SARGA: JOURNAL OF ARCHITECTURE AND URBANISM VOLUME 19 NO 1 JANUARI 2025 P-ISSN: 0853-4748 E-ISSN: 2961-7030 Journal Home Page: https://jurnal2. id/index. php/sarga PENERAPAN KONSEP ARSITEKTUR BERKELANJUTAN UNTUK MENINGKATKAN KENYAMANAN TERMAL PADA BANGUNAN TANATAP COFFEE. BEKASI Application of Sustainable Architecture Concepts to Enhance Thermal Comfort in Tanatap Coffee Building. Bekasi | Received October 30, 2024 | Accepted January 11, 2025 | Available online January 31, 2025 | | DOI 10. 56444/sarga. 2202 | Page 113 - 122 | Salma Faizatun Solikhah1*. Miftah Nurul Haq2. Miftahul Khairi3 2104056010@student. UIN Walisongo Semarang. Semarang. Indonesia1* 2104056038@student. UIN Waisongo Semarang. Semarang. Indonesia2 Miftahul khairi@walisongo. UIN Walisongo Seamarang. Semarang. Indonesia3 ABSTRAK Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) merupakan representasi arsitektur yang menggabungkan nilai religius Islam dengan budaya lokal Jawa serta elemen modern, tercermin pada elemen seperti kubah, atap tajug, minaret, pola ruang, ornamen kaligrafi-batik, hingga Gerbang Al-Qonathir. Penelitian ini mengkaji bagaimana desain MAJT merepresentasikan harmoni antara nilai-nilai tradisional dan modernitas melalui simbolisme budaya dan inovasi arsitektural. Elemen seperti serambi yang terinspirasi dari masjid Arab dimodifikasi dengan pola AuUAy dan dilengkapi dengan elemen lokal seperti bedug serta air mancur sebagai interpretasi baru tempat wudhu. Kaligrafi Arab dipadukan dengan motif batik untuk merepresentasikan identitas Jawa, sementara Gerbang Al-Qonathir menggabungkan seni Romawi dan Jawa sebagai simbol keterbukaan budaya. Pola ruang masjid yang hierarkis dan inklusif mencerminkan adaptasi filosofi tata ruang Jawa dalam konteks modern. Desain keseluruhan MAJT menunjukkan perpaduan harmonis antara fungsi spiritual, sosial, dan budaya, menjadikannya ikon yang relevan sebagai pusat religius dan budaya di Jawa Tengah. Penelitian ini menegaskan bahwa arsitektur dapat menjadi medium komunikasi yang efektif dalam menjembatani nilai-nilai tradisional, agama, dan inovasi modern secara holistik. Kata kunci: Masjid Agung Jawa Tengah. Arsitektur Islam. Budaya. Simbolisme, modernitas ABSTRCT The Great Mosque of Central Java (MAJT) is an architectural representation that combines Islamic religious values with local Javanese culture and modern elements, reflected in features such as the dome, tajug roof, minaret, spatial patterns, calligraphy-batik ornaments, and the Al-Qonathir Gate. This study examines how the design of MAJT represents the harmony between traditional values and modernity through cultural symbolism and architectural innovation. Elements such as the portico, inspired by the Arab mosque, are modified with a AuUAy pattern and complemented by local elements like the bedug and fountains, offering a new interpretation of the ablution area. Arabic calligraphy is combined with batik motifs to represent Javanese identity, while the Al-Qonathir Gate blends Roman and Javanese art as a symbol of cultural openness. The hierarchical and inclusive spatial patterns of the mosque reflect the adaptation of Javanese spatial philosophy into a modern context. The overall design of MAJT showcases a harmonious fusion of spiritual, social, and cultural functions, making it a relevant icon as a religious and cultural center in Central Java. This study emphasizes that architecture can serve as an effective medium of communication in bridging traditional values, religion, and modern innovation holistically. Keywords: Great Mosque of Central Java. Islamic Architecture. Culture, symbolism, modernity Salma Faizatun Solikhah. Miftah Nurul Haq. Miftahul Khairi PENDAHULUAN Arsitektur masjid di Indonesia tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah tetapi juga sebagai representasi identitas budaya dan religius. Sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia. Indonesia memiliki arsitektur islam yang beragam, yang seringkali mencerminkan akulturasi budaya lokal dengan nilai-nilai islam. Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) di Semarang merupakan contoh penting dari hybrid architecture, yang mengintegrasikan elemen budaya Jawa. Timur Tengah, dan Romawi. Penelitian tentang MAJT sangat penting karena masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai landmark dan simbol identitas kota Semarang. Sebagai salah satu religius terbesar di Jawa Tengah. MAJT memiliki peran signifikan dalam memperkuat citra kota, sekaligus mencerminkan keberagaman budaya yang ada di Indonesia. Keberadaanya menjadi daya Tarik wisata religi dan pusat kegiatan sosial yang memiliki nilai historis dan kultural yang tinggi. Menurut Ikhwanuddin . , hybrid architectur pada bangunan religius bertujuan menciptakan harmoni antara nilai budaya lokal dengan identitas islam Pada MAJT, integrasi ini diwujudkan melalui kombinasi elemen arsitektur tradisional, seperti atap tajug khas Jawa, dengan kubah dan minaret yang terinspirasi dari Timur Tengah. Desain ini tidak hanya menonjolkan nilai estetika, tetapi juga simbolisme spiritual dan budaya. Masjid tidak hanya sekedar tempat ibadah, tetapi juga memiliki dimensi sosial dan budaya yang kuat. Saputra dan Kusuma . menjelaskan bahwa masjid-masjid di Indonesia sering mengadopsi elemen global dalam desainya, seperti penggunaan kubah dan Menara tinggi, namun tetap mempertahankan elemen tradisional untuk menjaga identitas budaya Pada MAJT, elemen lokal terlihat pada penggunaan atap tajug yang khas masjid tradisional jawa, sedangkan elemen global diwujudkan dalam bentuk kubah besar dan Menara yang menyerupai desain Timur Tengah Elemen-elemen ini menunjukan bagaimana arsitektur dapat menjadi medium untuk mempertemukan sebagai tradisi budaya. Leksono et al. , . menyoroti bahwa pola ruang pada MAJT dirancang berdasarkan hierarki tradisional Jawa, di mana ruang utama di prioritaskan sebagai pusat spiritual yang terhubung langsung dengan arah kiblat. Ruang serambi yang terbuka melambangkan keterbukaan Islam terhadap dialog dan interaksi sosial. Hal ini sesuai dengan nilai-nilai islam yang bersifat inklusif, di mana masjid tidak hanya digunakan untuk ibadah tetapi juga sebagai pusat kegiatan masyarakat. Desain ini mencerminkan filosofi harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan, yang menjadi ciri khas arsitektur Islam Indonesia. Simbolisme dalam arsitektur MAJT juga menjadi poin penting yang menghubungkan dimensi budaya dan religius. Menurut Maulani . , payung hidrolik di MAJT tidak hanya berfungsi sebagai elemen pelindung tetapi juga memiliki nilai simbolis yang mendalam. Payung ini mengacu pada desain Masjid Nabawi di Madinah, namun di lengkapi dengan ornamen khas Jawa seperti ukiran motif batik. Hal ini mencerminkan bagaimana elemen global diadaptasi dengan sentuhan lokal untuk menciptakan identitas yang unik. Selain itu, yang dipadukan dengan motif batik menunjukan kolaborasi antara seni islam dan seni tradisional Indonesia. Gerbang Al-Qonathir yang ada di MAJT mengadaptasi elemen arsitektur Romawi dan Jawa. Ikhwanuddin . menjelaskan bahwa perpaduan ini melambangkan keterbukaan budaya islam terhadap pengaruh luar tanpa kehilangan akar Elemen ini juga mempersentasikan filosofi rahmatan lilAoalami di mana Islam di SARGA - VOLUME 19 NO. JANUARI 2025 Analisis Konsep Desai Arsitektur Masjid Agung Jawa Tengah sebagai Representasi Budaya Indonesia tampil sebagai agama yang penuh kedamaian dan harmoni. Dengan demikian. MAJT tidak hanya menjadi tempat ibadah tetapi juga simbol keberagaman dan toleransi yang karakteristik masyarakat Jawa Tengah. Penelitian bertujuan untuk menganalisis elemen-elemen arsitektur pada MAJT sebagai representasi budaya melalui pendekatan deskriptif-kualitatif. Fokus penelitian meliputi analisis bentuk, ruang, dan simbolisme, dengan harapan dapat memberikan kontribusi dalam pemahaman arsitektur religius sebagai medium pelestarian budaya lokal. Kajian ini penting dalam konteks modern, di mana keberlanjutan budaya melalui arsitektur menjadi salah satu tantangan utama. REVIEW LITERATUR Organisasi ruang memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang mendukung aktivitas dan perilaku pengguna. Bahwa organisasi ruang melibatkan pengaturan elemenelemen arsitektur untuk menciptakan pola interaksi tertentu. Dalam arsitektur masjid, organisasi ruang harus mempertimbangkan pemisah aktivitas sakral dan sekuler untuk menjaga kekhusyuan ibadah, sambil tetap mendukung kebutuhan sosial pengunjung. Penelitian lain seperti yang dilakukan oleh Ching . memperkenalkan teori zonasi ruang yang relevan dalam pengaturan masjid. Teori ini mencakup pemisahan ruang berdasarkan fungsi tertentu, seperti area ibadah, transit, dan sosial. Di masjid Agung Jawa Tengah MAJT, implementasi teori ini dapat terlihat pada pemanfaatan ruang terbuka yang tidak hanya sebagai tempat peralihan tetapi juga sebagai pusat kegiatan sosial. Pemisahan ruang ibadah dan ruang wisata secara horizontal dan vertikal menambah efisiensi tata ruang dan kenyamanan pengguna. Penelitian Pendidikan et al. , . menyoriti elemen-elemen arsitektur yang mengintegrasikan tradisi lokal dengan simbolisme islam. Khas arsitektur tradisisonal Jawa yang melambangkan kebesaran dan kekokohan. Ornamen-ornamen tradisional Jawa seperti ukiran batik berpadu dengan kaligrafi Arab yang menghiasi dinding, pintu, dan tiang Perpaduan ini tidak hanya menciptakan nilai seni tetapi juga menjadi medium untuk menyampaikan pesan-pesan religius. Kombinasi elemen-elemen tersebut menghasilkan harmoni antara lokaliatas dan keuniversalan, menjadi MAJT sebagai simbol yang mampu menyatukan identitas budaya lokal dan global, serta mencerminkan dinamika keberagaman budaya yang harmonis di Indonesia. Azza & Anisa . juga menyoroti aspek simbolisme dalam arsitektur MAJT. Menurutnya, payung hidrolik yang terdapat di masjid ini, yang terinspirasi oleh masjid Nabawi, mengandung makna simbolis yang sangat penting. Payung hidrolik yang digunakan pada MAJT menunjukan keterkaitan antara ajaran Islam dan budaya lokal yang mewarnai desain Simbolisme ini tidak hanya memperkaya makna spiritual dari masjid, tetapi juga memperlihatkan bagaimana elemen desain dapat menghubungkan berbagai tradisi budaya dan agama. Nabilah et al. , . menjelaskan bahwa hubungan antara desain arsitektur dengan perilaku pengunjung. Misalnya, ruang terbuka di sekitar masjid yang luas tidak hanya berfungsi sebagai tempat transit tetapi juga sebagai area sosial bagi pengunjung. Menyoroti pentingnya integrasi antara desain sirkulasi dan kebutuhan pengunjung. Pemisah jalur wisatawan dan jamaah, misalnya menciptakan suasana yang kondusif bagi berbagai Dengan mengutamakan efisiensi sirkulasi, desain MAJT berhasil memadukan SARGA - VOLUME 19 NO. JANUARI 2025 Salma Faizatun Solikhah. Miftah Nurul Haq. Miftahul Khairi estetika dengan fungsi yang memenuhi kebutuhan beragam pengunjung, baik untuk keperluan wisata maupun ibadah. Secara keseluruhan, desain arsitektur Masjid Agung Jawa Tengah merupakan contoh nyata dari pertemuan dua kebudayaan yang berbeda tetapi saling melengkapi. MAJT bukan hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai simbol yang menyatukan budaya Islam dan Jawa. Desain arsitektur yang berhasil menciptakan ruang yang memancarkan makna spiritual dan budaya dalam setiap detail desainya. Sebagai karya arsitektur. MAJT memperlihatkan bagaimana seni bangunan dapat menjadi alat untuk memperkenalkan, merayakan, dan menjaga warisan budaya, sekaligus mengedepankan nilai-nilai agama Islam. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bertujuan untuk menggali makna mendalam dari elemen-elemen desain arsitektur Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) sebagai representasi budaya. Pendekatan ini memungkinkan untuk memahami simbolisme dan filosofi yang terdapat dalam desain masjid, yang seringkali tidak dapat dijelaskan hanya dengan data kuantitatif. Metode yang digunakan adalah studi kasus, dengan fokus pada MAJT sebagai objek penelitian utama. Melalui pendekatan ini, penelitian dapat melakukan analisis mendalam terhadap perpaduan elemen arsitektur yang menggabungkan budaya lokal Jawa dan pengaruh Islam dari Timur Tengah, serta bagaimana hal tersebut mencerminkan nilai budaya di dalamnya. Metode deskriptif analisis digunakan untuk menggambarkan dan menganalisis elemenelemen fisik desain MAJT, seperti struktur, material, ornamen, dan simbolisme yang terkandung di dalamnya. Sehingga menggali bagaimana elemen-elemen desain tersebut tidak hanya memiliki fungsi estetika, tetapi juga berfungsi sebagai representasi dari budaya dan agama. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung, terhadap desain masjid dan elemen arsitekturnya, selain itu studi dokumentasi dilakukan dengan mengkaji literatur yang relevan mengenai desain arsitektur masjid, khususnya MAJT, dan literatur terkait arsitektur Islam di Indonesia. Data yang telah terkumpul akan dianalisis secara kualitatif, dengan menghubungkan elemen desain MAJT dengan teori-teori arsitektur Islam dan budaya Jawa. Analisis ini akan memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang bagaimana desain arsitektur masjid dapat mencerminkan hubungan antara budaya lokal dan agama. Penelitian ini akan akan mencarikan hasil analisis tersebut untuk menjawab pertanyaan utama mengenai bagaimana desain arsitektur masjid dapat menjadi sarana untuk menyampaikan pesan budaya dan agama, serta bagaimana identitas budaya jawa dapat dipertahankan melalui desain arsitektur modern. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis elemen arsitektur, pola ruang, dan simbolisme budaya serta religius pada MAJT menunjukan bahwa masjid ini bukan sekedar bangunan fisik, melainkan juga medium untuk menyampaikan nilai-nilai spiritual dan kultural. Berikut membahas elemen-elemen penting dalam desain MAJT untuk memahami bagaimana perpaduan ini terwujud. SARGA - VOLUME 19 NO. JANUARI 2025 Analisis Konsep Desai Arsitektur Masjid Agung Jawa Tengah sebagai Representasi Budaya Elemen Arsitektur Masjid Kubah Kubah yang berada di atas atap tajug sangat memberikan kesan harmonis, dimana atap tajug yang seharusnya diakhiri dengan bentuk piramidnya digantikan dengan bentuk mendekati setengah bola. Peletakan Kubah ditopang oleh kolom soko guru. Kubah adalah representasi sebagai simbol keesaan Tuhan dan hubungan manusia dengan sang pencipta. Kubah pada Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) memiliki desain yang sangat ikonik. Kubah utama berbentuk setengah bola dengan warna putih yang cerah, melambangkan kesucian. Kubah ini dikelilingi oleh empat menara tinggi yang menjulang dengan desain yang khas, mencerminkan gaya arsitektur Islam modern berpadu dengan nuansa lokal Jawa. Struktur kubah yang megah dan dikelilingi oleh ornamen geometris menciptakan harmoni visual yang mengesankan, cocok sebagai pusat ibadah dan kebanggaan umat Muslim di Jawa Tengah. Minaret Lima menara MAJT melambangkan Rukun Islam, dengan menaraAy Asmaul HusnaAy setinggi 99-meter sebagai representasi 99 nama Allah (Asmaul Husn. Refleksi lima menara bisa menjadi pengingat untuk lebih mendalami dan mengamalkan kelima rukun Islam dengan Misalnya, memperbaiki kualitas salat atau meningkatkan kepedulian sosial melalui Sedangkan empat minaret yang terletak di setiap sudut kubah diartikan sebagai Ausahabat-sahabat NabiAy yang telah membantu Nabi dalam menyebarkan agama islam pada zama Abu Bakar As-sidiq. Umar bin Khatab. Ustman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Filosofi empat minaret yang melambangkan sahabat Nabi mengajarkan kita untuk memperjuangkan kebaikan dengan kerja sama, ketulusan, dan keberanian seperti yang dicontohkan Abu Bakar. Umar. Utsman, dan Ali. Hal ini mengajarkan bahwa masjid ini bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga simbol pendidikan spiritual, sejarah Islam, dan persatuan Arsitekturnya menjadi sarana untuk merenungi esensi agama, nilai-nilai luhur, dan peran setiap Muslim. Masjid ini mengingatkan kita untuk tidak berhenti pada simbol, tetapi bergerak untuk mengaplikasikan makna-makna itu dalam tindakan nyata kita sebagai umat Muslim di tengah masyarakat. Gambar 2. Satu Menara Asmaul Husna . Empat Menara Sahabat-Sahabat Nabi . Sumber: https://images. gl/wdBWJQBVkSvYzMc77, 2020 SARGA - VOLUME 19 NO. JANUARI 2025 Salma Faizatun Solikhah. Miftah Nurul Haq. Miftahul Khairi Atap Tajug Atap tajug merupakan salah satu ciri khas arsitektur tradisional Jawa yang sarat dengan nilai filosofis dan estetika. Pada Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), desain tajug diterapkan sebagai upaya menjaga nilai-nilai tradisional dalam konteks arsitektur modern, menciptakan harmoni yang unik antara identitas lokal dan kebutuhan fungsional masa kini. Atap tajug ini secara simbolis merepresentasikan hubungan vertikal antara manusia dengan Sang Pencipta, di mana bentuknya yang mengerucut ke atas melambangkan perjalanan spiritual menuju Tuhan. Dalam struktur MAJT, atap tajug ditempatkan di antara dinding luar ruang utama masjid dengan tiang soko guru, yang menjadi elemen penting dalam menopang kekuatan bangunan sekaligus mencerminkan simbolisasi kosmologi Jawa. Gambar 4. Struktur Atap Tajug . Atap Tajug Masjid Agung Jawa Tengah . Sumber: Analisa Pribadi. Desain ini tidak hanya mempertahankan kearifan lokal, tetapi juga menjembatani warisan budaya tradisional dengan arsitektur Islam yang lebih luas. Atap tajug di MAJT menunjukkan bahwa modernitas tidak harus menghilangkan tradisi, tetapi justru dapat mengintegrasikannya untuk menciptakan karya yang relevan dengan zaman sekaligus menghormati akar budaya. Kombinasi ini memberikan identitas yang kuat bagi MAJT, menjadikannya tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai simbol persatuan budaya dan agama yang saling melengkapi. Pola Ruang Pola ruang Kawasan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) dirancang dengan konsep yang mengintegrasikan aspek religius, sosial, dan budaya, menjadikanya sebagai pusat multifungsi masyarakat. Zona utama masjid berada di bagian barat dan mencakup aula shalat serta serambi berbentuk AuUAy. Serambi ini mengadaptasi konsep shan masjid tradisional dengan modifikasi lokal yang memungkinkan hubungan lebih terbuka antara masjid dan lingkungan sekitar. Zona serambi menghubungkan masjid dengan halaman luas yang berfungsi sebagai ruang transisi sekaligus tempat interaksi publik. Halaman ini juga digunakan untuk berbagai kegiatan sosial, termasuk acara keagamaan skala besar, dengan elemen dekoratif seperti air mancur yang mempertegas identitas Kawasan. Di sisi timur, terdapat fasilitas pendukung seperti auditorium, perkantoran, dan ruang ritel. Auditorium sering digunakan untuk kegiatan edukasi dan budaya yang mendukung peran sosial Kawasan MAJT. Selain itu, zona tradisional seperti rumah bedug tetap dipertahankan untuk menjaga warisan budaya Jawa, menjadi elemen khas yang memperkaya identitas Kawasan. Sebagai penanda visual. Menara pandang setinggi 99-meter berfungsi sebagai SARGA - VOLUME 19 NO. JANUARI 2025 Analisis Konsep Desai Arsitektur Masjid Agung Jawa Tengah sebagai Representasi Budaya landmark ikonik sekaligus daya tarik wisata. Dari Menara ini, pengunjung dapat menikmati panorama kota Semarang dan laut Jawa. Kawasan MAJT juga menyediakan area parkir luas untuk kenyamanan pengunjung, termasuk fasilitas aksesibilitas untuk difabel. Akses utama diarahkan melalui gerbang besar yang menghubungkan jalan masuk ke halaman utama. Sebagai tambahan, zona edukasi dan wisata religi turut melengkapi fungsi Kawasan melalui keberadaan museum Islam yang menampilkan sejarah perkembangan Islam di Jawa Tengah. Secara keseluruhan, pola ruang Kawasan MAJT menunjukan bagaimana elemen tradisional, modern, dan lokal dapat bersatu dalam harmoni. Zona-zona yang dirancang tidak hanya memenuhi kebutuhan ibadah tetapi juga mendukung fungsi sosial, ekonomi, dan budaya, menjadikan MAJT sebagai pusat kehidupan masyarakat yang beragam. Desain ini merefleksikan perpaduan antara nilai-nilai klasik dan kebutuhan modern, dan lokal dapat bersatu dalam harmoni. Zona-zona yang dirancang tidak hanya memenuhi kebutuhan ibadah tetapi juga mendukung fungsi sosial, ekonomi, dan budaya, menjadikan MAJT sebagai pusat kehidupan masyarakat yang beragam. Desain ini merefleksikan perpaduan antara nilai-niali klasik dan kebutuhan modern dalam satu kesatuan arsitektur yang fungsional dan estetis. Simbolisme Budaya dan Religius Payung Hidrolik Pada masjid agung Jawa Tengah terdapat enam payung hidrolik yaitu karena memiliki filosofi Islam yaitu rukun Iman yang berjumlah enam agar pengunjung masjid selalu ingat dengan rukun iman setelah melihat atau menghitung jumlah payung hidrolik, yang berjumlah enam seperti jumah rukun iman. Hamdani et al. , . Payung hidrolik berfungsi ganda sebagai pelindung hjamaah dari cuaca ekstrem dan elemen estetikan yang Terisnpirasi dari masjid Nabawi, payung ini menggabungkan teknologi modern dengan nilai nilai tradisonal. Kehadiran payung hidrolik di MAJT tidak hanya meningkatkan pengalaman fisik jemaah, tetapi juga menanamkan nilai-nilai spiritual dan budaya. Ini adalah contoh konkret bagaimana arsitektur dapat menjadi medium dakwah, mengingatkan umat untuk merenungkan dan mengaplikasikan keimanan mereka dalam kehidupan sehari-hari, sekaligus menunjukkan kepada dunia bahwa Islam adalah agama yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan esensinya. Gambar 6. Payung Hidrolik Sumber: https://images. gl/2wy5yrN1iGtUwQQZ9, 2024 SARGA - VOLUME 19 NO. JANUARI 2025 Salma Faizatun Solikhah. Miftah Nurul Haq. Miftahul Khairi Ornamen Kaligrafi dan Batik Ornamen pada (MAJT) menunjukan kombinasi antara nilai religius islam dan budaya lokal Jawa. Salah satu yang menonjol adalah perpaduan kaligrafi dengan motif batik. Kaligrafi digunakan untuk menampilkan ayat-ayat Al-qurAoan dengan gaya estetis. sementara motif batik menghadirkan identitas tradisional Jawa. Dengan menggabungkan kaligrafi dan batik. MAJT memancarkan identitas yang unik dan khas, menonjolkan Jawa Tengah sebagai daerah yang mampu mengintegrasikan nilai-nilai global (Isla. dengan lokal. Ini mencerminkan Islam sebagai agama yang inklusif, merangkul keberagaman budaya. Dapat dikatakan bahwa masjid tersebut menjadi simbol persatuan antara Islam dan tradisi jawa yang kaya dan menunjukan bahwa MAJT bukan sekedar tempat ibadah, tetapi juga menjadi representasi visual dari akulturasi budaya yang indah. Gambar 7. Ornamen Kaligrafi pada dinding masjid . Ornamen Batik pada pilar, dinding dan plafond masjid . Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2024 Ornamen ini mengajarkan pengunjung tentang pentingnya menjaga warisan budaya sekaligus memperdalam pemahaman keislaman. Ini menjadi inspirasi bahwa agama dan budaya dapat saling memperkaya, memberikan pelajaran tentang toleransi, penghargaan, dan persatuan. Perpaduan kaligrafi dan batik pada MAJT mengingatkan kita bahwa membangun peradaban Islam tidak berarti menanggalkan akar budaya lokal. Sebaliknya, ini adalah bukti bahwa agama dan budaya dapat saling memperkuat, menciptakan harmoni yang memperkaya identitas umat dan memberikan inspirasi bagi generasi mendatang untuk terus melestarikan nilai-nilai ini. Gerbang Al-Qonathir Tiang pada gerbang Al-Qonathir berjumlah 25 buah merupakan simbolisasi dari 25 Rasul Allah sebagai pembimbing umat yang mengajak pengunjung untuk merenungi nilai-nilai kenabian dan menjadikannya teladan dalam kehidupan sehari-hari. Pada gerbang ini terdapat tulisan kaligrafi kalimat syahadat tauhid. Pada bidang datar tertulis huruf pegon yang dirangkai menjadi kalimat Aysucining guna gapuraning gustiAy yang berarti kombinasi ini menunjukkan bahwa Islam dapat menyatu dengan kearifan lokal tanpa kehilangan nilai Tertulis tahun jawa 1943 atau tahun Masehi 2001 yang merupakan tahun dimulainya realisasi gagasan pembangunan Masjid Agung Jawa Tengah. SARGA - VOLUME 19 NO. JANUARI 2025 Analisis Konsep Desai Arsitektur Masjid Agung Jawa Tengah sebagai Representasi Budaya Gambar 9. Gerbang Al-Qonathir Sumber: https://images. gl/oCbeUmiUW8QGbYQS6, 2024 Gerbang Al-Qonathir menjadi contoh bagaimana arsitektur dapat berbicara melampaui batas agama, budaya, dan waktu. Dengan memadukan elemen Islam. Jawa, dan sejarah modern, gerbang ini menjadi jembatan yang menghubungkan generasi, budaya, dan keyakinan yang berbeda. Lenih lanjut, gerbang Al-Qonathir menunjukan bagaimana arsitektur dapat menjadi medium dialog antar budaya. Selain itu elemen arsitektur tersebut, mengajarkan kita bahwa arsitektur tidak hanya tentang fungsi estetika, tetapi juga tentang menyampaikan pesan mendalam yang mencakup spiritualitas, sejarah, dan budaya. Elemen ini menjadi inspirasi bagi umat untuk menjaga harmoni antara nilai agama dan kearifan lokal, sekaligus memperlihatkan bagaimana keberagaman dapat menjadi kekuatan yang memperkaya identitas bersama. KESIMPULAN Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) adalah manifestasi arsitektur yang memadukan nilai religius Islam dengan identitas budaya lokal Jawa, sekaligus mengintegrasikan elemen global secara harmonis. Kajian terhadap elemen arsitektur, pola ruang, simbolisme budaya, serta ornamen masjid ini menunjukkan bagaimana MAJT berhasil merepresentasikan keislaman yang inklusif dan budaya Jawa yang kaya. Elemen-elemen seperti kubah, atap tajug, dan menara menunjukkan upaya menjaga keseimbangan antara tradisi dan Pola ruang masjid yang hierarkis dan terbuka mengakomodasi kebutuhan spiritual sekaligus sosial, mempertegas fungsi masjid sebagai pusat ibadah dan interaksi Modifikasi elemen tradisional, seperti Shan dan serambi, menunjukkan fleksibilitas desain arsitektur dalam menjawab kebutuhan zaman tanpa kehilangan makna Simbolisme budaya pada ornamen kaligrafi dan batik memperkaya estetika masjid sekaligus menyampaikan pesan integrasi nilai religius dan tradisional. Gerbang Al-Qonathir, sebagai salah satu elemen unik, melambangkan keterbukaan budaya melalui perpaduan gaya arsitektur Romawi dan Jawa, menegaskan semangat Islam yang universal dan adaptif terhadap konteks lokal. MAJT bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga ikon budaya, pusat sosial, dan simbol harmoni antara nilai keislaman, tradisi lokal, dan pengaruh modern. Desain masjid ini menjadi bukti bahwa arsitektur dapat menjadi medium komunikasi yang menjembatani agama, budaya, dan inovasi secara holistik. Dengan demikian. MAJT tidak hanya melayani fungsi spiritual, tetapi juga menjadi perwujudan keberagaman budaya yang inklusif dan relevan sepanjang masa. SARGA - VOLUME 19 NO. JANUARI 2025 Salma Faizatun Solikhah. Miftah Nurul Haq. Miftahul Khairi DAFTAR PUSTAKA Adityaningrum. Pitana. , & Setyaningsih. Arsitektur Jawa pada Wujud Bentuk dan Ruang Masjid Agung Surakarta. Sinektika: Jurnal Arsitektur, 17. , 54Ae60. https://doi. org/10. 23917/sinektika. Azza. , & Anisa. Kajian Arsitektur Simbolik Pada Bangunan Masjid. Purwarupa : Jurnal Arsitektur, 3. , 213Ae220. https://jurnal. id/index. php/purwarupa/article/view/4464/3180 Barliana. Perkembangan Arsitektur Masjid: Suatu Transfomasi Bentuk Dan Ruang. HISTORIA: Jurnal Pendidikan Sejarah, 9. , 45Ae60. Ching. Francis D. Architecture: Form. Space, and Order. John Wiley & Sons, 2007. Fikriarini. ARSITEKTUR ISLAM: Seni Ruang dalam Peradaban Islam. El-HARAKAH (TERAKREDITASI), 12. , 194Ae206. https://doi. org/10. 18860/el. FR. Riza. , & Imbardi. Konsep Arsitektur Islami Pada Perancangan Masjid Islamic Center Kota Pekanbaru. Jurnal Arsitektur : Arsitektur Melayu Dan Lingkungan , 10. , 48Ae https://journal. id/index. php/arsitektur Fatah Amanati. Perancangan Environmental Graphic Design Sebagai Upaya Optimalisasi Media Informasi Dan Navigasi Di Masjid Agung Jawa Tengah Semarang . Hamdani. Indrosaptono. , & Sarjono. Analisis fungsi ganda plaza pada atribut jamaah salat di Masjid Agung Jawa Tengah. Jurnal Arsitektur Lansekap, 6. , 98. https://doi. org/10. 24843/jal. Ikhwanuddin. Analisis Konsep Desain Hybrid Pada Masjid Agung Jawa Tengah (Tinjauan Aspek Ruang Bentu. Nalars, 10. , 1Ae16. https://jurnal. id/index. php/nalars/article/view/591/552 Jawa. Di. , & Masjid. PERILAKU PENCARIAN INFORMASI REMAJA ISLAM MASJID. Leksono. Gunawan. Handara. Prabowo. Sahad. , & Hasibuan. KONSEP PERANCANGAN MASJID AGUNG JAWA TENGAH. NALARs, 21. , https://doi. org/10. 24853/nalars. Maulani. Akulturasi Budaya pada Ornamen Eksterior Masjid Agung Jawa Tengah: Analisis Semiotik. Metahumaniora, 7. , 40. https://doi. org/10. 24198/mh. Nabilah. Pribadi. , & Alfia riza. Tinjauan Perilaku Pengunjung Terhadap Pola Sirkulasi Masjid Agung Jawa Tengah. Modul, 18. , https://doi. org/10. 14710/mdl. Pendidikan. Dan. , & Volume. This work is licensed under. , 25Ae29. Saputra. , & Kusuma. Revitalisasi Masjid Dalam Dialektika Pelayanan Umat Dan Kawasan Perekonomian Rakyat. Al-Idarah: Jurnal Manajemen Dan Administrasi Islam , 1. , 1. https://doi. org/10. 22373/al-idarah. UCAPAN TERIMAKASIH