Vol. No. 1, 2025, pp. DOI: https://doi. org/10. 29210/1202525969 Contents lists available at Journal IICET Jurnal EDUCATIO (Jurnal Pendidikan Indonesi. ISSN: 2476-9886 (Prin. ISSN: 2477-0302 (Electroni. Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/jppi Implementasi budaya religius dalam penanaman nilai-nilai karakter siswa SMP Hafiz1. Asnil Aidah Ritonga1. Sakholid Nasution1 Universitas Islam Negeri Sumatera Utara. Indonesia Article Info ABSTRACT Article history: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi budaya religius dalam menanamkan nilai-nilai karakter religius pada siswa di SMP Alam Al Aiman Tuntungan. Latar belakang penelitian ini adalah pentingnya pembentukan karakter siswa melalui pembiasaan kegiatan keagamaan di lingkungan sekolah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan angket. Informan terdiri dari kepala sekolah, guru, dan siswa yang dipilih secara purposif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan budaya religius yang meliputi sholat duha berjamaah, kegiatan QiroAoah AlQurAoan dan Hadist, serta penerapan budaya adab secara konsisten mampu membentuk nilai-nilai karakter seperti kedisiplinan, kepercayaan diri, ketenangan jiwa, tanggung jawab, dan sikap hormat kepada guru dan orang tua. Temuan ini diperkuat oleh data angket yang menunjukkan mayoritas siswa berada pada kategori AubaikAy hingga Ausangat baikAy dalam aspek karakter religius. Dengan demikian, implementasi budaya religius di sekolah terbukti berkontribusi positif dalam pembentukan karakter siswa yang berakhlak mulia dan religius. Received Apr 20th, 2025 Revised May 24th, 2025 Accepted Jul 5th, 2025 Keyword: Budaya Religius. Karakter Religius. Pembiasaan Ibadah. Al-QurAoan dan Hadist. Adab Islami. A 2025 The Authors. Published by IICET. This is an open access article under the CC BY-NC-SA license . ttps://creativecommons. org/licenses/by-nc-sa/4. Corresponding Author: Hafiz. Universitas Islam Negeri Sumatera Utara. Indonesia Email: mhafiz0331233040@uinsu. Pendahuluan Pendidikan dalam Islam memandang penting peran keluarga sebagai fondasi awal pembentukan karakter anak. Salah satu konsep yang sering dikutip adalah ungkapan ulama Syaikh Shaleh al-Fauzan dalam kitab Makaanul MarAoati fil Islam, yakni AuAl-Ummu Madrosatul UlaAy yang berarti "ibu adalah madrasah pertama. " Ungkapan ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter dimulai dari rumah, karena anak pertama kali belajar dan meniru dari ibunya (Mulasi, 2. Islam juga menekankan pentingnya adab sebagai bagian utama dalam proses Ungkapan Arab AuAl-Adabu Fauqol IlmiAy yang berarti "adab lebih tinggi daripada ilmu" mengisyaratkan bahwa akhlak mendahului pengetahuan dalam hirarki nilai pendidikan Islam. Sayangnya, dalam praktik pendidikan nasional Indonesia, dimensi adab atau akhlak belum menjadi fokus Kurikulum nasional masih cenderung menekankan aspek kognitif dibandingkan karakter atau budi Akibatnya, terjadi kemerosotan moral yang tampak dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Bahkan sejak masa Presiden Soeharto pada tahun 1975, upaya penanaman nilai-nilai Pancasila melalui program penghayatan dan pengamalan nilai luhur Pancasila telah digagas. Namun dalam praktiknya. Implementasi budaya religius dalam penanaman nilai-nilai karakter siswa SMP penginternalisasian nilai tersebut belum berjalan optimal, terlebih pada era modern saat ini yang sarat dengan tantangan moral generasi muda (Ratnasari & Alrianingrum, 2. Salah satu alternatif strategis untuk mengatasi persoalan tersebut adalah melalui pembiasaan budaya religius di sekolah. Budaya religius merupakan suasana yang diciptakan melalui rutinitas kegiatan keagamaan yang berlangsung secara konsisten dalam jangka panjang, sehingga menumbuhkan kesadaran bersama untuk menjalankan nilai-nilai keagamaan (Nahdiyah, 2. Penerapan budaya religius ini sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab II Pasal 3, yang menegaskan bahwa pendidikan bertujuan membentuk insan yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia, di samping sehat, cakap, kreatif, dan bertanggung jawab. Implementasi budaya religius di sekolah dapat diwujudkan melalui berbagai kegiatan rutin seperti Senyum Salam Sapa . S), saling menghormati dan toleransi, puasa sunnah, shalat duha, tadarus Al-QurAoan, istighosah, dan doa bersama (Fatimah, 2. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud, 2. telah merumuskan 18 nilai karakter utama yang bersumber dari agama. Pancasila, dan budaya, seperti religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, peduli sosial, dan tanggung jawab. Penelitian terdahulu telah membuktikan bahwa penerapan budaya religius berdampak positif terhadap pembentukan akhlak dan kebiasaan ibadah siswa. Fatimah . menemukan bahwa budaya religius di MI Rahmatullah Kota Jambi mampu membina akhlak siswa secara signifikan. Penelitian Nahdiyah et al. di SMP Islam As-Shodiq Bululawang Malang juga menunjukkan bahwa kegiatan religius harian meningkatkan karakter dan kedisiplinan siswa. Penelitian lainnya oleh Yolanda . menyimpulkan bahwa pembiasaan budaya religius membentuk kebiasaan beribadah dan akhlak santun siswa, baik dalam perkataan maupun perbuatan. Hasil observasi peneliti di SMP Alam Al Aiman Tuntungan pada 1 November 2024 mengungkapkan beberapa permasalahan, antara lain: . beberapa siswa menunjukkan karakter yang kurang baik, . kurikulum nasional terkait karakter sudah diterapkan, namun belum seluruh siswa mengimplementasikannya, . sebagian siswa tidak melaksanakan ibadah wajib maupun sunnah di sekolah, . kemampuan membaca Al-QurAoan sebagian siswa masih rendah, dan . masih terdapat siswa yang kurang sopan terhadap guru dan orang yang lebih dewasa. Temuan tersebut menunjukkan adanya kebutuhan mendesak untuk memperkuat pembentukan karakter religius di lingkungan sekolah. Penelitian ini dilakukan untuk menggali secara mendalam bagaimana implementasi budaya religius diterapkan di SMP Alam Al Aiman Tuntungan sebuah sekolah berbasis alam yang memadukan pembelajaran spiritual dan lingkungan terbuka. Penelitian ini berbeda dari studi terdahulu yang dilakukan di sekolah umum, karena konteks sekolah alam menawarkan pendekatan yang lebih integratif dan aplikatif dalam membentuk karakter siswa secara holistik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan memahami secara mendalam implementasi budaya religius dalam kehidupan sehari-hari siswa melalui pembiasaan ibadah sunnah . eperti shalat duh. , kegiatan QiroAoah Al-QurAoan dan Hadist, serta penanaman budaya adab. Dengan fokus pada tiga aspek tersebut, penelitian ini diharapkan memberikan gambaran konkret mengenai kontribusi budaya religius terhadap penguatan karakter religius siswa, khususnya dalam hal tanggung jawab, disiplin, kejujuran, dan sikap hormat terhadap Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian lapangan . ield researc. yang bertujuan untuk memahami secara mendalam implementasi budaya religius dalam menanamkan nilai-nilai karakter pada siswa di SMP Alam Ayman Tuntungan. Pendekatan ini dipilih karena memungkinkan peneliti menggali makna aktivitas sosial secara alamiah dalam konteks nyata. Lokasi penelitian berada di sekolah alam terbuka yang mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dan adab ke dalam keseharian siswa, baik di lingkungan kelas maupun di luar kelas. Penelitian dilaksanakan sejak observasi awal pada tanggal 9 September 2024 hingga akhir pengumpulan data pada bulan November 2024. Subjek penelitian dipilih menggunakan teknik purposive sampling dengan mempertimbangkan keterlibatan langsung dalam aktivitas keagamaan sekolah. Informan terdiri dari kepala sekolah, dua guru pendidikan agama Islam, dan lima siswa dari berbagai jenjang kelas yang aktif mengikuti kegiatan religius. Data dikumpulkan melalui empat teknik utama: observasi partisipatif, wawancara semi-terstruktur, dokumentasi, dan angket. Observasi difokuskan pada kegiatan seperti shalat duha berjamaah, qiroAoah Al-QurAoan dan Hadist, serta pembiasaan budaya adab seperti memberi salam dan bersikap sopan terhadap guru. Wawancara dilakukan untuk menggali persepsi dan pengalaman informan terkait penerapan budaya religius. Angket disebarkan untuk memperoleh data tambahan tentang persepsi siswa terhadap nilai-nilai karakter yang Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/j-edu Jurnal EDUCATIO (Jurnal Pendidikan Indonesi. Hafiz. M et al Vol. No. 1, 2025, pp. Analisis data dilakukan dengan mengikuti model interaktif Miles dan Huberman, yang mencakup proses reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan triangulasi sumber . ntara siswa, guru, dan kepala sekola. serta triangulasi metode . ntara observasi, wawancara, dokumentasi, dan angke. Langkah ini bertujuan memastikan bahwa data yang diperoleh konsisten dan dapat Hasil dan Pembahasan Penerapan Ibadah Sunnah dalam Menanamkan Nilai-Nilai Karakter Siswa Pelaksanaan budaya religius di SMP Alam Ayman merupakan respon strategis terhadap kemerosotan akhlak siswa pasca pandemi Covid-19. Sejak tahun 2022, pihak sekolah secara konsisten menerapkan kegiatan keagamaan harian guna membentengi siswa dari pengaruh negatif media digital. Berdasarkan wawancara dengan Ustadz FH, guru PAI, diperoleh informasi bahwa: AuSaya memilih budaya religius karena sejak wabah Covid-19, akhlak siswa mengalami penurunan. Kami ingin agar siswa memiliki akhlak baik dan tidak terpengaruh oleh tontonan negatif di HP android, maka kami terapkan budaya religius secara intensif agar menjadi pembiasaan yang mendarah daging. Ay Program ini dilakukan melalui kolaborasi antara guru dan orang tua, sebagaimana dijelaskan: AuKami membentuk grup WhatsApp antara guru dan orang tua untuk memantau kegiatan siswa, sekaligus menggunakan buku religius yang dinilai oleh orang tua di rumah. Ay Kegiatan utama dalam ibadah sunnah meliputi: shalat dhuha berjamaah setiap pukul 09. 00 WIB, dzikir bersama, tasbih, tahmid, tahlil, takbir, dan doa bersama. Setelah itu dilanjutkan pembacaan Al-Qur'an dan evaluasi bacaan oleh guru. Dalam observasi, ditemukan bahwa sebagian siswa belum fokus selama dzikir, namun guru memberikan arahan secara bijak. Aktivitas Tabel 1. Observasi Pelaksanaan Ibadah Sunnah Hasil Observasi Tindakan Guru Shalat Dhuha Dilaksanakan rutin, siswa cukup antusias Dzikir dan Doa Sebagian siswa kurang fokus Pembacaan Al-Qur'an Dibaca bergantian, guru menyimak Menjadi imam, memberi pengarahan Ditegur secara bijak Koreksi bacaan, motivasi siswa Hasil angket kepada 10 siswa menunjukkan bahwa 6 siswa berada dalam kategori "Sangat Baik", dan 4 siswa dalam kategori "Baik". Wawancara dengan siswa seperti Raisyah Az-Zahra. Saskia Damanik, dan Rafy Sujiwu mengindikasikan bahwa kegiatan sholat dhuha membawa dampak spiritual positif, seperti ketenangan, peningkatan keimanan, dan perubahan sikap. Tabel 2. Koding dan Tema Kode Keterangan Pelaksanaan Sholat Dhuha Dzikir dan Doa Bersama Koreksi Bacaan Al-Qur'an Pengawasan dan Teguran Kolaborasi dengan Orang Tua Tema Utama Pembiasaan Ibadah Harian Penguatan Spiritualitas Perbaikan Kompetensi Religius Peran Guru dalam Pembinaan Karakter Sinergi Sekolah dan Rumah Pembiasaan Ibadah Harian Pelaksanaan sholat dhuha di SMP Alam Ayman dilakukan secara rutin setiap pagi pukul 09. 00 WIB dan menjadi agenda utama dalam budaya religius sekolah. Kegiatan ini bukan sekadar rutinitas, tetapi dirancang menjadi bentuk pembiasaan ibadah harian yang konsisten. Dengan menjadikan sholat dhuha sebagai aktivitas awal sebelum pembelajaran, sekolah menciptakan atmosfer spiritual yang menenangkan dan mempersiapkan siswa secara mental serta emosional (Mushollin. , 2024. Taubah. , 2024. Zahra. , & Sofa. Berdasarkan wawancara dengan siswa, banyak yang menyatakan bahwa shalat dhuha membuat mereka lebih tenang, fokus belajar, dan semangat. Ini sejalan dengan nilai karakter yang ingin ditanamkan: ketenangan jiwa, disiplin, serta kesadaran spiritual. Dalam perspektif pendidikan Islam, sholat dhuha juga memiliki keutamaan dalam membentuk kebiasaan ibadah sukarela . sebagai penguat iman(Mursid. , 2023. Hosna. ,2025. Applebaum. , 2. Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/j-edu Implementasi budaya religius dalam penanaman nilai-nilai karakter siswa SMP Penguatan Spiritualitas Setelah sholat dhuha, siswa diajak untuk berdzikir dan berdoa bersama yang dipandu oleh guru. Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran spiritual dan refleksi diri. Dalam proses ini, siswa membaca istighfar, tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir secara berulang, diakhiri dengan doa yang dipanjatkan secara Dzikir berfungsi sebagai bentuk tazkiyah al-nafs . ensucian jiw. yang memperkuat hubungan siswa dengan Allah SWT. Dari hasil observasi dan wawancara, banyak siswa merasakan bahwa dzikir membuat hati mereka lebih lapang dan tenang. Hal ini sejalan dengan QS. Ar-RaAodu ayat 28 yang menyatakan Auhanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram. Ay Dengan demikian, dzikir bukan sekadar bacaan rutin, melainkan proses internalisasi nilai spiritual secara emosional (Zakiyah. , 2023. Abidin. , & Sirojuddin. Perbaikan Kompetensi Religius Setelah dzikir dan doa, siswa membaca Al-QurAoan di hadapan guru yang bertugas menyimak dan mengoreksi Aktivitas ini bukan hanya menanamkan keberanian tampil, tetapi juga meningkatkan kemampuan membaca Al-QurAoan dengan baik dan benar . artil dan tajwi. Beberapa siswa mengaku bahwa mereka sebelumnya kurang lancar membaca Al-QurAoan, tetapi setelah mengikuti kegiatan ini secara rutin, mereka merasa lebih percaya diri dan memahami tajwid lebih baik. Guru berperan sebagai mentor sekaligus evaluator, memperkuat aspek kompetensi religius siswa yang sebelumnya kurang berkembang. Ini menunjukkan bahwa pembiasaan membaca Al-QurAoan secara terstruktur mampu membangun kualitas ibadah dan kecintaan terhadap kitab suci (Mursyida. , et. , 2. Peran Guru dalam Pembinaan Karakter Peran guru dalam kegiatan ibadah tidak hanya sebagai pemimpin ritual, tetapi juga sebagai pembina Guru memberikan teguran dengan cara yang bijak kepada siswa yang bercanda atau kurang serius saat dzikir dan doa. Teguran ini bersifat edukatif, bukan represif, serta dilakukan dengan pendekatan personal. Kehadiran guru sebagai model keteladanan . swah hasana. sangat penting dalam proses pembinaan karakter. Guru menjadi figur yang dihormati sekaligus pengarah moral siswa(Rahim. , 2. Keberhasilan kegiatan ini sangat dipengaruhi oleh konsistensi guru dalam mengingatkan, mengarahkan, dan memberikan motivasi spiritual kepada siswa. Sinergi Sekolah dan Rumah Salah satu keunikan implementasi budaya religius di SMP Alam Ayman adalah keterlibatan orang tua secara Melalui grup WhatsApp dan buku kontrol religius, orang tua ikut memantau dan menilai kegiatan ibadah anak di rumah. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi juga harus didukung dari rumah. Sinergi ini memperluas cakupan pembinaan karakter religius dari ruang kelas ke lingkungan keluarga (Rohman. Anak-anak yang mendapatkan penguatan nilai di rumah cenderung menunjukkan konsistensi dan penginternalisasian nilai religius yang lebih baik (Saputra, , & Tunnafia. Model ini sesuai dengan konsep Auintegrasi tripusat pendidikanAy . ekolah, keluarga, masyaraka. dalam teori pendidikan Islam. Hal ini menunjukkan bahwa implementasi ibadah sunnah di SMP Alam Ayman bukan hanya kegiatan ritual keagamaan, melainkan pendekatan sistematis dalam pendidikan karakter berbasis nilai-nilai Islam. Dari pembiasaan ibadah, penguatan spiritual, perbaikan kompetensi, keteladanan guru, hingga kolaborasi dengan orang tua, seluruh aspek dirancang untuk menciptakan siswa yang religius, berakhlak, dan siap menjadi pribadi unggul secara spiritual dan sosial. Penerapan QiroAoah Al-QurAoan dan Hadist dalam Menanamkan Nilai-Nilai Karakter QiroAoah Al-QurAoan dan Hadist merupakan pilar utama pembentukan karakter religius siswa di SMP Alam Ayman. Kegiatan ini dilakukan setiap hari antara Maghrib dan Isya, dan secara khusus pada hari Jumat terdapat pembacaan surat Yasin dan Al-Kahfi. Kegiatan Tabel 3. Observasi Pelaksanaan QiroAoah Al-QurAoan dan Hadist Hasil Observasi Tindakan Guru Koreksi Pembiasaan Qiro'ah Yasin dan Al-Kahfi Rutin setiap Jumat pagi dan malam Pembacaan Hadist setelah Siswa dan Guru membimbing dan memberikan Dzuhur menjelaskan hadist Qiro'ah Al-Qur'an Harian Siswa membaca bergantian Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/j-edu Jurnal EDUCATIO (Jurnal Pendidikan Indonesi. Hafiz. M et al Vol. No. 1, 2025, pp. Pelaksanaan kegiatan QiroAoah Al-QurAoan dan Hadist di SMP Alam Ayman terbagi dalam tiga kegiatan utama yang berjalan secara terstruktur dan rutin, yaitu qiroAoah harian, pembacaan surat Yasin dan Al-Kahfi setiap Jumat, serta pembacaan hadist setelah salat Dzuhur. Kegiatan qiroAoah harian dilakukan dengan cara siswa membaca Al-QurAoan secara bergantian, masing-masing membacakan tiga hingga lima ayat. Guru berperan penting dalam membimbing dan mengoreksi bacaan siswa, terutama terkait dengan hukum tajwid dan adab Aktivitas ini bukan hanya meningkatkan keterampilan membaca Al-QurAoan, tetapi juga menanamkan keberanian tampil dan membangun kedisiplinan spiritual siswa (Ahsanulkhaq, 2019. Lutfiah & Kurniawan, 2. Sementara itu, kegiatan qiroAoah Yasin dan Al-Kahfi yang dilaksanakan setiap Jumat menjadi bagian dari penguatan pembiasaan ibadah mingguan. Surat-surat tersebut tidak hanya dibaca tetapi juga dihafalkan, dengan bimbingan dan penguatan makna oleh guru. Hafalan dan pembacaan berulang ini memperkuat penghayatan spiritual siswa terhadap nilai-nilai QurAoani yang mendalam (Nasution, 2. Adapun kegiatan pembacaan hadist setelah salat Dzuhur bertujuan untuk menumbuhkan kecintaan siswa kepada Rasulullah SAW dan menanamkan karakter profetik dalam kehidupan sehari-hari. Siswa bergiliran membacakan hadist beserta artinya, lalu menjelaskan makna yang terkandung di dalamnya di hadapan temantemannya. Aktivitas ini bukan hanya mengasah keterampilan berbicara di depan umum, tetapi juga menanamkan nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, dan rasa percaya diri (Hamka et al. , 2013. Wijayanti et al. , 2. Guru memainkan peran sentral dalam membimbing pemahaman siswa terhadap makna hadist dan menanamkan sikap santun saat menyampaikannya. Hal ini sejalan dengan pendapat HalimatussaAodiah dan Napitupulu . bahwa pembiasaan kegiatan religius yang konsisten dapat memperkuat karakter religius dan kompetensi sosial peserta didik. Dengan demikian, seluruh rangkaian kegiatan qiroAoah ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana peningkatan kompetensi membaca teks keagamaan, tetapi juga sebagai instrumen internalisasi nilai-nilai karakter Islami secara efektif di lingkungan sekolah. Kode Keterangan K10 Tabel 4. Koding dan Tema: Tema Utama QiroAoah Harian Hafalan Yasin dan Al-Kahfi Pembacaan Hadist Kedisiplinan dan Persiapan Siswa Cinta Rasul dan Akhlak Terpuji Literasi QurAoani dan Penguatan Ruhani Rutinitas Ibadah dan Penguatan Hafalan Keteladanan Rasulullah dan Public Speaking Tanggung Jawab dan Kemandirian Penanaman Nilai-nilai Profetik Penerapan Budaya Adab dalam Menanamkan Nilai-Nilai Karakter Budaya adab diterapkan sejak tahun 2020 dengan tujuan membentuk sikap santun, hormat, dan rendah hati. Praktik adab dilakukan setiap pagi dan sore dengan salam, sapa, dan mencium tangan guru. Tabel 5. Observasi Pelaksanaan Budaya Adab Kegiatan Hasil Observasi Tindakan Guru Salam dan bersalaman pagi Siswa cukup antusias dan konsisten Guru Salam dan sapa di luar Masih ada siswa yang abai Guru mengingatkan secara rutin Budaya dalam Meningkat signifikan menurut pengamatan Diberi teladan dan nasihat rutin Penerapan budaya adab di SMP Alam Ayman dilakukan melalui pembiasaan sikap-sikap santun dalam interaksi sehari-hari siswa dengan guru dan sesama teman. Salah satu bentuk nyata dari pembiasaan ini adalah kegiatan salam dan bersalaman yang dilakukan setiap pagi. Observasi menunjukkan bahwa siswa cukup antusias dan konsisten dalam mengucapkan salam serta mencium tangan guru ketika tiba di sekolah. Guru memberikan teladan dengan menyambut siswa dengan senyum dan sikap ramah, menciptakan suasana yang mendukung tumbuhnya nilai-nilai penghormatan (Ahsanulkhaq, 2. Namun, dalam konteks di luar sekolah, seperti di jalan atau area umum, masih ditemukan beberapa siswa yang kurang konsisten dalam menerapkan salam dan sapa kepada guru. Untuk itu, guru secara rutin mengingatkan dan menanamkan kesadaran bahwa budaya adab tidak hanya terbatas pada ruang sekolah, tetapi juga harus dibawa ke dalam kehidupan sehari-hari (MaAomur, 2011. Rahmah, 2. Selain itu, peningkatan dalam penggunaan bahasa yang santun dan sopan dalam komunikasi juga menjadi fokus budaya adab ini. Menurut pengamatan guru, terjadi peningkatan signifikan dalam kesopanan berbicara Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/j-edu Implementasi budaya religius dalam penanaman nilai-nilai karakter siswa SMP siswa, baik dalam kelas maupun di lingkungan luar kelas. Guru memberikan nasihat secara rutin dan menjadi teladan dalam penggunaan bahasa yang baik kepada siswa. Melalui pembiasaan ini, siswa mulai menunjukkan sikap rendah hati, menghargai lawan bicara, dan menghindari penggunaan kata-kata kasar. Pembentukan karakter melalui praktik adab seperti ini sangat relevan dengan hadis Nabi Muhammad SAW yang menyatakan bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia (HR. Al-Baihaqi. No. Pendidikan adab seperti ini penting tidak hanya sebagai bentuk penghormatan sosial, tetapi juga sebagai sarana internalisasi nilainilai agama dalam perilaku siswa (Muslimah, 2016. Wiguna. Darlis, & Adawiah, 2. Kode K11 K12 K13 K14 K15 Tabel 6. Koding dan Tema: Keterangan Tema Utama Mengucap salam dan sapa Penghormatan dan Pembiasaan Islami Sopan santun kepada guru dan teman Akhlak Mulia dan Kelembutan Perilaku Interaksi sosial berbasis adab Pembentukan Etika Sosial Kebiasaan di luar sekolah Konsistensi Nilai dalam Konteks Nonformal Teladan guru dalam bersikap Internalisasi Melalui Keteladanan Penerapan budaya adab di SMP Alam Ayman diturunkan ke dalam lima kode utama yang mencerminkan praktik dan nilai-nilai pembentukan karakter siswa secara islami. Kode K11 berkaitan dengan kebiasaan mengucap salam dan sapa, yang mencerminkan nilai penghormatan sekaligus menjadi bentuk pembiasaan islami yang berakar dari ajaran Rasulullah SAW. Pembiasaan salam ini juga menjadi sarana memperkuat ukhuwah dan membangun suasana sekolah yang damai dan penuh kasih (Muslimah, 2. Kode K12, yaitu sopan santun kepada guru dan teman, menekankan pentingnya akhlak mulia dalam interaksi harian siswa, sesuai dengan hadis Rasulullah bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia (HR. Al-Baihaqi. No. Sopan santun ini tidak hanya berupa gestur fisik, seperti mencium tangan guru, tetapi juga terwujud dalam tutur kata dan sikap yang lembut dalam berbicara. Kode K13 mengarah pada interaksi sosial berbasis adab, yang menunjukkan upaya sekolah dalam membentuk etika sosial siswa sejak dini. Siswa dilatih untuk memperhatikan perasaan orang lain, tidak merendahkan, serta menjunjung nilai-nilai kesantunan dalam berkomunikasi. Nilai ini penting sebagai modal sosial dalam kehidupan masyarakat (Rahmah, 2. Selanjutnya, kode K14 menyoroti konsistensi perilaku siswa di luar sekolah. Ini menjadi bukti bahwa budaya adab yang ditanamkan tidak hanya berlaku dalam ruang lingkup formal sekolah, tetapi juga membawa dampak pada kehidupan sehari-hari siswa di masyarakat. Terakhir, kode K15 menunjukkan bahwa guru berperan sentral sebagai teladan akhlak. Internalisasi nilai adab dalam diri siswa berlangsung secara efektif melalui keteladanan perilaku guru, sebagaimana ditegaskan oleh Ahsanulkhaq . bahwa pembentukan karakter efektif ketika guru konsisten menjadi contoh dalam perilaku dan ucapan. Dengan demikian, keseluruhan koding ini menunjukkan bahwa pendidikan adab bukan sekadar rutinitas simbolik, tetapi menjadi proses sistematis dalam pembentukan karakter yang utuh dan Berdasarkan hasil triangulasi data dari wawancara, observasi, angket, dan dokumentasi, penerapan budaya religius di SMP Alam Ayman terbukti menjadi strategi yang efektif dalam menanamkan nilai-nilai karakter religius siswa. Tiga pilar utama budaya religius yang terdiri dari ibadah sunnah. QiroAoah Al-QurAoan dan Hadist, serta pembiasaan adab berkontribusi pada pembentukan nilai tanggung jawab, disiplin, sopan santun, percaya diri, dan ketenangan batin. Kegiatan ini bukan hanya bersifat ritual, tetapi menjadi instrumen pembentukan karakter secara menyeluruh dan berkesinambungan. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa implementasi budaya religius di SMP Alam Ayman melalui kegiatan shalat dhuha berjamaah. QiroAoah Al-QurAoan dan Hadist, serta pembiasaan budaya adab memberikan dampak positif yang signifikan terhadap pembentukan karakter religius siswa. Pelaksanaan ibadah seperti shalat dhuha yang disertai dzikir dan doa bersama mampu menumbuhkan ketenangan batin, kedisiplinan, dan kedekatan spiritual siswa dengan Allah Swt. Kegiatan QiroAoah yang dilaksanakan secara rutin, termasuk pembacaan Surah Yasin dan Al-Kahfi, berhasil meningkatkan keberanian, keterampilan membaca AlQurAoan, serta kecintaan terhadap kitab suci. Sementara itu, pembacaan hadist secara bergiliran mendorong rasa tanggung jawab dan kepercayaan diri siswa dalam menyampaikan nilai-nilai kebaikan. Pembiasaan adab seperti memberi salam, mencium tangan guru, serta bersikap sopan dan ramah juga terbukti efektif dalam menumbuhkan akhlak mulia dan sikap hormat terhadap sesama. Secara keseluruhan, hasil observasi, wawancara, dan data kuesioner menunjukkan bahwa ketiga aspek budaya religius tersebut tidak hanya berperan Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/j-edu Hafiz. M et al Jurnal EDUCATIO (Jurnal Pendidikan Indonesi. Vol. No. 1, 2025, pp. sebagai rutinitas keagamaan, tetapi telah menjadi instrumen pendidikan karakter Islam yang terintegrasi dan berkelanjutan dalam membentuk generasi beriman, berakhlak, dan bertanggung jawab. References