Jurnal Islamika Granada, 1 (1) September (2020) ISSN 2723-4142 (Print) ISSN 2723-4150 (Online) DOI: https://doi.org/10.51849/ig.v1i1.7 Jurnal Islamika Granada Available online https://penelitimuda.com/index.php/IG/index Implementasi Pendidikan Multikultural Dalam Mempersiapkan Sumber Daya Manusia Berkarakter Cerdas di Era Revolusi Insdustri 4.0 Implementation of Multicultural Education in Preparing Human Resources with Smart Character in the Era of Industrial Revolution 4.0 Alfauzan Ramadhanny Simangunsong(1*), Annisa Sabrina(2) & Dina Zhafira(3) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, Indonesia *Corresponding author: alfauzanrasi01@gmail.com Abstrak Revolusi industri 4.0 merupakan perubahan yang terjadi begitu cepat dalam jalinan masyarakat dan kehidupan sosial, salah satunya dalam dunia pendidikan. Perubahan ini mempengaruhi gaya hidup, karakter, dan pola pikir peserta didik. Selain itu, revolusi industri 4.0 membutuhkan sumber daya manusia yang cerdas dalam merespon perubahan yang terjadi di masyarakat melalui proses pendidikan. Akhir-akhir ini, karakter yang ada pada siswa sangat mengkhawatirkan jika dilihat dari segi moral karena budaya menghargai perbedaan tidak lagi diabaikan. Penelitian ini bertujuan untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang cerdas dalam menggunakan media informasi dan teknologi sebagai bagian dari revolusi industri 4.0, yang sering digunakan untuk memecah belah persatuan dan kesatuan di antara umat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui wawancara di sekolah yang memiliki basis budaya berbeda, yaitu SMA Sultan Iskandar Muda, Madrasah Aliyah Negeri 2 Model Medan, dan SMA Santo Thomas 1 Medan. Penelitian ini menunjukkan kondisi mahasiswa yang masih belum memahami kemajuan teknologi yang berdampak pada perubahan karakter diri dan lingkungannya. Hal ini menunjukkan bahwa mereka belum cukup pintar menggunakan alat informasi dan komunikasi dengan baik, misalnya mereka sering percaya hoaks, menggunakan aplikasi yang tidak mengedukasi, menggunakan media massa untuk saling menggoda dan memecah persatuan, game online bahkan pornografi. Penelitian ini menawarkan solusi yaitu implementasi pendidikan multikultural dalam menyiapkan sumber daya manusia yang cerdas di era revolusi industri 4.0. Kata Kunci: Pendidikan Multikultural; Sumber Daya Manusia; karakter cerdas; Revolusi Industri 4.0. Abstract Industrial revolution 4.0 is a change that is happening so fast in the fabric of society and social life, one of which is in the world of education. This change affects the lifestyle, character, and mindset of students. In addition, the industrial revolution 4.0 requires intelligent human resources in responding to changes that occur in society through the educational process. Lately, the character that exists in students is very alarming when viewed in terms of morale because the culture of respecting differences is no longer ignored. This study aims to prepare human resources who are intelligent in using information media and technology as part of the industrial revolution 4.0, which is often used to divide unity and unity among the people. This research uses descriptive qualitative method through interviews in schools that have different cultural bases, namely Sultan Iskandar Muda High School, Madrasah Aliyah Negeri 2 Model Medan, and SMA Santo Thomas 1 Medan. This study shows the condition of students who still do not understand technological advances that have an impact on changing the character of themselves and their surroundings. This shows that they are not smart enough to use information and communication tools properly, for example they often believe hoaxes, use applications that do not educate, use mass media to tease each other and break up unity, online games and even pornography. This research offers a solution, namely the implementation of multicultural education in preparing human resources who are intelligent in the era of the industrial revolution 4.0. Keywords: Multicultural Education; Human Resources; Intelligent Character; Industrial Revolution 4.0. How to Cite: Simangunsong, Alfuzan Ramadhanny., Sabrina, Annisa. & Zhafira, Dina. 2020. Implementasi Pendidikan Multikultural Dalam Mempersiapkan Sumber Daya Manusia Berkarakter Cerdas di Era Revolusi Insdustri 4.0, Jurnal Islamika Granada, 1 (1): 1-8. 1 ISSN 2723-4142 (Print) ISSN 2723-4150 (Online) PENDAHULUAN Di Indonesia terdapat salah satu provinsi yang memiliki pola kehidupan masyarakat majemuk yang terdiri dari beragam suku, ras, agama maupun etnis dalam lingkup multikultural. Provinsi tersebut adalah Sumatera Utara. Multikultural merupakan gagasan yang lahir dari fakta tentang perbedaan antar warga masyarakat bersumber etnisitas bersama kelahiran sejarah (Mulkhan, 2005), hal ini menjadikan Sumatera Utara sebagai salah satu provinsi yang menyimpan potensi besar dan jarang kita perhatikan. Potensi yang sebenarnya dimiliki Sumatera Utara ialah potensi untuk bersatu dalam konteks mencapai kemajuan yang gemilang. Kemajuan ini dapat dicapai bila kita mampu bekerjasama dalam menyatukan perbedaan. Belakangan ini Indonesia termasuk di provinsi Sumatera Utara mengalami krisis toleransi. Krisis ini hampir menjadikannya sebagai provinsi yang rawan permusuhan akibat tindakan yang kurang cerdas. Hal demikian dikarenakan oleh beberapa sebab diantaranya aksi saling mengejek dan mengujarkan kebencian di dunia nyata maupun dunia maya. Aksi ini mengakibatkan adanya tindakan saling membatasi diri dalam pergaulan yang dilakukan oleh setiap golongan sehingga tidak mau saling bekerja sama. Mengatasi hal ini, pendidikan tentu berperan aktif untuk kembali mencerdaskan pemikiran seseorang sampai pada pemikiran seluruh masyarakat, sebab tujuan pendidikan ialah membimbing para generasi muda untuk menjadi cerdas (Lickona, 2013). Dengan demikian, persatuan yang kita bicarakan di atas terealisasi dan menjadikan kita semua bersatu untuk membangun Sumatera Utara menjadi provinsi yang maju di era revolusi industri 4.0. Revolusi industri 4.0 terdiri dari tiga kata yakni kata revolusi, industri, dan 4.0. Revolusi adalah perubahan yang terjadi secara cepat dalam tatanan sosial yang mempengaruhi banyak aspek diantaranya budaya yang di dalamnya termasuk pola pikir, gaya hidup, dan pendidikan. Sedangkan industri adalah sesuatu yang berkaitan dengan proses pengolahan benda atau produk di bidang ekonomi. 4.0 merupakan sebutan untuk menerangkan masa bahwasanya revolusi industri telah terjadi sebanyak empat kali dalam sejarah peradaban dunia. Revolusi industri 4.0 adalah suatu revolusi industri yang berbeda dari tiga revolusi sebelumnya. Revolusi industri pertama yang terjadi pada abad 17 sampai abad 18 adalah revolusi industri dimana tenaga manusia dan hewan-hewan tergantikan oleh mesin-mesin yang menjadikan proses produksi jauh lebih cepat. Revolusi industri yang kedua di abad 18 sampai awal abad 19, terjadi suatu loncatan ketika ditemukannya alat-alat elektronik berkenaan dengan pemanfaatan listrik, dan sebagainya yang mengakibatkan produksi jauh lebih besar. Pada revolusi industri ketiga di pertengahan abad ke 19 kembali muncul loncatan yang lebih maju sebab dalam proses produksi memiliki sistem otomatis yang dipengaruhi kerja komputer. Sedangkan di era baru telah lahir revolusi industri keempat yang disebut revolusi industri 4.0. Revolusi ini menggagas pemanfaatan sistem, digital dan teknologi sehingga pemasaran dan konsumsi hasil produksi jauh lebih mudah guna menunjang kehidupan individu manusia dan masyarakat (Gleason, 2018). https://penelitimuda.com/index.php/IG/index 2 ISSN 2723-4142 (Print) ISSN 2723-4150 (Online) Revolusi tetap menjadi bagian dari perubahan sosial sebab perubahan ini membawa dampak yang nyata di masyarakat. Dampak tersebut bisa bersifat negatif ataupun positif. Dampak positif dari revolusi industri 4.0 adalah menjanjikan kemudahan-kemudahan bagi sekelompok orang yang sadar bahwa sedang terjadi perubahan. Artinya ia mampu mengikuti arus perubahan tersebut, contoh dari hal itu bahwa hanya sebagian orang yang mahir dalam berbelanja online, bertranportasi online memesan makanan secara online dan masih banyak lagi. Sedangkan, dampak negatifnya adalah akan banyak sistem-sistem manual yang tergantikan dan menyulitkan sekelompok masyarakat untuk mengikutinya. Selain itu sifat konsumtif akan melekat pada sebagian masyarakat sehingga untuk memikirkan suatu inovasi baru sangat sulit dilakukan. Tersingkirnya sebagian toko-toko manual dan para pekerja sebagai bukti terjadinya disrupsi di segala bidang. Faktanya diantara kita ada sebagian masyarakat yang belum memiliki karakter cerdas, apalagi di masa krisis toleransi seperti saat ini. Seseorang dikatakan hidup bahagia jika memiliki karakter yang tinggi, yang dengannya ia dapat menjalankan kewajiban dan tanggung jawabnya dengan baik dan sempurna (MA Parinduri, 2020). Teknologi dan digital masih digunakan oleh sebagian masyarakat sebagai sarana memecah belah persatuan, bukan untuk berinovasi. Dari masalah ini maka diperlukan suatu pendidikan yang memberi pengajaran tentang cara saling menghormati, mengerti dan toleransi, serta menghargai adanya perbedaan. pendidikan multikultural adalah proses pendidikan yang diimplementasikan pada kegiatan pembelajaran disatuan pendidikan selalu mengutamakan unsur perbedaan sebagai hal yang biasa, sebagai implikasinya pendidikan multikultural membawa peserta didik untuk terbiasa dan tidak mempermasalahkan adanya perbedaan secara prinsip untuk bergaul dan berteman dengan siapa saja tanpa membedakan latar belakang budaya, suku bangsa, agama, ras, maupun adat istiadat yang ada (Ambaruddin, 2016). Saat ini disaat sebagaian masyarakat menciptakan inovasi baru disaat itu juga ada sebagian masyarakat lainnya yang justru sibuk memecah belah antar satu sama lainnya. Pendidikan multikultural ini diharapkan berhasil membangun karakter cerdas peserta didik sebagai penerus bangsa. Peseta didik inilah yang berpotensi sebagai sumber daya manusia unggul untuk mampu melakukan kegiatan yang mempunyai kegiatan ekonomis, yaitu bahwa kegiatan tersebut menghasilkan barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat (Sumarsono, 2003). Bila dilihat dari sejarah, negara kita merdeka karena kita bersatu dalam lingkup toleransi. Namun hal tersebut tidak lagi diperhatikan sebagai motivasi kita untuk mencapai makna semboyan bangsa ini yakni “Bhineka Tunggal Ika”. Sejak dini peserta didik perlu dibina kesiapan dirinya untuk bekerja sama hingga menimbulkan kesadaran bahwa berbeda itu indah. Itu sebabnya sangat perlu mempersiapkan sumber daya manusia unggul dari peserta didik yang memiliki latar belakang berbeda-beda menjadi potensi untuk dikolaborasikan dalam kompetisi menciptakan inovasi baru di era revolusi industri 4.0 demi mengharumkan Sumatera Utara, membawa kejayaan Indonesia dan membangun peradaban dunia (Suryabroto, 1983). https://penelitimuda.com/index.php/IG/index 3 ISSN 2723-4142 (Print) ISSN 2723-4150 (Online) METODE Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Metode kualitatif digunakan untuk memperoleh pemahaman mendalam tentang beberapa indicator dari beberapa jawaban, khususnya yang berkaitan dengan pendidikan disekolah berbasis agama, fokusnya adalah situasi atau informan tertentu, dan penekanannya pada makna yang ditafsirkan berdasarkan ungkapan-ungkapan dari pemberi informasi (MA Parinduri, 2017).Penelitian ini dilaksanakan selama dua hari pada tanggal 11-12 Februari 2019 di tiga sekolah yang berbeda yakni MAN 2 Model Medan, SMA Santo Thomas 1 Medan dan SMAS Sultan Iskandar Muda Medan. Populasi dalam penelitian ini ialah seluruh peserta didik di MAN 2 Model Medan, SMA Santo Thomas 1 Medan serta SMAS Sultan Iskandar Muda Medan. Penarikan sampel menggunakan teknik acak sederhana (simple random samplingI). Dari tiga sekolah lokasi penelitian peneliti mengambil 13 peserta didik. Adapun analisis data pada penelitian ini menggunakan analisis data deskriptif. HASIL DAN PEMBAHASAN Setiap sekolah yang menjadi objek penelitian memiliki implementasi pendidikan multikultural yang berbeda-beda melalui wawancara peneliti menemukan beragam informasi tentang pemahaman peserta didik pada pendidikan multikultural diantaranya: Berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan peserta didik, peneliti menemukan bahwa secara garis besar peserta didik MAN 2 Model Medan mengartikan pendidikan multikultural sebagai pendidikan berdasarkan latar belakang budaya yang beraneka ragam. Sebagian peserta didik MAN 2 Model Medan yang kami wawancarai mengetahui dan memahami pendidikan multikultural namun beberapa lainnya belum mengetahui pendidikan multuikultural itu. Peserta didik yang belum mengetahui perihal pendidikan multikultural tersebut berpendapat demikian karena mereka belajar di lembaga pendidikan dengan mayoritas Islam sehingga mereka belum mengetahui apa itu pendidikan muktikultural secara mendalam. Padahal peserta didik lainnya mengatakan bahwa pendidikan multikultural dan toleransi tercantum dalam beberapa pembelajaran salah satunya dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) sebagai implementasi pendidikan multikultural yang nyata di sekolah. Pendidikan multikultural para peserta didik ditanamkan untuk memiliki paradigma bahwa wajah atau cover dari Islam adalah ramah, bersahabat, toleran dan inklusif yang siap berdampingan dengan para penganut keyakinan yang berbeda, serta melihat perbedaan sebagai rahmat. Sedangkan, pada peserta didik di SMA Santo Thomas 1 Medan peneliti menemukan bahwa peserta didik mengetahui dan memahami dengan baik pendidikan multikultural. Pengetahuan dan pemahaman tentang pendidikan multikultural ini mereka dapati tidak hanya dari sekolah tempat mereka belajar tetapi juga dari keluarga dan lingkungan. Peserta didik sudah terbiasa akan multikultural yang ada di sekitar. Contohnya adalah dengan menghormati, menghargai dalam bersosialisasi dengan perbedaan. https://penelitimuda.com/index.php/IG/index 4 ISSN 2723-4142 (Print) ISSN 2723-4150 (Online) Pada SMAS Sultan Iskandar Muda, pendidikan multikultural adalah suatu upaya membentuk karakter manusia dalam bingkai keberagaman, dan hal tersebut menjadi penting untuk sifat atau kepribadian peserta didik agar menjadi baik nantinya setelah terjun di dalam masyarakat. Senada dengan James A. Banks seorang pakar pendidikan multikultural dari Amerika Serikat menulis bahwa pendidikan multikultural merupakan sebuah ide/konsep, sebuah gerakan perubahan pendidikan, dan sebuah proses. Ide pendidikan multikultural adalah bahwa semua peserta didik terlepas dari jenis kelamin, status sosial, ras maupun etnis. Mereka harus mendapatkan kesempatan yang sama untuk belajar disekolah (Banks, 2001). Peserta didik MAN 2 Model Medan yang peneliti wawancarai beranggapan bahwa pendidikan multikultural bagus diterapkan dalam kehidupan. Pendidikan multikultural dianggap mampu merangkul perbedaan yang ada di Indonesia guna memajukan masa depan yang lebih baik. Penerapan pendidikan multikultural di madrasah ini berjalan dengan sendirinya seiring dengan proses kegiatan belajar mengajar berlangsung seperti pada mata pelajaran PKn (Pendidikan Kewarganegaraan), Sosiologi dan Agama. Pada proses kegiatan belajar mengajar guru menjelaskan perihal pendidikan multikultural secara aktif kepada peserta didik. Guru menanamkan kepada siswa bahwa berteman dan bekerjasama dengan siapa saja tentu dibolehkan dengan syarat tidak mengganggu perihal akidah (keyakinan). Melalui toleransi, peserta didik diajarkan untuk saling menghargai dan mendamaikan dalam perbedaan. Bila dilihat dari hasil wawancara terhadap peserta didik MAN 2 Model Medan peneliti menemukan fakta bahwa peserta didik telah memiliki pengetahuan dan pemahaman yang baik tentang pendidikan multikultural khususnya dalam hal toleransi dan saling menghargai. Namun, bila dilihat dari tindakan ataupun perilaku terhadap multikultural masih belum direalisasikan dengan sepenuhnya. Sedangkan, implementasi pendidikan multikultural di SMA Santo Thomas 1 Medan sudah terlaksana dengan baik. Peserta didik disekolah ini juga beranggapan bahwa pendidikan multikultural bagus diterapkan disekolah. Alasan yang mendasari argumen mereka ialah kondisi dari sebagian masyarakat di Indonesia yang masih dilanda krisis toleransi dan sarat akan unsur SARA. Penerapan pendidikan multicultural dalam proses belajar mengajar diarahkan oleh guru melalui pelajaran PKn (Pendidikan Kewarganegaraan), Agama dan kisah tauladan. Guru menamkan kepada peserta didik tentang perbedaan, toleransi dan bagaimana memahami perbedaan. Selain itu penerapan pendidikan multikultural juga berjalan dengan sendirinya di lingkungan sekitar peserta didik. Peserta didik yang peneliti wawancarai bahkan sudah mengaplikasikan indahnya multikultural dalam kehidupan sehari-hari baik di lingkungan keluarga, pertemanan, ataupun di masyarakat. Seperti saat perayaan hari besar setiap agama, salah satu peserta didik mengatakan mereka sering berkunjung satu sama lain untuk menunjukkan rasa saling toleransi, menghargai, dan menghormati sesama. Beberapa Peserta didik dari Santo Thomas 1 Medan yang peneliti wawancarai bahkan sangat menghargai dan menghormati perbedaan dengan memahami bahwa setiap agama, suku dan ras memilki keyakinan masing-masing yang tidak bisa kita samakan. Berdasarkan https://penelitimuda.com/index.php/IG/index 5 ISSN 2723-4142 (Print) ISSN 2723-4150 (Online) fakta-fakta yang peneliti temukan tersebut, pendidikan multikultural sudah diterapkan dan dapat dilihat implementasinya di SMA Santo Thomas 1 Medan baik secara teori maupun penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. SMAS Sultan Iskandar Muda sudah terkenal dengan multikulturalnya. Sekolah ini menerima siswa dari beragam agama, suku, budaya dan ras tanpa membedakan satu dengan yang lainnya. Hal ini mengakibatkan pemahaman pendidikan multikultural peserta didik di sekolah ini lebih universal dari dua sekolah sebelumnya. Peserta didik yang peneliti wawancarai beranggapan bahwa penerapan pendidikan multikultural sangat bagus guna menghindari terjadinya perkelahian ataupun saling ejek antar sesama dan memunculkan sifat saling toleransi, menghargai, dan menghormati perbedaan yang ada. Penerapan pendidikan multikultural disekolah ini sangat terlihat dari disediakannya empat rumah ibadah untuk setiap agama dan diberikannya kebebasan bagi setiap agama untuk menjalankan keyakinannya. Sekolah ini juga melakukan doa lintas agama saat perayaan hari besar setiap agama dan upacara yang dilakukan setiap hari senin. Selain itu, pada proses kegiatan belajar mengajar guru juga menganjurkan peserta didik untuk berbaur dengan peserta didik lain yang berbeda agama dengan cara duduk bersama di satu meja. Perbedaan yang sangat dihargai di sekolah ini bukan hanya perbedaan agama, suku, ras ataupun etnis tetapi juga perbedaan kemampuan finansial peserta didik. Yayasan Sultan Iskandar Muda membuat gerakan orang tua asuh untuk mengetuk dermawan agar memberi santunan biaya sekolah untuk siswa miskin disekolahnya, sehingga anak-anak usia sekolah mendapatkan kesempatan yang sama untuk mendapatkan ilmu. Seperti yang kita ketahui umumnya anak-anak dari golongan yang tergolong marjinal secara ekonomi sangat terbatas aksesnya untuk sekolah, apabila sekolah juga disekolahkan ke sekolah yang bermutu rendah. Berdasarkan hasil wawancara yang peneliti lakukan. Peneliti menemukan bahwa peserta didik di SMA Sultan Iskandar Muda sudah sangat universal dalam menanggapi dan menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan multikultural. Bahkan terdapat salah satu siswa yang mengatakan bahwa ia sudah terbiasa dengan hidup bertoleransi sehingga terkadang ia tidak sadar bahwa ia telah melakukan kegiatan yang berkenaan dengan toleransi di kesehariannya. Berdasarkan hasil wawancara yang peneliti lakukan sebagian besar peserta didik dari tiga sekolah menganggap perbedaan sebagai hal yang biasa dan tidak perlu dimasalahkan. Hanya saja, pada beberapa peserta didik MAN 2 Model Medan yang mayoritas beragama muslim masih ada yang bersikap tidak tahu karena beranggapan bahwa mereka mayoritas menganut agama yang sama. Sedangkan berkebalikan dengan peserta didik MAN 2 Model Medan, peserta didik Santo Thomas 1 Medan sudah bersikap lebih universal terhadap perbedaan budaya, agama, suku, dan ras. Bahkan mereka sudah bisa berpendapat dan bahkan mengkritisi permasalahan yang diakibatkan oleh perbedaan. Mereka menganggap bahwa permasalahan yang ada seharusnya dapat diselesaikan dengan baik bila rasa toleransi, menghormati, dan menghargai satu sama lain sudah tertanam di pribadi masing-masing. https://penelitimuda.com/index.php/IG/index 6 ISSN 2723-4142 (Print) ISSN 2723-4150 (Online) Pada SMAS Sultan Iskandar Muda peserta didik memiliki pandangan yang sangat baik dalam hal multikultural. Peserta didik tidak memandang multikultural sebagai sesuatu yang asing, bahkan peserta didik sangat menyadari indahnya perbedaan. Sekolah ini memiliki peserta didik dengan agama yang berbeda-beda sehingga pendidikan multikultural dapat dengan mudah diterapkan melalui sikap menghargai dan menghormati antar umat beragama yang berbeda tersebut. Sikap peserta didik dapat dilihat ketika perayaan hari besar keagamaan, meskipun peserta didik tersebut tidak merayakan tetapi mereka antusias untuk membantu mempersiapkan perayaan tersebut secara bersama-sama. Nilai-nilai multikultural yang terdapat pada peserta didik berdasarkan hasil wawancara diantaranya sikap saling menghargai, toleransi dan sikap saling memahami. Nilai-nilai multikultural diajarkan peserta didik agar mereka mengetahui adanya perbedaan diantara mereka sehingga perbedaan tersebut tidak menjadi kendala mereka dalam berinteraksi. Pendidikan multikultural di Sekolah MAN 2 Model Medan sudah berhasil memberi kesadaran pada peserta didik. Hal demikian dapat di lihat dari jawaban peserta didik bahwasanya mereka yakin jika dengan bekerja sama tanpa melihat latar belakang kita bisa mencapai kemajuan yang gemilang. Salah satu caranya adalah dengan tidak saling ejek baik di dunia nyata maupun dunia maya. Peserta didik juga menyadari bahwasanya tidak akan terjadi perpecahan di antara golongan apapun ketika kita bersatu. Sehingga kita benar-benar siap berada di era revolusi industri 4.0 sebagai sumber daya manusia yang memiliki karakter cerdas. Hanya saja kita tinggal memberi pandangan-pandangan yang jauh lebih luas kepada peserta didik agar hal tersebut cepat terealisasikan. Pandangan yang luas itu akan didapati peserta didik melalui banyak pergaulan yang diikuti. Pada SMA Santo Thomas Medan, Peserta didik sama sadarnya dengan dengan peserta didik dari sekolah sebelumnya. Mereka sudah mulai merealisasikan kerjasama itu dari hal-hal sederhana yang diharapkan dapat di teruskan ke sesuatu yang lebih besar. Dengan ini mereka dapat lebih siap membawa dirinya bekerja sama dalam menciptakan inovasi baru di era revolusi industri 4.0. Pola pendidikan multikultural di sekolah SMAS Sultan Iskandar Muda membawa dampak yang sangat besar dalam kesiapan para peserta didik untuk berpijak di era revolusi industri 4.0. Visi dari sekolah ini menuntut peserta didik supaya sadar bahwa ada perbedaan sebagai potensi besar dalam mencapai kejayaan yang gemilang, sampai pada akhirnya peserta didik menjadi sumber daya manusia yang berkarakter cerdas di era revolusi industri 4.0, karena sejak dini para peserta didik sudah merealisasikan pendidikan multikultural dalam kehidupannya baik di sekolah maupun di luar sekolah. SIMPULAN Dilihat dari jawaban-jawaban berkenaan dengan instrumen penelitian ini, seperti yang telah dijabarkan dalam pembahasan. Peneliti menyimpulkan bahwa peserta didik di MAN 2 Model Medan, memiliki jawaban yang kurang universal dan ada pula beberapa dari peserta didik belum teredukasi dengan baik khususnya dalam hal pendidikan https://penelitimuda.com/index.php/IG/index 7 ISSN 2723-4142 (Print) ISSN 2723-4150 (Online) multikultural. Padahal materi tentang toleransi di mata pelajaran PKn dan Sosiologi telah membuktikan bahwasanya sudah ada implementasi pendidikan multikultural disana. Namun sangat disayangkan masih ada beberapa peserta didik yang menjawab tidak tahu ketika ditanya hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan multikultural. Peserta didik dari SMA Santo Thomas 1 Medan memiliki pola jawaban yang cukup universal terhadap instrumen kami. Peserta didik lebih memahami tentang toleransi yang mereka pelajari di sekolah sebagai bukti implementasi pendidikan multikultural. Peserta didik ini menyadari bahwasanya toleransi saat bekerjasama itu sangat penting dalam menggapai kemajuan. Peserta didik mulai merealisasikan kerja sama itu mulai dari hal-hal sederhana, seperti membantu siapapun tanpa memandang latar belakangnya dalam konteks kemanusiaan. Di SMAS Sultan Iskandar Muda konsep berpikir peserta didik sangat baik terhadap multikultural. Sehingga peserta didik menjawab instrumen penelitian ini dengan jawaban yang sangat universal. Sesuai dengan visi sekolahnya peserta didik di sini sangat teredukasi dengan baik khususnya tentang toleransi. Mereka sangat sadar bahwa perbedaan itu adalah sesuatu yang indah dan perbedaan itu adalah potensi yang sangat besar serta perlu dioptimalkan dengan bekerja sama menciptakan berbagai inovasi baru. Sejak dini peserta didik SMAS Sultan Iskandar Muda sudah merealisasikan pendidikan multikultural pada kehidupan mereka baik di sekolah maupun di luar sekolah. Dari pola jawaban yang kurang universal, cukup universal dan sangat universal menunjukkan bahwa sebagian peserta didik sudah memiliki karakter cerdas dan berpotensi menjadi sumber daya manusia unggul yang siap membawa diri di era revolusi industri 4.0. Sedangkan, sebagian peserta didik yang belum memaknai potensi dalam perbedaan itu hendaknya mulai menyadari potensi itu dengan cara membuka wawasan berpikir, melakukan aktivitas sosial yang nyata bukan dalam dunia maya guna mengetahui berbagai macam perbedaan itu secara langsung dan mengabaikan berita bohong yang dapat memecah persatuan hingga peserta didik tidak mudah terpengaruh hal-hal negative. DAFTAR PUSTAKA Ambaruddin, R. I. (2016). Pendidikan multikultural untuk membangun bangsa yang nasionalis religius. Jurnal Civics. 13 (1): 31-32. Banks J A, Cherry. (2001). Handbook of Research on Multicultural Education. San Franscisco: JosseyBass. Gleason, N. W. (2018). Higher Education in The Era of The Fourth Industrial Revolution. Springer Nature: Singapore. Lickona, T. (2013). Mendidik untuk membentuk karakter: bagaimana sekolah dapat memberikan pendidikan tentang sikap hormat dan bertanggung jawab. Terjemahan oleh Juma Abdu Wamaungo. Jakarta: Bumi Aksara. MA Parinduri. (2017). Pendidikan sekolah berbasis agama dalam perspektif multicultural. Disertasi. Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah. ________. (2020). Main Values of Toba Muslim Batak Culture in Moral Education Perspective. Karsa: Journal of Social and Islamic Culture. 28(1). 120-139. Mulkhan, M. (2005). Kesalehan Multikultural. Jakarta: PSAP Muhammadiyah. Sumarsono, S. (2003). Ekonomi Manajemen dan Sumber Daya Manusia dan Ketenagakerjaan. Yogyakarta: Graha ilmu. Suryabroto, S. (1983). Proses Belajar Mengajar di Perguruan Tinggi. Yogyakarta: Andi Offset. https://penelitimuda.com/index.php/IG/index 8