Jurnal Keislaman p-ISSN : 2089-7413 and e-ISSN : 2722-7804 Published by Sekolah Tinggi Agama Islam Taruna Surabaya Jl. Kalirungkut Mejoyo I No. Kec. Rungkut. Kota Surabaya. Jawa Timur 60293 Email: jurnalkeislaman@staitaruna. Membentuk Generasi Taat Ibadah Melalui Program Ubudiyah Di Sb Ampang Selangor Kuala Lumpur Malaysia Megawati Fajrin1 Institut Agama Islam Nazhatut Thullab Sampang. Indonesia1 Megawatifajrin03@gmail. Muqoffi2 Institut Agama Islam Nazhatut Thullab Sampang. Indonesia2 muqoffimpd@gmail. Moh. Khorofi3 Institut Agama Islam Nazhatut Thullab Sampang. Indonesia3 mkhorofi199@gmail. Wasik4 Institut Agama Islam Nazhatut Thullab Sampang. Indonesia4 wasikshodiqin@gmail. Ali Wafa5 Institut Agama Islam Nazhatut Thullab Sampang. Indonesia5 Awafa9851@gmail. Umar Faruq6 Institut Agama Islam Nazhatut Thullab Sampang. Indonesia6 kaisyah495@gmail. Vina Eliana7 Institut Agama Islam Nazhatut Thullab Sampang7 Elianavina0@gmail. https://doi. org/10. 54298/jk. Abstract This research aims to determine the effectiveness of the ubudiyah program in shaping a generation of obedient worshippers at SB Ampang. Selangor. Kuala Lumpur. The background of this study is based on the reality that parents' busy work schedules lead to a lack of attention towards nurturing their children's worship practices. The ubudiyah program is introduced as an effort by the school to build the religious character of students through structured worship habituation. The research method used is a descriptive qualitative approach, with data collection techniques through observation, interviews, and documentation involving students, mentoring teachers, and parents. The research results indicate that the ubudiyah program runs effectively and has a significant impact on the worship quality of students, such as regularity in obligatory and Sunnah prayers, recitation of the Qur'an, as well as the formation of discipline and consistency in conducting worship. Jurnal Keislaman. Volume 08. Nomor 02. September 2025 addition to spiritual enhancement, this program also contributes to the intellectual development of students in understanding religious values. This success is supported by the role of guiding teachers, parental involvement, and a conducive school environment. However, challenges in program implementation were also found, such as the negative influence of gadgets and a busy academic schedule. The school responded to these challenges with intensive coaching strategies and adjustments to activity schedules. Overall, the ubudiyah program at SB Ampang has proven effective in shaping a generation that is devout in worship and possesses good character, and it can serve as a model for character education based on spirituality in the education environment Islam. Keywords: Ubudiyah. Worship. Character. Islamic Education. SB Ampang. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas program ubudiyah dalam membentuk generasi taat ibadah di SB Ampang. Selangor. Kuala Lumpur. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada realitas bahwa kesibukan orang tua dalam pekerjaan menyebabkan kurangnya perhatian terhadap pembinaan ibadah anak-anak mereka. Program ubudiyah hadir sebagai upaya sekolah dalam membentuk karakter religius peserta didik melalui ibadah secara terstruktur melalui metode praktek dan pembiasaan. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif, dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap peserta didik, guru pembina, dan orang tua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program ubudiyah berjalan efektif dan memberikan dampak signifikan terhadap kualitas ibadah peserta didik si SB Ampang Kuala Lumpur, seperti keteraturan dalam shalat wajib dan sunnah, pengajian Al-QurAoan, serta terbentuknya sikap disiplin dan keistikamahan dalam menjalankan ibadah. Selain peningkatan spiritual, program ini juga berkontribusi pada perkembangan intelektual peserta didik dalam memahami nilai-nilai agama. Keberhasilan ini ditopang oleh peran guru pembina, keterlibatan orang tua, dan lingkungan sekolah yang kondusif. Namun, ditemukan pula tantangan dalam pelaksanaan program, seperti pengaruh negative media sosial dan keterbatasan waktu. Pihak sekolah menanggapi tantangan ini dengan strategi pembinaan intensif dan penyesuaian jadwal kegiatan. Secara keseluruhan, program ubudiyah di SB Ampang terbukti efektif dalam membentuk generasi yang taat beribadah dan berakhlakul karimah, serta dapat dijadikan model pendidikan karakter berbasis spiritual di lingkungan pendidikan Islam. Keywords: Taat Ibadah. Karakter. Pendidikan Islam. SB Ampang Pendahuluan Ilmu Pendidikan islam tidak hanya fokus pada kecerdasan intelektualitas, namun juga bertujuan menbentuk keperibadian yang baik, iman dan bertaqwa, berakhlak mulia, dan taat dalam beribadah kepada Allah SWT. diera moderen ini kita dipenuhi tantangan sosial maupun spritual, sangat penting bagi yayasan, ataupun institusi pendidikan untuk menanamkan nilai-nilai keislaman sejak usia dini, langkah awal dalam menanami spritual anak didik yaitu dengan cara melaui program ubudiyah, yakni diadakan nya program pribadaan dilingkungan sekolah. Melalui program ini, anak didik bukan hanya diajari sebuah teori ibadah sajaakan tetapi diajarkan menghayati dan mengamalkannya secara istiqomah. Ubudiyah secara etimologis . diambil dari bahasa arab A O Ayang memiliki arti doa, tunduk, patuh dan mengabdi. Secara terminologis . terdapat beberapa pengertian tentang ibadah. Ibadah merupakan bentuk penghambaan kepada Tuhan yang dapat diwujudkan melalui pelaksanaan sholat, berdoa, berbuat baik, dan sebagainya. Ibadah adalah segala tindakan yang dilakukan oleh seorang hamba dengan tujuan mencapai keridhaan Allah dan mengharapkan pahala dari-Nya. Ibadah adalah bentuk penghormatan dan rasa terima kasih manusia terhadap Allah karena segala nikmat yang telah diberikanNya kepada kita sebagai hamba-Nya. Ubudiyah adalah konsep dalam Islam yang mengacu pada ketaatan dan pengabdian seseorang kepada Allah SWT. Istilah ini mengandung makna Membentuk Generasi Taat Ibadah Melalui Program Ubudiyah di Sb Ampang Selangor Kuala Lumpur Malaysia Ae Wasik. Ali Wafa. Umar Faruq. Vina Eliana bahwa setiap individu harus mengakui bahwa ia adalah hamba Allah dan harus memenuhi segala kewajiban sebagai hamba yang tunduk pada perintah-Nya. Ibadah dapat diartikan sebagai bentuk pengabdian, pelayanan, ketaatan, kepatuhan, dan pengakuan atas keesaan Allah. Ibadah dilakukan dengan sepenuh hati dalam ketaatan kepada Allah SWT, dengan tujuan mendapatkan keridhaan dan perlindungan-Nya. Selain itu, ibadah juga harus dilakukan sesuai dengan petunjuk dan contoh yang diajarkan oleh Rasulullah. Jadi dapat disimpulkan bahwa, ibadah dapat diartikan sebagai bentuk pengabdian dan ketaatan kepada Tuhan atau Allah. Dalam peraktek peribadaan tersebut diakannya peraktek-praktek ibadah seperti peraktek wudu`, solat dan berbagai ibadah lainnya. Yang dibuat untuk menciptakan kebiasaan yang melekat. SB Ampang. Selangor. Kuala Lumpur, adalah salah satu yayasan yang melakukan program ini dengan tujuan membentukan generasi regilius yang kuat, didukung oleh lingkungan yang sangat yang kholistik, dengan adanya program ubudiyah ini yayasan ini menjadi plopor utama dalam pembentukan karakter generasi yang tidak bagus dalam intelektulitasnya tetapi juga bagus dalam nilai spiritualnya. Tujuan pendidikan nasional adalah untuk mencerdaskan masyarakat dan seluruh bangsa Indonesia, berakhlak mulia, mempunyai keterampilan dan ilmu, sehat fisik dan psikisnya, berakhlak mulia dan taat kepada Allah SWT, untuk mengembangkan orang-orang dengan kekuatan spiritual yang tak terbatas, memiliki kepribadian yang mandiri dan memikul tanggung jawab. Pentingnya pendidikan bagi suatu negara tercantum dalam QS. Shad ayat 29. Allah berfirman:2 AyA aAEa E aOac aac eeO O Na aOE aOaa acE aa aOEaO eEa E aA a AE a a Ia E INaa EaOEaa aIA Artunya: (Al-QurAoan ini adala. kitab yang Kami turunkan kepadamu (Nabi Muhamma. yang penuh berkah supaya mereka menghayati ayat-ayatnya dan orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran. Arti Tafsirnya: Wahai Nabi Muhammad, sesungguhnya kitab Al-QurAoan yang telah Kami turunkan kepadamu adalah kitab yang penuh berkah. Kami menurunkannya agar mereka menghayati dan memahami ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat menggunakan akal budinya untuk mendapat pelajaran darinya dan mengamalkan Namun sedemikian, berhasilnya sebuah program apapun utamanya program ubudiyah ini ada dukungan seperti komitmen dari pihak yayasan, suri tauladan dari seorang guru, keterlibatan orang tuadisertakan adanya niat yang mendalam dari anak didik dalam menerima bimbingan ubudiyah ini Dari sisi lain, banyak nya godaan, baik dari faktor internal seperti kurannya kesadaran anak pendidik dalam kurangnya pemahan agama, ataupun dari faktor external seperti kejamnya dunia media, maupun bebasnya pergaulan. Oleh karena itupentingnya untuk menelaah lagi sejauh mana efektifnya program ubudiyah dalam 1 ralph Adolph. AuPeningkatan Pemahaman Materi Fiqih Ubudiyah Melalui Kajian Kitab Ghoyah At TaqribAy 2. No. : 1Ae23. Amaliyah Ubudiyah et al. Jurnal Keislaman. Volume 08. Nomor 02. September 2025 pembentukan generasi taat ibadah serta bagaimana langkah yayasan dalam menghadapi tantangan yang akan datang. Penelitian ini bertujuan untuk memahami secara mendalam pelaksanaan program ibadah dalam membentuk karakter anak didik agar tekun dalam beribadah di SB Ampang. Selangor. Kuala Lumpur. Selain itu, penelitian ini dimaksudkan untuk memberikan kontribusi dalam pengembangan pendidikan karakter religius di lingkungan sekolah, menjadi landasan dalam penanaman nilai-nilai keagamaan pada generasi muda, serta memberikan gambaran mengenai tantangan dan problematika yang dihadapi terkait pelaksanaan ubudiyah dalam kehidupan sehari-hari. Melihat uraian diatas, adanya penelitian sangat penting untuk memahami program ibadah dalam mebentuk karakter anak didik tekun dalam ibadah di SB Ampang. Selangor. Kuala Lumpur. Penelitian ini diharapkan memberikan edukasi dan perkembangan dalam pembentukan karakter anak didik yang baik dilikungan sekolah, serta dapat menjadi landasan dalam penanamakn nilai-nilai regilius kepada generasi muda. tidak disitu penelitian ini juga memberikan sebuah gambaran mengenai tantangan kehiduan dan terus berjalanya sebuah problematika utamanya dalam masalah ubudiyah. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus yang difokuskan untuk memahami secara mendalam pelaksanaan program ubudiyah dalam pembentukan karakter peserta didik yang taat beribadah di SB Ampang. Selangor. Kuala Lumpur. Desain studi kasus dipilih karena penelitian berpusat pada satu lokasi dengan karakteristik khusus, sehingga hasilnya tidak dimaksudkan untuk digeneralisasi, melainkan memberikan gambaran yang komprehensif mengenai proses pembinaan spiritual yang Prosedur penelitian dilakukan secara bertahap, dimulai dari penentuan lokasi dan subjek penelitian, lalu dilanjutkan dengan pengumpulan data lapangan melalui interaksi langsung dengan pihak terkait, dengan peneliti sebagai instrumen utama untuk menafsirkan data dalam konteks alami. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara mendalam dengan kepala yayasan, guru spiritual, masyarakat sekitar, dan anak didik. observasi langsung terhadap pelaksanaan program ubudiyah. serta studi dokumentasi terhadap jadwal kegiatan, arsip, dan catatan pembinaan keagamaan. Selanjutnya, data dianalisis menggunakan analisis tematik melalui proses pengorganisasian data, identifikasi pola, kategori, dan tema penting, hingga penyusunan deskripsi dan interpretasi yang mampu memberikan pemahaman menyeluruh mengenai efektivitas serta tantangan dalam pelaksanaan program ubudiyah di SB Ampang. Hasil dan Pembahasan Hasil dari penelitian yang telah kami uraikan diatas mennunjukkan Hasil penelitian menunjukkan bahwa program yang telah dijalankan di SB Ampang berjalan dengan sesuai apa yang kami rancangkan dikejahuan hari, bida di buktikan dengan baiknya ibadah yang mereka lakukan seperti solatnya, wudu`, solat dhuha, pengajian al quran dan ibadah lainnya. Membentuk Generasi Taat Ibadah Melalui Program Ubudiyah di Sb Ampang Selangor Kuala Lumpur Malaysia Ae Wasik. Ali Wafa. Umar Faruq. Vina Eliana serta pengajian yang menjadi keistiqomaan anak didik. Dengan adanya program ini merka dapat menjalankan ibadahnya dengan baik dan benar, memandang dengan sibuknya dan padatnya orang tua mereka dikaenakan sibuknya bekerja sampai-sampai orang tua mereka agak kurang perperhatian dalam maslah peribadahan mereka, benar tidaknya agak kurang diperhatikan, anak didik dapat menumbuhkan kebiasaan ibadah serta keistiqomaan dalam kegiatan ubudiyahnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas program ubudiyah dalam membentuk generasi yang taat beribadah di SB Ampang. Selangor. Kuala Lumpur. Berdasarkan data yang diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, ditemukan bahwa pelaksanaan program ubudiyah di SB Ampang berjalan sesuai dengan perencanaan awal dan memberikan dampak yang signifikan terhadap perkembangan spiritual peserta didik. Diantaranya: Peningkatan Kualitas Ibadah Dengan Praktek Hasil pengamatan menunjukkan bahwa peserta didik mengalami peningkatan yang nyata dalam pelaksanaan ibadah. Mereka tidak hanya melaksanakan ibadah secara formalitas, tapi juga sejalan dengan cara dan teori yang dibenarkan dalam Islam. Tidak hanya menunaikan ibadah yang tujuannya untuk menggugurkan kewajiban tapi sekaligus bertujuan untuk memperoleh keutamaan dan kesempurnaannya. Melalui pendekatan praktek dalam melakukan transformasi keilmuan di bidang shalat, peserta didik dapat memahami konsep yang benar dan tepat, bahkan nilai-nilai penting dalam pelaksanaan shalat seperti khusyuAo dipahami dengan baik. Proses pembelajaran agama yang menekankan praktek langsung terbukti lebih efektif dalam membentuk pemahaman dan sikap spiritual anak. Anak-anak usia dini, khususnya, memiliki daya serap yang luar biasa terhadap apa yang mereka lihat, dengar, dan alami secara langsung. Oleh karena itu, pendekatan melalui praktek seperti mencontohkan shalat, wudu, mengaji, dan adab harian menjadi sarana paling tepat untuk menanamkan nilai-nilai Pembiasaan ibadah yang dilakukan secara terus-menerus dapat menumbuhkan kesadaran spiritual yang bersumber dari pengalaman afektif dan motorik, bukan sekadar aspek kognitif. Shylih bin AoAli AoArryd menguatkan4: a E EIO aac( aO aE O aIa a OCa aa aa U aO a Ea aa a OU aOaE OU EaNaa A Oa aI Aa E aIaaEIA a AaO acIa Eac EO aIa Na eE a Ea Oa )EacOA a AA a A aO E aI aIA Artinya: Apalagi pembelajaran dengan metode ini . atihan dan praktek keilmua. lebih bisa memberi pengaruh, lebih menetap dan memantapkan dan memperkokoh pada diri pelajar. Rusdiana. Pendidikan Islam dan Transformasi Nilai. Bandung: CV Pustaka Setia. 4 Shylih bin AoAli AoArryd. Muqaddimah fi al-Tarbiyah al-Islymiyah, (Riyyd: al-Dyr al-Shaulatiyah li al-Tarbiyah, 2. ,hlm. Jurnal Keislaman. Volume 08. Nomor 02. September 2025 Pembentukan Karakter Spiritual Melalui Pembiasaan Dengan Kedisiplinan Dalam kegiatan pembelajaran metode pembiasaan merupakan metode yang penting, karena setiap pengetahuan dan perbuatan yang didapat dari melakukan pembiasaan akan memudahkan bagi anak usia dini untuk memahami sesuatu. Melalui metode pembiasaan dilembaga sekolah, diharapkan mampu mendidik anak berprilaku baik dalam kelompok sosial dan berkesesuaian dengan ajaran agama Islam. Pembiasaan adalah sebuah metodeyang digunakan oleh lembaga sekolah dalam rangka membiasakan anak didiknya untuk mengerjakan sesutau secara berulang-ulang sampai anak menjadi terbiasa dan tidak meninggalkannya. Program ubudiyah tidak hanya berfungsi sebagai rutinitas keagamaan semata, tetapi juga menjadi sarana strategis dalam membentuk karakter spiritual dan kedisiplinan peserta didik secara menyeluruh. Melalui pelaksanaan program ini secara konsisten, peserta didik mulai menunjukkan perubahan perilaku yang signifikan. Mereka tidak hanya melaksanakan kewajiban ibadah sebagai formalitas, melainkan telah tumbuh kesadaran akan pentingnya menjalankan ibadah sebagai bagian dari tanggung jawab pribadi dan pengabdian kepada Allah SWT. Mereka juga tidak hanya menjalankan shalat wajib secara tertib, tetapi juga terbiasa melaksanakan shalat sunnah seperti shalat dhuha. Kebiasaan wudu yang benar juga mulai terbentuk dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, kegiatan pengajian Al-QurAoan yang dilaksanakan secara rutin menjadi bagian dari pembentukan keistikamahan mereka dalam ibadah. Hal ini menunjukkan bahwa internalisasi nilai-nilai ubudiyah tidak hanya bersifat formalitas, tetapi telah membentuk karakter dan kebiasaan religius yang konsisten. 6 Sangat jauh perbedaannya dengan manusia dewasa. Anak usia dini memiliki daya serap yang luar biasa terhadap yang dilihat dan yang didengar. Peserta didik terlihat memiliki semangat yang tinggi dalam mengikuti setiap kegiatan keagamaan yang telah dijadwalkan, seperti shalat berjamaah, pengajian, serta 5 Anita Oktaviana et al. AuPeran Pendidikdalam Menerapkan Pendidikan Akhlak Anak Usia Dini melalui Metode Pembiasaan,Ay Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini6, no. : 5298. 6 SD Negeri and Medan Tuntungan. Au. Ay 6, no. : 77Ae86. Membentuk Generasi Taat Ibadah Melalui Program Ubudiyah di Sb Ampang Selangor Kuala Lumpur Malaysia Ae Wasik. Ali Wafa. Umar Faruq. Vina Eliana kegiatan dzikir dan doa bersama. Partisipasi aktif ini bukan sekadar karena keharusan, tetapi lahir dari kesadaran internal yang mulai terbentuk. Fakhru al-Din al-Razy menegaskan dalam kitab Tafscr al-Rzy: aAEONa Iaa EaEa Oa aOCa acEa Ia O U I I aNA a aAEaONa Aa aO aE O aIa a aN aEA a aEO aO Na Eac EOIa aOE aO aaNaa aOE aOa aI acIA a a acI aI Oa aI aa EEA Artinya: Hal itu diperintahkan . elakukan shala. sebagai proses pembelajaran dan untuk pembiasaan dan latihan sehingga dia lebih mudah melaksanakannya ketika baligh dan lebih sedikit rasa antipatinya. Dalam pembiasaan ini terdapat metode praktek yang sangat jitu memberi penguasaan kepada objek, bahkan menjadi sangat relevan kepada anak yang notabene daya tangkapnya masih cenderung lemah. Kemampuan akalnya lebih bisa mencontoh apa yang mereka lihat dan meniru apa yang mereka dengar, bukan memahami materi yang dijelaskan dan mengerti apa yang diterangkan. Sehingga metode pembiasaan sangat penting menjadi titik tekan orang tua dalam mendidik dan menyiapkannya sebagai kaderisasi terbaik. Apalagi memang ada banyak kurikulum dakwah yang tidak cukup ditranformasikan dengan media lisan dan tulisan. Objek akan memperoleh pemahaman jika dipraktekkan secara langsung, seperti tata cara shalat dan haji. 7 Mereka juga menunjukkan kemampuan dalam menjaga adab dan etika, baik dalam berbicara, bersikap kepada guru dan teman, hingga dalam menjaga kebersihan dan ketertiban lingkungan Nilai-nilai keikhlasan, ketekunan, dan rasa syukur yang diajarkan dalam setiap sesi pembinaan ubudiyah secara perlahan mulai mengakar dalam kepribadian peserta didik. Mereka belajar untuk menjalankan ibadah bukan karena paksaan, melainkan karena panggilan hati dan pemahaman akan makna spiritual di balik setiap amalan. Hal ini tercermin dalam peningkatan sikap positif, seperti lebih tenang, sopan, dan mudah Kesadaran spiritual mereka tumbuh bersamaan dengan kepedulian yang meningkat terhadap pelaksanaan ibadah, baik di lingkungan sekolah maupun dalam kehidupan rumah tangga. 7 Fakhru al-Din al-Razy. Tafscr al-Rzy, hlm. Jurnal Keislaman. Volume 08. Nomor 02. September 2025 Lebih jauh, karakter yang terbentuk melalui program ubudiyah ini menjadi fondasi penting dalam pembentukan pribadi yang berintegritas, religius, dan berakhlakul Program ini tidak hanya mengubah perilaku lahiriah, tetapi juga membentuk dimensi batiniah peserta didik yang mendalam, menjadikan mereka generasi yang tidak hanya taat dalam ibadah ritual, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial dan moral yang tinggi dalam kehidupan bermasyarakat. Dukungan Lingkungan sebagai Faktor Keberhasilan Keberhasilan pelaksanaan program ubudiyah di SB Ampang tidak terlepas dari adanya sinergi yang kuat dan kolaboratif antara berbagai elemen penting dalam lingkungan pendidikan. Guru pembina asrama memainkan peran sentral dalam memberikan pendampingan spiritual yang intensif dan berkesinambungan kepada peserta Mereka tidak hanya bertindak sebagai pengawas kegiatan ibadah, tetapi juga sebagai figur pembimbing yang dekat secara emosional dan spiritual dengan peserta didik. Pendekatan yang humanis, persuasif, dan berbasis keteladanan menjadikan para pembina sebagai panutan yang mampu menanamkan nilai-nilai ubudiyah secara efektif dan menyentuh aspek afektif peserta didik. Peran orang tua juga menjadi faktor penting dalam menunjang keberhasilan program Meskipun banyak di antara mereka memiliki keterbatasan waktu karena tuntutan pekerjaan, partisipasi orang tua tetap terlihat melalui komunikasi yang aktif dengan pihak sekolah, serta melalui keteladanan yang diberikan di rumah. Orang tua yang turut menjalankan nilai-nilai ibadah dalam kehidupan keluarga secara tidak langsung memperkuat nilai-nilai yang telah ditanamkan di sekolah. Kolaborasi ini menciptakan kesinambungan pendidikan antara rumah dan sekolah dalam membentuk karakter religius Selain itu, lingkungan sekolah yang kondusif, teratur, dan bernuansa religius menjadi ruang yang mendukung proses internalisasi nilai ubudiyah. Kehidupan harian di sekolah yang dibingkai dengan waktu-waktu ibadah, pengingat spiritual, serta kegiatan pembinaan keagamaan yang terjadwal secara sistematis, menjadikan ibadah sebagai bagian dari budaya sekolah yang hidup dan tidak bersifat formalitas. Dalam konteks ini, program ubudiyah tidak hanya menjadi agenda harian, melainkan telah melekat menjadi identitas dan budaya institusional sekolah. Selain guru dan orang tua, lingkungan sosial di sekitar sekolah, termasuk masyarakat sekitar dan kultur religius yang mengakar, turut memberikan kontribusi signifikan dalam menunjang keberhasilan program ubudiyah. Lingkungan yang kondusif, di mana praktek keagamaan seperti shalat berjamaah, tadarus Al-QurAoan, dan kegiatan keagamaan lainnya menjadi bagian dari keseharian, menciptakan atmosfer spiritual yang mendukung pembentukan karakter ibadah siswa. Keberadaan komunitas yang religius ini secara tidak langsung menjadi penguat nilai-nilai yang ditanamkan di sekolah, karena siswa terus Membentuk Generasi Taat Ibadah Melalui Program Ubudiyah di Sb Ampang Selangor Kuala Lumpur Malaysia Ae Wasik. Ali Wafa. Umar Faruq. Vina Eliana berinteraksi dalam lingkungan yang serasi dengan nilai-nilai ubudiyah8. Hal ini selaras dengan pandangan Suyadi & Ulfatin dalam bukunya Manajemen Pendidikan Karakter di Sekolah, yang menyebutkan bahwa lingkungan sosial yang mendukung memiliki peran strategis dalam pembentukan karakter peserta didik secara holistik. Tidak hanya itu, peran kelembagaan seperti organisasi keagamaan lokal, termasuk Nahdlatul Ulama (NU), juga memperkuat nilai-nilai ibadah melalui berbagai kegiatan keislaman yang bersifat edukatif dan partisipatif. Menurut artikel di NU Online . , pendidikan spiritual yang efektif tidak hanya bergantung pada kurikulum formal, tetapi juga pada keterlibatan aktif masyarakat dan organisasi sosial-keagamaan yang menanamkan nilai-nilai Islam secara kontekstual dan aplikatif dalam kehidupan seharihari. 9 Dengan demikian, lingkungan yang suportif dan terintegrasi menjadi fondasi penting dalam menciptakan generasi yang tidak hanya memahami ubudiyah secara teoritis, tetapi juga mengamalkannya secara konsisten dalam kehidupan mereka. Kombinasi dari peran aktif guru pembina, dukungan orang tua, dan lingkungan yang mendukung menciptakan ekosistem pendidikan yang menyeluruh, di mana peserta didik dapat tumbuh sebagai pribadi yang berakhlak mulia dan memiliki kesadaran tinggi terhadap kewajiban ibadah. Dengan demikian, program ubudiyah ini tidak hanya mencetak generasi yang memahami ritual keagamaan, tetapi juga membentuk insan yang memiliki kepekaan spiritual, tanggung jawab moral, dan integritas diri dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Menjawab Tantangan dalam Pelaksanaan Program Meskipun program ubudiyah di SB Ampang menunjukkan keberhasilan dalam membentuk karakter religius dan kedisiplinan peserta didik, pelaksanaannya tidak terlepas dari berbagai tantangan yang cukup kompleks. Salah satu tantangan utama yang ditemukan dalam penelitian ini adalah menurunnya motivasi sebagian peserta didik dalam Suyadi & Ulfatin. Manajemen Pendidikan Karakter di Sekolah. Jakarta: Prenadamedia Group. halm,97 NU Online. AuPendidikan Spiritual Butuh Keterlibatan Keluarga dan Lingkungan. Ay Diakses dari: https://w. Jurnal Keislaman. Volume 08. Nomor 02. September 2025 menjalankan ibadah secara konsisten. Fenomena ini sebagian besar disebabkan oleh dua faktor utama, yaitu pengaruh penggunaan gadget yang berlebihan dan padatnya jadwal akademik yang menuntut konsentrasi dan energi ekstra dari para siswa. Penggunaan gadget, khususnya smartphone, sering kali menjadi distraksi yang mengalihkan perhatian peserta didik dari aktivitas spiritual. Akses tanpa batas terhadap media sosial, permainan daring, dan konten hiburan lainnya menyebabkan munculnya kelelahan mental, kejenuhan, serta penurunan minat terhadap kegiatan ubudiyah. Hal ini diperparah dengan padatnya agenda akademik yang menuntut mereka untuk fokus pada tugas-tugas sekolah, ujian, dan kegiatan ekstrakurikuler, sehingga waktu dan energi yang tersisa untuk kegiatan keagamaan menjadi terbatas. Menyadari hal tersebut, pihak sekolah tidak tinggal diam. Berbagai strategi adaptif dan solutif telah dirancang untuk menjawab tantangan ini. Pertama, sekolah melakukan penyesuaian terhadap jadwal pelaksanaan program ubudiyah agar tidak berbenturan langsung dengan waktu-waktu akademik yang padat. Penjadwalan ulang ini bertujuan untuk menciptakan keseimbangan antara kebutuhan spiritual dan tuntutan akademik siswa, sehingga keduanya dapat berjalan selaras tanpa saling mengganggu. Kedua, sekolah meningkatkan pendekatan personal dan emosional melalui pembinaan rohani yang lebih intensif. Guru pembina dan pendamping spiritual memberikan perhatian khusus kepada siswa yang tampak mulai kehilangan semangat, dengan memberikan motivasi, dukungan moral, serta ruang dialog yang bersifat terbuka dan penuh empati. Pendekatan ini tidak hanya bertujuan untuk membangkitkan semangat ibadah, tetapi juga untuk membangun hubungan emosional yang positif antara pendidik dan peserta didik, yang dapat memperkuat ikatan spiritual mereka. Ketiga, sekolah juga menginisiasi program pembinaan teknologi . igital parentin. sebagai bentuk respons terhadap tantangan zaman. Melalui program ini, siswa diberikan pemahaman mengenai dampak negatif penggunaan gadget yang tidak terkontrol serta dibimbing dalam mengatur waktu dan konten digital secara bijak. Kegiatan ini tidak hanya melibatkan peserta didik, tetapi juga mengajak orang tua untuk berperan aktif dalam mengawasi dan mengarahkan penggunaan teknologi di rumah. Dengan strategi-strategi tersebut, pihak sekolah berusaha menjaga keberlangsungan program ubudiyah agar tetap relevan, efektif, dan tidak tergerus oleh tantangan modernitas. Penanganan yang adaptif terhadap hambatan-hambatan ini menunjukkan bahwa program ubudiyah di SB Ampang tidak hanya responsif terhadap perkembangan zaman, tetapi juga mampu menjadi model pendidikan karakter Islam yang kontekstual, realistis, dan solutif dalam menghadapi dinamika kehidupan peserta didik saat ini. Upaya menjawab tantangan dalam pelaksanaan program ubudiyah merupakan bagian integral dari strategi penguatan pendidikan karakter di era digital. Sekolah yang adaptif terhadap dinamika zaman dituntut untuk tidak hanya fokus pada aspek kognitif, tetapi juga memperhatikan perkembangan sosial dan teknologi yang mempengaruhi perilaku peserta didik. Dalam konteks ini, pentingnya penguatan literasi digital berbasis nilai-nilai keislaman menjadi suatu kebutuhan. Seperti yang ditegaskan dalam buku Membentuk Generasi Taat Ibadah Melalui Program Ubudiyah di Sb Ampang Selangor Kuala Lumpur Malaysia Ae Wasik. Ali Wafa. Umar Faruq. Vina Eliana Pendidikan Karakter: Konsep dan Implementasi,10 pendidikan karakter harus mampu menyesuaikan diri dengan realitas sosial dan perkembangan teknologi agar tetap relevan dan mampu menyentuh dimensi afektif siswa secara mendalam. Oleh karena itu, inisiatif seperti digital parenting dan pembinaan spiritual yang terintegrasi merupakan respons konkret terhadap tantangan teknologi yang mengancam konsistensi nilai ubudiyah di kalangan siswa. Lebih lanjut, pendekatan kolaboratif antara sekolah dan orang tua dalam mengawasi penggunaan gadget secara bijak mencerminkan model pendidikan Islam yang tidak hanya normatif, tetapi juga solutif. Sebagaimana disampaikan oleh NU Online . , pendidikan Islam modern harus melibatkan sinergi antara pihak sekolah, keluarga, dan masyarakat agar mampu membentengi generasi muda dari pengaruh negatif digitalisasi tanpa harus memutus akses mereka terhadap kemajuan teknologi11. Artikel tersebut menekankan pentingnya pendidikan nilai secara partisipatif dan berkelanjutan, termasuk dalam membangun kesadaran spiritual dan disiplin ibadah melalui pendekatan kekeluargaan dan teknologi yang dikendalikan. Dengan demikian, keberhasilan program ubudiyah tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa kuat kurikulumnya, tetapi juga ditentukan oleh seberapa cerdas dan kontekstual strategi yang digunakan dalam menghadapi tantangan zaman. Upaya yang dilakukan oleh SB Ampang menjadi bukti bahwa pendidikan karakter berbasis ubudiyah dapat tetap bertahan dan berkembang bila disertai komitmen, inovasi, dan kolaborasi dari seluruh elemen pendidikan. Implikasi Program terhadap Pembentukan Generasi Taat Ibadah Secara keseluruhan, pelaksanaan program ubudiyah di SB Ampang memberikan kontribusi yang signifikan dalam membentuk generasi muda yang taat beribadah dan berakhlakul karimah. Program ini tidak hanya berfokus pada peningkatan kuantitas ibadah peserta didik, tetapi juga menekankan pada kualitas internalisasi nilai-nilai keagamaan yang berperan dalam pembentukan karakter secara menyeluruh. Melalui pendekatan yang sistematis, terstruktur, dan berkesinambungan, program ini berhasil membangun pondasi spiritual yang kokoh dalam diri peserta didik sejak usia dini. Keberhasilan internalisasi nilai-nilai keagamaan dalam program ubudiyah terlihat dari perubahan perilaku siswa dalam kehidupan sehari-hari. Peserta didik tidak hanya menjalankan ibadah sebagai kewajiban formal, tetapi juga menunjukkan sikap disiplin, tanggung jawab, dan kesadaran spiritual yang meningkat. Hal ini sesuai dengan buku Pendidikan Karakter dalam Perspektif Islam, yang menyatakan bahwa pendidikan ibadah yang konsisten dan terpadu dapat membentuk karakter mulia seperti kejujuran, kesabaran, dan ketekunan. 12 Ketika ibadah diposisikan sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah dan bukan sekadar rutinitas, maka akan tumbuh kesadaran iman yang lebih dalam dan berpengaruh pada sikap dan akhlak siswa. 10 Gunawan. Pendidikan Karakter: Konsep dan Implementasi. Bandung: Alfabeta. Halaman: 122 NU Online. AuPendidikan Islam Harus Adaptif terhadap Perkembangan Zaman dan Teknologi. Ay Diakses dari: https://w. id pada 12 Juli 2025. 12 Purwanto. Pendidikan Karakter dalam Perspektif Islam. Yogyakarta: Deepublish. Halaman: 87 Jurnal Keislaman. Volume 08. Nomor 02. September 2025 Lebih lanjut, dampak program ini tidak hanya dirasakan dalam lingkup pribadi siswa, tetapi juga berdampak positif pada suasana lingkungan sekolah secara umum. Terbentuknya budaya sekolah yang religius dan penuh keteladanan mendorong terciptanya komunitas belajar yang harmonis, saling menghargai, dan terhindar dari perilaku menyimpang. Seperti dijelaskan dalam artikel NU Online . , pembiasaan ibadah sejak dini memiliki efek kolektif dalam membangun peradaban sekolah yang berkarakter Islami. Lingkungan sekolah yang dikelilingi oleh praktek keagamaan yang konsisten akan menciptakan atmosfer sosial yang positif, di mana siswa saling menginspirasi dalam kebaikan13. Dengan demikian, program ubudiyah tidak hanya membentuk individu yang religius, tetapi juga komunitas yang berperadaban. Program ubudiyah membuktikan bahwa pembiasaan ibadah yang dilakukan secara konsisten dalam lingkungan yang kondusif mampu membentuk pribadi yang tidak hanya religius secara ritual, tetapi juga memiliki integritas moral, disiplin, tanggung jawab, serta rasa empati sosial yang tinggi. Nilai-nilai kejujuran, kesederhanaan, kerja keras, dan kepedulian sosial tertanam melalui aktivitas ibadah yang bukan sekadar formalitas, melainkan dihayati secara mendalam dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, peserta didik tidak hanya menjadi pribadi yang taat dalam beribadah kepada Allah SWT, tetapi juga menjadi manusia yang bermanfaat dalam kehidupan bermasyarakat. Lingkungan sekolah yang bernuansa religius turut memperkuat keberhasilan program ini. Interaksi antara guru pembina, peserta didik, dan orang tua membentuk ekosistem pendidikan yang saling mendukung dalam menanamkan nilai-nilai spiritual. Program ini tidak hanya menjadi bagian dari kurikulum non-akademik, tetapi telah terintegrasi ke dalam budaya sekolah, sehingga nilai-nilai ubudiyah menjadi bagian dari identitas dan keseharian warga sekolah. Lebih jauh, program ubudiyah memiliki potensi besar untuk dijadikan sebagai model pendidikan karakter berbasis spiritual yang dapat direplikasi di lembaga-lembaga pendidikan lainnya. Dalam era modern yang penuh tantangan moral dan pengaruh negatif dari luar, pendekatan pendidikan yang menyentuh aspek spiritual terbukti mampu menjawab kebutuhan zaman. Model ini tidak hanya 13 NU Online. "Ibadah Sejak Dini Bentuk Generasi Religius dan Cinta Damai". Diakses dari: https://w. id pada 12 Juli 2025 Membentuk Generasi Taat Ibadah Melalui Program Ubudiyah di Sb Ampang Selangor Kuala Lumpur Malaysia Ae Wasik. Ali Wafa. Umar Faruq. Vina Eliana relevan untuk pendidikan formal, tetapi juga dapat diterapkan dalam konteks pembinaan keluarga, pesantren, dan masyarakat umum sebagai strategi pembentukan generasi yang tangguh secara spiritual dan bermoral tinggi. Dengan demikian, program ubudiyah di SB Ampang bukan hanya menjadi inovasi lokal, tetapi juga dapat menjadi inspirasi nasional dalam rangka membangun sistem pendidikan Islam yang tidak hanya mencerdaskan intelektual peserta didik, tetapi juga membentuk akhlak dan spiritualitas yang kuat sebagai bekal menghadapi kehidupan global yang kompleks. Namun, penelitian juga mendapatkan serta menemukan beberapa tantangan, seperti kurangnya kesadaraan anak didik serta kesemangatan mereka dikarenakan pengaruh gatget, dan sedikitnya waktu dikarenakan padatnya akademik14. Untuk mencari jalan keluar dari tantangan tersebut, pihak akademi melakukan pendekatan secara sosial, pembinaan intensif, serta mengatur ulang mengenai waktu pembelajaran utamanya dalam masal program ubudiyah agar tetap dapat berjalan dengan tanpa mengganggu proses kegiatan pembelajaran yang ada. Secara keseluruhan, hadirnya program ubudiyah di SB Ampang memberikan warna baruyang sangat signifikan dalam membentuk generasi yang tekun dalam beribadah dan berakhlakul karimah. Selain menunjukkan perkembangan dalam aspek spiritual, peserta didik di SB Ampang juga mengalami kemajuan signifikan dalam aspek intelektual, terutama dalam hal pemahaman terhadap materi-materi keislaman yang diajarkan melalui program ubudiyah. Pembinaan yang terstruktur dan berkelanjutan tidak hanya berfokus pada praktek ibadah, tetapi juga memberikan ruang untuk penguatan kognitif, seperti pengajaran makna ibadah, penjelasan dalil-dalil keagamaan, serta diskusi terbimbing mengenai nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Dalam prosesnya, peserta didik menunjukkan antusiasme yang tinggi dalam mengikuti kegiatan pembelajaran keagamaan. Mereka lebih aktif dalam bertanya, berdiskusi, dan 14 Amanda Zahra Sabila et al. AuImplementasi Program Bina Pribadi Islami ( BPI ) Dalam Pembinaan Karakter Siswa SDIT,Ay no. Prospek Iv . : 26Ae32. Jurnal Keislaman. Volume 08. Nomor 02. September 2025 merespons materi yang disampaikan oleh para pembina atau guru. Kemampuan berpikir kritis dan keingintahuan mereka terhadap ajaran agama meningkat, yang menandakan tumbuhnya pemahaman konseptual yang lebih mendalam terhadap nilai-nilai ubudiyah dan keislaman. Hal ini tidak hanya membentuk pengetahuan teoritis, tetapi juga melahirkan kesadaran yang kuat untuk mengamalkan ilmu tersebut dalam kehidupan Peningkatan intelektual ini juga tampak dari kemampuan peserta didik dalam menerjemahkan nilai-nilai keagamaan ke dalam praktek di lingkungan keluarga. Beberapa dari mereka bahkan sudah mampu menjadi imam dalam shalat berjamaah bersama keluarga, mengingatkan anggota keluarga untuk melaksanakan ibadah tepat waktu, serta membiasakan membaca Al-QurAoan bersama orang tua di rumah. Ini menunjukkan bahwa pemahaman keagamaan yang mereka peroleh tidak bersifat pasif, melainkan telah menjadi bagian dari kepribadian yang aktif dan reflektif dalam kehidupan sehari-hari. Lebih dari itu, kemampuan peserta didik dalam menghubungkan pemahaman keagamaan dengan tindakan nyata mencerminkan keberhasilan program dalam membentuk pribadi yang seimbang antara kecerdasan spiritual dan intelektual. Program ubudiyah dengan demikian tidak hanya mencetak peserta didik yang taat dalam menjalankan ibadah, tetapi juga cerdas dalam memahami nilai-nilai agama secara mendalam dan mampu mengaplikasikannya secara kontekstual dalam kehidupan sosial dan keluarga. Hal ini menjadi bukti bahwa pendidikan ubudiyah yang dijalankan tidak hanya bersifat doktrinal, tetapi transformatif dan membumi dalam membentuk generasi muslim yang utuh secara keilmuan dan kepribadian. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian mengenai program ubudiyah dalam membentuk generasi taat ibadah di SB Ampang. Selangor. Kuala Lumpur, dapat disimpulkan bahwa program ini terbukti efektif dalam membentuk kebiasaan ibadah yang baik dan benar pada peserta didik, tercermin dari keteraturan mereka dalam menjalankan shalat wajib dan sunnah, membaca Al-QurAoan, serta berpartisipasi aktif dalam kegiatan keagamaan lainnya. Pembinaan spiritual yang berkelanjutan melalui metode praktek dan pembiasaan berhasil membentuk sikap Membentuk Generasi Taat Ibadah Melalui Program Ubudiyah di Sb Ampang Selangor Kuala Lumpur Malaysia Ae Wasik. Ali Wafa. Umar Faruq. Vina Eliana disiplin, tanggung jawab, dan keistikamahan dalam beribadah, meskipun mayoritas peserta didik berasal dari keluarga dengan orang tua yang sibuk. Keberhasilan program ini juga didukung oleh kolaborasi antara guru pembina, orang tua, dan lingkungan sekolah yang religius, sehingga nilai-nilai keagamaan tidak hanya diajarkan tetapi juga dihidupkan dalam Selain itu, program ini memberi dampak positif terhadap perkembangan intelektual dan pemahaman keagamaan siswa, yang tercermin dari kemampuan mereka dalam menginternalisasi nilai-nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari dan keterlibatan aktif dalam kegiatan keagamaan keluarga. Walaupun terdapat tantangan seperti pengaruh negatif gadget dan padatnya aktivitas akademik yang sempat menurunkan semangat sebagian siswa, hal tersebut dapat diatasi dengan pendekatan sosial, pembinaan intensif, dan penyesuaian jadwal kegiatan. Secara keseluruhan, program ubudiyah di SB Ampang memberikan dampak signifikan dalam membentuk generasi yang taat beribadah, berakhlakul karimah, serta memiliki integritas spiritual yang kuat, sehingga layak dijadikan model pembinaan karakter religius dalam pendidikan Islam. Daftar Pustaka