Jurnal Riset Sistem Informasi Dan Teknik Informatika (JURASIK) Volume 11. Nomor 1. Februari 2026, pp 21-29 Terakreditasi Nomor 204/E/KPT/2022 | ISSN: 2527-5771/EISSN: 2549-7839 https://tunasbangsa. id/ejurnal/index. php/jurasik Analisis Faktor Multivariat Untuk Mengidentifikasi Penyebab Stress Pada Tenaga Kesehatan Fannisha Aura Rifqo1. Dalfa Zakiah2. Dhea Amila Sholihat3. Tarman4* 1,2,3,4 STT Wastukancana. Purwakarta. Indonesia Email: fannishaaura49@wastukancana. id1, dalfazakiah36@wastukancana. dheaamila41@wastukancana. id3, tarman@wastukancana. Abstract This study aims to identify and analyze multivariate factors contributing to psychological stress and burnout among healthcare workers using a quantitative approach. Structural Equation Modeling (SEM) was employed to examine the relationships between job-related factors and psychological outcomes, where workload, social support, and work environment conditions were treated as independent variables, while psychological stress and burnout served as dependent variables. Data were collected from 40 healthcare workers using a structured questionnaire with a five-point Likert scale and analyzed using Partial Least SquaresAeStructural Equation Modeling (PLS-SEM). The results indicate that workload has a positive and significant effect on psychological stress, suggesting that increasing job demands elevate stress levels among healthcare workers. Psychological stress was also found to significantly affect burnout, confirming its role as a key mediator between job demands and emotional exhaustion. In addition, work environment conditions demonstrate a significant direct effect on burnout, indicating that unfavorable physical and organizational environments contribute to chronic fatigue and disengagement. Conversely, social support does not show a significant effect on either psychological stress or burnout, which may be influenced by contextual factors or limitations in sample size. Overall, the findings indicate that job demands and work environment conditions are key factors contributing to psychological stress and burnout among healthcare workers, highlighting the need for organizational interventions focused on workload management and improvement of work environment quality. Keywords: Burnout. Psychological Stress. Social Support. Work Environment. SEM Abstrak Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan menganalisis faktor multivariat yang memengaruhi stres psikologis dan burnout pada tenaga kesehatan dengan pendekatan kuantitatif. Hubungan antara faktor pekerjaan dan kondisi psikologis diuji menggunakan SEM, dengan beban kerja, dukungan sosial, dan kondisi lingkungan kerja sebagai variabel independen, serta stres psikologis dan burnout sebagai variabel dependen. Data dikumpulkan dari 40 tenaga kesehatan melalui kuesioner terstruktur skala Likert 5 poin dan dianalisis menggunakan PLS-SEM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beban kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap stres psikologis, sehingga semakin tinggi tuntutan kerja, semakin tinggi tingkat stres. Stres psikologis juga terbukti berpengaruh signifikan terhadap burnout dan berperan sebagai mediator utama antara tuntutan kerja dan kelelahan emosional. Selain itu, kondisi lingkungan kerja berpengaruh langsung dan signifikan terhadap burnout, yang menandakan bahwa lingkungan kerja yang kurang kondusif dapat mempercepat kelelahan kronis. Sebaliknya, dukungan sosial tidak berpengaruh signifikan terhadap stres psikologis maupun burnout, yang diduga terkait keterbatasan sampel atau perbedaan persepsi responden. Secara keseluruhan, beban kerja dan kondisi lingkungan kerja merupakan faktor utama pemicu stres psikologis dan burnout, sehingga diperlukan intervensi organisasi yang berfokus pada pengelolaan beban kerja dan perbaikan lingkungan kerja. Kata kunci: Burnout. Dukungan Sosial. Lingkungan Kerja. Stres Psikologis. SEM Analisis Faktor Multivariat Untuk Mengidentifikasi Penyebab Stress (Fannisha Aura Rifq. Jurnal Riset Sistem Informasi Dan Teknik Informatika (JURASIK) Volume 11. Nomor 1. Februari 2026, pp 21-29 Terakreditasi Nomor 204/E/KPT/2022 | ISSN: 2527-5771/EISSN: 2549-7839 https://tunasbangsa. id/ejurnal/index. php/jurasik PENDAHULUAN Stres pada tenaga kesehatan merupakan masalah global yang semakin meningkat, terutama sejak pandemi COVID-19, akibat tingginya beban kerja, risiko infeksi, dan tekanan emosional dalam memberikan pelayanan kesehatan (World Health Organization, 2. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan mental tenaga kesehatan, tetapi juga menurunkan kualitas pelayanan dan kinerja sistem kesehatan secara keseluruhan. Stres yang berlangsung secara kronis dapat berkembang menjadi burnout, depresi, serta penurunan produktivitas kerja . Di Indonesia, tenaga kesehatan seperti dokter dan perawat menghadapi tekanan kerja yang tinggi akibat jam kerja panjang, beban kerja berlebih, serta tuntutan emosional dalam menangani pasien, yang berpotensi memicu stres psikologis dan burnout . Faktor-faktor seperti konflik interpersonal, rendahnya dukungan sosial, serta perubahan regulasi kesehatan turut memperburuk kondisi tersebut, terutama pada masa krisis kesehatan . Fenomena ini tercermin dari meningkatnya kelelahan emosional, absensi kerja, serta menurunnya motivasi dan kepuasan kerja tenaga kesehatan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa stres dan burnout pada tenaga kesehatan dipengaruhi oleh interaksi kompleks antara beban kerja, dukungan sosial, dan kondisi lingkungan . Namun, sebagian besar studi sebelumnya masih menggunakan pendekatan univariat atau kualitatif sehingga belum mampu menjelaskan hubungan simultan antarvariabel secara komprehensif . Padahal, pemahaman multivariat sangat diperlukan untuk mengidentifikasi faktor dominan dan merancang intervensi yang lebih efektif berbasis bukti . Oleh karena itu, penelitian ini menawarkan kebaruan melalui penerapan pendekatan kuantitatif berbasis Structural Equation Modeling (SEM) untuk menganalisis pengaruh beban kerja, dukungan sosial, dan kondisi lingkungan kerja terhadap stres psikologis dan burnout pada tenaga kesehatan. Pendekatan SEM memungkinkan pengujian hubungan kausal secara simultan, baik hubungan langsung maupun tidak langsung antarvariabel. Dengan demikian, metode ini dinilai mampu memberikan pemahaman yang lebih komprehensif dibandingkan pendekatan analisis konvensional yang digunakan pada penelitian sebelumnya. Gambar 1. Model Konseptual Penelitian Berdasarkan landasan teori dan temuan empiris terdahulu, penelitian ini mengembangkan sebuah model konseptual yang menggambarkan hubungan antara beban kerja, dukungan sosial, dan kondisi lingkungan kerja terhadap stres Analisis Faktor Multivariat Untuk Mengidentifikasi Penyebab Stress (Fannisha Aura Rifq. Jurnal Riset Sistem Informasi Dan Teknik Informatika (JURASIK) Volume 11. Nomor 1. Februari 2026, pp 21-29 Terakreditasi Nomor 204/E/KPT/2022 | ISSN: 2527-5771/EISSN: 2549-7839 https://tunasbangsa. id/ejurnal/index. php/jurasik psikologis dan burnout pada tenaga kesehatan. Model konseptual penelitian disajikan pada Gambar 1. Dalam model tersebut, stres psikologis diposisikan sebagai variabel intervening yang memediasi pengaruh variabel eksogen terhadap Penelitian ini bertujuan untuk memberikan dasar empiris bagi pengembangan kebijakan dan intervensi organisasi dalam upaya menurunkan tingkat stres dan burnout serta meningkatkan kesejahteraan tenaga kesehatan. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian eksplanatori untuk menganalisis hubungan kausal antarvariabel laten yang diteliti. Jenis data yang digunakan adalah data primer yang diperoleh secara langsung dari responden melalui kuesioner terstruktur. Pendekatan kuantitatif dipilih karena mampu mengukur hubungan antarvariabel secara objektif dan mendukung pengujian hipotesis berbasis model statistik multivariat. Pendekatan serupa juga digunakan dalam penelitian kesehatan yang dipublikasikan pada Jurnal Sains dan Kesehatan, di mana hubungan antarvariabel dianalisis menggunakan kuesioner terstruktur dan teknik analitik observasional untuk menjelaskan keterkaitan antar konstruk penelitian . Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh tenaga kesehatan yang bekerja pada fasilitas pelayanan kesehatan di wilayah penelitian, yang mencakup dokter, perawat, bidan, tenaga farmasi, analis laboratorium, serta tenaga penunjang medis Penentuan populasi dilakukan untuk memastikan bahwa objek penelitian relevan dengan permasalahan stres psikologis dan burnout dalam konteks pelayanan kesehatan . Penelitian dilaksanakan pada fasilitas pelayanan kesehatan di Indonesia dengan periode pengumpulan data yang disesuaikan dengan ketersediaan responden. Sampel penelitian diambil sebagai representasi populasi dengan jumlah responden sebanyak 40 tenaga kesehatan. Teknik penentuan sampel menggunakan pendekatan non-probability sampling dengan metode purposive sampling, di mana responden dipilih berdasarkan kriteria tertentu, yaitu tenaga kesehatan yang aktif bekerja dan terlibat langsung dalam pelayanan pasien. Jumlah sampel tersebut mengikuti rekomendasi minimum untuk penelitian multivariat dan Structural Equation Modeling (SEM), yang menekankan kecukupan sampel untuk menjaga stabilitas estimasi parameter dan reliabilitas model . Teknik pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner dengan skala Likert lima poin, mulai dari 1 = sangat tidak setuju hingga 5 = sangat setuju. Kuesioner digunakan untuk mengukur lima variabel penelitian, yaitu beban kerja, dukungan sosial, kondisi lingkungan kerja, stres psikologis, dan burnout. Setiap variabel diukur menggunakan sejumlah indikator yang disusun berdasarkan kajian literatur dan penelitian terdahulu. Penggunaan skala Likert dipilih karena mampu merepresentasikan persepsi subjektif responden secara kuantitatif dan banyak digunakan dalam penelitian psikososial dan kesehatan kerja . Reliabilitas instrumen diuji menggunakan CronbachAos Alpha dengan nilai Ou 0,70 sebagai indikator reliabilitas yang memadai. Analisis Faktor Multivariat Untuk Mengidentifikasi Penyebab Stress (Fannisha Aura Rifq. Jurnal Riset Sistem Informasi Dan Teknik Informatika (JURASIK) Volume 11. Nomor 1. Februari 2026, pp 21-29 Terakreditasi Nomor 204/E/KPT/2022 | ISSN: 2527-5771/EISSN: 2549-7839 https://tunasbangsa. id/ejurnal/index. php/jurasik Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) untuk menguji hubungan struktural antarvariabel laten secara SEM dipilih karena mampu mengintegrasikan model pengukuran dan model struktural, serta mempertimbangkan kesalahan pengukuran dalam estimasi parameter . Analisis dilakukan melalui beberapa tahapan utama, meliputi pemeriksaan kualitas data, evaluasi validitas dan reliabilitas konstruk, pengujian model struktural, serta evaluasi kecocokan model. Indikator yang digunakan dalam evaluasi model meliputi nilai loading faktor. Average Variance Extracted (AVE). Composite Reliability (CR), koefisien jalur, nilai RA, serta indeks kecocokan model. Seluruh hasil analisis diinterpretasikan untuk menentukan dukungan empiris terhadap hipotesis penelitian dan menjelaskan implikasi teoretis serta praktis dari temuan yang diperoleh. HASIL DAN PEMBAHASAN Kuisioner penelitian disebarkan secara online kepada tenaga kesehatan, diperoleh 40 responden yang memenuhi kriteria sebagai sampel penelitian. Karakteristik responden dalam penelitian ini meliputi usia dan pekerjaan yang disajikan pada tabel berikut. Tabel 1. Karakteristik Responden Usia Jumlah Persentase < 20 tahun 20 Ae 25 tahun 31,8% 25 Ae 30 tahun 56,8% > 30 tahun 11,4% Pekerjaan Jumlah Persentase Perawat 47,7% Farmasi 31,8% Dokter 11,4% Bidan 9,1% Loading Factor Berdasarkan hasil loading factor untuk seluruh konstruk dalam model PLSSEM, dapat disimpulkan bahwa seluruh variabel penelitian telah memenuhi kriteria validitas konvergen. Seluruh indikator pada variabel Beban Kerja. Burnout. Dukungan Sosial. Kondisi Lingkungan, dan Stres Psikologis menunjukkan nilai loading factor Ou 0,70, sehingga setiap indikator mampu merefleksikan konstruknya secara konsisten dan akurat. Tidak ditemukan indikator yang memiliki nilai di bawah ambang batas minimal, sehingga tidak ada indikator yang perlu dieliminasi maupun direvisi dalam model. Dengan demikian, keseluruhan model pengukuran . easurement mode. dinyatakan valid dan reliabel secara awal, serta layak untuk dilanjutkan pada tahap analisis struktural . tructural model assessmen. Analisis Faktor Multivariat Untuk Mengidentifikasi Penyebab Stress (Fannisha Aura Rifq. Jurnal Riset Sistem Informasi Dan Teknik Informatika (JURASIK) Volume 11. Nomor 1. Februari 2026, pp 21-29 Terakreditasi Nomor 204/E/KPT/2022 | ISSN: 2527-5771/EISSN: 2549-7839 https://tunasbangsa. id/ejurnal/index. php/jurasik Tabel 2. Loding Factor Indikator Kuesioner Beban Kerja Burnout Dukungan Sosial Komdisi Lingkungan Stres Psikologis Uji Validitas dan Uji Reliabilitas Average Variance Extracted (AVE) digunakan untuk menilai validitas konvergen, yaitu kemampuan indikator-indikator dalam suatu konstruk laten dalam menjelaskan varians konstruk tersebut. Suatu konstruk dinyatakan memenuhi validitas konvergen apabila memiliki nilai AVE Ou 0,50, yang menunjukkan bahwa lebih dari 50% varians indikator dapat dijelaskan oleh konstruk laten (AuRecent Advances and Applications in Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM),Ay 2. Hasil pengujian AVE pada penelitian ini menunjukkan bahwa seluruh konstruk memiliki nilai AVE di atas 0,50, sehingga seluruh konstruk dinyatakan memenuhi kriteria validitas Analisis Faktor Multivariat Untuk Mengidentifikasi Penyebab Stress (Fannisha Aura Rifq. Jurnal Riset Sistem Informasi Dan Teknik Informatika (JURASIK) Volume 11. Nomor 1. Februari 2026, pp 21-29 Terakreditasi Nomor 204/E/KPT/2022 | ISSN: 2527-5771/EISSN: 2549-7839 https://tunasbangsa. id/ejurnal/index. php/jurasik Tabel 3. Uji Validitas Variabel Beban Kerja Burnout Kondisi Lingkungan Stres Psikologis Average variance extracted (AVE) Composite Reliability (CR) adalah ukuran reliabilitas yang paling sering digunakan dalam PLS-SEM karena dianggap lebih stabil dan representatif. Nilai CR diterima apabila Ou 0,70. Pada output penelitian, nilai CR seluruh konstruk berada pada rentang 0,863Ae0,959. Nilai tersebut menunjukkan bahwa seluruh konstruk memiliki reliabilitas yang sangat baik. menegaskan bahwa nilai CR antara 0,70Ae 0,95 menunjukkan tingkat reliabilitas yang sangat memadai. Tabel 4. Uji Reliabilitas Variabel Composite reliability Beban Kerja Burnout Kondisi Lingkungan Stres Psikologis Hasil Uji R-Square Hasil analisis koefisien determinasi menunjukkan bahwa variabel Burnout memiliki nilai R-square sebesar 0,556 dengan R-square adjusted sebesar 0,507. Nilai tersebut mengindikasikan bahwa sebesar 55,6% variasi Burnout dapat dijelaskan oleh variabel-variabel independen yang terdapat dalam model penelitian, sementara sisanya sebesar 44,4% dipengaruhi oleh faktor lain di luar Berdasarkan kriteria interpretasi yang dikemukakan oleh . , kemampuan prediktif model terhadap Burnout termasuk dalam kategori moderat atau cukup Selisih nilai R-square dan R-square adjusted yang relatif kecil menunjukkan bahwa model memiliki stabilitas yang baik meskipun mempertimbangkan jumlah prediktor dan ukuran sampel. Sementara itu, variabel Stres Psikologis memiliki nilai R-square sebesar 0,469 dan R-square adjusted sebesar 0,426. Hal ini menunjukkan bahwa sebesar 46,9% variasi Stres Psikologis dapat dijelaskan oleh variabel eksogen dalam model, sedangkan 53,1% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti. Mengacu pada kriteria . , nilai R-square tersebut termasuk dalam kategori lemah hingga moderat, namun tetap menunjukkan bahwa model memiliki kemampuan prediktif yang memadai dalam menjelaskan variabel Stres Psikologis. Tabel 5. R-Square Variabel R-square R-square adjusted Burnout Stres Psikologis Analisis Faktor Multivariat Untuk Mengidentifikasi Penyebab Stress (Fannisha Aura Rifq. Jurnal Riset Sistem Informasi Dan Teknik Informatika (JURASIK) Volume 11. Nomor 1. Februari 2026, pp 21-29 Terakreditasi Nomor 204/E/KPT/2022 | ISSN: 2527-5771/EISSN: 2549-7839 https://tunasbangsa. id/ejurnal/index. php/jurasik Hasil Uji Hipotesis Hasil pengujian model struktural menunjukkan bahwa beban kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap stres psikologis pada tenaga Hal ini ditunjukkan oleh nilai p-value sebesar 0,000 dan nilai T-statistic sebesar 3,923 yang melebihi batas signifikansi 1,96, sehingga dapat disimpulkan bahwa peningkatan beban kerja cenderung meningkatkan tingkat stres psikologis. Sebaliknya, pengaruh langsung beban kerja terhadap burnout tidak terbukti signifikan, dengan nilai koefisien jalur sebesar 0,207 dan T-statistic sebesar 1,262, yang berada di bawah nilai kritis 1,96. Tabel 6. Uji Hipotesis Beban Kerja -> Burnout Beban Kerja -> Stres Psikologis Dukungan Sosial -> Burnout Dukungan Sosial -> Stres Psikologis Kondisi Lingkungan -> Burnout Kondisi Lingkungan -> Stres Psikologis Stres Psikologis -> Burnout T Statistics (|O/Stde. ) P Values Hasil analisis juga menunjukkan bahwa dukungan sosial tidak memiliki pengaruh yang signifikan baik terhadap burnout maupun terhadap stres Pengaruh dukungan sosial terhadap burnout memiliki nilai koefisien jalur sebesar 0,635 dengan T-statistic sebesar 0,474, sedangkan terhadap stres psikologis nilai koefisien jalur sebesar 0,261 dengan T-statistic sebesar 1,125. Kedua hubungan tersebut tidak memenuhi kriteria signifikansi statistik, sehingga dukungan sosial tidak terbukti secara langsung memengaruhi tingkat stres maupun burnout pada tenaga kesehatan dalam model penelitian ini. Selanjutnya, kondisi lingkungan kerja terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap burnout, yang ditunjukkan oleh nilai koefisien jalur sebesar 0,007 dan T-statistic sebesar 2,681. Temuan ini mengindikasikan bahwa lingkungan kerja yang kurang kondusif berkontribusi terhadap peningkatan Namun demikian, kondisi lingkungan kerja tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap stres psikologis, dengan nilai T-statistic sebesar 0,925 yang lebih kecil dari batas signifikansi. Selain itu, stres psikologis terbukti memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap burnout. Hubungan ini ditunjukkan oleh nilai koefisien jalur sebesar 0,003 dan T-statistic sebesar 3,003 yang melebihi nilai kritis 1,96. Temuan ini menegaskan bahwa peningkatan stres psikologis berperan penting dalam meningkatkan risiko burnout pada tenaga kesehatan. SIMPULAN Penelitian ini berhasil menjawab tujuan yang telah dirumuskan pada bagian Pendahuluan, yaitu mengidentifikasi penyebab stres pada tenaga kesehatan melalui pendekatan Structural Equation Modeling (SEM). Hasil analisis pada bagian Analisis Faktor Multivariat Untuk Mengidentifikasi Penyebab Stress (Fannisha Aura Rifq. Jurnal Riset Sistem Informasi Dan Teknik Informatika (JURASIK) Volume 11. Nomor 1. Februari 2026, pp 21-29 Terakreditasi Nomor 204/E/KPT/2022 | ISSN: 2527-5771/EISSN: 2549-7839 https://tunasbangsa. id/ejurnal/index. php/jurasik Hasil dan Pembahasan menunjukkan adanya kesesuaian antara harapan penelitian dan temuan empiris yang diperoleh. Beban kerja terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap stres psikologis, yang selanjutnya berperan sebagai mediator utama dalam membentuk burnout pada tenaga kesehatan. Temuan ini mengonfirmasi bahwa tuntutan kerja yang tinggi menjadi pemicu utama munculnya stres psikologis dan berdampak langsung pada peningkatan tingkat Selain itu, kondisi lingkungan kerja juga terbukti memberikan pengaruh signifikan terhadap burnout, meskipun dengan kekuatan pengaruh yang relatif lebih kecil dibandingkan peran stres psikologis. Hal ini menunjukkan bahwa aspek fisik maupun nonfisik lingkungan kerja tetap perlu diperhatikan sebagai bagian dari upaya pencegahan burnout. Sebaliknya, dukungan sosial tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap stres psikologis maupun burnout, yang mengindikasikan bahwa dalam konteks penelitian ini, dukungan sosial belum mampu berperan efektif sebagai faktor protektif terhadap tekanan kerja yang dialami tenaga kesehatan. Secara keseluruhan, model penelitian memiliki kemampuan prediktif yang cukup baik, sebagaimana ditunjukkan oleh nilai R-square pada variabel stres psikologis dan burnout. Temuan ini menegaskan bahwa beban kerja, stres psikologis, dan kondisi lingkungan kerja merupakan faktor kunci dalam pembentukan burnout pada tenaga kesehatan, sehingga selaras dengan permasalahan yang diangkat pada awal penelitian. Sebagai prospek pengembangan, penelitian selanjutnya dapat memperluas model dengan memasukkan variabel lain seperti strategi coping, resiliensi individu, atau kepemimpinan organisasi untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif. Selain itu, hasil penelitian ini dapat diaplikasikan sebagai dasar penyusunan kebijakan manajemen sumber daya manusia di sektor kesehatan, khususnya dalam pengelolaan beban kerja, perbaikan lingkungan kerja, serta perancangan program intervensi untuk menurunkan tingkat stres psikologis dan burnout pada tenaga kesehatan. DAFTAR PUSTAKA