Jurnal Regional Planning DOI : 10. 36985/x1f2mz85 E Ae ISSN : 2302 Ae 5980 Vol. 7 No 1 Februari 2025 ANALISIS DAMPAK OBYEK WISATA BUKIT INDAH SIMARJARUNJUNG TERHADAP EKONOMI LOKAL Rielly Malau1*. Sarintan Efratani Damanik2. Roeskani Sinaga3 Mahasiswa Magister Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Simalungun. Pematangsiantar Magister Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Simalungun. Pematangsiantar ABSTRAK Obyek Wisata Bukit Indah Simarjarunjung (BIS) merupakan salah satu tujuan wisata yang berkembang di Kabupaten Simalungun. Adanya kegiatan wisata ini memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat seperti peningkatan pendapatan, peningkatan kesempatan kerja, dan peluang usaha. Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis dampak ekonomi yang ditimbulkan oleh kegiatan wisata terhadap ekonomi lokal di Nagori Pariksabungan Kecamatan Dolok Pardamean Kabupaten Simalungun. Dampak ekonomi dianalisis menggunakan keynesian income multiplier dengan melihat dampak langsung, dampak tidak langsung, dan dampak lanjutan. Dari penelitian ini ditemukan bahwa keberadaan obyek wisata BIS memberikan memberikan dampak ekonomi secara langsung terhadap perekonomian masyarakat lokal dalam kategori kecil. Namun dampak ekonomi secara tidak langsung dan multiflier effect masuk dalam kategori besar. Kata Kunci: Bukit Indah Simarjarunjung. Keynesian Income Multiplier. Obyek Wisata ABSTRACT The Bukit Indah Simarjarunjung (BIS) tourist attraction (BIS) is one of the developing tourist destinations in Simalungun Regency. The existence of this tourism activity provides economic impacts for the community, such as increased income, increased job opportunities, and business prospects. The purpose of this research is to analyze the economic impact caused by tourism activities on the local economy in Nagori Pariksabungan. Dolok Pardamean District. Simalungun Regency. The economic impact was analyzed using the Keynesian income multiplier by examining direct impacts, indirect impacts, and induced impacts. From this research, it was found that the presence of the BIS tourist attraction has a direct economic impact on the local community's economy in the small However, the indirect economic impact and multiplier effect fall into the large category. Keywords: Bukit Indah Simarjarunjung. Keynesian Income Multiplier. Tourist Attraction PENDAHULUAN Sektor pariwisata sebagai suatu kegiatan ekonomi memiliki mata rantai yang sangat panjang, banyak menampung kesempatan kerja bagi masyarakat sekitar, sehingga dapat meningkatkan pendapatan, dan kesejahteraan masyarakat dari hasil penjualan barang maupun jasa pariwisata memberi dampak sangat besar bagi masyarakat, terutama masyarakat yang berada di kawasan atau lokasi yang menjadi tujuan wisata. Kesempatan kerja bagi masyarakat akan memberikan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya (Tadaro et al. , 2. Usaha peningkatan pelayanan sektor pariwisata bukan hanya tanggung jawab pemerintah semata tetapi juga masyarakat sekitar daerah wisata. Sangat banyak usaha yang dapat dilakukan oleh masyarakat sekitar. Peran masyarakat sekitar sangat cukup terlihat terutama menjaga kondisi kondusif di wilayah sekitar pariwisata. Perkembangan pariwisata juga mendorong dan mempercepat pertumbuhan ekonomi. Kegiatan pariwisata menciptakan permintaan, baik konsumsi maupun investasi yang pada gilirannya akan menimbulkan This is an open access article distributed under the Creative Commons Attribution 4. 0 International License Jurnal Regional Planning DOI : 10. 36985/x1f2mz85 E Ae ISSN : 2302 Ae 5980 Vol. 7 No 1 Februari 2025 kegiatan produksi barang dan jasa. Selama berwisata, wisatawan akan melakukan belanja, sehingga secara langsung menimbulkan permintaan . ourism final deman. pasar barang dan Obyek Wisata Bukit Indah Simarjarunjung (BIS) berada di Kabupaten Simalungun. Kecamatan Dolok Pardamean. Nagori Pariksabungan. Obyek wisata merupakan obyek wisata alam yang ini berada di atas bukit. BIS menawarkan panorama dan pemandangan langsung ke Danau Toba. Letak wilayah yang sangat indah dan strategis tersebut, secara tidak langsung memiliki potensi sangat besar apabila pemerintah daerah dapat melihat dan mengembangkan potensi tersebut untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi lokal maupun kesejahteraan Banyaknya jumlah kunjungan wisatawan ke lokasi ini dapat dilihat pada tabel Tabel 1. Jumlah Pengunjung Objek Wisata Bukit Indah Simarjarunjung Tahun Kunjungan Sumber : Data Diolah, 2023 Domestik Jumlah Wisatawan . Manca Negara Total Meningkatnya kunjungan warga dan wisatawan menarik partisipasi masyarakat sekitar yang tergabung dalam kelompok sadar wisata untuk melakukan pengelolaan. Obyek wisata BIS menjadi salah satu primadona kunjungan wisata saat ini di Kabupaten Simalungun, terbukti dengan jumlah kunjungan wisatawan yang terus meningkat setiap tahunnya. Perkembangan jumlah pengunjung dan wisatawan kegiatan wisata alam yang ditandai dengan meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan dan transaksi antara wisatawan dengan masyarakat lokal tentunya membawa sejumlah dampak ekonomi. Sebagai akibat berkembangnya sektor pariwisata maka terjadi perubahan-perubahan dalam kehidupan sosial ekonomi masyarakat setempat. Adanya berbagai kegiatan di kawasan objek wisata membuat peluang masyarakat dalam bidang ekonomi pun menjadi terbuka dan membuat masyarakat melakukan alternatif pekerjaan untuk menambah penghasilan rumah tangga mereka (Afiefah & Soerya, 2. Obyek wisata BIS telah memunculkan peluang usaha dan kerja di daerah ini. Nagori Pariksabungan memiliki potensi yang mengandung nilai ekonomi yang berdampak pada kesejahteraan masyarakat yang berada di sekitar kawasan serta berguna membantu masyarakat yang ada di sekitar kawasan objek wisata agar lebih menyadari pentingnya lokasi wisata bagi peningkatan perekonomian masyarakat lokal. Pengaruh ekonomi wisata alam terhadap wilayah diketahui dengan mengikuti aliran pola pembelanjaan pengunjung, kontribusinya terhadap jumlah penjualan, pendapatan, pekerjaan, dan penerimaan dalam ekonomi wilayah amatan (Frechling, 1987. Stynes et al. Pola pembelanjaan pengunjung pada umumnya menunjukkan pembelian barang dan layanan, baik dari ekonomi lokal maupun luar wilayah. Pola pembelanjaan pengunjung tersebut mengindikasikan pengaruh langsung terhadap sektor pariwisata Selain menimbulkan dampak terhadap masyarakat lokal yang berada di sekitar kawasan wisata bukit indah simarjarunjung, kegiatan ekonomi ini juga memberikan kontribusi terhadap perkembangan wilayah. Kontribusi dari wisata alam bagi perkembangan wilayah dapat dilihat dari tingkat perkembangan desa - desa dan perbaikan kualitas pelayanan This is an open access article distributed under the Creative Commons Attribution 4. 0 International License Jurnal Regional Planning DOI : 10. 36985/x1f2mz85 E Ae ISSN : 2302 Ae 5980 Vol. 7 No 1 Februari 2025 umum di daerah yang berada di sekitarnya. Tingginya aktivitas ekonomi yang dihasilkan dari kegiatan wisata alam akan memberikan pengaruh berupa pembangunan fasilitas dan peningkatan mutu pelayanan jasa dan pelayanan umum untuk memenuhi kebutuhan wisatawan dan akhirnya meningkatkan penyediaan unit fasilitas di daerah tersebut. Wisata BIS menjadi pemicu masyarakat sekitar untuk melakukan berbagai usaha untuk meningkatkan ekonomi lokal dengan cara melakukan berbagai usaha di sektor jasa seperti warung makan, kedai sepanjang jalan, pertamini dan sebagainya. Untuk melihat dampak keberadaan wisata BIS terhadap perekonomian lokal maka penelitian ini dilakukan. METODE PENELITIAN Responden penelitian sebanyak 157 orang yang ditentukan dengan purposive Responden terdiri dari wisatawan, pelaku usaha, tenaga kerja dan stake holder yang terdapat di sekitar obyek wisata Bukit Indah Simarjarunjung. Penelitian ini menggunakan metode analisis efek pengganda output . ultiplier effec. Dampak ekonomi suatu kegiatan wisata terhadap pendapatan masyarakat lokal terdapat dua tipe pengganda, yaitu: Keynesian Local Income Multiplier, menunjukkan besaran pengeluaran pengunjung berdampak pada peningkatan pendapatan masyarakat lokal . erupa pemilik usaha dan tenaga kerj. Ratio Income Multiplier, menunjukkan besaran dampak langsung yang dirasakan dari pengeluaran pengunjung berdampak terhadap perekonomian lokal . erupa pendapatan pemilik usaha, pendapatan tenaga kerja, serta pengeluaran komsumsi di tingkat loka. Secara matematis dapat dirumuskan : Keynesian Local Income Multiplier = Ratio Income Multiplier. Tipe I = ya ycA ycO ya ya ycO Ratio Income Multiplier. Tipe II = ya ya ycA ycO ya Dimana: E : Tambahan pengeluaran wisatawan . D : Pendapatan lokal yang diperoleh secara langsung dari E . N : Pendapatan lokal yang diperoleh secara tidak langsung dari E . U : Pendapatan lokal yang diperoleh secara lanjutan dari E . Nilai Keynesian Local Income Multiplier. Ratio Income Multiplier Tipe I. Ratio Income Multiplier Tipe II memiliki kriteria-kriteria sebagai berikut: Kurang dari atau sama dengan nol (O . , maka lokasi wisata tersebut belum mampu memberikan dampak ekonomi terhadap kegiatan wisatanya. Diantara angka nol dan satu . < x < . , maka lokasi wisata tersebut masih memiliki nilai dampak ekonomi yang rendah, dan Lebih besar atau sama dengan satu (Ou . , maka lokasi wisata tersebut telah mampu memberikan dampak ekonomi terhadap kegiatan wisatanya. HASIL DAN PEMBAHASAN Dampak ekonomi dari obyek wisata BIS bisa dilihat dari pengeluaran pengunjung atau This is an open access article distributed under the Creative Commons Attribution 4. 0 International License Jurnal Regional Planning DOI : 10. 36985/x1f2mz85 E Ae ISSN : 2302 Ae 5980 Vol. 7 No 1 Februari 2025 wisatawan di lokasi wisata tersebut. Pengeluaran wisatawan berupa biaya transportasi. Wisatawan yang datang berkunjung ke obyek wisata ini banyak mayoritas dari luar Kecamatan Dolok Pardamean Kabupaten Simalungun sehingga pengeluaran untuk pembelian bahan bakar transportasi terbilang besar. Terlebih lagi untuk menuju lokasi obyek wisata BIS juga tidak adanya transportasi umum yang langsung sampai ke tujuan wisata sehingga apabila wisatawan ingin pergi ke lokasi wisata maka harus menggunakan kendaraan pribadi dan mengeluarkan biaya untuk pembelian bahan bakar kendaraan. Pengeluaran selanjutnya merupakan biaya konsumsi. Dampak ekonomi secara langsung yaitu dihitung dari besarnya rupiah yang dikeluarkan wisatawan kepada pemilik usaha dan wahana wisata. Usaha makan dan minuman mempunyai jumlah penghasilan tertinggi yaitu rata-rata Rp. 000/bulan. Wisatawan yang berkunjung lebih banyak dari luar kota dan dominan tidak membawa makan dan minuman pada saat berwisata ke obyek wisata BIS. Indahnya pemandangan membuat pengunjung untuk berlama lama di lokasi wisata sehingga pengeluaran untuk makanan dan minuman juga Sedangkan rata - rata untuk penghasilan dari unit souvenir di lokasi wisata Bukit Indah Simarjarunjung sebesar Rp. 000/bulan. Meskipun usaha souvenir hanya satu unit tetapi pengunjung yang datang berwisata ke obyek wisata BIS kurang berminat untuk membawa souvenir atau oleh oleh setempat. Jumlah dampak ekonomi langsung yang diperoleh dari unit usaha di lokasi obyek wisata BIS dari usaha makanan minuman dan usaha souvenir sebesar Rp. 000/bulan. Dampak ekonomi tidak langsung yaitu dampak yang dihasilkan dari pengeluaran owner usaha yang dijalankan disuatu wisata baik untuk pengelolaan atau gaji yang Maksud dari hal tersebut ialah pengeluaran untuk pembelanjaan yang dikeluarkan oleh pemilik usaha di obyek wisata BIS yang menjadi dampak tidak langsung di lokasi wisata tersebut. Baik pihak pengelola ataupun pemilik usaha yang melaksanakan kegiatan di lokasi obyek wisata BIS telah melaksanakan perekrutan pegawai atau tenaga kerja yang berasal dari masyarakat sekitar sehingga bisa memunculkan dampak ekonomi secara tidak langsung yang berbentuk gaji yang diterima oleh pegawai atau tenaga kerja yang telah direkrut tersebut. Data mengenai pengeluaran unit usaha di dalam dan di luar lokasi wisata Bukit Indah Simarjarunjung rata - rata unit usaha yang mempunyai total atau jumlah pengeluaran terbanyak di dalam lokasi wisata adalah usaha makanan dan minuman dengan rata-rata pengeluaran di dalam lokasi sebesar Rp. 000 dengan jumlah pengeluaran terbanyak pada pembelian input bahan baku dengan rata - rata Rp. Sedangkan pada unit usaha souvenir rata - rata pengeluaran di dalam lokasi wisata adalah sebesar Rp 000 per unit dengan jumlah pengeluaran terbanyak pada pembelian input bahan baku sebesar Rp. 000 per unit usaha. Dampak ekonomi lanjutan yaitu dampak yang diperoleh dari pengeluaran tenaga kerja lokal seperti biaya hidup sehari-hari, biaya anak sekolah, biaya transportasi, dan lain-lain. Pengeluaran yang dimaksudkan yaitu pengeluaran untuk di dalam lokasi wisata dan juga pengeluaran di luar lokasi wisata. Besarnya pengeluaran tenaga kerja di obyek wisata BIS sebesar Rp. 000/bulan. Didapatkan dengan total pengeluaran terbanyak yaitu dari staff Kitchen dengan pengeluaran 8. 000 per bulan. Besarnya pengeluaran ini disebabkan karena tenaga umumnya sudah berumah tangga dan mempunyai anak. Total pengeluaran terkecil diperoleh dari tenaga kerja kebersihan, yaitu sebesar Rp. 000 perbulan karena This is an open access article distributed under the Creative Commons Attribution 4. 0 International License Jurnal Regional Planning DOI : 10. 36985/x1f2mz85 E Ae ISSN : 2302 Ae 5980 Vol. 7 No 1 Februari 2025 tenaga kerja kebersihan belum menikah. Dampak ekonomi lanjutan tersebut merupakan dampak yang diperoleh dari pengeluaran tenaga kerja dari wisata Bukit Indah Simarjarunjung, dan pengeluaran tersebut dibedakan menjadi dua kategori yaitu pengeluaran di dalam lokasi wisata seperti biaya konsumsi, kebutuhan harian, transportasi serta biaya pendidikan anak dan juga pengeluaran di luar lokasi wisata seperti biaya listrik dan biaya lainnya. Selanjutnya nilai multiplier effect dari adanya obyek wisata Bukit Indah Simarjarunjung dapat dilihat pada tabel 2 berikut: Tabel 2. Nilai Multiplier Effect Obyek Wisata BIS Multiplier Keynesian Income Multiplier Ratio Income Multiplier Tipe I Ratio Income Multiplier Tipe II Nilai 0,43 2,69 3,29 Berdasarkan tabel 2 tersebut dapat diketahui bahwa keynesian income multiplier pada obyek wisata BIS sebesar 0,43. Angka ini menunjukkan bahwa setiap ada peningkatan sebesar Rp. 000 dari pengeluaran pengunjung akan mempunyai dampak atau efek terhadap perekonomian lokal sebesar Rp. Nilai ratio income multiplier tipe I yaitu sebesar 2,69 yang artinya setiap ada peningkatan sebesar Rp. 000 dari penerimaan unit usaha akan mempunyai dampak atau efek sebesar Rp. 690 terhadap penghasilan pemilik usaha atau tenaga kerja. Selanjutnya nilai ratio income multiplier tipe II yaitu sebesar 3,29 yang menunjukkan arti bahwa setiap kenaikan Rp. 000 pada penerimaan unit usaha akan mempunyai dampak sebesar Rp. 290 terhadap pendapatan pemilik usaha, pendapatan tenaga kerja, dan pengeluaran biaya konsumsi tenaga kerja yang akan berputar. Berdasarkan nilai ratio income multiflier effect yang diperoleh maka keberadaan obyek wisata BIS mampu memberikan dampak ekonomi terhadap kegiatan wisatanya. KESIMPULAN Keberadaan obyek wisata BIS yang berada di Nagori Pariksabungan Kecamatan Dolok Pardamean Kabupaten Simalungun terhadap pendapatan masyarakat lokal secara langsung masuk dalam kategori kecil, namun dilihat dari dampak ekonomi secara tidak langsung dan multiflier effect tergolong dalam kategori besar. DAFTAR PUSTAKA