Indonesia. Data versus kebingungan peran . dentity vs identity resmi APJII yang diterima Okezone. Rabu Pada tahap ini remaja berada dalam . /5/2. pengguna internet terbanyak ada keadaan untuk memutuskan siapa dirinya dan juga pada usia 15 hingga 19 tahun. Sementara itu, tujuan apa yang akan remaja capai. Berbagai pengguna terbanyak kedua berada pada umur 20 permasalahan dan problematika yang muncul hingga 24 tahun. Anak-anak berumur 5 hingga menjadi hambatan bagi remaja dalam proses 9 tahun pun juga menggunakan internet, bahkan pencarian jati dirinya. Berbahaya ketika remaja Pengungkapan Diri danAA (Aprilia Shelma ) 387 mencapai 25,2 persen dari keseluruh sampel yang merasakan kenyamanan dalam menceritakan berada pada umur tersebut. Data tersebut didapat dari jumlah pengguna internet sebanyak 171,17 juta menjelaskan bahwa individu mengakses media . com, 2. sosial sebagai tempat untuk berbagi informasi Penelitian Internet biasa digunakan untuk mencari dan menunjukkan siapa dirinya dalam dunia berita terkini, menonton film secara online dan juga nyata kepada teman di dunia maya. Kegiatan berselancar di media sosial. Media sosial yang yang dilakukan individu tersebut merupakan dapat diakses pun beragam, mulai dari Youtube, kegiatan pengungkapan diri . elf disclosur. Facebook. Twitter. Instagram. Line dan lainnya. Berdasarkan Survei Johnson (Gainau. Penyelenggara individu yang dapat melakukan pengungkapan Jaringan Internet Indonesia (APJII) bekerjasama diri dengan tepat maka membuktikan bahwa mampu menyesuaikan diri, lebih percaya diri 89,4% masyarakat menggunakan internet untuk sendiri, percaya terhadap orang lain, lebih mengakses aplikasi percakapan atau chatting. objektif, dan terbuka. Sebaliknya jika individu Selain itu, 87% pengguna memanfaatkan internet kurang mampu dalam membuka diri maka untuk mengakses sosial media seperti Facebook, individu tersebut juga kurang mampu dalam Twitter dan Instagram . id, 2. menyesuaikan diri, kurang percaya pada diri Senada dengan data tersebut. Yusra . sendiri maupun orang lain dan juga introvert. menjelaskan bahwa pengguna aktif instagram rata- Hal tersebut berkaitan dengan cara individu rata berusia 18-24 tahun sebanyak 59%, diurutan dalam melakukan kontrol mengenai pemilihan kedua berasal dari usia 25-34 tahun, pada posisi topik yang disampaikan oleh individu. Sehingga terakhir berada dalam kisaran 34-44 tahun. ketika pengungkapan diri yang dilakukan oleh Penelitian-penelitian tersebut mendukung bahwa individu pembahasan yang menarik dan juga remaja menjadi individu yang paling banyak bermakna, maka pengungkapan diri memiliki mengakses media sosial. dampak yang baik bagi diri individu. Teknopreneur Asosiasi Menurut Indonesia Remaja dalam penggunaan media sosial Kemampuan berbagi informasi pribadi kepada pengguna lain di hubungan sosial. Remaja akan lebih mudah media sosial. Mahardika dan Farida . dalam berinteraksi dan menyesuaikan diri menyatakan bahwa seorang individu merasa dengan lingkungan sosialnya ketika ia mampu nyaman dan terpuaskan kebutuhannya dalam proses untuk membuka diri. Pernyataan tersebut mengungkapkan diri melalui fitur insta story. Hasil didukung oleh pendapat Setiawati . keterampilan dalam membuka diri yang dimiliki remaja, akan membantu anak dalam mencapai kemampuan akademik dan penyesuain diri Spiekermann, tentu memiliki alasan tersendiri, salah satunya 388 Jurnal Riset Mahasiswa Bimbingan dan Konseling. Volume 7. Nomor 8. Agustus 2021 dengan individu lain. Nasrullah (Mulawarman, , 2. menyatakan bahwa media sosial kemampuan membuka diri yang baik. Hal tersebut tidak hanya digunakan untuk mendistribusikan didukung oleh penelitian yang dilakukan Dewi informasi yang bisa dikreasikan oleh pemilik . alam Gainau, 2. , hanya 24,55% remaja yang akun . itu sendiri, tetapi juga memiliki memiliki ketrampilan pengungkapan diri dan dasar sebagai portal untuk membuat jaringan sisanya 43,63% kurang memiliki ketrampilan pertemanan secara virtual dan medium untuk dalam membuka diri. berbagi data seperti audio atau video. Remaja Namun Rendahnya kemampuan remaja dalam menjadikan media sosial bukan hanya tempat membuka diri menyebabkan remaja menjadi sulit untuk berbagi informasi pribadi secara online, terbuka dalam dunia nyata dan memilih untuk melainkan juga sebagai salah satu alat yang mengekspresikan diri di media sosial. Hal tersebut digunakan untuk berinteraksi dan bertukar kabar ditegaskan oleh (Asandi & Rosyidi, 2. bahwa dengan kawan sebayanya, baik teman dalam sekarang ini remaja lebih senang untuk melakukan lingkungan sekolah, maupun dengan teman curhat melalui media cyber, dengan tingkat jarak jauhnya. Lebih lanjut. Mulawarman, dkk keterbukaan diri yang cukup besar, walaupun . juga menjelaskan bahwa memiliki akun terkadang mereka menutupi identitas aslinya. dalam sebuah media sosial membuat remaja Media sosial ini dianggap menjadi solusi ketika merasakan adanya persamaan dan secara tidak remaja tidak mampu langsung mempererat interaksi sosial mereka. membuka diri transparan kepada orang lain. Teman sebaya juga menjadi tempat remaja Akan tetapi pendapat lain menyatakan untuk belajar dan mendapatkan wawasan diluar bahwa pengungkapan diri remaja cenderung tinggi Menurut Papalia, dkk. di dunia nyata. Hal tersebut disampaikan oleh kelompok sebaya merupakan sumber afeksi. Knop, dkk . yang menemukan bahwa simpati, dan penuntutan moral, tempat bagi pengungkapan diri pada dunia nyata cenderung sebuah eksperimen dan pengaturan untuk mencapai otonomi serta kemandirian dari orang pengungkapan diri di dunia nyata juga dianggap Semakin eratnya interaksi sosial remaja ini lebih dalam. Hal tersebut dikarenakan adanya faktor-faktor lain yang mendukung seperti rasa menerus, tidak hanya di media sosial namun percaya dan juga kedekatan individu dengan lawan juga di dunia nyata. bicara di dunia nyata. Selain Kemudahan dalam mengakses media Media sosial tidak hanya dijadikan tempat sosial nyatanya mampu mengubah remaja untuk mengungkapkan diri, akan tetapi juga sebagai dalam berinteraksi dengan teman sebayanya. jembatan bagi individu untuk melakuka interaksi Sebagian Pengungkapan Diri danAA (Aprilia Shelma ) 389 interaksi dengan temannya tanpa harus bertemu dan rendahnya kemampuan pengungkapan diri dan mencari waktu luang. Hasil penelitian (Nesi, dkk. interaksi teman sebaya remaja baik di dunia 2. menjelaskan selain sekadar mencerminkan proses teman sebaya remaja secara offline dalam perbedaan yang muncul membuat peneliti ingin lingkungan baru, media sosial secara mendasar mengubah pengalaman dalam hubungan teman Untuk itu, peneliti tertarik untuk Secara khusus penggunaan media sosial meneliti pengungkapan diri dan interaksi teman sebaya: perbandingan di di dunia nyata dan di Kemungkinan media sosial. mengubah sifat mutu dari pengalaman hubungan teman sebaya, atau memberikan peluang baru dalam berperilaku. Media sosial memang banyak METODE PENELITIAN Jenis dan Metode Penelitian Penelitian memberikan dampak positif, namun juga dapat memberikan dampak negatif. Fenomena yang pendekatan penelitian kuantitatif. Penelitian terjadi kini adalah remaja yang aktif di media sosial ini termasuk penelitian dengan metode survei. belum tentu dalam dunia nyata juga demikian. Menurut Sugiyono . metode survei Dikutip dari kompasiana. , salah digunakan untuk mendapatkan data dari satu dampak negatif dari media sosial adalah susah bersosialisasi dengan individu sekitar. Hal ini berkomunikasi secara nyata. Mencermati pendapat wawancara terstruktur dan sebagainya kompasiana, beberapa individu yang aktif di dunia Waktu dan Tempat Penelitian maya saat bertemu langsung nyatanya adalah orang yang pendiam dan tidak banyak bergaul. Penelitian dilakukan di SMA N 1 Ngaglik. Penelitian dilakukan selama 5 hari. Berbeda dengan pendapat diatas. Buote & Pratt . yang menyatakan bahwa interaksi yang dimulai pada tanggal 13 November 2020 hingga 18 November 2020. terjadi pada pertemanan offline justru lebih banyak dipertahankan dan juga berlangsung lebih lama. Subjek Penelitian Subyek dari penelitian ini adalah siswa Adanya kehadiran raga dalam dunia nyata ketika Berdasarkan perbedaan pendapat ahli yang telah dipaparkan, memunculkan pertanyaan adakah perbedaan dan juga terkait dengan tinggi atau kelas XI SMA N 1 Ngaglik. Data. Instrumen, dan Teknik Pengambilan Data Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah 390 Jurnal Riset Mahasiswa Bimbingan dan Konseling. Volume 7. Nomor 8. Agustus 2021 yang disajikan dalam google form. Link pengungkapan diri di dunia nyata yang dapat Google form ini kemudian dibagikan kepada dilihat pada tabel di bawah ini : seluruh grup whatsapp siswa kelas XI SMA N 1 Tabel 1. Kategorisasi Pengungkapan Diri di Dunia Nyata Ngaglik. Dalam penelitian ini responden mengisi Kesediaan ditunjukkan dengan adanya data diri responden dalam pengisian skala. Berdasarkan tabel di atas, skor pada skala pengungkapan diri di dunia nyata akan Berikut grafik kategorisasi Instrumen Pengumpul Data skor skala pengungkapan diri di dunia nyata : Instrumen yang di gunakan dalam penelitian ini adalah skala pengungkapan diri di dunia nyata dan di media sosial serta skala interaksi teman Pengungkapan Diri di Dunia Nyata sebaya di dunia nyata dan di media sosial. Teknik Analisis Data Teknik analisis data yang digunakan dalam Rendah penelitian ini adalah analisis data kuantitatif. Sedang Tinggi Pengungkapan Diri di Dunia Nyata Analisis ini bertujuan untuk memberikan informasi terhadap tingkat pengungkapan diri dan interaksi Gambar 1. Grafik Kategorisasi Skala Pengungkapan Diri di Dunia Nyata teman sebaya di dunia nyata dan di media sosial. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Dari grafik di atas, dapat dilihat bahwa sebanyak 82 siswa masuk pada kategori Hasil Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian yang sedang dan 51 siswa masuk pada kategori berfokus pada pengujian perbedaan pengungkapan diri dan interaksi teman sebaya di dunia nyata dan Kategorisasi Pengungkapan Diri di Media di media sosial. Selain itu, penelitian ini juga Sosial bertujuan untuk mengetahui manakah yang lebih Berikut adalah kategorisasi skor pada tinggi antara pengungkapan diri di dunia nyata dan skala pengungkapan diri di dunia nyata yang di media sosial serta interaksi teman sebaya di dapat dilihat pada tabel di bawah ini : dunia nyata dan di media sosial. Tabel 2. Kategorisasi Skala Pengungkapan Diri di Media Sosial Kategorisasi Pengungkapan Diri di Dunia Nyata Berikut adalah kategorisasi skor pada skala No. Batas X < 68 68 O X O 102 X Ou 102 Kategori Rendah Sedang Tinggi No. Batas X < 68 68 O X O 102 X Ou 102 Kategori Rendah Sedang Tinggi Berdasarkan tabel di atas, skor pada skala pengungkapan diri di dunia nyata akan Pengungkapan Diri danAA (Aprilia Shelma ) 391 Pengungkapan Diri di Media Sosial Interaksi Teman Sebaya di Dunia Nyata Rendah Sedang Tinggi Pengungkapan Diri di Media Sosial Berikut grafik kategorisasi skor skala pengungkapan diri di media sosial : Rendah Sedang Tinggi Interaksi Teman Sebaya di Dunia Nyata Gambar 2. Grafik Kategorisasi Skala Pengungkapan Diri di Media Sosial Gambar 3. Grafik Kategorisasi Skala Interaksi Teman Sebaya di Dunia Nyata Dari grafik di atas dapat dilihat bahwa Dari grafik di atas dapat dilihat bahwa sebanyak 129 siswa masuk pada kategori sedang 52 siswa masuk pada kategori sedang dan 81 dan 4 siswa lainnya masuk pada kategori tinggi. siswa masuk pada kategori tinggi. Kategorisasi Interaksi Teman Sebaya di Dunia Kategorisasi Interaksi Teman Sebaya di Nyata Media Sosial Berikut adalah kategorisasi skor pada skala Berikut adalah kategorisasi skor pada pengungkapan diri di dunia nyata yang dapat dilihat skala interaksi teman sebaya di media sosial pada tabel di bawah ini : yang dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 3. Kategorisasi Skala Interaksi Teman Sebaya di Dunia Nyata Tabel 4. Kategorisasi Skala Interaksi Teman Sebaya di Media Sosial No. No. Batas X < 46 46 O X O 69 X O 69 Kategori Rendah Sedang Tinggi Berdasarkan tabel di atas, skor pada skala Batas X < 46 46 O X O 69 X O 69 Kategori Rendah Sedang Tinggi Berdasarkan tabel di atas, skor pada skala pengungkapan diri di dunia nyata akan Berikut grafik kategorisasi skor Berikut grafik kategorisasi skala interaksi teman sebaya di dunia nyata : skor skala interaksi teman sebaya di media 392 Jurnal Riset Mahasiswa Bimbingan dan Konseling. Volume 7. Nomor 8. Agustus 2021 lebih rendah daripada nilai signifikansi yaitu Interaksi Teman Sebaya di Media Sosial 0,05. Sehingga dapat di tarik kesimpulan yaitu bahwa terdapat perbedaan pengungkapan diri dan interaksi teman sebaya di dunia nyata dan di media sosial pada siswa kelas XI SMA N 1 Rendah Sedang Tinggi Interaksi Teman Sebaya di Media Sosial Ngaglik. Pembahasan Perbedaan Pengungkapan Diri Di Dunia Nyata dan di Media Sosial Gambar 4. Grafik Kategorisasi Skala Interaksi Teman Sebaya di Media Sosial Dari grafik di atas dapat dilihat bahwa 102 Hasil penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan antara pengungkapan diri di dunia siswa masuk pada kategori sedang dan 31 siswa nyata . cU1 ) dan pengungkapan diri di media masuk pada kategori tinggi. siswa kelas XI SMA N 1 Ngaglik. Hasil Uji Wilcoxon Hipotesis yang diajukan dinyatakan diterima. Tabel 5. Hasil Uji Wilcoxon Hasil penelitian ini di dukung oleh pendapat dari Ruppel, dkk . yang menemukan bahwa Uji Wilcoxon Nilai Uji perbedaan 0,003 < pengungkapan 0,05 diri di dunia nyata dan di media sosial Uji perbedaan 0,023 < interaksi teman 0,05 sebaya di dunia nyata dan di media sosial Hipotes is ya0 Ditolak Kesimpulan pengungkapan diri lebih tinggi di dunia nyata Terdapat dibandingkan di media sosial. Dalam penelitian ini juga ditemukan tingkat pengungkapan diri di Ditolak Terdapat Berdasarkan hasil uji wilcoxon di atas pada variabel pengungkapan diri di dunia nyata dan pengungkapan diri di media sosial nilai signifikansi sebesar 0,003 yang artinya nilainya lebih rendah daripada nilai signifikansi yaitu 0,05. Dengan demikian berarti bahwa ya0 ditolak yang artinya hipotesis diterima. Hasil uji wilcoxon pada variabel interaksi teman sebaya di dunia nyata dan interaksi teman sebaya di media sosial mendapatkan nilai signifikansi sebesar 0,023 yang artinya nilainya pengungkapan diri di media sosial. Pengungkapan diri siswa di dunia nyata lebih tinggi dibanding pengungkapan diri di media sosial. Hal tersebut didukung oleh Knop, . menemukan terdapat lebih banyak jumlah, lebih luas dan lebih mendalam untuk pengungkapan diri di dalam kelompok offline daripada pengungkapan diri dalam kelompok online. Sejalan Culbert (Gainau, berpendapat bahwa kedalaman dan keluasan mengarah pada seberapa dalam dan intim informasi yang disampaikan kepada individu Hal ini tentu dapat diartikan bahwa Pengungkapan Diri danAA (Aprilia Shelma ) 393 kepada individu yang dianggap dekat. Dari hasil Pengungkapan diri dipengaruhi oleh penelitian ini menunjukkan bahwa siswa lebih faktor jenis kelamin dengan kenyataan bahwa banyak melakukan pengungkapan diri di dunia wanita lebih banyak mengungkapkan diri nyata dibanding di media sosial. Sebagian besar daripada pria. Didukung dengan penelitian yang siswa merasa bahwa pengguna lain di media sosial dilakukan dari Valkenburg, dkk. yang tidak perlu mengetahui informasi tentang dirinya. menemukan bahwa Selain itu, siswa juga hanya membagikan sedikit signifikan mempengaruhi perbedaan dalam informasi diri di media sosial dan lebih banyak pengungkapan diri. Senada dengan pendapat menyampaikan informasi kepada individu yang Devito . yang menjelaskan bahwa dianggap memiliki kedekatan. Pengungkapan diri yang dilakukan siswa pengungkapan diri adalah jenis kelamin yang cenderung lebih luas dan dalam di dunia nyata umumnya pria kurang terbuka daripada wanita. dibanding dengan di media sosial. Hal tersebut Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa didukung oleh pendapat Ruppel dkk . yang aktivitasnya dan mengungkapkan diri baik di pengungkapan diri secara langsung dan di media dunia nyata maupun di media sosial dibanding sosial mengarah pada kedalaman daripada luasnya dengan siswa laki-laki. Begitu pula pada aspek pengungkapan diri. Individu cenderung lebih banyak mengungkapkan diri dengan individu lain mengungkapkan diri daripada laki-laki. yang ditemuinya secara langsung dibanding di Pengungkapan Culbert media sosial. Penelitian ini juga menunjukkan (Gainau, 2. menjelaskan bahwa aspek pada adanya rasa takut akan persepsi orang lain kepada diri siswa jika ia mengungkapkan dirinya di media Penelitian ini menemukan bahwa sebagian besar siswa baik pada pengungkapan mengungkapkan diri di media sosial. diri di dunia nyata dan di media sosial memiliki Penelitian ini menemukan bahwa siswa juga kemampuan dalam menyampaikan informasi lebih banyak mengungkapkan diri dengan individu sesuai fakta dan relevan dengan keadaan yang lain yang dianggap memiliki kedekatan. Didukung Akan tetapi ditemukan pula beberapa dengan temuan Tang & Wang . pada siswa ketika sedikit mengubah informasi penelitiannya, yaitu dalam hal kedalaman dan mengungkapkan diri di media sosial. keluasan, individu lebih banyak mengungkapkan Siswa juga tidak selalu membagikan diri dengan sahabat atau teman dekat dan keluarga. aktivitas yang dilakukan dalam kehidupan Selain itu, pendapat Culbert (Gainau, 2. bahwa sehari-hari di media sosial. Kekhawatiran akan individu akan mengungkapkan diri lebih banyak privasi menjadi salah satu faktor yang membuat dengan individu lain yang diaggap dekat. individu membatasi dirinya di media sosial. Hal 394 Jurnal Riset Mahasiswa Bimbingan dan Konseling. Volume 7. Nomor 8. Agustus 2021 tersebut didukung oleh pendapat dari Taddicken siswa selalu menghadiri pertemuan secara . yang menjelaskan bahwa individu yang langsung dengan teman sebayanya. Sebagian khawatir mengenai privasinya di media sosial, tidak besar siswa kurang menyukai untuk obrolan akan mengungkapkan diri atau hanya sedikit melalui media sosial. informasi pribadi yang di ungkap di media sosial. Salah satu faktor terjadinya interaksi Dari hasil penelitian juga didapatkan nilai Sig teman sebaya adalah bersekolah di sekolah yang sebesar 0,003 < 0,05 yang artinya bahwa Menurut Desmita . yang pengungkapan diri di dunia nyata dan di media menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi sosial memiliki perbedaan. Berdasarkan analisis tinggi rendahnya interaksi antar remaja salah data di atas individu pengungkapan diri di dunia satunya adalah menempuh pendidikan di nyata lebih tinggi daripada pengungkapan diri di sekolah yang sama. Seluruh subjek pada media sosial. penelitian ini merupakan siswa yang bersekolah Perbedaan Interaksi Teman Sebaya di Dunia di SMA N 1 Ngaglik, sehingga tingginya Nyata dan di Media Sosial interaksi di dunia nyata yang terjadi antar siswa Hasil penelitian ini menunjukkan adanya dipengaruhi oleh faktor tersebut. Interaksi teman sebaya memiliki 2 aspek perbedaan antara interaksi teman sebaya di dunia nyata . cU1 ) dan interaksi teman sebaya di media sosial . cU2 ) siswa kelas XI SMA N 1 Ngaglik. Oleh 2007:. Pada penelitian ini menunjukkan karena itu hipotesis yang di ajukan dinyatakan konformitas yang tinggi pada siswa yang Hal tersebut di dukung dengan penelitian berusaha untuk selalu hadir dan bersedia untuk Chan & Cheng . yang menemukan bahwa menyesuaikan diri dengan teman sebayanya. interaksi pada pertemanan offline melibatkan lebih Siswa kurang menyukai untuk hadir dalam pertemuan pemahaman, dan juga komitmen dibanding dengan dan memilih hadir dalam pertemuan tersebut. pertemanan online. Adanya interaksi dan obrolan Hal tersebut juga dapat dipengaruhi oleh adanya secara langsung tanpa melalui media membuat keinginan untuk siswa identik dengan teman pertemanan lebih berkualitas. Didukung dengan pendapat Bonner (Yusuf. Siswa lebih banyak melakukan interaksi (Gerungan, 2004:. yang menyatakan bahwa dengan teman sebayanya di dunia nyata dibanding adanya faktor identifikasi yang merupakan melalui media sosial. Hal tersebut didukung oleh perilaku seseorang yang mengarah ingin Buote. Wood. , & Pratt. dalam menjadi identik dengan orang lain. Dengan kata lain, terdapat penyesuaian yang dilakukan siswa pertemanan terus dijalin dan dipertahankan dalam konteks offline. Penelitian ini menunjukan bahwa dengan kelompok sebaya. Ditemukan pula kecenderungan siswa Pengungkapan Diri danAA (Aprilia Shelma ) 395 untuk selalu ingin berbincang untuk berinteraksi dibanding dengan interaksi teman sebaya di dan berkelompok dengan teman sebaya. Dengan media sosial. demikian, siswa kelas XI SMA N 1 Ngaglik Saran memiliki social cognition yang tinggi. Menurut Berdasarkan Yusuf mengajukan saran sebagai berikut: kemampuan seseorang dalam memikirkan tentang perasaan, pikiran, motif dan tingkah laku diri Bagi siswa Siswa sendiri dan orang lain. Kemampuan tersebut kemampuan pengungkapan diri dan interaksi memiliki pengaruh yang kuat terhadap keinginan dengan teman sebaya di dunia nyata. Siswa juga individu untuk membentuk kelompok teman sebaiknya tetap mempertahankan sikap bijak dan berhati-hati dalam berperilaku ketika Dari hasil penelitian juga didapatkan nilai Sig mengungkapkan informasi yang bersifat privasi sebesar 0,023 yang artinya bahwa interaksi teman dan ketika berinteraksi dengan teman sebaya di sebaya di dunia nyata dan di media sosial memiliki media sosial dikarenakan media sosial memiliki Berdasarkan analisis data juga dapat dampak negatif seperti penyadapan, penipuan disimpulkan bahwa interaksi dengan teman sebaya di dunia nyata lebih tinggi daripada di media sosial. berujung penculikan, dan sebagainya. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Terdapat perbedaan pengungkapan diri di dunia nyata dan di media sosial siswa kelas XI SMA N 1 Ngaglik. Hal ini ditunjukkan dengan nilai Sig yaitu sebesar 0,003 < 0,05 yang dapat diartikan bahwa hipotesis diterima. Dari hasil analisis data menunjukkan bahwa pengungkapan diri lebih tinggi di dunia nyata dibanding dengan pengungkapan diri di media sosial. Lebih lanjut, terdapat juga perbedaan pada interaksi teman sebaya di dunia nyata dan di media sosial siswa kelas XI SMA N 1 Ngaglik. Hal ini ditunjukkan dengan nilai Sig yaitu sebesar 0,023 < 0,05 yang dapat diartikan bahwa hipotesis diterima. Dari hasil analisis data juga menunjukan bahwa interaksi teman sebaya lebih tinggi di dunia nyata Bagi peneliti selanjutnya Peneliti selanjutnya dapat memberikan responden/siswa yang sedang offline agar proses pengambilan data dapat dilakukan dalam waktu yang lebih singkat. DAFTAR PUSTAKA