Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 MAKAN BERGIZI GRATIS : STRATEGI KEBIJAKAN PUBLIK MENUJU GENERASI EMAS INDONESIA 2045 Marselina Nango. Budi Purwoko. Muffarihul Hazim. Karwanto Universitas Negeri Surabaya 24010845152@mhs. id, budipurwoko@unesa. muffarihulhazim@unesa. id, karwanto@unesa. Abstract The Free Nutritious Meal Program is a government strategy to improve the quality of Indonesian human resources by fulfilling nutrition for vulnerable groups, namely pregnant women, children under five years old (Balit. and school children. From a public policy perspective, the program reflects a serious commitment of President Prabowo's government to improve Indonesian human resource, health, welfare and productivity. Economically, the program not only has a great potential to encourage the increase of productivity of Indonesian, but also presents some serious challenges such as financing and fiscal sustainability. This research was conducted using the literature review method. This method is a scientific research method where research data is obtained from various reading sources such as books, journals, scientific articles. The method helps researcher to examine various previous research results which are relevant and related to the research topic being worked on. The aims of the research are to analyze so called chronic nutrition and stunting as major challenges to superior Indonesian human resource. and to criticize the program designed to respond to the chronic nutrition and stunting problem. The research results reveal the program is not only beneficial in terms of meeting the nutritional needs of vulnerable groups, but also has a close correlation of improving the quality of human resources, productivity of the Indonesian people as well as inclusive economic Keywords: free nutritious food. human resources. public policy PENDAHULUAN Pembangunan sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang unggul merupakan kunci bagi kemajuan bangsa Indonesia. Menyadari pentingnya pembangunan SDM ini, maka pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menempatkan pembangunan SDM sebagai prioritas utama dalam mewujudkan visi Indonesia Emas yaitu Indonesia maju, mandiri, dan berkeadilan pada tahun Salah satu program andalan yang dirancang untuk mendukung terwujudnya Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 agenda visi Indonesia emas ini adalah kebijakan program Makan Bergizi Gratis (MBG), (Purnomo et al. , 2. Kualitas SDM yang unggul ditandai oleh individu yang sehat, cerdas, dan produktif. Prasyarat untuk menghasilkan individu yang unggul atau berkualitas ini ialah terpenuhinya kebutuhan nutrisi masyarakat, khususnya kalangan generasi muda. Akan tetapi SDM unggul yang dicita-citakan sebagai pilar utama terwujudnya Indonesi Emas . aju, mandiri, berkeadila. masih menghadapi banyak kendala atau tantangan yang membutuhkan perhatian serius dari berbagai sektor atau elemen masyarakat untuk mencarikan solusinya. Salah satu tantangan serius dalam pembangunan SDM yang unggul menuju Indonesia Emas ialah gizi kronis yang mengakibatkan stunting. Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita yang ditandai dengan tinggi badan yang lebih pendek dari standar usianya. Kondisi ini antara lain disebabkan oleh kekurangan gizi kronis atau kurangnya asupan nutrisi yang mencukupi selama masa kehamilan dan setelah kelahiran, terutama selama 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Stunting dapat menyebabkan gangguan pada perkembangan otak, metabolisme tubuh, dan pertumbuhan fisik, serta meningkatkan risiko penyakit kronis di masa depan. Data Kementerian Kesehatan menyebutkan 3,8% anak balita Indonesia mengalami gizi kronis. Hal ini berarti masih ada jutaan anak Indonesia berpotensi mengalami hambatan pertumbuhan dan perkembangan. Situasi ini memerlukan kebijakan terobosan untuk memastikan pemenuhan gizi masyarakat Indonesia, terutama gizi anak-anak Indonesia yang merupakan generasi penerus bangsa. Salah satu kebijakan terobosan yang diusung oleh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam menghadapi persoalan gizi buruk dan stunting di Indonesia adalah Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kebijakan ini dipandang sebagai langkah strategis dalam mewujudkan sumber daya manusia (SDM) yang unggul, dengan memastikan terpenuhinya kebutuhan gizi masyarakat secara baik dan berkualitas. Pemenuhan gizi yang optimal menjadi kunci utama dalam membentuk individu yang sehat, produktif, dan kompetitif di masa depan. Eddy Cahyono Sugiarto . menyatakan bahwa kebijakan MBG tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan nutrisi masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti ibu hamil dan menyusui, balita, serta anak-anak sekolah di jenjang PAUD. SD. SMP, hingga SMA/SMK. Lebih dari itu, program ini memiliki keterkaitan erat dengan peningkatan kualitas SDM Indonesia secara Selain sebagai upaya peningkatan kesehatan masyarakat. MBG juga berperan dalam mendorong pemberdayaan ekonomi inklusif melalui penguatan sektor usaha lokal dan mempercepat perputaran uang di daerah. Dengan demikian, kebijakan MBG memiliki dimensi strategis yang tidak hanya menyentuh aspek kesehatan, tetapi juga berkontribusi pada pembangunan ekonomi dan sosial yang berkelanjutan. Program ini diharapkan dapat menjadi Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 fondasi penting dalam menyongsong Indonesia Emas 2045, di mana kualitas manusia menjadi pilar utama kemajuan bangsa. Implementasi kebijakan MBG di berbagai daerah di Indonesia masih menghadapi berbagai kendala atau tantangan yang dapat menghambat efektivitas pelaksanaan kebijakan program ini. Kendala-kendala itu antara lain keterbatasan infrastruktur, kurangnya tenaga kerja terlatih, lemahnya pengawasan, transparansi anggaran, dan lain-lain. Kendala ini membutuhkan perhatian serius dan solusi konkrit dari pemerintah serta berbagai elemen masyarakat terkait demi memastikan keberhasilan kebijakan program MBG (Fatimah et al. , 2. Penelitian ini bertujuan mendalami urgensi Sumber Daya Manusia unggul, permasalahan gizi kronis dan stunting sebagai tantangan akan kebutuhan SDM unggul, serta kebijakan publik MBG untuk merespon permasalahan gizi kronis dan stunting demi terwujudnya Indonesia Emas. II. PEMBAHASAN Kajian Teoritis Kebutuhan Indonesia akan Sumber Daya Manausia Unggul Pembangunan Sumber Daya Manusia unggul merupakan kunci bagi kemajuan suatu bangsa. Hal ini disebabkan SDM yang sehat dan produktif merupakan aset strategis dalam mendukung pembangunan bangsa. Berdasarkan keyakinan ini, maka pembangunan Sumber Daya Manusia Indonesia yang unggul diyakini sebagai fondasi utama untuk mewujudkan Indonesia Emas. Bertumpuh pada generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan produktif, maka Indonesia diyakini akan mampu mencapai lompatan besar dalam berbagai bidang pembangunan dan daya saing global. Sumber Daya Manusia Indonesia yang unggul dilihat sebagai aset utama pembangunan bangsa Indonesia. Sumber Daya Manusia unggul mencakup kemampuan, keterampilan, dan kompetensi individu masyarakat Indonesia untuk berkontribusi secara optimal terhadap pembangunan ekonomi, sosial, budaya, politik, keamanan, sain dan teknologi bangsa Indonesia. Todaro & Smith . menjelaskan bahwa dalam konteks pembangunan nasional, sumber daya manusia unggul atau berkualitas memainkan peran penting dalam meningkatkan produktivitas dan inovasi yang berkontribusi secara langsung dan signifikan pada pembangunan bangsa secara berkelanjutan. Pembangunan SDM unggul yang berfokus pada pendidikan, kesehatan dan keterampilan kerja merupakan pilar utama menciptakan masyarakat yang kompetitif pada level global. Sumber Daya Manusia yang memiliki kondisi fisik dan mental prima dapat berkontribusi secara optimal dalam berbagai sektor pembangunan yang memerlukan individu-individu tangguh dan produktif (Reni Saptati, 2. Porter . mengaskan bahwa daya saing suatu bangsa sangat Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 bergantung pada kemampuan Sumber Daya Manusia yang dimilikinya. Studi yang dilakukan World Health Organization (WHO, 2. menunjukkan bahwa masyarakat dengan tingkat kesehatan dan pendidikan tinggi memiliki kapasitas lebih baik untuk berpartisipasi dalam pembangunan negara, baik melalui kontribusi langsung maupun tidak langsung dalam berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Menyadari pentingnya peranan strategis Sumber Daya Manusia dalam pembangunan bangsa ini, maka Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menempatkan pembangunan sumber daya manusia sebagai prioritas pembangunan nasional mengingat Sumber Daya Manusia berkualitas merupakan kunci utama kemajuan bangsa Indonesia. Visi Indonesia Emas yaitu Indonesia maju, mandiri, berkeadilan hanya bisa terwujud pada tahun 2045 apabila Indonesia memiliki sumber daya manusia yang kompeten dan mampu bersaing di tingkat global. Dengan kata lain pembangunan Sumber Daya Manusia Indonesia unggul merupakan fondasi utama untuk mencapai Indonesia yang maju, mandiri, dan berkeadilan (Eddy Cahyono Sugiarto, 2025. Aris Satridjo, 2. Kesuksesan membangun Sumber Daya Manusia Indonesia unggul ini hanya bisa terwujud bila melibatkan seluruh sektor atau elemen masyarakat Indonesia, terutama pemerintah, sekolah dan perguruan tinggi. Dengan kata lain, pembangunan Sumber Daya Manusia Indonesia unggul membutuhkan dukungan kolaborasi multisektoral untuk memastikan bahwa tataran implementasi pembangunan SDM Indoneia unggul berjalan sebagaimana yang diharapkan, mengingat pembangunan generasi muda Indonesia yang lebih sehat, cerdas, dan produktif merupakan investasi penting untuk masa depan bangsa dan negara Indonesia yang lebih maju, kompetitif, mandiri dan adil. Stunting Sebagai Tantangan Pembangunan Sumber Daya Manusia Unggul Salah satu tantangan serius dalam pengembangan Sumber Daya Manusia Indonesia yang unggul masalah gizi kronis . yang mengakibatkan stanting. Alasannya ialah masalah gizi kronis dan stanting berdampak negatif pada pertumbuhan dan perkembangan fisik, emosional, kecerdasan dan keterampilal Hal ini akan berpengaruh langsung terhadap rendahnya kualitas dan produktivitas generasi penerus Indonesia (Eddy Cahyono Sugiarto, 2. Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita yang ditandai dengan tinggi badan lebih pendek dari standar usia anak. Kondisi dimana seorang anak tidak bisa bertumbuh secara sehat dan normal. Terjadinya gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak dalam jangka panjang. Perkembangan anak yang mengalami stunting biasanya terlambat secara signifikan. Sementara di sisi lain, anak yang sehat umumnya tidak mengalami keterlambatan perkembangan meski perawakannya pendek. Gejala atau ciri-ciri anak stunting umumnya bisa Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 terlihat saat anak berusia 2 tahun. Bila tinggi anak pada usia ini lebih pendek dari pada tinggi badan anak seusianya, berat badan tidak meningkat secara konsisten, tahap perkembangan fisik dan mental terlambat bila dibandingkan anak seusianya, tidak aktif bermain, sering malas, mudah terserang penyakit, terutama infeksi. Data BPS . menunjukkan bahwa prevalensi stunting bervariasi antar wilayah dengan angka tertinggi masih ditemukan di provinsi-provinsi kawasan timur Indonesia, seperti Nusa Tenggara Timur dan Papua. Ketimpangan infrastruktur, rendahnya literasi gizi, dan akses pelayanan kesehatan yang terbatas menjadi penyebab utama kesenjangan ini. Bila masalah ini tidak segara ditangani akan memperdalam ketimpangan pembangunan nasional. Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022 dan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023, mengungkapkan angka prevalensi stunting di Indonesia masih berada di sekitar 21,6%. Data Badan Pusat Statistik (BPS, 2. mengungkapkan bahwa sekitar 21,6% anak-anak Indonesia mengalami stunting. Beradasarkan data BPS ini, maka pemerintah kemudian menjadikan isu stunting sebagai indikator kunci dalam evaluasi pembangunan kesehatan nasional. Hal ini berdampak negatif terhadap perkembangan kognitif dan produktivitas anak dalam jangka panjang. Stunting merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang serius di Indonesia. Berdasarkan data SSGI dan BPS di atas, maka dapat dipastikan bahwa sekitar 3 dari 10 anak anak Indonesia mengalami gangguan pertumbuhan yang berdampak langsung pada kualitas hidupnya di masa depan. Data ini juga mencerminkan adanya ketimpangan akses terhadap gizi, air bersih, sanitasi, dan layanan kesehatan yang memadai. Oleh karena itu, stunting masih menjadi masalah yang harus segera ditangani. Meva Nareza T . dan Reni Saptati . mengatakan bahwa stunting bisa disebabkan oleh kekurangan gizi kronis atau kurangnya asupan nutrisi yang mencukupi selama masa kehamilan dan setelah kelahiran, terutama selama 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) anak. Meski demikian, anak yang tinggi badannya di bawah rata-rata belum tentu mengalami kekurangan gizi, sebab tinggi badan dapat dipengaruhi oleh faktor genetik. Bila kedua orang tua anak berpostur tubuh pendek, anak juga bisa jadi memiliki kondisi yang sama dengan ongtuanya. Eddy Cahyono Sugiarto . menjelaskan bahwa stunting disebabkan oleh berbagai faktor yang saling terkait, mulai dari kurangnya asupan gizi ibu selama kehamilan, praktik pemberian makan bayi yang kurang tepat, hingga sanitasi dan lingkungan tempat tinggal yang tidak bersih. Ketidaktahuan orang tua terhadap gizi seimbang serta rendahnya daya beli masyarakat terhadap makanan bergizi juga turut memperparah kondisi ini, khususnya di wilayah pedesaan dan daerah tertinggal. Berdasarkan uraian di atas maka dapat dikatakan bahwa penyebab utama Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 stunting adalah malnutrisi kronis dalam jangka panjang. Beberapa kondisi yang bisa menyebabkan anak kekurangan nutrisi antara lain: ibu mengalami malnutrisi atau terserang infeksi selama hamil, anak tidak mendapatkan asi, kualitas gizi asi yang kurang, anak menderita penyakit yang menghalangi penyerapan nutrisi, anak menderita infeksi kronis, seperti tuberkulosis atau cacingan, dan anak memiliki penyakit bawaan seperti penyakit jantung bawaan. Stunting dapat menyebabkan gangguan pada perkembangan otak, metabolisme tubuh, dan pertumbuhan fisik, serta meningkatkan risiko penyakit kronis anak pada masa depan. Anak-anak yang mengalami stunting cenderung memiliki perkembangan otak yang terhambat, sehingga berisiko mengalami gangguan kognitif seperti rendahnya daya ingat, lambat dalam memahami informasi, dan prestasi akademik yang buruk. Hasil studi WHO dan UNICEF . menunjukkan bahwa stunting dapat menurunkan Intelligence Quotient (IQ) anak sebesar 5Ae11 poin dibandingkan anak-anak yang tumbuh normal. Gangguan kognitif akibat stunting tentu akan berdampak pada proses belajar anak. Anak-anak stunting lebih sering mengalami kesulitan dalam mengikuti pelajaran, partisipasi aktif di kelas rendah, serta meningkatnya risiko putus sekolah. Dalam jangka panjang, kondisi ini menyebabkan penurunan kualitas lulusan pendidikan dasar dan menengah, sehingga berdampak sistemik terhadap kualitas tenaga kerja Indonesia. Menurut World Bank . , stunting tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga memiliki efek ekonomi makro. Anak-anak yang mengalami stunting berpotensi memiliki produktivitas rendah ketika dewasa, baik dari segi kemampuan kerja maupun penghasilan. Stunting dapat menyebabkan kerugian ekonomi sebesar 2Ae3% dari Produk Domestik Bruto (PDB) suatu negara setiap tahunnya karena rendahnya potensi sumber daya manusia. Kebijakan Strategis Makanan Bergizi Gratis Menyadari bahwa gizi kronis dan stunting berdapak sangat signifikan terhadap kualitas dan produktivitas manusia, maka persoalan gizi kronis dan stunting memerlukan kebijakan terobosan untuk memastikan pemenuhan nutrisi di seluruh lapisan masyarakat, terutama di kalangan anak-anak sebagai generasi penerus bangsa. Merespon masalah gizi kronis dan stunting ini, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto telah meluncurkan kebijakan program Makan Bergizi Gratis sebagai strategis nasional untuk mengatasi persoalan gizi kronis dan Kebijakan program Makan Bergizi Gratis merupakan program inisiatif strategis yang sangat penting bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia melalui penyediaan makanan bergizi bagi kelompok rentan terutama ibu hamil dan menyusui. anak-anak sekolah PAUD. SD. SMP. SMA/SMK Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 (Eddy Cahyono Sugiarto, 2025. Reni Saptati, 2. Kebijakan program Makan Bergizi Gratis ini merupakan janji utama Prabowo Subianto dalam kampanye pemimlihan presiden 2024. Janji kampanye ini menunjukkan komitmen dan keseriusan Prabowo menangani masalah gizi dan stunting di Indonesia. MBG tidak hanya sekedar program, tetapi juga bagian dari visi besar untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (Alali. Gagasan tentang kebijakan program Makan Bergizi Gratis (MBG) ini dicetuskan Presiden Prabowo Subianto sejak tahun 2006. Ide awalnya hanya sebatas pada pemberian susu gratis untuk anak-anak sekolah sebagai langkah awal meningkatkan asupan gizi. Konsep MBG ini pada awalnya dikenal dengan nama AuRevolusi PutihAy dengan fokus utamanya menangulangi masalah kualitas gizi anak untuk mencegah dan menurunkan angka stunting di kalangan generasi muda Indonesia. Terkait Revolusi Putih ini. Presiden Prabowo Subianto menegaskan pentingnya pemenuhan kebutuhan gizi dasar bagi anak-anak sekolah yang sedang dalam masa pertumbuhan (Alali. Eddy Cahyono Sugiarto, 2. Seiring berkembangnya waktu, gagasan tentang program Pemberi Susu Gratis berevolusi menjadi program Makan Siang Bergizi yang lebih Dalam kampanye Pilpres 2024. Prabowo mengintegrasikan konsep ini ke dalam rencana aksi Makan Bergizi Gratis untuk menjawab tantangan gizi Kebijakan ini diharapkan dapat menciptakan generasi sehat dan produktif bagi masa depan Indonesia (Alali, 2025. Aris Sarjito. Setelah dilantik menjadi Presiden Republik Indonesia pada 6 Januari 2025. Program Makan Bergizi Gratis diajakan sebagai salah satu program strategis nasional untuk mendukung salah satu dari delapan misi Asta Cita 2024-2029, yaitu memperkuat pembangunan Sumber Daya Manusia. Dengan masuknya MBG ke dalam prioritas program strategis nasional periode 2025-2029, maka program ini diharapkan dapat memberikan dampak signifikan terhadap kesehatan masyarakat dan kualitas sumber daya manusia. Keberhasilan program ini dipastikan tidak hanya akan berdampak pada kesehatan fisik generasi penerus tetapi juga perkembangan sosial dan karakter. Kebijakan program Makan Bergizi Gratis berkomitmen dalam beberapa aspek penting yaitu: Pertama, meningkatkan gizi anak melalui penyediaan makanan bergizi di sekolah. Aspek ini bermaksud memastikan bahwa anak-anak menerima nutrisi yang cukup selama masa pertumbuhan mereka. Kedua, pemberian makanan bergizi kepada ibu hamil dan menyusui. Hal ini disebabkan kesehatan ibu sangat berpengaruh terhadap perkembangan janin dan bayi. Ketiga, memberdayakan ekonomi lokal dengan melibatkan Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM). Disini, kebijakan MBG tidak hanya mendukung kesehatan masyarakat tetapi juga mendorong perekonomian lokal melalui pemanfaatan sumber pangan domestik (Eddy Cahyono Sugiarto, 2025. Reni Saptati, 2. Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 Kebijakan program MBG memiliki beberapa tujuan yaitu mengatasi masalah gizi kronis dan stunting di Indonesia, mendukung tumbuh kembang anakanak Indonesia yang sehat secara fisik dan mental, dan meningkatkan kualitas pendidikan di tanah air. Dengan kata lain, kebijakan program MBG tidak hanya untuk memenuhi asupan gizi anak-anak, tetapi juga mendorong partisipasi sekolah, mengurangi angka putus sekolah, dan membentuk kebiasaan makan sehat sejak dini (Eddy Cahyono Sugiarto, 2. Secara spesifik. Alali . Aris Sarjito . mengatakan bahwa kebijakan program MBG memiliki tiga tujuan utama yaitu: Perama, menurunkan stunting pada anak-anak sebagai generasi penerus bangsa yang sehat secara fisik dan mental. Kedua, meningkatkan kesehatan ibu hamil dan menyusui. Ketiga, memastikan gizi yang baik untuk calon generasi masa depan. dan keempat, menggerakkan ekonomi masyarakat karena program ini dapat melibatkan Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam penyediaan makanan bergizi. Sasaran dari kebijakan program Makan Bergizi Gratis ialah kelompok rentan yang paling membutuhkan yaitu ibu hamil dan menyusui, balita, anak-anak Program ini diharapkan dapat menjangkau hingga 15 juta orang pada akhir tahun 2025. Implementasi yang tepat dari program ini akan menjadi kunci keberhasilan dalam mencapai tujuan jangka panjang demi memperbaiki kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan status gizi secara keseluruhan (Ralali. Metodologi Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kepustakaan atau literatur review. Metode ini digunakan untuk menganalisa, berdiskusi dan mengabungkan temuan dari berbagai penelitian sebelumnya yang relevan dengan topik penelitian yang dibahas. Dengan kata lain, metode penelitian ini dipakai karena memungkinkan peneliti mengumpulkan banyak data dan menganalisanya dari berbagai sumber yang relevan dan terpercaya tanpa harus turun langsung ke Selanjutnya, metode penelitian ini dapat memberi kontribusi pemikiran ilmiah terkait tema penelitian, yaitu Makan Bergizi Gratis: Strategi Kebijakan Publik Menuju Generasi Emas Indonesia 2045. Mirzaqon. T, dan Purwoko . mengartikan metode penelitian pustaka merupakan suatu metode penelitian ilmiah dimana data penelitian dikumpulkan dari berbagai bacaan seperti dokumen, buku, majalah, kisah-kisah sejarah. Sugiyono . dan Sarwono . mengartikan penelitian pustaka adalah suatu bentuk penelitian ilmiah dimana data penelitian diambil dari berbagai buku referensi serta hasil penelitian sebelumnya yang dipandang berguna, relevan dan berkaitan erat dengan tema penelitian yang sedang didalami. Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 Penelitian ini dilakukan dengan mengikuti 5 . langkah sebagaimana terlihat pada diagram 1 di bawah ini. Langkah 2: Pengumpulan Data Penelitian yang Relevan Lewat Google Langkah 1: Menetapkan Judul Penelitian Langkah 5: Membuat Usul Saran Kesimpulan Langah 3: Seleksi & Membaca Bahan bacaan yang Relevanl Langkah ke 4: Analisa Data Penelitian Diagram 1: Langkah-langkah Penelitian Pustaka Langkah 1: Menetapkan judul penelitian. Judul penelitian ditetapkan setelah peneliti membaca sejumlah artikel terkait tema penelitian. Langkah 2: Pengumpulan data . Pada tahap ini peneliti melakukan pengumpulan data penelitian secara luas dan intensif terkait tema penelitian. Pengumpulan data pada dasarnya dilakukan melalui browsing . dengan menggunakan perangkat lunak web browser. Browsing merupakan strategi orientasi informasi yang bisa membantu peneliti menemukan data penelitian yang relevan terutama dari perpustakaan digital. Langkah 3: Seleksi atas bahan bacaan. Pada tahap ini, peneliti membaca dan melakukan seleksi atas bahan bacaan . urnal, buku, artikel ilmia. yang dipandang bermutu dan layak dibaca untuk memperdalam tema penelitian. Pada tahap awal, bahan bacaan dibaca secara cepat dengan menangkap sinopsis . dari isi setiap bahan bacaan. Setelah itu peneliti memisahkan bahan bacaan yang kurang bermutu dan tidak perlu dibaca kembali secara detail dari bahan bacaan bermutu yang perlu dibaca secara detail Langkah 4: Analisa data. Pada tahap ini, peneliti berupaya mengolah dan menafsirkan data atau informasi dari berbagai sumber bacaan untuk menjawab tujuan penelitian. Proses analisa data penelitian mencakup identifikasi, seleksi, ekstraksi, dan sintesa data yang berguna, relevan dan Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 berkaitan erat dengan tema penelitian. Setelah itu peneliti memberi interpretasi . terhadap data penelitian dalam bingkai konsep atau pemikiran teoritis tetentu. Langkah 5: Pengambilan kesimpulan. Pada tahap ini, peneliti mengintegrasikan temuan dari berbagai sumber literatur untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam, mengambil kesimpulan serta memberikan rekomendasi tertentu yang dipandang bermanfaat (Snyder, 2. Hasil Penelitian dan Diskusi Dampak Positif Kebijakan Makan Bergizi Gratis Penelitian dan kajian ilmiah yang dikalukan oleh berbagai institusi dan para pakar menunjukkan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) memiliki dampak positif dan signifikan terhadap peningkatan status kesehatan kelompok rentan yaitu ibu hamil, anak balita dan anak sekolah. Kemenkes Republik Indonesia . mengatakan bahwa intervensi kebijakan publik Makan Bergizi Gratis mampu mengurangi prevalensi stunting, anemia, ddan lain-lain. Indonesia. Program Makan Bergizi Gratis yaitu Makanan Tambahan (PMT) bagi ibu hamil dan anak balita sudah cukup lama dilaksanakan, dan terbukti mampu meningkatkan status gizi ibu serta berat badan bayi yang lahir. Program ini berdampak sangat positif terhadap kesehatan dan penurunan angka malnutrisi Eddy Cahyono Sugiarto . dan Alali . menjelaskan bahwa kebijakan program MBG tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan nutrisi masyarakat, khususnya anak-anak dan ibu hamil, tetapi juga memiliki korelasi erat dengan peningkatan kualitas SDM Indonesia, pemberdayaan dan pertumbuhan ekonomi inklusif, serta perputaran uang daerah. Makan Bergizi Gratis selain diharapkan meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan fisik anak, tetapi juga mengurangi risiko penyakit. memberi nutrisi yang baik berkaitan dengan peningkatan kemampuan kognitif dan perilaku sosial anak dan membuat anak lebih siap dalam proses belajar. Program Makan Bergizi Gratis berpotensi membawa perubahan signifikan dalam kualitas hidup generasi mendatang. Gizi yang baik memiliki kaitan erat dengan peningkatan produktivitas individu. Individu yang memiliki status gizi baik cenderung lebih sehat, memiliki daya tahan tubuh yang kuat, dan mampu mencapai potensi kerja optimal. Sebaliknya kekurangan gizi dapat mengurangi produktivitas manusia. WHO . mencatat bahwa kekurangan gizi dapat menurunkan produktivitas kerja hingga 10% akibat rendahnya energi dan penurunan kemampuan kognitif. Di lingkungan pendidikan, gizi anak sekolah yang baik dapat meningkatkan kemampuan belajar dan performa akademik siswa. Jadi investasi pada program gizi bukan hanya berdampak pada kesehatan individu, tetapi juga pada penguatan kapasitas SDM sebagai aset nasional. Berbagai ahli gizi dan pakar kesehatan masyarakat juga menilai positif Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 kebijakan Makan Gizi Gratis. Hardinsyah. Guru Besar Ilmu Gizi Institut Pertanian Bogor (IPB) mengatakan: AuProgram Makan Bergizi Gratis berpotensi besar menurunkan angka malnutrisi dan stunting jika dilaksanakan dengan standar gizi yang tepat dan pengawasan yang ketat. Pemberian makan bergizi secara terstruktur di sekolah dapat memastikan anak-anak mendapatkan asupan seimbang, terutama bagi anak sekolah yang berasal dari keluarga kurang mampuAy. Selain itu. Hardinsyah, pakar gizi dari Universitas Indonesia dalam sebuah seminar nasional gizi 2024 mengungkapkan: AuKebijakan makan bergizi gratis dapat mempercepat penurunan angka stunting jika diimplementasikan dengan pengawasan yang Asupan gizi yang memadai pada anak usia sekolah berkorelasi langsung dengan daya konsentrasi dan prestasi belajar. Ini adalah investasi jangka panjang negara terhadap kualitas manusianyaAy. Berdasarkan uraian di atas maka dapat dikatakan bahwa program Makan Bergizi Gratis merupakan bagian dari strategi multisektoral dalam mengatasi gizi Program ini dapat mengatasi masalah stunting, meningkatkan kualitas pendidikan, dan memperkuat sumber daya manusia, meningkatkan kesehatan ibu dan anak serta memberdayakan ekonomi lokal dengan melibatkan Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM). Melihat dampak positif dari program MBG ini, maka sangat penting untuk diperhatikan variasi menu yang disesuaikan dengan kebutuhan gizi ibu hamil, anak balita dan anak sekolah pada setiap jenjang usia dan pendidikan, serta mempertimbangkan kearifan lokal dalam hal penyediaan bahan pangan. Tantangan Implementasi Kebijakan Makan Bergizi Gratis Aris Sarjito . mengatakan implementasi kebijakan Presiden Prabowo Subianto tentang Makan Bergizi Gratis di Indonesia menghadapi berbagai kendala struktural dan teknis yang dapat menghambat efektivitas pelaksanaan program dan kebijakan ini. Kendala-kendala itu antara lain: Pertama, terkait penerapannya di sekolah. Keterbatasan infrastruktur dapur sekolah, terutama di wilayah terpencil dan tertinggal. Banyak sekolah belum memiliki fasilitas memadai untuk memasak, menyimpan, dan mendistribusikan makanan dalam jumlah besar secara higienis. Kondisi ini memaksa pelaksanaan program MBG bergantung pada penyedia eksternal yang mungkin tidak terlalu memperhatikan terstandar kualitasnya. Akibatnya, keberlanjutan dan pemerataan layanan Makan Bergizi Gratis menjadi sulit diwujudkan secara nasional. Kedua, kurangnya tenaga kerja terlatih. Kurangnya tenaga kerja terlatih dalam penyediaan makanan sehat juga bisa menjadi tantangan serius. Kebutuhan Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 akan juru masak yang memahami standar gizi dan kebersihan belum sepenuhnya terpenuhi, terutama di daerah dengan sumber daya manusia yang rendah atau Tanpa pelatihan untuk menghasilkan tenaga kerja terlatih, maka risikonya ialah penyajian makanan sulit untuk memenuhi standar gizi dan Hal ini bertentangan dengan tujuan utama program ini yaitu meningkatkan status gizi kempok rentan termasuk siswa di sekolah. Ketiga, lemahnya pengawasan. Pengawasan yang lemah dalam hal distribusi bahan makanan turut memperburuk kualitas pelaksanaan program MBG di lapangan. Bahan makanan yang dikirim dari pusat bisa mengalami kerusakan, keterlambatan, atau bahkan pengurangan volume sebelum sampai ke sekolah. Tanpa sistem kontrol yang efektif, penyimpangan bahan makanan seperti ini sulit dideteksi dan sering luput dari sanksi. Pengawasan yang lemah membuka peluang terjadinya praktik korupsi dan manipulasi data di berbagai level pelaksanaan. Keempat, transparansi anggaran. Pengalaman dari Program Makanan Tambahan (PMT) yang dikaji oleh SMERU Research Institute . menunjukkan bahwa masalah transparansi anggaran menjadi penghambat utama keberhasilan program MPT. Tidak adanya sistem pelaporan keuangan yang terbuka dan mudah diakses masyarakat mengakibatkan pengelolaan dana rawan Ketidakkonsistenan kualitas bahan makanan dalam PMT menunjukkan bahwa standar pengadaan dan pengawasan mutu perlu dirancang lebih ketat dalam program serupa. Secara singkat boleh dikatakan bahwa pelaksanaan program MBG menghadapi beberapa kendala yang dapat memengaruhi efisiensi dan efektivitas pelaksanaanya demi mencapai tujuan dari MBG itu sendiri. Beberapa kendala utama antara lain kelancaran distruibusi bahan makanan. infrastruktur, lemahnya pengawasan, dan masalah transparansi anggaran. PENUTUP Kesimpulan Pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia yang unggul merupakan kunci bagi kemajuan bangsa Indonesia. Meskipun demikian, kesuksesan membangun Sumber Daya Manusia Indonesia unggul hanya dapat terwujud bila melibatkan seluruh sektor atau elemen masyarakat Indonesia, terutama pemerintah pusat, pemerintah daerah, sekolah dan masyarakat lokal. Pembangunan Sumber Daya Manusia Indonesia unggul membutuhkan dukungan kolaborasi multisektoral untuk memastikan bahwa tataran implementasi pembangunan SDM Indoneia unggul berjalan sebagaimana yang diharapkan. Salah satu tantangan serius dalam pengembangan Sumber Daya Manusia Indonesia unggul ialah masalah gizi kronis . yang mengakibatkan stunting serta berbagai dampak negatif stunting terhadap pertumbuhan dan perkembangan Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 fisik, emosional, kecerdasan dan keterampilan anak, serta rendahnya kualitas dan produktivitas generasi penerus Indonesia dalam jangka panjang. Stunting tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga memiliki efek ekonomi makro. Anakanak yang mengalami stunting berpotensi memiliki produktivitas rendah ketika menjadi dewasa. Sadar bahwa masalah gizi kronis dan stunting memiliki dampak negatif dan signifikan terhadap kualitas dan produktivitas manusia Indonesia, maka persoalan gizi kronis dan stunting perlu segera diatasi. Untuk hal ini. Presiden Prabowo Subianto telah meluncurkan kebijakan program Makan Bergizi Gratis sebagai kebijakan strategis nasional mengatasi persoalan gizi kronis dan stunting, meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Program Makan Bergizi Gratis terutama diperuntukan bagi kelompok rentan yaitu ibu hamil dan menyusi, balita, anak-anak sekolah. Implementasi kebijakan Presiden Prabowo Subianto tentang Makan Bergizi Gratis masih menghadapi sejumlah kendala struktural dan teknis yang dapat menghambat efektivitas pelaksanaan program dan kebijakan ini. Kendalakendala itu antara lain keterbatasan infrastruktur, kekurangan tenaga kerja terlatih, lemahnya pengawasan, serta transparansi anggaran, dan lain lain. Saran Implementasi program MBG masih menghadapi banyak kendala sebagaimana diuraikan di atas. Berdasarkan kendala yang telah diidentifikasi itu, maka peneliti memberikan beberapoa usulan atau saran untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas pelaksanaan program MBG sebagai berikut: Pertama, penguatan tata kelola MBG. Penguatan tata kelola MBG merupakan kunci dalam mengatasi kendala yang dihadapi. Pemerintah pusat perlu menetapkan standar operasional prosedur (SOP) yang jelas terkait pengadaan bahan, distribusi, pengolahan hingga pelaporan. Selain itu, pemanfaatan teknologi digital dalam sistem pelaporan dan pengawasan keuangan bisa meningkatkan transparansi dan memudahkan deteksi dini terhadap penyimpangan. Tata kelola yang baik juga mencakup mekanisme sanksi dan insentif bagi pelaksana program MBG di tingkat daerah dan sekolah. Kedua, perbaikan infrastruktur dan sistem distribusi. Perbaikan infrastruktur dan distribusi bahan makanan merupakan hal yang sangat krusial untuk mencapai hasil yang diharapkan dari program MBG. Keterbatasan infrastruktur dapur sekolah, transportasi, komunikasi terutama di wilayah terpencil dan tertinggal hendaknya segera diatasi sehingga masyarakat dan sekolah dapat memiliki fasilitas memadai untuk memasak, menyimpan, dan mendistribusikan makanan dalam jumlah besar secara higienis. Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 Ketiga, keterlibatan aktif pemerintah daerah dan masyarakat lokal. Implementasi program MBG diyakini bisa berjalan secara lebih akuntabel dan efektif apabila pemerintah pusat mengaktifkan keterlibatan pemerintah daerah dan masyarakat lokal. Pemerintah daerah dapat diberi peran sebagai pengawas sekaligus fasilitator dalam pembangunan infrastruktur dan pelatihan tenaga kerja yang trampil. Komite sekolah dan orang tua siswa bisa dilibatkan dalam proses pemantauan dan evaluasi pelaksanaan kebijakan ini. Partisipasi publik ini mengkibatkan kebijakan MBG tidak hanya menjadi program pemerintah pusat tetapi juga gerakan naional yang dijaga dan diawasi seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Keempat, keterlibatan pelaku ekonomi lokal. Keterlibatan pelaku ekonomi lokal untuk program MBG perlu digerakan. Alasannya ialah keberhasilan program ini sangat ditentukan oleh keterlibatan pelaku ekonomi lokal, khususnya UMKM, sebagai penyedia bahan makanan maupun jasa penyediaan dan pengolahan bahan Melibatkan UMKM tidak hanya memberi efek berganda terhadap perekonomian lokal, tetapi juga memastikan bahwa bahan pangan yang digunakan lebih segar dan sesuai dengan preferensi budaya lokal. Kelima, program MBG sebaiknya diintegrasikan ke dalam perencanaan jangka panjang daerah dan pusat, serta membuka ruang untuk pendanaan Contoh, pemanfaatan dana CSR dari perusahaan di sektor makanan dan pertanian, atau kerja sama dengan LSM yang bergerak di bidang gizi anak. Skema kemitraan publik-swasta ini perlu dirancang dengan prinsip transparansi dan akuntabilitas, sehingga tidak mengurangi integritas program dan tetap mengutamakan kepentingan publik. DAFTAR PUSTAKA