Review of Management. Accounting, and Tourism Studies (RMATS) Vol. November, 2025: Hal 81-90 DOI: https://doi. org/10. 51170/rmats. Faktor-Faktor Internal Penentu Risiko Likuiditas pada Industri Perbankan Indonesia Internal Factors Determining Liquidity Risk in the Indonesian Banking Industry Aulia Fidiyani. Dian Widiyati. * . Dhaniel Hutagalung. A S1 Akuntansi. Universitas Pamulang. Tangerang Selatan. Indonesia. Auliafidiyani2@gmail. S2 Akuntansi. Universitas Pamulang. Tangerang Selatan. Indonesia, dosen02421@unpam. S1 Akuntansi. Universitas Insan Pembangunan Indonesia. Tangerang. Indonesia, dhanielhutagalung@gmail. *email korespondensi: dosen02421@unpam. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Kecukupan Modal (Capital Adequacy Ratio/CAR). Net Working Capital (NWC). Biaya Pendanaan, dan Efisiensi Operasional (BOPO) terhadap Risiko Likuiditas pada perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 2017Ae2022. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda dengan menggunakan data sekunder yang diperoleh dari laporan keuangan tahunan bank. Hasil penelitian menunjukkan bahwa CAR dan NWC berpengaruh positif dan signifikan terhadap Risiko Likuiditas. Sebaliknya. Biaya Pendanaan dan BOPO tidak berpengaruh signifikan dan memiliki arah hubungan negatif terhadap Risiko Likuiditas. Secara simultan, keempat variabel independen terbukti memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Risiko Likuiditas berdasarkan hasil uji F, dengan nilai Fhitung sebesar 20. 39882 yang lebih besar dari F-tabel 2. 40732288 dan tingkat signifikansi sebesar 0. Temuan ini menunjukkan bahwa model regresi yang digunakan mampu menjelaskan variasi Risiko Likuiditas dalam konteks perbankan di Indonesia. Kata kunci: Kecukupan Modal. Net Working Capital. Biaya Pendanaan. Efisiensi Operasional. Risiko Likuiditas Abstract This study aims to analyze the effect of Capital Adequacy Ratio (CAR). Net Working Capital (NWC). Cost of Funds, and Operational Efficiency (BOPO) on Liquidity Risk in banks listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX) during the period 2017Ae 2022. The research method used is multiple linear regression analysis with secondary data obtained from annual financial reports of the banks. The results show that CAR and NWC have a positive and significant effect on Liquidity Risk. In contrast. Cost of Funds and BOPO do not have a significant effect and show a negative relationship with Liquidity Risk. Simultaneously, the four independent variables are proven to have a significant effect on Liquidity Risk based on the F- test results, with an F-statistic value of 20. 39882, which is greater than the F-table value of 2. 40732288, and a significance level of 0. These findings indicate that the regression model used is able to explain variations in Liquidity Risk within the context of the Indonesian banking Keywords: Capital Adequacy. Net Working Capital. Funding Costs. Operational Efficiency. Liquidity Risk Article history: Received 8 November 2025. Accepted 18 November 2025. Available online 28 November 2025 PENDAHULUAN Bagi suatu negara, perbankan merupakan hal yang sangat penting dalam perekonomian. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan, setiap pihak yang melakukan kegiatan penghimpunan dana masyarakat dalam bentuk tabungan harus terlebih RMATS 81 Review of Management. Accounting, and Tourism Studies (RMATS) Vol. November, 2025: Hal 81-90 DOI: https://doi. org/10. 51170/rmats. dahulu memperoleh izin usaha sebagai Bank Umum atau Bank Perkreditan Rakyat dari Pimpinan Bank Indonesia, kecuali untuk kegiatan penghimpunan dana yang diatur dari Bank Perkreditan Rakyat. dengan undang-undang tersendiri. Menurut Kasmir . AuBank adalah lembaga keuangan yang kegiatan utamanya menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkan kembali dana tersebut kepada masyarakat serta menyelenggarakan jasa perbankan lainnya. Ay Perbankan dibutuhkan masyarakat sebagai wadah untuk menghimpun dana dan menyalurkan kembali dana tersebut, oleh sebab itu perbankan perlu memiliki disiplin dalam pengelolaannya agar dapat terus dipercayai oleh masyarakat dan dapat terus beroperasional. Kesadaran Indonesia dalam pentingnya mengelola risiko likuiditas mulai disadari sejak terjadinya krisis pada tahun 1997 dan tahun 2008. Melewati masa krisis tersebut. Indonesia dan negara lainnya secara global mengetahui bahwa likuiditas bersifat rentan dan dapat secara signifikan terkuras secara tiba - tiba dari suatu bank. Dengan terjadinya kejutan yang menciptakan menipisnya likuiditas bank dapat berdampak pada gagal bayar terhadap sebagian besar kewajibannya. Menurut Wuryandani dkk. Aukondisi likuiditas perbankan dipengaruhi oleh aktivitas perekonomian yang tercermin dari pergerakan PDB . roduk domestik brut. , dan selain itu inflasi juga mempengaruhi likuiditas. Ay Perkembangan perbankan ini dapat dilihat dari perusahaan perbankan yang telah tercatat di BEI pada tahun 2022. BEI mencatat 47 perusahaan perbankan di BEI. Hal ini menekankan bahwa bank perlu menjaga kesehatan bank itu sendiri dengan melihat kondisi keadaan bank dalam menghadapi risiko yang akan terjadi. Secara keseluruhan, bank perlu mampu menangani delapan jenis risiko, yaitu risiko kredit, risiko pasar, risiko likuiditas, risiko operasional, risiko hukum, risiko strategis, risiko kepatuhan, dan risiko reputasi. Risiko merupakan kejadian yang mungkin akan terjadi atau pasti terjadi dari kegiatan atau operasional yang telah dilakukan oleh perusahaan. Risiko tidak dapat dihindari karena setiap tahapan yang dilakukan dapat menimbulkan dampak negatif maupun positif. Namun risiko dapat diminimalisir dengan mengevaluasi risiko yang pernah terjadi pada kegiatan yang telah dilalui sebelumnya. Dengan adanya evaluasi ini, risiko yang terjadi dapat berkurang dampaknya atau dapat teratasi dengan baik di kegiatan mendatang. Berdasarkan Latifana. Aurisiko merupakan kemungkinan terjadinya suatu peristiwa yang merugikan perusahaan atau bisnis, dimana peristiwa tersebut tidak dapat Ay Risiko yang dikelola dengan baik dapat berdampak positif bagi perbankan, dimana dengan adanya historis dari setiap risiko yang pernah terjadi dapat dievaluasi kembali dan diklasifikasikan jenis risikonya. Pengelolaan risiko yang baik pada bank dapat membantu bank RMATS 82 Review of Management. Accounting, and Tourism Studies (RMATS) Vol. November, 2025: Hal 81-90 DOI: https://doi. org/10. 51170/rmats. dalam operasionalnya, serta dapat membantu bank dalam mencapai tujuan atau target yang telah ditentukan. Berdasarkan risiko yang ada, risiko likuiditas menjadi salah satu risiko yang harus dihadapi oleh bank. Risiko likuiditas dapat terjadi karena ketidakmampuan bank dalam memenuhi kewajiban yang telah jatuh tempo aset likuid ataupun arus kas pendanaan bank. Kesulitan mengelola risiko likuiditas ini dapat menyebabkan kegagalan bank yang dapat mempengaruhi kestabilan sektor bank tersebut. Risiko likuiditas pada bank dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu Kecukupan Modal. Net Working Capital. Biaya Pendanaan, dan Efisiensi Operasional. Menurut Silaban . , "Modal merupakan hak yang tersisa atas kegiatan suatu lembaga setelah semua kewajiban dikurangi. " Menurut Bangun Prakoso . Zahroh Z. A . , dan Nila Firdausi Nuzula . AuModal kerja yang cukup akan membuat perusahaan dapat beroprasi dengan efisien dan tidak mengalami kesulitan keuangan. Ay Kecukupan modal sangat penting dalam berjalannya operasional bank, modal yang cukup dapat mengembangkan dan memajukan bank serta dapat menumbuhkan rasa kepercayaan masyarakat pada bank tersebut. Kecukupan bank dapat meminimalisir risiko likuiditas yang terjadi pada bank, mencegah terjadinya kerugian atas aktiva maupun investasi pada aktiva. Kecukupan modal dapat diukur dengan Capital Adequacy Ratio, yaitu rasio yang membandingkan antara modal bank dengan jumlah aset tertimbang berdasarkan risiko. Menurut Dedi Gunawan Putra . , dan Raymond Raymond . AuSemakin tinggi CAR maka semakin baik kemampuan bank tersebut untuk menanggung risiko dari setiap kredit/aktiva produktif yang berisiko. Ay Capital Adequacy Ratio (CAR) bertujuan untuk menilai kemampuan perbankan dalam mengatasi penurunan aset yang disebabkan oleh kerugian dari aset berisiko. Dengan demikian, bank dapat memperluas usaha dan mengantisipasi berbagai kemungkinan atau risiko yang mungkin terjadi. Kecukupan modal bukan satu-satunya yang perlu diperhatikan dalam perbankan. Net Working Capital atau modal kerja bersih juga perlu diperhatikan dalam perbankan. Menurut Musthafa . AuWorking capital atau modal kerja adalah investasi perusahaan dalam aktiva jangka pendek, yang juga dikenal sebagai aktiva lancar. Ay Nilai Net Working Capital yang tinggi dapat menggambarkan bahwa suatu bank memiliki banyak aset lancar dan bank dapat terhindar dari masalah likuiditas. Net Working Capital merupakan selisih antara aset lancar dengan kewajiban lancar yang dimiliki oleh bank. Menurut Dicki Hartanto . Aumodal kerja adalah investasi dalam harta jangka pendek atau yang dikenal sebagai harta lancar . urrent asset. Alokasi modal kerja dapat digunakan untuk membayar upah buruh, gaji pegawai, membeli perlengkapan operasional, dan RMATS 83 Review of Management. Accounting, and Tourism Studies (RMATS) Vol. November, 2025: Hal 81-90 DOI: https://doi. org/10. 51170/rmats. pengeluaran lainnya yang terkait dengan operasional bank. Ay Modal kerja menjadi indikator yang menentukan apakah bank tersebut dapat membiayai proses operasional usaha dan dapat menjadi investasi pada masa mendatang yang ditanamkan dalam aktiva lancar. Tujuan dari adanya Net Working Capital untuk membantu perusahaan dalam operasionalnya, jika bank terkendala dalam uang tunai atau kas, bank dapat menggunakan Net Working Capital untuk dilikuidasikan. Alasan penulis menggunakan Net Working Capital sebagai variabel pada penelitian ini didukung oleh penelitian terdahulu Sandy Anggur Pertiwi . Estiningtyastuti . , dan Tulus Prijanto . yang menunjukkan bahwa Net Working Capital berpengaruh signifikan positif terhadap risiko likuiditas. METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan dijelaskan secara rinci. Materi pokok bagian ini adalah: rancangan penelitian. populasi dan sampel . asaran penelitia. teknik pengumpulan data dan pengembangan instrumen. dan teknik analisis data. Untuk penelitian yang menggunakan alat dan bahan, perlu dituliskan spesifikasi alat dan bahannya. Spesifikasi alat menggambarkan kecanggihan alat yang digunakan sedangkan spesifikasi bahan menggambarkan macam bahan yang digunakan. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan melakukan analisis pengaruh Kecukupan Modal. Net Working Capital. Biaya Pendanaan dan Efisiensi Operasional terhadap Risiko Likuiditas di bank. Dalam penelitian ini peneliti mengunakan data sekunder yang diambil dari laporan keuangan bank pada tahun 2017 - 2022. 1 RISIKO LIKUIDITAS Menurut Riri Muliasari dan Angga Hidayat . AuLikuiditas sebagai kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya yang secara konvensional. Aojangka pendekAo dianggap periode hingga satu tahun meskipun dikaitkan dengan siklus operasional normal perusahaan. 2 EFISIENSI OPERASIONAL Efisiensi Operasional merupakan kemampuan bank menekan dan mengendalikan biaya operasional terhadap pendapatan operasional. Semakin kecil rasio ini berarti akan semakin menunjukkan efisien biaya operasional yang dikeluarkan bank dalam kegiatan operasionalnya. Salah satu indikator untuk mengukur efisiensi operasional adalah Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO). Menurut Pandia dalam Usman . AuBOPO/Biaya Operasional Pendapatan Operasional rasio yang sering disebut rasio efisiensi ini digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam mengendalikan biaya operasional terhadap pendapatan operasional. RMATS 84 Review of Management. Accounting, and Tourism Studies (RMATS) Vol. November, 2025: Hal 81-90 DOI: https://doi. org/10. 51170/rmats. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini membahas mengenai mengenai pengaruh kecukupan modal (CAR), net working capital (NWC), biaya pendanaan, dan efisiensi operasional (BOPO) terhadap risiko likuiditas pada perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2017Ae2022. Analisis dilakukan dengan pendekatan regresi data panel melalui tahapan pengujian model, uji asumsi klasik, serta pengujian hipotesis baik secara parsial maupun simultan. Pemilihan model regresi data panel dilakukan melalui serangkaian uji Chow. Hausman, dan Lagrange Multiplier. Hasil pengujian menunjukkan bahwa model yang paling tepat digunakan adalah model efek tetap (Fixed Effect Mode. , karena memberikan hasil paling konsisten dan signifikan dibandingkan model efek umum maupun acak. Selanjutnya, dilakukan uji asumsi klasik meliputi normalitas, multikolinearitas, autokorelasi, dan Seluruh hasil uji menunjukkan bahwa data memenuhi asumsi BLUE (Best Linear Unbiased Estimato. , sehingga hasil regresi dapat diinterpretasikan secara valid. TABEL 1 HASIL REGRESI Variabel Koefisien Kecukupan Modal (CAR) t-hitung Sig. Keterangan Signifikan positif Signifikan positif Tidak signifikan Tidak signifikan Uji F (Simulta. Model signifikan RA Kekuatan Net (NWC) Working Capital Biaya Pendanaan Efisiensi (BOPO) Operasional Sumber: Penulis Hasil analisis pada Tabel 1 menunjukkan bahwa kecukupan modal (CAR) berpengaruh positif dan signifikan terhadap risiko likuiditas. Hal ini berarti semakin tinggi modal yang dimiliki bank, semakin besar kemampuan bank dalam mengelola risiko likuiditasnya. Modal yang kuat memberikan ruang bagi bank untuk menanggung potensi kerugian dan memenuhi kewajiban jangka pendek. Net Working Capital (NWC) juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap risiko likuiditas, mengindikasikan bahwa semakin besar selisih antara aset lancar dan kewajiban lancar, semakin baik kemampuan bank menjaga stabilitas likuiditasnya. Hasil ini memperlihatkan bahwa pengelolaan modal kerja yang efisien menjadi faktor penting dalam mempertahankan kelancaran operasi perbankan. RMATS 85 Review of Management. Accounting, and Tourism Studies (RMATS) Vol. November, 2025: Hal 81-90 DOI: https://doi. org/10. 51170/rmats. Sebaliknya, variabel biaya pendanaan menunjukkan pengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap risiko likuiditas. Artinya, beban bunga yang dikeluarkan oleh bank tidak memberikan dampak nyata terhadap fluktuasi risiko likuiditas. Kondisi ini dapat terjadi karena biaya pendanaan yang relatif stabil di antara bank-bank besar dan kecil selama periode penelitian. Efisiensi operasional (BOPO) juga berpengaruh negatif namun tidak signifikan, menandakan bahwa tingkat efisiensi biaya operasional belum secara langsung memengaruhi risiko likuiditas bank. Meskipun demikian, tren BOPO yang menurun mengindikasikan adanya perbaikan manajemen biaya yang berpotensi memperkuat likuiditas di masa mendatang. Uji simultan . ji F) menunjukkan bahwa keempat variabel independen secara bersamasama berpengaruh signifikan terhadap risiko likuiditas. Nilai F-hitung sebesar 20,398 lebih besar dari F-tabel 2,407 dengan signifikansi 0,0000, yang berarti model regresi layak digunakan untuk menjelaskan variasi risiko likuiditas perbankan di Indonesia. Koefisien determinasi (RA) sebesar 0,438 menunjukkan bahwa sekitar 43,8% variasi risiko likuiditas dapat dijelaskan oleh keempat variabel independen dalam penelitian ini, sementara sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar model. KESIMPULAN Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Kecukupan Modal (Capital Adequacy Ratio/CAR). Net Working Capital (NWC). Biaya Pendanaan, dan Efisiensi Operasional (BOPO) terhadap Risiko Likuiditas pada perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 2017Ae2022. Berdasarkan hasil analisis data dan pengujian hipotesis, diperoleh beberapa kesimpulan yaitu . Kecukupan Modal (CAR) berpengaruh positif dan signifikan terhadap Risiko Likuiditas. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat kecukupan modal bank, semakin besar pula kemampuan bank dalam menanggung risiko likuiditas. Net Working Capital (NWC) memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap Risiko Likuiditas. Artinya, peningkatan modal kerja bersih dapat memperkuat posisi likuiditas bank, namun di sisi lain dapat meningkatkan risiko apabila dana tersebut tidak dikelola secara efisien. Biaya Pendanaan berpengaruh negatif tetapi tidak signifikan terhadap Risiko Likuiditas. Hasil ini mengindikasikan bahwa perubahan biaya pendanaan tidak secara langsung memengaruhi kemampuan bank dalam menjaga likuiditasnya. Efisiensi Operasional (BOPO) memiliki pengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap Risiko Likuiditas. Hal ini berarti bahwa efisiensi operasional yang tinggi belum tentu berdampak nyata terhadap tingkat risiko likuiditas perbankan. Berdasarkan hasil penelitian, saran yang dapat diberikan bagi penelitian selanjutnya adalah memperluas periode pengamatan agar dapat menangkap dinamika risiko likuiditas RMATS 86 Review of Management. Accounting, and Tourism Studies (RMATS) Vol. November, 2025: Hal 81-90 DOI: https://doi. org/10. 51170/rmats. dalam jangka panjang serta mempertimbangkan faktor eksternal seperti suku bunga, inflasi, dan kebijakan makroprudensial Bank Indonesia yang dapat memengaruhi kondisi likuiditas Selain itu, peneliti dapat menambahkan variabel lain seperti Loan to Deposit Ratio (LDR). Non-Performing Loan (NPL), dan ukuran bank untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif. Penggunaan metode analisis panel data atau pendekatan moderasi juga direkomendasikan guna mengidentifikasi hubungan yang lebih kompleks antarvariabel dan meningkatkan validitas hasil penelitian. DAFTAR PUSTAKA