Journal of Emerging Business Management and Entrepreneurship Studies Volume 1. Nomor 1. April . Hal: 211-225 http://jebmes. Standarisasi dan Perbaikan Proses Bisnis dengan Pendekatan Business Process Improvement Pada Viseworks Studio Arkan Muhammad Afif* Sekolah Tinggi Manajemen PPM Jl. Menteng Raya No. Kb. Sirih. Kec. Menteng. Kota Jakarta Pusat. Jakarta. Indonesia arkanafif@gmail. Aries Heru Prasetyo Sekolah Tinggi Manajemen PPM Jl. Menteng Raya No. Kb. Sirih. Kec. Menteng. Kota Jakarta Pusat. Jakarta. Indonesia justzhongshan@gmail. *Corresponding Author Diterima: 15-04-2021 Disetujui: 23-04-2021 Dipublikasi: 30-04-2021 ABSTRAK Viseworks Studio marupakan perusahaan pre-startup yang bergerak di industri kreatif sektor seni digital yang memproduksi aset digital lengkap untuk keperluan visual branding dan utilitas seperti: desain grafis, fotografi, videografi, animasi, interior dan arsitektur, serta desain interaksi. Perusahaan yang baru didirikan tentunya belum terdapat proses bisnis yang terstandarisasi dengan baik yang dapat menyebabkan operasional bisnis belum dapat berjalan dengan maksimal, karena masih dalam tahap eksplorasi aktivitas yang harus dilakukan dan kesalahan yang harus dihindari. Dengan adanya standarisasi serta peningkatan proses bisnis, maka diharapkan perusahaan dapat menjalankan bisnisnya dengan efektif, efisien, dan mampu menciptakan nilai tambah bagi pelanggan. Penelitian ini menggunakan data kualitatif yang diperoleh dari wawancara, eksperimen, dan observasi langsung terhadap subjek penelitian yang berfokus pada aspek people, process, dan technology. Alat analisis yang digunakan yaitu 5 whys analysis dan fishbone diagram untuk mengkaji akar permasalahan. Hasil yang didapatkan melalui standarisasi dan perbaikan proses bisnis yaitu, peningkatan kecepatan dari segi machine time dan waiting time, peningkatan kualitas, pertambahan variasi produk, dan peningkatan nilai jual produk. Meskipun sudah terjadi peningkatan, siklus hidup proses bisnis akan harus tetap berjalan untuk menciptakan peningkatan proses bisnis yang berkelanjutan Kata Kunci: Standarisasi Proses Bisnis. Perbaikan Proses Bisnis. Five Whys Analysis. Fishbone Diagram. BPI. ABSTRACT Viseworks Studio is a pre-startup company running on digital art sector of creative industry that offers complete digital asset for visual branding and utility purpose such as: graphic design, photography, videography, animation, interior and architecture, and interaction design. In a new established company, there is no wellstandardized business process that causes business cannot run maximally because it is still exploring what kind of activity that must be done and what must be avoided. With the existence of business process standardization and improvement, hopefully company can run the business effectively, efficently, and be able to create added value for customers. This research contains of qualitative data gathered from interview, experiment, and observation directly to the subject that is focused on the people, process, and technology aspect. The result of business process standardization and improvement are: gain of speed from the machine and waiting time, gain of quality, increase of product variety, and gain of product value. Although there has been an improvement, business process lifecycle must be running over the time to create improvement continuously. Keywords: Business Process Improvement. BPI. Business Process Standardization. Five Whys Analysis. Fishbone Diagram Journal of Emerging Business Management and Entrepreneurship Studies. Vol. , 2021. Hal 211-225 PENDAHULUAN Indonesia adalah negara berkembang yang saat ini sudah memasuki era digital. Di era ini, batas dan jarak kehidupan seolah sudah pudar, semuanya terhubung melalui teknologi internet. Peran industri kreatif di era digital berperan sangat penting untuk mempertahankan jati diri serta meningkatkan citra nusantara yang kaya akan keberagaman budaya di mata internasional, yang dituangkan melalui sektor Industri kreatif dapat diartikan sebagai aktivitas yang bersumber dari ide kreativitas yang dilakukan oleh manusia untuk dapat menciptakan karya yang bernilai seni dan kebudayaan. Karya tersebut dituangkan ke dalam bentuk aset intelektual, properti benda fisik, dan aset non-fisik digital. Digitalisasi telah memunculkan sektor digital pada industri kreatif seperti Desain Komunikasi Visual (DKV). Film. Animasi, dan Video. serta Aplikasi dan Game Developer. Sektor digital tersebut sangat dibutuhkan untuk memfasilitasi sektor lainnya untuk dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman dan mempertahankan eksistensinya di dunia digital. Tahun Tabel 1. Kontribusi PDB Industri Kreatif Nasional Tahun 2010-2020 PDB Tahun PDB Tahun PDB Tahun 581,54 638,39 708,27 784,87 852,56 922,59 PDB Sumber: lokadata. Menurut data yang disajikan oleh Lokadata yang disediakan dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF), industri kreatif di Indonesia menunjukkan tren positif dengan peningkatan kontribusi Produk Domestik Bruto (PDB) secara konstan tiap tahunnya sejak 2010-2020, hanya saja ada penurunan pada tahun 2020 karena adanya krisis akibat pandemi global. Tabel 2. Kontribusi PDB Subsektor Industri Kreatif Nasional Tahun 2016 Kuliner Fashion Kriya Radio Penerbitan Arsitektur Apps & Game Developer Periklanan 41,10% 18,01% 15,40% 8,27% 6,32% 2,34% 1,86% 0,81% Musik Fotografi Seni Pertunjukan Desain Produk Seni Rupa Film. Animasi, & Video Desain Interior DKV 0,48% 0,46% 0,27% 0,16% 0,06% 0,25% 0,22% 0,17% Sumber: bekraf. Dilihat dari subsektor industri, penyumbang terbesar yang berkontribusi pada PDB diberikan oleh produk akhir barang jadi, diikuti dengan penerbitan dan penyiaran, hiburan digital, dan seni digital. Sektor seni digital nampaknya hanya berkontribusi di bawah 0,5%. Hal tersebut dikarenakan sektor industri kreatif sebagian besar belum dapat memaksimalkan penggunakan fasilitas digital berupa internet, meskipun dari segi implementasi digital sudah terimplementasi dengan baik. Afif. & Prasetyo. Standarisasi dan Perbaikan Proses Bisnis A. Tabel 3. Implementasi Infrastruktur Digital dan Penggunaannya Usaha Ekraf yang Usaha Ekraf yang memiliki Usaha Ekraf yang menggunakan komputer menggunakan internet . 64,24% 30,39% 68,83% Email Mencari Informasi Melayani Pelanggan 82,01% 76,29% 64,62% Sumber: bekraf. Penggunaan infrastruktur digital hanya sebatas digunakan untuk komunikasi melalui e-mail, mencari informasi, dan melayani pelanggan. Belum mencapai pemanfaatan yang lebih tinggi seperti untuk kegiatan promosi dan branding. Atas dasar itu, kesadaran penggunaan aset digital seperti DKV, film, animasi dan video, serta fotografi untuk mendukung kegiatan usaha belum terlalu tinggi. Menurut data yang disajikan oleh Katadata. , hanya 16% dari keseluruhan total UMKM dari berbagai industri, yang menggunakan ekosistem digital untuk usahanya. Padahal pemerintah mencatat, pesanan dan penjualan UMKM rata-rata meningkat dua kali lipat setelah mendigitalisasikan bisnisnya. Sedangkan pada tabel di bawah ini menunjukkan bahwa adanya peningkatan pada sub-sektor digital. Tabel 4. Pertumbuhan Pesat 5 Subsektor Industri Kreatif Tahun 2016 Desain Televisi dan Film. Animasi. Seni Aplikasi & Game Komunikasi Radio & Video Pertunjukan Developer Visual 10,33% 10,09% 9,54% 8,98% 8,06% Sumber: bekraf. Tabel 5. Tabel Statistik Video di Dunia Tahun 2019 Traffic internet berupa Peningkatan durasi menonton Tayangan video harian pada video tahun 2019 video oleh pengguna YouTube Snapchat Sumber: hootsuite. Menurut infografis yang diterbitkan oleh HootSuite, 80% traffic di internet akan dikatikan dengan video, adanya peningkatan durasi menonton video di YouTube sebanyak 50% dibandingkan tahun sebelumnya, dan juga 8 milyar tayangan harian video pada Snapchat. Ini menunjukkan bahwa penggunaan video pada infrastruktur digital penggunaannya meningkat. Kendala yang dihadapi oleh usaha yang bergerak di industri kreatif terdiri dari banyak faktor. Faktor terbesar yang menjadi pusat perhatian yaitu pemasaran baik dalam negeri maupun luar negeri, diikuti dengan riset dan pengembangan, edukasi, infrastruktur fisik dan TIK (Teknologi Informasi dan Kompute. Faktor pemasaran dapat menghambat pelaku dalam melakukan penjualan yang berdampak pada pendapatan perusahaan. Sedangkan, faktor riset dan pengembangan, edukasi, dan infrastruktur akan berdampak pada inovasi untuk keberlanjutan usaha. Viseworks Studio adalah studio kreatif yang didirikan oleh penulis pada tahun 2018, yang menawarkan produk berupa desain grafis, fotografi, dan videografi. Tantangan terbesar untuk masuk ke dalam industri kreatif adalah membangun kepercayaan dengan pelanggan, salah satunya melalui portofolio dan rekam jejak karya. Untuk ke depannya. Viseworks Studio ingin dipandang sebagai studio kreatif dengan layanan terlengkap untuk memenuhi segala kebutuhan kreatif digital. Journal of Emerging Business Management and Entrepreneurship Studies. Vol. , 2021. Hal 211-225 45,00% 40,00% 35,00% 30,00% 25,00% 20,00% 15,00% 10,00% 5,00% 0,00% Riset dan Pengembangan Edukasi Akses Perbankan Akses NonPerbankan Infrastruktur Fisik Infrastruktur TIK Pemasaran Pemasaran Luar Dalam Negeri Negeri Regulasi HKI Gambar 1. Kendala yang Dihadapi Perusahaan Industri Kreatif Sumber: bekraf. Hubungan Kelembagaan Dalam Negeri Hubungan Kelembagaan Memasuki industri kreatif digital membutuhkan dua pengetahuan utama selain mengandalkan kemampuan kreatif, pelaku juga diharuskan menguasai pengetahuan digital agar dapat menuangkan kreativitasnya melalui infrastruktur dan media digital. Kendala yang dihadapi oleh bisnis baru salah satunya adalah belum terdapat proses bisnis yang terstandarisasi dengan baik. Proses bisnis dapat diartikan sebagai pembuluh darah dalam tubuh manusia, jika organ tersebut belum terbentuk dengan baik maka proses distribusi nutrisi serta koordinasi antar organ tidak dapat berjalan dengan sempurna. Apabila proses bisnis belum terstandarisasi, maka aktivitas bisnis menjadi tidak terarah sehingga akan berjalan dengan tidak efisien dan tidak dapat menciptakan nilai tambah bagi pelanggan. Selain itu kendala dalam mendirikan studio kreatif adalah peranan portofolio karya yang menjadi patokan pelanggan dalam memilih dan membandingkannya antar penyedia layanan. Kemudian tingkat ketertantungan dengan desainer utama atau pendiri studio yang sangat tinggi, hal ini ditinjau dari kesatuan pemikiran dalam menciptakan ide kreatif dan merealisasikannya. Pengarahan dan penyatuan proses berpikir kreatif tidak dapat dilakukan dalam waktu sebentar, tidak seperti proses kegiatan pada umumnya METODE RISET Menurut Boghdan & Biklen . , penelitian kualitatif adalah salah satu prosedur yang menghasilkan data deskriptif berupa ucapan atau tulisan dan sikap orang-orang yang diamati. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif untuk mengungkap fenomena yang terjadi pada perusahaan Viseworks Studio. Nawawi dan Martini menjelaskan bahwa observasi merupakan kegiatan mengamati, yang diikuti pencatatan secara urut. Hal ini terdiri atas beberapa unsur yang muncul dalam fenomena di dalam objek yang diteliti. Hasil dari proses tersebut dilaporkan dengan laporan yang sistematis dan sesuai kaidah yang berlaku. Dalam penelitian ini, proses bisnis Viseworks Studio menjadi objek yang Menurut Denzig, wawancara ialah kegiatan dipandu dan rekaman pembicaraan atau tatap muka percakapan di mana seseorang mendapat informasi dari orang lain. Penelitian ini melibatkan 4 . Afif. & Prasetyo. Standarisasi dan Perbaikan Proses Bisnis A. orang narasumber yang bergerak di industri kreatif dengan tujuan untuk memberikan opini berupa penilaian terhadap output karya seni yang dihasilkan oleh perusahaan. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Menurut Dumas et. , arsitektur proses adalah model konseptual yang menunjukkan proses dari sebuah perusahaan. Pada tiap tingkatannya akan menghasilkan tingkat detil yang berbeda. Proses pada level 1 yaitu process landscape yang menjabarkan proses bisnis sangat abstrak. Selanjutya pada level 2 terdapat abstract process models yang menjabarkan proses bisnis agak rinci. Dan yang terakhir pada level 3 yaitu detailed process models yang menggambarkan proses bisnis yang paling rinci, di dalamnya terdapat alur, input dan output data, serta penetapan pelaku proses Sebagai perusahaan yang baru berdiri, tentunya belum ada proses bisnis yang terstruktur dengan baik. Oleh karena itu, tahapan awal yang dilakukan adalah mengeksplorasi tahapan aktivitas yang harus dilakukan untuk mengetahui proses agar dapat melaksanakan operasional perusahaan, identifikasi proses digambarkan menggunakan bagan abstract process model . sebagai berikut: Gambar 2. Flowchart proses bisnis level abstract process model . Sumber: Data internal . Menurut Dumas et. , alur siklus hidup proses bisnis, yaitu: Process identification, pada tahap ini, permasalahan bisnis diperlihatkan, proses yang berkaitan dengan masalah akan diidentifikasi, dibatasi, dan dikaitkan satu sama lain. Journal of Emerging Business Management and Entrepreneurship Studies. Vol. , 2021. Hal 211-225 Process discovery/as-is process model . odel proses saat in. , pada tahap ini, proses bisnis didokumentasikan, biasanya dalam satu gabungan atau beberapa pecahan proses. Process analysis, pada tahap ini, masalah yang terdapat pada process discovery diidentifikasi, didokumentasikan, dan apabila memungkinkan maka diukur menggunakan kuantitas. Process redesign/improvement, tujuan dari tahapan ini adalah untuk mengidentifikasi perubahan pada proses yang bermasalah pada tahap sebelumnya dan mencapai target kinerjanya . o-be process mode. Process implementation, pada tahap ini, perubahan diperlukan untuk beralih dari model proses as-is ke to-be. Implementasi proses mencakup dua aspek: manajemen perubahan organisasi dan otomasi proses. Process monitoring and controlling, setelah proses baru dijalankan, data akan dikumpulkan dan dianalusis untuk mengetahui seberapa baik proses berjalan dibandingkan dengan target kinerja. Viseworks Studio sebagai usaha yang baru didirikan, belum memiliki standarisasi proses bisnis yang rapi dan terstruktur. Pada bagian ini akan dibahas mengenai permasalahan yang timbul pada tahapan proses bisnis. Masalah yang timbul akan diberi pemetaan dengan kode (P) yang artinya Problem diikuti dengan angka urutan permasalahan. Proses bisnis Viseworks dimulai pada saat customer melalukan order pembelian melalui saluran penjualan yang terdiri dari: Instagram, website. WhatsApp, dan word of mouth. Customer akan menghubungi marketing melalui fitur direct message (DM), akun WhatsApp, atau telepon. Setelah itu marketing akan menanyakan mengenai layanan jasa yang dibutuhkan dan memberikan katalog jasa yang berisi rincian mengenai fitur, harga, portofolio rekam jejak karya dan melakukan pitching serta Beberapa customer ada yang lebih memilih untuk bertemu langsung secara tatap muka, khususnya untuk proyek yang nilainya cukup besar dengan alasan keamanan, kepercayaan, dan kenyamanan dalam berdiskusi. Untuk produk yang memiliki tingkat kustomisasi dan fleksibilitas yang tinggi, maka budgeting oleh bagian keuangan akan dihitung terlebih dahulu sebelum harga penawaran Marketing dibantu dengan tim produksi dalam bertemu dengan customer. Pada tahap pitching dan negosiasi, ada permasalahan di mana customer merasa ragu dengan alasan portofolio produk yang kurang meyakinkan beberapa ada yang tidak jadi melakukan pembelian, dan beberapa lainnya ada yang tetap melakukan pembelian namun denga negosiasi harga yang cukup tinggi namun masih dalam ambang batas keuntungan (P. Tahap selanjutnya yaitu menerbitkan quotation yang berisi rincian tagihan biaya berdasarkan kesepakatan pada tahap negosiasi, biaya yang harus dibayarkan yaitu uang muka sebesar 50% dari nilai Pada tahap ini terdapat permasalahan yaitu waktu pembayaran yang terkadang memiliki jeda waktu sehingga pembayaran tidak langsung dilakukan (P. Setelah melunasi uang muka, customer bersama tim produksi akan melakukan diskusi mengenai rancangan konsep terkait karya yang akan dihasilkan. Jika konsep sudah matang Afif. & Prasetyo. Standarisasi dan Perbaikan Proses Bisnis A. mengeluarkan dokumen modul produksi yang berisi rincian tahapan produksi, timeline, dan bahan produksi yang diperlukan. Fungsi dari dokumen ini yaitu sebagai pedoman bagi customer dan perusahaan agar berjalan pada jalurnya dan sesuai dengan kesepakatan. Kemudian tim produksi akan melakukan penagihan bahan kepada customer seperti: data perusahaan, profil perusahaan, file eksisting. Pada tahap ini timbul permasalahan di mana bahan produksi yang ditagihkan terkadang mengalami delay dari sisi customer sehingga akan memperlama waktu produksi (P. Jika tim produksi sudah mendapat semua data yang dibutuhkan, maka tahap selanjutnya yaitu mulai melakukan proses kreasi sesuai dengan kesepakatan dan kebutuhan customer. Kendala yang dihadapi pada tahap ini yaitu: waktu proses yang lambat untuk beberapa produk yang memiliki tingkat kompleksitas tinggi, yang diproses menggunakan komputer (P. tim produksi yang terkadang tidak bisa menyelesaikan masalah teknis seperti penggunaan perangkat lunak dan keras (P. biaya sewa software yang mahal apabila menggunakan perangkat lunak mainstream (P. Setelah draft dari karya selesai, selanjutnya akan diberikan preview kepada customer untuk dikaji dan diberikan timbal balik mengenai kesesuaian dengan kebutuhan. Apabila feedback sudah diterima, maka akan langsung dilakukan revisi pada draft yang diberikan, kemudian akan diserahkan kembali untuk dilakukan review. Tahap ini berulang terus menerus sampai karya yang dihasilkan sudah sesuai dengan kebutuhan customer . oop proces. Pada tahap ini terdapat kendala berupa delay dari sisi customer dalam memberikan feedback (P. Apabila karya sudah sesuai dengan kebutuhan, tahap selanjutnya adalah melakukan penagihan pelunasan berdasarkan quotation yang telah diberikan pada tahap awal, yaitu melunasi 50% dari sisa Setelah lunas, maka produk akhir akan diberikan kepada customer. Menurut Slack. Nigel al . , why-why analysis adalah metode analisis dengan menanyakan AomengapaAo pada masalah yang terjadi. Setelah alasan permasalahan telah teridentifikasi, setiap alasan akan ditanyakan kembali dengan AomengapaAo alasan tersebut bisa terjadi. Langkah ini dilakukan terus menerus sampai tidak ada pertanyaan AomengapaAo yang muncul. Root Cause Analysis (RCA) merupakan suatu metode untuk mengidentifikasi faktor- faktor yang mempengaruhi satu atau lebih masalah yang ada untuk meningkatkan performa (Corcoran, 2. Sumber penyebab masalah kualitas yang ditemukan berdasarkan prinsip 7 M, yaitu (Gasperz, 2005:241. : Manpower . enaga kerj. Machines . dan peralatan. Methods . etode kerj. Materials . ahan baku dan bahan penolon. Media. Motivation . Money . Journal of Emerging Business Management and Entrepreneurship Studies. Vol. , 2021. Hal 211-225 Tabel 3. 5-Whys Analysis dari Permasalahan Proses Bisnis No. Problem Why 1 Why 2 Why 3 Why Why 5 Beberapa customer ragu rekam jejak Portofolio tidak sesuai dengan selera dan genre produk Portofolio yang kurang bervariasi dari sisi selera dan lini produk Perusahaan yang baru rekam jejak kerja yang Pembuatan Perusahaan belum memiliki biaya untuk Jeda waktu uang muka Pemrosesan invoice lambat Customer Adanya birokrasi pada customer dengan bagian Komunikasi customer dan kurang intensif Bagian keuangan tidak Jeda waktu Adanya birokrasi pada Customer bahan dari berbagai sumber internal dan Proses data oleh terdapat jeda Rekan waktu untuk Customer dan rekan kerjanya yang lebih tinggi Waktu proses yang lambat Perusahaan yang lebih Komputer Perusahaan belum memiliki biaya untuk Tim artistik Tim artistik tidak tahu tidak bisa mengenai cara masalah teknis Tim artistik merasa tidak perlu menghandle bagian Tim artistik merasa hanya hal yang dengan seni Tim artistik tidak memiliki keinginan untuk tumbuh, belajar, dan berkembang di luar ranahnya Perusahaan yang baru berdiri belum Penjualan menyeimbangi produk masih Portofolio menjadi kendala Customer tidak tersebut meski Customer yang lebih tinggi Keterbatasan Komputer lambat dalam perangkat keras mengolah data Tidak mau mencari panduan masalah dengan . Harga Pembayarannya Model pricing secara bulanan ditujukan untuk dan tidak ada studio besar opsi permanen Jeda waktu pada proses review dan Customer review bersama rekan kerjanya Adanya birokrasi pada Customer approval dari rekan kerjanya Sumber: Data intenal . Fishbone Diagram merupakan konsep analisis sebab akibat yang dikembangkan oleh Dr. Ishikawa untuk mendeskripsikan permasalahan dan penyebabnya dalam suatu diagram tulang ikan. Kelley . dalam Scavarda . Berikut adalah gambar dari fishbone diagram dari permasalahan yang telah Afif. & Prasetyo. Standarisasi dan Perbaikan Proses Bisnis A. Gambar 3. Fishbone Diagram dari Permasalahan Proses Bisnis Sumber: Data internal . Tabel 4. Solusi dan Implementasi dari Permasalahan Proses Bisnis No. Solusi MAN-1 Menambahkah jumlah personil sebanyak 3 . orang yang merupakan pekerja lepas MAN-2 Meningkatkan keahlian personil di bidang editing, videografi, animasi, dan visual effects MAN-3 MAN-4 MAN-5 MAN-6 Memberikan kontrol dengan efek jera kepada customer, membuat dokumen checklist, dan rekam jejak aktivitas MAN-7 Mengadakan technical director Implementasi Perusahaan melakukan kolaborasi proyek untuk memecahkan permasalahan kebutuhan personil dalam melakukan proyek portofolio dan outsource personil harian untuk proyek besar yang membutuhkan tambahan manpower . Perusahaan melakukan riset dan pengembangan secara pengetahuan konsep, teknis, dan teknologi menggunakan media internet dan eksplorasi melalui eksperimen, lalu mendokumentasikan hasilnya dan mengedukasi personil. Perusahaan menerapkan penalti terhadap keterlambatan dan kelalaian dari sisi customer dengan menetapkan tenggat waktu penyerahan bahan produksi, review, dan feedback dari hasil karya. Perusahaan menambahkan jobdesc technical director pada tim produksi yang bertanggung jawab dalam memfasilitasi produksi, menangani permasalahan teknis, menjaga kualitas produksi, dan merancang riset & pengembangan Pengaruh Terhadap Bisnis Kapasitas produksi Kualitas produksi Biaya produksi naik Kualitas produksi Pendapatan perusahaan naik Waktu produksi Biaya produksi turun Kualitas produksi Waktu produksi Biaya produksi turun Journal of Emerging Business Management and Entrepreneurship Studies. Vol. , 2021. Hal 211-225 No. MAN-8 MAN-9 MAN-10 MAN-11 MAC-1 MAC-2 Solusi Mengadakan riset dan pengembangan terhadap masalah teknis dan Mengganti hardware komputer Membeli peripheral kamera yang dibutuhkan MAC-3 Menambahkan fasilitas pengingat pekerjaan secara MET-2 MET-3 MET-4 Membuat perjanjian di awal dengan customer, melakukan kontrol yang memberi efek jera, dan melakukan integrasi platform project management ke dalam ponsel MAC-5 Mengintegrasikan platform project management ke dalam MAC-6 MAC-7 MAC-8 MAC-9 Menyesuaikan spesifikasi komputer dengan kebutuhan produksi produk Melakukan optimisasi software secara berkala, membersihkan cache . , melakukan pembaharuan software dan driver, melakukan factory reset pada software dan hardware Melakukan pencocokan hardware dengan software dengan patch dan pembaharuan software dan driver Melakukan riset dan pengembangan untuk software Implementasi Perusahaan melakukan riset dan pengembangan secara pengetahuan konsep, teknis, dan teknologi menggunakan media internet dan eksplorasi melalui eksperimen, lalu mendokumentasikan hasilnya dan mengedukasi personil Perusahaan mengganti aset produksi yaitu komputer lama dengan yang baru dan menyesuaikan hardware dengan kebutuhan produk Perusahaan membeli peripheral kamera yang dibutuhkan untuk memaksimalkan kualitas output dari karya yang dihasilkan Perusahaan mengintegrasikan software BPM (Business Process Managemen. bernama Trello dengan aplikasi WhatsApp, agar pemberitahuan mudah dibaca dan diakses melalui jalur pintas tersebut Perusahaan menambahkan poin penalti dalam surat perjanjian kerja sama, yang disepakati oleh kedua belah pihak antara customer dan perusahaan sebelum proyek Perusahaan mengintegrasikan software BPM (Business Process Managemen. bernama Trello dengan aplikasi WhatsApp, agar pemberitahuan mudah dibaca dan diakses melalui jalur pintas tersebut Perusahaan mengganti aset produksi yaitu komputer lama dengan yang baru dan menyesuaikan hardware dengan kebutuhan produk Perusahaan membuat checklist dan reminder berkala untuk memaintenance software dan hardware Pengaruh Terhadap Bisnis Kualitas produksi Waktu produksi Biaya produksi turun Kualitas produksi Fleksibilitas naik Waktu produksi Biaya produksi naik Investasi perusahaan Kualitas produksi Investasi perusahaan Pendapatan perusahaan naik Waktu produksi Waktu produksi Biaya produksi turun Waktu produksi Biaya produksi turun Kualitas produksi Waktu produksi Biaya produksi naik Investasi perusahaan Waktu produksi Perusahaan membuat checklist dan reminder berkala untuk memaintenance software dan hardware Waktu produksi Perusahaan melakukan studi, eksplorasi, dan eksperimen terhadap Waktu produksi Afif. & Prasetyo. Standarisasi dan Perbaikan Proses Bisnis A. No. Solusi Implementasi alternatif dan mendokumentasikan hasilnya software alternatif pada beberapa alat produksi dan hasilnya didokumentasikan dalam satu Perusahaan melakukan studi, eksplorasi, dan eksperimen terhadap teknik produksi, yang hasilnya didokumentasikan dalam satu dokumen dan diimplementasikan dalam pengerjaan proyek dan Perusahaan menambahkan poin penalti dalam surat perjanjian kerja sama, yang disepakati oleh kedua belah pihak antara customer dan perusahaan sebelum proyek Perusahaan membuat dokumen checklist, rekam jejak aktivitas, dan penalti pada setiap serah terima karya bersama customer MET-1 Melakukan riset dan pengembangan untuk teknik produksi karya dan mendokumentasikan hasilnya MET-2 Membuat prosedur kontrol yang memberikan efek jera tertinggi dalam bentuk penalti dan menambahkannya dalam perjanjian awal MET-3 MET-4 Melakukan kontrol yang memberikan efek jera, membuat dokumen checklist, dan rekam jejak aktivitas MET-5 MET-7 Mengoptimisasi source media MET-6 Memanfaatkan fitur cloudrender MET-8 Mendokumentasikan step cara penggunaan ke dalam satu dokumentasi teknis agar mudah dibaca dan diakses MET-9 Membuat dokumentasi teknis MET-10 Melakukan edukasi dari riset pengembangan terhadap software alternatif MAT-1 MAT-2 Membuat proyek internal untuk meningkatkan portofolio karya bersamaan dengan program riset dan pengembangan MAT-3 Melakukan kontrol yang memberikan efek jera dan membuat dokumen checklist dan rekam jejak aktivitas Perusahaan melakukan riset dan pengembangan terhadap source media dan menemukan alur kerja untuk dapat mengoptimisasinya Perusahaan menetapkan vendor cloud-render yang akan digunakan jika sewaktu-waktu membutuhkan kekuatan komputasi yang lebih Perusahaan membuat dokumentasi khusus teknis yang dapat diakses oleh seluruh anggota Perusahaan membuat dokumentasi khusus teknis yang dapat diakses oleh seluruh anggota Perusahaan melakukan studi, eksplorasi, dan eksperimen terhadap software alternatif pada beberapa alat produksi dan hasilnya didokumentasikan dalam satu Perusahaan melakukan proyek kolaborasi bersama content creator Perusahaan membuat dokumen checklist, rekam jejak aktivitas, dan penalti pada setiap serah terima karya bersama customer Pengaruh Terhadap Bisnis Biaya produksi turun Kualitas produksi Waktu produksi Biaya produksi turun Pendapatan perusahaan naik Waktu produksi Waktu produksi Waktu produksi Biaya produksi turun Waktu produksi Biaya produksi naik Waktu produksi Kualitas produksi Waktu produksi Kualitas produksi Waktu produksi Biaya produksi turun Kualitas produksi Biaya produksi naik Pendapatan perusahaan naik Waktu produksi Biaya produksi turun Journal of Emerging Business Management and Entrepreneurship Studies. Vol. , 2021. Hal 211-225 No. Solusi MAT-4 Mengkonversi source media ke dalam format yang lebih mudah dan ringan untuk diproses sebelum melakukan pemrosesan MAT-5 Mengkonversi source media ke dalam format yang kompatibel dengan software MAT-6 Meningkatkan saluran referensi bahan ajar MAT-7 Melakukan kontrol yang memberikan efek jera, membuat perjanjian di awal untuk bersungguh-sungguh dalam menjalin kerja sama, dan membuat dokumen checklist dan rekam jejak aktivitas MAT-8 Melakukan kontrol yang memberikan efek jera MEA-1 MEA-2 MEA-3 MEA-4 MEA-5 Implementasi Perusahaan melakukan riset dan pengembangan terhadap source media dan menemukan alur kerja untuk dapat mengoptimisasinya Perusahaan melakukan riset dan pengembangan terhadap source media dan menemukan alur kerja untuk dapat mengoptimisasinya Perusahaan menambahkan referensi bahan ajar yaitu dari online course dan forum profesional agar dapat membantu dalam peningkatan keahlian dan pemecahan masalah Perusahaan membuat dokumen checklist, rekam jejak aktivitas, dan penalti pada setiap serah terima karya bersama customer Perusahaan membuat dokumen checklist, rekam jejak aktivitas, dan penalti pada setiap serah terima karya bersama customer Perusahaan melakukan studi, eksplorasi, dan eksperimen terhadap Meningkatkan penjualan dengan teknik produksi, yang hasilnya meyakinkan customer dengan didokumentasikan dalam satu karya hasil dari riset dan dokumen dan diimplementasikan dalam pengerjaan proyek dan Perusahaan membuat dokumen Menetapkan pembatasan checklist, rekam jejak aktivitas, dan tenggat waktu pekerjaan pada penalti pada setiap serah terima karya setiap aktivitas yang dilakukan bersama customer Perusahaan membuat dokumentasi Memperhatikan parameter khusus teknis yang dapat diakses oleh teknis dari aset kerja seluruh anggota Perusahaan melakukan studi, eksplorasi, dan eksperimen terhadap Meningkatkan kualitas output teknik produksi, yang hasilnya dari hasil riset dan didokumentasikan dalam satu pengembangan produk dokumen dan diimplementasikan dalam pengerjaan proyek dan Perusahaan melakukan studi. Mengganti software mainstream eksplorasi, dan eksperimen terhadap menjadi software alternatif software alternatif pada beberapa alat setelah dilakukan riset dan produksi dan hasilnya pengembangan, agar biaya didokumentasikan dalam satu dapat diturunkan Sumber: Data internal . Pengaruh Terhadap Bisnis Waktu produksi Biaya produksi turun Waktu produksi Biaya produksi turun Kualitas produksi Waktu produksi Waktu produksi Biaya produksi turun Waktu produksi Biaya produksi turun Kualitas produksi Pendapatan perusahaan naik Waktu produksi Biaya produksi turun Waktu produksi Biaya produksi turun Kualitas produksi Pendapatan perusahaan naik Biaya produksi turun Solusi yang muncul dari akar permasalahan yang timbul akan diukur untuk mengetahui seberapa besar pengaruh solusi yang ditawarkan. Untuk itu digunakan variabel: time, cost, quality, dan flexibility. Afif. & Prasetyo. Standarisasi dan Perbaikan Proses Bisnis A. Variabel Time Cost Flexibility Quality Tabel 5. Pengukuran dan Pengamatan Peningkatan Proses Bisnis Pengukuran Sebelum Sesudah Machine time Disk write 432 MB/S 3037 MB/S Disk read 438 MB/S 2909 MB/S Rendering 36 menit 2 menit 23 detik RAW video processing 36 FPS 54 FPS CPU RAW video processing 66 FPS 113 FPS GPU Waiting time Delay review & feedback 5 hari 3 hari . Delay review & feedback 21 hari 5 hari . Delay bahan produksi 3 hari 2 hari . Delay bahan produksi 30 hari 3 hari . Delay penagihan 7 hari 1 hari pembayaran . Delay penagihan 60 hari 4 hari pembayaran . Rp95. 000/tahun Rp18. 000/permanen Software cost /2 unit /2 unit 3 produk 8 produk Product variation Existing: Videografi. Fotografi. Desain Sinematografi. Visual Grafis. Effects (VFX), 3D Graphic Design. Animasi Researched: Arsitektur. Visual Computer Branding. Digital Staging Generated Imagery Arsitektur, 3D Virtual (CGI). Game engine. Tour, 360 Virtual Tour Storytelling. Animasi Product inspection Responden 1 Responden 2 Responden 3 Responden 4 Peningkatan 184,91% 80,94% 5 produk Respon AuAda perbedaan dan progress dari komposisi dan warna menjadi lebih enak dilihat dan tidak membosankan, serta lightingnya bagusAy AuTerdapat banyak progress, asik untuk dilihat, layoutnya bagus, hasil render-nya bagus, elegan terdapat di elemen key visualAy AuBerhasil dan ada peningkatan, sudah sangat bagusAy AuKomposisinya lebih bagus, elegan, lebih tersampaikan kontennya, kualitas video lebih bagus, pengambilan gambarnya lebih sinematografiAy Sumber: Data internal . Setelah berbagai kegiatan operasional pada perusahaan Viseworks Studio dilakukan, dianalisis, dan direka ulang, data pengamatan didokumentasikan menjadi hasil pengamatan akhir yang dituangkan ke dalam bagan proses yang lebih rinci, yaitu detailed process models . KESIMPULAN DAN SARAN Viseworks Studio merupakan perusahaan baru yang bergerak di bidang industri kreatif, dengan sub-sektor keahlian Film. Animasi, & Video. Fotografi. dan Desain Komunikasi Visual (DKV). Journal of Emerging Business Management and Entrepreneurship Studies. Vol. , 2021. Hal 211-225 Perusahaan yang baru didirikan membuat Viseworks Studio belum memiliki proses bisnis yang terstandarisasi dengan baik, oleh karena itu dilakukanlah inkubator bisnis yang menyasar pada topik proses bisnis dengan harapan untuk membentuk proses bisnis pada studio kreatif, melakukan standarisasi proses bisnis, serta melakukan peningkatan proses bisnis dengan parameter ukur cost, time, quality, dan flexibility. Penerapan Business Process Improvement (BPI) berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan secara keseluruhan, dilihat dari proses bisnis yang tereksplorasi sehingga perusahaan mengetahui kegiatan apa yang harus dilakukan untuk dapat menjalankan usaha di bidang industri kreatif khususnya sektor digital, masalah yang terpetakan sudah terstruktur berdasarkan unsur manajemen, serta peningkatan pada proses dan output dari hasil pekerjaan. Penelitian ini membuktikan bahwa perusahaan pre-startup perlu menyiapkan skema BPI yang memadai agar dapat segera memetakan di titik-titik mana upaya perbaikan perlu ditingkatkan demi perepatan upaya dalam menciptakan pertumbuhan di atas rata-rata. Dalam menjalankan tahap pre-startup, perusahaan Viseworks Studio menunjukkan hasil yang positif dilihat dari eksplorasi proses bisnis sehingga perusahaan mengetahui apa saja yang harus dilakukan dalam menjalani usaha di bidang industri kreatif sektor digital, dan juga pemetaan masalah yang terstruktur sehingga meningkatkan proses bisnis yang berpengaruh pada nilai perusahaan. Siklus hidup proses bisnis bukan hanya dilakukan dalam satu kali repetisi, melainkan harus dilakukan secara terus menerus agar perusahaan dapat menjadi lebih baik lagi. Untuk itu, perlu adanya keberlanjutan dalam merealisasikan siklus hidup proses bisnis. Afif. & Prasetyo. Standarisasi dan Perbaikan Proses Bisnis A. DAFTAR PUSTAKA