Jurnal Sains Geografi, 3. , 2025. DOI: 10. 21009/JSG. Analisis Kerawanan Longsor Menggunakan Metode Composite Mapping Analysis (CMA) di Kabupaten Tana Toraja Afdalul Roihan1. Ilham B. Mataburu2 121 Program Studi Geografi. Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum. Universitas Negeri Jakarta. Jalan Rawamangun Muka. Jakarta Timur 13220. Indonesia. *) Email Korespondensi: afdalul_1411622002@mhs. Abstract Sitasi: Roihan. Mataburu. B2. Analisis Kerawanan Longsor Menggunakan Metode Composite Mapping Analysis (CMA) di Kabupaten Tana Toraja. Jurnal Sains Geografi. Vol. No. Sejarah Artikel: Diterima:14 Januari 2025 Disetujui: 13 Maret 2025 Publikasi: 2 3 M e I 2 0 2 5 Tana Toraja Regency has geographical characteristics that are prone to landslides due to its hilly topography and high rainfall. This study aims to analyze the level of landslide vulnerability using Composite Mapping Analysis (CMA) method by integrating six parameters: rainfall, slope, land use, elevation, soil type, and geology. The analysis results show that the geological factor has the highest weight . 95%), followed by slope . 44%), and rainfall . 17%). Based on the vulnerability zoning, 83. 54% of the area is categorized as safe, 9. is not vulnerable located in Mengkendek and Rantetayo, 2. 18% is vulnerable located in Bittuang. Mappak, and Massanda, and 4. 77% is very vulnerable located in Bonggakaradeng and Simbuang. Highly vulnerable areas are concentrated in the southern and eastern parts of the district, especially in areas with a combination of high rainfall, steep slopes and unstable geology. This research produced a landslide vulnerability zoning map that can be used as a reference in disaster mitigation planning and spatial planning of Tana Toraja Regency. Keywords: landslide vulnerability. Composite Mapping Analysis. GIS. Tana Toraja, disaster mitigation Abstrak Copyright: A 2022 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY) license . ttps://creativecommons. org/license s/by/4. 0/). Kabupaten Tana Toraja memiliki karakteristik geografis yang rentan terhadap bencana longsor karena kondisi topografi berbukit dan curah hujan tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kerawanan longsor menggunakan metode Composite Mapping Analysis (CMA) dengan mengintegrasikan enam parameter: curah hujan, kelerengan, penggunaan lahan, elevasi, jenis tanah, dan geologi. Hasil analisis menunjukkan bahwa faktor geologi memiliki bobot tertinggi . 95%), diikuti oleh lereng . 44%), dan curah hujan . 17%). Berdasarkan zonasi kerawanan, 83. 54% wilayah termasuk kategori aman, 9. 51% tidak rawan berada di Mengkendek dan Rantetayo, 2. 18% rawan yang berlokasi di Bittuang. Mappak, dan Massanda, serta 4. 77% sangat rawan yang berada di Bonggakaradeng dan Simbuang. Wilayah dengan kategori sangat rawan terkonsentrasi di bagian selatan dan timur kabupaten, terutama di daerah dengan kombinasi curah hujan tinggi, lereng curam, dan kondisi geologi yang kurang stabil. Penelitian ini menghasilkan peta zonasi kerawanan longsor yang dapat digunakan sebagai acuan dalam perencanaan mitigasi bencana dan tata ruang wilayah Kabupaten Tana Toraja. Kata Kunci: kerawanan longsor. Composite Mapping Analysis. SIG. Tana Toraja, mitigasi bencana Pendahuluan Kabupaten Tana Toraja, yang terletak di wilayah perbukitan Sulawesi Selatan, memiliki karakteristik geografis yang rentan terhadap bencana longsor (DIBI BNPB. Kondisi topografi yang didominasi oleh lereng curam, jenis tanah yang kurang stabil, serta intensitas curah hujan yang tinggi menciptakan lingkungan yang sangat rentan terhadap kejadian tanah longsor (Permadi et , 2018. Susanti et al. , 2. Bencana ini menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan pertanian, hingga mengancam keselamatan masyarakat (Ramadhan & Muhamad Kurniawan, 2. Bencana longsor di Tana Toraja tidak hanya terjadi secara sporadis, tetapi juga berulang setiap tahun, terutama selama musim penghujan (Kurniawan et al. , 2018. Sarya1 et , 2. Faktor-faktor seperti alih fungsi lahan hutan menjadi pemukiman atau lahan perkebunan memperburuk kondisi ini. Sebagai contoh, laporan dari BNPB menunjukkan bahwa longsor di wilayah ini seringkali diperparah oleh minimnya vegetasi penahan lereng, drainase yang buruk, dan aktivitas manusia yang tidak memperhatikan kelestarian lingkungan. Oleh karena itu, mitigasi berbasis data spasial diperlukan untuk memberikan solusi yang efektif dan berkelanjutan (Kurnia Darmawan dan Andri Suprayogi, 2. Salah satu tantangan utama dalam mitigasi bencana dalam konteks ini tanah longsor di Tana Toraja adalah kurangnya data spasial yang detail mengenai tingkat kerawanan longsor (Rahman, 2. Peta kerawanan yang ada seringkali bersifat generalisasi dan perencanaan tata ruang lokal. Akibatnya, pemerintah daerah dan masyarakat tidak memiliki panduan yang memadai untuk melakukan langkah antisipasi atau intervensi. Dalam konteks ini, metode Composite Mapping Analysis (CMA) yang berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) menjadi pendekatan yang relevan (Nurul Mukhlisa et , 2. Penelitian yang sejenis juga dilakukan oleh Mataburu et al. yang telah terbukti efektif dalam pemetaan mengaplikasikan metode CMA pada analisis wilayah rawan banjir di Daerah Aliran Sungai (DAS) Cimanuk, dan berhasil menghasilkan klasifikasi kerawanan dengan akurasi tinggi melalui integrasi parameter fisik dan spasial seperti kemiringan, penggunaan lahan, dan jenis tanah. CMA memungkinkan integrasi berbagai parameter yang mempengaruhi longsor, seperti kelerengan, jenis tanah, curah hujan, dan penggunaan lahan, untuk menghasilkan peta kerawanan yang lebih komprehensif. Penelitian parameter-parameter kerawanan longsor seperti kelerengan, curah hujan, penggunaan lahan, jenis tanah, dan kerawanan longsor di Kabupaten Tana Toraja menggunakan metode Composite Mapping Analysis (CMA) berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG), rekomendasi pengelolaan risiko bencana melalui perencanaan tata ruang, rehabilitasi lahan kritis, dan edukasi masyarakat mengenai manajemen risiko bencana. Metode Penelitian Lokasi Penelitian Lokasi penelitian adalah Kabupaten Tana Toraja yang beribukota di Makale secara geografis terletak di bagian Utara Provinsi Sulawesi Selatan, yang secara geografis memiliki topografi berbukit dan curam. Wilayah penelitian ini dipilih karena tingginya intensitas longsor yang dipicu oleh curah hujan tinggi, jenis tanah yang rentan, dan perubahan penggunaan lahan. Wilayah ini mencakup titik koordinat geografis 2A - 3A Lintang Selatan dan 119A - 120A Bujur Timur. Kabupaten Tana Toraja berbatasan dengan Kabupaten Toraja Utara di sebelah Utara. Kabupaten Enrekang pada bagian Timur. Kabupaten Pinrang sebelah Selatan, dan Provinsi Sulawesi Barat Kabupaten Mamasa pada bagian Barat. Gambar 1 Lokasi Penelitian Kerawanan Longsor Bahan Penelitian Untuk mengetahui wilayah rawan tanah longsor ini, peneliti menggunakan metode overlay GIS dengan pembobotan skor pada 6 parameter, yaitu curah hujan, lereng, penggunaan lahan, elevasi, jenis tanah, dan geologi batuan, serta titik lokasi terjadinya longsor sebagai parameter pembanding dalam penentuan bobot dan skor. Analisis wilayah rawan longsor ini dilakukan pada software ArcGIS 10. Berikut data-data yang digunakan pada penelitian ini: Peta rata-rata curah hujan bersumber dari CHIRPS dengan rentang waktu 30 tahun. Peta lereng didapatkan melalui hasil pengolahan terhadap data digital elevation model (DEM) yang berasal dari DEMNAS BIG. Peta penggunaan lahan diperoleh melalui peta Rupa Bumi Indonesia yang di produksi oleh BIG Peta elevasi didapatkan melalui hasil pengolahan terhadap data digital elevation model (DEM) yang berasal dari DEMNAS BIG. Peta jenis tanah diperoleh dari hasil pengolahan data digital soil map of the world (DSMW) yang diproduksi Food Agriculture Organziation (FAO) Peta geolohi didapatkan melalui RBI yang di produksi oleh BIG Plotting lokasi titik kejadian longsir berasal dari Data dan Informasi Bencana Indonesia (DIBI) BNPB dalam rentang waktu 2014-2024. Pengolahan Data Tingkat kerawanan tanah longsor ditentukan berdasarkan nilai bobot dan skor pada setiap parameter yang memengaruhi kerawanan tersebut. Penentuan bobot dan skor dilakukan dengan menggunakan metode Composite Mapping Analysis (CMA). Nilai bobot dan skor diperoleh dengan membandingkan nilai observasi dari kejadian longsor tertentu dengan nilai ekspektasi kejadian yang diperkirakan berdasarkan luasan wilayah (Mataburu et al. , 2. Nilai observasi menggambarkan jumlah kejadian longsor per satuan wilayah, sedangkan nilai ekspektasi mencerminkan proporsi kejadian yang seharusnya terjadi berdasarkan luas area Secara matematis, model CMA untuk memetakan tingkat kerawanan tanah longsor dirumuskan sebagai berikut: ycNycIya = . cOycn. ycUyc. Di mana: ycAycn ycOycn = ycUycn = ycCycn ycCycn 100 y yaycn yaycn Keterangan: TRL: Tingkat Kerawanan Longsor. Wi: Bobot parameter ke-i. Xi: Skor faktor parameter ke-i. Mi: Rata-rata luas observasi pada setiap faktor kerawanan longsor. Oi: Jumlah observasi kejadian Ei: Jumlah ekspektasi kejadian Metode overlay dilakukan terhadap semua parameter kerawanan longsor yang telah diberi bobot dan skor, kemudian dianalisis menggunakan perangkat lunak SIG untuk menghasilkan peta tingkat kerawanan tanah longsor di wilayah penelitian. Hasil dan Pembahasan Hasil Dalam analisis kerawanan longsor, parameter curah hujan merupakan salah satu faktor utama yang mempengaruhi kejadian tanah longsor (Hidayat & Zahro, 2. Curah hujan berkaitan langsung dengan tingkat kejenuhan tanah oleh air, yang dapat menyebabkan pelemahan kohesi tanah dan memicu longsor. Berdasarkan data, wilayah dengan curah hujan 2500-3000 mm memiliki luas terbesar . 51%). Meskipun curah hujan di atas 3000 mm mencakup 38. wilayah dengan lebih banyak titik bencana. Hal ini menunjukkan bahwa area dengan curah hujan sedang lebih rawan longsor dibandingkan dengan area dengan curah hujan sangat tinggi, yang mungkin dipengaruhi oleh faktor lain seperti kondisi geologi atau penggunaan lahan. Parameter kerawanan tanah longsor karena kemiringan lahan yang lebih curam cenderung meningkatkan risiko pergerakan tanah akibat Berdasarkan data yang dianalisis, area dengan kemiringan 25-45% mencakup luas terbesar, yaitu 94,6 ha . ,34%) dari total wilayah, dan menjadi lokasi bencana paling dominan dengan 21 titik longsor. Pada kemiringan lebih dari 45%, meskipun luasnya hanya 13,8 ha . ,93%), terdapat 25 observasi/ekspektasi (O/E) sebesar 0,521, menunjukkan konsentrasi tinggi longsor. Sebaliknya, kemiringan landai 0-8% dan 815% memiliki risiko longsor yang rendah pergerakan lebih baik, ditunjukkan oleh skor O/E yang sangat kecil. Secara keseluruhan, peningkatan risiko longsor sejalan dengan bertambahnya kemiringan, karena stabilitas tanah menurun pada lereng curam (Ridwan et , 2. Pada parameter penggunaan lahan (Land Use and Land Cove. memainkan peran penting dalam menentukan kerawanan terhadap tanah longsor karena jenis penggunaan lahan memengaruhi stabilitas tanah dan risiko erosi. Dari data yang ada, lahan dengan penggunaan seperti sawah dan pertanian lahan kering menunjukkan risiko tinggi dengan rasio observasi terhadap ekspektasi (O/E) sebesar 0,125 dan 0,119, serta skor kerawanan tertinggi masing-masing 0,445 dan 0,427. Hal ini disebabkan oleh aktivitas manusia yang mengganggu struktur tanah. Sebaliknya, kawasan hutan lahan kering primer dan sekunder memiliki risiko yang lebih rendah, dengan skor O/E nol pada hutan primer karena vegetasi yang lebat membantu menjaga kestabilan tanah. Pemukiman dan lahan terbuka, meskipun memiliki luas kecil, juga tidak menunjukkan adanya titik longsor dalam data ini. Dengan demikian, intensitas aktivitas manusia dan tingkat vegetasi menjadi faktor utama dalam menentukan tingkat kerawanan longsor berdasarkan penggunaan lahan (Gilang Rupaka et al. , 2015. Pratiwi et al. , 2. Parameter elevasi memiliki pengaruh signifikan terhadap kerawanan longsor, kemiringan lereng dan distribusi curah hujan. Berdasarkan data, kawasan dengan elevasi 1000Ae1500 meter memiliki skor kerawanan tertinggi . , diikuti oleh <1000 meter . Hal ini disebabkan oleh tingginya aktivitas manusia di daerah rendah hingga menengah, seperti pertanian dan pemukiman, yang meningkatkan tekanan pada stabilitas Sebaliknya, daerah dengan elevasi >2000 menunjukkan risiko longsor yang sangat rendah karena aktivitas manusia yang minimal dan keberadaan vegetasi alami yang Dengan mencerminkan kerawanan yang beragam, di mana aktivitas manusia dan kondisi geomorfologi menjadi faktor utama yang berkontribusi pada tingkat kerawanan kimia tanah memengaruhi stabilitas lereng (Rahman, 2. Berdasarkan data, tanah Luvisol menunjukkan skor kerawanan tertinggi . , yang mungkin disebabkan oleh tekstur dan kandungan organik tanah yang membuatnya lebih rentan terhadap erosi dan pelapukan di bawah pengaruh curah hujan tinggi. Andosol, yang biasanya memiliki struktur butiran stabil karena kandungan mineralnya, memiliki skor lebih rendah . , tetapi tetap menunjukkan potensi kerawanan di lokasi dengan aktivitas Tanah Acrisol memiliki tingkat kerawanan bervariasi, tergantung distribusi dan tekstur tanah, sementara Ferralsols tidak mencatat kerawanan karena luasannya kecil dan aktivitas manusia minimal. Variasi ini menekankan pentingnya memperhatikan jenis tanah sebagai indikator dalam analisis risiko longsor. Parameter geologi merupakan salah satu faktor dalam menentukan kerawanan terhadap longsor karena sifat batuan dan formasi geologi memengaruhi kestabilan Berdasarkan data, sedimen klastika sedang seperti batupasir memiliki skor tinggi . menunjukkan bahwa jenis batuan ini, meskipun cukup stabil, menjadi rentan di bawah kondisi erosi intensif atau curah hujan Sedimen batugamping juga mencatat skor kerawanan tinggi . , yang dapat dikaitkan dengan porositas dan kelarutan batuannya yang memungkinkan infiltrasi air tinggi, sehingga melemahkan struktur lereng. Jenis tanah memainkan peran penting dalam menentukan kerawanan terhadap longsor karena perbedaan karakteristik fisik dan Tabel 1 Nilai Skor 6 Parameter Tingkat Kerawanan Longsor Keterangan Luas . Titik Lokasi Bencana Luas (%) N_O N_E O/E Curah Hujan 2000-2500mm 2500-3000mm >3000mm Total Keterangan Luas . N_O N_E O/E N_O N_E O/E Titik Lokasi Bencana Luas (%) SLOPE 0-8% 8-15% 15-25% 25-45% >45% Total Keterangan Luas . Luas (%) Titik Lokasi Bencana LULC Bandara / Pelabuhan Belukar Hutan Lahan Kering Primer Hutan Lahan Kering Sekunder Pemukiman Pertanian Lahan Kering Pertanian Lahan Kering Campur Savana / Padang rumput Sawah Tanah Terbuka Total Keterangan Luas . N_O N_E O/E Luas (%) Titik Lokasi Bencana ELEV < 1000m >2500m 1000-1500m 1500-2000m 2000-2500m Keterangan Luas . Titik Lokasi Bencana Luas (%) N_O N_E O/E N_O N_E O/E SOIL Acrisol Acrisol Andosol Ferralsols Luvisol Total Keterangan Luas . Titik Lokasi Bencana Luas (%) GEOLOGI Malihan: sedimen Malihan: sedimen Sedimen: klastika: kasar Batuan ekstrusi: menengah: piroklastik Sedimen: klastika: sedang: Sedimen: klastika: halus: Sedimen: klastika: halus: Batuan intrusi: asam: Batuan intrusi: asam: Sedimen: klastika: sedang: Sedimen: klastika: sedang: Batuan ekstrusi: menengah: polimik Sedimen: terumbu: Sedimen: klastika: kasar: Total Sumber: Pemrosesan data Gambar 2 . Curah hujan, . Lereng. C) Penggunaan Lahan, . Elevasi, . Jenis tanah, dan . Geologi Pembahasan Hasil analisis menggunakan model CMA menunjukkan bahwa parameter jenis batuan merupakan faktor utama yang memengaruhi kerawanan longsor dengan nilai bobot tertinggi, yakni sebesar 0,774. Hal ini mengindikasikan bahwa jenis batuan, batugamping, memiliki kontribusi signifikan terhadap kejadian longsor karena sifatnya yang mudah menyerap air dan rentan terhadap pelapukan (Aryaseta et al. , 2. Parameter lain yang memberikan kontribusi signifikan adalah curah hujan dan kemiringan lereng, masing-masing dengan bobot 0,45 dan 0,35, sesuai dengan Hidayat & Zahro . menunjukkan bahwa wilayah dengan intensitas hujan tinggi pada lereng curam lebih rentan terhadap longsor. Kombinasi antara curah hujan yang tinggi dan kemiringan lereng yang tajam mempercepat proses erosi dan pergerakan massa tanah. Selanjutnya, parameter tutupan lahan mencatat bobot 0,30, menurut Gilang Rupaka et al. penggunaan lahan seperti permukiman atau area terbuka tanpa vegetasi cenderung meningkatkan aliran permukaan air dan melemahkan kestabilan tanah, terutama pada daerah dengan hutan yang sudah mengalami konversi. Faktor jenis tanah juga memiliki bobot signifikan sebesar 0,126, yang menunjukkan bahwa tanah dengan tekstur halus seperti napal lebih rentan terhadap pelapukan akibat infiltrasi air yang lambat. Parameter pola aliran permukaan menyumbang nilai 0,085, menunjukkan bahwa daerah dengan pola aliran air yang terkonsentrasi memiliki risiko lebih tinggi terhadap longsor. Terakhir, elevasi memberikan bobot 0,03, yang mengindikasikan bahwa pembukaan lahan secara masif seperti pertanian di lereng gunung atau penggalian tanah untuk konstruksi juga dapat memicu longsor, parameter lainnya. Tabel 2 Nilai Bobot Parameter Kerawanan Longsor Tana Toraja Observasi Longsor No Parameter 1 Curah Hujan Penggunaan 2 Lahan 3 Geologi 4 Jenis Tanah 5 Lereng 6 Elevasi Total Bobot Sumber: Pemrosesan data Dalam penelitian ini. Wilayah dengan tingkat kerawanan longsor dapat dikategorikan menjadi empat kelas, yaitu Aman. Tidak Rawan. Rawan, dan Sangat Rawan. Berdasarkan data yang tersedia, wilayah dengan kategori Aman memiliki luas paling besar, yaitu 1661 ha atau sekitar 83,54% dari total area dan terawan memiliki luas wilayah 77 ha atau sekitar 4. 76% dari wilayah penelitian (Tabel . Tabel 3 Tingkat kerawanan longsor Tana Toraja Tingkat Kerawanan Aman Tidak Rawan Rawan Sangat Rawan Total Luas . Luas (%) Kabupaten Tana Toraja memiliki tingkat kerawanan tanah longsor yang bervariasi, terbagi menjadi empat kategori utama: aman, tidak rawan, rawan, dan sangat rawan. Wilayah dengan kategori aman meliputi 18 kecamatan, seperti Awan Rante Karua dan Baruppu, yang umumnya memiliki topografi lebih stabil. Kategori tidak rawan mencakup 4 wilayah, termasuk Rantetayo dan Gandangbatu Silanan, yang relatif memiliki risiko longsor lebih rendah. Di sisi lain, terdapat 13 wilayah dalam kategori rawan, termasuk Bittuang yang mencatat jumlah kejadian tanah longsor tertinggi, yaitu 7 kejadian. Selain itu, wilayah dengan kategori sangat rawan mencakup 3 kecamatan, seperti Bonggakaradeng. Rano, dan Simbuang, yang masing-masing mencatat 3 kejadian tanah longsor. Sumber: Pemrosesan data Gambar 3 Peta Hasil Kerawanan Longsor Berdasarkan analisis spasial dari peta kerawanan tanah longsor di Kabupaten Tana Toraja, terdapat pola distribusi kerawanan yang dipengaruhi oleh faktor topografi, curah hujan, penggunaan lahan, dan kondisi geomorfologi. Wilayah dengan kategori sangat rawan cenderung berada di area berbukit dan pegunungan yang memiliki kemiringan lereng curam. Faktor utama yang memengaruhi kerawanan ini adalah intensitas curah hujan tinggi, yang dapat memicu pergerakan tanah, serta kondisi tanah yang gembur atau tidak stabil. Lokasi-lokasi yang termasuk ke dalam Sangat Rawan Bonggakaradeng . 96 h. Simbuang . 53 h. , dan Rano . ,51 h. diharapkan untuk bersiap untuk mitigasi bencana tanah Juga pada area kategori rawan terdeteksi bahwa adanya pembukaan lahan untuk pertanian tanpa mempertimbangkan teknik konservasi tanah. Secara spasial, zona sangat rawan terlihat mendominasi bagian selatan dan timur Daerah ini tidak hanya memiliki topografi curam tetapi juga menjadi kawasan dengan tingkat aktivitas manusia yang cukup tinggi, seperti pemukiman dan kegiatan agraris. Hal ini meningkatkan risiko longsor, terutama pada musim hujan. Sebaliknya, wilayah di bagian barat laut, seperti Masanda dan Bonggakaradeng, menunjukkan tingkat kerawanan yang lebih Wilayah ini cenderung memiliki topografi yang lebih landai dan stabil, serta tutupan vegetasi yang lebih baik. Kondisi geomorfologi di daerah ini lebih mendukung kestabilan tanah, sehingga risiko longsor relatif minimal. Penggunaan metode CMA pada penelitian rawan bencana dinilai unggul dalam mengefektifkan proses kuantifikasi risiko melalui pendekatan rasio observasi terhadap ekspetasi (O/E) yang dapat memetakan distribusi kerawanan secara objektif dan spasial. Meskipun demikian. CMA Salah satu kekurangannya adalah ketergantungan pada kelengkapan dan keakuratan data historis kejadian Jika data observasi tidak merata secara spasial atau temporal, hasil perhitungan rasio O/E bisa menjadi bias. Selain itu. CMA kurang memperhitungkan membedakan kejadian yang bersifat musiman atau ekstrem. Kekurangan lainnya adalah sifatnya yang deterministik, di mana hubungan antar independen tanpa mempertimbangkan interaksi antar parameter. Kesimpulan Penelitian ini menunjukkan bahwa Kabupaten Tana Toraja memiliki tingkat kerawanan tanah longsor yang bervariasi, dipengaruhi oleh kombinasi faktor geologi, kelerengan, dan curah hujan sebagai parameter dominan. Berdasarkan analisis menggunakan metode Composite Mapping Analysis (CMA), geologi memiliki bobot tertinggi sebesar 36,95%, diikuti oleh kelerengan sebesar 26,44% dan curah hujan sebesar 18,17%. Zonasi kerawanan yang dihasilkan mengklasifikasikan wilayah ke dalam empat kategori, yaitu aman . ,54%), tidak rawan . ,51%), rawan . ,18%), dan sangat rawan . ,77%), dengan konsentrasi kerawanan tertinggi berada di bagian selatan dan timur kabupaten, seperti Bonggakaradeng. Simbuang, dan Rano. Daftar Pustaka