ISSN : 2442-4986 An-Nadaa: Jurnal Kesehatan Masyarakat . -Journa. Volume 10 . Desember 2023 DOI : http://dx. org/ 10. 31602/ann. DETERMINAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN KELUHAN PENYAKIT SCABIES DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BANJARBARU SELATAN TAHUN DETERMINANTS RELATED TO COMPLAINTS OF SCABIES IN THE WORKING AREA OF THE BANJARBARU SELATAN HEALT CENTER IN 2023 Eka Handayani1*. Edy Ariyanto2. Ahmad Fauzan3,Junia Shinta Ariyantie4 1,2,3,4 Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Islam Kalimantan MAB Jl. Adhyaksa No. 2 Kayutangi Kota Banjarmasin. Kalimantan Selatan. Indonesia *Authors Correspondence : Ekabella8888@gmail. ARTICLE INFO Article history Received: March Accepted: Nov 2023 Published Online : Dec 2023 Keywords: Incidence of Scabies. Personal Hygiene. Occupational Density. Humidity. Ventilation. Lighting. Temperature Kata kunci: ASI Eksklusif. Pengetahuan Ibu. Pekerjaan Ibu. Dukungan Keluarga ABSTRACT Scabies is a disease that can be transmitted directly or indirectly. The objective of this research is to investigate and examine the correlation between individual cleanliness, the number of people in a space, moisture levels, air circulation, illumination, and temperature in relation to reports of scabies. This will be achieved through a quantitative approach involving an analytical survey utilizing a crosectional framework. The population in this study was the community in the working area of the Banjarbaru Selatan Health Center, totaling 563 people. sample of 86 respondents with the case control sampling technique. The results of this study indicate that there is a relationship between personal hygiene and the incidence of scabies . -value = 0. , there is a relationship between occupancy density and the incidence of scabies . -value = 0. , there is a relationship between humidity and the incidence of scabies . -value = 0. , there is a relationship between ventilation and the incidence of scabies . -value = 0. there is a relationship between lighting and the incidence of scabies . -value = . , there is a relationship between temperature and the incidence scabies . value=0. to puskesmas to provide basic sanitation facilities that comply with health requirements and are maintained. ABSTRAK Scabies adalah suatu kondisi yang dapat menyebar melalui kontak langsung atau tidak langsung. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi korelasi antara tingkat kebersihan pribadi, kepadatan tempat tinggal, tingkat kelembaban, sistem ventilasi, intensitas pencahayaan, dan suhu terhadap kemunculan keluhan penyakit Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei analitik menggunakan desain cross-sectional. Populasi yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah penduduk daerah kerja Puskesmas Banjarbaru Selatan, yang memiliki total populasi sebanyak 563 individu. Sampel sebanyak 86 responden dengan teknik pengambilan sampel case Hasil dari penelitian ini mengindikasikan adanya korelasi antara tingkat kebersihan pribadi dengan insiden kasus scabies . -value = 0,. , ada hubungan antara kepadatan hunian dengan kejadian scabies . value=0,. , ada hubungan antara kelembaban dengan kejadian scabies . -value=0,. , ada hubungan antara ventilasi dengan kejadian scabies . value=0,. , ada hubunga antara pencahayaan dengan kejadian scabies . value=0,. , ada hubungan antara suhu dengan kejadian scabies . value=0,. Kepada puskesmas agar menyediakan fasilitas sanitasi dasar yang sesuai syarat kesehatan dan terpelihara, membuat poster kesehatan terkait personal hygiene. An-Nadaa: Jurnal Kesehatan Masyarakat . -Journa. is licensed under a Creative Commons Attribution-Non Commercial 4. 0 International (CC BY NC) license. Copyright A 2023 by Authors Eka Handayani. Edy Ariyanto. Ahmad Fauzan,Junia Shinta Ariyantie: Determinan Yang Berhubungan Dengan Keluhan Penyakit Scabies Di Wilayah Kerja Puskesmas Banjarbaru Selatan Tahun 2023 PENDAHULUAN Oleh karena itu, memastikan pasokan air bersih yang mencukupi bagi masyarakat adalah salah satu langkah pencegahan yang penting terhadap penyakit yang berhubungan dengan . Dari tahun 2021 hingga 2022, tercatat sebanyak 729 pasien yang datang dari wilayah Puskesmas Banjarbaru Selatan berdasarkan data pada tahun 2023 bulan JanuariMaret terdapat 563 pasien. Terjadi peningkatan kasus penyakit scabies di Puskesmas Banjarbaru Selatan karena kurangnya pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga perkembangbiakan tungau penyebab penyakit ini. Sering kali, masyarakat menganggap penyakit kulit ini sebagai sesuatu yang umum. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pengetahuan masyarakat tentang pentingnya menjalani gaya hidup yang bersih dan sehat, serta kekurangan pemahaman tentang cara pengobatan yang tepat untuk mengatasi skabies. Selain itu, upaya menjaga kebersihan lingkungan juga berarti menciptakan suasana yang sehat agar terhindar dari potensi penyakit yang beragam. Menjaga kebersihan lingkungan adalah kewajiban bagi semua penduduk yang tinggal di daerah mereka masing-masing. Kualitas kehidupan masyarakat tercermin dari lingkungan yang terjaga kebersihannya, yang pada gilirannya menjamin kesehatan setiap Orang yang tidak mematuhi seperti tinggal di lingkungan yang kurang bersih, berbagi penggunaan alat mandi secara bergantian, dan tidur bersama-sama. Dipengaruhi oleh peristiwa ini, penulis merasa tertarik untuk memahami situasi lingkungan yang ada di wilayah Puskesmas Banjarbaru Selatan yang berkaitan dengan kasus scabies. Scabies merupakan infeksi parasit pada kulit yang berkontribusi terhadap angka kesakitan dan kematian yang signifikan secara global, seperti yang diakui oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Scabies adalah kondisi penyakit yang dapat menyebar melalui kontak langsung atau tidak langsung. Walaupun umumnya lebih umum terjadi pada anak-anak dan orang dewasa muda, kondisi ini dapat mempengaruhi individu dari berbagai rentang usia. Scabies dapat bertahan hidup di permukaan tubuh inang sebagai parasit luar . , mengambil nutrisi dengan menghisap darah atau mencari sumber makanan di rambut, bulu, dan kulit, serta menyerap cairan tubuh inang. Betina kudis menghasilkan telur dan melangsungkan proses perkembangbiakan di dalam terowongan yang terbentuk di bawah lapisan kulit. Hal ini mengakibatkan respons alergi yang tampak sebagai bercak merah atau benjolan kecil . , yang seringkali disertai rasa gatal yang intens, terutama terasa pada malam hari. Berdasarkan informasi yang diterbitkan oleh Departemen Kesehatan RI, angka kejadian skabies di Indonesia bervariasi antara 5,6 persen hingga 12,95 persen pada tahun 2008, berdasarkan data yang dikumpulkan dari pusat-pusat kesehatan di seluruh penjuru negaraPada tahun 2011, skabies menduduki peringkat ketiga sebagai penyakit kulit paling umum di Indonesia, dengan jumlah kasus 135 . ,9 perse. dari total populasi Hal ini menempatkan skabies pada peringkat ketiga dari 12 masalah kulit yang paling sering terjadi dalam wilayah tersebut. Berdasarkan data terbaru dari Riskesdas, 6,9% dari populasi penderita skabies di Indonesia telah terdiagnosis pada tahun 2018. Perkembangan skabies dapat dipengaruhi oleh praktik-praktik kebersihan pribadi seperti menjaga kebersihan pakaian, kulit, tangan, dan kuku, merawat kebersihan alat kelamin, menjaga kebersihan handuk, tempat tidur, dan seprai. Selain itu, faktor-faktor lingkungan fisik rumah seperti kepadatan hunian, tingkat pencahayaan, dan suhu juga dapat berperan dalam pengembangan kasus skabies. Beberapa faktor yang turut berperan dalam terjadinya kasus scabies mencakup: kontak dengan individu yang mengalami scabies, tingkat kebersihan pribadi yang rendah, serta kondisi lingkungan yang mendukung perkembangan Skabies terkait dengan faktor-faktor seperti kepadatan hunian yang tinggi, kurangnya sanitasi yang memadai, dan kesulitan dalam mendapatkan akses air bersih. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengklasifikasikan skabies sebagai penyakit yang terkait dengan air . ater-related BAHAN DAN METODE Metode penelitian yang diterapkan dalam studi ini adalah penelitian kasus kontrol . ase Penelitian case control adalah metode analitik observasional dalam epidemiologi yang memeriksa hubungan antara efek . eperti penyakit atau kondisi kesehata. tertetu dengan faktor risiko Desain penelitian kasus kontrol digunakan untuk mengukur seberapa besar peran faktor risiko dalam terjadinya suatu penyakit. Dalam penelitian kasus kontrol, proses dimulai dengan mengidentifikasi pasien yang mengalami efek . dan kelompok yang tidak mengalami efek . Selanjutnya, secara retrospektif dilacak faktor risiko yang mungkin menjelaskan mengapa kasus mengalami efek sedangkan kontrol Populasi dalam penelitian ini terdiri dari pasien yang datang berkunjung ke Puskesmas Banjarbaru Selatan selama periode Januari-Maret Eka Handayani. Edy Ariyanto. Ahmad Fauzan,Junia Shinta Ariyantie: Determinan Yang Berhubungan Dengan Keluhan Penyakit Scabies Di Wilayah Kerja Puskesmas Banjarbaru Selatan Tahun 2023 tahun 2023, dengan total jumlah pasien sebanyak 563 orang. Sampel merupakan sebagian kecil dari jumlah dan karakteristik yang ada dalam populasi secara keseluruhan. Variabel merujuk pada ukuran atau karakteristik yang memisahkan individu dalam suatu kelompok dari individu dalam kelompok lainnya. Kerja Puskesmas Banjarbaru Selatan pada tahun 2023, dari jumlah 86 responden yang menjadi subjek penelitian, tergambar bahwa personal hygiene yang terjaga dengan baik mencapai 61,6% atau sebanyak 53 responden, sementara personal hygiene yang kurang optimal ditemukan pada 38,4% atau sekitar 33 responden. Terlihat dari hasil penelitian yang dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Banjarbaru Selatan pada tahun 2023, dari jumlah 86 responden yang menjadi fokus penelitian, dapat diamati bahwa kepadatan hunian yang sesuai standar tercatat sebanyak 59,3% atau 51 responden, sementara sebanyak 40,7% atau 35 responden menghadapi kepadatan hunian yang tidak memenuhi syaratNampak dari hasil penelitian yang terekspos di Wilayah Kerja Puskesmas Banjarbaru Selatan pada tahun 2023, dari total 86 responden yang menjadi subjek penelitian, terungkap bahwa kelembaban yang sesuai standar mencapai 50,0% atau sekitar 43 responden, sementara kelembaban yang tidak memenuhi syarat juga dijumpai pada 50,0% atau sekitar 50 responden. Terlihat dari hasil penelitian yang dilaksanakan di Wilayah Kerja Puskesmas Banjarbaru Selatan pada tahun 2023, dari jumlah 86 responden yang menjadi subjek penelitian, ditemukan bahwa ventilasi yang sesuai standar tercatat sebanyak 55,8% atau 48 responden, sementara pencahayaan yang tidak memenuhi syarat ditemukan pada 44,2% atau 38 responden. Terlihat dari hasil penelitian yang dijalankan di Wilayah Kerja Puskesmas Banjarbaru Selatan pada tahun 2023, dari total 86 responden yang menjadi obyek penelitian, dapat disimpulkan bahwa pencahayaan yang sesuai standar tercatat sebanyak 54,7% atau sekitar 47 responden, sedangkan pencahayaan yang tidak memenuhi standar ditemukan pada 45,3% atau sekitar 39 responden. Terlihat dari hasil penelitian yang dijalankan di Wilayah Kerja Puskesmas Banjarbaru Selatan pada tahun 2023, dari total 86 responden yang menjadi obyek penelitian, dapat disimpulkan bahwa suhu yang sesuai standar tercatat sebanyak 51,2% atau sekitar 44 responden, sedangkan suhu yang tidak memenuhi standar ditemukan pada 48,8% atau sekitar 42 responden. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Univariat Tabel 1. Distribusi Frekuensi Responden Variabel Kejadian Scabies Menderita Tidak Menderita Personal Hygiene Baik Tidak Baik Kepadatan Hunian Memenuhi Tidak Memenuhi Kelembaban Memenuhi Tidak Memenuhi Ventilasi Memenuhi Tidak Memenuhi Pencahayaan Memenuhi Tidak Memenuhi Suhu Memenuhi Tidak Memenuhi Total Berdasarkan data yang tertera dalam tabel di atas, terlihat bahwa hasil dari penelitian yang dilaksanakan di Wilayah Kerja Puskesmas Banjarbaru Selatan pada tahun 2023 menunjukkan bahwa dari total 86 responden yang menjadi subjek penelitian, 50,0% atau sebanyak 43 responden mengalami kondisi Scabies, sementara jumlah responden yang tidak mengalami kondisi tersebut juga sebanyak 50,0% atau 43 responden. Tampak dari hasil penelitian yang dilaksanakan di Wilayah Eka Handayani. Edy Ariyanto. Ahmad Fauzan,Junia Shinta Ariyantie: Determinan Yang Berhubungan Dengan Keluhan Penyakit Scabies Di Wilayah Kerja Puskesmas Banjarbaru Selatan Tahun 2023 Analisis Bivariat Tabel 2. 1 Determinan Yang Berhubungan Dengan Keluhan Penyakit Scabies Di Wilayah Kerja Puskesmas Banjarbaru Selatan Tahun 2023 Kejadian Scabies p-value Variabel Total Menderita Tidak Menderita Personal Hygiene Baik 0,000 Tidak Baik Kepadatan Hunian Memenuhi 0,001 Tidak Memenuhi Kelembapan Memenuhi Tidak Memenuhi Ventilasi Memenuhi Tidak Memenuhi Pencahayaan Memenuhi Tidak Memenuhi Suhu Memenuhi Tidak Memenuhi Penelitian yang dilakukan di Puskesmas Banjarbaru Selatan pada tahun 2023 menunjukkan bahwa dari 86 orang yang menjadi subjek penelitian, 43 orang atau 50% dari mereka mengalami infeksi scabies, sementara 43 orang lainnya atau 50% tidak mengalami infeksi scabies. Infeksi scabies menjadi permasalahan yang signifikan di Wilayah Kerja Puskesmas Banjarbaru Selatan, dengan tingkat kejadian mencapai 50%. Sejumlah responden yang mengalami infeksi scabies disebabkan oleh kombinasi faktor iklim tropis, kondisi sosial-ekonomi yang rendah, dan semua faktor ini berkontribusi terhadap peningkatan tingkat penularan infeksi tersebut. Temuan ini konsisten dengan hasil penelitian sebelumnya oleh Hasil uji chi-square menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara personal hygiene dan keluhan scabies, dengan nilai p sebesar 0,022 yang berada di bawah nilai signifikansi 0,05. Hal ini juga sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya oleh Hayyu Afienna pada tahun 2018. Uji chi-square menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara personal 0,001 0,003 0,000 0,003 hygiene dan keluhan scabies, dengan nilai p-value sebesar 0,001 yang berada di bawah nilai signifikansi 0,05 . Temuan dari penelitian yang dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Banjarbaru Selatan pada tahun 2023 dengan melibatkan 86 responden menunjukkan bahwa sebanyak 51 responden atau 59,3% dari mereka tinggal dalam hunian yang memenuhi standar kepadatan, sementara sebanyak 35 responden atau 40,7% tinggal dalam hunian yang tidak memenuhi standar kepadatan. Temuan uji chi-kuadrat menghasilkan nilai-p 0,001 0,05. Temuan ini mengindikasikan adanya korelasi yang signifikan antara kepadatan hunian dan gejala Hal ini bisa terjadi karena adanya banyak tempat tinggal yang berdekatan dengan individu yang menderita skabies. Temuan ini mendukung hasil survei yang dilakukan oleh Hayyu Afienna pada tahun 2018. Uji chi-square menghasilkan pvalue 0,012 0,05. Temuan ini menggambarkan adanya korelasi yang signifikan antara kepadatan hunian dan kasus skabies. Hal ini juga sesuai dengan temuan survei Sari Yunita M . Uji chi-kuadrat menghasilkan Eka Handayani. Edy Ariyanto. Ahmad Fauzan,Junia Shinta Ariyantie: Determinan Yang Berhubungan Dengan Keluhan Penyakit Scabies Di Wilayah Kerja Puskesmas Banjarbaru Selatan Tahun 2023 nilai-p 0,0020,05 untuk uji chi-kuadrat. Ini menunjukkan bahwa ada korelasi yang signifikan antara kepadatan hunian dan kasus skabies. Karena kamar anak-anak tidak dipisahkan dari kamar orang tua atau anggota keluarga seperti saudara kandung, maka kepadatan hunian dalam kamar menjadi hal yang perlu diperhatikan. Mereka masing-masing memiliki ruangan seluas kira- kira Selain ketidaksesuaian antara ukuran rumah dan jumlah orang yang tinggal di dalamnya. Akibatnya, isi ruangan tidak sejalan dengan kapasitas ruangan, yang dapat menyebabkan peningkatan suhu di . Hasil penelitian yang dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Banjarbaru Selatan Tahun 2023 dari 86 responden yang diteliti menunjukkan bahwa kelembaban yang memenuhi sebanyak 43 50,0% dan kelembaban yang tidak memenuhi sebanyak 50 50,0% responden. Hasil uji Chi-square menunjukkan nilai p = 0,001 0,05 Temuan ini mengindikasikan adanya korelasi yang signifikan antara tingkat kelembaban dan keluhan skabies, sebagaimana terlihat dalam Tabel 2 Hal ini sebelumnya oleh Siti Riptifah pada tahun 2017. Uji chi-kuadrat menunjukkan nilai p sebesar 0,002 yang berada di bawah nilai signifikansi 0,05, menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara tingkat kelembaban dan gejala Menurut Widasmara berlanjut . Uji chi-square menunjukkan nilai p sebesar 0,000 0,05 Temuan ini menggambarkan adanya hubungan yang penting antara tingkat kelembaban dan keluhan skabies. Kondisi lingkungan yang memiliki kelembaban yang sangat tinggi atau rendah dapat memberikan kondisi yang ideal bagi perkembangan mikroorganisme. Dari hasil penelitian yang dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Banjarbaru Selatan pada tahun 2023 dengan melibatkan 86 responden, ditemukan bahwa sebanyak 48 responden atau 55,8% memiliki kondisi ventilasi yang memenuhi standar, sementara sebanyak 38 responden atau 44,2% menghadapi kondisi pencahayaan yang tidak memenuhi standar. Menurut pengamatan lapangan oleh para peneliti, mayoritas dari total 86 responden memiliki akses ventilasi yang memadai. Menutup ventilasi dengan kain atau kertas dapat menghalangi aliran udara yang masuk ke dalam ruangan dengan cukup, yang pada gilirannya dapat mengganggu sirkulasi udara yang baik. Dampaknya adalah jika ventilasi tetap terhalang oleh kain atau kertas, maka area ventilasi dalam ruangan tidak akan memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan tungau. Tungau akan bertahan hidup bahkan jika udara tidak bersirkulasi dengan bebas. Tabel 2 menunjukkan bahwa hasil uji Chi-square menunjukkan bahwa nilai p = 0,003 < 0,05 menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara luas ventilasi ruangan dengan keluhan skabies. Hal ini didukung oleh penelitian Oktriyedi, dkk . Hasil uji Chi-square didapatkan nilai p sebesar 0,004 < 0,05 yang menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara luas ventilasi ruangan dengan keluhan scabies . Hasil penelitian yang dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Banjarbaru Selatan Tahun 2023 dari 86 responden yang diteliti menunjukkan bahwa Pencahayaan yang memenuhi sebanyak 47 54,7% dan pencahayaan yang tidak memenuhi sebanyak 39 45,3% responden. Hasil uji chi-square menunjukkan nilai pvalue = 0,000 yang lebih kecil dari 0,05, menandakan adanya hubungan yang signifikan antara pencahayaan dalam ruangan dan keluhan skabies, sebagaimana terlihat pada Tabel 2. Temuan ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Okriyedi dkk pada tahun 2021. Uji chi-square didapatkan p-value 0,003 < 0,05 yang menunjukkan bahwa pencahayaan ruangan dan keluhan skabies memiliki hubungan yang signifikan. cahaya alami ke dalam ruang. Kelebihan cahaya di dalam sebuah ruangan dapat mengakibatkan peningkatan suhu di dalamnya. Dengan standar minimal 60 Lux, sistem pencahayaan dalam ruangan dirancang untuk memenuhi keperluan membaca serta melihat objek di lingkungan sekitarnya. Dari penelitian yang dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Banjarbaru Selatan pada tahun 2023 terhadap 86 responden yang menjadi subjek penelitian, hasil menunjukkan bahwa 51,2% atau 44 responden merasa bahwa suhu udara sudah memenuhi standar yang diinginkan. Sementara itu, 48,8% atau 42 responden mengindikasikan bahwa suhu udara belum memenuhi standar yang diinginkan. Hasil uji statistik dengan menggunakan uji chi-square antara variabel Suhu dengan kejadian scabie, karena pada tabel Suhu tabel 2y2 maka didapatkan expected count <5 sehingga p-value di ambil dari uji contuinity correction dengan p-value = 0,000 dimana p< . = 0,. , maka Ha diterima yang berarti secara statistik ada hubungan antara Suhu dengan kejadian scabies di Wilayah Kerja Puskesmas Banjarbaru selatan tahun 2023. Sedangkan untuk nilai risiko dapat dilihat dari nilai OR sebesar 0,258641 dengan demikian dapat diartikan bahwa responden yang suhu baik memiliki resiko 0,258641 lebih besar dibanding suhu yang buruk untuk terkena scabies . Hasil penelitian ini konsisten dengan temuan dari penelitian yang dilakukan oleh Ibadurrahmi. Veronica. , & Nugrohowati. mengenai hubungan antara suhu dan Eka Handayani. Edy Ariyanto. Ahmad Fauzan,Junia Shinta Ariyantie: Determinan Yang Berhubungan Dengan Keluhan Penyakit Scabies Di Wilayah Kerja Puskesmas Banjarbaru Selatan Tahun 2023 kejadian penyakit skabies di pondok pesantren Qotrun Nada Cipayung. Penelitian sebelumnya tersebut menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara suhu dan kejadian skabies pada santri, dengan nilai p-value sebesar 0,011 . O 0,. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa adanya hubungan yang bermakna antara suhu dan kejadian skabies pada kelompok santri tersebut . Yunita, 2018 Jurnal Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Skabies Di Wilayah Kerja Puskesmas Lubuk Buaya Kota Padang. Jurnal Kesehatan Andalas 2018. https://w. net/ publication. Di akses 28 Januari 2022 Widasmara, 2020. Penelitian Hubungan Antara Prestasi Belajar Dengan Skabies Pada Santriwati Di Pondok Pesantren An-Nur 2 Putri Al-Murtadlo. Malang. Oktriyedi, dkk . Penelitian Analisis Kesehatan Lingkungan Rumah Dengan Kejadian Tuberkulosis Di Desa Tanjung Seteko Kecamatan Indralaya Kabupaten Ogan Ilir. Ibadurahmi, dkk . Jurnal Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Kejadian Penyakit Skabies Pada Santri Di Pondok Pesantren Qotrun Nada Cipayung Depok. Jurnal Profesi Medika. https://ejournal. id/JPM/article/vie w/06. Doakses 28 Januari 2022. KESIMPULAN DAN SARAN Hasil Uji statistic Ada hubungan antara kejadian scabies dengan nilai P Value 0,000. Ada hubungan antara personal hygiene dengan nilai P Value 0,000. Ada hubungan antara kepadatan Hunian dengan nilai P Value 0,001. Ada hubungan antara kelembaban dengan nilai P Value 0,001. Ada hubungan antara ventilasi dengan nilai P Value 0,003. Ada hubungan antara pencahayaan dengan nilai P Value 0,000. Ada hubungan antara suhu dengan nilai P Value 0,003. Saran dalam penelitian ini seperti agar ada perbaikan bagi pihak-pihak terkait, seperti mastyarakat khususnya mereka yang tinggal di daerah yang masuk wilayah kerja Puskesmas Banjarbaru Selatan, sebaiknya menjaga kebersihan pribadi dengan Berhati-hati dalam menjaga kebersihan bertujuan untuk menghindari penyebaran penyakit yang mudah ditularkan, terutama melalui kontak dan saran bagi petugas Puskesmas, kebersihan pribadi dan mendorong pelaksanaan Gaya Hidup Sehat serta menjaga kebersihan Langkah ini bertujuan untuk meminimalkan penyebaran penyakit scabies. DAFTAR PUSTAKA