Indonesian Journal of Islamic and Social Science Vol. 3 No.1 Juni, 2025 : 63-81 INOVASI KIAI DALAM PENGELOLAAN PENDIDIKAN PESANTREN AL AMIEN PRENDUAN SUMENEP MADURA JAWA TIMUR Nawari Universitas KH. Abdul Chalim Mojokerto nawarisumenep@gmail.com Hasyim Asy’ari Universitas KH. Abdul Chalim Mojokerto hasyimasy’ari@uac.ac.id Ashari Universitas KH. Abdul Chalim Mojokerto ashari@uac.ac.id Abstract This research aims to 1) Find out how the formulation of kiai innovation in managing education at the Al Amien Prenduan Sumenep Madura East Java Islamic boarding school. 2) To find out how the implementation of education management in Islamic boarding schools through Kiai Innovation. 3) To find out how the supporting and inhibiting factors of kiai in managing education at Islamic boarding schools. The research method used is qualitative research. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation. Data sources in this study were mentors and students who took part in overseas study guidance. Data analysis techniques used data collection, data reduction, data presentation, and drawing conclusions. Validity techniques used triangulation of techniques and sources. The results of the study showed that 1) Kiai innovation in managing education at the Al-Amien Prenduan Sumenep Madura East Java Islamic Boarding School involved four main stages: planning to set goals in a structured manner, organizing to utilize resources. 2) Implementation of the program with a focus on memorization and formal education, as well as supervision to ensure compliance with the vision and work plan. The results are expected to include alumni who are able to memorize up to 30 juz and master foreign languages well, and receive positive assessments from the community. 3) Supporting factors include competent mentors and the physical condition of the students, while inhibiting factors include a lack of mentors, insincere intentions, and time management problems. Keywords: Innovation, Kiai, Islamic Boarding School Education, Management Abstrak Penelitian ini bertujuan 1) Untuk mengetahui bagaimana formulasi inovasi kiai dalam pengelolaan pendidikan di pesantren Al Amien Prenduan Sumenep Madura 63 Nawari, Hasyim Asy’ari, Ashari : Inovasi Kiai Dalam Pengelolaan Pendidikan Pesantren Al Amien Prenduan Sumenep Madura Jawa Timur Jawa Timur. 2) Untuk mengetahui bagaimana implementasi pengelolaan pendidikan di Pesantren melalui Inovasi Kiai. 3) Untuk mengetahui bagaimana faktor pendukung dan penghambat kiai dalam pengelolaan pendidikan di pesantren. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi Sumber data dalam penelitian ini pembimbing dan santri yang mengikuti bimbingan kuliah luar negeri. Teknik analisis data menggunkan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan Kesimpulan. Teknik keabsahan menggunakan trianggulasi teknik dan sumbe. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Inovasi kiai dalam pengelolaan pendidikan di Pesantren Al-Amien Prenduan Sumenep Madura Jawa Timur melibatkan empat tahap utama: perencanaan untuk menetapkan tujuan secara terstruktur, pengorganisasian untuk pemanfaatan sumber daya. 2) Pelaksanaan program dengan fokus pada hafalan dan pendidikan formal, serta pengawasan untuk memastikan kesesuaian dengan visi dan rencana kerja Hasilnya diharapkan meliputi alumni yang mampu menghafal hingga 30 juz dan menguasai bahasa asing dengan baik, serta mendapatkan penilaian positif dari masyarakat. 3) Faktor pendukung termasuk pembimbing berkompeten dan kondisi jasmani santri, sementara penghambat meliputi kekurangan pembimbing, niat yang tidak tulus, dan masalah pengaturan waktu. Kata Kunci : Inovasi, Kiai, Pendidikan Pesanteren, Pengelolaan PENDAHULUAN Tujuan pendidikan adalah mewariskan informasi, keterampilan, nilai-nilai, dan warisan budaya kepada generasi berikutnya secara terorganisir. Peningkatan kualitas pendidikan merupakan salah satu kunci untuk mencapai pembangunan berkelanjutan dalam suatu negara.1 Pendidikan terutama berkaitan dengan mempersiapkan orang untuk memberikan kontribusi konstruktif kepada masyarakat dengan memfasilitasi pertumbuhan pribadi dan sosial sebaik mungkin dan menawarkan informasi dan kemampuan mendasar yang diperlukan untuk berhasil dalam hidup. Mutu sumber daya manusia ditentukan melalui pendidikan, dengan pendidikan manusia memiliki pengetahuan untuk melakukan kreativitas dalam mengelola sumber daya manusia itu sendiri.2 Pendidikan dapat berlangsung di berbagai tempat, termasuk perguruan tinggi, universitas, pesantren, program pelatihan di tempat kerja, dan studi individu. Arief S. Sadiman berpendapat bahwa proses pembelajaran pada hakikatnya merupakan proses interaksi antara guru dan Asep Wijaya, Muhammad Wali Ismady, dan Rosdiana, “Analisis Pengukuran Kompetensi Pendidikan Profesi Guru Dalam Jabatan,” Indonesian Journal of Islamic and Social Science 2, no. 2 (25 Desember 2024): 67–79, https://doi.org/10.71025/hepjer05. 2 Ashari dan Zakariyah, “Peran Kepala Madrasah Sebagai Educator Untuk Meningkatkan Kompetensi Profesional Guru Di MBI Amanatul Ummah Pacet Mojokerto,” Indonesian Journal of Islamic and Social Science 2, no. 1 (17 Juni 2024): 1–15. 1 Indonesian Journal of Islamic and Social Science Vol. 3 No 1, Juni, 2025: 63-81 64 Nawari, Hasyim Asy’ari, Ashari : Inovasi Kiai Dalam Pengelolaan Pendidikan Pesantren Al Amien Prenduan Sumenep Madura Jawa Timur peserta didik.3 Berbagai pendekatan pembelajaran, termasuk ceramah, diskusi, praktik langsung, dan pengalaman belajar lainnya, digunakan bersamaan dengan interaksi antara pendidik dan siswa sebagai komponen penting dari proses ini.4 Selain untuk menanamkan pengetahuan dan kemampuan, pendidikan bertujuan untuk mengembangkan moralitas, nilai-nilai, dan sifat-sifat kepribadian yang diperlukan untuk pengembangan manusia yang baik dan bertanggung jawab. Menurut Ki Hajar Dewantara, “Pendidikan adalah proses penunjang kekuatan kodrat sebagai manusia yang memiliki akal, dalam menguasai pengetahuan pada peserta didik.5 Oleh karena itu, pendidikan mencakup lebih dari sekedar menyebarkan pengetahuan; hal ini juga mencakup pengembangan karakter dan pengembangan proses berpikir kritis, kreatif, dan otonom. Satu hal yang harus diketahui yaitu bahwa pendidikan dibutuhkan oleh manusia selama-lamanya sampai akhir hayat (long lifeeducation).6 Selanjutnya, proses pendidikan yang berpusat pada keyakinan, nilai-nilai, dan ajaran Islam dikenal dengan istilah pendidikan Islam. Tujuannya adalah memahami akidah Islam, mempelajari Alquran dan Hadits, memperdalam pemahaman tentang ajaran Islam, serta menerapkan prinsip-prinsip moral dan etika Islam dalam kehidupan sehari-hari.7 Pendidikan Islam mencakup berbagai topik, seperti pengajaran Al-Qur'an, studi Hadis, pemahaman hukum Islam (fiqh), keyakinan (aqidah), unsur tasawuf Islam (tasawuf), sejarah islam, dan mata pelajaran lain yang berkaitan dengan ilmu dan penerapannya agama Islam. Pendidikan Islam bertujuan untuk membentuk manusia yang religius, bermoral, dan berperilaku sesuai dengan prinsip-prinsip yang diajarkan islam. Lembaga pendidikan Islam hadir dalam berbagai bentuk dan ukuran, termasuk madrasah, pesantren, perguruan tinggi, dan lingkungan belajar resmi dan informal lainnya. Pendidikan Islam sangat penting dalam komunitas di mana mayoritas orangnya mengidentifikasi diri sebagai Muslim, karena pendidikan Islam sangat penting dalam pembentukannya.8 Edimizwar dan Mawaddatur Rahmah, “Manajemen Sarana Dan Prasarana Dalam Menunjang Proses Pembelajaran Di Dayah Tauthiatuth Thullab Arongan Putri,” Indonesian Journal of Islamic and Social Science 1, no. 1 (25 Juni 2023): 49–56, https://doi.org/10.71025/9mfdjr91. 4 Aziizu, Burhan Yusuf Abdul "Tujuan besar pendidikan adalah tindakan" Prosiding Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat 2, no 2 (2015) https://doiorg/1031004/jpdkv4i69498 5 Edi Saputra dan Rahmatina Aulia, “Penerapan Kurikulum Merdeka Pada Mata Pelajaran Fiqih Kelas IV A Di MIN 9 BireueN,” Indonesian Journal of Islamic and Social Science 1, no. 1 (22 Juni 2023): 22–35, https://doi.org/10.71025/c0zxf168. 6 Anisatul Maghfiroh dkk., “Sistem Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Secara Offline Dan Online Di TK Bhinneka II Nogosari Trirenggo Bantul,” Indonesian Journal of Islamic and Social Science 2, no. 2 (25 Desember 2024): 136–46, https://doi.org/10.71025/1w250q90. 7 Darwisyah Darwisyah, Kemas Imron Rosadi, dan Hapzi Ali, “Berfikir Kesisteman Dalam Perencanaan Dan Pengembangan Pendidikan Islam,” Jurnal Manajemen Pendidikan Dan Ilmu Sosial 2, no 1 (9 Maret 2021): 225–37, https://doiorg/1038035/jmpisv2i1444 8 Nabila Nabila, “Tujuan Pendidikan Islam,” Jurnal Pendidikan Indonesia 2, no 5 (25 Mei 2021): 867–75, https://doiorg/1036418/japendiv2i5170 3 Indonesian Journal of Islamic and Social Science Vol. 3 No 1, Juni, 2025: 63-81 65 Nawari, Hasyim Asy’ari, Ashari : Inovasi Kiai Dalam Pengelolaan Pendidikan Pesantren Al Amien Prenduan Sumenep Madura Jawa Timur Salah satu istilah pesantren di Indonesia adalah Pondok Pesantren yang berada di bawah payung pendidikan Islam. Di antara lembaga pendidikan yang pernah muncul di Indonesia, pendidikan keagamaan dalam bentuk Pondok Pesantren ini merupakan sistem pendidikan tertua.9 Kedua nama ini secara umum mengacu pada lembaga pendidikan Islam konvensional yang memberikan pengajaran ilmu-ilmu Islam dan ilmu agama Islam kepada siswanya Istilah Arab “funduq” (berarti pondok atau tempat tinggal) merupakan asal kata “pondok” pertama kali muncul. Jika merujuk pada fasilitas tempat tinggal para santri yang tinggal dan belajar di pondok pesantren, digunakan istilah “pondok” Izinkan saya meringkas dengan mengatakan bahwa Pondok Pesantren adalah sekolah Islam tradisional di Indonesia yang juga menawarkan penginapan bagi siswa yang terdaftar dalam program pendidikannya.10 Di Indonesia, lembaga pendidikan Islam yang menitikberatkan pada penyampaian agama Islam dan ilmu halal biasa disebut pesantren. Meski demikian, terdapat perbedaan antara Pondok Pesantren modern dan Pondok Pesantren salaf yang sering disebut pesantren klasik. Prinsip-prinsip inti pesantren, seperti struktur pendidikan, budaya pesantren, dan strategi pengajaran, masih dijunjung dan dihormati oleh pesantren tradisional. Di sisi lain, para petani modern semakin menerapkan inovasi dalam setiap metode dan fasilitas yang mereka gunakan. Karena keduanya merupakan lembaga pendidikan yang mendidik masyarakat tentang agama melalui ceramah orang awam yang sesekali dibantu oleh seorang ulama, maka pembedaan tersebut bermanfaat bagi perluasan Islam di Indonesia.11 Sebagai individu yang paling berkuasa di lingkungan pesantren, para kiai memainkan peran penting dalam pendirian pesantren Selain kiai, santri, masjid, pondok, dan kitab kuning menjadi komponen tambahan yang signifikan. Terdapat beberapa pesantren di Indonesia yang mengelola pendidikan dengan cara yang kreatif dan variatif. Faktanya, semakin banyak pesantren yang bereksperimen untuk memberikan layanan terbaik bagi santri dan semua pihak yang terkait dengannya. Selain itu, pesantren dapat dibagi menjadi dua kategori dasar: tradisional, atau salaf, dan kontemporer.12 Pondok pesantren mempunyai beberapa peran dalam kemajuan pendidikan di Indonesia, antara lain sebagai pusat dakwah, tempat pelaksanaan ibadah, pusat Saifuddin, Diana, dan Liza Mutia, “Integrasi Sistem Pendidikan Dayah Darussa’adahcot Tarom Baroh Melalui Madrasah,” Indonesian Journal of Islamic and Social Science 1, no. 1 (20 Juni 2023): 11–21, https://doi.org/10.71025/cgnd4854. 10 Syafe'i, Imam "Pondok pesantren: Lembaga pendidikan pembentukan karakter" AlTadzkiyyah: Jurnal Pendidikan Islam 8, no 1 (2017): 61-82 11 Baidlawi, H Moh "Modernisasi Pendidikan Islam (Telaah Atas Pembaharuan Pendidikan di Pesantren)" TADRIS: Jurnal Pendidikan Islam 1, no 2 (2006) https://doiorg/1019105/tjpiv1i2198 12 Wafiqul Umam, “Kepemimpinan Kiai dalam Mengembangkan Pondok Pesantren,” Attractive : Innovative Education Journal 2, no 3 (12 November 2020): 61, https://doiorg/1051278/ajv2i360 9 Indonesian Journal of Islamic and Social Science Vol. 3 No 1, Juni, 2025: 63-81 66 Nawari, Hasyim Asy’ari, Ashari : Inovasi Kiai Dalam Pengelolaan Pendidikan Pesantren Al Amien Prenduan Sumenep Madura Jawa Timur pengembangan akhlak, dan wadah peningkatan kapasitas santri dalam menghadapi kendala internal dan eksternal. Namun seiring bangkitnya modernisme dan nasionalisme pada abad ke-20, pesantren perlahan-lahan kehilangan pijakan dalam hal administrasi, strategi pengajaran, dan struktur pendidikan. Tujuan modifikasi ini adalah menghasilkan sumber daya manusia yang berkaliber tinggi dengan meningkatkan bakatnya. Lembaga pendidikan Islam bertujuan untuk memberikan kontribusi bagi kemajuan peradaban manusia secara konkrit. Idenya adalah agar lembaga-lembaga seperti pesantren mampu melahirkan generasi yang mampu bernegara dengan mengikuti laju modernitas. Namun demikian, tugas menciptakan program pendidikan yang menjunjung tinggi prinsip-prinsip Islam dan dapat menyaingi lembaga pendidikan arus utama dalam hal keunggulan akademik berada di pundak pesantren. Pengetahuan, keterampilan, dan sikap adalah tiga komponen kunci yang harus diperhitungkan dalam metodologi dan pengelolaan pertumbuhan siswa untuk mencapai tujuan ini. Jika kita ingin melahirkan generasi manusia yang berkemampuan, cerdas, berketerampilan, dan berkelakuan baik, ketiga unsur tersebut saling berkaitan dan saling bergantung. Pondok pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan yang terkenal dalam memberikan pendidikan yang khas kepada santrinya-sering disebut santri.13 Pendidikan siswa bertujuan untuk menanamkan dalam diri mereka nilai-nilai yang bersumber dari keyakinan agama, seperti rasa hormat terhadap orang tua dan pendidik, empati terhadap orang lain, peduli terhadap lingkungan, dan cinta tanah air. Pentingnya peran kepemimpinan visioner seorang kiai dalam pertumbuhan pesantren telah ditekankan oleh sejumlah penelitian sebelumnya, termasuk penelitian yang dipimpin oleh Kasful Anwar. Kiai berperan sebagai sumber ide, pemikiran, dan semangat bagi kemajuan pesantren. Kajian tambahan yang dilakukan Siti Aiysah menunjukkan bahwa perkembangan dan kemajuan pesantren sangat dipengaruhi oleh peran kepemimpinan kiai dalam menegakkan budaya pesantren, dimana kiai tidak hanya menjaga tradisi pesantren tetapi juga menjaga tradisi pesantren.14 Dalam penelitiannya pada tahun 2017, Haris mengeksplorasi ide dan praktik kepemimpinan di pesantren, khususnya yang berkaitan dengan manajemen Menurut penelitian Wafiqul Umam, fungsi kiai di pesantren sangat penting karena Nurti Budiyanti dkk, “The Development of Post-Modern Islamic Boarding Schools (Case Study at IHAQI Creative Pesantren in Bandung),” QALAMUNA: Jurnal Pendidikan, Sosial, dan Agama 13, no 1 (31 Mei 2021): 73–84, https://doiorg/1037680/qalamunav13i1584 14 Siti Aisyah dkk, “Kiai Leadership Concept in The Scope of Pesantren Organizational Culture,” Tafkir: Interdisciplinary Journal of Islamic Education 3, no 1 (29 Januari 2022): 40–59, https://doiorg/1031538/tijiev3i1106 13 Indonesian Journal of Islamic and Social Science Vol. 3 No 1, Juni, 2025: 63-81 67 Nawari, Hasyim Asy’ari, Ashari : Inovasi Kiai Dalam Pengelolaan Pendidikan Pesantren Al Amien Prenduan Sumenep Madura Jawa Timur kemampuannya dalam mengawasi dan memimpin seluruh masyarakat, khususnya santri, serta pengaruhnya terhadap masyarakat luas.15 Penelitian ini berbeda secara signifikan dari penelitian lain karena bertujuan untuk menunjukkan pendekatan inovatif dalam manajemen pendidikan yang digunakan oleh pesantren atau kiai. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan kepada pesantren pengetahuan yang lebih baik tentang fungsi penting yang dimainkan kiai dalam mengawasi pengajaran di lembaga-lembaga tersebut. Oleh karena itu, peneliti ingin melakukan penelitian dengan judul “Inovasi Kiai Dalam Pengelolaan Pendidikan Pesantren Al Amien Prenduan Sumenep Madura Jawa Timur.” Berdasarkan konteks penelitian diatas maka fokus penelitian ini adalah 1) Bagaimana Formulasi Inovasi Kiai Dalam Pengelolaan Pendidikan di Pesantren Al Amien Prenduan Sumenep Madura Jawa Timur?; 2) Bagaimana Implementasi Pengelolaan Pendidikan di Pesantren Al Amien Prenduan Sumenep Madura Jawa Timur melalui Inovasi Kiai?; 3) Bagaimana Faktor Pendukung dan Penghambat Kiai Dalam Pengelolaan Pendidikan di Pesantren Al Amien Prenduan Sumenep Madura Jawa Timur? METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif. Teknik kualitatif adalah suatu proses penelitian yang menghasilkan data deskriptif16 dari kata-kata tertulis atau lisan seseorang serta perilaku mereka yang dapat diamati. Metode ini berfokus pada pemahaman sejarah seseorang17 dan identitasnya secara keseluruhan.18 Penelitian kualitatif ini juga sering disebut dengan metode penelitian naturalistik karena dilakukan pada kondisi alamiah (natural setting).19 Peneliti memilih desain penelitian deskriptif kualitatif karena dianggap sangat tepat untuk mengkarakterisasi berbagai sumber data dan informasi Dengan menggunakan teknik ini, peneliti dapat mengkarakterisasi informasi dari pendapat para ahli dan 15 Umam, Wafiqul "Kepemimpinan Kiai dalam Mengembangkan Pondok Pesantren" Attractive: Innovative Education Journal 2, no 3 (2020): 61-69 http://dxdoiorg/1051278/ajv2i360 16 Khadijatul Musanna dkk, Cannabis Seeds as a Culinary Ingredient:: A Sociological Study of the Acehnese Community, SHAHIH: Journal of Islamicate Multidisciplinary, Vol.2, No.9, 2024 hlm. 15 17 Khadijatul Musanna, Fahmi Makraja, Fitri Yanti, Maqasid : Jurnal Studi Hukum Islam, Vol.13, No. 2, 2024, hlm.13 18 Justan, Rahmat, Margiono Margiono, Abdul Aziz, and Sumiati Sumiati "Penelitian Kombinasi (Mixed Methods)" ULIL ALBAB: Jurnal Ilmiah Multidisiplin 3, no 2 (2024): 253-263 https://doiorg/1056799/jimv3i22772 19 Edi Mizwar, Habiburrahim, dan Silahuddin, “Pemanfaatan Media Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Di SMP Negeri 1 Peusangan Siblah Krueng Kabupaten Bireuen,” Indonesian Journal of Islamic and Social Science 2, no. 2 (25 Desember 2024): 92–105, https://doi.org/10.71025/9ncyhf93. Indonesian Journal of Islamic and Social Science Vol. 3 No 1, Juni, 2025: 63-81 68 Nawari, Hasyim Asy’ari, Ashari : Inovasi Kiai Dalam Pengelolaan Pendidikan Pesantren Al Amien Prenduan Sumenep Madura Jawa Timur observasi dari wawancara sebagai informasi pendukung untuk temuan mereka Dalam penelitian kualitatif deskriptif, analisis data merupakan suatu langkah proses selain pengumpulan data dari beberapa sumber Ini memfasilitasi pemecahan masalah dan pemahaman data yang dihasilkan.20 Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Adapun teknik analisis data penelitian ini menggunakan paradigma Miles dan Huberman, yang mencakup tiga proses yakni reduksi data, penyajian data, dan inferensi/verifikasi. Sedangkan untuk menguji keabsahan data, peneliti menggunakan teknik pemeriksaan keabsahan data triangulasi teknik dengan sumber yang berbeda-beda. KONSEP DASAR 1. Inovasi Pendidikan Inovasi sebagai alat pengajaran yang penting Menurut konsep ini, menambahkan unsur-unsur yang dianggap baru pada penyelenggaraan pendidikan merupakan inovasi pendidikan. Pesantren dianggap sebagai lembaga tradisional karena, meskipun pendidikan sudah berlangsung lama dan berbasis tradisi, pesantren tetap menjunjung tinggi identitas dan warisan budayanya, termasuk metode pengajarannya. Untuk menghadapinya, pesantren harus menyambut inovasi sebagai anugerah Tuhan. Dikatakan bahwa ketika seseorang mengucap syukur kepada Allah atas karunia yang dimilikinya, Allah akan melimpahkan kepadanya pahala yang lebih besar lagi.21 Dalam manajemen pendidikan, "inovasi" mengacu pada produk, layanan, pendekatan, atau strategi yang diyakini oleh orang atau kelompok sosial tertentu sebagai sesuatu yang baru. Hasil dari inovasi ini dapat berupa teknologi atau penemuan baru yang berfungsi sebagai instrumen penting untuk mencapai tujuan pembelajaran atau menyelesaikan permasalahan pembelajaran saat ini. Para penyelenggara pendidikan, baik negeri maupun pesantren, harus menyadari permasalahan-permasalahan yang berulang agar dapat menjadi landasan bagi pengembangan pendidikan di masa depan, mengingat kompleksitas permasalahan pendidikan terus berkembang. 2. Pengertian Pondok Pesantren Pesantren adalah lembaga pendidikan yang didirikan di mana para santrinya tinggal di asrama dan melanjutkan studinya di bawah bimbingan kyai, atau guru. Bangunan pesantren memiliki ruang untuk belajar, sholat, dan kegiatan keagamaan 20 Pahleviannur, Muhammad Rizal, Anita De Grave, Dani Nur Saputra, Dedi Mardianto, Lis Hafrida, Vidriana Oktoviana Bano, Eko Edy Susanto et al Metodologi Penelitian Kualitatif Semarang: Pradina Pustaka, 2022 21 Wahyuni, Eka, Imam Nawawi, Rukiah Lubis, Erningsih Erningsih, Afriana Afriana, Liza Husnita, Tomi Arianto et al Inovasi Pendidikan Dan Pembelajaran Bandung: CV Gita Lentera, 2023 Indonesian Journal of Islamic and Social Science Vol. 3 No 1, Juni, 2025: 63-81 69 Nawari, Hasyim Asy’ari, Ashari : Inovasi Kiai Dalam Pengelolaan Pendidikan Pesantren Al Amien Prenduan Sumenep Madura Jawa Timur lainnya selain masjid untuk beribadah. Tembok sering kali menutup gedung pesantren, sehingga administrator dapat mengatur akses dan keberangkatan siswa sesuai dengan undang-undang yang relevan. Pesantren merupakan tempat pembelajaran dan pengajaran agama yang biasanya menggunakan strategi pengajaran yang tidak konvensional. Seorang kyai mendidik murid-muridnya dalam ilmu agama Islam di pesantren dengan menggunakan teks-teks yang ditulis dalam bahasa Arab oleh para ulama pada Abad Pertengahan. Di dalam kampus yang menampung pesantren, para santri sering tinggal di gubuk atau asrama Sebenarnya, ungkapan “pondok pesantren” menggambarkan gagasan yang sama. Pesantren pada hakikatnya adalah ruang belajar para santri, sedangkan pondok adalah tempat tinggal sederhana yang biasanya terbuat dari bambu.22 HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Formulasi Inovasi Kiai Dalam Pengelolaan Pendidikan di Pesantren Al Amien Prenduan Sumenep Madura Jawa Timur Formulasi inovasi Kiai dalam pengelolaan pendidikan di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan Sumenep, Madura, merupakan contoh bagaimana tradisi dan modernitas dapat berkolaborasi untuk memperbaiki kualitas pendidikan Kiai, sebagai pemimpin dan pengelola utama pesantren, berperan penting dalam merumuskan ide-ide baru yang tidak hanya mempertahankan nilai-nilai tradisional tetapi juga memenuhi tuntutan zaman. Sebagaimana pengertian inovasi biasanya dikaitkan dengan regenerasi dalam budaya Indonesia. Karena penemuan memerlukan pengenalan objek-objek baru, istilah inovasi kadang-kadang digunakan secara bergantian dengan penemuan.23 Salah satu inovasi yang diterapkan adalah penyesuaian metode pengajaran bacaan Al-Qur’an dan tahfidz. Meskipun pesantren ini masih mengandalkan kurikulum tradisional yang diwariskan turun-temurun, Kiai mengintegrasikan teknik-teknik baru untuk meningkatkan pemahaman dan kemampuan santri dalam membaca dan menghafal Al-Qur’an dengan lebih efektif. Dalam mengimplementasikan inovasi, Kiai juga mengedepankan pengembangan kapasitas murabbi atau pengajar di pesantren. Mereka dilibatkan dalam proses penyusunan metode pengajaran dan penetapan target hafalan, 22 Putri, Ardianti Yunita, Elia Mariza, and Alimni Alimni "Pesantren Sebagai Lembaga Pendidikan Islam (Sejarah Lahirnya Pesantren Sebagai Lembaga Pendidikan Islam Di Indonesia, Sejarah Perkembangan Pesantren/Sistem Pendidikan, Dan Perkembangannya Masa Kini)" Innovative: Journal Of Social Science Research 3, no 2 (2023): 6684-6697 https://doiorg/1031004/innovativev3i21140 23 Mohammad Jailani, “Meneguhkan Inovasi Pendidikan Dalam Diskursus Al-Qur’an: Kebermanfaatannya Di Sekolah-Madrasah Di Indonesia,” Tanzil: Jurnal Studi Al-Quran 5, no 2 (12 April 2023): 151–70, https://doiorg/1020871/tjsqv5i2252 Indonesian Journal of Islamic and Social Science Vol. 3 No 1, Juni, 2025: 63-81 70 Nawari, Hasyim Asy’ari, Ashari : Inovasi Kiai Dalam Pengelolaan Pendidikan Pesantren Al Amien Prenduan Sumenep Madura Jawa Timur sehingga setiap inovasi yang diterapkan dapat dijalankan dengan baik. Kiai memastikan bahwa murabbi memiliki kualitas dan kualifikasi yang sesuai untuk mendukung program-program baru. Dengan fokus pada peningkatan kualitas bacaan dan hafalan Al-Qur’an, inovasi ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih produktif dan mendukung perkembangan spiritual dan akademis santri. Meskipun inovasi Kiai membawa perubahan positif dalam pengelolaan pendidikan, tantangan tetap ada dalam hal dokumentasi dan pelaksanaan. Beberapa inovasi yang diterapkan belum sepenuhnya terintegrasi dalam sistem yang terdokumentasi dengan baik, yang dapat menghambat evaluasi dan perbaikan lebih lanjut. Oleh karena itu, penting bagi Kiai dan seluruh pengelola pesantren untuk terus melakukan evaluasi dan perbaikan terhadap inovasi yang telah diterapkan. Dengan demikian, pesantren dapat memastikan bahwa inovasi yang dilakukan benar-benar memberikan manfaat maksimal bagi perkembangan pendidikan santri dan tetap relevan dengan kebutuhan zaman. Adapun formulasi inovasi ini melalui tahap sebagai berikut: a. Tahap Perencanaan Program Pendidikan di Pondok Tahap perencanaan program pendidikan di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan adalah langkah awal yang sangat penting untuk menjamin pelaksanaan kegiatan secara terstruktur Proses perencanaan (Planning) melibatkan persiapan kegiatan secara sistematis melalui pertemuan dengan berbagai pihak yang terlibat dalam pembinaan pondok pesantren. Tujuan dari tahap perencanaan ini adalah untuk menetapkan sasaran yang ingin dicapai. Dalam konteks ini, pimpinan pondok pesantren bersama dengan Pembina Tahfidz Utama dan para murabbi bertanggung jawab untuk merancang program Pondok, guna memastikan bahwa program tersebut dapat dilaksanakan dengan sukses.24 Dalam proses ini, perencanaan dilakukan melalui rapat-rapat dengan para pembina pondok yang biasanya diadakan pada pertengahan tahun ajaran Rapat ini melibatkan pimpinan pesantren, Pembina Utama, dan murabbi, di mana mereka bersama-sama menetapkan tujuan program yang akan dilaksanakan. Hasil dari rapat-rapat tersebut digunakan sebagai panduan utama dalam pelaksanaan program pendidikan, sehingga memastikan setiap langkah yang diambil sesuai dengan visi dan misi pondok. Menurut Sumarsi Anwar, pengelolaan program yang profesional dimulai dengan perencanaan (planning) Semua aspek, termasuk visi, misi, tujuan, target, dan strategi pendidikan, harus dirumuskan dengan jelas. Dengan adanya arahan Abdul Hakim dan N Hani Herlina, “Manajemen Kurikulum Terpadu di Pondok Pesantren Modern Daarul Huda Banjar,” Jurnal Penelitian Pendidikan Islam 6, no 1 (31 Mei 2018): 111, https://doiorg/1036667/jppiv6i1157 24 Indonesian Journal of Islamic and Social Science Vol. 3 No 1, Juni, 2025: 63-81 71 Nawari, Hasyim Asy’ari, Ashari : Inovasi Kiai Dalam Pengelolaan Pendidikan Pesantren Al Amien Prenduan Sumenep Madura Jawa Timur dan tujuan yang terdefinisi dengan baik, para pengelola akan lebih mudah dalam mengimplementasikan program kerja yang telah dirancang.25 Namun, meskipun rapat perencanaan dilakukan secara resmi, terdapat kelemahan dalam aspek dokumentasi. Tidak adanya dokumentasi tertulis atau daftar hadir dari rapat-rapat tersebut menjadi kendala dalam pencatatan hasil rapat yang kemudian berpengaruh pada pelaksanaan program. Hasil rapat yang hanya dicatat secara observasional mengakibatkan kurangnya rujukan yang dapat digunakan untuk evaluasi dan tindak lanjut. Ketiadaan dokumentasi ini juga mengurangi akuntabilitas dan transparansi dalam proses perencanaan, yang seharusnya menjadi fondasi kuat untuk pelaksanaan program pendidikan. Di samping itu, perencanaan program pendidikan di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan tidak memiliki jadwal tetap dan sering kali dilakukan berdasarkan kebutuhan mendesak. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun perencanaan penting, namun tidak selalu menjadi prioritas yang konsisten setiap tahun ajaran. Keterlibatan pihak-pihak seperti pimpinan, Pembina Utama, dan murabbi sangat penting, namun idealnya seluruh unsur pondok harus terlibat dalam proses perencanaan Keterlibatan yang lebih luas akan memastikan bahwa berbagai perspektif dan kebutuhan diperhitungkan, sehingga program yang dirancang dapat berjalan lebih komprehensif dan efektif. b. Tahap Pengorganisasian Program pendidikan di Pondok Pengorganisasian di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan penting untuk memastikan bahwa semua sumber daya digunakan dengan baik untuk mencapai tujuan pendidikan. Proses ini melibatkan penggunaan semua sumber daya yang ada untuk mencapai rencana yang telah ditetapkan. Ini termasuk menetapkan tugas, membagi tanggung jawab, dan menentukan siapa yang bertanggung jawab untuk menyelesaikan setiap tugas.26 Proses ini melibatkan penugasan dan pembagian tugas di antara para murabbi, yang bertanggung jawab membimbing santri dalam halaqah-halaqah yang telah dibentuk. Meskipun jumlah murabbi yang tersedia masih terbatas, mereka tetap berupaya keras untuk menjalankan tugas mereka dengan baik. Setiap murabbi memimpin satu halaqah, meskipun beban kerja ini cukup berat karena jumlah santri yang harus dibimbing cukup banyak. Tantangan ini menunjukkan bahwa pengorganisasian yang baik sangat diperlukan untuk memastikan program pendidikan berjalan dengan efektif. Selain menugaskan murabbi, pengorganisasian di Pondok Pesantren AlAmien melibatkan pembentukan struktur pembinaan dan koordinasi antara Sumarsih Anwar, “Penyelenggaraan Pendidikan Takhfidzul Qur’an Pada Anak Usia Sekolah Dasar Di Pondok Pesantren Nurul Iman Kota Tasikmalaya,” EDUKASI: Jurnal Penelitian Pendidikan Agama dan Keagamaan 15, no 2 (31 Agustus 2017), https://doiorg/1032729/edukasiv15i2171 26 Untari, Titin "Implementasi Penjaminan Mutu Pendidikan Untuk Meningkatkan Mutu Pembelajaran" Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Berkemajuan dan Menggembirakan (The Progressive & Fun Education Seminar) ke-2, 2017http://hdlhandlenet/11617/9595 25 Indonesian Journal of Islamic and Social Science Vol. 3 No 1, Juni, 2025: 63-81 72 Nawari, Hasyim Asy’ari, Ashari : Inovasi Kiai Dalam Pengelolaan Pendidikan Pesantren Al Amien Prenduan Sumenep Madura Jawa Timur pimpinan, Pembina, dan murabbi Pimpinan pesantren tidak hanya menjalankan fungsi manajerial tetapi juga berperan sebagai murabbi untuk membantu mengatasi kekurangan jumlah pembimbing. Keterbatasan fasilitas dan sarana menambah beban kerja murabbi dan dapat mempengaruhi kualitas pembinaan. Pengelompokan santri dalam halaqah memerlukan perhatian agar setiap santri mendapatkan bimbingan sesuai kebutuhan. Pengorganisasian bertujuan untuk mengumpulkan dan mengatur semua sumber daya, termasuk tenaga manusia, sehingga pekerjaan dapat dilaksanakan secara efektif dan sukses.27 Pengorganisasian ini juga mencakup pemisahan aktivitas antara santri putra dan putri, yang dilakukan untuk menjaga keteraturan dan kenyamanan dalam menjalankan program. Pemisahan lokasi aktivitas ini menunjukkan betapa pentingnya pengaturan yang hati-hati dalam memastikan program berjalan lancar. Di sisi lain, keterbatasan waktu dan sumber daya manusia menjadi tantangan yang perlu diatasi dengan peningkatan koordinasi dan kerjasama antara semua pihak yang terlibat. Hubungan yang baik antara pimpinan dan murabbi menjadi kunci dalam mengatasi hambatan-hambatan ini dan memastikan bahwa program pendidikan di Pondok Pesantren Al-Amien dapat terlaksana dengan sukses. c. Tahap Pelaksanaan Program pendidikan di Pondok Di Pondok Pesantren Al-Amien, proses seleksi bagi santri baru dimulai dengan tes bacaan Al-Qur'an untuk mengukur kemampuan dasar yang dimiliki Setelah melalui seleksi ini, santri baru diwajibkan mengikuti program peningkatan bacaan (fashahah) selama satu tahun Program ini berfokus pada metode Tahsin dan Bin Nadzar, yang bertujuan memastikan setiap santri memiliki pemahaman yang kuat terhadap bacaan Al-Qur'an sesuai dengan kaidah tajwid sebelum melanjutkan ke tahap menghafal. Pelaksanaan program dimulai pada awal tahun ajaran baru, dengan murabbi yang berkonsentrasi mengajarkan tajwid yang benar kepada santri baru Pada tahun pertama, program lebih menekankan pada penyempurnaan tajwid tanpa memberikan target hafalan Al-Qur'an Namun, bagi santri yang menunjukkan perkembangan signifikan, izin diberikan untuk memulai menghafal lebih awal dari jadwal yang direncanakan, meskipun program tahsin masih berlangsung. Meskipun program berjalan sesuai rencana, santri sering kali mengalami kesulitan mencapai target hafalan yang diharapkan karena harus membagi perhatian antara kegiatan menghafal Al-Qur'an dan pendidikan formal di madrasah. Akibatnya, jumlah juz hafalan yang berhasil dicapai saat kelulusan sering kali kurang dari yang ditargetkan. Hal ini menjadi tantangan utama dalam memastikan keberhasilan program hafalan di Pondok Pesantren Al-Amien. Ahmad Almafahir dan Ari Alpiansyah, “Manajemen Pembinaan Akhlak Peserta Didik Di Madrasah Ibtidaiyah,” SITTAH: Journal of Primary Education 2, no 2 (30 Oktober 2021): 175– 88, https://doiorg/1030762/sittahv2i23402 27 Indonesian Journal of Islamic and Social Science Vol. 3 No 1, Juni, 2025: 63-81 73 Nawari, Hasyim Asy’ari, Ashari : Inovasi Kiai Dalam Pengelolaan Pendidikan Pesantren Al Amien Prenduan Sumenep Madura Jawa Timur d. Tahap Pengawasan Program pendidikan di Pondok Pengawasan dalam program pendidikan di Pondok Pesantren Al-Amien merupakan langkah penting untuk memastikan bahwa pelaksanaan program sesuai dengan visi, misi, dan tujuan yang telah ditetapkan. Pengawasan ini mencakup berbagai bentuk seperti supervisi, inspeksi, dan evaluasi yang bertujuan mendeteksi dini adanya penyimpangan pada tahap perencanaan, pelaksanaan, maupun pengorganisasian. Dengan pengawasan yang ketat, pondok pesantren dapat dengan cepat melakukan koreksi dan penyesuaian terhadap program, sehingga program yang berjalan tetap relevan dengan kondisi dan perkembangan yang terjadi. Di pondok pesantren, pimpinan secara konsisten melakukan pengawasan terhadap aktivitas santri. Pembina pondok memantau kegiatan sehari-hari santri, termasuk perilaku, pelaksanaan ibadah shalat, dan proses hafalan Menurut Sumarsi, sebuah lembaga pendidikan memerlukan tidak hanya pengawasan tetapi juga pengendalian Pengawasan memberikan saran, sementara pengendalian melibatkan tindakan nyata untuk menindaklanjuti saran tersebut.28 Fokus utama dalam pengawasan ini adalah peran murabbi, santri, dan proses evaluasi. Murabbi diharapkan tidak hanya kompeten dalam hafalan AlQur'an dan penguasaan bahasa asing, tetapi juga mampu menjadi panutan dan motivator bagi santri. Sementara itu, santri di tingkat Tsanawiyah dan Aliyah menghadapi target hafalan yang berbeda, di mana pencapaian hafalan ini sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik internal maupun eksternal. Evaluasi program dilakukan secara rutin oleh murabbi melalui penilaian harian dan juga melalui kegiatan tahunan seperti Porseni, yang bertujuan mengukur pencapaian dan kualitas hafalan santri. Namun, meskipun pengawasan telah dilakukan, terdapat kekurangan dalam dokumentasi dan pemanfaatan data evaluasi untuk pengembangan program di masa depan Evaluasi yang lebih menitikberatkan pada penilaian tahunan belum memberikan pedoman yang jelas untuk langkah preventif dalam perbaikan program. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan sistem evaluasi yang lebih komprehensif, sehingga hasil evaluasi dapat digunakan sebagai dasar untuk meningkatkan efektivitas program di pondok pesantren Al-Amien. 2. Hasil Implementasi Pengelolaan Pendidikan di Pesantren Al-Amien Prenduan Sumenep Madura Jawa Timur Korten menyatakan bahwa keberhasilan sebuah program bergantung pada tiga elemen kesesuaian. Pertama, kesesuaian antara program dan kelompok sasaran, yaitu apakah program memenuhi kebutuhan kelompok sasaran. Kedua, kesesuaian antara program dan organisasi pelaksana, yaitu apakah kemampuan organisasi sejalan dengan tuntutan program Ketiga, kesesuaian antara kelompok pemanfaat 28 Muhammedi, Muhammedi "Pelaksanaan pendidikan agama Islam dalam membina self control siswa (Studi kasus di SMA Swasta al-Azhar Plus Medan)" PhD diss, Pascasarjana UIN Sumatera Utara, 2014 Indonesian Journal of Islamic and Social Science Vol. 3 No 1, Juni, 2025: 63-81 74 Nawari, Hasyim Asy’ari, Ashari : Inovasi Kiai Dalam Pengelolaan Pendidikan Pesantren Al Amien Prenduan Sumenep Madura Jawa Timur dan organisasi pelaksana, yaitu apakah kelompok sasaran dapat memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh organisasi untuk mencapai hasil program.29 Dalam menilai efektivitas program pendidikan di Pondok Pesantren AlAmien, penting untuk memahami bagaimana kesesuaian antara berbagai unsur kunci mempengaruhi hasil yang dicapai Penelitian membaginya menjadi 3 hasil yaitu ; a. Kesesuaian antara program yang dirancang, kelompok sasaran, dan kapasitas organisasi pelaksana merupakan faktor utama yang menentukan keberhasilan sebuah program. Berdasarkan teori Korten, ketidaksesuaian dalam ketiga unsur ini dapat menghambat pencapaian hasil yang diharapkan, sehingga memastikan kesesuaian ini adalah langkah penting untuk mencapai tujuan program. b. Di Pondok Pesantren Al-Amien, meskipun metode pengelolaan pendidikan masih mengandalkan pendekatan tradisional dan kurang terstruktur, pembinaan dan penetapan kebijakan dilakukan secara fleksibel melalui rapat internal. Evaluasi program tidak dilakukan secara konsisten dan lebih bersifat ad hoc, mengikuti kebutuhan saat itu. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan antara perencanaan dan pelaksanaan, yang mengakibatkan hasil program tidak selalu memenuhi target yang diharapkan. c. Dalam hal output dan outcome program, pengukuran hasil dilakukan berdasarkan jumlah santri yang berhasil menghafal Al-Qur'an dan menguasai bahasa asing. Meskipun ada beberapa pencapaian yang memuaskan dalam hal hafalan, hasil program secara keseluruhan menunjukkan bahwa hanya sedikit santri yang mampu mencapai target hafalan 30 juz. Dampak sosial dari program ini, seperti kontribusi alumni sebagai imam shalat dan perubahan positif di masyarakat, menunjukkan hasil yang baik, meskipun pencapaian dalam hal jumlah hafalan masih perlu diperbaiki untuk memenuhi target program. 3. Faktor Pendukung dan Penghambat Pengelolaan Pendidikan di Pesantren Al Amien Prenduan Sumenep Madura Jawa Timur Dalam pengelolaan program pendidikan di Pondok Pesantren Al-Amien. Prenduan Sumenep, Madura, terdapat dua faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan dan efektivitas program: faktor pendukung dan faktor penghambat. Memahami kedua faktor ini adalah kunci untuk menilai dan mengoptimalkan pelaksanaan program Faktor pendukung meliputi elemen-elemen yang berkontribusi pada kemudahan pelaksanaan dan pencapaian tujuan program, seperti kehadiran murabbi yang kompeten dan dukungan lingkungan belajar yang positif. Sebaliknya, faktor penghambat mencakup tantangan-tantangan yang dapat menghalangi pencapaian hasil yang diinginkan, seperti kekurangan jumlah murabbi dan masalah motivasi santri. Setiap program dihadapkan pada dua jenis faktor utama: faktor pendukung dan faktor penghambat atau kendala yang perlu diatasi Hal ini juga berlaku untuk program Pondok di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan Sumenep Madura Jawa 29 Haedar Akib, “Implementasi Kebijakan: Apa, Mengapa dan Bagaimana,” Jurnal Ilmiah Ilmu Administrasi Publik 1, no 1 (15 Maret 2012): 1, https://doiorg/1026858/jiapv1i1289 Indonesian Journal of Islamic and Social Science Vol. 3 No 1, Juni, 2025: 63-81 75 Nawari, Hasyim Asy’ari, Ashari : Inovasi Kiai Dalam Pengelolaan Pendidikan Pesantren Al Amien Prenduan Sumenep Madura Jawa Timur Timur Ali Akbar dan Hidayatullah Ismail menjelaskan bahwa dalam kegiatan kepesantrenan, ada berbagai elemen yang memengaruhi, baik yang membantu maupun yang menghalangi santri.30 Penting untuk melakukan analisis mendalam terhadap kedua jenis faktor ini agar program pendidikan di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan dapat diatur dengan lebih efektif Faktor pendukung seperti metode pengajaran yang efisien dan dukungan orang tua sangat penting untuk menciptakan kondisi yang kondusif bagi santri Sementara itu, mengidentifikasi dan mengatasi faktor penghambat, seperti kemalasan dan pengaturan waktu yang buruk, akan membantu dalam meningkatkan kualitas dan hasil dari program pendidikan. Memahami dan menangani faktorfaktor ini akan berkontribusi pada peningkatan efektivitas dan keberhasilan program pendidikan di pesantren tersebut. Berikut adalah poin-poin penting terkait faktor-faktor tersebut : a. Faktor Pendukung: 1) Kehadiran Murabbi Kompeten: Murabbi yang berkompeten dan berasal dari alumni pesantren berperan penting dalam menjaga kualitas bacaan dan hafalan santri. 2) Motivasi Bersama: Lingkungan belajar yang mendukung serta teman-teman yang juga aktif menghafal memberikan dorongan tambahan untuk mencapai tujuan. 3) Metode Pengajaran yang Efektif: Penggunaan metode hafalan yang terstruktur dan terjadwal membantu dalam mencapai target hafalan 4) Dukungan Orang Tua: Dukungan dari orang tua memberikan motivasi untuk berkomitmen pada program pendidikan di pesantren. b. Faktor Penghambat: 1) Kekurangan Murabbi: Jumlah murabbi yang tidak mencukupi mengurangi efektivitas bimbingan dan pengawasan. 2) Motivasi dan Niat Santri: Kurangnya niat tulus dalam proses menghafal dapat menghambat kemajuan. 3) Kemalasan dan Ketidaksabaran: Kemalasan dan ketidaksabaran dapat mengganggu proses belajar dan pencapaian hafalan. 4) Pengaturan Waktu yang Buruk: Ketidakmampuan dalam mengatur waktu secara efektif menghambat pencapaian target hafalan. PENUTUP 1. Formulasi Inovasi Kiai Dalam Pengelolaan Pendidikan di Pesantren Al Amien Prenduan Sumenep Madura Jawa Timur dibagi menjadi 4 tahap, yaitu: 1) Perencanaan adalah tahap awal dari sebuah program yang dilakukan sebagai persiapan untuk pelaksanaan kegiatan, dengan tujuan agar kegiatan tersebut Ali Akbar dan Hidayatullah Ismail, “Metode Pembelajaran Kitab Kuning Di Pondok Pesantren Daarun Nahdhah Thawalib Bangkinang,” Al-Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman 17, no 1 (3 Juli 2018): 21, https://doiorg/1024014/afv17i15139 30 Indonesian Journal of Islamic and Social Science Vol. 3 No 1, Juni, 2025: 63-81 76 Nawari, Hasyim Asy’ari, Ashari : Inovasi Kiai Dalam Pengelolaan Pendidikan Pesantren Al Amien Prenduan Sumenep Madura Jawa Timur dapat berjalan secara terstruktur Proses perencanaan dilakukan melalui rapat antara pembina Pondok Pesantren untuk menetapkan tujuan program yang ingin dicapai; 2) Pengorganisasian adalah proses yang melibatkan pemanfaatan semua sumber daya yang ada untuk mencapai rencana dan tujuan yang telah ditetapkan Ini mencakup penugasan sumber daya, pembagian tugas secara spesifik sebagai tanggung jawab kolektif, dan penetapan siapa yang bertanggung jawab untuk menyelesaikan tugas tertentu; 3) Pelaksanaan Program Pondok di Pondok Pesantren Al-Amien berlangsung sesuai dengan rencana Namun, dari segi kuantitas, jumlah juz hafalan santri pada saat tamat masih jauh dari target dan tujuan yang diharapkan Selain mengikuti program tahsin dan bahasa asing, santri juga menjalani pendidikan formal di madrasah pada tingkat Tsanawaiyah dan Aliyah 4) Pengawasan untuk memastikan bahwa pelaksanaan program sesuai dengan visi, misi, aturan, dan rencana kerja, diperlukan pengawasan yang mencakup supervisi, pemantauan, inspeksi, hingga audit. Meskipun istilahistilah tersebut memiliki makna yang berbeda, yang penting adalah mengidentifikasi penyimpangan sejak awal, baik dalam tahap perencanaan, pelaksanaan, maupun pengorganisasian. 2. Hasil Implementasi Pengelolaan Pendidikan di Pesantren Al-Amien Prenduan Sumenep Madura Jawa Timur mengarah pada maksud output dan outcome dari tujuan pengadaan pendidikan di pesantren melalui 1) Output yang diharapkan adalah melahirkan sejumlah alumni yang dapat menghafal hingga 30 juz dalam setahun dan menguasai bahasa asing (Arab dan Inggris) dengan baik Dengan pencapaian tersebut, program Tahsin di pondok pesantren dapat dianggap berhasil; 2) Outcome dari Pondok Pesantren Al-Amien adalah mendapatkan penilaian positif dari masyarakat Keberadaan Pondok Pesantren Al-Amien memberikan dampak signifikan di lingkungan sekitarnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, terutama dalam hal kualitas bacaan al-Qur’an para alumni yang baik; Faktor Pendukung dan Penghambat Pengelolaan Pendidikan di Pesantren Al-Amien Prenduan Sumenep Madura Jawa Timur diantaranya: 1) Faktor pendukung meliputi; Pembimbing Pondok (Murabbi) yang berkompeten, orang tua atau wali santri, serta kondisi jasmani (kesehatan fisik dan psikologis); 2) Faktor penghambat meliputi; Kurangnya Pembimbing (Murabbi), Niat Bukan Karena Allah, Rasa Malas, Ketidak Sabaran, dan Tidak Bisa Mengatur Waktu. DAFTAR PUSTAKA Abdul Hakim dan N Hani Herlina, “Manajemen Kurikulum Terpadu di Pondok Pesantren Modern Daarul Huda Banjar,” Jurnal Penelitian Pendidikan Islam 6, no 1 (31 Mei 2018): 111, https://doiorg/1036667/jppiv6i1157 Aisyah, Siti, Munaya Ulil Ilmi, Muhammad Amirudin Rosyid, Eni Wulandari, dan Fandi Akhmad. “Kiai Leadership Concept in The Scope of Pesantren Organizational Culture.” Tafkir: Interdisciplinary Journal of Islamic Indonesian Journal of Islamic and Social Science Vol. 3 No 1, Juni, 2025: 63-81 77 Nawari, Hasyim Asy’ari, Ashari : Inovasi Kiai Dalam Pengelolaan Pendidikan Pesantren Al Amien Prenduan Sumenep Madura Jawa Timur Education 3, no. 1 (29 Januari 2022): 40–59. https://doi.org/10.31538/tijie.v3i1.106. Akbar, Ali, dan Hidayatullah Ismail. “Metode Pembelajaran Kitab Kuning Di Pondok Pesantren Daarun Nahdhah Thawalib Bangkinang.” Al-Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman 17, no. 1 (3 Juli 2018): 21. https://doi.org/10.24014/af.v17i1.5139. Akib, Haedar. “Implementasi Kebijakan: Apa, Mengapa dan Bagaimana.” Jurnal Ilmiah Ilmu Administrasi Publik 1, no. 1 (15 Maret 2012): 1. https://doi.org/10.26858/jiap.v1i1.289. Almafahir, Ahmad, dan Ari Alpiansyah. “Manajemen Pembinaan Akhlak Peserta Didik Di Madrasah Ibtidaiyah.” Sittah: Journal of Primary Education 2, no. 2 (30 Oktober 2021): 175–88. https://doi.org/10.30762/sittah.v2i2.3402. Anwar, Sumarsih. “Penyelenggaraan Pendidikan Takhfidzul Qur’an Pada Anak Usia Sekolah Dasar Di Pondok Pesantren Nurul Iman Kota Tasikmalaya.” EDUKASI: Jurnal Penelitian Pendidikan Agama dan Keagamaan 15, no. 2 (31 Agustus 2017). https://doi.org/10.32729/edukasi.v15i2.171. Ashari, dan Zakariyah. “Peran Kepala Madrasah Sebagai Educator Untuk Meningkatkan Kompetensi Profesional Guru Di MBI Amanatul Ummah Pacet Mojokerto.” Indonesian Journal of Islamic and Social Science 2, no. 1 (17 Juni 2024): 1–15. Budiyanti, Nurti, Nurwadjah Ahmad, Andewi Suhartini, dan Muhamad Parhan. “The Development of Post-Modern Islamic Boarding Schools (Case Study at IHAQI Creative Pesantren in Bandung).” QALAMUNA: Jurnal Pendidikan, Sosial, dan Agama 13, no. 1 (31 Mei 2021): 73–84. https://doi.org/10.37680/qalamuna.v13i1.584. Darwisyah, Darwisyah, Kemas Imron Rosadi, dan Hapzi Ali. “Berfikir Kesisteman Dalam Perencanaan Dan Pengembangan Pendidikan Islam.” Jurnal Manajemen Pendidikan Dan Ilmu Sosial 2, no. 1 (9 Maret 2021): 225–37. https://doi.org/10.38035/jmpis.v2i1.444. Edimizwar, dan Mawaddatur Rahmah. “Manajemen Sarana Dan Prasarana Dalam Menunjang Proses Pembelajaran Di Dayah Tauthiatuth Thullab Arongan Putri.” Indonesian Journal of Islamic and Social Science 1, no. 1 (25 Juni 2023): 49–56. https://doi.org/10.71025/9mfdjr91. Hakim, Abdul, dan N. Hani Herlina. “Manajemen Kurikulum Terpadu di Pondok Pesantren Modern Daarul Huda Banjar.” Jurnal Penelitian Pendidikan Islam 6, no. 1 (31 Mei 2018): 111. https://doi.org/10.36667/jppi.v6i1.157. Jailani, Mohammad. “Meneguhkan Inovasi Pendidikan Dalam Diskursus AlQur’an: Kebermanfaatannya Di Sekolah-Madrasah Di Indonesia.” Tanzil: Jurnal Studi Al-Quran 5, no. 2 (12 April 2023): 151–70. https://doi.org/10.20871/tjsq.v5i2.252. Khadijatul Musanna dkk, Cannabis Seeds as a Culinary Ingredient:: A Sociological Study of the Acehnese Community, SHAHIH: Journal of Islamicate Multidisciplinary, Vol.2, No.9, 2024 Khadijatul Musanna, Fahmi Makraja, Fitri Yanti, Maqasid : Jurnal Studi Hukum Islam, Vol.13, No. 2, 2024, Indonesian Journal of Islamic and Social Science Vol. 3 No 1, Juni, 2025: 63-81 78 Nawari, Hasyim Asy’ari, Ashari : Inovasi Kiai Dalam Pengelolaan Pendidikan Pesantren Al Amien Prenduan Sumenep Madura Jawa Timur Maghfiroh, Anisatul, Fifi Indriyaningsih, Gunar, Fauzan Rasyid Ikhwan, dan Muhammad Samsul Anam. “Sistem Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Secara Offline Dan Online Di TK Bhinneka II Nogosari Trirenggo Bantul.” Indonesian Journal of Islamic and Social Science 2, no. 2 (25 Desember 2024): 136–46. https://doi.org/10.71025/1w250q90. Mizwar, Edi, Habiburrahim, dan Silahuddin. “Pemanfaatan Media Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Di SMP Negeri 1 Peusangan Siblah Krueng Kabupaten Bireuen.” Indonesian Journal of Islamic and Social Science 2, no. 2 (25 Desember 2024): 92–105. https://doi.org/10.71025/9ncyhf93. Nabila, Nabila. “Tujuan Pendidikan Islam.” Jurnal Pendidikan Indonesia 2, no. 5 (25 Mei 2021): 867–75. https://doi.org/10.36418/japendi.v2i5.170. Saifuddin, Diana, dan Liza Mutia. “Integrasi Sistem Pendidikan Dayah Darussa’adahcot Tarom Baroh Melalui Madrasah.” Indonesian Journal of Islamic and Social Science 1, no. 1 (20 Juni 2023): 11–21. https://doi.org/10.71025/cgnd4854. Saputra, Edi, dan Rahmatina Aulia. “Penerapan Kurikulum Merdeka Pada Mata Pelajaran Fiqih Kelas IV A Di MIN 9 Bireuen.” Indonesian Journal of Islamic and Social Science 1, no. 1 (22 Juni 2023): 22–35. https://doi.org/10.71025/c0zxf168. Umam, Wafiqul. “Kepemimpinan Kiai dalam Mengembangkan Pondok Pesantren.” Attractive : Innovative Education Journal 2, no. 3 (12 November 2020): 61. https://doi.org/10.51278/aj.v2i3.60. Wijaya, Asep, Muhammad Wali Ismady, dan Rosdiana. “Analisis Pengukuran Kompetensi Pendidikan Profesi Guru Dalam Jabatan.” Indonesian Journal of Islamic and Social Science 2, no. 2 (25 Desember 2024): 67–79. https://doi.org/10.71025/hepjer05. Ahmad Almafahir dan Ari Alpiansyah, “Manajemen Pembinaan Akhlak Peserta Didik Di Madrasah Ibtidaiyah,” SITTAH: Journal of Primary Education 2, no 2 (30 Oktober 2021): 175–88, https://doiorg/1030762/sittahv2i23402 Ali Akbar dan Hidayatullah Ismail, “Metode Pembelajaran Kitab Kuning Di Pondok Pesantren Daarun Nahdhah Thawalib Bangkinang,” Al-Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman 17, no 1 (3 Juli 2018): 21, https://doiorg/1024014/afv17i15139 Aziizu, Burhan Yusuf Abdul "Tujuan besar pendidikan adalah tindakan" Prosiding Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat 2, no 2 (2015) https://doiorg/1031004/jpdkv4i69498 Baidlawi, H Moh "Modernisasi Pendidikan Islam (Telaah Atas Pembaharuan Pendidikan di Pesantren)" TADRIS: Jurnal Pendidikan Islam 1, no 2 (2006) Darwisyah Darwisyah, Kemas Imron Rosadi, dan Hapzi Ali, “Berfikir Kesisteman Dalam Perencanaan Dan Pengembangan Pendidikan Islam,” Jurnal Manajemen Pendidikan Dan Ilmu SOSIAL 2, no 1 (9 Maret 2021): 225–37, https://doiorg/1038035/jmpisv2i1444 Indonesian Journal of Islamic and Social Science Vol. 3 No 1, Juni, 2025: 63-81 79 Nawari, Hasyim Asy’ari, Ashari : Inovasi Kiai Dalam Pengelolaan Pendidikan Pesantren Al Amien Prenduan Sumenep Madura Jawa Timur Haedar Akib, “Implementasi Kebijakan: Apa, Mengapa dan Bagaimana,” Jurnal Ilmiah Ilmu Administrasi Publik 1, no 1 (15 Maret 2012): 1, https://doiorg/1026858/jiapv1i1289 https://doiorg/1019105/tjpiv1i2198 Justan, Rahmat, Margiono Margiono, Abdul Aziz, and Sumiati Sumiati "Penelitian Kombinasi (Mixed Methods)" ULIL ALBAB: Jurnal Ilmiah Multidisiplin 3, no 2 (2024): 253-263 https://doiorg/1056799/jimv3i22772 Mohammad Jailani, “Meneguhkan Inovasi Pendidikan Dalam Diskursus AlQur’an: Kebermanfaatannya Di Sekolah-Madrasah Di Indonesia,” Tanzil: Jurnal Studi Al-Quran 5, no 2 (12 April 2023): 151–70, https://doiorg/1020871/tjsqv5i2252 Muhammedi, Muhammedi "Pelaksanaan pendidikan agama Islam dalam membina self control siswa (Studi kasus di SMA Swasta al-Azhar Plus Medan)" PhD diss, Pascasarjana UIN Sumatera Utara, 2014 Nabila Nabila, “Tujuan Pendidikan Islam,” Jurnal Pendidikan Indonesia 2, no 5 (25 Mei 2021): 867–75, https://doiorg/1036418/japendiv2i5170 Nurti Budiyanti dkk, “The Development of Post-Modern Islamic Boarding Schools (Case Study at IHAQI Creative Pesantren in Bandung),” QALAMUNA: Jurnal Pendidikan, Sosial, dan Agama 13, no 1 (31 Mei 2021): 73–84, https://doiorg/1037680/qalamunav13i1584 Pahleviannur, Muhammad Rizal, Anita De Grave, Dani Nur Saputra, Dedi Mardianto, Lis Hafrida, Vidriana Oktoviana Bano, Eko Edy Susanto et al Metodologi Penelitian Kualitatif Semarang: Pradina Pustaka, 2022 Putri, Ardianti Yunita, Elia Mariza, and Alimni Alimni "Pesantren Sebagai Lembaga Pendidikan Islam (Sejarah Lahirnya Pesantren Sebagai Lembaga Pendidikan Islam Di Indonesia, Sejarah Perkembangan Pesantren/Sistem Pendidikan, Dan Perkembangannya Masa Kini)" Innovative: Journal Of Social Science Research 3, no 2 (2023): 6684-6697 https://doiorg/1031004/innovativev3i21140 Siti Aisyah dkk, “Kiai Leadership Concept in The Scope of Pesantren Organizational Culture,” Tafkir: Interdisciplinary Journal of Islamic Education 3, no 1 (29 Januari 2022): 40–59, https://doiorg/1031538/tijiev3i1106 Sumarsih Anwar, “Penyelenggaraan Pendidikan Takhfidzul Qur’an Pada Anak Usia Sekolah Dasar Di Pondok Pesantren Nurul Iman Kota Tasikmalaya,” EDUKASI: Jurnal Penelitian Pendidikan Agama dan Keagamaan 15, no 2 (31 Agustus 2017), https://doiorg/1032729/edukasiv15i2171 Syafe'i, Imam "Pondok pesantren: Lembaga pendidikan pembentukan karakter" AlTadzkiyyah: Jurnal Pendidikan Islam 8, no 1 (2017): 61-82 Umam, Wafiqul "Kepemimpinan Kiai dalam Mengembangkan Pondok Pesantren" Attractive: Innovative Education Journal 2, no 3 (2020): 61-69 http://dxdoiorg/1051278/ajv2i360 Indonesian Journal of Islamic and Social Science Vol. 3 No 1, Juni, 2025: 63-81 80 Nawari, Hasyim Asy’ari, Ashari : Inovasi Kiai Dalam Pengelolaan Pendidikan Pesantren Al Amien Prenduan Sumenep Madura Jawa Timur Untari, Titin "Implementasi Penjaminan Mutu Pendidikan Untuk Meningkatkan Mutu Pembelajaran" Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Berkemajuan dan Menggembirakan (The Progressive & Fun Education Seminar) ke-2, 2017http://hdlhandlenet/11617/9595 Wafiqul Umam, “Kepemimpinan Kiai dalam Mengembangkan Pondok Pesantren,” Attractive : Innovative Education Journal 2, no 3 (12 November 2020): 61, https://doiorg/1051278/ajv2i360 Wahyuni, Eka, Imam Nawawi, Rukiah Lubis, Erningsih Erningsih, Afriana Afriana, Liza Husnita, Tomi Arianto et al Inovasi Pendidikan Dan Pembelajaran Bandung: CV Gita Lentera, 2023 Indonesian Journal of Islamic and Social Science Vol. 3 No 1, Juni, 2025: 63-81 81