LISTRA Jurnal Linguistik Sastra Terapan Vol. No. Bulan Oktober 2025, pp. https://e-jurnal. id/index. php/LISTRA/index || Penerapan Model Problem Based Learning pada Pembelajaran Keterampilan Menulis Teks Eksposisi Siswa Kelas V Sekolah Dasar Mulyono 1. Sutardi 2. Sariban 3 *1-3 Universitas Islam Darul AoUlum Lamongan. Indonesia mulyonomia70@gmail. 2 sutardi@unisda. 3 sariban@unisda. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya hasil belajar siswa dalam keterampilan menulis, khususnya dalam menulis teks eksposisi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan aktivitas siswa, aktivitas guru, dan hasil belajar siswa setelah diterapkannya model Problem Based Learning (PBL). Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan fokus pada tiga aspek utama tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas siswa dalam pembelajaran tergolong sangat tinggi dengan skor rata-rata 84. Siswa aktif dalam memperhatikan penjelasan guru, bertanya, membantu teman, dan berpartisipasi dalam diskusi. Aktivitas guru juga menunjukkan hasil yang sangat baik dengan skor rata-rata 95, mencerminkan peran yang optimal dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan interaktif. Dari segi hasil belajar, penerapan PBL terbukti efektif dengan nilai rata-rata siswa mencapai 88, melampaui Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Nilai tertinggi mencapai 92 dan nilai terendah 82. Aspek komposisi/struktur teks memperoleh nilai rata-rata tertinggi, menunjukkan pemahaman siswa yang baik terhadap struktur teks eksposisi. Secara keseluruhan, penerapan model PBL dalam pembelajaran menulis teks eksposisi di kelas V SD terbukti meningkatkan keterlibatan siswa, efektivitas pengajaran guru, serta hasil belajar siswa secara Kata kunci: Problem Based Learning, keterampilan menulis, teks eksposisi, hasil belajar. ABSTRACT This research is motivated by the low learning outcomes of students in writing skills, particularly in writing expository texts. Therefore, this study aims to describe student activities, teacher activities, and student learning outcomes after implementing the Problem Based Learning (PBL) model. This research employs a qualitative descriptive method focusing on these three aspects. The results indicate that student engagement in learning is very high, with an average score of 84. Students actively pay attention to the teacher's explanations, ask questions, help peers, and participate in Teacher activities also show excellent results, with an average score of 95, reflecting an optimal role in creating a conducive and interactive learning environment. In terms of learning outcomes, the implementation of PBL has proven effective, with an average student score of 88, exceeding the Minimum Competency Criteria (KKM). The highest score reached 92, while the lowest The composition/structure aspect obtained the highest average score, demonstrating students' good understanding of expository text structures. Overall, the implementation of the PBL model in teaching expository writing in fifth-grade elementary school students has significantly improved student engagement, teaching effectiveness, and learning outcomes. Kata Kunci: Problem Based Learning, writing skills, expository text, learning outcomes. This is an open-access article under the CCAeBY-SA license. Pendahuluan Keterampilan menulis merupakan bagian dari kompetensi literasi yang sangat penting dalam pendidikan dasar (Lestari, 2020: 5. Menulis membantu siswa mengekspresikan ide, gagasan, dan perasaan mereka secara tertulis dengan runtut dan jelas (Sabrin, 2024: . Selain itu, keterampilan ini menjadi dasar bagi siswa dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Pada tingkat pendidikan dasar, keterampilan menulis berperan https://e-jurnal. id/index. php/LISTRA/index listra@unisda. penting dalam mendukung perkembangan akademis siswa serta mengasah kemampuan mereka dalam menyampaikan pikiran secara sistematis. Meskipun menulis adalah keterampilan yang sangat penting, banyak siswa di sekolah dasar, khususnya kelas V, masih mengalami kesulitan dalam menulis. Kesulitan ini dapat dilihat dari kurangnya kemampuan siswa dalam mengembangkan ide, menyusun paragraf secara logis, serta menggunakan bahasa yang sesuai dalam tulisan mereka. Di SD Negeri Ngrancang i, siswa kelas V masih mengalami keterbatasan dalam aspek-aspek tersebut, sehingga keterampilan menulis mereka belum optimal. Selain itu, rendahnya minat siswa dalam kegiatan menulis juga menjadi faktor yang memengaruhi kualitas tulisan mereka. Pembelajaran merupakan proses yang dilakukan secara sadar dan sistematis untuk meningkatkan perkembangan individu menuju perubahan yang lebih baik (Setiawan, 2017: Dalam proses pembelajaran, terdapat interaksi antara siswa, guru, dan berbagai sumber belajar (Suardi dkk. , 2018: . Proses ini tidak hanya melibatkan penerimaan informasi, tetapi juga refleksi, pemahaman, serta pengembangan keterampilan siswa. Oleh karena itu, dalam meningkatkan keterampilan menulis, guru perlu menerapkan strategi pembelajaran yang lebih inovatif dan interaktif. Jihad dan Haris . 2: . menyatakan bahwa pembelajaran adalah proses interaktif yang melibatkan dua aspek utama: aspek belajar dan aspek pengajaran. Aspek belajar menitikberatkan pada aktivitas siswa dalam memahami dan mengolah informasi, sementara aspek pengajaran menyoroti peran guru sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran. Guru diharapkan mampu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan memberikan bimbingan yang efektif kepada siswa. Syaiful Sagala . 0: . menegaskan bahwa pembelajaran yang efektif harus menggunakan asas pendidikan dan teori belajar yang sesuai, karena hal tersebut menjadi penentu keberhasilan pendidikan. Salah satu penyebab utama rendahnya keterampilan menulis siswa adalah metode pembelajaran yang kurang interaktif dan menarik. Pendekatan yang monoton cenderung membuat siswa pasif dan kurang termotivasi dalam belajar. Oleh karena itu, diperlukan model pembelajaran yang lebih menarik, interaktif, dan berpusat pada siswa agar mereka lebih aktif dalam proses belajar. Model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) merupakan pendekatan yang menempatkan masalah sebagai inti dari proses belajar. Dalam PBL, siswa dihadapkan pada suatu masalah yang relevan dan nyata, yang mendorong mereka untuk berpikir kritis, berkolaborasi, dan mencari solusi melalui pembelajaran mandiri maupun kelompok. Eviani. Utami, & Sabri . 4: . menjelaskan bahwa PBL mengarahkan siswa untuk menyelesaikan suatu masalah melalui pertanyaan yang memancing berpikir analitis. PBL juga menekankan aktivitas mental siswa dalam memahami suatu konsep pembelajaran (Utomo. Wahyuni, & Hariyadi, 2014: . Model pembelajaran PBL sangat relevan untuk diterapkan dalam pembelajaran menulis karena siswa dilatih untuk mengidentifikasi dan menganalisis masalah sebelum menuliskannya dalam bentuk teks. Dalam konteks pembelajaran menulis teks eksposisi. PBL membantu siswa dalam mengembangkan ide dan menyusun tulisan secara logis. Dengan pendekatan ini, siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga dapat mengaplikasikan pengetahuan mereka dalam menyelesaikan masalah secara tertulis. Namun, penerapan PBL di sekolah dasar bukan tanpa tantangan. Siswa pada jenjang ini masih memiliki keterbatasan dalam berpikir abstrak, sehingga guru perlu memberikan bimbingan yang lebih intensif. Selain itu, penerapan PBL membutuhkan perencanaan yang matang dalam menentukan masalah yang relevan dan sesuai dengan tingkat pemahaman Guru harus mampu merancang masalah yang menarik serta membimbing siswa dalam setiap tahap pembelajaran, mulai dari identifikasi masalah hingga penyusunan hasil dalam bentuk tulisan. Di SD Negeri Ngrancang i Kecamatan Tambakrejo Bojonegoro, metode pembelajaran yang digunakan dalam materi menulis masih berpusat pada guru dan cenderung teoritis. Hal ini menyebabkan siswa kurang memiliki kesempatan untuk berlatih menulis secara praktis dan kreatif. Oleh karena itu, penerapan PBL diharapkan dapat membantu siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran menulis sekaligus meningkatkan kualitas tulisan mereka melalui pendekatan yang kontekstual dan problematis. Penelitian ini penting dilakukan untuk mengetahui efektivitas model pembelajaran PBL dalam meningkatkan keterampilan menulis siswa. Dengan menerapkan PBL, diharapkan siswa tidak hanya memahami konsep menulis, tetapi juga mampu menghasilkan tulisan yang lebih Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam peningkatan kualitas pembelajaran menulis di sekolah dasar serta menjadi referensi bagi guru dalam memilih metode pembelajaran yang efektif. Secara ontologis, hakikat dari pembelajaran menulis adalah proses kognitif yang memungkinkan seseorang menuangkan ide secara terstruktur dan logis dalam bentuk tulisan. Model Problem Based Learning relevan untuk diterapkan dalam pembelajaran menulis teks eksposisi karena model ini menuntut siswa untuk menganalisis suatu permasalahan, mengumpulkan data, serta menyusun argumentasi yang kuat berdasarkan fakta. Dengan demikian, siswa dapat berpikir kritis dan kreatif serta terbiasa menyusun gagasan secara runtut dan logis dalam bentuk tulisan. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus untuk menganalisis fenomena tertentu secara mendalam. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan kualitatif, yang bertujuan untuk memahami realitas sosial berdasarkan perspektif subjek yang diteliti. Sumber Data ada dua yakni Data Primer: Wawancara mendalam dengan narasumber yang relevan dan Data Sekunder: Dokumen, literatur, dan laporan yang mendukung penelitian. Teknik Pengumpulan DataWawancara: Dilakukan secara semi-struktur untuk memperoleh informasi mendalam. Observasi: Mengamati secara langsung fenomena yang terjadi. Dokumentasi: Menganalisis berbagai sumber tertulis yang relevan. Teknik Analisis Data dilakukan melalui tiga tahap:Reduksi Data: Penyaringan dan penyederhanaan data yang diperoleh. Penyajian Data: Menyusun data dalam bentuk narasi atau table. Penarikan Kesimpulan: Interpretasi hasil berdasarkan temuan yang ada. Keabsahan Data Untuk memastikan validitas data, digunakan metode triangulasi melalui perbandingan berbagai sumber data serta pengecekan ulang kepada narasumber. Hasil dan Pembahasan Hasil penelitian yang telah dilakukan mengenai Penerapan Model Problem Based Learning (PBL) pada Pembelajaran Keterampilan Menulis Teks Eksposisi bagi Siswa Kelas V Sekolah Dasar. Fokus utama penelitian ini meliputi tiga aspek, yaitu: aktivitas siswa. Hasil Penerapan Model Problem Based Learning Ditinjau dari Aktivitas Siswa Penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) menjadi salah satu strategi yang efektif dalam meningkatkan aktivitas belajar siswa, khususnya dalam pembelajaran keterampilan menulis teks eksposisi. Aktivitas siswa dalam proses pembelajaran merupakan elemen penting yang mencerminkan keterlibatan, partisipasi, dan antusiasme mereka dalam memahami materi yang diajarkan. Pada konteks pembelajaran menulis teks eksposisi, aktivitas siswa mencakup kemampuan untuk mengidentifikasi masalah, berdiskusi, mencari solusi, dan menyusun teks berdasarkan hasil eksplorasi. Model PBL, dengan pendekatannya yang berpusat pada siswa, menawarkan pengalaman belajar yang menantang sekaligus memotivasi siswa untuk lebih aktif dan kreatif. Namun, dalam penerapan model PBL, tidak jarang ditemukan kendala yang berpotensi menghambat aktivitas siswa. Beberapa siswa mungkin kesulitan memahami masalah yang diajukan, kurang percaya diri dalam berdiskusi, atau mengalami kesulitan dalam menuangkan ide ke dalam bentuk tulisan. Oleh karena itu, penting untuk mengamati bagaimana aktivitas siswa selama penerapan model PBL, termasuk interaksi dalam kelompok, kemampuan memecahkan masalah, dan tingkat partisipasi mereka. Dengan memahami dinamika aktivitas siswa, guru dapat mengevaluasi dan menyesuaikan strategi pembelajaran untuk memastikan keberhasilan penerapan model PBL. Penelitian ini berfokus pada analisis aktivitas siswa dalam pembelajaran keterampilan menulis teks eksposisi menggunakan model PBL. Aktivitas siswa diamati melalui tahapan-tahapan PBL, mulai dari orientasi terhadap masalah hingga presentasi Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap sejauh mana model PBL dapat mendorong siswa untuk lebih aktif, baik dalam berpikir kritis, berkolaborasi, maupun menuangkan gagasan secara tertulis. Hasil penelitian diharapkan memberikan gambaran yang jelas mengenai efektivitas model PBL dalam meningkatkan keterampilan menulis siswa sekaligus menawarkan rekomendasi praktis bagi guru dalam mengoptimalkan pembelajaran berbasis masalah di kelas. Terdapat empat tahap dalam pembelajaran ini, yakni tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, tahap pengamatan, dan tahap refleksi. Berikut merupakan tahapan dalam pembelajaran menulis teks eksposisi dengan menerapkan metode pembelajaran problem based learning: Tahap Perencanaan Pada tahap perencanaan terdapat beberapa langkah-langkah yang dilakukan peneliti bersama guru, yaitu: Membuat rancangan pembelajaran yakni berupa modul ajar. Menyiapkan media pembelajaran. Membuat lembar observasi untuk melihat bagaimana kondisi atau keadaan siswa di kelas saat proses kegiatan belajar mengajar berlangsung. Menyiapkan lembar angket respon siswa selama pembelajaran. Menyiapkan lembar kerja siswa mengenai menulis teks eksposisi. Dalam penelitian ini, peneliti sebagai guru yang melakukan tindakan sekaligus mengamati aktivitas siswa selama proses pembelajaran bersama dengan guru kelas mapel Bahasa Indonesia. Tahap Pelakasanaan Kegiatan awal pada pertemuan ini, guru membuka pelajaran dan guru mengkondisikan siswa untuk siap menerima pelajaran. Adapun rincian tindakan, diuraikan sebagai berikut: Pertama kali guru masuk kelas memimpin siswa untuk berdoa sebelum pelajaran . Guru mengucapkan salam kemudian melakukan presensi untuk mengetahui siswa yang tidak masuk. Guru memberikan apersepsi kepada siswa agar siap menerima materi yang akan . Guru menjelaskan materi tentang model pembelajaran problem based learning dan prosedur pelaksanaannya, serta menjelaskan hal-hal yang dilakukan dalam kegiatan menulis eksposisi. Guru mengaitkan pelajaran ini dengan kehidupan sehari-hari, kemudian guru menyajikan beberapa contoh mengenai teks eksposisi besertakan kerangka . Guru menyuruh dua orang siswa untuk perwakilan maju kedepan membacakan teks eksposisi dan kerangka teksnya dengan keras. Setelah itu, guru membagi siswa menjadi 5 kelompok untuk membuat kerangka teks eksposisi kemudian dilanjutkan merubah kerangka teks tersebut menjadi bentuk narasi teks eksposisi. Siswa mengumpulkan informasi melalui diskusi kelompok tentang topik teks . Peneliti bersama kolaborator membimbing dan menjadi fasilitator dalam pembuatan tugas teks eksposisi yang dilakukan oleh siswa. Setelah semua siswa selesai berdiskusi dalam menulis teks eksposisi, guru menyuruh salah satu kelompok untuk mempresentasikan hasil teks yang sudah dibuat oleh kelompok tersebut. Guru bersama siswa berdiskusi tentang kendala yang dihadapi siswa dalam menulis teks eksposisi pada siklus ini. Lembar kerja siswa secara berkelompok dikumpulkan dimeja guru untuk dilakukan penilaian. Jam pelajaran selesai dan kegiatan pembelajaran diakhiri. Pengamatan/Observasi Selama melakukan penerapan pembelajaran dengan model pembelajaran problem based learning pada materi menulis teks eksposisi, peneliti melakukan pengamatan terhadap tindakan yang dilakukan. Hasil yang diperoleh dari pengamatan ini meliputi aktivitas siswa, aktivitas guru, dan hasil belajar siswa. Hasil data tersebut dapat dideskripsikan sebagai berikut. Hasil pengamatan terhadap aktivitas siswa dalam pembelajaran menulis teks eksposisi dengan menerapkan metode pembelajaran problem based learning dinyatakan dengan deskriptif persentase. Pengamatan terhadap aktivitas siswa menggunakan instrumen yang berupa lembar observasi yang dilakukan oleh satu orang pengamat. Aktivitas siswa diamati oleh teman sejawat yang berasal guru. Berikut ini merupakan kegiatan pembelajaran menulis teks eksposisi dengan pembelajaran problem based learning : Tabel 4. Aktivitas Siswa Nama Siswa Hal-hal yang diamati Jml Skor Arga Pratama Difa Popitasari Johan Fernando Lisa Permatasari Merita Rafa Hermansyah Rafi Veronica Salsa Bila Chalya Hermawan Viavalla Sesya Zahra Kholifatun Nisa Jumlah Rata-Rata Keterangan: Persentase 81% - 100% tergolong kriteria sangat tinggi Persentase 61% - 80% tergolong kriteria tinggi Persentase 41% - 60% tergolong kriteria sedang Persentase 21% - 40% tergolong kriteria rendah Persentase 0% - 20% tergolong kriteria sangat rendah Berdasarkan tabel 4. 1 tersebut tentang aktivitas siswa dalam pembelajaran menulis teks eksposisi dengan model pembelajaran Problem Based Learning, maka dapat disimpukan seperti pada tabel 4. 2 berikut. Tabel 4. Rekapitulasi Aktivitas Siswa Aktivitas siswa yang diamati Siswa mendengarkan penjelasan Guru 8 Jml Merespon motivasi guru Bertanya mengenai materi teks Eksposisi Membantu teman yang mengalami Kesulitan Menanggapi pertanyaan guru Mengerjakan tugas yang diberikan Mengumpulkan tugas yang Diberikan Menyimak presentasi Kesungguhan melakukan pengamatan 10 Keaktifan siswa Jumlah Rata-Rata A . B . Berdasarkan data pada Tabel 4. 1 mengenai aktivitas siswa dalam pembelajaran menulis teks eksposisi dengan model Problem Based Learning (PBL), dilakukan pengamatan terhadap sepuluh siswa dengan sepuluh indikator aktivitas. Setiap indikator diberikan skor maksimal 3 poin, sehingga total skor maksimum untuk setiap siswa adalah 30 poin. Hasil akhir dihitung dalam bentuk persentase untuk menentukan kategori aktivitas berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. Arga Pratama memperoleh skor 26 dari total skor maksimum 30, yang setara dengan persentase 87%. Dengan persentase ini, aktivitas Arga tergolong dalam kriteria sangat tinggi. Ia menunjukkan partisipasi aktif dalam hampir semua indikator yang diamati, terutama dalam menyimak penjelasan guru dan bertanya mengenai materi teks eksposisi. Difa Popitasari mendapatkan skor 25 dari 30, yang setara dengan 83%. Hasil ini juga termasuk dalam kriteria sangat tinggi. Aktivitas Difa mencerminkan keterlibatan yang baik, meskipun ada beberapa aspek seperti kesungguhan dalam melakukan pengamatan yang sedikit lebih rendah dibandingkan indikator lainnya. Johan Fernando memperoleh skor 24 dari 30, dengan persentase 80%, yang berada di kriteria tinggi. Johan cukup aktif dalam pembelajaran, tetapi terdapat beberapa aspek seperti keaktifan siswa dan merespon motivasi guru yang perlu Lisa Permatasari menunjukkan hasil yang sangat baik dengan skor 28 dari 30, setara dengan 93%. Ini menempatkan Lisa dalam kriteria sangat tinggi. menunjukkan keaktifan dan kesungguhan yang konsisten di hampir semua aspek, menjadikannya salah satu siswa dengan aktivitas terbaik. Merita memperoleh skor 24 dari 30, yang setara dengan 80%, masuk dalam kriteria Meskipun secara umum Merita cukup aktif, ada beberapa indikator seperti menyimak presentasi yang menunjukkan partisipasi lebih rendah dibandingkan indikator lainnya. Rafa Hermansyah juga memperoleh skor 24 dari 30, atau 80%, yang tergolong dalam kriteria tinggi. Aktivitas Rafa menunjukkan partisipasi yang stabil, namun perlu perhatian pada aspek seperti mengumpulkan tugas dan menyimak Rafi Veronica mencatat skor 26 dari 30, yang setara dengan 87%, termasuk dalam kriteria sangat tinggi. Rafi menunjukkan partisipasi aktif di sebagian besar indikator, terutama dalam menyimak penjelasan guru dan bertanya mengenai Salsa Bila Chalya Hermawan mendapatkan skor 25 dari 30, setara dengan 83%, yang termasuk dalam kriteria sangat tinggi. Salsa cukup aktif dalam kegiatan pembelajaran, terutama dalam mendengarkan penjelasan guru dan membantu teman yang kesulitan. Viavalla Sesya memperoleh skor 24 dari 30, atau 80%, yang masuk dalam kriteria Aktivitas Viavalla cukup baik, tetapi ada beberapa aspek seperti menyimak presentasi dan kesungguhan melakukan pengamatan yang perlu diperbaiki. Zahra Kholifatun Nisa mendapatkan skor 26 dari 30, setara dengan 87%, yang termasuk dalam kriteria sangat tinggi. Zahra menunjukkan aktivitas yang konsisten di berbagai indikator, terutama dalam mendengarkan penjelasan guru dan bertanya mengenai materi. Secara keseluruhan, rata-rata skor aktivitas siswa adalah 25,2 dari 30, dengan rata-rata persentase 84%, yang tergolong dalam kriteria sangat tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar siswa terlibat aktif dalam pembelajaran menulis teks eksposisi dengan model PBL. Meskipun demikian, terdapat beberapa indikator seperti menyimak presentasi dan merespon motivasi guru yang memerlukan perhatian lebih untuk meningkatkan keterlibatan siswa secara keseluruhan. Berdasarkan data yang disajikan pada Tabel 4. 2, aktivitas siswa dalam pembelajaran menulis teks eksposisi menggunakan model Problem Based Learning (PBL) mencakup sepuluh aspek yang diamati. Aktivitas ini bertujuan untuk menilai keterlibatan siswa secara langsung dalam setiap tahapan pembelajaran. Secara keseluruhan, hasil menunjukkan bahwa mayoritas siswa aktif berpartisipasi, meskipun terdapat beberapa aspek yang memerlukan peningkatan lebih lanjut. Aktivitas mendengarkan penjelasan guru menunjukkan hasil yang sangat baik. Sebanyak 8 siswa memperoleh nilai maksimal . , sementara 2 siswa lainnya mendapatkan nilai . Hasil ini mencerminkan bahwa mayoritas siswa mampu memberikan perhatian penuh selama guru memberikan penjelasan mengenai materi teks eksposisi. Hal ini juga mengindikasikan bahwa pendekatan yang digunakan guru berhasil menarik perhatian siswa. Aktivitas merespon motivasi guru menunjukkan hasil yang sedikit lebih rendah dibandingkan dengan aktivitas lainnya. Hanya 3 siswa yang memperoleh nilai maksimal . , sedangkan 7 siswa mendapatkan nilai . Hasil ini mengindikasikan bahwa sebagian besar siswa cenderung pasif dalam merespon motivasi guru, meskipun guru telah berupaya memberikan dorongan semangat selama proses Bertanya mengenai materi teks eksposisi merupakan salah satu aktivitas yang menunjukkan hasil yang baik. Sebanyak 8 siswa mendapatkan nilai maksimal . , dan hanya 2 siswa yang memperoleh nilai . Hal ini mencerminkan keingintahuan siswa terhadap materi yang diajarkan, sekaligus menunjukkan keberhasilan guru dalam menciptakan suasana pembelajaran yang mendorong siswa untuk aktif Aktivitas membantu teman yang mengalami kesulitan juga menunjukkan hasil yang sangat positif. Sebanyak 8 siswa memperoleh nilai maksimal . , sedangkan 2 siswa lainnya mendapatkan nilai . Aktivitas ini menunjukkan adanya interaksi yang baik antar siswa dalam proses pembelajaran, yang merupakan salah satu keunggulan dari penerapan model PBL. Menanggapi pertanyaan guru menghasilkan skor yang cukup berimbang. Sebanyak 5 siswa memperoleh nilai maksimal . , sementara 5 siswa lainnya mendapatkan nilai . Hasil ini menunjukkan bahwa sebagian siswa sudah cukup aktif dalam memberikan tanggapan terhadap pertanyaan guru, namun sebagian lainnya masih memerlukan dorongan untuk lebih terlibat dalam diskusi kelas. Mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru menunjukkan bahwa 4 siswa memperoleh nilai maksimal . , sedangkan 6 siswa mendapatkan nilai . Hasil ini mencerminkan bahwa meskipun sebagian besar siswa menyelesaikan tugas yang diberikan, masih ada beberapa siswa yang belum sepenuhnya optimal dalam mengerjakan tugas dengan kesungguhan yang diharapkan. Aktivitas mengumpulkan tugas yang diberikan menunjukkan hasil yang serupa dengan aktivitas mengerjakan tugas. Sebanyak 4 siswa mendapatkan nilai maksimal . , sementara 6 siswa memperoleh nilai . Hal ini menunjukkan bahwa meskipun siswa telah menyelesaikan tugas, terdapat beberapa siswa yang perlu lebih terorganisasi dalam pengumpulan tugas sesuai instruksi guru. Menyimak presentasi mencatat hasil yang lebih rendah dibandingkan aktivitas Tidak ada siswa yang mendapatkan nilai maksimal . , sementara 9 siswa memperoleh nilai . , dan 1 siswa mendapatkan nilai . Aktivitas ini menunjukkan bahwa siswa cenderung kurang fokus atau tidak sepenuhnya terlibat saat mendengarkan presentasi. Hal ini memerlukan perhatian khusus dari guru untuk meningkatkan fokus siswa selama presentasi berlangsung. Kesungguhan dalam melakukan pengamatan menunjukkan hasil yang cukup baik, dengan 6 siswa memperoleh nilai maksimal . , sementara 4 siswa lainnya mendapatkan nilai . Hasil ini mencerminkan bahwa sebagian besar siswa cukup serius dalam melakukan pengamatan selama pembelajaran berlangsung, meskipun masih ada siswa yang perlu didorong untuk lebih teliti dan fokus. Keaktifan siswa selama proses pembelajaran menunjukkan hasil yang positif. Sebanyak 7 siswa memperoleh nilai maksimal . , sementara 3 siswa mendapatkan nilai . Aktivitas ini mencerminkan bahwa sebagian besar siswa terlibat aktif dalam berbagai kegiatan pembelajaran, meskipun beberapa siswa masih perlu lebih diberdayakan untuk berpartisipasi secara optimal. Secara keseluruhan, data menunjukkan bahwa penerapan model PBL berhasil mendorong aktivitas siswa dalam pembelajaran menulis teks eksposisi. Rata-rata nilai aktivitas siswa mencapai 84, yang termasuk dalam kategori baik. Namun, terdapat beberapa aspek yang memerlukan perhatian khusus, seperti merespon motivasi guru dan menyimak presentasi, yang masih memerlukan strategi tambahan untuk meningkatkan keterlibatan siswa. Dengan memberikan latihan tambahan atau pendekatan yang lebih menarik, diharapkan siswa dapat lebih aktif dan fokus dalam seluruh aspek aktivitas pembelajaran. Model PBL terbukti efektif dalam menciptakan pembelajaran yang interaktif, kolaboratif, dan bermakna bagi siswa. Pembahasan Aktivitas Siswa pada Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Hasil observasi terhadap aktivitas siswa selama pembelajaran dengan penerapan model Problem Based Learning (PBL) pada materi menulis teks eksposisi kelas V SD menunjukkan hasil yang baik secara keseluruhan. Berdasarkan Tabel 4. 3, skor rata-rata aktivitas siswa adalah 84, yang masuk dalam kategori baik. Dari total 10 siswa yang diamati, terdapat dua siswa yang memperoleh skor tertinggi 93, sedangkan siswa lainnya memperoleh skor berkisar antara 79Ae83. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas siswa telah terlibat aktif dalam proses pembelajaran sesuai dengan indikator yang diamati. Pada indikator pertama, yaitu memperhatikan guru saat menjelaskan materi pelajaran, delapan siswa dalam kategori penilaian "aktif" dan dua siswa mendapat penilaian "baik. Ini menunjukkan bahwa sebagian besar siswa mampu fokus pada penjelasan guru, yang menjadi tahap awal penting dalam pembelajaran PBL. Ketelitian siswa dalam memahami materi menjadi dasar keberhasilan mereka dalam proses diskusi dan penyelesaian masalah yang diberikan. Indikator kedua, yaitu Merespon motivasi guru, menunjukkan hasil yang cukup Sebanyak tiga siswa memperoleh penilaian "aktifAy sementara tujuh siswa dinilai "baik". Hal ini mengindikasikan adanya beberapa siswa yang kurang optimal dalam memahami contoh yang diberikan oleh guru. Peningkatan pada aspek ini dapat dilakukan dengan memberikan contoh yang lebih menarik dan relevan dengan pengalaman siswa, sehingga perhatian mereka lebih terfokus. Pada indikator ketiga, yaitu bertanya mengenai materi teks eksposisi, delapan siswa dinilai "aktif" dan hanya dua siswa yang dinilai "baik. " Ini menunjukkan bahwa sebagian besar siswa memiliki keberanian untuk bertanya mengenai materi yang di sampaikan oleh Aktivitas ini menjadi salah satu ciri utama dari model PBL, di mana siswa dilatih untuk berpikir kritis dan aktif dalam proses pembelajaran. Indikator keempat, yaitu membantu teman yang mengalami kesulitan, juga menunjukkan hasil yang baik. Sebanyak delapan siswa memperoleh penilaian "aktif," sementara dua siswa dinilai "baik. " Dalam aktivitas membantu teman, dapat membantu siswa untuk diskusi, karena melalui diskusi siswa dapat saling bertukar ide dan memperdalam pemahaman mereka terhadap materi yang dipelajari. Pada indikator kelima, yaitu menanggapi pertanyaan guru, hasil observasi menunjukkan lima siswa mendapat penilaian "aktif" dan lima siswa dinilai "baik. " Meski mayoritas siswa sudah menunjukkan kemampuan yang baik dalam menulis teks eksposisi, tetapi dalam menanggapi pertanyaan siswa masih percaya diri. Guru perlu untuk membantu siswa agar lebih percaya diri dalam menanggapi pertanyaan dalam menyusun teks eksposisi. Indikator yang ke enam, yaitu mengerjakan tugas yang diberikan, menunjukkan bahwa empat siswa memperoleh penilaian Auaktif,Ay dan 6 siswa mendapatkan penilaian AuBaikAy. Hal ini guru perlu benar-benar memperhatikan agar siswa mengerjakan tugas yang diberikan. Karena masih banyak siswa mendapatkan penilaian baik. Indikator yang ke tujuh, yaitu mengumpulkan tugas yang diberikan, mendapatkan penilaian empat siswa AuaktifAy dan 6 siswa mendapatkan penilaianAybaik. Ay Hal ini sama dengan indikator ke enam. Siswa perlu benar Ae benar di perhatikan mengenai tugas yang Indikator yang ke delapan, yaitu menyimak presentasi, menunjukkan bahwa sembilan siswa mendapatkan penilaian Aubaik,Ay sedangkan 1 siswa mendapatkan penilaian Aucukup. Ay Meski mayoritas siswa sudah menyimak presentasi dengan baik dalam menulis teks eksposisi, masih ada 1 siswa agar diberi perhatian khusus. Guru perlu memberikan pendampingan tambahan untuk membantu siswa yang tidak mendengarkan. Indikator yang ke sembilan dan ke sepuluh, yaitu kesungguhan melakukan pengamatan dan keaktifan siswa, menunjukkan pada indikator ke sembilan bahwa enam siswa memperoleh penilaian "aktif," sedangkan empat siswa dinilai "baik. " Sedangkan pada indikator ke sepuluh, memperoleh sebanyak 7 siswa dalam penilaian Auaktif,Ay dan 3 siswa dalam penilaian Aubaik. Ay Hal ini menjadi salah satu komponen penting dalam pembelajaran PBL karena melalui kessungguhan memalalui pengamatan maka siswa lebih aktif dala pembelajaran tersebut. Secara keseluruhan, hasil observasi menunjukkan bahwa siswa telah menunjukkan keterlibatan aktif selama pembelajaran berbasis masalah. Aktivitas seperti berdiskusi, menanggapi pendapat, dan memperhatikan penjelasan guru menjadi kekuatan utama dalam pelaksanaan PBL ini. Namun, terdapat beberapa aspek yang memerlukan perhatian, seperti merespon motivasi guru, mengerjakan tugas yang diberikan, mengumpulkan tugas yang diberikan dan menyimak presentasi. Model pembelajaran PBL telah memberikan dampak positif terhadap keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Siswa tidak hanya belajar secara pasif, tetapi juga terlibat dalam proses berpikir kritis, bekerja sama, dan menyelesaikan masalah secara mandiri maupun kelompok. Hal ini mencerminkan bahwa model PBL dapat menjadi pendekatan yang efektif dalam pembelajaran menulis teks eksposisi di sekolah dasar. Simpulan Hasil observasi aktivitas siswa selama pembelajaran menulis teks eksposisi dengan model Problem Based Learning (PBL) menunjukkan keterlibatan yang baik secara keseluruhan. Dengan skor rata-rata 84 atau dengan kategori sangat tinggi, mayoritas siswa telah aktif memperhatikan penjelasan guru, bertanya, membantu teman, dan berpartisipasi dalam Indikator seperti kesungguhan dalam pengamatan dan keaktifan siswa juga menunjukkan hasil positif, meskipun terdapat beberapa aspek yang perlu perhatian lebih, seperti merespon motivasi guru, mengerjakan dan mengumpulkan tugas, serta menyimak Secara umum, model PBL telah berhasil meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran dengan melatih kemampuan berpikir kritis, kerja sama, dan penyelesaian masalah, menjadikannya pendekatan yang efektif untuk pembelajaran menulis teks eksposisi di sekolah dasar. Daftar Pustaka