IPTEKIN Jurnal Kebijakan Pembangunan dan Inovasi Vol. , 2024, 53Aa64 Potensi Tanaman Sagu di Sentra Produksi Kabupaten Kepulauan Meranti dan Indragiri Hilir Provinsi Riau sebagai Sumber Karbohidrat Lokal Yeni Kusumawaty1*. Heryudarini Harahap2. Gevisioner2. Syaiful Hadi1. Tengku Harunur Rasyid2. Hasan Warso Syahputra3. Vivin Seygita2. Noer Laily4. Ika Mulawati Purwanti Noviana4 1 Universitas Riau 2 Badan Perencanaan Pembangunan Daerah. Penelitian dan Pengembangan 3 Dinas Pangan. Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Riau 4 Badan Riset Inovasi Nasional Email: yeni. kusumawaty@lecturer. Received: 03/06/2024. Revised:27/06/2024. Accepted: 27/06/2024. Published : 30/06/2024 ABSTRACT In Riau Province, the most extensive sago planting is in Kepulauan Meranti and Indragiri Hilir Districts. The sago commodity has great potential to be developed in Riau Province to support the community's economy and food security, however currently sago processing has not developed signi icantly. This research further examines the existing potential of sago plants and the potential of processed sago products in two sago centers in Riau to support the development of local nonAarice carbohydrates. This research was conducted in Kepulauan Meranti and Indragiri Hilir Districts, which were selected based on purposive sampling, namely the two largest sago producing districts in Riau Province. The types of data collected are primary and secondary data. Primary data collection was carried out using inAadepth interviews and Focus Group Discussion (FGD) methods. The results of the research conclude that: . The potential and production of sago in two districts, namely Kepulauan Meranti and Indragiri Hilir Districts, is relatively suf icient to supply the sago market in Indonesia, but there are no sago reserves to guarantee the supply of sago as a raw material for local carbohydrates in Riau Province and ( . There is a difference in data on the availability of sago for consumption in Riau Province between the 2022 Food Materials Balance (NBM) data, namely 37. 22 kg/capita/year and the results of ield research, which ranges from 4. 25 Ae 8. 50 kg/capita/year. This difference is due to the fact that there is a fairly large percentage of wet sago and dry sago taken out of Kepulauan Meranti and Indragiri Hilir districts that has not been recorded. Keywords: sago, sago lour, local food, carbohydrates. NBM ABSTRAK Di Provinsi Riau, penanaman sagu terluas terdapat di Kabupaten Kepulauan Meranti dan Kabupaten Indragiri Hilir. Komoditas sagu sangat potensial dikembangkan di Provinsi Riau untuk mendukung perekonomian masyarakat dan ketahanan pangan, namun saat ini pengolahan sagu masih belum berkembang secara signi ikan. Penelitian ini mengkaji lebih lanjut potensi eksisting tanaman sagu dan potensi produk olahan sagu di dua sentra sagu di Riau untuk mendukung pengembangan karbohidrat lokal non beras. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Kepulauan Meranti dan Kabupaten Indragiri Hilir, yang dipilih berdasarkan purposive sampling, yakni dua kabupaten penghasil sagu terbesar di Provinsi Riau. Jenis data yang dikumpulkan adalah data primer dan Pengumpulan data primer dilakaukan dengan menggunakan metode wawancara secara mendalam . nAadepth intervie. dan Focus Group Discussion (FGD). Hasil penelitian menyimpulkan bahwa: . Potensi dan produksi sagu pada dua kabupaten yaitu Kabupaten Kepulauan Meranti dan Indragiri Hilir relatif cukup untuk mensuplai pasar sagu di Indonesia, namun belum ada pencadangan sagu untuk menjamin suplai sagu sebagai bahan baku karbohidrat lokal di Provinsi Riau dan . Terdapat perbedaan data ketersediaan sagu untuk dikonsumsi di Provinsi Riau antara data Neraca Bahan Makanan (NBM) 2022 yaitu 37,22 kg/kapita/tahun dengan hasil penelitian di lapangan yaitu berkisar antara 4,25 Ae 8,50 kg/kapita/tahun. Perbedaan ini disebabkan terdapatnya persentase yang cukup besar dari sagu basah dan sagu kering yang dibawa keluar Kabupaten Kepulauan Meranti dan Indragiri Hilir yang belum terdata. IPTEKIN Jurnal Kebijakan Pembangunan dan Inovasi Vol. , 2024, 53Aa64 Kata Kunci: sagu, tepung sagu, pangan lokal, karbohidrat. NBM PENDAHULUAN Indonesia memiliki keunggulan komparatif potensi tumbuhan sagu (Metroxylon spp. ) yang terluas di dunia dibandingkan negara-negara penghasil sagu lainnya seperti Papua New Guinea (PNG). Malaysia dan Thailand (Pranata et al. , 2. Lahan tanaman sagu dunia berjumlah 6,5 juta ha dimana sebesar 5,4 juta ha berada di Indonesia dan lebih dari 95 persen lahan terdapat di Papua . ,3 juta h. Hanya saja pemanfaatan lahan sagu di Indonesia baru dilakukan sekitar 6 persen dengan produksi tidak 000 ton. Dari jumlah ini sebagian besar diproduksi di Provinsi Riau . dan lebih dari 95 persen pengusahaan tanaman sagu ini berasal dari perkebunan rakyat (Syartiwidya, 2. Penanaman sagu di Provinsi Riau terdapat di 5 kabupaten, yaitu Kabupaten Kepulauan Meranti. Indragiri Hilir. Bengkalis. Siak dan Pelalawan. Tabel 1 memberikan gambaran luas lahan, dan produksi sagu di Provinsi Riau. Kabupaten Kepulauan Meranti dan Indragiri Hilir merupakan penyumbang 97,9% produksi sagu di Provinsi Riau. Sebagian besar luas tanaman sagu . ,1%) dan produksi sagu . ,0%) berasal dari Kabupaten Kepulauan Meranti. Tabel 1. Luas dan Produksi Sagu di Provinsi Riau No. Kabupaten Kepulauan Meranti Indragiri Hilir Bengkalis Pelalawan Siak Total Luas (H. Produksi (To. Sumber : Dinas Perkebunan Provinsi Riau, 2023 Penanaman sagu terluas terdapat di Kabupaten Kepulauan Meranti dan Kabupaten Indragiri Hilir. Hal ini karena tanaman sagu tumbuh baik di daerah rawa seperti yang banyak terdapat di kedua kabupaten tersebut. Tanah rawa mengandung air tanah coklat yang mengandung zat organik terlarut yang dibutuhkan mikroorganisme, sedangkan sagu membutuhkan tanah yang kaya bahan mineral dan bahan organik, dan di tanah rawa sagu akan menghasilkan pati lebih banyak walaupun membutuhkan waktu lebih lama untuk dipanen (Moniaga, 2. Sagu merupakan sumber karbohidrat lokal dan menjadi bahan baku makanan tradisional masyarakat di Riau, maka harus dijaga kelestariannya. Pemerintah pengembangan teknologi pengolahan sagu, sehingga tetap menarik sebagai sumber pangan bagi masyarakat (Meilvis, 2. Menurut Novarianto, et al . , hasil utama tanaman sagu adalah pati yang diolah melalui kilangkilang, yang pada tahun 2012 berjumlah 63 kilang. Pati sagu ini dikemas dalam karung berukuran 50 kg, dan umumnya dikirim ke kota Cirebon sebagai bahan baku industri sohun, disamping untuk berbagai produk makanan, seperti mie dan kue kering. Selain itu, sebagian pati diekspor ke Malaysia untuk bahan baku Komoditas sagu sangat potensial dikembangkan di Provinsi Riau untuk mendukung perekonomian masyarakat dan program ketahanan pangan, namun saat ini pengolahan sagu masih belum berkembang secara signifikan dan masih bersifat tradisional. Beberapa produk yang dihasilkan dari sagu antara lain tepung sagu, mie sagu, sohun, sempolet, sagu rendang, sagu mutiara. IPTEKIN Jurnal Kebijakan Pembangunan dan Inovasi Vol. , 2024, 53Aa64 kerupuk sagu, cendol sagu, sempolet, dan kue kering dari tepung sagu. Berdasarkan Road Map Diversifikasi Pangan 2020-2024, beberapa tantangan diversifikasi pangan adalah masalah ketersediaan bahan baku pangan lokal untuk industri olahan dan konsumsi dari sisi kuantitas, kualitas dan kontinuitas (Badan Pangan, 2. Pola masyarakat masih didominasi oleh karbohidrat beras. Selain itu konsumsi tepung terigu dan makanan berbahan dasar terigu . meningkat sedangkan terigu harus diimpor. Saat ini, produksi beras di Provinsi Riau baru mencukupi 21,57 % dari konsumsi beras masyarakat Riau. Padahal Provinsi Riau memiliki potensi sumber karbohidrat pengganti beras yaitu sagu. Berdasarkan data Neraca Bahan Makanan Riau Tahun 2022, diperoleh bahwa sumber ketersediaannya di pasar adalah sagu yaitu 37,22 kg/tahun, dibanding jenis bahan makanan seperti jagung, ubi jalar dan ubi kayu (Dinas Pangan. Tanaman Pangan dan Hortikultura Riau, 2. Berdasarkan potensi tanaman sagu di Provinsi Riau dari data dan penelitian sebelumnya, penelitian ini mengkaji lebih lanjut potensi eksisting tanaman sagu dan potensi produk olahan sagu di dua sentra sagu di Riau yaitu Kabupaten Kepulauan Meranti dan Kabupaten Indragiri Hilir untuk mendukung pengembangan karbohidrat lokal non beras untuk mendukung ketahanan pangan nasional. METODE Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Kepulauan Meranti dan Kabupaten Indragiri Hilir, yang dipilih berdasarkan kabupaten penghasil sagu terbesar di Provinsi Riau. Jenis data yang dikumpulkan adalah data primer dan Pengumpulan data primer dilakukan dengan menggunakan metode wawancara secara mendalam . nAadepth intervie. terhadap 20 orang informan dari Kabupaten Kepulauan Meranti dan Indragiri Hilir. Selain itu juga dilakukan Focus Group Discussion (FGD) untuk mendapatkan informasi dari petani sagu, pemilik kilang sagu, dan UMKM produk olahan sagu. Narasumber pada kedua FGD di Kabupaten Kepulauan Meranti, dan Indragiri Hilir adalah pejabat di OPD dengan ruang lingkup Perkebunan. Pertanian. Ketahanan Pangan. Koperasi UMKM, Perindustrian dan Perdagangan. Data sekunder diperoleh dari Dinas di Kabupaten Kepulauan Meranti dan Indragiri Hilir dengan ruang lingkup Perkebunan. Pertanian. Ketahanan Pangan. Koperasi dan UMKM. HASIL DAN PEMBAHASAN Potensi Tanaman Sagu di Kabupaten Kepulauan Meranti Sesuai dengan ketersediaan lahan maka pemanfaatan lahan perkebunan hingga tahun 2022 bervariasi menurut tanaman perkebunan/ komoditas. Jenis komoditi perkebunan yang dominan adalah sagu, karet, pinang, dan kelapa. Luas perkebunan sagu mencapai 40. Ha, dengan produksi mencapai 247. ton setiap tahun (Tabel . Perkebunan sagu terluas terdapat di kecamatan Tebing Tinggi Timur, disusul kecamataan Tebing Tinggi Barat dan Merbau. Luas perkebunan sagu dibanding 5 tahun lalu atau tahun 2017. Luas perkebunan sagu pada tahun 2017 614 Ha. Tanaman kelapa banyak didapati di Kecamatan Merbau, tanaman pinang di kecamatan Rangsang Barat, dan tanaman karet di kecamatan Tasik Putri Puyu. Berdasarkan data pada IPTEKIN Jurnal Kebijakan Pembangunan dan Inovasi Vol. , 2024, 53Aa64 produktivitas tanaman sagu yaitu produktivitas paling tinggi berada di daerah kecamatan Tasik Putri Puyu. Tebing Tinggi Barat dan Rangsang Pesisir. Sebagian Kabupaten Kepulauan Meranti bekerja pada sektor pertanian khususnya sebagai petani kelapa sebanyak 15. Kecamatan Rangsang sebanyak 7. KK. Kemudian mereka bekerja di perkebunan karet sebanyak 13. kepala keluarga, sedangkan yang bekerja sektor sagu sebanyak 7. 487 kk (Tabel . Tabel 2. Luas Tanaman Perkebunan (H. dan Produksi (To. di Kabupaten Kepulauan Meranti Tahun 2022 Sagu Karet Pinang Kelapa Kecamatan Luas (H. Produksi (To. Tb. Tinggi Barat Tebing Tinggi Tb. Tinggi Timur Rangsang 9,02 67,80 67,80 2,45 0,05 0,02 0,69 Prod (To. 0,47 0,38 3,30 3,30 0,21 0,01 0,00 0,38 0,32 0,57 86,24 86,24 1,33 0,02 0,01 2,81 2,48 3,48 3,48 0,40 0,13 0,05 16,14 14,36 Rangsang Pesisir Rangsang Barat Merbau 2,36 17,91 17,91 0,48 0,04 0,01 6,44 7,28 0,26 1,98 1,98 0,75 0,18 0,10 4,10 3,12 5,37 24,51 24,51 2,18 0,03 0,01 0,60 0,19 2,05 11,53 11,53 1,82 0,06 0,01 0,65 0,56 3,55 30,27 30,27 2,84 0,03 0,01 0,72 0,48 12,45 0,55 0,23 32,52 29,26 Pulau Merbau Tasik Putri Puyu Total Luas (H. Produksi (To. Luas (H. Produksi (To. Luas (H. Sumber: Kabupaten Kepulauan Meranti Dalam Angka 2023 (BPS Kabupaten Kepulauan Meranti, 2. Hasil penelitian yang dilakukan Hamid . menemukan tanaman sagu merupakan komoditi yang paling unggul dibanding komoditi lainnya dengan nilai LQ sebesar 2,7294, sedangkan kelapa dan karet dan pinang bukan komoditi unggulan dengan nilai LQ <1. Pengembangan Komoditas Kecamatan Tebing Tinggi Barat. Tebing Tinggi Timur. Merbau. Tasik Putri Puyu, dan Tebing Tinggi. Secara umum baik jumlah industri maupun jumlah serapan tenaga kerja di Kabupaten Kepulauan Meranti mengalami peningkatan mulai tahun 2020 hingga 2022 mengalami Jumlah industri pada tahun 2022 mencapai 1780 dengan serapan tenaga kerja 8032 orang (Tabel . Kondisi ini merupakan dimanfaatkan dalam peningkatan komoditi sagu ke depan di kabupaten Kepulauan Meranti. Tabel 3. Jumlah Petani berdasarkan Komoditi Perkebunan Sagu (Kepala Keluarg. di Kabupaten Kepuluan Meranti Pada Tahun 2021 IPTEKIN Jurnal Kebijakan Pembangunan dan Inovasi Vol. , 2024, 53Aa64 Kecamatan Sagu Pina Karet Kela Tb. Tinggi Barat Tebing Tinggi Tb. Tinggi Timur Rangsang Rangsang Pesisir Rangsang Barat Merbau Pulau Merbau Tasik Putri Puyu Total pengolahan batang sagu menjadi tepung sagu basah dan tepung sagu Sehingga serapan tenaga kerja selain di perkebunan juga pada setiap kilang sagu. Sehingga dengan semakin banyaknya sagu yang akan di produksi, semakin bertambah juga serapan tenaga kerja. Terdapat beberapa masalah yang yang dihadapi oleh petani dan juga pemilik kilang yakni . Pengadaan bibit belum terencana dengan baik, . Kualitas tanaman sagu belum terstandarisasi, . Nilai tambah yang pati oleh petani dan pemilik kilang belum maksimal, . Pengadaan teknologi yang digunakan masih pihak-pihak tertentu, . Belum maksimalnya pemanfaatan limbah sagu. Untuk permasalahanAe permasalahan tersebut, tentunya diperlukan tata kelola, tata niaga, dan teknologi yang memadai. Sumber: Kabupaten Kepulauan Meranti Dalam Angka 2023 (BPS Kabupaten Kepulauan Meranti, 2. Selanjutnya komoditas sagu sudah memiliki industri pengolahan, yakni Tabel 4. Perkembangan Jumlah Industri dan Tenaga Kerja di Kabupaten Kepulauan Meranti Tahun 2020 s. Kecamatan Jumlah Industri Tebing Tinggi Barat Tebing Tinggi Tebing Tinggi Timur Rangsang Rangsang Pesisir Rangsang Barat Merbau Pulau Merbau Tasik Putri Puyu Total Jumlah Tenaga Kerja Sumber: BPS Kab. Kepulauan Meranti . Dinas Perdagangan. Perindustrian. Koperasi. Usaha Kecil dan Menengah Kabupaten Kepulauan Meranti . Hingga tahun 2022, terdapat jumlah kilang sagu di kabupaten Kepulauan Meranti sebanyak 97 unit. Kilang sagu yang paling banyak di kecamatan Tebing Tinggi Barat. Khusus di sentra IKM Sagu Terpadu Desa Sungai Tohor terdapat 20 kilang Jumlah koperasi di Kabupaten Kepulauan Meranti pada tahun 2022 adalah 274 koperasi yang terdiri dari 1 unit KUD dan 273 unit non KUD IPTEKIN Jurnal Kebijakan Pembangunan dan Inovasi Vol. , 2024, 53Aa64 (Tabel . Namun demikian fungsi koperasi yang ada belum dirasakan perannya oleh masyarakat terutama oleh pelaku pertanian sagu. Masih banyaknya koperasi yang tidak aktif, disebabkan mayoritas UMKM yang ada lebih memanfaatkan rentenir yang berkedok koperasi dibandingkan menjadi anggota koperasi. Terdapat satu koperasi yang membantu petani sagu dan pemilik kilang sagu selama ini yaitu Koperasi Harmonis yang beralamat di Jalam Merdeka 92 Selat Panjang yang keanggotaanya terdiri dari 41 pengusaha kilang sagu. Namun tidak semua masuk dalam koperasi ini, selain itu juga koperasi yang ada masih berkosentrasi pada pemasaran tepung sagu terutama ke Cirebon. Oleh karena itu masih diperlukan kelembagaan lainnya tidak hanya masyarakat dalam memasarkan roduk finansial/modal usaha. Kelembagaan kelembagaan yang ada belum mampu berperan maksimal. Tabel 5. Jumlah Koperasi berserta Keanggotaannya Tahun 2022 Kecamatan Koperasi KUD Status Keaktifan NON KUD Aktif Tdk Aktif Jumlah Anggota LakiAaLaki Perempuan Tebing Tinggi Barat Tebing Tinggi Tebing Tinggi Timur Rangsang Rangsang Pesisir Rangsang Barat Merbau Pulau Merbau Tasik Putri Puyu Total Sumber: Kabupaten Kepulauan Meranti Dalam Angka 2023 (BPS Kabupaten Kepulauan Meranti, 2. Selanjutnya permasalahan sagu di Kepulauan Meranti bukan saja tentang budidaya, namun masalah prioritas saat ini adalah kebijakan pemerintah yang belum kuat baik terhadap Petani sagu menghadapi beberapa masalah serius terhadap aspek pemasaran ini baik harga, jaringan maupun pemasaran produk hilir sagu. Keterbatasan pengetahuan petani sagu dan pelaku usaha menyebabkan ketergantungan pada pihak tertentu semakin kuat, sehingga diperlukan peran pemerintah baik Kabupaten. Provinsi dan Pusat dalam mengatasi masalah ini. Salah satu kelembagaan yang ada saat ini adanya koperasi dan BUMDES pada yang terdapat di masing-masing kecamatan. Potensi Tanaman Sagu Kabupaten Indragiri Hilir Tahun 2022. Kabupaten Indragiri Hilir memiliki luas kebun sagu 17. Ha. Sebaran kebun sagu meliputi Kecamatan Gaung Anak Serka. Gaung. Mandah dan Pelangeran. Produksi sagu di Indragiri Hilir sebanyak 968 ton pertahun (Tabel . Komoditi perkebunan sagu di kabupaten Indragiri Hilir menjadi IPTEKIN Jurnal Kebijakan Pembangunan dan Inovasi Vol. , 2024, 53Aa64 komoditi unggulan daerah selain Komoditi Sagu telah lama dikenal dan sangat berperan dalam kehidupan masyarakat baik sebagai komoditi maupun sosial budaya. Hasil penelitian Vaulina dan Khairizal . merupakan salah satu komoditi unggulan di kabupaten Indragiri Hilir dengan nilai LQ> 1. Sejalan dengan potensi diatas dan mempertimbangkan bahwa sagu unggulan daerah yang cukup besar, maka komoditi perkebunan Sagu masuk dalam prioritas pembangunan daerah di Kabupaten Indragiri Hilir sebagai komoditi unggulan daerah yang menjadi tanaman primadona dan tetap dipertahankan sebagai jati diri Tabel 6. Perkembangan Luas Lahan. Produksi Sagu dan Nilai Ekonomi di Kabupaten Indragiri Hilir Tahun 2018-2022 Uraian / Data Luas Lahan dan Produksi Sagu Luas Lahan Sagu Rakyat (H. - Tanaman Belum Menghasilkan - Tanaman Rusak - Tanaman Menghasilkan Produksi (To. Produktivitas (Ton/ H. Jumlah Luas Lahan Sagu (H. Sumberdaya Manusia - Jumlah Rumah Tangga Petani Sagu Industri Sagu - Jumlah kilang sagu Harga sagu - Harga Batang Sagu (Rp/batan. - Harga Tual sagu (Rp/Tua. - Harga tepung sagu basah (Rp/K. - Harga tepung sagu kering (Rp/K. Pemasaran Produk Sagu - Tepung basah - Tepung kering 715,308 1,23 487,815 1,38 968,85 1,64 Kabupaten Kepulauan Meranti. Cirebon. Malaysia Cirebon Sumber : Dinas Perkebunan Kabupaten Indragiri Hilir, 2023 Proses pembangunan perkebunan sagu yang dilakukan menuntut adanya sistem ketahanan pangan nasional yang lebih baik. Upaya ketahanan pangan ini bertujuan untuk dapat kebutuhan secara nasional yang terus bertambahnya jumlah penduduk. sisi lain, terdapat permasalahan degradasi lingkungan serta alih fungsi lahan pertanian ke penggunaan lain tentang adanya lahan pangan yang bersifat abadi. Masalah penyediaan IPTEKIN Jurnal Kebijakan Pembangunan dan Inovasi Vol. , 2024, 53Aa64 lahan pertanian skala nasional berkaitan erat dengan kapasitas produksi pangan yang ditentukan oleh luas lahan produksi, produktifitas lahan, tingkat kebutuhan konsumsi pangan . etergantungan pada bera. , laju luasan konversi, dan jumlah Berbagai seharusnya mampu menggerakkan peneliti lokal untuk mengembangkan keragaman produk pangan bernilai tambah tinggi yang berbasis sagu. Tidak hanya di pasar domestik, melainkan mencari nilai tambah tinggi di pasar internasional. Dengan asupan teknologi tepat guna yang didukung kontinuitas pasokan tepung sagu, keuntungan dari agroindustri sagu di pastikan akan terus membesar untuk masa mendatang. Kabupaten Indragiri Hilir memiliki potensi sumberdaya sagu yang cukup besar, yang sangat potensial untuk Sejalan kondisi tersebut sangat diperlukan suatu kajian awal untuk memetakan potensi dan sebaran tanaman sagu untuk menghasilkan arahan dan strategi/kebijakan pendayagunaan potensi sumberdaya alam, manusia dan pendukung permodalan, sosial dan finansial yang ada di Kabupaten Indragiri Hilir. Dibandingkan dengan mengubah lahan gambut dan rawa menjadi lahan kebun kelapa sawit, akan lebih menguntungkan jika dikembangkan menjadi kebun sagu, sebab reklamasi lahan rawa dan gambut menjadi lahan sawah akan lebih mahal dan tidak layak dari hitungan ekonominya, jika dibandingkan reklamasi menjadi lahan kebun sagu. Kabupaten Indragiri Hilir salah satu Kabupaten di Provinsi Riau yang berencana mengembangkan komoditi tanaman sagu sebagai salah satu komoditi unggulan setelah tanaman kelapa dan kelapa sawit. Langkah awal yang dilakukan adalah melakukan pemetaan dan pendataan potensi tanaman sagu. Dengan mengetahui pemerintah dapat menyusun rencana strategis yang terukur dan aplikatif dalam pengembangan agroindustri sagu di Kabupaten Indragiri Hilir. Ketersediaan Produk Olahan Sagu Agroindustri tanaman sagu yang merupakan salah satu tanaman penghasil karbohidrat pengganti beras dan menjadi bahan makanan pokok di daerah tertentu, yang juga secara strategis berpotensi sebagai bahan cadangan pangan, energi serta bahan baku industri, baik skala usaha kecil menengah maupun skala industri (Balitbang Riau, 2017 di dalam Gevisioner et al. , 2. Pemanfaatan tanaman sagu sebagai bahan pangan dapat mengatasi masalah kekurangan pangan nasional dan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap beras. Nilai kalori dan gizi sagu tidak kalah dengan sumber komponen strategi ketahanan pangan nasional merupakan langkah strategis (Bintoro, 2007 di dalam Nusaibah et , 2. Di Kabupaten Kepulauan Meranti, kilang sagu menghasilkan dua produk utama yaitu tepung sagu basah dan tepung sagu kering. Pada umumnya tepung sagu kering dihasilkan oleh kilang sagu yang berada di Kecamatan Tebing Tinggi Barat dan Tebing Tinggi. Sementara kilang sagu yang menghasilkan tepung sagu basah. IPTEKIN Jurnal Kebijakan Pembangunan dan Inovasi Vol. , 2024, 53Aa64 Penggunaan menghasilkan tepung sagu kering lebih tinggi jika dibandingkan dengan teknologi tepung sagu basah, karena memerlukan proses pengeringan lebih lanjut. Upaya untuk meningkatkan produksi sagu dapat dilakukan melalui peningkatan jumlah batang sagu melalui perluasan kebun dan juga peningkatan kualitas sagu yang terkandung pada setiap batang Hingga saat ini komoditi sagu menjadi komoditas primadona / ikon bagi Kabupaten Kepualauan Meranti. Bahan baku Sagu dapat mengasilkan sebanyak 369 makanan dan minuman, sehingga mendapat anugrah Rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) kategori Makanan Terbanyak dari Bahan Baku Sagu dengan nomor register No. 7668/R. MURI/X/2016 pada tahun 2016. Varian makanan yang diciptakan oleh 70 perwakilan masyarakat di 9 kecamatan seKabupaten Kepulauan Meranti ditambah dengan varian olahan sagu yang diciptakan oleh Asosiasi Perusahaan Jasa Boga Indonesia menciptakan sebanyak 369 jenis Rekor MURI makanan dari sagu yang terbaru pada tahun 2022 adalah sebanyak 521 makanan yang dilakukan oleh Provinsi Maluku (Antara News, 2. Di Provinsi Riau, meskipun telah ada 369 varian makanan berbahan dasar sagu, namun makanan yang terbanyak dikonsumsi adalah dalam bentuk mie sagu. Hasil menunjukkan rata-rata konsumsi mie sagu di Kabupaten Kepulauan Meranti adalah 33,5 gram/kapita/hari yang setara dengan 20,9 gram tepung sagu/hari. Pada tahun 2022 konsumsi sagu adalah 0,33 Kg/kapita/tahun gram/kapita/hari (Pusdatin Kementan. Menurut Tampubolon, dkk . konsumsi sagu di Provinsi Riau adalah 5,02 gram/kapita/hari untuk makanan pokok dan 4,21 gram/kapita/hari untuk makanan selingan. Jumlah produksi sagu dipengaruhi oleh jumlah permintaan, jumlah permintaan dapat diukur dengan mengetahui Total Permintaan Pasar. Wilayah Permintaan Pasar. Penjualan Aktual & Pangsa Pasar (Market Shar. Pemasaran sagu di Kabupaten Kepulauan Meranti tidak hanya di pasar lokal, namun sudah di pasarkan ke luar negeri seperti Malaysia. Jepang dan Korea serta Cirebon. Adanya distribusi produk sagu ke luar negri sesuai dengan penelitian sebelumnya masyarakat selain dipasarkan untuk masyarakat lokal, juga ke Cirebon. Jawa Barat dan ekspor ke Malaysia (Riza, et al. , 2. Sampai saat ini serapan sagu di dalam provinsi Riau masih rendah, sehingga perlu adanya menjadikan produk ini sebagai Karena akhirnya sagu produksi petani Meranti dibeli dengan harga murah sehingga tidak bisa mendorong ekonomi petani Sagu secara maksimal. Hasil produksi tepung sagu kering dan basah hingga saat ini masih dikirim ke Cirebon dari sana baru dipasarkan kedaerah lainnya. Akibatnya harga sulit dinaikan bahkan apabila Daerah Papua dan Maluku . enghasil sagu lainny. panen maka harga sagu di Kepulauan Meranti semakin turun. Hasil kajian di lapangan menunjukkan bahwa UMKM pengolahan mie sagu merasakan bahwa dalam segi IPTEKIN Jurnal Kebijakan Pembangunan dan Inovasi Vol. , 2024, 53Aa64 pemasaran, kelompok usaha tersebut masih dinilai lemah. Masalah ini sudah lama dihadapi oleh masyarakat, namun belum ada solusi yang tepat untuk mengatasi masalah ini. Di Kabupaten Indragiri hilir, dalam pemerintah Kabupaten mendorong pengembangan produk unggulan kepada pelaku usaha yang konsen terhadap pengembangan produk unggulan daerah dengan melakukan komunitas dalam upaya mencari solusi terhadap permasalahan dan kendala dalam pengembangan produk unggulan daerah. Bantuan sarana dan prasarana dan pendidikan serta pelatihan dalam kelembagaan usaha, untuk kegiatan Peningkatan Produk Unggulan Daerah Olahan Sagu di Kabupaten Indragiri Hilir. Untuk tahap ini pemerintah peralatan produksi kepada kelompokkelompok usaha atau Industri Kecil dan Menengah (IKM) yang tersebar di berbagai wilayah yang dekat dengan daerah lahan perkebunan sagu di Kabupaten Indragiri Hilir seperti bantuan alat/mesin pengolahan sagu sesuai kemampuan keuangan yang dimiliki daerah. Sejalan dengan upaya untuk membentuk klaster olahan sagu di Kabupaten Indragiri Hilir Pemerintah daerah memberikan inisiasi kepada kelompok usaha atau Industri Kecil Menengah (IKM) membentuk Asosiasi/Perkumpulan yang nantinya berperan memberikan masukan, pertimbangan dan saran Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir mewujudkan rencana pembentukan klaster sagu tersebut di kabupaten Indragiri Hilir. Pada tahun 2018 telah dibentuk Asosiasi Pengusaha Sagu Indragiri Hilir (APSI) yang terdiri dari masyarakat serta akademisi di Kabupaten Indragir Hilir. Asosiasi ini dibutuhkan pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir dalam menjembatani rencana program pengembangan unggulan daerah olahan sagu kepada para pihak baik pelaku usaha, petani sagu, masyarakat dan pihak lain sehingga didapat pemahaman yang baik tehadap program tersebut dan mendorong partisipasi masyarakat mensukseskan rencana tersebut. Di Kabupaten Indragiri Hilir ini tanaman sagu yang tersebar diolah oleh kilang sagu milik masyarakat sebanyak 26 kilang sagu, dalam bentuk 24 kilang sagu basah dan 2 kilang sagu kering. Pemasaran sagu keberbagai daerah seperti Cirebon, ke Selat Panjang Kepulauan Meranti dan sebagian diolah menjadi sagu kering untuk di ekspor ke Negara tetangga seperti Malaysia. Sagu sangat sebagai bahan pangan alternatif bagi masyarakat Indonesia. Sebab, sagu mampu menghasilkan pati kering hingga 25 ton per hektar, jauh melebihi beras atau jagung. Kadar pati kering dalam sagu diatas kandungan pati beras yang hanya 6 ton per Sedang Pati kering Jagung hanya 5,5 ton. Umumnya produk yang berasal dari bahan baku sagu seperti mie sagu, sagu rendang, sagu telor dan sagu lemak di pasarkan di toko/warung, pasar tradisional. Belum ada restoran IPTEKIN Jurnal Kebijakan Pembangunan dan Inovasi Vol. , 2024, 53Aa64 yang khusus memasarkan produk sagu baik yang masih mentah maupun produk siap saji. Kondisi ini sejalan dengan penelitian Timisela . bahwa kendala yang dirasakan oleh terbatasnya pemasaran. Maka pasar domestik masih sangat potensial untuk dikelola dalam upaya meningkatkan pemasaran produk sagu khususnya di Provinsi Riau. Berbagai kegiatan daerah baik Kabupaten/Kota Provinsi Riau belum menyertakan produk unggulan daerah, seperti halnya sagu. Oleh karena itu sagu dapat dikenal oleh khalayak ramai baik regional, nasional maupun Data ketersediaan sagu untuk dikonsumsi di Provinsi Riau menurut Neraca Bahan Makanan (NBM) pada 37,22 kg/kapita/tahun, sedangkan Hasil FGD dan inAadepth interview dari menunjukkan bahwa sekitar 80a% sagu basah dan sagu kering dibawa keluar Kabupaten Kepulauan Meranti dan Indragiri Hilir sehingga ketersediaan sagu di kedua kabupaten tersebut berkisar antara 28. 062 Ae 124 ton atau setara dengan 4,25 Kg Ae 8,50 kg/kapita/tahun. Besarnya NBM disebabkan belum tercatatnya data sagu . epung basah/tepung kerin. yang keluar dari Provinsi Riau. untuk menjamin suplai sagu sebagai bahan baku karbohidrat lokal di Provinsi Riau Terdapat dikonsumsi di Provinsi Riau, karena Neraca Bahan Makanan (NBM) pada tahun 2022 mencapai 37,22 kg/kapita/tahun, sedangkan hasil FGD dan inAadepth interview menunjukkan ketersediaan sagu di berkisar antara 4,25 Ae 8,50 kg/kapita/tahun. Perbedaan ini persentase yang cukup besar dari sagu basah dan sagu kering yang Kabupaten Kepulauan Meranti dan Indragiri Hilir yang belum terdata. KESIMPULAN Antara News. Maluku Cetak Rekor MURI untuk 521 Makanan Berbahan Sagu Terbanyak. Diakses dari: https://ambon. com/beri ta/132349/maluku-cetak-rekormuri-untuk-521-makanan-berbahansagu-terbanyak Badan Pangan Nasional. Road Map Diversi ikasi Pangan Lokal Sumber Kesimpulan Potensi dan produksi sagu pada dua kabupaten yaitu Kabupaten Kepulauan Meranti dan Indragiri Hilir relatif cukup untuk mensuplai pasar sagu di Indonesia, namun belum ada pencadangan sagu Saran Potensi yang besar dari komoditi sagu sebagai sumber karbohidrat lokal non beras di Provinsi Riau harus didukung oleh data ketersediaan tepung sagu yang valid terutama data sagu yang didistribusikan keluar Provinsi Riau. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Riau Bappedalitbang Riset Unggulan Provinsi Riau Tahun 2023 untuk terlaksananya penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA