STRATEGI PENDIDIKAN MORAL DAN AGAMA DALAM KELUARGA ORANG TUA MENIKAH MUDA Nailah Faizah Andryani PGPAUD Universitas Negeri Semarang e-mail: nailah_andryani12@students. Abstrak. Orang tua yang menikah muda menghadapi tantangan dalam pengasuhan anak karena pada umumnya belum sepenuhnya matang secara emosional dan kurang memiliki pengalaman, sehingga mempengaruhi pembentukan nilai moral dan agama pada anak. Penelitian ini bertujuan menganalisis strategi pendidikan moral dan agama pada keluarga dengan orang tua menikah muda, serta kontribusinya dalam membangun integritas anak sejak dini. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan fenomenologi melalui wawancara mendalam terhadap 10 pasangan muda dan observasi langsung di lingkungan keluarga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keputusan menikah muda umumnya dipengaruhi oleh faktor sosial, keluarga, dan kesiapan psikologis. Sebagian besar responden berhasil menanamkan nilai moral dan agama melalui kebiasaan beribadah bersama, dialog keluarga berbasis ajaran agama, dan pemberian teladan perilaku sehari-hari. Namun, tantangan utama terletak pada keterbatasan ekonomi dan ketahanan Temuan ini berkontribusi pada pemahaman bahwa pendidikan agama yang terintegrasi dengan pola asuh dapat menjadi strategi efektif membangun integritas anak, bahkan dalam kondisi keterbatasan usia dan pengalaman orang tua. Kata kunci: Pernikahan Muda. Anak Usia Dini. Pola Asuh. Abstract. Young parents who marry at an early age face significant challenges in raising children due to their generally limited emotional maturity and lack of parenting experience, which affects the formation of childrenAos moral and religious values. This study aims to analyze moral and religious education strategies in families with young married parents and their contribution to building childrenAos integrity from an early age. The research employed a descriptive qualitative method with a phenomenological approach through in-depth interviews with 10 young couples and direct observation in family settings. The findings reveal that the decision to marry young is primarily influenced by social factors, family background, and psychological readiness. Most respondents were able to instill moral and religious values through shared worship practices, family dialogues based on religious teachings, and role modeling in daily behavior. However, the main challenges lie in economic limitations and psychological resilience. This study contributes to the understanding that integrating religious education into parenting can be an effective strategy for fostering childrenAos integrity, even under the constraints of young parental age and limited experience. Keywords: Early Marriage. Early Childhood. Parenting Nailah Faizah Andryani PENDAHULUAN Perkembangan moral dan integritas anak sejak usia dini sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan yang mereka terima, hal ini merupakan fondasi penting dalam pembentukan kepribadian dan karakter anak usia dini di masa depan yaitu perkembangan nilai agama dan moralnya (Sukemi & Amin, 2. Perkembangan moral dan integritas anak sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan yang diterima sejak usia dini. Dalam konteks keluarga, orang tuaAiyang menjadi pendidik pertama anakAiberperan penting dalam menanamkan nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian. Namun, tantangan muncul ketika orang tua tidak memiliki kedewasaan, kontrol emosional dan pengetahuan yang cukup, seperti pernikahan muda. Hal ini mempengaruhi ketidaksiapan orang tua saat melakukan peran pendidik utama untuk anak -anak dalam keluarga. Situasi ini membutuhkan pendekatan strategis untuk memastikan bahwa fungsi pendidikan terus diimplementasikan secara optimal. Fenomena pernikahan muda di Indonesia masih signifikan. Data dari BPS tahun 2022 menunjukkan bahwa 19,24 % pemuda menikah pertama kali pada usia 16Ae18 tahun, dan 33,76 % pada usia 19Ae21 tahun (BPS, 2. Sementara itu, penurunan praktik pernikahan dini tercatatAipada 2021, angka perempuan yang menikah sebelum usia 18 tahun menurun menjadi 9,23 % dari 11,54 % pada 2017 (BPS, 2. Di Jawa Tengah, prevalensi pernikahan dini perempuan tercatat sebanyak 9,75 % pada tahun 2023 (BPS, 2. Data ini menguatkan relevansi kajian dalam memahami pergeseran, tantangan, dan dampak yang muncul dari fenomena tersebut. Pendidikan dalam keluarga dikenal sebagai pendidikan yang pertama dan paling penting, serta berperan sebagai dasar bagi karakter dan pendidikan anak. Oleh sebab itu, pentingnya penerapan konsep pendidikan harus ditekankan, khususnya dalam konteks pendidikan keluarga, karena pendidikan keluarga menjadi dasar untuk lembaga pendidikan di sekolah maupun di luar sekolah, serta dalam masyarakat. Banyak pihak telah menekankan betapa pentingnya peran orang tua dalam mendidik anak. Mengasuh, mendidik, dan membimbing anak di rumah adalah tanggung jawab setiap orang tua untuk membentuk karakter anak. Pendidikan di sekolah saja tidak mencukupi, karena pengaruh orang tua juga Nailah Faizah Andryani memiliki peran besar terhadap pendidikan anak. Proses sosialisasi sangat krusial dalam pembentukan karakter anak. Dengan sosialisasi yang baik, anak akan merasa mengembangkan kepribadian yang baik (Ikhsanudin & Nurjanah, 2. Pendidikan orang tua dalam hal merawat anak adalah suatu hal penting yang akan mempengaruhi kesiapan mereka dalam menjalankan peran pengasuhan. Penelitian Susanti menunjukan bahwa orang tua yang tidak berpendidikan atau berpendidikan rendah berbeda pola pengasuhannya . alam Rahayu & Yunianti, 2. Pada orang tua yang berpendidikan tinggi ditemukan lebih luas pengetahuannya dalam pengasuhan anak karena mereka memiliki peluang lebih luas kesempatannya dalam mengakses informasi tentang parenting karena pemerolehan bahasa di keluarga terdidik perkotaan sangat bervariatif terutama kalimat berita yang penjelasan kepada lawan bicaranya (Rahayu & Yunianti, 2. Pernikahan muda adalah peristiwa pernikahan yang dilakukan pada umur dibawah usia reproduktif yaitu kurang dari 20 tahun pada wanita dan kurang dari 25 tahun pada pria, (Handayani, 2. Fenomena pernikahan dini di Indonesia masih menjadi isu sosial yang kompleks. Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa angka pernikahan usia muda masih cukup tinggi, terutama di wilayah pedesaan. pernikahan muda kini merupakan fenomena yang dianggap wajar oleh masyarakat awam, bahkan kini sudah menjadi tren di kalangan generasi muda Indonesia (Mutiah et al. , 2. Pendidikan agama memiliki peran besar dalam membentuk kepribadian anak yang berintegritas. Nilai-nilai seperti kejujuran, kasih sayang, dan rasa tanggung jawab sangat ditekankan dalam ajaran Ketika orang tua muda dapat menanamkan nilai-nilai tersebut dalam pola pengasuhan, maka potensi anak untuk tumbuh menjadi individu yang bermoral tinggi akan semakin besar (Malelak & Gea, 2. Oleh karena itu, penting untuk merumuskan strategi pendidikan agama yang mudah dierapkan oleh pasangan Selain agama, pendidikan moral yang berbasis pada nilai-nilai universal seperti keadilan, empati, dan kesopanan juga perlu ditekankan. Strategi ini dapat dilakukan melalui pembiasaan, keteladanan, serta komunikasi terbuka dalam Orang tua muda, meskipun memiliki keterbatasan, tetap dapat Nailah Faizah Andryani menjalankan peran ini apabila mendapatkan bimbingan yang tepat dan dukungan dari lingkungan sosial (Malelak & Gea, 2. Pendekatan ini mendorong tumbuhnya kepribadian anak yang Tangguh dan juga memperkuat hubungan anak dan orang tua. Tantangan lainnya adalah bagaimana membangun integritas anak di tengah era digital yang penuh gangguan. Banyak nilai-nilai yang bertentangan dengan ajaran moral dan agama tersebar luas melalui media sosial dan konten Di sinilah peran orang tua, termasuk yang menikah muda, menjadi krusial untuk menjadi filter dan pembimbing anak dalam menghadapi realitas zaman. Strategi pendidikan agama dan moral yang kontekstual dan responsif terhadap perkembangan zaman menjadi kebutuhan mendesak. Meski telah banyak penelitian tentang pernikahan dini, hanya sedikit yang memfokuskan pada strategi pendidikan moral dan agama di keluarga orang tua menikah muda sebagai wahana membangun integritas anak. Kebaruan penelitian ini terletak pada penggabungan analisis psikososial, pola asuh, pendidikan agama, dan pemanfaatan pendekatan strategis untuk konteks pernikahan mudaAiarea yang saat ini minim dikaji secara terpadu. Beberapa studi telah menyoroti dampak pernikahan dini terhadap pola asuh dan karakter anak. misalnya, penelitian yang mengungkap bahwa pernikahan usia dini dapat menghasilkan pola asuh yang kasar atau overindulgent, sehingga berdampak pada karakter anak yang manja atau tempramental (Nabila, et al, 2. Selain itu, faktor ekonomi, cinta, dan tradisi sering menjadi pendorong awal praktik pernikahan dini (Suyanto, et al, 2. Namun demikian, literatur khusus tentang integrasi pendidikan agama sebagai strategi mitigasi masih sangat terbatas, menandakan gap signifikan yang ditangani oleh penelitian ini. Pendekatan penelitian ini menguraikan strategi sistematis dalam tiga aspek Pertama, pembiasaan ritual keagamaan bersama, seperti doa dan ibadah kolektif, yang berfungsi sebagai fondasi internalisasi nilai moral sejak dini. Kedua, komunikasi terbuka dan keteladanan yang berlandaskan ajaran agama serta nilainilai universal seperti empati, keadilan, dan kesopanan, untuk memperkuat pembentukan karakter anak. Ketiga, adaptasi terhadap era digital melalui peran aktif orang tua sebagai filter dan pembimbing, sehingga anak terlindungi dari paparan konten media yang dapat memengaruhi moralnya secara negatif. Strategi Nailah Faizah Andryani ini dirancang agar dapat diimplementasikan meskipun keluarga memiliki keterbatasan usia dan pengalaman dalam pengasuhan. Berdasarkan kerangka tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana strategi pendidikan moral dan agama diterapkan oleh orang tua muda, menilai efektivitas strategi tersebut dalam membentuk integritas anak usia dini, serta memberikan rekomendasi praktis berbasis bukti bagi intervensi pendidikan keluarga dan kebijakan terkait keluarga muda. Hasil yang diharapkan adalah terciptanya panduan yang aplikatif bagi orang tua muda untuk membangun integritas anak sejak dini, sehingga mampu menghasilkan generasi yang berkarakter kuat dan berlandaskan nilai moral yang kokoh. Dengan demikian, penelitian ini akan membahas secara mendalam bagaimana membangun integritas sejak dini melalui strategi pendidikan agama dan moral, khususnya dalam konteks keluarga yang dibentuk oleh orang tua yang menikah muda. Tujuan dari kajian ini adalah untuk memberikan pemahaman dan solusi strategis agar peran orang tua muda dalam mendidik anak tidak terhambat oleh keterbatasan usia dan pengalaman, melainkan tetap mampu mencetak generasi yang berintegritas dan bermoral. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi untuk memahami secara mendalam pengalaman dan strategi pendidikan moral serta agama pada keluarga dengan orang tua menikah muda. Tahapan penelitian diawali dengan perencanaan yang meliputi penentuan fokus penelitian, penyusunan pedoman wawancara, dan penentuan kriteria subjek. Subjek penelitian ditetapkan secara purposive, yaitu para orang tua muda, khususnya ibu berusia 17Ae20 tahun, yang memiliki anak usia dini. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan kuesioner terbuka untuk menggali latar belakang pernikahan, strategi pengasuhan, serta praktik pendidikan moral dan agama. Selain itu, observasi perilaku anak dilakukan untuk menilai ketercapaian indikator integritas moral dan agama sesuai tahap perkembangan anak usia dini. Data dianalisis dengan teknik coding tematik untuk mengidentifikasi pola, kategori, dan tema utama. Validitas temuan dijamin melalui Nailah Faizah Andryani triangulasi sumber . awancara, observasi, kuesione. dan member check kepada responden guna memastikan kesesuaian interpretasi. Proses analisis dilakukan secara iteratif hingga diperoleh gambaran utuh mengenai hubungan antara status pernikahan muda dengan strategi pembentukan integritas anak. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN Penelitian ini melibatkan empat orang tua yang menikah di usia muda . atarata usia menikah 18,75 tahu. dan sedang atau telah membesarkan anak-anak Data diperoleh melalui wawancara langsung dan kuesioner daring, kemudian dianalisis menggunakan teknik coding untuk menemukan pola-pola strategis dalam pendidikan moral dan agama anak. Secara umum, seluruh responden menerapkan strategi pengasuhan berbasis keteladanan, pembiasaan, dan pendekatan komunikatif. Strategi ini dinilai lebih efektif bagi mereka dibandingkan metode instruktif atau hukuman, karena mampu menciptakan suasana interaksi yang hangat dan tidak menimbulkan resistensi dari Keunggulan utama strategi ini adalah sifatnya yang fleksibel, dapat diintegrasikan ke dalam rutinitas keluarga, dan relevan dengan tahap perkembangan anak usia dini. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara langsung dan kuesioner Hasil penelitian dirangkum dalam tabel berikut: Tabel 1. Ringkasan Data Responden Penelitian Usia Saat Menikah Jumlah Anak 17 tahun 1 anak 19 tahun 3 anak Nailah Faizah Andryani Strategi Pendidikan Moral & Agama Tekanan Memberi sosial dari contoh, rutinitas doa dan ibadah Keinginan Pembiasaan, pribadi & cerita nabi. Alasan Menikah Muda Tantangan Dihadapi Cara Mengatasi Tantangan Anak sulit Menjadi mendengarkan pendengar yang baik Pengaruh dan teknologi Kerjasama Alasan Menikah Muda Usia Saat Menikah Jumlah Anak 20 tahun 1 anak Siap 19 tahun 1 anak Agar Strategi Pendidikan Moral & Agama Memberi Saling dan teladan Tantangan Dihadapi Cara Mengatasi Tantangan Mengontrol Mengawasi secara aktif Pengaruh dan perbedaan pola asuh Menyesuaikan karakter anak PEMBAHASAN Motivasi Menikah di Usia Muda Keputusan menikah di usia muda dalam penelitian ini menunjukkan adanya berbagai latar belakang yang memengaruhi para responden. Secara umum, motivasi tersebut tidak hanya didasarkan pada satu alasan tunggal, melainkan gabungan antara faktor sosial, budaya, dan psikologis. Dua dari empat responden menyebutkan bahwa tekanan dari lingkungan dan keluarga turut menjadi pendorong kuat untuk menikah lebih awal. Salah satu responden menyampaikan. AuSaya menikah karena orang tua merasa sudah waktunya, apalagi teman-teman saya juga sudah banyak yang menikah, jadi rasanya wajar saja ikut menikah Ay Sementara itu, dua responden lainnya mengaku bahwa keputusan menikah muda merupakan pilihan pribadi yang dipertimbangkan secara sadar. Salah satunya menyebutkan. AuSaya memang sudah merasa siap secara mental dan finansial, dan pasangan juga sudah mantap. Jadi kami memutuskan menikah meski usia saya saat itu masih 20 tahun. Ay Pernyataan ini memperlihatkan adanya keyakinan personal yang didasarkan pada kesiapan emosional dan finansial, meskipun usia mereka tergolong muda. Responden lainnya bahkan menambahkan bahwa ia menikah karena ingin memiliki hubungan yang sah secara agama dan menghindari pergaulan bebas, sehingga nilai-nilai religius menjadi dasar keputusannya. Motivasi lainnya yang terungkap adalah keinginan untuk membangun keluarga yang lebih dekat secara usia antara orang tua dan anak. Seorang responden mengatakan. AuSaya ingin punya anak di usia muda supaya bisa seperti teman Nailah Faizah Andryani sendiri. Jadi, anak lebih terbuka dan tidak merasa jauh dari orang tuanya. Ay Alasan ini menunjukkan bahwa beberapa orang tua muda memiliki visi jangka panjang dalam membina hubungan dengan anak mereka, serta menekankan pentingnya kedekatan emosional. Dengan demikian, pernikahan muda dalam konteks ini bukan hanya karena dorongan luar, tetapi juga karena strategi relasional dan nilai kehidupan yang diyakini responden. Pemahaman tentang Integritas Seluruh responden dalam penelitian ini menunjukkan pemahaman yang seragam mengenai pentingnya integritas dalam pengasuhan anak. Mereka mengaitkan integritas dengan nilai-nilai dasar seperti kejujuran, tanggung jawab, dan keteladanan moral. Nilai ini dipandang bukan sekadar konsep abstrak, melainkan harus diwujudkan dalam tindakan sehari-hari orang tua. Salah satu responden menyatakan. AuKalau kita ingin anak jujur, ya kita juga harus jujur dulu. Anak itu belajar dari apa yang dilihat, bukan dari apa yang disuruh. Ay Integritas bagi para responden bukan hanya tentang mengajarkan benar dan salah, tetapi juga membentuk konsistensi antara ucapan dan perbuatan. Dalam konteks ini, integritas dipahami sebagai landasan utama dalam membangun karakter anak. Seorang responden menegaskan. AuBagi saya, integritas itu ketika kita bisa mempertanggungjawabkan semua ucapan dan tindakan kita. Anak-anak pasti akan meniru kalau kita konsisten. Ay Hal ini menunjukkan bahwa para orang tua menyadari bahwa pendidikan karakter tidak bisa dilepaskan dari perilaku mereka sendiri sebagai model utama. Lebih jauh, beberapa responden juga menekankan bahwa menanamkan integritas sejak dini akan membantu anak dalam mengambil keputusan yang bertanggung jawab di masa depan. Mereka percaya bahwa dengan fondasi moral yang kuat, anak-anak dapat berkembang menjadi individu yang jujur dan dapat Salah satu responden menyampaikan. AuIntegritas itu bekal hidup. Kalau anak sudah terbiasa pegang nilai itu dari kecil, ke depannya dia akan lebih kuat menghadapi tantangan. Ay Pernyataan ini memperlihatkan bahwa integritas tidak hanya dipahami sebagai nilai etis, tetapi juga sebagai bekal praktis untuk membentuk masa depan anak yang lebih baik. Nailah Faizah Andryani Strategi Pendidikan Moral dan Agama Para orang tua muda menerapkan strategi berbasis keteladanan dan rutinitas dalam mendidik anak secara moral dan religius, para orang tua muda cenderung mengandalkan pendekatan yang berbasis keteladanan dan kebiasaan sehari-hari. Strategi ini dilakukan secara informal namun konsisten dalam kehidupan rumah Beberapa kebiasaan yang umum dilakukan adalah membaca doa sebelum makan atau tidur, serta sholat berjamaah bersama anak. Salah satu responden menjelaskan. AuSaya tidak ingin terlalu menggurui, jadi saya ajak anak ikut sholat bareng, sambil dijelaskan pelan-pelan kenapa kita harus sholat. Ay Pendekatan ini memperlihatkan bahwa pendidikan agama diberikan melalui praktik langsung yang menyenangkan dan komunikatif. Selain ibadah harian, beberapa orang tua juga menyisipkan nilai moral melalui aktivitas mendongeng kisah-kisah nabi sebelum tidur. Kisah-kisah tersebut dipilih karena sarat dengan teladan baik seperti kejujuran, kesabaran, dan kasih Seorang responden menyebutkan. AuBiasanya sebelum tidur saya bacakan cerita Nabi Ibrahim atau Nabi Muhammad. Dari situ saya ajak anak berdiskusi. AoKalau kamu jadi nabi itu, kamu bakal gimana?AoAy Strategi ini tidak hanya menanamkan nilai keagamaan, tetapi juga melatih empati dan daya pikir anak. Orang tua juga memberikan penghargaan atas perilaku baik yang dilakukan anak sebagai bentuk penguatan positif. Pujian diberikan ketika anak menunjukkan sikap jujur, sopan, atau peduli terhadap orang lain. Hal ini dianggap penting untuk membangun karakter moral sejak dini. Salah satu responden menyampaikan. AuKalau anak bilang jujur walau salah, saya tetap bilang terima kasih karena sudah Saya mau dia tahu kalau kejujuran itu dihargai. Ay Dengan demikian, strategi pendidikan moral dan agama dilakukan dalam suasana yang akrab dan tidak mengintimidasi, memungkinkan anak belajar melalui pengalaman langsung dan interaksi yang hangat. Hasil observasi dan wawancara menunjukkan beberapa perubahan perilaku positif pada anak, seperti meningkatnya keterlibatan anak dalam kegiatan ibadah keluarga, bertambahnya keberanian anak untuk berkata jujur, dan meningkatnya kepedulian sosial terhadap teman sebaya. Salah satu responden menyampaikan. AuSekarang anak saya malah sering ngajak saya sholat, padahal dulu saya yang Nailah Faizah Andryani harus ingatkan. Ay Temuan ini menunjukkan adanya internalisasi nilai yang Tabel 1. Strategi Pendidikan Moral dan Agama oleh Orang Tua Muda No. Strategi Utama Bentuk Implementasi Keteladanan dalam Sholat berjamaah bersama anak, doa sebelum tidur dan makan Cerita keagamaan Mendongeng kisah Nabi, sebelum tidur lalu mengajak diskusi Pendekatan komunikatif dan tidak Penguatan positif Menjelaskan ibadah secara sederhana saat praktik langsung Memberi pujian saat anak bersikap jujur atau sopan Konsistensi dalam Melakukan rutinitas agama kebiasaan religious secara berulang setiap hari Tujuan/Nilai yang Ditanamkan Menumbuhkan kecintaan pada ibadah Menanamkan nilai moral: Membentuk pemahaman yang menyenangkan dan Mendorong mengulang perilaku baik Membentuk religius sejak dini Meskipun strategi ini memiliki banyak kelebihan, para orang tua juga menghadapi kendala. Tantangan utama adalah keterbatasan waktu akibat beban pekerjaan, pengaruh lingkungan dan media digital yang sulit dikontrol, serta perbedaan pola asuh antara orang tua muda dan generasi sebelumnya. Hambatan lain yang diungkap adalah konsistensi dalam menjalankan rutinitas, terutama ketika anak mulai menunjukkan perilaku menolak atau bosan. Salah satu responden menuturkan. AuKadang kalau saya capek, saya juga nggak sempat mendongeng. Itu bikin anak jadi minta main HP lebih lama. Ay Sumber Pengetahuan Parenting Orang tua muda dalam penelitian ini cenderung memperoleh pengetahuan tentang parenting dari kombinasi antara pengalaman masa kecil dan akses terhadap sumber digital. Mereka mengandalkan nilai-nilai yang diwariskan oleh keluarga, terutama yang tumbuh dalam lingkungan religius, sebagai acuan dalam mendidik Pola pengasuhan yang mereka alami di masa lalu, seperti disiplin dalam ibadah, komunikasi terbuka, dan keteladanan moral dari orang tua, menjadi inspirasi utama dalam membentuk pola asuh mereka saat ini. Selain itu, perkembangan teknologi juga turut memberikan pengaruh besar. Beberapa responden menyebutkan bahwa mereka sering mencari referensi pengasuhan melalui media sosial, blog parenting Islami, dan video edukasi di Nailah Faizah Andryani platform seperti YouTube. Mereka menggabungkan nilai-nilai tradisional dengan informasi kontemporer untuk menciptakan pendekatan yang adaptif dan relevan dengan kebutuhan zaman. Perpaduan ini memperlihatkan bahwa pendidikan moral anak dalam keluarga muda tidak hanya ditentukan oleh tradisi, tetapi juga oleh kemampuan orang tua dalam memanfaatkan teknologi secara selektif. Tantangan Mendidik Anak sebagai Orang Tua Muda Tantangan utama yang dihadapi adalah: Anak yang tidak selalu patuh atau mendengarkan. Pengaruh negatif dari lingkungan bermain dan media digital. Perbedaan pendekatan antara generasi muda dan tua. Namun, semua responden berusaha mengatasinya dengan menjadi pendengar yang baik, menjaga komunikasi, membatasi gadget, dan menjalin kerja sama dengan lingkungan sekolah atau keluarga dekat. Harapan terhadap Anak Harapan terhadap anak menjadi salah satu aspek penting yang diungkapkan para responden dalam penelitian ini. Secara umum, mereka menginginkan anakanak tumbuh sebagai individu yang berakhlak mulia, jujur, dan bertanggung jawab. Nilai-nilai keagamaan menjadi prioritas utama dalam proses pengasuhan, sebagaimana dikatakan salah satu responden bahwa "Yang utama adalah dia tahu mana yang benar dan salah menurut agama, itu jadi bekal hidupnya nanti. Pernyataan ini mencerminkan adanya orientasi moral dan spiritual yang kuat dalam harapan mereka terhadap masa depan anak. Selain aspek moral dan religius, beberapa responden juga menekankan pentingnya kemandirian dan kecerdasan sebagai bekal anak menghadapi tantangan Mereka menyadari bahwa dunia saat ini menuntut anak untuk tidak hanya baik secara akhlak, tetapi juga cakap dalam menyelesaikan masalah secara mandiri. Seorang responden menyampaikan, "Anak itu harus bisa mandiri, jangan selalu bergantung sama orang tua, biar siap kalau kami sudah nggak ada nanti. Harapan-harapan ini menunjukkan bahwa para orang tua muda tidak hanya fokus pada pencapaian akademik anak, tetapi juga pada pembentukan karakter yang kokoh dan kesiapan hidup secara utuh. Nailah Faizah Andryani DISKUSI Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa keputusan menikah muda dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk tekanan sosial dan kesiapan pribadi. Dua responden menyebutkan bahwa dorongan dari keluarga dan lingkungan sekitar berperan dalam mempercepat keputusan menikah. Hal ini sesuai dengan penelitian (Pohan & Setiawan, 2. , yang mengungkap bahwa tekanan sosial dan budaya komunitas sering kali menjadi faktor dominan dalam pernikahan dini. Salah satu responden dalam penelitian ini bahkan menyatakan bahwa keputusan menikahnya dipengaruhi oleh lingkungan, di mana banyak teman sebaya yang telah menikah, sehingga pernikahan muda dianggap sebagai hal yang wajar. Namun, di sisi lain, dua responden lainnya menyebutkan bahwa keputusan menikah muda adalah pilihan pribadi yang didasarkan pada kesiapan emosional dan finansial. Pernyataan ini sejalan dengan penelitian (Pratiwi & Syafiq, 2. , yang menemukan bahwa kesiapan psikologis dan ekonomi berperan penting dalam menentukan keberhasilan pernikahan dini. Tanpa kesiapan tersebut, pasangan yang menikah di usia muda berisiko menghadapi tantangan psikologis yang lebih besar, terutama dalam hal manajemen konflik dan penyesuaian diri terhadap kehidupan berumah tangga. Hasil penelitian ini juga mengonfirmasi bahwa pernikahan muda memiliki latar belakang beragam, mulai dari tekanan sosial hingga kesiapan pribadi, sejalan dengan temuan Pohan & Setiawan . dan Pratiwi & Syafiq . Namun, kontribusi penting dari penelitian ini adalah identifikasi bahwa strategi keteladanan terintegrasi dengan pembiasaan dan komunikasi menjadi kekuatan utama pengasuhan orang tua muda. Pendekatan ini lebih adaptif dibanding metode otoriter atau instruksional yang cenderung menimbulkan resistensi pada anak. Keunggulan strategi ini terletak pada internalisasi nilai melalui interaksi sehari-hari, yang membuat anak lebih mudah menerima dan menerapkan nilai moral serta religius. Temuan ini memperkuat literatur sebelumnya (Yorman et al. Susyanti & Halim, 2. yang menekankan pentingnya peran orang tua sebagai model perilaku. Penerapan strategi ini berpotensi menjadi acuan bagi komunitas dengan populasi orang tua muda, khususnya di daerah dengan tingkat pernikahan dini Nailah Faizah Andryani tinggi. Jika direplikasi dengan dukungan dari sekolah, tokoh agama, dan komunitas lokal, strategi ini dapat memperkuat pendidikan karakter anak sejak usia dini. Selain aspek kesiapan, motivasi untuk membangun kedekatan emosional dengan anak juga menjadi alasan menikah muda, sebagaimana diungkapkan oleh salah satu responden. Pendekatan ini memperlihatkan strategi jangka panjang dalam pengasuhan, di mana orang tua ingin memiliki hubungan yang lebih terbuka dengan anak-anak mereka. Penelitian (Yorman et al. , 2. menekankan pentingnya integrasi nilai-nilai moral dan agama dalam keluarga untuk membangun komunikasi yang lebih erat antara orang tua dan anak, sehingga pengaruh lingkungan luar yang negatif dapat diminimalkan. Namun, tantangan utama dalam pernikahan dini tetap berkaitan dengan aspek ekonomi dan sosial, yang jika tidak dipersiapkan dengan matang dapat membawa dampak negatif bagi perkembangan Sebagaimana ditunjukkan oleh penelitian (Taufikurahman & Nur, 2. , pendidikan agama memiliki peran penting dalam membantu pasangan muda memahami konsep tanggung jawab keluarga dan ketahanan mental dalam menghadapi tantangan kehidupan berumah tangga (Susyanti & Halim, 2. Oleh karena itu, penelitian ini memberikan kontribusi bagi kajian selanjutnya dalam merumuskan strategi pendidikan moral dan agama yang lebih efektif, khususnya bagi pasangan yang menikah muda, untuk membentuk ketahanan psikologis dan ekonomi sebelum memasuki kehidupan berkeluarga. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa keputusan menikah di usia muda dipengaruhi oleh kombinasi faktor sosial, tekanan keluarga, serta kesiapan psikologis dan finansial, yang selanjutnya membentuk pola pendidikan moral dan agama dalam keluarga. Orang tua muda cenderung menekankan kedekatan emosional dengan anak melalui keteladanan, pembiasaan, dan komunikasi, namun dihadapkan pada tantangan signifikan terkait stabilitas ekonomi dan ketahanan Pendidikan agama berperan strategis dalam menanamkan integritas dan nilai moral sejak dini, sehingga dapat menjadi fondasi bagi pembentukan karakter anak yang tangguh dan berakhlak mulia. Temuan ini mengisyaratkan perlunya penguatan kapasitas keluarga muda melalui program pendampingan yang Nailah Faizah Andryani terstruktur, pemanfaatan sumber daya komunitas, dan dukungan kebijakan yang mendorong kesejahteraan ekonomi serta literasi pengasuhan berbasis nilai. Dengan demikian, strategi pendidikan moral dan agama pada keluarga muda tidak hanya menjadi instrumen pembinaan karakter, tetapi juga sarana membangun ketahanan keluarga yang adaptif dan berdaya saing di tengah tantangan sosial yang terus UCAPAN TERIMAKASIH Penulis mengucapkan terimakasih dan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang sudah berkontribusi dan memberi dukungan kepada penulis dalam meyusun kajian ini. Terimakasih kepada dosen pengampu mata kuliah Moral dan Agama AUD atas bimbingan dan masukan berharganya. Selain itu, terimakasih juga penulis ucapkan kepada para responden yang bersedia meluangkan waktu untuk diwawancara dan juga mengisi kuesioner sehingga penulis bisa menyelesaikan penulisan kajian ini, semua informasi juga jawaban dari responden tentunya dapat membantu. Semoga kajian ini dapat bermanfaat dan dapat berkontribusi dengan ilmu pengetahuan terkait topik. DAFTAR PUSTAKA