Vol. No. 1 Mei 2026 EISSN: 2502-9630 TRADISI SEBARAN APEM KEONG MAS DESA PENGGING. KECAMATAN BANYUDONO. KABUPATEN BOYOLALI KAJIAN ETNOLINGUISTIK Gitya Ayuningtyas1. Auliana Dwi Rahmah2. Imam Baihaqie3 Sastra Indoniesia1-2. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia3. Universitas Negeri Semarang Email: gitya0909@students. id1, aulianadwirahmah10@students. imambaehaqie@mail. Abstrak Artikel ini mengkaji tradisi Sebaran Apem Keong Mas di Desa Pengging, kecamatan Banyudono, kabupaten Boyolali dari prespektif etno linguistik. Tradisi, yang secara ruting diadakan setiap tahun pada bula sapar, merupakan bentuk budaya lokal yang telah terjaga di tengah gelombang Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode observasi dan dokumentasi mendalam. Analisis data menggunakan metode informal dengan penekanan pada nama, makna, dan istilah dalam tradisi tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Sebaran Apem Keong Mas terdiri dari empat prosea utama: tirakatan, larungan, arak-arakan, dan sebaran apem. Setiap proses memiliki makna budaya yang mendalam terkait dengan rasa Syukur, pemersatu Masyarakat, kesuburan, dan harmonii dengan alam. Studi ini menunjukkan bahwa struktur bahasa dan penamaan dalam tradisi Sebaran Apem Keong Mas mencerminkan cara Masyarakat pengging memahami dan berinteraksi dengan dunia mereka, sesuai dengan hipotesis Sapir-Whorf. Kesimpulannya, tradisi Sebaran Apem Keong Mas bukan hanya ritual tahunan, tetapi juga sistem pengetahuan budaya yang mengintregasikan nilai-nilai spiritual, social, dan lingkungan yang tetap bermakna sebagai warisan budaya local. Kata kunci: etnolinguistik, tradisi saparan, makna budaya, pengging, kebijaksanaan lokal Abstract This article examines the Sebaran Apem tradition in Pengging Village. Banyudono subdistrict. Boyolali district from an ethnolinguistic perspective. The tradition, which is routinely held every year in the month of Sapar, is a form of local culture that has been preserved amid the waves of This study uses a qualitative descriptive approach with in-depth observation and documentation methods. Data analysis uses informal methods with an emphasis on names, meanings, and terms in the tradition. The results show that the Sebaran Apem Keong Mas tradition consists of four main processes: tirakatan, larungan, arak-arakan, and sebaran apem. Each process has a deep cultural meaning related to gratitude, community unity, fertility, and harmony with nature. This study shows that the language structure and naming in the Sebaran Apem Keong Mas tradition reflect how the Pengging community understands and interacts with their world, in accordance with the SapirWhorf hypothesis. In conclusion, the Sebaran Apem Keong Mas tradition is not only an annual ritual but also a cultural knowledge system that integrates spiritual, social, and environmental values that remain meaningful as local cultural heritage. Keywords: ethnolinguistics, saparan tradition, cultural meaning, pengging, local wisdom lingkup ilmu humaniora. Kebudayaan merupakan produk dari manusia itu (Mahdayeni et al. , 2. Oleh karena itu, kebudayaan dan manusia dangat erat hubungannya dalam kehidupan dan tidak bisa dipisahkan. Sedangkan menurut PENDAHULUAN Bahasa dan budaya saling berkaitan, di dalam suatu budaya (Wulandari et al. , 2. Oleh karena itu, bahasa dan kebudayaan merupakan suatu hal yang menarik dalam penelitian ruang Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. No. 1 Mei 2026 EISSN: 2502-9630 (Arifi. tradisis berasal dari bahasa latin AutraditionAy yang berarti kebiasaan atau tata krama yang berkembang dalam masyarakat dan menjadi bagian dari adat Hubungannya berkaitan dengan tradisi. Masing-masing kebudayaan yang berbeda. Tradisi dapat dipahami sebagai warisan masa lalu yang masih bertahan sampai sekarang yang merupakan warisan masa lalu yang masyarakat berperilaku dalam kehidupan sehari-hari daalam aspek spritual dan keagamaan (Sidiq, 2. Tradisis biasanya bersifat turun temurun dari generasi satu ke genarasi lainnya. Salah satunya tradisi Sebaran Apem yang ada di Desa Pengging. Kecamatan Banyudono. Kabupaten Boyolali. Tradisi yang diadakan satu tahun sekaali di bulan Maulid Nabi. Tradisis Saparan ini jatuh pada hari JumAoat tanggal 10 hingga 20 di bulan Sapar. Tradisi sakral yang menjadi kebudayaan di daerah Tradisi Sebaran Apem di masyarakat Pengging tradisi sebagai bukti rasa syukur atas melimpahnya kekayaan alam yang diberikan sang pencipta. Dalam kebudayaan tradisi Sebaran Apem ini terdapat penyebaran apem 2 gunungan apem yang berbentuk keong mas atau bentuknya mengerucut dan apem biasa atau apem yang berbentuk bulat dengan jumlah 40 ribu. Bukan hanya itu saja, dalam tradisi Sebaran Apem desa Pengging, terdapat 3 kerbau dan di belakang kerbau diiringi oleh orang-orang keraton dan masyarakat Sebelum penyebaran apem, pada malam hari ada kegiatan tirakatan di makam Sunan Yosodipuro, setelah selesai tirakatan, kegiatan selanjutnya yaitu larung di kali guyangan depan Masjid Cipto Mulyo. Urgensi masalah dalam penelitian ini yaitu Tradisi Sebaran Apem di Desa Pengging Kabupaten Boyolali bukan hanya sekedar ritual tahunan, melainkan masyarakat pengging. Di tengah arus globalisasi di zaman modern ini yang meleburkan tradisi lokal secara perlahan, tradisi Sebaran Apem ini masih bertahan sebagai ruang religiusitas, kebersamaan masyarakat pengging, dan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan. Selain itu, setiap prosesi di dalamnya terdapat simbol serta makna budaya yang dapat dipahami lebih dalam melalui kajian ilmu humaniora, kajian bahasa dan kebudayaan. Dengan meneliti tradisi Sebaran Apem di Desa Pengging Kecamatan Banyudono. Kabupaten Boyolali. Mengungkap makna ini diarahkan kepada simbol-simbol dan makna budaya yang tersirat di balik setiap prosesi tradisi tersebut. Adapun terdahulu dengan judul AuTradisi Saparan dalam Budaya Masyarakat Jawa di LumajangAy karya Ningsih . dalam penelitian ini menjelaskan bahwa budaya Sebaran Apem sebagai tradisi sebagai warisan budaya serta nilai sosial yang mengatur pada perilaku masyarakat. Pada penelitian ini akan menggunakan cabang ilmu linguistik yaitu etnolinguistik yang akan mengkaji bagaimana tradisi Sebaran Apem Keong Mas dapat berpengaruh pada kebahasaan masyarakat Pengging. Banyudono. Boyolali. AuNilai Moral dalam Tradisi Saparan Masyarakat Desa Nogosaren getasan Kabupaten SemarangAy karya Kosim . Pada penelitian ini yang telah dilakukan menggunakan cabang ilmu linguistik yaitu etnolinguistik, dan menggunakan teori Sapir-whorf. Dan penelitian dangan judul AuMakna Tradisi Sapaaran di DEsa Cukilan Kecamatan Suruh Kabupaten SemarangAy karya Adibah . dalam penelitian yang telaah dilakukan berfokus pada makna Sebaran Apem menekankan aspek budaya, religi, dan simbolik dari tradisi dan menggunakan etnografi untuk mendeskrupsikan praktik ritual dan simbol dalam tradisi. Sedangkan penelitian ini akan menggunakan Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. No. 1 Mei 2026 EISSN: 2502-9630 etnolinguistik untuk mendeskripsikan praktik dan simbol dalam tradisis saparan di Pengging. Banyudono. Boyolali. Tradisi merupakan kearifan lokal turun temurun, yang menyediakan histori yang dipandang bermanfaat bagi masyarakat, seperti gagasan yang digunaakan dalam suatu tindakan yang dilaakukan pada masa kini dalam memecahkan suatu masalah. Menurut Baehaqie . tradisi merupakan sumber legitimasi bagi pandangan hidup, keyakinan, pranata dan aturan yang sudah ada sejak zaman dahulu. Dalam penelitian ini menggunakan teori Sapir-whorf, dalam teori ini bahasa tidak hanya mereflesikan budayanya, namun juga membentuk cara berpikir persepsi masyarakat terhadap Sapir dalam Ambarwati et al. mengatakan bahwa visi whorf mengenai salaing ketergantungan antara bahasa dan pemikiran dikenal dengan hipotesis, hal ini dapat menunjukan lebih jelas bahwa struktur bahasa dapat digunakan untuk mempengaruhi cara berpikir daan berperilaku setiap individu. Dari hipotesis ini dapat disimpulkan bahwa bahasa adalah bagian penting dari Bahasa yang menyerap setiap pemikiran dan bagaimana pembicara dalam bahasa khusus. Secara umum Sapir Whorf menegaskan bahwa struktur bahasa atau tata bahasa dari ilustrasi para penutur memandang dunia mereka serta bagaimna hubungan budaya dengan bahasa yang disebut hipotesis Sapir-Whorf. Whorf menyatakan bahwa orang berbicara dengan cara yang berbeda dikarenakan cara berpikir mereka yaang menawarkan pengungkapan makna di dunia sekitar mereka dengan cara yang berbeda (Nugroho, 2. Artikel ini mengacu pada hipotesis Sapir-Whorf tentang teori Point penting dari penelitian ini merupakan perkembangan bahasa dan budaya di bidang yang terkait dengan bahasa dan hubungan antara bahasa dengan bahasa penutur. Dalam penelitian ini menggunakan teori Sapir Whorf serta contoh-contoh yang akaan dijelaskan untuk membuktikannya. Diharapkan penelitian ini dapat menambah wawasan masyarakat mengenai tradisi Sebaran Apem yang diteliti menggunakan ilmu Selain wawasan masyarakat, peneliti juga berharap penelitan ini dapat menjadi rujukan penelitian selanjutnya. METODE Pendekatan dalam penelitian ini Deskriptif Kualitatif dengan pendekatan ilmu Etnolinguistik. Pendekatan kualitatif merupakan sebuah pendekatan yang memfokuskan pada analisis mendalam mengenai fenomena sosial dan kontekstual (Khaddafi et al. Subjek penelitian ini tradisi kebudayaan yang terdapat di desa Pengging. Kecamatan Banyudono. Kabupaten Boyolali. Pelaksanaan prosedur penelitian. Pada artikel ini akan meneliti mengenai asal-usul penamaan makna istilah pada tradisi Sebaran Apem Keong Mas Desa Pengging. Kecamatan Banyudono. Kabupaten Boyolali. Peneliti melakukan studi literatur informasi dari berbagai media, seperti jurnal ilmiah, web, dan YouTube mengenai kebudayaan atau tradisi Sebaran Apem Keong Mas yang dilakukan warga Desa Pengging. Kecamatan Banyudono. Kabupaten Boyolali. Studi literatur untuk membangun landasan teori dalam Tidak hanya itu studi literatur ini memperkaya wawasan peneliti tentang topik yang dilakukan. Studi literatur ini dilakukan dengan mencari referensi sebelumnya yang masih berkenaan dengan judul penelitian peneliti untuk mencari teori-teori serta metode yang membandingkannya apa kebaruan yang ada dalam penelitian ini. Penelitian metode simak dimana peneliti menyimak hasil wawancara sebagai instrumen dalam Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. No. 1 Mei 2026 EISSN: 2502-9630 pengumpulan data, maka dari itu kami memerlukan persetujuan dari narasumber. Muhammad . 1, dalam Rahman, 2. berpendapat bahwa metode simak dilakukan dengan menyadap untuk mendapatkan data melalui perbincangan dengan seseorang. Kemudian peneliti juga menggunakan metode simak libat cakap dimana peneliti terlibat dalam sesi wawancara dalam pengumpulan data yang akan diteliti. Peneliti juga menggunakan teknik rekam, peneliti merekam lalu semua informasi dari narasumber untuk dijadikan data. Setelah itu, peneliti menggunakan teknik simak dan catat, di mana peneliti menyimak rekaman wawancara disertai mencatat data-data berupa informasi dari narasumber. Dalam pengumpulan data, peneliti melakukan wawancara pada masyarakat dan juru kunci makam secara langsung untuk mengetahui sejarah dan filosofi tradisi Sebaran Apem Keong Mas. Pengumpulan menggunakan foto sebagai dokumentasi yang akan disajikan terkait dengan pelaksanaan budaya Sebaran Apem Keong Mas, penggunaan bahan dan instrumen wawancara, pengumpulan data, dan teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis data metode Metode ini digunakan untuk mendeskripsikan penamaan dan makna ataupun istilah dalam tradisi Sebaran Apem Keong Mas dengan menggunakan kata-kata biasa. dimensi kepercayaan dan tradisi, baik yang memandang sebagai bulan dengan ritual khusus, namun secara agama dan sejarah islam, bulan Safar tidak memiliki keburukan (Kurdi, 2. Adapun pembeda dari tradisi saparan yang dilaksanakan di Klaten dan di pengging yaitu pada penyebutan apem yang Apem Yaqowiyu yang digunakan dalam tradisi Saparan di Klaten dan Apem keong mas yang digunakan pada tradisi saparan di Pengging Saparan yang berada di desa pengging di bawa oleh R,Ng Yosodipuro saat masanya di desa Pengging diceritakan adanya wabah yang Pengging. Dijelaskan pada zaman tersebut Raden Yosodipuro menghimbau masyarakat untuk tidak membunuh keong mas melainkan merebus keong emas dan memakan keong mas yang menjadi wabah bagi masyarakat dan merugikan petani sebab padi atau tanaman yang ditanam petani selalu menjadi santapan bagi keong mas tersebut. Selain itu, kebudayaan ini berasal sejak zaman kesunanan Surakarta pakubuwono X untuk menyambut hari kelahiran Nabi Muhammad atau Maulid Nabi, beliau menggunakan media ini agar warga mengingat Maulid Nabi dan pada saat itu itu Kasunanan Surakarta itu menganut agama Islam Kejawen. Kebudayaan ini dilakukan pada saat itu untuk mengumpulkan para warga dengan tujuan warga tidak membeda-bedakan satu dengan yang lain. Berikut leksikon atau nama-nama dari nama sesaji, properti, dan tempat yang dicantumkan dalam sebuah tabel. HASIL DAN PEMBAHASAN Dari hasil wawancara dari salah satu masyarakat dan juru kunci makam Desa Pengging. Kecamatan Banyudono. Kabupaten Boyolali. Penulis mendapatkan beberapa informasi berikut Tradisi Saparan dilaksanakan pada bulan Spar kurang lebih pertengahan bulan sfar, setelah upacara di Jatinom. Klaten telah di laksanakan baru tradisi Sebaran Apem. Keong Mas dilaksanakan di desa Pengging. Bulan Safar memiliki berbagai Tabel 1. Leksikon dan Arti Leksikal dalam Tradisi Saparan Sesaji. Properti, dan Tempat Apem keong mas Apem Biasa Arti Leksikal Merupakan apem yang dibungkus dengan daun Bentuknya yang kerucut menyerupai badan dari keong mas tersebut. Apem berbentuk oval. Dalam hal Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. No. 1 Mei 2026 Kerbau Bule Ingkung Masjid Ciptomulyo Makam Burung Dara EISSN: 2502-9630 ini dibentuk seperti cangkang dari keong mas. Kerbau bule merupakan hewan peliharaan yang dianggap suci dan sebagai simbol kekuatan dan ikatan. Ingkung merupakan olahan ayam utuh yang tidak Yang dimasak dengan bumbu rempah. Masjid ini berada di samping Makam R. Ng Yosodipuro, serta tempat kedua sebaran Merupakan terakhir R. Ng Yosodipuro yang berada di desa Pengging Burung dara yang digunakan pada tradisi ini adalah burung dara hidup sebagai simbol kebebasan. 1 Adapun Beberapa Prosesi Tradisi Saparan Ayam Pejantan Sungai Guyangan Alun-alun Pengging Napak Tilas Obor Jenang Ketan Nguri-uri Budaya Ayam yang digunakan pada tradisi ini adalah ayam jawa pejantan yang hidup. Sungai Guyangan merupakan aliran air yang Panjang Masjid Ciptomulyo. Tempat terbuka untuk tempat pertama sebaran apem. Kegiatan arak-arakan membawa gunungan apem dan dipandu dengan kerbau Alat Makanan olahan dari beras ketan yang dicampur dengan gula jawa dan dipadatkan. Melestarikan Budaya lokal agar tidak hilang dimakan oleh zaman. Larungan Larungan merupakan salah satu tradisi yang dilakukan pada malam bulan safar sebelum acara sebaran apem keong mas dimulai. dengan tradisi larungan ini diharapkan akan menjadi kelancaran dan masyarakat sekitar. menurut Zuliati . manifestasi kearifan lokal yang bersifat sosio-religius yang berkontribusi pada upaya pelestarian lingkungan hidup. Larungan ini dilaksanakan setelah sesaji yang telah didoakan di tempat peristirahatan terakhir . Ng. Yosodipuro tradisi larungan tersebut dilaksanakan pada sungai Guyangan yang berada di depan Masjid Ciptomulyo. Sesaji yang dibuang dalam larungan yaitu apem keong mas dan apem biasa kurang lebih 20, ingkung, dan bunga, yang ditempatkan di tampah yang dipercaya untuk keselamatan warga sekitar. Tirakatan Secara etimologis, istilah tirakatan berasal dari bahasa Arab, yakni AoTarakaYatkaruAo bermakna meninggalkan hal-hal yang buruk serta tidak memiliki manfaat demi memperoleh kebahagiaan dunia dan Sedangkan dalam konteks istilah, tirakat diartikan dalam proses menahan hawa nafsu melalui menghindari perbuatan yang hanya memenuhi kegiatan hawa nafsu semata (Sidiq, 2. Dalam tradisi Sebaran Apem Keong Mas diadakan malam tirakatan yang bertujuan untuk mendoakan sesaji dan Apem yang akan di sebar sebagai simbol keberkahan bagi masyarakat. Pada malam tirakatan terdapat Tirakatan bertempat di makam Raden Ngabei Yosudipuro. Trirakatan pada tradisi ini dilaksanakan pada malam jumAoat pertengahan bulan Safar dengan membaca doa-doa dan tahlil. Terdapat juga prosesi mendoakan sesaji diantaranya beberapa apem keong mas yang ditaruh diatas AumustakaAy makam Raden Ngabehi Yosodipuro dan di doakan. Setelah selesai tirakatan diilanjut dengan larungan. Arak-arakan Menurut Karim et al . arak-arakan merupakan kesenian khas masyarakat yang membedakan kekhasan budaya masyarakat sekitar dengan budaya lain. Pada tradisi Sebaran Apem Keong Mas terdapat prosesi arak-arakan dimana gunungan apem diarak atau dibopong Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. No. 1 Mei 2026 EISSN: 2502-9630 dengan iringan dari kantor kecamatan Banyudono hingga rute terakhir yaitu di pelataran Masjid Ageng Ciptomulyo. Dalam arak-arakan terdapat urutan, urutan pertama yaitu kebo bule, disusul dengan abdi dalem keraton Surakarta, lalu disusul dengan gunungan apem keong mas yang sudah didoakan pada malam jumat yang masyarakat sekitar secara gratis. ribu picis yang disusun dan dibentuk menjadi gunungan berbentuk kerucut dan diatasnya diberikan daun yang berbentuk Janur sebagai simbol apem keong mas Bentuknya segitiga menyerupai keong mas, sedangkan apem yang dibungkud dengan plastik sebagai cangkangnya yang menjadi simbol kekuatan, yang nati akan diangkat oleh masyarakat untuk arakarakkan. Setelah itu apem itu disebarkan ke masyarakat setempat pada saat di lokasi Sebaran Apem Keong Mas. Apem ini hasil dari warga sekitar, dan pembuatan apem dilakukan oleh masyarakat setempat secara sukarela dengan mengharapkan keberkahan. Setiap desa minimal memberikan serubu apem. Ada dua apem yang dibuat oleh masyarakat yaitu apem biasa berbentuk bundar dan apem berbentuk keong mas. Apem keong mas ini apem yang dikhususkan yang simbolisnya terdapat paling puncak digunungan, apem itu yang nanti sebelum hari kegiatan larung di doain dulu dan beberapa apem itu akan dilarung ke sungai yang dipercaya untuk membuang sengkolo dalam istilah jawa atau membuang sial yaitu membersihkan pikiran-pikiran yang kurang baik. Gunungan apem dalam tradisi sebaran apem ini ada dua sebagai simbol dua gunung yang ada di boyolali yaitu gunung merbabu dan merapi oleh karena itu apem dibuat menjadi dua gunungan. Kenapa wujudnya gunung, karena gunung memiliki makna yang kental di boyolali sebagai penopang warga boyolali seperti gunung merapi. Sebaran Apem Sebaran Apem keong mas biasanya diadakan pada pertengahan bulan sapar tepatnya pada hari Jumat. Jumlah Apem yang dibagikan pada masyarakat berjumlah genap. Jumlah Apem yang disebar berjumlah 40. dimana setiap rt dapat mengumpulkan atau ikut membantu membuat apem 500 pics. Sebaran Apem Keong Mas akan di lakukan di dua tempat yaitu pada alun-alun Pengging dan Masjid Agung Ciptomulyo. Sebaran apem ini sebagai bukti rasa syukur masyarakat desa pengging akan nikmat alam yang diberikan oleh pencipta. 2 Makna nama-nama Sesaji. Properti, dan Tempat yang digunakan dalam tradisi Sebaran Apem Keong Mas . Apem Keong Mas . Kerbau Bule (Kebo Bul. Kerbau Bule dari keraton sebelum diarak dimandikan terlebih dahulu di sungai dekat masjid Ciptomulyo. Kebo Bule memiliki peran penting dalam tradisi Sebaran Apem Keong Mas di Desa Pengging. Kecamatan Banyudono. Kabupaten Boyolali. Kerbau ini biasanya berjumlah ganap 6-8 ekor. Jumlah kerbau harus genap sebab masyarakt percaya dengan istilah Augotong mayotAy dimana Gambar 1. Apem Keong Mas Apem Apem merupakan apem yang memiliki bentuk kerucut seperti bentuk badan keong mas. Apem yang dilapisi oleh daun. Dari kesaksian warga sekitar mengatakan bahwa apam keong mas berjumlah 100 Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. No. 1 Mei 2026 EISSN: 2502-9630 jumlahnya tidak boleh ganjil agar memunculkan keseimbangan. Kebo bule ini juga akrab disebut AumaisoAy yang dianggap penting dalam tradisi sebaran Simbol kebo bule ini merupakan hewan yang dipelihara sejak zaman raja terdahulu yang dirawat sampai sekarang, karena kebo bule ini sebagai simbol kekuatan, tidak hanya sebagai simbol kekuatan saja melainkansebagai simbol untuk menyatukan warga karena kerbau mempunyai arti yang sangat luas dan kuat keturunannya sangat erat sekali. Selain sebagai simbol kekuatan dan sarana untuk menyatukan masyarakat, kebo bule ini berada di posisi paling depan karena dipercaya sebagai tolak bala. Masjid Ciptomulyo merupakan masjid yang ada di Desa Pengging. Kecamatan Banyudono. Kabupaten Boyolali. Masjid Ciptomulyo merupakan tempat sebaran apem selain alun-alun karena tidak memadai hanya satu tempat saja,sedangkan dua apem gunungan disebarkan ke masyarakat sekitar, istilahnya bagugunungan laki-laki dan Lokasi penyebaran apem diharuskan di masjid karena Masjid Ciptomulyo ini peninggalan sunan Pakubuwana X sebagai pengingat tradisi dan budaya yang pendirinya sendiri dari Penyebaran apem di depan Masjid Cipto Mulyo ini bersifat sakral, oleh karena itu ketika penyebaran apem ini di wilayah lain, tradisi sebaran apem tidak bersifat sakral lagi hanya sebaran apem biasa karena tradisi ini peninggalan budaya yang dulu. Ingkung Ingkung merupakan olahan ayam utuh yang digunakan untuk persembahan pada prosesi larungan pada tradisi Sebaran Apem Keong Mas. Ingkung melambangkan pengorbanan total, hal ini dikarenakan ayam yang dipilih utuh tanpa Dalam kepercayaan orang jawa, ayam dianggapsebagai simbol kekuatan, diharapkan dapat membawa harmoni dan kemakmuran bagi masyarakat setempat. Ingkung juga merupakan bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil panen. Ingkung ini menjadi salah satu jenis makanan yang ada pada kegiatan larungan pada malam Jumat pertengahan bulan Sapar. Sarean R. Ng Yosodipuro (Maka. Gambar 3. Makam R. Yosodipuro Sarean atau yang biasanya di sebut dengan makam atau peristirahatan terakhir Pada gambar di atas merupakan tampak depan peristirahata terakhir R. Ng Yosodipuro. Di sinilah tempat diadakannya malam tiraakatan dan ritual yang dilakukan pada malam bulan Pada malam tirakatan makam R. Yosodipuro akan dibuka untuk melakukan beberapa proses diantaranya mendoakan Apem dibagikan/disebar pada masyarakat. Masjid Ciptomulyo Gambar 2. Masjid Ciptomulyo Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. No. 1 Mei 2026 EISSN: 2502-9630 Adapun rangkaiaan acara tirakatan tersebut yaitu tahlil, larungan siraman, ndalem, lalu dibawa menuju Masjid Ciptomulyo untuk kegiatan larungan. Terdapat beberapa sesaji yang diletakkan pada mustaka makam Rn. ng Yosodipuro. Kali Guyangan (Sungai Guyanga. Ayam Kampung Pada tradisi Saparan Ayam kampung dipercaya lebih AuasliAy dan suci karena hidup bebas dipedesaan. Ayam kesederhanaan dan terhubung langsung dengan alam. Ayam jantan dipilih karena memiliki simbol kekuatan, keberanian, dan kesuburan dimana dinilai sesuai dengan filosofi Jawa yang menghormati energi maskulin dalam ritual. Alun-Alun Pengging Alun-alun pengging terletak di Desa Pengging, kecamatan Banyudono. Kabupaten Boyolali. Alun-alun ini sebagai tempat sebaran apem saat tradisi berlangsung selain Masjid Cipto Mulyo. Salah satu tempat pusat sosial dan budaya yang strategis, mudah dijangkau oleh masyarakat dari berbagai desa sekitar. Selain itu, sebaran apem dilakukan di alun-alun memiliki fungsi sebagai atraksi wisata budaya yang di gelar pemerintah Di mana tradisi ini bukan hanya sebagai ritual keagaamaan atau adat, namun juga sebagai ajang pelestarian budaya berdampak positif ssecara ekonomi dan sosial bagi wilayah pengging dan sekitarnya. Gambar 4. Aliran Kali Guyangan Depan Masjid Ciptomulyo Kali guyangan merupakan sungai atau sumber mata air yang telah dimanfaatkan oleh masyarakat setempat sejak masa kerajaan. Sungai ini memiliki aliran air yang panjang yang melewati bangunan Masjid Agung Ciptomulyo. Disinilah kegiatan larungan sesaji Sungai Guyangan ini merupakan sumber mata air yang sering dimanfaatkan oleh warga setempat untuk berbagai hal dengan air bersih yang Napak Tilas Napak tilas ini berupa perjalanan masyarakat ke lokasi penyebaran apem atau biasa disebut dengan arak-arakkan. Napak tilas bagian dari arak-arakkan. Napak tilas ini berupa perjalanan menelusuri atau mengenang jejak masa lalu salah satunya tradisi Sebaran Apem ini yang di bawah oleh Sunan Surakarta. Napak tilas tradisi Sebaran Apem. Pengging. Kecamatan Banyudono, yang dimeriahkan oleh dua gunungan apem, kebo bule, alat-alat pustaka keraton dan Dalam napak ini ada pertunjukan oleh masyarakat seperti tarian topeng hitam dan reog yang dimulai sejak jam satu siang perjalanan dari kantor banyudono sampai ke Masjid Cipto . Doro . urung dar. Burung dara seringkali dinilai Sebagaimana kepercayaan masyarakat setempat bahwa kemanapun burung dara terbang tinggi pasti dia akan kembali ke sarangnya, yang dapat melambangkan pencarian kedamaian dalam diri dan harmoni dengan alam. Tujuan burung dara ini dilepaskan pada tradisi sebaran apem diharapkan doa serta keberkahan akan tersebar di seluruh pengging atau bahkan di seluruh kota. Orang zaman dulu bilang Aungayomi ing tlatah penggingAy. Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. No. 1 Mei 2026 EISSN: 2502-9630 Mulyo. Filosofi dari napak tilas ini mengenang jejak masa lalu atau menghormati sejarah, dan memetik pelajaran nilai-nilai luhur yang ada di Kabupaten Boyolali mencangkup urutan prosesi seperti tirakatan, larungan, arakarakan, dan sebaran apem. Tidak hanya itu membahas filosofis dari benda-benda, tempat, makanan dan sebagainya seperti apem keong mas, kebo bule, ingkung, masjid cipto mulyo. Sarean Rn. Yosodipuro, kali guyangan, doro, ayam kampung, alun-alun pengging, napak tilas, obor, dan jenang ketan. Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa pada tradisi Sebaran Apem Keong Mas atau Saparan di Desa Pengging, kecamatan Banyudono. Kabupaten Boyolali melalui beberapa proses dari kepercayaan masyarakat sekitar. Adapun analisis yang penulis lakukan melalui wawancara diharapkan dapat menjadi rujukan bagi penelitian yang akan datang. Dan memperkaya pada kajian etnolinguistik yang membahas mengenai bahasa dengan Peneliti juga memberikaan saran kepada penelitian lain untuk bisa memperluas lagi mengenai tradisi yang masih di ruang lingkup etnolinguistik untuk lebih baik dari penelitian ini. Obor Pada prosesi tirakatan fungsi obor disini adalah sebagai penerangan. Obor sebagai penerangan berfungsi sebagai penerangan tambahan untuk menerangi akses jalan menuju makam dan proses Obor bambu yang berisi bahan bakar dan kain sebagai media agar api bisa menyala dan membuat penerangan . Obor ini hanya sebagai penerangan tambahan saat melakukan prosesi pada malam jumat pertengahan bulan safar yang tempatnya minim penerangan. Jenang Ketan Jenang ketan merupakan olahan dari beras ketan dan gula aren, jenang ketan melambangkan kesuburan tanah dan hasil panen yang melimpah. Dalam budaya jawa, sesaji bukan hanya mengenai makanan, tetapi juga energi positif yang dikembangkan ke alam untuk menjaga keseimbangan manusia dengan Bahan dalam membuat jenang ketan juga mewakili siklus kehidupan manusia, ketan yang digambarkan sebagai tanah, air . , dan Api . roses memasa. yang kesatuan unsur alam. Jenang ketan dilarung, dengan tujuan memberikan kemakmuran bagi Masyarakat. DAFTAR PUSTAKA