Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. December 2025, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . http://journal. id/index. php/keraton The Balinese Li Ceremony Tradition as Evidence of the Legacy of Animistic Beliefs and Dynamism in the Community of Datar Village. Muaradua District. South Oku Regency . Heryati a,1. Yusinta Tia Rusdiana b,2. Khairul c,3 Universitas Muhammadiyah Palembang. Palembang. Indonesia Universitas Muhammadiyah Palembang. Palembang. Indonesia Universitas Muhammadiyah Palembang. Palembang. Indonesia heryatitoya15@gmail. 2 rusdianatia@yahoo. 3khairul@yahoo. * Corresponding Author. Heryati Received 9 Desember 2025. accepted 16 Desember. published 30 Desember 2025 KEYWORDS ABSTRACT The origin and owner ceremony tradition Li Bali are the property of the tribe Power is taken from the highlands of the mountain areas Seminung / Lake Ranau, then this tradition brought by the power spread of riparian komering in Muaradua to go into the rural areas as well as in the village of Flat . Li Bali ceremony tradition is a tradition or custom series of activities undertaken by the Power to seek peace, and demand protection from spirits who inhabit the forest in time would dilakukanya forest clearing as a farmland. In this study the author uses descriptive qualitative method. This study shows that . Incidence ceremony tradition Li Bali due to the inclusion of tribal power in the village Datar who believe in ancestral spirits, . procession Li Bali consists of four stages, . With the aim of asking for peace, and protection against the spirit of the forest, offerings, spells and public opinion showed evidence of the trust Animism, and black chicken is believed capable of providing peace and can bring sustenance evidence Of the dynamism of confidance. Tradition. Li Bali. Heritage. Trust Animism. Dynamism and Village Flat. This is an openaccess article under the CCAeBY-SA Pendahuluan Menurut Kartodirdjo dalam Arif . 1: . Aumengingatkan bahwa salah satu sarana untuk membangun bangsa adalah melalui pengetahuan sejarah dan kesadaran atas sejarahAy. Dari pendapat di atas penulis berkeinginan untuk mempelajari sejarah mengenai sejarah lokal Sumatra Selatan di kabupaten OKU Selatan kecamatan Muaradua tepatnya di desa Datar. Menurut Widja . 1 : . AuSejarah lokal bisa dikatakan sebagai suatu bentuk penulisan sejarah dalam lingkup yang terbatas yang meliputi suatu lokalitas tertentuAy. Jadi keterbatasan lingkup itu terutama biasanya dikaitkan dengan unsur wilayah . nsur spatia. Ay, dan menurut Abdullah . 5: . Sejarah lokal berarti Ausejarah dari suatu tempat, suatu locality, yang batasnya ditentukan oleh perjanjian yang diajukan penulis seajarah. Batas geografisnya dapat suatu tempat tinggal suku bangsa, yang kini telah mencakup dua-tiga daerah administratif tingkat dua atau tingkat satu . uku bangsa jawa, umpamany. dan dapat pula suatu kota, atau malahan suatu desaAy. Ruang lingkup kajian sejarah lokal menurut Jordan yang dikutip oleh Widja sebagai berikut: Keseluruhan lingkungan sekitar yang bisa berupa kesatuan wilayah seperti desa, kecamatan, kabupaten, kota kecil dan lain kesatuan wilayah seukuran itu beserta unsur-unsur institusi sosial dan budaya yang berada di suatu lingkungan itu seperti: keluarga, pola pemukiman, mobilitas penduduk, kegotong royongan, pasar, teknologi pertanian, lembaga pemerintahan setempat, perkumpulan kesenian, monuman dan lain-lain (Widja, 1991 : . 32585/keraton. pendidikansejarahunivet@gmail. Keraton: Journal of History Education and Culture ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Vol. No. December 2025, pp. Ruang lingkup kajian sejarah lokal sangatlah luas meliputi: kebudayaan, adat istiadat, politik, ekonomi, sosial, tradisi-tradisi, agama dan kepercayaan yang ada dalam suatu wilayah Kabupaten. Kecamatan dan Desa. peneliti membatasi kajianya yang diteliti mengenai suatu tradisi. Sumatra Selatan salah suatu Provinsi yang kaya akan kebudayaan, adat istiadat, kepercayaan dan tradisi, yang tersebar di setiap kabupatan-kabupaten, meliputi: kabupaten Musi Banyu Asin. Ogan Ilir. Ogan Komering Ilir. Muara Enim. OKU Timur, dan kabupaten OKU Selatan. Tentu menjadi suatu kebanggaan bagi masyarakat Sumatra Selatan yang kaya akan kebudayaan, tradisi, adat istiadat, dan kepercayaan yang dianut masing-masing pemeluknya dan menjadi kewajiban utama generasi muda untuk dapat melestarikan agar semua ini tidak hilang begitu saja. Berkaitan dengan tradisi akan menjadi pertanyaan apa itu tradisi upacara atau upacara tradisi?, untuk menjawab pertanyaan ini maka dapat dibaca penjelasan Husin . 4: . Auupacara tradisi merupakan tingkah laku resmi yang dibakukan untuk peristiwa-peristiwa yang tidak ditunjukan kepada kegiatan teknis sehari-hari, akan tetapi mempunyai kaitan dengan kepercayaan adanya kekuatan diluar kemampuan manusia . Kekuatan gaib ini dapat berupa kekuatan super natural seperti roh, makhluk-makhluk halus dan kekuatan kekuatan saktiAy. Untuk siapa kebuadayaan dan bagaimana cara mempelajarinya. Ausecara umum dapat dikatakan bahwa kebudayaan adalah warisan sosial yang hanya dapat dimiliki oleh warga masyarakat yang mendukungnya dengan jalan mempelajarinya. Didalamnya terdapat sejumlah norma dan nilai-nilai kehidupan ini dapat dipelajari melalui pendidikan, baik pendidikan formal, maupun pendidikan non formalAy (Husin, 1984: . Ditinjau dari segi historis. Sebelum masuknya agama Hindu-Budha. Islam. Kristen (Khatolik dan Protesta. serta Konghucu. Bangsa Indonesia sudah mengenal suatu kepercayaan yaitu: Animisme dan Dinamisme merupakan kepercayaan asli nenek moyang bangsa Indonesia yang sudah ada sejak zaman prasejarah atau pra-aksara, dua kepercayaan ini sangat berkembang pesat pada zaman megalitikum dan hal yang menarik adalah kepercayaan ini masih berkembang terus menerus hingga saat ini. Pada dasarnya kebudayaan itu mempunyai mempunyai dua segi, tidak dapat dipisahkan satu sama lain, kedua segi tersebut yaitu segi kebendaan dan segi kerohanian, adapun pengertianya menurut Soekmono . 1: . Au. Segi kebendaan, yang meliputi segala benda buatan manusia sebagai perwujudan dari akalnya. Hasil ini dapat diraba, . Segi kerohanian, terdiri atas alam pikiran dan kumpulan perasaan yang tersusun Keduanya tak dapat diraba, hanya penjelmaanya saja dapat dipahami dari keagamaan, kesenian, kemasyarakatan dan sebagainyaAy. Sedangkan menurut Soekmono, 1981 : 76 : Di samping kebudayaan megalithikum prasejarah di negeri kita terdapat pula kebudayaan demikian yang sampai kini masih berlangsung terus. Dari kebudayaan yang masih hidup ini kita peroleh banyak bahan untuk lebih memahami makna dan latar belakang menhir, dolmen, dan lain sebagainya. Dalam pokoknya, hasil-hasil kebudayaan megalitikum itu hubunganya ialah dengan keagamaan yang berkisar kepada pemujaan roh nenek moyang (Soekmono, 1981: . Dari hasil wawancara penulis terhadap salah satu tokoh adat masyarakat di desa Datar mengatakan Li Bali merupakan: Tradisi asli milik orang Daya yang di hususkan untuk mencari perdamaian terhadap roh-roh halus di hutan, di saat akan melakukan pembukaan hutan untuk dijadikan ladang kebun padi, tradisi ini didapatkan dari generasi terdahulu misalnya. Nenek. Kake. Ayah. Ibu, dan tetangga-tetangga dan sebagainya yang mengajarkan, orang-orang dulu percaya dengan melakukan tradisi Li Bali akan mendapat hasil panen yang memuaskan juga terlindung dari ganguan roh-roh halus (Sulaiman wawancara : 2 Nopember 2014 pukul 14 : 00 WIB). Dari penjelasan di atas sudah jelas bahwa perkembangan kepercayaan Animisme dan Dinamisme masih ada di desa Datar dan Suku daya adalah salah satu suku asli kabupaten OKU Selatan. Sejarah lokal dapat memperkenalkan identitas masyarakat setempat dan menumbuhkan cinta terhadap budaya, tradisinya masing-masing dan untuk menumbuhkan rasa Nasionalisme. Heryati. Yusinta Tia Rusdiana. Khairul (The Balinese Li Ceremony Tradition as Evidence of the Legacy of Animistic Beliefs and Dynamism in the Community of Datar Village. Muaradua District. South Oku Regency . ) Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. December 2025, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Metode Penelitian Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode sejarah. Metode sejarah merupakan seperangkat aturan dan prinsip sistematis untuk mengumpulkan sumber-sumber sejarah secara efektif, menilainya secara kritis dan mengajukan sintesis dari hasil-hasil yang dicapai dalam bentuk tertulis (Abdurrahman, 1999: . Jenis penelitian yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Menurut Nazir . 3: . Penelitian deskriptif adalah Ausuatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu objek, suatu kondisi, suatu sistem pemikiran, atau suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifatserta hubungan antar fenomena yang diselidikiAy. Prosedur pengumpulan data mengunakan observasi, wawancara. Teknik analisa data yang digunakan dengan tiga tahapan yaitu: . Reduksi data, . Penyajian data, dan . Penarikan kesimpulan. Pembahasan Latar Belakang Timbulnya Tradisi Upacara Li Bali Sebagai Bukti Peninggalan Kepercayaan Animisme Dan Dinamisme Bagi Masyarakat Desa Datar Kecamatan Muaradua Kabupaten OKU Selatan Tradisi upacara Li Bali suatu tradisi yang menjadi kebiasaan oleh kelompok suku Daya di desa Datar umumnya di kabupaten OKU selatan. Suku Daya merupakan mayoritas suku yang berkembang di desa Datar diantara suku lainya (Jawa. Sunda. Ogan, dan Komerin. Menurut W. Van Royen yang di kutip oleh Hasmen . 0: 6-. mengatakan suku Daya atau Aujelma Daya yang berarti masyarakat yang ulet dan dinamisAy dan dinamis menurut Anwar . 3: . adalah Ausifat atau tabiat yang bertenaga atau berkemampuanAy. Kepercayaan masyarakat yang begitu besar hutan salah satu tempat tinggal roh-roh leluhur maka penting sebelum pembukaan hutan terlebih dahulu melaksanakan ritual tertentu yaitu tradisi upacara Li Bali. Tradisi upacara Li Bali telah melewati proses waktu yang cukup lama dari nenek moyang suku Daya sampai pada saat sekarang sehingga tradisi ini pun dapat saja mengalami perubahan di waktu yang cukup panjang tersebut. Latar belakang munculnya tradisi timbulnya tradisi upacara Li Bali di desa Datar ialah masuk dan berkembangnya suku Daya yang membawa kebiasaan percaya pada roh halus atau roh leluhur secara turun-temurun diyakini keberadaanya dan mengangangap hutan salah satu tempat tinggal roh leluhur, juga mengingat pada awalnya desa Datar merupakan hutan rimba cocok untuk di jadikan lahan pertanian menyebabkan pula semakin berkembangnya masyarakat yang menjalankan tradisi upacara Li Bali. Prosesi Tata Cara Tradisi Upacara Li Bali Sebagai Bukti Peninggalan Kepercayaan Animisme Dan Dinamisme Bagi Masyarakat Desa Datar Kecamatan Muaradua Kabupaten OKU Selatan (Tahun 2007-2. Terdiri dari empat tahapan. Auprosesi tradisi upacara Li Bali terdiri dari empat tahapan yaitu: . menentukan waktu dan tempat penyelenggaraan, . mempersiapkan Pendekahan . , . pelaksanaan Tradisi Upacara Li Bali, dan ke . kegiatan akhir. Untuk lebih jelas akan di jelaskan di bawah ini: Menentukan Waktu Dan Tempat Penyelenggaraan Langkah awal tradisi upacara Li Bali yaitu menentukan waktu dan tempat pelaksanaan. Autradisi upacara Li Bali biasa di laksanakan sebelum hutan di buka dan bertempat di tengah-tengah lahan tersebut, menurut kepercayaan masyarakat terdahulu hingga sekarang waktu penebangan hutan yang baik yaitu sekitaran bulan Mei hingga Juli, dilanjutkan nyuah atau pembakaran bulan September, kemudian nugal atau penanaman padi bulan Oktober, dan yang terakhir nggetas atau panen padi pada bulan MaretAy (Sulaiman wawancara : 7 April 2015 pukul 11 : 00 WIB). Mempersiapkan Pendekahan (Sesaje. Sesajen adalah Aumakanan untuk roh halus yang dipuja atau dihormatiAy (Abdullah, 2007: . , menurut Anwar . 3: . sajen Auadalah Aumakanan, bunga-bungaan dan sebagainya yang disajikan kepada orang halus dan sebagainyaAy. Dari pendapat di atas dapat penulis simpulkan sesajen adalah sajian makanan yang di persembahkan untuk roh-roh halu dan sebagainya. Heryati. Yusinta Tia Rusdiana. Khairul (The Balinese Li Ceremony Tradition as Evidence of the Legacy of Animistic Beliefs and Dynamism in the Community of Datar Village. Muaradua District. South Oku Regency . ) Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. December 2025, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Makna sesajen dalam tradisi upacara Li Bali ialah Ausesajen mempunyai makna dan maksud tersendiri dalam tradisi upacara Li Bali apabila sesajen tidak dapat terpenuhi di takutkan permintaan yang diharapkan tidak akan dipenuhi oleh roh-roh penghuni hutan, terutama ayam hitam syarat utama yang harus disediakan jika tidak ada maka tradisi upacara Li Bali tidak dapat dilangsungkanAy (Sulaiman wawancara : 7 April 2015 pukul 11 : . Tabel 1 Sesajen Tradisi Upacara Li Bali Sesajen Jumlah Lambang/ symbol Cara Penyajian Sisui halom/Ayam 1 Ekor Dilambangkan sebagai hewan mempunyai kekuatan yang mampu memberikan perdamaian antara roh-roh halus dan manusia apabila ayam hitam itu tidak ada maka tradisi Upacara Li Bali tidak bisa dilaksanakan. Ayam disembelih ambil darahnya kemudian campurkan dengan bulu, hati, usus, jantung, patuk, ceker, jeger, dan kulit bagian ini tidak dimasak tapi jangan dibuang nantinya akan disajikan dengan sesajen yang lainya karena diangap ada roh-roh halus yang tidak suka makanan yang Untuk roh halus yang suka dimasak bagian ayam lainya dimasak dengan cara diasapkan sampai kering, tampa dicincang dan tidak boleh dikasih bumbu apapun cukup sesekali percikan air santan kelapa pada saat ayam diasapkan. setelah itu sajiakn ayam dengan sesajen lainya Seqrana ngasan/ untuk makan sirih yaitu: daun sirih, buah pinang, kapur siri,hampelot /gambir 14 Pasang Makanan ini di lambangkan sebagai makanan khusus untuk roh-roh halus Potong buah pinang kecil kecil setelah itu campurkan denagan kapur sirih, dan gambir kemudian letakan di atas daun sirih. Ruku nipah hi tembaku/rokok daun nipah 14 Buah Rokok di lambangkan makanan khusus untuk roh-roh halus laki-laki Tembakau dibungkus dengan daun Siwo halom/ketan Disimbolkan sebagai hubungan yang baik antara roh-roh halus dan Ketan h itam dimasak seperti nasi namun air yang digunakan santan Bulung punti/daun 6 Lembar Sebagai pengganti alas. Daun pisang dipotong segi empat, kemudian letakan sesajen di atasnya. Takerq/takir 14 Buah Sebagai pengganti gelas Daun pisang dibentuk segi empat yang menyerupai mangku kemudian di isi dengan air bersih dan air Keminyan/kemen Bongkah Untuk memanggil rohroh halus pada waktu upacara Li Bali Kemenyan di bakar di atas api dengan cara di iris kecil-kecil Apui/api SecukupNya Sediakan bara api sebagai alat tempat pembakaran kemenyan Heryati. Yusinta Tia Rusdiana. Khairul (The Balinese Li Ceremony Tradition as Evidence of the Legacy of Animistic Beliefs and Dynamism in the Community of Datar Village. Muaradua District. South Oku Regency . ) Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. December 2025, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Wai jalang/ air 7 Takir Selai untuk air minum roh-roh halu, air dilambangkan sumber kehidupan dan kerendahan hati seseorang, dikarenakan air mengalir dari dataran tinggi ke dataran yang lebih rendah. Air bersih ini dimasukan dalam takir kemudian disajikan dengan yang Wai cindana/ air yang dikasih serpihan kayu 7 Takir Air yang dianggap suci yang mampu membersihkan semua peralatan dan perlengkapan . Ambil air bersih kemudian campur dengan serpihan kayu cendana dengan cara dikikis pakai pisau, air cendana di tuangkan kedalam takir, selain disajikan dalam takir air cendana juga digunakan untuk mencuci atau memercikan semua sesajen sehingga semuanya dianggap bersih dan suci Kayu Cendana Secukupnya Dilambangkan sebagai sumber kesucian Kayu cendana dikikis kemudian kikisanya dimasukan ke dalam air. Kelapa 1 buah Kelapa di kupas kemudian diambil Sumber: Ahmad . awancara : 7 April 2015 pukul 17 : 00 WIB) Tugas untuk membuat sesajen di atas dalam tradisi upacara Li Bali biasanya dikerjakan oleh para wanita (Ibu rumah tangg. yang sedang dalamkeadaan suci dari hadast besar maupun hadast kecil, juga tidak sedang menyusi atau datang bulanAy. Pelaksanaan Tradisi Upacara Li Bali Pelaksanaan dilakukan ketika waktu dan tempat, semua . serta keluarga yang bersangkutan sudah terkumpul tradisi upacara Li Bai dapat dilaksanakan dengan dibantu oleh seorang tokoh adat atau orang yang bisa memimpin. Adapun ucapan atau permintaan ditujukan kepada roh leluhur. Auucapan atau permintaan tradisi upacara Li Bali ditujukan untuk Ratu Singgra Alam dan Blibator . enunggu hulu buloran, penunggu hulu tulung, penunggu jambut bergantung, kayu balak, buloran kancing, lambung pematang, dan way lupak-lupak. Permintaan di ucapkan lewat mantra sang tokoh adat dan mantra yang perlu diucapkan menurut Sulaiman sebagai berikut: Assalamualaikum Ratu Singgra Alam si penguaso di lambung bumi hi pitu Blibatormu . enunggu hulu buloran, penunggu hulu tulung, penunggu jambut bergantung, kayu balak, buloran kancing, lambung pematang, hi way lupak-lupa. Sebut 3X Hikam ratong guk dija haga begawi ngguwai usaha ditanoh bumi dija, bekilu dilom hikam begawi tunggu radu tini atmi halangan, sangkutan, badan sehat qrejiki lancer kiluan hikam di niku Ratu Singgra Alam tunggu di Belibatormu. Amon wat pekakas-pekakasan beliau hi blibatormu si bakalan hikam cadang kilu di alihko jak po hikam begawi ngguwai usahasa kantu tini teijak cadang hi pecoh, mon at sengaja hikam ijak henjido tando perdamaian hikam tangguh hikam, hikam guwaiko hidangan sisui halom, siwo halom, sarana ngasan, ruku, wai campah, wai jalang, hi aso kemenyan. Kilu diteqrima lani si hikam hidangko si ngani masak kani siko dimasak, bagi si nganik matah kok hikam siapko, ganta kok qradu hikam siapko kilu diterima. Selain hena hikam bekilu lani si ditanomko tini enduh hena, paqri, kawa, hi laini. Penuh haqrapan hikam haga berhasil sesuai hi usaha si hikam gawiko hasilni pandai hikam qrasako untuk memenuhi kelurga si nyak tanggung. Assalamualaikum Ratu Singgra Alam si penguaso di lambung bumi hi pitu Blibatormu . enunggu hulu buloran, penunggu hulu tulung, penunggu jambut bergantung, kayu balak, buloran kancing, lambung pematang, hi way lupak-lupa. Sebut 3X, walaikumsalam. Tunggu dija pai penyampaian hikam mon wat kesalahan kilu dimaafko. Wasalamualaikum Wr (Sulaiman wawancara, 17 Januari 2015 pukul 11: 00 WIB). Heryati. Yusinta Tia Rusdiana. Khairul (The Balinese Li Ceremony Tradition as Evidence of the Legacy of Animistic Beliefs and Dynamism in the Community of Datar Village. Muaradua District. South Oku Regency . ) Keraton: Journal of History Education and Culture ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Vol. No. December 2025, pp. Artinya : Assalamualaikum Ratu Singgra Alam yang penguasa di atas bumi dan tujuh anak buahmu (Penunggu lembah, penunggu mata air, penunggu hewan sejenis lebah, penunggu kayu besar/hewan sejenis moyet, roh-roh/jin-jin, penungu diatas bukit/hewan sejenis semut, dan air rawa-rawa. Sebut 3X Kami datang kesini mau bekerja membuat usaha di tanah bumi disini, meminta di dalam pekerjaan sampai selesai nanti tidak ada halangan, hambatan, badan sehat rezeki lancar permintaan kami di kamu Ratu Singgra Alam sampai juga pada tujuh anak buahmu. Jika ada peralatan-peralatan beliau dan tujuh anak buahmu yang bakalan kami rusak minta di singkirkan kami bekerja membuat usaha kalu nanti terinjak dan pecah jika tidak sengaja kami terinjak inilah tanda perdamaian kami uacpkan, kami buatkan sajian ayam hitam, ketan hitam, alat-alat sirih, rokok, air putih, air cendana, dan asap Minta diterima apa yang kami sajikan yang makan masak makan yang masak, bagi yang makan mentah sudah kami siapkan, sekarang sudah kami siapkan mohon diterima. Selain itu kami meminta apa yang ditanamkan nanti entah itu, padi, kopi, dan Harapan kami mau berhasil sesuai dengan usaha yang kami kerjakan hasilnya bisa kami rasakan untuk memenuhi kehidupan keluarga yang saya tanggung. Assalamualaikum Ratu Singgra Alam yang penguasa di atas bumi dan tujuh anak buahmu (Penunggu lembah, penunggu mata air, penunggu hewan sejenis lebah, penunggu kayu besar/hewan sejenis moyet, roh-roh/jin-jin, penungu diatas bukit/hewan sejenis semut, dan air rawa-raw. Sebut 3X, walaikum salam. Sampai disini dulu permintaan kami jika ada kesalahan mohon dimaafkan Walaikumsalam Wr. Wb (Sulaiman wawancara: 7 April 2015 pukul 11 : 00 WIB). Kegiatan Akhir Setelah tokoh adat menyampaikan apa yang diminta dan dianggap sudah di kabulkan langkah selanjutya, untuk merayakan hubungan yang baik antara tuan rumah dan roh-roh leluhur sebagai simbolnya dilaksanakan makan bersama dari sesajen yang dibawa, semua sesajen yang dibawa boleh dimakan namun disisakan sedikit untuk roh-roh leluhur, bagian ayam yang tidak dimasak seperti bulu, patuk, usus, jantung, ceker, jeger, kepala dan sebagian kulit dikubur disekitar tempat pelaksanaan tradisi upacara Li Bali. Gambar 1. Daging Ayam Hitam dan Ketan Hitam Sumber : Dokumen Pribadi Penulis Heryati. Yusinta Tia Rusdiana. Khairul (The Balinese Li Ceremony Tradition as Evidence of the Legacy of Animistic Beliefs and Dynamism in the Community of Datar Village. Muaradua District. South Oku Regency . ) Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. December 2025, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Gambar 2. Bulu. Usus. Ceker. Kulit. Darah. Jantung dan Kepala Ayam Hitam Sumber : Dokumen Pribadi Penulis Gambar 3. Empat belas Daun Sirih. Takir, dan Rokok Nipah/ Tembakau. Tujuh Air Bersih, dan Tujuh Air Cendana Sumber : Dokumen Pribadi Penulis Larangan-Larangan Dalam Tradisi Upacara Li Bali Dalam mejalankan tradisi upacara Li Bali terdapat larangan-larangan yang tidak boleh dilakukan sebagaimana yang dikatakan oleh Ahmad berikut: . Semua pendekahan . tradisi upacara Li Bali tidak boleh dilangkah oleh manusia apabila dilangkahi dinggap campah/tawar, tetapi dapat diganti pendekahan . yang baru. Semua pendekahan . tradisi upacara Li Bali setelah dibawa ke hutan tidak boleh dibawa pulang, namun ada sebagian dari pendekahan . yang boleh di makan di hutan tempat pelaksanaan seperti: ayam, ketan hitam, rokok, alat-alat sirih, dan wai jalang/air bersih, tidak boleh dihabiskan tapi dapat ditinggalkan sedikit. Sebelum dan saat tradisi upacara Li Bali berlangsung tidak diperbolehkan berbicara kotor, buang air dan menebang pohon yang besar di dalam hutan yang akan dibuka namun setelahnya diperbolehkan Ahmad . awancara : 7 April 2015 pukul 17 : 00 WIB). Tradisi Upacara Li Bali Sebagai Bukti Peninggalan Kepercayan Animisme Dan Dinamisme Bagi Masyarakat Desa Datar Kecamatan Muaradua Kabupaten OKU Selatan Supaya dapat mengetahui apakah tradisi upacar Li Bali sebagai peninggalan kepercayaan Animisme dan Dinamisme maka perlu diketahui sejarah Animisme dan Dinamisme, pengertian Li Bali, mantra yang di ucapkan, sesajen dan pendapat masyarakat mengenai tradisi upacara Li Bali. Animisme adalah Aukepercayaan pada roh-roh yang mendiami benda-benda: pohon, batu, dan sebagainyaAy (Anwar, 2003: . Animisme adalah Aypaham bahwa semua benda di alam ini mempunyai roh atau jiwaAy (Ridwan dkk, 1999 : . Dinamisme adalah Aukepercayaan bahwa segala sesuatu mempunyai tenaga atau kekuatan yang dapat mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan usaha manusia di mempertahankan hidupAy (Depdikbud, 1998: . Aukepercayaan primitif dimana semua benda mempunyai kekuatan yang bersifat ghaib/kesaktianAy (Ridwan dkk,1999: . Agama yang ada di Indonesia sekarang menurut H. Widodo . 4: 122-. AuIslam. Kristen Protestan. Kristen Khatolik. Budha. Hindu dan Kong HucuAy. Agama Hindu masuk di Indonesia menurut Poesponegoro dan Notosusanto . 4: . yang mengatakan Audari prasasti yang ditemukan di Heryati. Yusinta Tia Rusdiana. Khairul (The Balinese Li Ceremony Tradition as Evidence of the Legacy of Animistic Beliefs and Dynamism in the Community of Datar Village. Muaradua District. South Oku Regency . ) Keraton: Journal of History Education and Culture ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Vol. No. December 2025, pp. Kalimantan Timur itu, yang mula-mula ditemukan hanya sebanyak empat buah yupa saja, tetapi kemudian tiga buah yupa ditemukan lagi. Hurup yang dipahatkan pada yupa itu berasal dari awal abad V MAy. Agama Hindu masuk di Indonesia sekitar abad ke V masehi yang di buktikan dengan penemuan tujuh prasasti yupa di Kalimantan Timur. Menurut Alisjahbana sebelum masuknya pengaruh agama Hindu, di Indonesia sudah mengenal sistem kepercayaan: Bangsa Indonesia sebelum datang kebudayaan India itupun dapat dikatakan mempunyai cara berfikir yang complex, yaitu bersifat keseluruhan dan emosional, yaitu amat dikuasi oleh perasaan. Rapat dengan itu dalam kehidupan masyarakat dan kebudayaan amat penting kedudukan agama. Kepercayaan kepada roh-roh dan tenaga-tenaga yang ghaib meresapi seluruh kehidupan. Pikiran dan perbuatan tertuju bagaimana mendapat bantuan dari roh-roh yang baik dan bagaimana menjauhkan pengaruh roh-roh mengganggu atau menghalangi (Alisjahbana, 1988: . Kepercayaan Animisme dan Dinamisme di atas sangat berkembang pesat pada zaman Megalitikum, zaman Megalitikum menurut Sihombing . 0 : . Aupada zaman ini sudah dikenal adanya sistem gotong royong yang baik dan kepercayaan sudah berkembang pada zaman ini berupa Animisme dan DinamismeAy dan menurut Geldern yang dikutif oleh Achadiati . 1 : . mengatakan zaman Megalitikum berlangsung antara 2500-1000 SM. Autradisi Megalitik Tua yang berumur sekitar 2500 sampai 1500 Sebelum Masehi, dan Megalitik Muda yang berasal dari sekitar 1000 tahun Sebelum MasehiAy. Benarkah tradisi upacara Li Bali sebagai bukti peninggalan kepercayaan Animisme dan untuk hal itu akan penulis bahas di bawah ini: Tradisi Upacara Li Bali Sebagai Bukti Peninggalan Kepercayaan Animisme Bagi Masyarakat Desa Datar Kecamatan Muaradua Kabupaten OKU Selatan (Tahun 2007-2014 Di analisa dari pengertian tradisi upacra Li Bali yang penulis simpulkan sebelumnya, ialah suatu tradisi atau kebiasaan yang dilakukan oleh orang Daya untuk mencari perdamaian dan perlindungan dari roh-roh halus yang mendiami hutan di saat akan dilakukanya pembukaan hutan sebagai tempat lahan Dengan hasil wawancara: Li Bali adalah kegiatan upacara adat yang dilakukan suku daya umumnya di Muaradua dan khusunya masyarakat desa Datar diperuntukan untuk mencari perlindungan dari roh-roh halus penunggu hutan, ketika akan melakukan penebangan hutan yang akan digunakan sebagai tempat ladang kebun pertanian, yang dilakukan secara turun-temurun, orang-orang daya dulu percaya dengan melakukan tradisi Li Bali akan mendapat hasil panen yang memuaskan juga terlindung dari ganguan rohroh halus (Ahmad wawancara : 2 Nopember 2014 pukul 16 : 00 WIB). Dari penjelasan diatas dapat penulis katakan hutan dipercayai oleh masyarakat sebagai salah satu tempat tinggal roh-roh leluhur dan tradisi upacara Li Bali suatu kebiasaan pemujaan terhadap roh-roh leluhur penghuni hutan supaya terlindung dari ganguan roh-roh tersebut. Dengan demikian benarkah tradisi upacara Li Bali sebagai bukti peninggaln kepercayaan Animisme masyarakat desa Datar. Menurut Sulaiman . awancara : 7 April 2015 pukul 11 : 00 WIB) mengatakan Audengan bukti sesajen persembahan dan adanya pemujaan atau permintaan lewat terhadap Ratu Singgra Alam dan Pitu Blibator . enunggu hulu buloran, penunggu hulu tulung, penunggu jambut bergantung, kayu balak, buloran kancing, lambung pematang, dan way lupak-lupa. ini menujukan kepercayaan masyarakat desa Datar terhadap roh-roh leluhur itu masih adaAy. Tradisi upacara Li Bali dibawa oleh suku Daya yang berasal dari gunung seminung namun sejak kapan tradisi ini mulai dijalankan secara pasti belum diketahui. Di lihat dari bukti sajian AuPendekahanAy atau sesajen dan Mantra yang di ucapkan untuk pemujaan terhadap roh-roh leluhur (Ratu Singgra Alam dan Pitu Blibato. Tradisi Upacara Li Bali Sebagai Bukti Peninggalan Kepercayaan Dinamisme Bagi Masyarakat Desa Datar Kecamatan Muaradua Kabupaten OKU Selatan (Tahun 2007-2. Pengertian Dinamisme adalah Aukepercayaan bahwa segala sesuatu mempunyai tenaga atau kekuatan yang dapat mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan usaha manusia di mempertahankan hidupAy (Depdikbud, 1998 : . Jika dilihat dari sesajen yang digunakan dalam prosesi pelaksanaan tradisi Heryati. Yusinta Tia Rusdiana. Khairul (The Balinese Li Ceremony Tradition as Evidence of the Legacy of Animistic Beliefs and Dynamism in the Community of Datar Village. Muaradua District. South Oku Regency . ) Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. December 2025, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . upacara Li Bali. Li Bali tidak hanya mengandung kepercayaan Animisme namun juga mengandung unsur kepercayaan Dinamisme. Di katakan oleh Sulaiman AuAyam hitam dalam tradisi upacara Li Bali adalah hewan yang diyakini masyarakat sebagai hewan yang mampu memberikan perdamaian antara manusia dan roh leluhur, selain itu ayam hitam diyakini mampu dijadikan sebagai alat pengobatan untuk orang sakit, dan kerasukan rohroh jahatAy. dapat penulis katakan tradisi upacara Li Bali adalah sebagai bukti peninggalan kepercayaan Animisme Dan Dinamisme bagi Masyarakat desa Datar kecamatan Muaradua kabupaten OKU Selatan . ahun 2007-2. Serta dianalisa pendapat masyarakat Dusun i (Lungkuk Ungga. desa Datar dari hasil Focus Group Discussion (FGD) yang di laksanakan tanggal 25 April 2015 berupa: . Pandangan masyarakat terhadap ayam hitam adalah hewan peliharaan roh-roh ghaib yang perlu dirawat dan dijaga, warna hitam pada ayam dilambangkan sebagai . esetiaan, keperkasaan dan kekuatan ghai. selain itu ayam hitam dipandang sebagai salah satu alat penghubung antara manusia dan roh-roh leluhur, . Diharuskan menggunakan Ayam hitam dalam tradisi upacara Li Bali karena dianggap salah makanan kesukaan roh ghaib dan sudah menjadi kebiasaan masyarakat secara turun-temurun menggunakan ayam hitam dalam tradisi upacara Li Bali apa bila di ganti di takutkan tradisi ini tidak akan berhasil bahkan bisa saja menyebabkan celaka di saat pembukaan hutaan dilangsungkan atau mungkin panennya tidak berhasil. Kepercayaan masyarakat desa Datar terhadap ayam hitam sangat luas, yang tidak hanya terbatas pada sesajen tradisi upacara Li Bali, ayam hitam digunakan untuk berbagai kepentingan seperti alat pengobatan, menangkal musibah, menolak bala, dan bahkan dianggap mampu mendatangkan rezeki. Pengaruh ayam hitam dalam tradisi upacara Li Bali dan sesajen lainnya dalam masyarakat yang menganggap telah menjalin hubungan baik dengan roh-roh leluhur penghuni hutan dan terhindar dari hal-hal jahat yang tidak Bahwa ayam hitam yang digunakan dalam sesajen tradisi upacara Li Bali salah satu bukti peninggalan kepercayaan Dinamisme karena masyarakat desa Datar menganggap ayam hitam hewan peliharaan roh-roh ghaib yang perlu dirawat dan dijaga sehingga dengan melalui sajian sesajen ayam hitam mampu memberikan perdamaian dan perlindungan. Kesimpulan Latar belakang timbulnya tradisi upacara Li Bali di desa Datar ialah masuk dan berkembangnya suku Daya yang membawa kebiasaan percaya pada roh halus atau roh leluhur secara turun-temurun diyakini keberadaanya dan mengangangap hutan salah satu tempat tinggal roh leluhur, juga mengingat pada awalnya desa Datar merupakan hutan rimba cocok untuk dijadikan lahan pertanian menyebabkan pula semakin berkembangnya masyarakat yang menjalankan tradisi upacara Li Bali. Prosesi tradisi upacara Li Bali terdiri dari empat tahapan: . menentukan waktu dan tempat penyelenggaraan yaitu dilaksanakan sebelum hutan dibuka antara bulan Mei hingga Juli dan bertempat di tengah-tengah lahan yang akan di buka . mempersiapkan Pendekahan . yaitu ayam hitam, daun sirih, buah pinang, kapur sirih, gambir, rokok daun nipah, tembakau, ketan hitam, daun pisang, takir, kemenyan, api, air bersih, air cendana, kayu cendana dan kelapa, . pelaksanaan Tradisi Upacara Li Bali, pelaksanaan tradisi upacara Li bali dilaksanakan apabila waktu dan tempat telah ditentukan serta sesajen sudah dipersiapkan dan dibantu oleh seorang tokoh adat . ukun/pawan. tuan rumah menyampaikan permintaanya terhadap roh leluhur penghuni hutan, dan ke . kegiatan akhir sebagai simbol telah terjalin hubungan damai antara tuan rumah dan roh leluhur maka diadaknya makan bersama sesajen yang dibawa di tepat pelaksanaan tradisi upacara Li Bali. Di lihat dari bukti AupendekahanAy atau sesajen dan Mantra yang diucapkan untuk pemujaan terhadap roh-roh leluhur (Ratu Singgra Alam dan Pitu Blibato. dan pendapat masyarakat desa Datar tradisi upacara Li Bali adalah sebagai bukti peninggalan kepercayaa Animisme bagi masyarakat. Ayam hitam yang digunakan dalam sesajen tradisi upacara Li Bali salah satu bukti peninggalan kepercayaan Dinamisme karena masyarakat desa Datar menganggap ayam hitam hewan peliharaan roh-roh ghaib yang perlu dirawat dan dijaga sehingga dengan melalui sajian sesajen ayam hitam mampu memberikan perdamaian dan perlindungan. Heryati. Yusinta Tia Rusdiana. Khairul (The Balinese Li Ceremony Tradition as Evidence of the Legacy of Animistic Beliefs and Dynamism in the Community of Datar Village. Muaradua District. South Oku Regency . ) Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. December 2025, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . References