Jayapangus Press Jurnal Penelitian Agama Hindu Volume 9 Nomor 4 . ISSN : 2579-9843 (Media Onlin. Eksistensi Ritual Tabuh Rah dalam Kehidupan Keagamaan Di Desa Dukuh Kecamatan Kubu Karangasem (Perspektif Teologi Kebudayaa. I Wayan Sunampan Putra Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja. Indonesia sunamfan91@gmail. Abstract Tabuh rah . raditional Balinese musi. is a Balinese cultural tradition present in religious activities. Its development has sometimes undergone dynamics, but unlike in Dukuh village, tabuh rah still exists as a religious activity in yadnya ceremonies. address this issue, a study was conducted aimed at analyzing tabuh rah from a cultural theology perspective. This is because tabuh rah, as part of Balinese culture, reflects a theological dimension. The research employed qualitative research, with data collection using observation, interviews, and documentation. The analysis revealed that tabuh rah exists for various reasons, including theological, sociological, and cultural reasons. Tabuh rah is typically performed during dewa yadnya and bhuta yadnya ceremonies. Tabuh rah, as a cultural practice with a theological dimension, demonstrates the concept of cultural theology. Based on this analysis, it can be concluded that Balinese culture is intertwined with theological aspects, thus presenting the concept of cultural theology. This cultural theology concept can certainly contribute to cultural preservation and strengthen theological understanding. Keywords: Existence of Tabuh Rah. Religious Life. Cultural Theology Abstrak Tabuh rah merupakan salah satu kebudayaan masyarakat Bali yang hadir dalam aktivitas keagamaan. Dalam perkembangannya terkadang mengalami dinamika, namun berbeda dengan yang ada di desa Dukuh, bahwa tabuh rah sampai saat ini masih eksis sebagai aktivitas keagamaan dalam upacara yadnya. Untuk menjawab permasalahan tersebut, maka dilakukan penelitian yang memiliki tujuan untuk menganalisis tabuh rah dari perspektif teologi kebudayaan. Hal ini dikarenakan tabuh rah sebagai kebudayaan masyarakat Bali menggambarkan dimensi teologis. Pada proses penelitian menggunakan jenis penelitian kualitatif. Dimana proses pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, serta dokumentasi. Adapun hasil analisis yang didapatkan yakni tabuh rah bisa eksis dikarenakan berbagai alasan seperti alasan teologis, sosiologis dan budaya. Pelaksanaan tabuh rah dilaksanakan pada upacara dewa yadnya dan bhuta yadnya. Tabuh rah sebagai kebudayaan yang mengandung dimensi teologis menunjukkan adanya konsep teologi kebudayaan. Berangkat dari hasil analisis tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa kebudayaan masyarakat Bali berkaitan dengan aspek teologis. Sehingga menghadirkan gagasan teologi kebudayaan. Gagasan teologi kebudayaan tentunya dapat memberikan kontribusi bagi pelestarian kebudayaan dan menguatkan pemahaman Kata Kunci: Eksistensi Tabuh Rah. Kehidupan Keagamaan. Teologi Kebudayaan Pendahuluan Kebudayaan sesungguhnya merupakan sesuatu yang sangat kompleks dan memiliki dimensi makna yang beragam. Merujuk dalam pandangan antropologis, kebudayaan merupakan seluruh sistem gagasan dan rasa, tindakan, serta karya yang https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat, serta dijadikan sebagai milik manusia (Koentjaraningrat, 2. Berangkat dari definisi tersebut, maka kebudayaan sangat berkaitan dengan keberadaan manusia di dunia. Hal ini dikarenakan manusia sebagai sentral dalam kebudayaan, maka tidak salah jika kebudayaan dikatakan sebagai hasil dari budhi daya manusia. Lebih lanjut. Artadi . kebudayaan merupakan hasil dari pemikiran dan akal manusia dalam kehidupannya. Secara umum, kebudayaan diwujudkan dalam dimensi ide, dimensi aktivitas serta dimensi material yang berwujud. Lebih lanjut kebudayaan memiliki tiga wujud yakni, idea yang merupakan dimensi ideologi atau abstraksi manusia, aktivitas merupakan dimensi tindakan ataupun perilaku manusia, dan artefak yakni dimensi material hasil karya manusia dalam bentuk benda. Kebudayaan memiliki unsur yang sangat luas sehingga disebut kebudayaan universal. Adapun unsur-unsur universal yang dimaksud yaitu sistem keyakinan, sistem kemasyarakatan, sistem pengetahuan, sistem bahasa, sistem kesenian, sistem ekonomi, dan teknologi (Koentjaraningrat, 2. Berangkat dari pengertian kebudayaan tersebut, sesungguhnya kebudayaan memiliki peran yang sangat penting dalam ritual keagamaan. Bahkan, keberadaan kebudayaan mewakili pelaksanaan ritual keagamaan. Hal ini dapat dilihat bahwa ritual keagamaan dimanifestasikan melalui kebudayaan. Salah satu kebudayaan masyarakat yang beriringan dengan upacara keagamaan yaitu tabuh rah. Tabuh rah dimaknai oleh masyarakat sebagai salah satu ritual keagamaan yang memiliki hubungan dengan aspek Meminjam uraian Dharmika . bahwa tabuh rah merupakan ritual tabur darah yang memiliki tujuan untuk menyeimbangkan alam semesta. Berangkat dari hal tersebut, maka tabuh rah identik dengan ritual meneteskan darah atau tabur darah ke pertiwi. Tetesan darah pada pertiwi adalah sebuah ritual kosmis yang mampu membangkitkan energi positif sehingga, alam semesta menjadi harmoni. Hal ini tentu sejalan dengan ritual caru yang juga berfungsi untuk mengharmoniskan alam Wiranata . bahwa ritual caru tabuh rah memiliki fungsi dalam proses pembersihan alam semesta sehingga menjadi harmonis. Sebagai salah satu ritual keagamaan tentu memiliki aturan yang berpedoman dalam ajaran agama. Adanya aturan yang mengikat tentu menjadikan tabuh rah sebagai aktivitas keagamaan yang memiliki tujuan untuk menciptakan keharmonisan bhuana agung dan bhuana alit. Keberadaan tabuh rah sebagai aktivitas ritual keagamaan dapat juga terlihat di desa Dukuh Kecamatan Kubu Kabupaten Karangasem. Eksistensi tabuh rah di Desa Dukuh tidak terlepas dari kehidupan keagamaan. Dimana pelaksanaan tabuh rah selalu berkaitan dengan kegiatan keagamaan seperti dewa yadnya, manusa yadnya dan bhuta Hal yang menarik adalah, setiap keluarga di Desa Dukuh rutin mengadakan tabuh rah setahun sekali di pekarangan rumah sebagai bentuk dari ritual tabuh rah atau caru. Sehingga, tabuh rah dilaksanakan setahun sekali di masing pekarangan rumah. Selain hal tersebut, tabuh rah juga dilaksanakan sebagai bentuk sesangi, artinya jika masyarakat memohon sesuatu baik itu pekerjaan atau keturunan maka, biasanya dengan jalan mesesangi dengan mengadakan tabuh rah di pekarangan rumah disertai dengan rangkaian ritual khusus. Bahkan tabuh rah yang rutin dilaksanakan setahun sekali akan terus berlanjut. Hal ini dikarenakan masyarakat pantang jika tidak melaksanakan tabuh rah karena secara teologis akan mendapat pengaruh buruk dari hak yang bersifat Eksistensi tabuh rah di Desa Dukuh dalam kehidupan ritual keagamaan berbeda dengan fenomena tabuh rah yang berkembang saat ini diberbagai wilayah, kadangkala terjadi dinamika. Dinamika yang terjadi adalah dari tabuh rah sebagai aktivitas ritual menjadi tajen yang bernuansa judi. Mengacu pada penelitian Gunarta . bahwa dalam perkembangannya ritual tabuh rah mengalami transformasi menjadi tajen. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Transformasi yang terjadi secara evolusi sehingga bisa diterima oleh masyarakat. Menurut Angel . menyatakan bahwa pelaksanaan ritual tabuh rah juga mengalami dinamika yang awalnya menggunakan sarana ritual namun dalam perkembangannya tidak lagi menggunakan sarana ritual. Dinamika tabuh rah sebagai aktivitas ritual menjadi tajen yang sarat dengan judi tentu berimplikasi masalah sosial. Apriyanti . menyatakan bahwa dinamika tabuh rah menjadi tajen mempengaruhi motivasi masyarakat yang awalnya adalah motivasi religius berubah menjadi motivasi relasi sosial dan ekonomi. Adanya pergeseran dari tabuh rah menjadi tajen tentu menimbulkan masalah sosial masyarakat. Putrajaya . bahwa keberadaan tajen merupakan bentuk masalah sosial karena adanya unsur judi di dalamnya. Walaupun keberadaan tajen kadangkala dibalut dengan tabuh rah. Wiguna . menyatakan bahwa tajen yang berkedok tabuh rah mulai adanya penertiban karena perjudian melanggar hukum, nilai etika serta ajaran agama. Adanya pembeda eksistensi tabuh rah di Desa Dukuh yang masih bernuansa ritual keagamaan dengan dinamika tabuh rah yang terjadi seperti unsur judi, maka dilakukan penelitian yang dimana objek materialnya adalah eksistensi tabuh rah sebagai salah satu kebudayaan Bali dalam aktivitas keagamaan. Kemudian objek formalnya adalah teologi kebudayaan, dimana mencoba melihat dimensi teologis pada ritual tabuh rah sebagai bentuk kebudayaan Bali. Pada proses penelitian untuk mengkaji permasalahan tersebut, maka akan dirumuskan menjadi beberapa rumusan masalah. Adapun rumusan masalah yang diuraikan yakni. Mengapa tabuh rah bisa eksis di desa Dukuh? Bagaimana proses pelaksanaan tabuh rah di desa Dukuh? Bagaimana aspek teologi kebudayaan pada ritual tabuh rah di desa Dukuh? Untuk dapat menjawab rumusan masalah tersebut, maka dilakukan penelitian kancah dengan tujuan untuk menganalisis tabuh rah dari perspektif teologi kebudayaan. Analisis ini tentu berusaha menampilkan aspek novelty dari perspektif yang baru mengenai ritual tabuh rah. Metode Penelitian ini merupakan salah satu penelitian dengan menggunakan jenis penelitian kualitatif. Hal ini dikarenakan pada penelitian ini mencoba mengkaji salah satu kebudayan Bali yakni tabuh rah yang berkaitan dengan ritual keagamaan, sehingga sejalan dengan konsep penelitian kualitatif yang mencoba mengkaji masalah sosial budaya secara alamiah. Pendekatan yang digunakan adalah fenomenologis, dimana pendekatan ini mencoba mengkaji sesuatu yang ada dibalik yang nampak atau mencoba menganalisis makna dibalik simbol budaya maupun sosial, sehingga sejalan dengan gagasan fenomenologis yakni mencoba menafsirkan pengalaman keagamaan melalui simbol-simbol. Selanjutnya, lokasi yang dipilih sebagai lokasi penelitian adalah di Desa Dukuh Kecamatan Kubu Kabupaten Karangasem. Dipilihnya lokasi tersebut dikarenakan merupakan lokasi yang baru dari aspek belum pernah diteliti terkait obyek penelitian. Sumber data yang digunakan yakni sumber data primer yaitu sumber data utama yang didapatkan langsung dari lokasi penelitian. Kemudian data sekunder sebagai data pendukung data primer yang didapat dari data pustaka berupa artikel, buku, teks keagamaan yang berhubungan dengan objek penelitian. Penentuan informan dengan teknik purposive sampling yakni memilih beberapa informan yang memenuhi kriteria seperti tokoh agama, pelaku tabuh rah, ataupun tokoh masyarakat. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan teknik observasi yaitu mengamati langsung objek penelitian di lokasi penelitian. Selanjutnya juga menggunakan teknik wawancara yaitu melakukan wawancara dengan informan yang dipilih untuk memperdalam data penelitian. Teknik yang terakhir yaitu dengan teknik dokumentasi yakni melakukan dokumentasi pada objek Ketika data sudah terkumpul selanjutnya data dianalisis, dalam analisis data https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH menggunakan metode analisis data dari Miles & Huberman . dimana tahapannya adalah reduksi data, penyajian data serta pemberikan kesimpulan. Ketika data sudah dianalisis, selanjutnya data disajikan dengan teknik non formal dikarenakan penyajiannya mengikuti alur penelitian kualitatif. Hasil dan Pembahasan Tabuh Rah di Desa Dukuh Kecamatan Kubu Karangasem Tabuh rah merupakan ritual keagamaan di Desa Dukuh sudah ada dari jaman Keberadaan tabuh rah sebagai salah satu kebudayaan Bali selalu berhubungan dengan kegiatan keagamaan. Dilihat dari definisinya maka, tabuh rah memiliki beberapa arti yakni, . Tabuh rah merupakan taburan binatang sebagai rangkaian upacara yadnya, yang terurai dalam panca yadnya. Dasar pelaksanaan tabuh rah tercantum dalam prasasti Sukawana. Prasasti Batur Abang. Prasasti Batuan. Lontar Tattwa Purana dan Lontar Yadnya Prakerti. Tabuh rah sebagai taburan darah biasanya dilakukan dengan nyambleh, perang satha. Biasanya dilakukan telung seet serta menggunakan simbol atau sarana upacara sebagai pelengkap upacara. Dilakukan pada saat-saat upacara berlangsung serta adanya toh sebagai simbol keikhlasan yang bukan merupakan bentuk judi (Atmadja, 2. Merujuk dari etimologisnya, tabuh rah berasal dari dua kata yakni tabuh dan rah. Kata tabuh berasal dari kata tawur, tawur memiliki arti bayar. Dari kata tawur berubah menjadi tabur. Kemudian selanjutnya dari kata tabur berubah menjadi kata tabuh. Selanjutnya kata darah mengalami perubahan menjadi rarah. Kemudian kata rarah menjadi raah dan akhirnya menjadi rah. Berangkat dari uraian secara etimologis tersebut, maka istilah tabuh rah berarti tawur darah yakni berupa pembayaran melalui media darah atau dengan cara menaburkan darah pada suatu tempat tertentu. Menaburkan darah pada dasarnya memiliki tujuan tertentu, secara khusus adalah tujuan teologis karena berhubungan dengan dimensi Ketuhanan. Melalui taburan darah sebagai bentuk ritual diyakini dapat mencapai keharmonisan antara bhuana agung dengan bhuana alit (Keniten, 2. Berangkat dari konsep tabuh rah, maka selaras dengan tabuh rah yang ada di Desa Dukuh. Dimana tabuh rah yang dilaksanakan dalam bentuk ayam aduan atau biasa disebut sebagai perang satha dilakukan pada waktu tertentu terutama pada upacara dewa yadnya, manusa yadnya dan bhuta yadnya. Pada dewa yadnya biasanya dilaksanakan saat piodalan sebanyak telung seet di jaba pura. Masyarakat di Desa Dukuh meyakini dengan melaksanakan tabuh rah pada upacara piodalan bisa mengesahkan ritual secara niskala. Hal ini tentu menandakan bahwa tabuh rah disini diyakini sebagai bentuk persembahan kepada kekuatan niskala yang dapat mempengaruhi kehidupan masyarakat di Desa Dukuh. Menurut Yasa . menyatakan bahwa tabuh rah digunakan pada pujawali sebagai bentuk dari rangkain upacara mecaru atau bhuta yadnya. Bahwa tabuh rah dilakukan pada upacara dewa yadnya yang melengkapi upacara bhuta yadnya (Dharmika. Selain penggunaan tabuh rah dalam upacara piodalan, juga dilakukan pada upacara bhuta yadnya. Dimana masyarakat di Desa Dukuh rutin melaksanakan tabuh rah di pekarangan rumah masing-masing. Biasanya tabuh rah dilaksanakan setiap setahun Pada pelaksanaan tabuh rah biasanya dilakukan telung seet, kemudian dilanjutkan dengan menghaturkan banten pejati di penunggun karang sebagai bentuk dari telah selesainya pelaksanaan tabuh rah. Rangkaian tabuh rah biasanya dimulai dengan menghaturkan segehan di pekarangan rumah di lima penjuru pekarangan rumah, arah kangin, kaja, kauh, kelod dan tengah sesuai dengan warna arah mata angin. Ketika sudah dihaturkan segehan dengan taburan arak, maka ayam yang digunakan mulai di adu dengan menggunakan toh yang sekedarnya. Ketika sudah selesai maka baru https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH menghaturkan banten pejati. Hal ini menunjukkan bahwa tabuh rah yang dilakukan pada pekarangan rumah masyarakat di Desa Dukuh merupakan bentuk dari ritual caru untuk menciptakan keharmonisan melalui taburan darah serta sarana ritual yang lainnya. Dimana caru merupakan ritual untuk mengharmoniskan alam. Hal ini sejalan dengan penelitian Parascita . bahwa upacara caru tabuh rah dalam bhuta yadnya memiliki tujuan untuk mengharmoniskan alam sejalan dengan makna caru yang artinya cantik. Alasan Eksisnya Tabuh Rah di Desa Dukuh Alasan Teologis Salah satu alasan eksisnya tabuh rah di Desa Dukuh adalah alasan teologis. Dimana teologis dimaknai sebagai sesuatu yang berhubungan dengan ketuhanan. Dalam kajian keilmuan maka teologi dimaknai sebagai ilmu tentang Tuhan. Menurut Putra . menyatakan bahwa teologi merupakan ilmu yang menelaah mengenai Tuhan. Lebih lanjut Gunawijaya . bahwa teologi merupakan hal yang berhubungan dengan Ketuhanan dan direfleksikan dengan simbol-simbol keagamaan. Berangkat dari konsep teologis, maka aspek Ketuhanan menjadi salah satu alasan eksisnya tabuh rah di Desa Dukuh. Masyarakat desa Dukuh memiliki sistem keyakinan terhadap kekuatan yang mengatur kehidupan manusia. Maka, melalui ritual tabuh rah masyarakat bisa terhubung dengan kekuatan niskala sehingga menciptakan hubungan yang harmonis. Masyarakat desa Dukuh juga memiliki keyakinan secara teologis bahwa kekuatan yang berstana di pelinggih tugu karang memiliki kesenangan dengan tabuh rah, sehingga dipersembahkan dengan ritual tabuh rah. Jika ritual tabuh rah dilaksanakan maka akan menciptakan kepuasan bagi kekuatan niskala dan menciptakan keharmonisan. Pelaksanaan tabuh rah yang dilaksanakan oleh masyarakat agar bisa berhubungan secara harmonis dengan kekuatan demonik dalam hal ini para bhuta kala agar menjadi dewa (Atmadja, 2. Alasan teologis sebagai faktor eksisnya tabuh rah di Desa Dukuh adalah, bahwa masyarakat memiliki sistem keyakinan dalam bentuk sesangi atau permohonan secara Meminjam pendapat Arsani . bahwa sesangi merupakan bentuk permohonan kepada manifestasi Tuhan agar membantu dalam usaha. Ketika keberhasilan telah tercapai, maka masyarakat menghaturkan sarana upacara ataupun yang lainnya sebagai rasa syukur dan terimakasih atas anugrah yang telah terkabulkan. Begitupula dengan masyarakat di Desa Dukuh biasanya sesangi dilaksanakan sebagai bentuk permohonan seperti memohon pekerjaan, kesehatan, ataupun keturunan melalui pelaksanaan tabuh rah. Hal yang menarik adalah ketika mesesangi dengan mengadakan tabuh rah maka akan lebih mudah mewujudkan keinginan seperti mendapatkan Hal ini menunjukan adanya konsep teologis yang diyakini oleh masyarakat di desa Dukuh. Alasan Sosiologis Alasan sosiologis menjadi salah satu juga alasan eksisnya tabuh rah di Desa Dukuh. Hal ini terlihat dari keberadaan masyarakat sebagai aspek sosiologis. Sosiologis disini adalah hal yang berhubungan dengan kehidupan sosial atau kehidupan masyarakat. Mengacu pada pandangan Maulana . bahwa sosiologi merupakan hal yang berkaitan dengan interaksi antar individu maupun masyarakat. Aspek sosiologis menjadi salah satu alasan eksisnya tabuh rah di desa Dukuh. Pelaksanaan tabuh rah tidak hanya berhubungan dengan aspek ritual keagamaan, akan tetapi juga berhubungan dengan interaksi masyarakat. Hal ini bisa dilihat dari pelaksanaan tabuh rah yang melibatkan Biasanya ketika masyarakat akan mengadakan tabuh rah, maka akan mengundang keluarga serta kerabat. Pada pelaksanaan tabuh rah biasanya masyarakat yang lain juga ikut terlibat dengan menyumbangkan uran berupa siap aduan agar tercapai https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH tabuh rah yang wajib telung seet. Tabuh rah dilaksanakan telung seet maka memerlukan ayam aduan 6 ekor. Untuk melengkapi tabuh rah maka peran masyarakat sangat penting. Begitupun nantinya akan dikembalikan juga dengan uran. Gambaran ini menunjukan bahwa tabuh rah yang dilakukan menonjolkan aspek kebersamaan tolong menolong tidak hanya bermotif ekonomi yang berkaitan dengan judi. Pelaksanaan tabuh rah di Desa Dukuh ketika selesai secara sekala dan niskala maka sebagai tuang rumah akan menyuguhkan makanan dari ayam cundang, dimana dimasak bersama dan dikonsumsi bersama-sama. Hal ini menunjukan dalam pelaksanaan tabuh rah masih kental dengan nilai kebersamaan sebagai bentuk dari kehidupan Kuatnya hubungan sosiologis dalam tabuh rah menyebabkan tabuh rah bisa eksis karena mengandung nilai kebersamaan. Bahkan tidak ada pernah terjadi konflik dalam pelaksanaan tabuh rah di Desa Dukuh. Fenomena ini sejalan dengan gagasan Atmadja . bahwa manusia memiliki berbagai dimensi sehingga disebut homo complex salah satunya adalah homo socius yakni manusia sebagai makhluk sosial yang senantiasa berhubungan dengan individu. Alasan Budaya Kehidupan manusia tidak terlepas dari kebudayaan. Kebudayaan dimaknai secara umum adalah hasil dari pemikiran yang dituangkan dalam bentuk aktivitas maupun karya. Menurut Koentjaraningrat . menyatakan bahwa kebudayaan merupakan sistem gagasan dan rasa, tindakan, serta karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat, serta dijadikan sebagai milik manusia. Berangkat dari pengertian tersebut, maka tabuh rah yang ada di Desa Dukuh merupakan bentuk kebudayaan masyarakat. Hal ini dikarenakan dalam pelaksanaan tabuh rah menyentuh aspek gagasan, tindakan, serta aspek material. Tabuh rah sebagai bentuk kebudayaan Bali yang berakar pada kehidupan religius masyarakat Bali menyebabkan tabuh rah mampu eksis. Eksisnya tabuh rah karena alasan budaya masyarakat Bali. Unsur-unsur kebudayaan meliputi yaitu, sistem religi atau kepercayaan, sistem dan organisasi kemasyarakatan, sistem pengetahuan, bahasa, kesenian, sistem mata pencaharian hidup, peralatan dan perlengkapan hidup. Berangkat dari hal tersebut maka, tabuh rah pada dasarnya merupakan bentuk dari ritual keagamaan. Tabuh rah juga melibatkan aspek sosial masyarakat karena pelaksanaan tabuh rah meliputi masyarakat. Dalam aspek pengetahuan, tabuh rah merupakan manifestasi dari pengetahuan Pengetahun disini merupakan pengetahuan empiris dan spiritual, secara empirik adalah bagaimana masyarakat memiliki pengetahuan dalam memelihara ayam aduan hingga mengikuti proses pelaksanaan tabuh rah. Secara spiritual menunjukan adanya pengetahuan magis masyarakat yang disebut sidhi yang direfleksikan ke dalam media ayam. Tabuh rah tidak hanya sebagai pertarungan ayam aduan tetapi juga adu pengetahuan yang disebut kesidian. Tabuh rah juga merupakan permainan bahasa masyarakat yang penuh dengan simbol-simbol. Pergerakan ayam dalam tabuh rah menunjukan aspek estetika masyarakat. Pertarungan serta media yang digunakan menunjukan aspek estetika. Melalui tabuh rah juga menyentuh aspek ekonomi masyarakat, walaupun tidak begitu terlihat akan tetapi dimensi ekonomi dapat terlihat dari tabuh rah. Melalui tabuh rah juga memperlihatkan adanya teknologi yang digunakan sehingga dapat mencapai kemenangan atau dalam bahasa tabuh rah biasa disebut dengan sudra. Proses Pelaksanaan Ritual Tabuh Rah dalam Kehidupan Keagamaan Tabuh Rah Dalam Upacara Dewa Yadnya Pelaksanaan tabuh rah di Desa Dukuh selalu berhubungan dengan upacara keagamaan seperti upacara dewa yadnya. Dewa yadnya merupakan salah satu yadnya yang ditujukan kepada para dewa. Salah satu upacara dewa yadnya pada masyarakat Bali https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH adalah piodalan. Meminjam pendapat Suryawan . piodalan merupakan upacara yang ditunjukan para dewa dan leluhur pada suatu tempat suci atau pura. Begitu pula keberadaan tabuh rah di Bali dilaksanakan saat pelaksanaan dewa yadnya pada piodalan di pura. Dalam piodalan di pura biasanya masyarakat mengadakan tabuh rah dengan membawa ayam aduan . yang dilaksanakan dengan sistem saya. Artinya, setiap keperluan sarana piodalan di pura baik itu upakara maupun yang lainnya menggunakan sistem saye. Setiap keluarga mendapat tugas yang berbeda-beda. Salah satunya adalah yang bertugas membawa uran yang nantinya digunakan untuk tabuh rah. Pelaksanaan tabuh rah rutin dilaksanakan setiap piodalan di pura. Dimana piodalan yang dilaksanakan setahun sekali maka tabuh rah. Lebih lanjut dituturkan oleh I Wayan Natya bahwa: Pelaksanaan tabuh rah setiap piodalan rutin dilaksanakan, bahkan telah ada dari jaman dahulu. Biasanya saat tabuh rah, ada pembagian saye yang bertugas membawa uran. Kalau sudah mendapat saye ayam aduan tidak lagi diberikan saye Keberadaan ayam aduan dalam ritual tabuh rah saat piodalan tidaklah begitu sulit karena setiap masyarakat memiliki kebiasaan ngurung siap. Hal ini juga didukung bahwa masyarakat di Desa Dukuh mayoritas sebagai petani dan peternak sehingga ngurung siap juga menjadi budaya. Masyarakat yang ngurung siap tidak hanya sebagai uran tetapi juga sebagai hiburan. Hal lain yang lebih menjadi motif adalah bahwa dengan memelihara siap kurungan di pekarangan rumah bisa menetralisir energi negatif. Dengan adanya siap kurungan di pekarangan maka makhluk halus tidak bisa mengganggu penghuni rumah (Wawancara, 10 Maret 2. Berangkat dari penuturan informan tersebut, maka menunjukan masyarakat memiliki kedekatan dengan keberadaan uran yang biasa disebut dengan siap kurungan. Ayam aduan sebagai media tabuh rah tidak hanya sebatas media saja tetapi lebih mengarah pada hal-hal niskala. Dimana dikatakan keberadaan siap kurungan memiliki energi yang bisa menangkal energi negatif. Dalam kajian metafisik maka siap kurungan yang dipelihara oleh masyarakat bisa sepadan dengan jimat. Dikatakan memiliki hubungan dengan jimat karena siap kurungan memiliki tuah yang mampu menjaga penghuni rumah dari gangguan makhluk halus. Konsep ini berkaitan dengan totem, yakni kepercayaan terhadap binatang yang memiliki tuah. Nabila . menyatakan bahwa totemisme adalah merupakan kearifan lokal masyarakat yang terhubung dengan keberadaan binatang dan silsilah kehidupan. Kepercayaan masyarakat tentang keberadaan siap kurungan maka akan memperkuat bahwa siap kurungan sebagai media ritual tabuh rah dalam dewa yadnya. Terkait tabuh rah saat dewa yadnya dapat dilihat pada gambar berikut. Gambar 1. Tabuh Rah Saat Dewa Yadnya (Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH b. Tabuh Rah dalam Upacara Bhuta Yadnya Pelaksanaan tabuh rah pada upacara bhuta yadnya tidak terlepas dari keyakinan masyarakat tentang keberadaan para bhuta. Bhuta yadnya merupakan salah satu ritual yang ditunjukan kepada para bhuta atau energi alam agar tercipta keseimbanagn. Parascita . bahwa tabuh rah dalam bhuta yadnya merupakan salah satu yadnya yang bertujuan untuk mengharmoniskan alam semesta. Bhuta yadnya dilaksanakan dengan berbagai macam bentuk seperti caru dari tingkat yang sangat sederhana hingga sampai pada tingkat yang paling besar. Salah satu caru dalam bhuta yadnya adalah tabuh rah. Tabuh rah menggunakan media darah hewan yang diyakini sebagai simbol kehidupan, sehingga melalui media darah akan dapat menciptakan kehidupan yang harmonis. Salah satu tabuh rah adalah perang satha yang menggunakan media ayam yang bertarung (Darmika, 2. Tabuh rah dalam bhuta yadnya di Desa Dukuh dilaksanakan saat mecaru baik itu di tingkat desa, banjar, subak hingga di pekarangan rumah masing-masing masyarakat. Pada ritual mecaru di desa juga menghadirkan tabuh rah sebagai pelengkap dari caru. Begitu juga dalam lingkup pekarang rumah dimana masyarakat tiap tahun melakukan caru di pekarangan rumah dengan menggunakan media ayam aduan sebagai bentuk ritual taburan darah. I Wayan Nura menuturkan bahwa: Tabuh rah yang dilaksanakan di pekarangan rumah sudah menjadi tradisi keagamaan masyarakat. Maka, setiap tahun masyarakat melaksanakan tabuh rah sampai tiga seet. Pernah ada masyarakat yang tidak melaksanakan tabuh rah karena suatu alasan, maka hal aneh terjadi seperti sakit dan sering diganggu oleh energi negatif. Hal ini membuat masyarakat tidak merasa tenang. Ketika tabuh rah kembali dilaksanakan maka hal-hal aneh tersebut tidak lagi dirasakan (Wawancara, 10 Maret 2. Mencermati penuturan informan tersebut, maka menunjukan bahwa tabuh rah sebagai bentuk upacara bhuta yadnya memiliki dampak terhadap keharmonisan alam serta menciptakan keamanan dan ketenangan masyarakat. Hal ini menjadikan masyarakat tidak berani meniadakan tabuh rah karena berkaitan dengan kekuatan niskala. Adanya hubungan manusia dengan kekuatan alam, melalui caru maka kekuatan alam akan jinak dan terjadi hubungan yang harmonis dengan kekuatan niskala (Atmadja, 2. Terkait tabuh rah pada ritual caru dapat dilihat pada gambar berikut: Gambar 2. Tabuh Rah Pada Ritual Caru (Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2. Teologi Kebudayaan dalam Tabuh Rah Teologi Kebudayaan Gagasan teologi kebudayaan merupakan hubungan antara teologi dengan Teologi merupakan ilmu pengetahuan yang mengkaji tentang aspek https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Ketuhanan. Biasanya dalam agama Hindu teologi identik dengan Brahma Widya yaitu pengetahuan tentang Tuhan beserta manifestasinya (Indriani, 2. Sedangkan kebudayaan merupakan segala yang dihasilkan oleh manusia baik yang bersifat abstrak maupun konkrit (Restu, 2. Merujuk gagasan teologi dan kebudayaan, maka dapat diberikan gambaran bahwa teologi kebudayaan merupakan relasi antara teologi dan Relasi ini menekankan bahwa aspek Ketuhanan bermanifestasi dalam kebudayaan baik itu aspek idea, aktivitas, maupun artefak. Menurut Tillich . hubungan antara teologi dan kebudayaan menjadikan teologi mampu eksis dalam tubuh kebudayaan, sedangkan kebudayaan dapat eksis karena dijiwai oleh aspek Ketuhanan. Teologi dalam konsep teologi kebudayaan menjadi inti dari kebudayaan sehingga menghadirkan kebudayaan spiritual (Elvis, 2. Gagasan teologi kebudayaan dalam agama Hindu menunjukan sebuah gambaran yang tidak terpisahkan dari aktivitas ritual keagamaan. Konsep teologi kebudayaan dalam agama hindu termanifestasikan dalam konsep Tri Kerangka Dasar Agama Hindu yakni tattwa, susila, upacara. Konsep ini selaras dengan tiga wujud kebudayaan yang terbagi menjadi tiga lapisan kebudayaan. Pada lapisan kebudayaan pertama adalah wujud material berupa benda-benda fisik. Konsep ini selaras dengan konsep upakara dalam agama Hindu yang menghadirkan simbol-simbol keagamaan. Lapisan kedua dalam kebudayaan adalah perilaku manusia dalam aktivitas kehidupannya. Konsep ini selaras dengan susila dalam agama Hindu yang menggambarkan perilaku manusia yang berpedoman tentang nilai keagamaan. Lapisan ketiga sebagai lapisan terdalam adalah dunia idea maka sejalan dengan konsep tattwa dalam agama Hindu yang menekankan pada dimensi pengetahuan yang abstrak (Erawati, 2. Pada aspek kebudayaan maka tabuh rah sebagai ritual taburan darah untuk menciptakan keharmonisan alam semesta tentu menyentuh dimensi kebudayaan. Putra . bahwa kebudayaan masyarakat Bali menggambarkan dimensi idea, aktivitas dan artefak. Kebudayaan Bali selalu beriringan pada aspek idea, aktivitas, dan artefak. Dimensi idea yakni berisikan nilai gagasan serta ideologi. Kaitannya dengan tabuh rah, maka pelaksanaannya tabuh rah juga tidak terlepas dari konsep ide ataupun nilai seperti nilai teologis, nilai filosofis, estetis, maupun budaya. Pada aspek aktivitas maka, terlihat dalam pelaksanaan tabuh rah memperlihatkan aktivitas masyarakat dalam proses pelaksanaan tabuh rah baik dari persiapan hingga pada proses inti dari pelaksanaan tabuh rah. Pada aspek aktivitas maka tidak terlepas dari dimensi sosiologis, yang dimana masyarakat sebagai pelaku pelaksanaan tabuh rah tentu juga memperlihatkan interaksi sosial masyarakat. Kemudian pada aspek artefak maka tabuh rah adalah penggunaan simbol atau media. Media ini biasanya berupa ayam aduan yang bertarung menggunakan taji, kalangan sebagai tempat pelaksanaan, sarana ritual serta media pendukung lainnya. Maka dari hal ini menunjukan bahwa tabuh rah adalah kebudayaan Bali yang tidak terlepas dari dimensi keagamaan (Erawati, 2. Tabuh Rah Sebagai Manifestasi Teologi Kebudayaan Tabuh rah yang dilaksanakan oleh masyarakat desa Dukuh merupakan salah satu kebudayaan yang sudah ada dari jaman dahulu. Bahkan dilihat dari jejak historisnya tabuh rah memiliki perjalanan yang sangat panjang. Bahkan telah tertuang dalam prasasti juga teks keagamaan. Seperti dalam penelitian Atmadja . bahwa tabuh rah tertuang dalam prasasti Sukawana. Prasasti Batur Abang. Prasasti Batua. Lontar Tattwa Purana dan Lontar Yadnya Prakerti. Darmika . Tabuh rah adalah relasi kebudayaan dengan agama yang didalamnya bersumberkan teks keagamaan sebagai pedoman dalam pelaksanaan tabuh rah dengan asas etika keagamaan. Sebagai bentuk kebudayaan masyarakat Bali dan terhubung dengan aktivitas keagamaan, maka tabuh rah sesungguhnya menunjukan aspek teologi kebudayaan. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Teologi kebudayaan merupakan relasi antara teologi dengan kebudayaan atau aspek kebudayaan bermanifestasi dalam kebudayaan. Putra . bahwa teologi kebudayaan memiliki relasi dengan keagamaan Hindu di Bali. Banyak simbol-simbol keagamaan di Bali berhubungan dimensi Ketuhanan. Tabuh rah sebagai kebudayaan bali merupakan simbol keagamaan. Simbol-ini berupa ayam aduan, taji, sarana upakara yang digunakan, dilaksanakan telung seet. Simbol-simbol tersebut sesungguhnya bagian dari kebudayaan yang didalamnya terdapat makna teologis. Melalui pendekatan semiotika ferdinand de Saussure mengenai tanda, penanda, dan petanda. Maka tabuh rah yang dilaksanakan adalah sebuah simbol yang penuh dengan makna (Pujiastuti, 2. Keberadaan simbol yang digunakan yakni ayam aduan. Dalam agama Hindu ayam merupakan simbol rajas bagian dari tri guna. Putera . bahwa rajas sebagai bagian tri guna adalah energi agresif yang perlu ditaklukan. Melalui tabuh rah pertarungan ayam maka energi rajas ditaklukan. Selain simbol tri guna tabuh rah melalui pertarungan ayam juga menyimbolkan dimensi rwa bhineda yang bertentangan. Pertarungan ayam sebagai media tabuh rah adalah dualitas yang bertentangan. Dualitas ini menimbulkan adanya pertarungan yang berakhir pada menag dan kalah. Dalam ajaran agama Hindu bahwa ada konsep widya dan awidya yakni pencerahan dan kegelapan. Atmadja . bahwa pertarungan ayam adalah pertarungan antara widya dan Harapan yang diinginkan adalah kemenangan widya atas awidya sehingga mampu menciptakan kualitas kesadaran. Pada konsep agama Hindu pertarungan tidak bisa dilepaskan dalam proses spiritual manusia. Bahkan manusia pada dasarnya adalah proses perjuangan agar mencapai kemenangan dari adharma. Maka, tidak salah jika ajaran agama Hindu me pada dharma yang diperjuangkan atas adharma. Melalui pertarungan ayam dalam tabuh rah adalah simbol teologis bagaimana manusia berjuang melawan adharma sehingga mampu menghadirkan dharma dalam kehidupan. Admadja . tabuh rah melalui simbol ayam aduan adalah manifestasi ajaran Ajaran tantra yang menekankan pencapaian kesadaran dengan proses penaklukan sifat kebinatangan untuk menuju kesadaran tertinggi serta terlepas dari belenggu materialistik kebinatangan. Wirawan . bahwa tantra berhubungan dengan pemujaan Siwa sebagai pelebur. Maka, berangkat dari konsep tersebut tabuh rah selain bentuk perjuangan spiritual juga sebagai penghancur atau melebur ikatan materialistik. Tabuh rah yang disimbolkan dengan pelaksanaan sebanyak telung seet atau tiga pertempuran menyimbolkan konsep trimurti tiga kemahakuasaan Tuhan yakni Brahma pencipta. Wisnu pemelihara, dan Siwa pelebur. Telung seet . iga rond. dalam tabuh rah secara teologis adalah simbol aksara OM. Hal ini dapat diuraikan Brahma adalah aksara A. Wisnu aksara U, dan Siwa aksara Ketiga dewa dan aksara tersebut jika disatukan menjadi AUM dan akhirnya menjadi OM. Pelaksanaan tabuh rah telung seet dilakukan juga pada pelaksanaan tabuh rah di desa Dukuh. Dimana tabuh rah dalam piodalan maupun dalam caru dilaksanakan telung seet yang diawali dengan menghaturkan segehan dengan taburan arak serta banten pejati yang dihaturkan di penunggun karang. Ketika sudah menghaturkan segehan dilanjutkan dengan tabuh rah sebanyak telung seet. Jika sudah telung seet maka ditutup dengan ritual banten pejati di pelinggih penunggun karang bahwa tabuh rah sudah dilaksanakan. Tata cara pelaksanaan tabuh rah telah terurai dalam dalam Prasasti Batuan berangka tahun Caka 994 yakni: Kunang yang manawung ing pangudwan makantang tlung marahatan tan pamwinta ring nayaka sangsi muang sawung tunggur, tan knana minta pamli Terjemahannya: https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Adapun bila mengadu ayam ditempat suci dilakukan tiga angkatan . tidak meminta izin kepada pemerintah dan juga kepada pengawas sabungan, tidak dikenakan pajak (Kniten, 2. Mencermati isi prasasti tersebut, maka menunjukan bahwa tabuh rah dilakukan di tempat suci karena merupakan ritual keagamaan serta hanya dilakukan tiga ronde yang tidak terikat oleh sangsi dan iuran. Hal ini dikarenakan motif tabuh rah adalah ritual Begitu juga tabuh rah yang dilakukan di Desa Dukuh baik saat piodalan maupun saat ritual caru dilakukan sebagai ritual keagamaan sehingga tidak melibatkan bebotoh yang berorientasi pada judi dan masalah sosial. Lebih lanjut juga ditekankan pada Ciwa Tattwa Purana yakni: Mwah ri tileming kesanga, hulun magawe yoga, teke wenang wang ing madya magawe tawur kasowang an den hana praging sata wenang nyepi sadina ika labian sang kala daca bumi, yanora semangkana rug ikang wang ing madya pada Terjemahanya: Lagi pada tilem kesanga aku (Dewa Siw. mengadakan yoga, berkewajiban orang pribumi ini membuat membuat persembahan masing-masing, lalu adakan pertarungan ayam dan nyepi sehari, ketika itu beri hidangan sang kala dacabhumi, jika tidak rusaklah manusia di bumi (Goris dalam Kniten, 2005: . Berangkat dari isi Lontar Siwa Tattwa Purana tersebut, maka tabuh rah pada dasarnya merupakan bentuk ritual caru yang wajib dilakukan oleh masyarakat agar tercipta keharmonisan alam. Lebih jelasnya diuraikan saat sasih kasange dan saat Hari Raya Nyepi. Hal ini akan berkorelasi dengan situasi saat sasih kesanga yang biasanya dilakukan upacara bhuta yadnya. Melalui tabuh rah maka diharapkan mampu mengharmoniskan kehidupan manusia di alam. Begitu juga dalam kehidupan masyarakat di Desa Dukuh pada saat mecaru di pengerupukan sasih kesanga biasanya diadakan tabuh rah sebagai rangkaian dari upacara bhuta yadnya. Dari hal tersebut tabuh rah yang dilakukan oleh masyarakat desa Dukuh saat tawur kesanga terkonfirmasi dengan teks Lontar Siwa Tattwa Purana. Kesimpulan Tabuh rah yang merupakan salah satu kebudayaan masyarakat Bali tidak hanya sebatas ritual namun mengandung makna teologis. Gambaran ini memberikan pemahaman bahwa kebudayaan masyarakat Bali berkaitan dengan aspek Ketuhanan. Hubungan ini menghadirkan gagasan teologi kebudayaan. Teologi kebudayaan yang merupakan nilai ketuhanan bermanifestasi dalam kebudayaan masyarakat. Sehingga kebudayaan menjadi langgeng karena dijiwai oleh nilai Ketuhanan. Begitu halnya dengan tabuh rah mengandung dimensi teologis. Gagasan teologi kebudayaan pada ritual tabuh tentu memberikan kontribusi terhadap pelestarian kebudayaan pada masyarakat Bali serta menguatkan spiritual umat Hindu. Daftar Pustaka