P-ISSN 1412-0380 E-ISSN 2615-272X PRABANGKARA Jurnal Seni Rupa dan Desain Volume 23 Nomor 1. Juni 2019 p 11 - 15 Kajian Semiotika Kartun Majalah Tempo Tahun 2019 I Wayan Nuriarta Jurusan Desain Komunikasi Visual. Fakultas Seni Rupa dan Desain. Institut Seni Indonesia Denpasar iwayannuriarta@gmail. Di Indonesia, tahun 2019 disebut juga sebagai tahun politik karena berlangsungnya pemilihan eksekutif dan legislatif secara bersamaan pada 17 April 2019. Memasuki awal tahun ini, berbagai peristiwa politik selalu menjadi pemberitaan utama media massa seperti Majalah Tempo. Selain berita, opini-opini yang dihadirkan majalah Tempo dikenal masyarakat sebagai opini yang kritis termasuk opininya menggunakan kartun. Kartun Majalah Tempo adalah kartun editorial yaitu sebuah karya visual yang hadir untuk memberikan opini atau kritik terhadap peristiwa sosial-politik. Sejalan dengan hal tersebut, tahun 2019 menjadi ladang yang AosuburAo bagi kartun Majalah Tempo untuk menyampaikan opini tentang peristiwa politik dengan memanfaatkan teks visual dan teks verbal. Latar belakang tersebut menjadikan penelitian ini dilakukan dengan tujuan. Untuk mendeskripsikan teks visual dan teks verbal kartun Majalah Tempo tahun 2019, . Untuk mendeskripsikan makna denotasi dan makna konotasi kartun Majalah Tempo tahun 2019. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif. Hasil penelitian menunjukan teks visual yang menghadirkan manusia dan teks verbal kartun yang menghadirkan tulisan-tulisan sebagai pendukung pesan yang disampaikan. Makna denotasinya adalah sebuah narasi figur-figur manusia yang menjadi tanda untuk merepresentasikan peristiwa, dan dengan makna konotasi sebagai sebuah kartun kritik terhadap persoalan yang perlu mendapatkan perhatian dan perbaikan. Kata Kunci: Kartun Majalah Tempo. Tahun Politik. Makna Denotasi dan Makna Konotasi In Indonesia, 2019 is also called a political year because of the ongoing executive and legislative elections on April 17, 2019. Entering the beginning of this year, various political events have always been the main news of mass media such as Tempo Magazine. In addition to news, the opinions are presented by Tempo magazine known by the public as critical opinions including their opinions using cartoons. Cartoon of Tempo Magazine is an editorial cartoon that is a visual work to provide opinions or criticisms of socio-political events. In line with this, 2019 has become a Aowell grownAo field for Tempo magazineAos cartoon to present opinions about political events by utilizing visual texts and verbal texts. These backgrounds make this research carried out with the aim of. To describe the visual text and verbal text of Tempo magazineAos cartoon in 2019, . To describe the denotation meaning and the connotation meaning of Tempo magazineAos cartoon in 2019. This study uses a qualitative research design. The results of this study show visual texts that present human figures and verbal texts of the cartoon present some writing that support the message that would like to be The denotation meaning of the cartoon is a narrative of human figures that as a sign to represent events, and with connotation meaning as a criticism cartoon of the problems that need attention and solution. Keywords: Cartoon Tempo Magazine. Year of Politics. Denotation Meaning and Connotation Meaning Proses review : 1 - 20 Juni 2019, dinyatakan lolos 21 Juni 2019 I Wayan Nuriarta (Kajian Semiotika. PENDAHULUAN Kartun merupakan sebuah karya visual yang bersifat representasi dan simbolik. Kekuatan utama dari sebuah kartun terletak pada ide untuk menghadirkan tanda sebagai representasi sebuah peristiwa sosial politik. Kehadiran kartun sering kita jumpai pada media masa cetak seperti Koran dan majalah. Tempo sebagai sebuah majalah yang dikenal selalu kritis membahas persoalan sosial politik juga mengahdirkan kartun. Kartun yang hadir di Majalah Tempo ini disebut sebagai kartun editorial atau kartun opini sebuah media massa. Kartun editorial . ditorial cartoo. adalah visualisasi tajuk rencana sebuah media. Kartun ini biasanya membicarakan masalah politik ataupun masalah-masalah aktual yang menjadi berita utama dari redaksi. Disetiap terbitnya. Majalah Tempo selalu hadir dengan kartunnya yang humor dan dengan kritik yang tajam. Berbagai peristiwa di tahun politik 2019 juga tercatat dalam kartun opini Tahun 2019 disebut juga sebagai tahun politik karena dilaksnakannya pemilihan presiden dan wakil presiden, pemilihan DPR. DPRD Provinsi. DPRD Kabupaten/Kota dan juga pemilihan DPD (Dewan Perwakilan Daera. secara serentak pada 17 April 2019. Tahun 2019 menjadi tahun penuh dengan berita politik serta kampanye dari pasangan calon presiden dan wakil presiden beserta dengan partai-partai politik yang mengusung calon legislatifnya untuk duduk di kursi dewan. Tahun 2019 juga menjadi ajang kampanyenya para calon anggota Dewan Perwakilan Daerah sebagai wakil daerah yang selama ini dikenal tanpa melalui partai politik. Kehidupan sosial-politik masyarakat di Indonesia saat tahun politik menjadi Auladang suburAy bagi kartun editorial Majalah Tempo untuk menyampaikan kritik atau pendapat. Secara visual Kartun Majalah Tempo sangat menarik untuk dibongkar karena tanda-tanda yang dihadirkan sangat kuat mencerminkan realitas kehidupan sosial politik masyarakat Indonesia. Pesan-pesan yang dihadirkan melalui kombinasi gambar dan kata juga menarik untuk diungkap karena. kartun pada Majalah Tempo dikenal kritis. Majalah Tempo yang merupakan Majalah dengan sasaran pembacanya adalah kalangan kelas menengah yang diandaikan juga sebagai pembaca yang kritis. Sebagai karya komunikasi visual, kartun sangat kuat dengan penandaan untuk menyampaikan kritiknya terhadap peristiwa yang terjadi di tengah-tengah Tanda-tanda tersebut dihadirkan dengan teks visual dan juga teks verbal. Berdasarkan hal tersebut maka dirumuskan permasalahan yaitu: . bagaimana teks verbal dan teks visual kartun Majalah Tempo tahun 2019? dan . bagaimana tan- Volume 22. Nomor 2. Desember 2018 da dan makna kartun Majalah Tempo tahun 2019? Berkaitan dengan hal tersebut, maka kartun Majalah Tempo tahun 2019 sangat tepat dikaji menggunakan teori semiotika Roland Barthes. LANDASAN TEORI Kartun Majalah Tempo Kata AucartoonAy asalnya adalah karton, kertas tebal yang digunakan untuk membuat sketsa rancangan dalam pembuatan fresco . ukisan dindin. Sketsa tersebut menjadi acuan gambar untuk dijiplak di Pada tahun 1843 Balaikota London mengadakan sayembara pembuatanAycartoonAy untuk lukisan dinding gedungnya. Hasil para peserta dipamerkan di Balaikota, saat itu majalah satire AoPunchAo membuat karya sindir karya John Leech berjudul AoCartoon No. 1Ay memprotes gagasan Balaikota yang dianggap pemborosan. AoPunchAo merupakan majalah satire yang menjadi media kritik kebijakan pemerintah yang tidak sesuai dengan aspirasi masyarakat. Sejak itu kata AocartoonAo mulai dipakai unuk menyebut gambar sindir (Wigiono dalam Sunarto, 2019:. Kartun majalah Tempo adalah gambar kartun yang memiliki opini/kritik terhadap peristiwa sosial politik yang terjadi di tahun 2019 yang dimuat oleh Majalah Tempo. Sebuah majalah yang terbit setiap minggu dengan pimpinan redaksi/ penanggung jawabnya bernama Arief Zulkifli. Majalah Tempo beralamat redaksi Gedung Tempo di Jalan Palmerah Barat no. 8 Jakarta Selatan 12210 dengan alamat email: red@tempo. Teori Semiotika Kata AusemiotikaAy berasal dari bahasa Yunani, semeion yang berarti tanda, atau seme yang berarti menafsir Semiotika berurusan dengan segala sesuatu yang bisa dipandang sebagai tanda. Sebuah tanda adalah segala sesuatu yang dapat dipakai mengganti sesuatu yang lain secara signifikan (Eco, 2009: . Dalam pandangan Pilliang . 8: . , penjelajahan semiotika sebagai metode kajian kedalam pelbagai cabang keilmuan ini dimungkinkan karena ada kecendrungan untuk memandang pelbagai wacana sosial sebagai fenomena bahasa. Berdasarkan pandangan semiotika, bila seluruh praktik sosial dapat dianggap sebagai fenomena bahasa, maka semuanya dapat juga dipandang sebagai tanda. Hal ini dimungkinkan karena luasnya pengertian tanda itu sendiri. Roland Barthes mengembangkan dua tingkatan pertandaan . taggered syste. , yang memungkinkan dihasilkannya makna yang juga bertingkat-tingkat, yaitu tingkat denotasi . dan konotasi . Dalam bukunya Piliang . 3: . yang berjudul Hipersemiotika diuraikan denotasi sebagai tingkatan pertandaan yang menjelaskan hubungan antara penanda dan petanda, atau tanda Volume 22. Nomor 2. Desember 2018 PRABANGKARA Jurnal Seni Rupa dan Desain perempuan yang memegang remote televisi, sementara tangan yang lain memperbaiki antena televisi. Memakai baju berwarna merah dengan motif bunga kuning kecoklatan, perempuan ini tampak kebingungan. Di hadapannya digambarkan teks visual berupa televisi yang penuh dengan busa dan gelembung-gelembung busa. Gelembung-gelembung busa terlihat melayang di atas kepala figur perempuan tersebut. atas kepala perempuan ini juga digambarkan balon kata yang berwarna kuning. Dalam elemen kartun/ komik, gelembung kata difungsikan oleh kartunis/ komikus untuk menerangkan bahwa figur yang digambarkan sedang berbicara. Dalam balon kata ini berisi teks verbal yang bertuliskan: Jam segini biasanya sinetron, kok malah berbusa-busa_TV-nya rusak kali, ya? Gambar 1. Kartun Majalah Tempo Edisi 27 Januari 2019 dan rujukannya pada realitas, yang menghasilkan makna yang eksplisit, langsung dan pasti. Makna denotasi . enotative meanin. , dalam hal ini, adalah makna pada apa yang tampak. Denotasi adalah tanda yang penandanya mempunyai tingkat konvensi atau tingkat kesepakatan yang tinggi. Sedangkan konotasi adalah tingkat pertandaan yang menjelaskan hubungan antara penanda dan petanda, yang di dalamnya beroperasi makna yang tidak eksplisit, tidak langsung, dan tidak pasti . rtinya terbuka terhadap berbagai kemungkina. Misalnya tanda bunga mengkonotasikan kasih sayang atau tanda tengkorak mengkonotasikan bahaya. Konotasi menghasilkan makna lapis kedua yang bersifat implisit, tersembunyi, yang disebut makna konotatif . onnotative meanin. Teori semiotika yang digunakan dalam penelitian ini adalah semiotika yang dikemukakan Roland Barthes yaitu makna denotasi dan konotasi untuk mengungkap makna kartun Majalah Tempo tahun 2019. ANALISIS SEMIOTIKA Pada pembahasan ini akan diuraikan teks visual dan teks verbal serta makna denotasi dan makna konotasi kartun Majalah Tempo yang terbit pada edisi 27 Januari 2019 dan 24 Maret 2019. Kedua kartun ini dipilih karena menunjukan kritik terhadap situasi politik menjelang pemilu 17 April 2019. Kartun gambar 1 ini hadir pada Majalah Tempo edisi 27 Januari 2019 halaman 10. Berukuran 17,7 cm x 17,7 cm, kartun ini menggambarkan teks visual figur Teks visual dan teks verbal yang dihadirkan tersebut secara denotasi mempunyai narasi tentang seorang ibu rumah tangga yang memiliki kesenangan menonton sinetron. Acara sinetron yang biasanya tayang pada jam tertentu secara berkelanjutan, menjadikan menonton sinetron adalah kebiasaan ibu berbaju merah ini. Figur seorang ibu ini sedang bersiap menonton sinetron yang biasa ia tonton, ia sudah sangat mengharapkan cerita atau kisah sinetron yang biasa ia tonton bisa ia nikmati kembali. Namun pada gambar ditunjukan ekspresi wajah ibu tersebut kebingungan, dan bertanya-tanya kenapa sinetron yang biasa ia tonton kemudian tidak bisa ia saksikan di layar televisi, apa yang terjadi. Televisinya yang biasa digunakan untuk menonton sinetron mendadak penuh busa, gelembung-gelembung busa sangat banyak keluar dari televisinya. Figur ibu tersebut sepertinya tidak percaya dan sangat sangsi kalau televisinya rusak. Apakah televisinya yang rusak menjadikan televisi penuh busa, atau karena busa yang menjadikan televisinya rusak? Ekspresi wajah ibu digambarkan dengan penuh kebingungan. Pada tingkatan makna konotasi, kartun pada gambar 1 ini dapat dimaknai bahwa tahun 2019 yang disebut sebagai tahun politik telah menghadirkan banyak politisi di berbagai media. Politisi bisa hadir di jalanjalan melalui baliho dan spanduk. Hadir di media sosial seperti Facebook dan Instagram dengan berbagai kegiatan kemasyarakatan sebagai bentuk kampanye, dan juga sangat banyak hadir di televisi untuk berorasi meminta dukungan masyarakat. Kehadiran para politisi dalam berbagai ruang, termasuk pada layar televisi bertujuan untuk menyampaikan orasi kampanye dengan harapan agar dipilih oleh masyarakat pemilih. Semangat untuk menyampaikan orasi biasanya dimitoskan bahwa politikus tersebut sedang bicara berbusa-busa. Janji-jani kampanye para calon legislatif maupun eksekutif sering diidentikan dengan gelembung busa, karena kehadirannya I Wayan Nuriarta (Kajian Semiotika. Volume 22. Nomor 2. Desember 2018 terhadap para politisi baik eksekutif ataupun legislatif agar tidak hanya menghadirkan janji-janji palsu, namun setelah terpilih menjadi wakil rakyat, mampu bekerja maksimal untuk kepentingan raykat, bukan bekerja hanya untuk kekayaan diri sendiri. Kartun pada gambar 2 berukuran 17,7 cm x 17,7 cm menghadirkan teks visual seorang laki-laki yang menggunakan baju putih, celana blue jeans dan sepatu berwarna hitam yang berada di atas tumpukan tiga kursi. Masing-masing kursi berwarna coklat-kuning, coklat-biru dan kuning-merah. Teks verbal berisi tulisan Rp 500 Juta tertempel pada kursi paling bawah atau kursi yang berwarna coklat-kuning. Diatasnya kursi coklat-biru berisi teks verbal bertuliskan: Rp 1,2 M, dan paling atas kursi yang berwarna kuning-merah berisi teks verbal Rp. 3,5 M. Gambar 2. Kartun Majalah Tempo Edisi 24 Maret 2019 sangat susah dipegang. Gelembung busa biasanya terbang ke udara sehingga sangat sulit untuk dijangkau. Perumpamaan ini dimaknai bahwa janji-janji para politisi terlalu mengawang-awang, terdengar indah namun tidak pernah terealisasi. Antara janji dengan kenyataan terlalu jauh. Pada pemaknaan yang lain, gelembung busa gampang pecah saat dipegang atau dengan kata lain tidak bisa dipegang. Artinya janji-janji para politisi yang mengkampanyekan dirinya hadir sebagai orator yang janji-janjinya tidak dapat dipercaya. Kata-katanya saat kampanye menjelang pemilihan sangat berbanding terbalik dengan sikap dan tingkah lakunya ketika terpilih. Hampir setiap lima tahun masyarakat mengalami hal ini. Kartun yang hadir pada majalah Tempo . menunjukan betapa janji-janji politik yang berbusa-busa di layar televisi telah mengganggu kehidupan seorang ibu yang ingin menonton sinetron. Kehadiran politisi yang kampanye di televisi dianggap tidak memilki arti, tidak berguna, bahkan seorang ibu lebih menikmati tontonan sinetron ketimbang kampanye Tontonan sineton yang selama ini dianggap sebagai tontonan ibu-ibu rumah tangga yang menempati daftar tontonan bukan kelas pertama, pada kartun ini menjadi tontonan yang jauh lebih dinikmati oleh seorang ibu ketimbang janji berbusa-busa para politisi. Gambaran ini menunjukan bahwa kampanye berbusa-busa para politisi di layar televisi adalah sebuah gangguan yang dapat merusak televisi . erusak tontona. Kartun ini adalah bentuk kritik Teks visual yang lain, pada kiri bawah digambarkan figur seorang laki-laki menggunakan baju biru dan rompi coklat, bercelana panjang dan memakai Laki-laki ini memegang kursi coklat-biru. Pada sisi kanan panel, teks visualnya menggambarkan empat laki-laki yang menggunakan rompi coklat memegang trampolin yaitu alat yang terdiri dari sepotong kain yang kencang dan diregangkan diatas bingkai baja dengan menggunakan banyak pegas yang melingkar. Pada gambar berisi teks verbal bertuliskan KPK menggunakan warna hitam dan merah. Setting gambar menunjukan suasana tanah yang lapang berwana hijau muda dengan langit berwarna biru muda. Makna denotasi pada gambar 1 menunjukan narasi seorang laki-laki muda berada diatas kursi bertumpuk, sehingga ia berada di tempat yang lebi tinggi. Namun kursi-kursinya yang digunakan sebagai pijakan berdiri terlihat sangat goyah karena kaki-kaki kursi tidak menempati posisi yang tepat. Semakin tinggi posisi kursi, terlihat harganya semakin mahal. Dengan posisi yang goyah, laki-laki ini tampak ketakutan dan kebingungan. Sementara laki-laki berompi coklat yang berada di sebelah kiri seperti berkata cepat loncat karena temannya empat orang di sebelah kanan sudah siap AumenangkapAy menggunakan Tidak ada siapapun di lokasi tersebut selain laki-laki bercelana jeans di puncak kursi dan laki-laki berompi coklat. Kartun tanggal 24 Maret 2019 pada Majalah Tempo ini hadir bersamaan dengan pemberitaan tertangkapnya ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan . Romahurmuzy atau sering disebut Romy. Pemberitaan ini kemudian bisa dihubungkan dengan latar belakang hadirnya kartun gambar 2. Sehingga secara konotasi, kartun ini bermakna tertangkapnya Volume 22. Nomor 2. Desember 2018 ketua umum p karena dugaan kasus jual-beli jabatan. Romy ditangkap oleh figur manusia berompi coklat yang identik dengan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Kartun ini bisa menunjukan representasi tokoh muda dengan tanda-tanda menggunakan celana jeans dan wajah yang bersih tanpa kumis maupun Baju lengan panjang putih menunjukan dukungan terhadap calon presiden no urut 01. Tokoh muda yang menjadi tokoh politik nasional yang mendukung pasangan 01 sangat identik dengan partai p. Romahurmuzy. Kenapa bukan ketua umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)?, karena tokoh muda PKB yang disebut Muhaimin Iskandar identik menggunakan kacamata, dan tokoh pada kartun tidak menggunakan kacamata. Jadi figur tokoh pada kursi ini memiliki kedekatan metafora Romahurmuzy. Opini Majalah Tempo edisi 18 Ae 24 Maret 2019 yang berjudul Korupsi Berulang Petinggi Partai mengatakan Romy sebagai orang kesekian dari pelaku rasuah politik Indonesia. Penyidik KPK menangkap Romy di sebuah hotel di Surabaya ketika ia menerima setoran dana dari pejabat daerah Kementrian Agama di sana. Selain menangkap Romy. KPK mencokok Kepala Kantor Wilayah Kementrian Agama Jawa Timur yang baru beberapa bulan dilantik. Romy dikenal politikus yang sering bergaya millennial. Diduga Romy bisa mengatur promosi dan penempatan pejabat di lingkungan Kementrian Agama dengan imbalan harga yang cocok. Berlanjut data yang diungkapkan bahwa ada beberapa ketua umum partai terjerat kasus korupsi. Tahun 2016. Ketua Umum Partai p Suryadharma Ali divonis 10 tahun penjara dan tahun 2018 Ketua umum partai Golkar Setya Novanto dijatuhi hukuman 15 tahun penjara. Semua kasus mereka berkaitan dengan kementrian dan lembaga Negara yang dipimpin oleh kader partainya. Motif Korupsinya serupa: mereka mencari dana untuk membiayai kegiatan politik partai. Kartun pada gambar 2 ini menjadi narasi yang mengkritisi kasus korupsi yang menjerat para politisi atau para pimpinan partai. Kritik ini bertujuan tidak saja menggambarkan peristiwa, namun juga mengharapkan ada sebuah perbaikan. Kasus korupsi menjadi kasus yang selalu berulang terjadi dan perlu perbaikan sedini mungkin. PRABANGKARA Jurnal Seni Rupa dan Desain tiwa yang dikritisi. Teks visual menghadirkan figur manusia maupun tokoh politik dengan situasinya tersendiri yang menggambarkan sebuah peristiwa. Narasi-narasi yang ditunjukan oleh teks visual dan teks verbal dapat dimaknai secara denotasi dan Secara denotasi, kartun-kartun Majalah Tempo mengahdirkan figur manusia seperti ibu rumah tangga, tokoh politik seperti ketua Umum partai dan juga figur manusia yang merepresentasikan penyidik KPK (Komisi Pemberantasan Korups. Secara konotasi dimaknai sebagai kritik atas kehadiran para politisi di tahun 2019. Kehadiran politisi di satu sisi dilihat sangat mengganggu karena orasi-orasinya dalam kampanye di televisi dianggap tidak memiliki arti, kehilangan kepercayaan publik. Di sisi lain ada banyak politisi yang terjerat kasus kosrupsi. Alihalih para politisi menyerukan anti korupsi, malah banyak petinggi partai politik yang terjerat kasus Kartun Majalah Tempo hadir tidak saja untuk menunjukan tragedi dalam komedi, namun juga mengharapkan adanya perbaikan. DAFTAR RUJUKAN Nuriarta I Wayan. Bahasa Rupa Kartun Konpopilan Pada Koran Kompas Tahun 2016. ISI Denpasar (Penelitian Dosen Mud. Piliang. Yasraf Amir. Semiotika dan Hipersemiotika. Bandung : Matahari Setiawan. Muhammad Nashir. Menakar Panji Koming. Tafsiran Komik Karya Dw Koendoro Pada Masa Reformasi Tahun 1998. Jakarta: Buku Kompas. Sibarani. Augustin. Karikatur dan Politik. Jakarta: Institut Studi Arus Informasi. Sunarto. Priyanto. Metafora Visual: Kartun Editorial Pada Surat Kabar Jakarta 1950-1957. Jakarta: IKJ Press. Sunaryo. Edi. Ragam Hias Beberapa Masjid di Jawa:Kajian Sejarah Kebudayaan dan Semiotika. (Jurnal Mudra ISI Denpasa. SIMPULAN Kartun Majalah Tempo tahun 2019 hadir untuk memberikan opini atau kritik di tahun politik. Tanda-tanda yang dihadirkan berupa teks visual dan teks verbal untuk menghadirkan narasi dari peris-