Edukasi Pencegahan Deteksi Dini Hepatitis B Pada Ibu Hamil Di Wilayah Pesisir Kota Bengkulu Fiya Diniarti 1. Noviahanasti 2 1,2 Universitas Dehasen Bengkulu Email: 1 fiyadiniarti@unived. 2 noviahanasti@unived. ARTICLE HISTORY Received . September 2. Revised . Januari 2. Accepted . Januari 2. KEYWORDS Preventif Education. Elderly Detection of Hepatitis B. Pregnant Women at Region Pesisir Bengkulu City. This is an open access article under the CCAeBY-SA license ABSTRAK Hepatitis B pada ibu hamil merupakan masalah kesehatan global, nasional, dan lokal yang serius karena tingginya risiko penularan dari ibu ke anak . ransmisi vertika. , yang dapat menyebabkan infeksi kronis, komplikasi serius pada bayi hingga kematian. Tujuan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran pada ibu hamil tentang pentingnya deteksi dini hepatitis B (HBsA. pada ibu hamil. Metode pelaksaan kegiatan pengabdian dilaksanakan selama 1 bulan . eptember sd oktober 2. di wilayah kerja puskesmas padang serai kota Bengkulu. Jumlah peserta sebanyak 50 orang ibu Tahapan kegiatan pengabdian ini terbagi menjadi tiga yaitu tahap persiapan dimulai identifikasi responden, tahap pelaksanaan berupa edukasi kesehatan dan tahapan monitoring dan evaluasi berupa pemberian lembar pre/post test. Pada kegiatan ini diberikan penyuluhan interaktif serta alat dan bahan yang digunakan pada saat kegiatan pengabdian kepada masyarakat adalah komputer, pengeras suara, lembar pre dan post test, materi dalam bentuk leaflet dan power point. Hasil kegiatan ini menunjukkan bahwa 50 peserta ibu hami. sebanyak 22 % berada pada usia 21-25 tahun, 50% memiliki pendidikan SMP/SMA, 56% multigravidae, 54% belum menjalani tes HBsAg, 80% memiliki frekuensi pernikahan 1kali, 76% menggunakan jenis kontrasepsi hormonal dan 28% mempunyai pekerjaan sebagai nelayan. Pada pretest, nilai terendah adalah 50 dan nilai tertinggi 70, sedangkan nilai tertinggi pada posttest nilai terendah 70 dan nilai tertinggi yang dicapai 100. Hasil Analisa ini menunjukkan bahwa sebagian besar peserta mampu memahami materi tentang pencegahan deteksi dini hepatitis B dengan sangat baik setelah diberikan edukasi. Kesimpulan, kegiatan edukasi ini berhasil meningkatkan pengetahuan dan kesadaran ibu hamil serta kader kesehatan mengenai manfaat edukasi pencegahan deteksi dini HBsAg. Saran untuk ibu hamil, jadikan skrining sebagai prioritas dan saat melakukan (ANC) pastikan melakukan pemeriksaan hepatitis B,Tes ini sangat penting untuk kesehatan ibu dan anak. ABSTRACT Hepatitis B in pregnant women is a serious global, national, and local health issue due to the high risk of transmission from mother to child . ertical transmissio. , which can lead to chronic infections, serious complications for newborns, and even death. The aim of this community service activity is to increase knowledge and awareness among pregnant women about the importance of early detection of hepatitis B (HBsA. in expectant mothers. The implementation method of this community service is conducted over 1 month (September to October 2. in the working area of the Padang Serai health center in Bengkulu City. The number of participants is 50 pregnant women. The stages of this community service activity are divided into three: the preparation stage begins with the identification of respondents, the implementation stage consists of health education, and the monitoring and evaluation stage includes administering pre/post test During this activity, interactive counseling was provided along with tools and materials used during the community service. The tools used are a computer, speaker, pre and post-test sheets, materials in the form of leaflets and PowerPoint. The results of this activity showed that out of 50 participants . regnant wome. , 22% were aged 21-25 years, 50% had completed junior/senior high school, 56% were multigravidae, 54% had not undergone HBsAg tests, 80% had been married once, 76% used hormonal contraceptives, and 28% were employed as In the pre-test, the lowest score was 50 and the highest score was 70, while the lowest score in the post-test was 70 and the highest score achieved was 100. The analysis results indicate that most participants were able to understand the material on hepatitis B early detection prevention very well after education was provided. In conclusion, this educational activity successfully increased the knowledge and awareness of pregnant women and health cadres regarding the benefits of education for early detection of HBsAg. The recommendation for pregnant women is to prioritize screening when conducting antenatal care (ANC) make sure to carry out hepatitis B testing, this test is very important for the health of both mother and child. PENDAHULUAN Pembangunan kesehatan ditujukan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif. Untuk memastikan sumber daya manusia yang produktif tersebut, negara wajib menyelenggarakan upaya kesehatan yang Jurnal Dehasen Untuk Negeri. Vol. 5 No. 1 Januari 2026 page: 25 Ae 30 | 25 komprehensif bagi anak agar setiap anak sebagai generasi penerus bangsa dapat memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya sejak dalam kandungan. (Herlambang et al. , 2. Hepatitis merupakan suatu penyakit yang ditandai dengan adanya peradangan pada hati. Penyakit hepatitis mengalami proses inflamasi atau nekrosis pada jaringan hati yang disebabkan oleh infeksi virus, bahan kimia, obat-obatan, toksin, gangguan metabolic, maupun kelainan sistem antibody (Mentari et al. Hepatitis B pada ibu hamil merupakan masalah kesehatan global, nasional, dan lokal yang serius karena tingginya risiko penularan dari ibu ke anak . ransmisi vertika. , yang dapat menyebabkan infeksi kronis dan komplikasi serius pada bayi. Hepatitis B adalah masalah kesehatan global yang signifikan. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 254 juta orang di seluruh dunia hidup dengan infeksi hepatitis B kronis pada tahun 2022, dengan 1,2 juta infeksi baru setiap tahun. pada tahun 2022, hepatitis B mengakibatkan sekitar 1,1 juta kematian, sebagian besar disebabkan oleh sirosis dan karsinome hepatoseluler . anker hati prime. (World Health Organization. , 2. dan (Diniarti. F dan Herlinawati. , 2. Indonesia termasuk dalam negara dengan endemisitas sedang hingga tinggi untuk Hepatitis B. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, prevalensi hepatitis B di Indonesia telah menurun dari 7,1% pada tahun 2013 menjadi 2,4% pada tahun 2023. Secara spesifik di Provinsi Bengkulu, kasus Hepatitis B pada ibu hamil juga menjadi perhatian. Penelitian di wilayah Kota Bengkulu pada tahun 2021 menemukan bahwa kejadian Hepatitis B pada ibu hamil dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain adalah usia, tingkat pendidikan rendah, riwayat keluarga, dan riwayat imunisasi yang tidak lengkap menjadi faktor yang signifikan. (Kemenkes RI, 2. Hepatitis B dapat dengan mudah menular dari ibu yang terinfeksi ke bayinya selama kehamilan atau proses persalinan. Tanpa intervensi, risiko penularan bisa mencapai 90% jika ibu positif HBsAg. Dengan mendeteksi status HBsAg ibu hamil sejak dini, petugas kesehatan bisa mengambil tindakan pencegahan, seperti: Pemberian HBIG dan vaksin pada bayi yang lahir dari ibu HBsAg reaktif harus segera . alam 12 jam pertam. diberikan imunoglobulin hepatitis B (HBIG) dan vaksin hepatitis B. Kedua intervensi ini dapat mengurangi risiko penularan hingga 95%. Selain itu janin juga dapat tertular akibat infeksi pada organ-organ yang berdekatan dengan Rahim, seperti peritoneum dan alat genitalia, infeksi saat persalinan, kontaminasi dengan darah dan tinja ibu pada waktu persalinan, pengambilan sampel darah janin, atau transfuse intrauterine, kontak lansgung bayi baru lahir dengan ibunya, maupun pada masa laktasi melalui Air Susu Ibu (Mentari et al. , 2. Pada saat melahirkan Perempuan hamil yang terinfeksi Hepatitis B (HBV) juga dapat menularkan virusnya pada bayi. ibu hamil yang positif hepatitis B lebih rentan mengalami ketuban pecah dini, diabetes gestasional, atau perdarahan pada akhir kehamilan dan juga meningkatkan kompilkasi persalinan seperti plasenta abrupsio dan kematian bayi saat lahir (Tarigan et al. , 2. ,(Diniarti. Said, et , 2. , and (Diniarti. Saifulaman Mohamed Said, et al. , 2. Ibu hamil yang terinfeksi virus hepatitis memiliki beberapa gejala penyakit antara lain sakit bagian perut, demam, nyeri pada bagian sendi, kehilangan selera makan, mual dan berujung muntah dan air seni berwarna lebih gelap. Penyakit hepatitis B pada ibu hamil sangat berbahaya karena dapat menimbulkan komplikasi penyakit lain seperti diabetes gestasional, mengalami ketuban pecah dini sebelum waktunnya, mengalami pendarahan pada trisemester akhir kehamilan, mengalami penyakit batu empedu, sehingga akan menimbulkan penyakiy kuning selama kehamilan. (Susanti, 2. and (Diniarti et al. , 2. Jumlah virus . iral loa. HBV dalam darah jauh lebih tinggi daripada HIV atau virus hepatitis C, sehingga Hepatitis B jauh lebih mudah menular dalam keadaan tertentu. Biasanya kasus infeksi baru diketahui setelah pemeriksaan jelang persalinan. Hal itu karena tidak ada skrining virus hepatitis B pada awal kehamilan . (Dhyanaputri et al. , 2. Pemerikasaan laboratorium juga dapat dilakukan yaitu pemeriksaan imunologi, yang meliputi pemeriksaan antibody Hepatitis B suface (AntiHB. , pemeriksaan Hepatitis B envelope Antigen (HBeA. , pemeriksaan antibody Hepatitis B Envelope (Anti-HB. , pemeriksaan antibody Hepatitis B core (Anti-Hb. berupa IgM anti HBc, dan salah satunya yaitu pemeriksaan Hepatitis B suface Antigen (HBsA. Pemeriksaan HBsAg paling sering digunakan di Puskesmas sebagai screening pada pemeriksaan Hepatitis B pada ibu hamil (Mulyani & Salsabil, 2. Puskesmas Padang Serai memiliki beberapa kekuatan yang dapat menunjang program Pemeriksaan HBsAg terintegrasi Deteksi HBsAg sudah menjadi bagian dari pemeriksaan antenatal care (ANC) rutin bagi ibu hamil. Ini memudahkan skrining dan memastikan semua ibu hamil yang datang mendapatkan pemeriksaan. Tenaga kesehatan di puskesmas, seperti bidan dan perawat, sudah terlatih untuk melakukan pengambilan sampel darah dan memberikan edukasi dasar terkait kesehatan ibu dan anak, termasuk hepatitis Dukungan kebijakan dari Pemerintah Kota Bengkulu, melalui Dinas Kesehatan, telah memiliki kebijakan untuk pencegahan penularan vertikal HIV. Sifilis, dan Hepatitis B (Triple Eliminas. 26 | Fiya diniarti. Novia Hanasti . Edukasi Pencegahan Deteksi Dini Hepatitis B Pada Ibu Hamil . Tujuan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran pada ibu hamil tentang pentingnya deteksi dini hepatitis B (HBsA. pada ibu hamil. Berdasarkan uraian permasalahan ini, maka penulis tertarik untuk melakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang berjudul Upaya Pencegahan Hepatitis B Melalui Deteksi Dini Hepatitis B di di wilayah Pesisir Kota Bengkulu. METODE Pelaksaan kegiatan pengabdian dilaksanakan selama 1 bulan . eptember sd oktober 2. di wilayah kerja puskesmas padang serai kota Bengkulu. Jumlah peserta sebanyak 50 orang ibu hamil. Tahapan kegiatan pengabdian ini terbagi menjadi tiga yaitu tahap persiapan dimulai identifikasi responden, tahap pelaksanaan berupa edukasi kesehatan dan tahapan monitoring dan evaluasi berupa pemberian lembar pre/post test. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah penyuluhan interaktif. Penyuluhan interaktif adalah memberikan materi edukasi melalui presentasi visual, diskusi, dan tanya Materi meliputi konsep hepatitis B dan cara penularannya, mengapa ibu hamil beresiko tinggi menularkan hepatitis B ke bayinya, pentingnya skrining HBsAg pada Ibu Hamil, dan langkah-langkah pencegahan, termasuk vaksinasi dan manajemen medis pasca-kelahiran. Alat dan bahan yang digunakan pada saat kegiatan pengabdian kepada masyarakat adalah laptop, pengeras suara, lembar pre dan post test, materi dalam bentuk leaflet dan power point. HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1. Sebaran Karakteristik Peserta Berdasarkan Umur. Pendidikan. Riwayat Deteksi Dini HBsAg. Frekuensi Pernikahan. Jenis Kontrasepsi. Parity di Wilayah Pesisir Kota Bengkulu Usia Frekuensi Persentase (%) Pendidikan Frekuensi Persentase (%) SMP/SMA D3/SI Parity Frekuensi Persentase (%) Primigravida Multigravida Riwayat Tes HBsAg Frekuensi Persentase (%) Tidak Frekuensi Pernikahan Frekuensi Persentase (%) 1 kali >1 kali Jenis Alat Kontrasepsi Frekuensi Persentase (%) Hormonal Non Hormonal Pekerjaan Suami Frekuensi Persentase (%) Supir Nelayan Swasta Buruh Harian Petani Dari tabel 1 menunjukkan bahwa 50 peserta . bu hami. sebanyak 22 % berada pada usia 21-25 tahun , 50% memiliki pendidikan SMP/SMA, 56% multigravidae, 54% belum menjalani tes HBsAg, 80% memiliki frekuensi pernikahan 1kali, 76% menggunakan jenis kontrasepsi hormonal dan 28% mempunyai pekerjaan sebagai nelayan. Jurnal Dehasen Untuk Negeri. Vol. 5 No. 1 Januari 2026 page: 25 Ae 30 | 27 Tabel 2. Evaluasi Nilai Prestest dan Post test Peserta (Ibu Hami. Tahun 2025 Parameter Pretest Posttest Jumlah Peserta responden Nilai terendah Nilai tertinggi Pada pretest, nilai terendah adalah 50 dan nilai tertinggi 70 , sedangkan nilai tertinggi pada posttest nilai terendah 70 dan nilai tertinggi yang dicapai 100. Hasil Analisa ini menunjukkan bahwa sebagian besar peserta mampu memahami materi tentang pencegahan deteksi dini hepatitis B dengan sangat baik setelah diberikan dukasi. Hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat menggunakan metode ceramah diskusi, tanya jawab dan pengisian lembar pre dan post test. Kegiatan edukasi diawali dnegan persiapak kegiatan penyuluhan dengan mengisi absen kehadiran dan pengisian pre test. Pelaksanaan pre test bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu hamil yang hadir terhadap pencagahan infeksi hepatitis B sebelum diberikan edukasi. dilanjutkan dengan pemberian materi tentang pencegahan infeksi hepatitis B yang disampaikan oleh Tim Puskesmas dan Tim pelaksana kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Hasil kegiatan ini juga sejalan dengan hasil kegitan pengabdian kepada masyarakat di Banjarmasin ditemukannya ibu hamil yang terinfeksi hepatitis B menunjukkan bahwa masih rendahnya kesadaran masyarakat mengenai infeksi hepatitis B. Hasil kuesioner didapatkan tingkat pengetahuan baik 10 orang . %) sedang 12 orang . %) dan rendah 8 orang . %). Setelah mendapatkan edukasi terjadi peningkatan pengetahuan baik pada ibu hamil yaitu tingkat pengetahuan baik 20 orang . %) sedang 10 orang . %). (Wardah Norsiah. Tini Elyn Herlina. Yayuk Kustiningsih, 2. Pentingnya pengetahuan ibu mengenai status kesehatan terutama status hepatitis B pada pasangan agar dapat mencegah terjadinya penularan hepatitis B melalui aktivitas seksual, paparan faktor risiko dan penggunaan obat intravena atau pembedahan penting untuk tenaga kesehatan melakukan pencegahan terjadinya penularan secara vertikal melalui instrument pada saat pertolongan persalinan ataupun perawatan lainnya, pengetahuan sangat mempengaruhi seseorang tentang pola pikir untuk hidup dan berperilaku yang baik. Penyakit infeksi menular seksual (HBsA. menjadi penyumbang terbesar terjadinya peningkatan penularan infeksi hepatitis B pada ibu dan bayi maka pengetahuan ibu hamil sangat mempengaruhi seseorang untuk dapat melakukan pencegahan serta pengobatan. Secara personal dan kelompok dalam tatanan kehidupan masyarakat sangat membutuhkan informasi yang jelas dan benar tentang apa yang belum mereka ketahui seperti program kesehatan tripple eliminasi (HIV, hepatitis B dan Sifili. Sebenarnya program ini sudah lama berjalan tetapi ibu hamil belum tahu edukasi apa yang dilakukan, hal ini karena ibu hamil beranggapan bahwa apa yang disampaikan hanyalah sebuah prosedur yang harus dijalani saat melakukan pemeriksaan kehamilan di fasilitas pelayanan kesehatan. Tiga penyakit ini harus diketahui sejak dini agar perlu ada tindakan pengobatan dan pencegahan bagi penderita. (Rahayu. Desi Ariyana. , 2. KESIMPULAN DAN SARAN Kegiatan edukasi ini berhasil meningkatkan pengetahuan dan kesadaran ibu hamil serta kader kesehatan mengenai edukasi pencegahan deteksi dini HBsAg. Diharapkan kegiatan edukasi dan pemeriksaan hepatitis pada ibu hamil tetap dilaksanakan sebagai keberlanjutan kegiatan pencegahan dalam upaya deteksi dini hepatitis B pada masyarakat khusunya wanita usia produktif dan ibu hamil. Saran hasil kegiatan pengabdian ini dengan menjalin kerjasama lebih erat dengan Puskesmas untuk memastikan deteksi dini HBsAg menjadi bagian standar dari pelayanan antenatal. Melakukan tindak lanjut secara berkala untuk memperkuat pemahaman dan memantau implementasi dan mengembangkan media edukasi yang lebih bervariasi, seperti video singkat atau infografis yang dapat diakses melalui media sosial. 28 | Fiya diniarti. Novia Hanasti . Edukasi Pencegahan Deteksi Dini Hepatitis B Pada Ibu Hamil . UCAPAN TERIMA KASIH Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi pada pelaksanaan kegiatan ini karena telah memberikan dukungan dan kerja sama yang luar biasa dalam pelaksaan kegiatan pengabdian AuEdukasi Pencegahan Deteksi Dini Hepatitis B Pada Ibu Hamil Di Wilayah Pesisi Kota BengkulurAy, dan kami juga mengucapkan terimakasih kepada masyarakat yang telah berpartisipasi aktif dalam kegiatan ini. Kami berharap kerja sama ini dapat berlanjut dan bermanfaat bagi masyarakat di Provinsi Bengkulu dan dapat menjadi inspirasi bagi berbagai pihak untuk terus mendukung kegiatan deteksi dini hepatitis kepada ibu hamil. DAFTAR PUSTAKA