Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 Pages 403-410 ISSN: 2830-5868 (Onlin. ISSN: 2614-7831 (Printe. Journal Homepage:http://ejournal. id/index. php/arraihanah Meningkatkan Motorik Halus Anak Usia 4Ae5 Tahun Melalui Kegiatan Menganyam: Penelitian Tindakan Kelas Dua Siklus di TK Daya Wanita Annissa Rachmawati1. Lutfi2. Aini Loita3 Info Artikel Abstract Keywords: Fine Motor. Development. Weaving Activity. Early Childhood Eduaction. Action Research. This study aims to enhance fine motor skills in early childhood through weaving activities conducted with Group A at TK Daya Wanita. Darmaraja District. Sumedang Regency, during the 2025/2026 academic year. The main issue addressed in this study is the childrenAos lack of ability to coordinate eye-hand movements, control finger movements, and express To achieve this goal, the study adopts a Classroom Action Research (CAR) approach using the spiral model developed by Kemmis and McTaggart, which includes the stages of planning, action, observation, and The study involved 16 children aged 4 to 5 years as research Data collection techniques included observation, documentation, and field notes, with the main instrument being an observation sheet designed to assess the children's fine motor development. Data analysis was carried out using descriptive statistics to calculate the percentage of children categorized as Developing as Expected (BSH) and Developing Very Well (BSB). The results showed a significant improvement in the childrenAos fine motor skills: at the pre-action stage, only 10. 94% of the children were categorized as BSH and BSB. in the first cycle, this increased to 56. and in the second cycle, it reached 85. These findings suggest that weaving activities, as a structured intervention, can effectively stimulate childrenAos fine motor skills in an enjoyable manner, in line with their developmental stages. Kata kunci: Motorik Halus. Menganyam. Anak Usia Dini. Penelitian Tindakan Kelas. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan motorik halus pada anak usia dini melalui aktivitas menganyam yang dilaksanakan di Kelompok A TK Daya Wanita. Kecamatan Darmaraja. Kabupaten Sumedang, pada tahun ajaran 2024/2025. Fokus utama dari penelitian ini adalah kurangnya kemampuan anak dalam mengkoordinasikan gerakan Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini. Universitas Pendidikan Indonesia. Tasikmalaya. Indonesia Email: annissarachmawati@upi. Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini. Universitas Pendidikan Indonesia. Tasikmalaya. Indonesia Email: lutfi@upi. Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini. Universitas Pendidikan Indonesia. Tasikmalaya. Indonesia Email: ainiloita@upi. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 mata dan tangan, mengontrol gerakan jari, serta mengekspresikan kreativitas mereka. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan model spiral yang dikembangkan oleh Kemmis dan McTaggart, yang mencakup tahapan perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Sebanyak 16 anak berusia 4 hingga 5 tahun terlibat dalam penelitian ini sebagai subjek Teknik pengumpulan data meliputi observasi, dokumentasi, dan pencatatan lapangan, dengan instrumen utama berupa lembar observasi yang dirancang untuk menilai perkembangan motorik halus anak. Analisis data dilakukan dengan menggunakan statistik deskriptif untuk menghitung persentase perkembangan anak yang termasuk dalam kategori Berkembang Sesuai Harapan (BSH) dan Berkembang Sangat Baik (BSB). Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan dalam keterampilan motorik halus anak: pada tahap pra-tindakan, hanya 10,94% anak yang termasuk dalam kategori BSH dan BSB. pada siklus pertama, angka ini meningkat menjadi 56,25%. dan pada siklus kedua, mencapai 85,94%. Temuan ini menunjukkan bahwa aktivitas menganyam sebagai bentuk intervensi yang terstruktur dapat secara efektif merangsang keterampilan motorik halus anak dengan cara yang menyenangkan, selaras dengan tahapan perkembangan mereka. Artikel Histori: Disubmit: Direvisi: Diterima: Dipublish: 03 Agustus 2025 30 November 2025 07 Desember 2025 12 Desember 2025 Cara Mensitasi Artikel: Rachmawati A. Lutfi. Loita. Meningkatkan Motorik Halus Anak Usia 4Ae5 Tahun Melalui Kegiatan Menganyam: Penelitian Tindakan Kelas Dua Siklus di TK Daya Wanita. Jurnal Ar-Raihanah, 5 . , 402-410, https://doi. org/10. 53398/arraihanah. Korenpondensi Penulis: Aini Loita, ainiloita@upi. DOI : https://doi. org/10. 53398/arraihanah. PENDAHULUAN Perkembangan motorik halus merupakan salah satu elemen krusial dalam fase pertumbuhan anak usia dini, karena keterampilan ini berhubungan erat dengan aktivitas dasar yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti menulis, menggambar, menggunting, dan berbagai kegiatan lain yang memerlukan koordinasi gerakan tangan dan jari. Meski demikian, banyak anak usia 4 hingga 5 tahun yang menghadapi kesulitan dalam menguasai keterampilan ini. Di TK Daya Wanita. Kecamatan Darmaraja. Kabupaten Sumedang, ditemukan bahwa banyak anak yang mengalami kesulitan dalam melakukan aktivitas yang memerlukan koordinasi mata dan tangan. Salah satu penyebab utama dari keterlambatan perkembangan motorik halus ini adalah kurangnya keberagaman dalam metode pembelajaran yang diberikan oleh guru. Sebagian besar aktivitas yang dilakukan terbatas pada mewarnai atau menulis, tanpa adanya tantangan yang lebih kompleks yang dapat merangsang kreativitas anak. Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan pendekatan pembelajaran yang lebih inovatif dan menyenangkan, salah satunya melalui aktivitas Kegiatan ini dapat melatih koordinasi jari dan tangan secara berulang, sambil meningkatkan konsentrasi dan ketelitian anak (Lubis et al. , 2022. Sulistiani, 2. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Beberapa penelitian terdahulu telah menunjukkan efektivitas kegiatan keterampilan tangan dalam meningkatkan motorik halus anak. Nurani . , misalnya, menyatakan bahwa aktivitas keterampilan tangan dapat memperbaiki keterampilan motorik halus anak. Penelitian lain oleh (Luvasi et al. , 2. juga mendukung temuan ini, dengan menyatakan bahwa kegiatan seperti menempel dan menyusun dapat meningkatkan koordinasi motorik halus. Namun, meskipun penelitian-penelitian tersebut telah mengidentifikasi peran kegiatan keterampilan tangan, masih terdapat research gap terkait penerapan metode spesifik yang dapat secara efektif dan menyenangkan melatih motorik halus anak. Penelitian sebelumnya sering kali menggunakan metode umum, sementara penelitian ini secara khusus menguji kegiatan menganyam sebagai intervensi terstruktur untuk mengatasi masalah tersebut. Selain itu, banyak penelitian belum secara mendalam mengeksplorasi bagaimana kegiatan ini dapat melatih koordinasi visual-motorik yang lebih kompleks dan melatih kesabaran serta ketekunan, yang mana menjadi fokus dalam penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan keterampilan motorik halus pada anak usia dini dengan mengimplementasikan kegiatan menganyam menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Pendekatan ini sejalan dengan prinsip-prinsip Kurikulum Merdeka, yang menekankan pembelajaran berbasis proyek dan pengalaman konkret yang sesuai dengan tahap perkembangan anak (Kemdikdasmen, 2. Selain itu, kegiatan menganyam juga mengintegrasikan nilai-nilai budaya lokal yang dapat memperkaya pengalaman pembelajaran anak, sehingga membantu mereka untuk lebih terhubung dengan warisan budaya yang ada. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menilai efektivitas kegiatan menganyam dalam meningkatkan keterampilan motorik halus anak kelompok A di TK Daya Wanita. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk memperkuat kemampuan guru dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran yang tidak hanya menyenangkan tetapi juga relevan. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan pendekatan pembelajaran yang mendukung pengembangan keterampilan manipulatif pada anak. Secara praktis, penelitian ini bertujuan untuk menjadi referensi bagi guru dan lembaga PAUD dalam merancang kegiatan yang dapat mengoptimalkan stimulasi perkembangan motorik halus pada anak. METODE Penelitian ini menggunakan Pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yang bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan proses pembelajaran secara langsung di kelas. Model yang digunakan adalah model spiral Kemmis dan McTaggart, yang terdiri dari empat tahapan utama, yaitu: perencanaan (Pla. , pelaksanaan tindakan (Ac. , observasi (Observ. , dan refleksi (Reflec. Proses ini dilaksanakan dalam dua siklus yang masing-masing dirancang untuk memperbaiki hasil pada siklus sebelumnya. Setiap siklus terdiri dari empat tahap yang diulang secara bertahap dan dievaluasi. Penelitian ini dilaksanakan di TK Daya Wanita. Kecamatan Darmaraja. Kabupaten Sumedang, dengan subjek penelitian berjumlah 16 anak usia 4-5 tahun pada kelompok A. Subjek terdiri dari 8 anak perempuan dan 8 anak laki-laki. Kehadiran peneliti bersifat aktif sebagai fasilitator yang merancang kegiatan pembelajaran, melaksanakan intervensi, melakukan observasi, serta melakukan refleksi bersama dengan guru mitra. Guru kelas berperan sebagai kolaborator yang membantu dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran dan terlibat dalam pengumpulan data dan evaluasi. Model Spiral PTK yang diusulkan oleh Kemmis dan McTaggart terdiri dari empat tahap utama, yaitu perencanaan (Pla. , pelaksanaan tindakan (Ac. , observasi (Observ. , dan refleksi (Reflec. Siklus ini diterapkan dalam dua putaran, di mana setiap siklus bertujuan untuk memperbaiki hasil siklus Tahap perencanaan mencakup penyusunan aktivitas pembelajaran yang sesuai dengan tujuan penelitian, sementara pada tahap pelaksanaan, kegiatan yang telah direncanakan Observasi dilakukan untuk mengamati dan mendokumentasikan perkembangan Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 serta respons anak terhadap kegiatan tersebut. Terakhir, tahap refleksi mengharuskan peneliti untuk mengevaluasi hasil yang telah dicapai dan menggunakan temuan tersebut untuk meningkatkan proses pada siklus berikutnya. Kriteria keberhasilan untuk setiap siklus ditentukan berdasarkan peningkatan keterampilan motorik halus anak. Pada siklus pertama, keberhasilan diukur jika lebih dari 50% anak menunjukkan kemajuan dalam keterampilan motorik halus, sementara pada siklus kedua, diharapkan lebih dari 75% anak mengalami peningkatan signifikan. Untuk pengumpulan data, berbagai teknik digunakan, seperti observasi langsung, pencatatan lapangan, dokumentasi, dan penggunaan lembar observasi. Instrumen observasi yang digunakan terdiri dari tiga jenis utama: pertama, lembar observasi yang mengevaluasi perencanaan pembelajaran oleh guru, kedua, lembar observasi yang menilai pelaksanaan kegiatan oleh guru, dan ketiga, lembar observasi yang mengukur perkembangan motorik halus anak. Indikator motorik halus yang diukur meliputi koordinasi mata dan tangan, kemampuan menggenggam dan memanipulasi benda kecil, ketelitian dalam menggambar dan menggunting, serta kemampuan menulis dan menggambar dengan kontrol yang lebih baik. Skala penilaian yang digunakan untuk menilai perkembangan motorik halus anak terdiri dari tiga kategori: . "Tidak Berkembang" jika anak tidak dapat melakukan tugas dengan benar, . "Berkembang Sesuai Harapan" (BSH) jika anak mampu melakukan tugas dengan beberapa kesalahan, dan . "Berkembang Sangat Baik" (BSB) jika anak mampu melakukan tugas dengan baik dan hampir Proses expert review dilakukan dengan melibatkan dosen dan guru PAUD berpengalaman yang memberikan validasi terhadap instrumen observasi dan rencana penelitian. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa indikator yang digunakan sesuai dengan standar kompetensi motorik halus anak usia dini dan relevan dengan konteks lokal. Dalam analisis data, data kuantitatif dianalisis dengan menghitung persentase anak yang termasuk dalam kategori BSH dan BSB di setiap siklus. Selain itu, untuk menguji perbedaan antara kondisi pra-tindakan dan pasca-tindakan. Penelitian ini mengikuti etika penelitian yang ketat, yang mencakup persetujuan dari orang tua/wali anak dan izin dari pihak sekolah. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Penelitian ini bertujuan untuk menilai efektivitas kegiatan menganyam dalam meningkatkan keterampilan motorik halus pada anak usia dini di TK Daya Wanita. Hasil penelitian menunjukkan adanya perkembangan positif yang signifikan dari kondisi pra-tindakan hingga setelah intervensi Pada tahap pra-siklus, sebagian besar anak mengalami kesulitan dalam melaksanakan aktivitas yang memerlukan koordinasi tangan dan mata, dengan hanya sekitar 10,49% peserta yang tergolong dalam kategori Berkembang Sesuai Harapan (BSH) dan Berkembang Sangat Baik (BSB). Hal ini menandakan bahwa keterampilan motorik halus anak-anak tersebut masih memerlukan perhatian Setelah dilakukan tindakan pada Siklus I, terlihat peningkatan yang cukup signifikan dalam keterampilan motorik anak. Sebanyak 56,25% anak menunjukkan kemajuan dengan masuk dalam kategori BSH dan BSB, yang mengindikasikan bahwa kegiatan menganyam memberikan dampak positif terhadap perkembangan keterampilan motorik halus. Guru juga menunjukkan peningkatan dalam hal perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran yang lebih terstruktur dan berfokus pada anak. Meskipun demikian, beberapa anak masih menghadapi kesulitan dalam memahami pola anyaman, sehingga diperlukan lebih banyak pendampingan dalam siklus berikutnya. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Pada Siklus II, strategi pembelajaran disesuaikan dengan memperkenalkan media yang lebih variatif, pendekatan individu, serta contoh visual yang lebih jelas dan konkret. Hasilnya menunjukkan peningkatan yang lebih signifikan, dengan 85,94% anak mencapai kategori perkembangan optimal (BSH dan BSB). Anak-anak memperlihatkan kemajuan dalam kekuatan tangan, koordinasi jari, serta ketekunan dalam menyelesaikan tugas. Guru semakin terampil dalam memberikan arahan dan dukungan selama proses kegiatan. Aktivitas menganyam terbukti efektif sebagai sarana stimulasi motorik halus yang menyenangkan dan sesuai dengan tahap perkembangan anak usia 4-5 tahun Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya oleh(Nurani, 2. yang menyatakan bahwa aktivitas keterampilan tangan dapat memperbaiki keterampilan motorik halus anak. Aktivitas menganyam memberikan tantangan motorik yang lebih kompleks, karena membutuhkan keterampilan visual-motorik yang terintegrasi. Pendapat Santrock . (Siti Syaropah, 2. juga mendukung temuan ini dengan menyatakan bahwa perkembangan motorik halus dipengaruhi oleh pengalaman eksploratif dan praktik berulang yang terstruktur. Secara keseluruhan, kegiatan menganyam tidak hanya meningkatkan keterampilan fisik anak, tetapi juga memperkaya pembelajaran kontekstual yang menumbuhkan nilai-nilai seperti ketelitian, kesabaran, dan kemandirian. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa penggunaan metode pembelajaran yang aktif, relevan, dan sesuai dengan tahap perkembangan anak dapat mendorong peningkatan keterampilan motorik halus secara signifikan. Penelitian ini tidak hanya menyelesaikan masalah yang telah dirumuskan, tetapi juga memperkaya pendekatan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dengan mengintegrasikan kegiatan seni dan manipulatif yang bermakna. Perkembangan Motorik Halus Anak Usia Dini melalui Aktivitas Menganyam Penelitian ini menunjukkan adanya perkembangan signifikan dalam keterampilan motorik halus anak setelah diberikan intervensi pembelajaran melalui kegiatan menganyam. Sebelum dilakukan intervensi, kemampuan anak dalam mengoordinasikan gerakan tangan dan mata masih rendah. Dari total 16 anak, hanya 10,94% yang menunjukkan kemampuan yang sesuai dengan harapan. Fakta ini menegaskan perlunya pendekatan pembelajaran yang lebih kreatif dan sesuai dengan tahap perkembangan anak usia dini. Pada Siklus I, setelah penerapan kegiatan menganyam, terjadi peningkatan yang signifikan. Sebanyak 56,25% anak menunjukkan kemajuan dengan berada pada kategori perkembangan optimal. Guru juga semakin terampil dalam menyusun kegiatan pembelajaran yang relevan dan memfasilitasi proses belajar dengan pendekatan yang lebih partisipatif. Namun, masih terdapat beberapa anak yang belum memahami pola anyaman secara konsisten, sehingga perbaikan pada siklus berikutnya Pada Siklus II, dengan penyesuaian media pembelajaran dan pendekatan yang lebih individual, jumlah anak yang mencapai perkembangan optimal meningkat menjadi 85,94%. Anak-anak menunjukkan peningkatan dalam kekuatan tangan, ketekunan, serta keterampilan dalam mengikuti pola anyaman secara sistematis. Guru semakin percaya diri dan efektif dalam mendampingi proses Aktivitas menganyam terbukti efektif dalam melatih koordinasi otot halus anak melalui pengalaman langsung yang menyenangkan, sesuai dengan tahap perkembangan mereka (Papalia et , 2. Temuan ini mendukung penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa kegiatan keterampilan tangan seperti menempel dan menyusun dapat mendukung perkembangan koordinasi motorik halus pada anak (Luvasi et al. , 2. Aktivitas menganyam yang menuntut keterampilan koordinasi visual dan motorik yang lebih tinggi memberikan tantangan baru yang mendorong anak untuk mengembangkan konsentrasi dan keterampilan manipulatif (Lubis et al. , 2. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 AuAktivitas menganyam memiliki pengaruh signifikan terhadap perkembangan motorik halus anak usia dini, karena gerakan berulang yang dilakukan dengan kontrol otot kecil dapat melatih ketepatan dan koordinasi visual secara simultanAy . Perbandingan peningkatan tiap siklus dapat dilihat dalam Tabel 1 berikut ini: Tabel 1. Perbandingan Presentase Perkembangan Motorik Halus Anak Kategori perkembangan Pra Siklus Siklus I Siklus II BSB BSH 10,94% 56,25% 85,9% MB BB 89,06% 43,75% 14,06% Tabel tersebut menunjukkan peningkatan progresif yang signifikan dalam keterampilan motorik halus anak sejak sebelum tindakan hingga siklus kedua. Secara teoritis, hasil penelitian ini mendukung teori Piaget dan Erikson mengenai pentingnya stimulasi aktivitas konkret dalam tahap perkembangan usia dini. Erikson dalam (Zerizghy et al. , 2. menyatakan bahwa anak usia 4-5 tahun berada pada fase inisiatif, di mana mereka cenderung aktif mencoba dan mengeksplorasi berbagai kegiatan yang memperkuat kemandirian dan keterampilan. Kegiatan menganyam, yang terstruktur dan menarik, sangat cocok untuk tahap ini. Oleh karena itu, kegiatan menganyam tidak hanya berfungsi sebagai latihan keterampilan motorik, tetapi juga sebagai strategi pedagogis yang mendukung perkembangan holistik anak. Temuan ini menjawab permasalahan yang dirumuskan dalam penelitian, sekaligus memberikan kontribusi terhadap pendekatan pembelajaran berbasis aktivitas di Pendidikan Anak Usia Dini. Pendekatan ini juga dapat dimodifikasi dan diterapkan untuk mengembangkan aspek perkembangan anak lainnya secara lebih luas (Nilam Nurohmah et al. , 2. KESIMPULAN Pelaksanaan kegiatan menganyam terbukti memberikan dampak yang signifikan terhadap perkembangan keterampilan motorik halus anak usia dini di TK Daya Wanita. Aktivitas ini tidak hanya memperkuat koordinasi antara gerakan visual dan motorik, tetapi juga berperan dalam mengembangkan sikap mandiri, konsentrasi, dan ketekunan pada anak. Pendekatan yang berbasis pada pengalaman langsung ini telah terbukti efektif dalam mendukung perkembangan anak secara holistik, terutama dalam hal keterampilan manipulatif. Selain itu, kemampuan guru dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran yang menarik serta sesuai dengan kebutuhan anak juga mengalami peningkatan selama penelitian berlangsung. Berdasarkan hasil penelitian ini, kegiatan menganyam dapat dijadikan alternatif strategi pembelajaran yang kontekstual, menyenangkan, dan sesuai dengan karakteristik perkembangan anak usia dini. Oleh karena itu, strategi ini memiliki potensi besar untuk diterapkan lebih luas dalam pengembangan kegiatan di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang mendukung perkembangan optimal anak. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di TK Daya Wanita, ditemukan bahwa kegiatan menganyam secara signifikan meningkatkan keterampilan motorik halus pada anak usia dini. Hasil ini memiliki beberapa implikasi penting, baik secara teoritis maupun praktis, terutama dalam konteks pendidikan anak usia dini (PAUD). Secara teoritis, temuan ini memperkuat gagasan bahwa perkembangan motorik halus dipengaruhi oleh pengalaman eksploratif dan praktik yang terstruktur dan berulang. Penelitian ini mendukung teori Piaget dan Erikson, yang menekankan pentingnya stimulasi aktivitas konkret pada tahap perkembangan usia dini. Kegiatan menganyam, yang membutuhkan koordinasi visual dan motorik yang tinggi, sesuai dengan fase inisiatif anak usia 4-5 tahun yang aktif mengeksplorasi dan memperkuat keterampilan mereka. Hasil ini juga sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa aktivitas keterampilan tangan dapat meningkatkan motorik halus. Dengan demikian, penelitian ini berkontribusi pada literatur tentang pendekatan Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 pembelajaran yang mendukung pengembangan keterampilan manipulatif pada anak. Secara praktis, penelitian ini menunjukkan bahwa menganyam bisa menjadi strategi pembelajaran yang efektif untuk melatih keterampilan motorik halus anak secara menyenangkan dan relevan dengan tahap perkembangan mereka. Berikut adalah beberapa implikasinya: . Untuk Guru PAUD: Guru dapat menggunakan menganyam sebagai alternatif metode pembelajaran untuk mengoptimalkan stimulasi motorik halus pada anak. Kegiatan ini juga terbukti meningkatkan kemampuan guru dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran yang lebih menarik dan terfokus pada anak. Untuk Lembaga PAUD: Lembaga dapat mempertimbangkan untuk mengintegrasikan kegiatan menganyam ke dalam kurikulum mereka, karena kegiatan ini tidak hanya melatih keterampilan fisik tetapi juga menumbuhkan nilai-nilai seperti ketelitian, kesabaran, dan kemandirian. Untuk Pengembangan Kurikulum: Pendekatan ini sejalan dengan prinsip Kurikulum Merdeka, yang menekankan pembelajaran berbasis proyek dan pengalaman nyata yang sesuai dengan tahap perkembangan anak. Dengan demikian, menganyam dapat menjadi contoh nyata dari penerapan kurikulum yang relevan. Secara keseluruhan, penelitian ini tidak hanya memberikan solusi untuk mengatasi masalah perkembangan motorik halus yang teridentifikasi, tetapi juga menjadi referensi penting bagi para pendidik untuk merancang kegiatan yang dapat mendukung perkembangan anak secara holistik. DAFTAR KEPUSTAKAAN Kemdikdasmen. Permendikdasmen Nomor 10 Tahun 2025 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL) . 1Ae. Kemdikdasmen. Lubis. Fadila. Daulay. , & Fadhillah. Stimulasi kegiatan mewarnai untuk Jurnal Pema Tarbiyah, 1. , https://doi. org/10. 30829/pema. Luvasi. Rayani. Wijayanti. , & Alfitri. Perkembangan motorik halus anak 5Ae6 Jurnal Kesehatan, 12. , 62Ae67. https://doi. org/10. 37048/kesehatan. 373 (Catatan: nomor volume/issue di DOI tampak Auv13i1Ay. samakan dengan edisi jurnal Anda bila perlu. Nilam Nurohmah. Pendik Hanafi, & M. Nur Huda. Meningkatkan kemampuan menganyam anak kelompok B dengan menggunakan media daur ulang di TK Dharma Wanita Panggungrejo Tulungagung. Jurnal Riset Rumpun Ilmu Pendidikan, 1. , 23Ae37. https://doi. org/10. 55606/jurripen. Nurani. Konsep Dasar Pendidikan Anak http://repository. id/4724/1/PAUD4409-M1. Usia Dini (PAUD). Indeks. Papalia. Feldman. , & Martorell. Desarrollo humano. McGraw-Hill. Pengembangan Motorik Anak Usia Dini Ai Umam. Buku ajar universitas/metrouniv yanag mendesain materi pengertian, prinsip, fungsi, dan evaluasi perkembangan motorik. Syaropah. Studi literatur stimulasi perkembangan motorik halus anak usia 5Ae6 tahun melalui kegiatan kolase. Childhood Education: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 3 . , 47Ae52. https://doi. org/10. 53515/cji. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Sulistiani. Upaya meningkatkan kemampuan motorik halus melalui kegiatan menganyam pada anak kelompok A TK Pertiwi Desa Kedungweru Kecamatan Ayah Kabupaten Kebumen. Prosiding Kampelmas (Kampus Peduli Masyaraka. , 1. , 47Ae56. Zerizghy. Vieux. Tilahun. Taye. Zewdu. Ayalew. Stanton. Sime. Demissie. Tufa. Parmenter. Melcher. Kidane. Alemu. , & Stocking. Pengaruh stimulasi motorik halus terhadap perkembangan motorik halus anak usia 4Ae5 tahun di Taman Kanak-kanak Pertiwi Tiripan Berbek Nganjuk. American Journal of Research Communication, 5(Augus. , 12Ae42. https://doi. org/10. 1016/j. 003 (Catatan: tahun, nama jurnal, dan DOI tampak tidak selaras. mohon verifikasi sumber asli. Kemmis. , & McTaggart. Participatory action research: Communicative action and the public Qualitative Inquiry, 6. , 478Ae495. https://doi. org/10. 1177/107780040000600405