Efektivitas Konseling Kelompok Realita untuk Meningkatkan Resiliensi Siswa dari Keluarga Broken Home di SMP EFEKTIVITAS KONSELING KELOMPOK REALITA UNTUK MENINGKATKAN RESILIENSI SISWA DARI KELUARGA BROKEN HOME DI SMP Yunita Dwi Febrianti Bimbingan dan Konseling. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Surabaya Email: yunita. 22057@mhs. Retno Tri Hariastuti Program Studi Bimbingan dan Konseling. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Surabaya retnotri@unesa. Abstrak Siswa yang berasal dari keluarga broken home cenderung menghadapi berbagai tekanan psikologis dan sosial yang dapat memengaruhi kemampuan mereka dalam beradaptasi serta mengelola tantangan kehidupan sehari-hari. Kondisi tersebut menuntut adanya kemampuan resiliensi yang baik agar siswa tetap mampu menjalankan peran akademik dan sosial secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas konseling kelompok realita untuk meningkatkan resiliensi siswa dari keluarga broken home di SMP. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif quasi experimental dengan desain nonequivalent control group design. Subjek penelitian berjumlah 16 siswa yang berasal dari keluarga broken home yang terbagi ke dalam dua kelompok, yaitu 8 siswa kelompok eksperimen dan 8 siswa kelompok kontrol. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan angket untuk mengukur resiliensi siswa yang berasal dari keluarga broken home yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data menggunakan uji Mann-Whitney U Test. Hasil analisis menunjukkan nilai Asymp. Sig. -taile. 0,001 yang artinya <0,05 sehingga Ha diterima dan H0 ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan tingkat resiliensi siswa antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Selain itu, hasil uji N-Gain menunjukkan bahwa peningkatan resiliensi pada kelompok eksperimen berada pada kategori efektif. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa konseling kelompok realita efektif dalam meningkatkan resiliensi siswa dari keluarga broken home. Kata Kunci: resiliensi, siswa, konseling kelompok realita, broken home Abstract Students from broken home families often experience psychological and social challenges that may affect their ability to adapt and manage daily life demands. These conditions are associated with the need for adequate resilience to enable students to perform their academic and social roles effectively. This study aimed to examine the effectiveness of reality group counseling in improving the resilience of junior high school students from broken home families. A quantitative quasi-experimental method with a nonequivalent control group design was employed. The participants consisted of 16 students from broken home families, divided into an experimental group . = . and a control group . = . Data were collected using a validated and reliable resilience questionnaire. Data analysis was conducted using the MannAe Whitney U Test and N-Gain analysis. The results showed a significant difference in resilience levels between the experimental group and the control group, with an Asymp. Sig. -taile. value of 0. < In addition, the N-Gain analysis indicated that the increase in resilience in the experimental group was in the effective category. Therefore, it can be concluded that reality group counseling is effective in enhancing the resilience of students from broken home families. Keywords: resilience, junior high school students, reality group counseling, broken home Efektivitas Konseling kelompok Realita untuk Meningkatkan Resiliensi Siswa dari Keluarga Broken Home di SMP PENDAHULUAN Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama dalam kehidupan individu yang berperan penting dalam mendukung proses tumbuh kembang secara optimal. Dukungan positif yang diberikan keluarga, baik secara emosional maupun sosial, menjadi fondasi bagi terbentuknya pribadi yang matang dan berkepribadian Lingkungan keluarga yang hangat, aman, dan komunikatif mampu membantu anak mengenali serta mengelola emosi, mengembangkan keterampilan sosial, dan memahami nilai-nilai dasar kehidupan sejak dini. Proses ini pada akhirnya menunjang kesiapan anak dalam berinteraksi dengan lingkungan sosial yang lebih luas (Dwistia et al. , 2. Sebaliknya, ketidakharmonisan dalam keluarga, seperti konflik berkepanjangan dan disfungsi peran orang tua, dapat menghambat fungsi keluarga sebagai sumber dukungan utama dan berdampak negatif terhadap kesejahteraan psikososial anak (Suryatin et al. , 2. Kondisi keluarga yang tidak harmonis atau broken home dapat muncul dalam berbagai bentuk, antara lain akibat perceraian atau meninggalnya salah satu orang tua, serta situasi ketika orang tua masih bersama namun kurang hadir secara emosional maupun fisik dalam kehidupan anak. Anak yang tumbuh dalam kondisi tersebut cenderung menghadapi tantangan dalam perkembangan psikososial, seperti kesulitan penyesuaian diri, rendahnya motivasi belajar, hambatan dalam relasi sosial, hingga munculnya perilaku menyimpang di lingkungan sekolah (Anarta et al. , 2. Fenomena broken home semakin relevan untuk dikaji mengingat tingginya angka perceraian di Indonesia. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa sejak tahun 2024 hingga Februari 2025 terdapat 399. 921 kasus perceraian. Di Surabaya sendiri, jumlah putusan perceraian yang tercatat di Pengadilan Agama Surabaya menunjukkan angka yang relatif tinggi dan fluktuatif dari tahun ke tahun, sehingga berpotensi meningkatkan jumlah anak dengan latar belakang keluarga broken home. Kondisi tersebut juga tercermin di lingkungan sekolah. Berdasarkan hasil identifikasi awal melalui penyebaran angket kepada siswa kelas VII dan Vi SMP Negeri 5 Surabaya pada 20 Februari 2025, ditemukan sebanyak 97 siswa memiliki latar belakang keluarga dengan ketidakhadiran salah satu atau kedua orang tua dalam struktur pengasuhan. Dari jumlah tersebut, 49 siswa berasal dari keluarga dengan kondisi cerai hidup, 41 siswa dari keluarga cerai mati, dan 7 siswa dari keluarga dengan salah satu orang tua menikah kembali. Data ini menunjukkan bahwa cukup banyak siswa yang berada dalam kondisi keluarga yang berpotensi menimbulkan tekanan psikologis dan sosial. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kondisi broken home memiliki implikasi negatif terhadap perkembangan anak dan remaja, khususnya pada aspek regulasi emosi, kemampuan bersosialisasi, serta partisipasi dalam aktivitas akademik dan sosial. Masa remaja merupakan fase transisi penting yang ditandai ketidakharmonisan keluarga dapat meningkatkan risiko munculnya permasalahan psikososial (Arafat et al. , 2. Hasil penelitian Khofifah . menunjukkan bahwa siswa dari keluarga broken home dengan resiliensi rendah cenderung menunjukkan perilaku pelanggaran disiplin, kesulitan mengendalikan emosi, dan perilaku agresif. Temuan serupa juga dilaporkan oleh Nida et al. yang menemukan bahwa siswa dari keluarga broken home rentan mengalami stres, menarik diri secara sosial, serta terlibat dalam perilaku negatif seperti membolos dan Hasil wawancara dengan Guru Bimbingan dan Konseling di SMP Negeri 5 Surabaya mengungkapkan bahwa siswa dari keluarga broken home sering menunjukkan kesulitan dalam menjalankan peran sebagai peserta didik. Hal ini tampak dari perilaku membolos, rendahnya kedisiplinan, kurangnya keterlibatan dalam pembelajaran, serta pola interaksi sosial yang kurang Pengamatan selama pelaksanaan Program Surabaya Mengajar juga menunjukkan adanya variasi perilaku adaptif pada siswa broken home. Sebagian siswa mempertahankan keberfungsian diri, namun sebagian lainnya masih mengalami kesulitan dalam mengelola emosi, menjalin relasi sosial, dan memenuhi tuntutan Perbedaan tersebut berkaitan erat dengan tingkat resiliensi yang dimiliki siswa. Resiliensi merupakan kemampuan individu untuk bertahan, menyesuaikan diri, dan bangkit ketika menghadapi tekanan atau kesulitan hidup. Individu dengan resiliensi tinggi cenderung mampu mengelola stres secara adaptif dan tetap berfungsi secara optimal (Southwick et al. , 2. Grotberg . mendefinisikan resiliensi sebagai kapasitas individu untuk menilai, menghadapi, dan menyesuaikan diri terhadap tantangan Reivich dan Shatte . mengemukakan bahwa resiliensi mencakup tujuh aspek utama, yaitu regulasi emosi, optimisme, pengendalian impuls, empati, analisis kausal, efikasi diri, dan reaching out. Sebaliknya, individu dengan resiliensi rendah cenderung pesimis, kurang mampu memecahkan masalah, dan rentan terhadap pengaruh negatif (Oktafryadi, 2. Meskipun demikian, tidak semua remaja dari keluarga broken home menunjukkan dampak negatif. Beberapa di antaranya mampu mengembangkan resiliensi yang baik dan menjadikan pengalaman hidup sebagai sumber Efektivitas Konseling Kelompok Realita untuk Meningkatkan Resiliensi Siswa dari Keluarga Broken Home di SMP pembelajaran untuk berkembang menjadi pribadi yang lebih kuat (Aini et al. , 2. Temuan ini menunjukkan bahwa resiliensi dapat dikembangkan melalui intervensi yang tepat, salah satunya melalui layanan bimbingan dan Konseling kelompok merupakan layanan bimbingan dan konseling yang memanfaatkan dinamika kelompok untuk membantu konseli memahami dan mengatasi permasalahan yang dihadapi. Pendekatan ini efektif dalam membantu siswa mengembangkan keterampilan sosial, mengubah perilaku, serta membangun pola pikir yang lebih konstruktif (Corey, 2. Salah satu pendekatan yang relevan untuk meningkatkan resiliensi adalah konseling realita yang dikembangkan oleh William Glasser. Konseling realita menekankan tanggung jawab pribadi, pengambilan keputusan yang efektif, serta fokus pada kondisi saat ini. Melalui prinsip right, responsibility, dan reality, individu dibantu untuk mengevaluasi perilaku dan mengembangkan pilihan yang lebih adaptif dalam memenuhi kebutuhan hidupnya (Wubbolding, 2. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa konseling kelompok realita berpengaruh positif terhadap peningkatan resiliensi siswa dari keluarga broken home (Khofifah, 2. Namun, kajian yang secara khusus menyoroti penerapan konseling kelompok realita pada siswa tingkat SMP di wilayah Surabaya masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui meningkatkan resiliensi siswa dari keluarga broken home di SMP Negeri 5 Surabaya. Penelitian dimulai dengan pemberian pretest kepada kedua kelompok menggunakan angket resiliensi untuk memperoleh gambaran awal tingkat resiliensi sebelum Selanjutnya diberikan perlakuan kepada kelompok eksperimen berupa layanan konseling kelompok dengan teknik realita menggunakan pendekatan WDEP (Want. Doing. Evaluation. Plannin. Perlakuan dilaksanakan dalam tujuh kali pertemuan dengan fokus berbeda pada setiap pertemuan. Sementara itu, kelompok kontrol tidak mendapatkan perlakuan serupa dan berfungsi sebagai pembanding. Setelah seluruh rangkaian perlakuan selesai, kedua kelompok diberikan posttest menggunakan angket yang sama untuk mengetahui perubahan tingkat resiliensi setelah perlakuan. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji Mann Whitney U Test untuk mengetahui perbedaan tingkat resiliensi antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol setelah perlakuan, serta uji N-gain untuk mengukur efektivitas konseling kelompok realita dalam meningkatkan resiliensi siswa dari keluarga broken home di SMP Negeri 5 Surabaya. HASIL Pengukuran awal . re-tes. dilaksanakan di SMP Negeri 5 Surabaya pada tanggal 9 Desember 2025. Skor pre-test dikategorikan ke dalam tiga tingkat, yaitu rendah, sedang, dan tinggi, berdasarkan nilai rata-rata . dan simpangan baku . tandard deviatio. Hasil pre-test menunjukkan bahwa seluruh subjek penelitian berada pada kategori resiliensi rendah. Kelompok eksperimen memiliki rata-rata skor sebesar 81,25 dengan rentang skor antara 72 hingga 89, sedangkan kelompok kontrol memiliki rata-rata skor sebesar 82,38 dengan rentang skor antara 75 hingga 88. Distribusi skor pre-test kedua kelompok menunjukkan kondisi awal yang relatif setara sebelum diberikan perlakuan. Tabel. 1 Hasil Pre-test Kelompok Eksperimen Nama Nilai Kategori ADL RENDAH BZK RENDAH AAS RENDAH RENDAH HRY RENDAH MAM RENDAH SAP RENDAH AAM RENDAH METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif metode quasi experimental. Rancangan yang digunakan adalah nonequivalent control group design. Desain ini dipilih karena penelitian melibatkan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol yang dipilih tanpa penempatan acak . ithout random assignmen. (Sugiyono,2. Kedua kelompok diberikan pretest dan posttest, namun hanya kelompok eksperimen yang memperoleh perlakuan berupa layanan konseling kelompok realita. Subjek penelitian adalah siswa kelas Vi SMP Negeri 5 Surabaya yang berasal dari keluarga Broken Home dan memiliki Tingkat resliensi rendah. Teknik pengambilan subjek menggunakan purposive sampling dengan kriteria siswa dari keluarga broken home yang memiliki tingkat resiliensi rendah serta kesediaan dan kesiapan siswa untuk mengikuti proses konseling Subjek kemudian dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu kelompok eksperimen . yang diberikan treatment konseling realita dan kelompok kontrol . yang tidak diberikan treatment. Tabel. 2 Hasil Pre-test Kelompok Kontrol Nama Nilai Kategori RRA RENDAH QSJS RENDAH Efektivitas Konseling kelompok Realita untuk Meningkatkan Resiliensi Siswa dari Keluarga Broken Home di SMP Nama NCA RSA BLA KSA GADP NKA Nilai Kategori RENDAH RENDAH RENDAH RENDAH RENDAH RENDAH Perlakuan dalam penelitian ini berupa layanan konseling kelompok realita menggunakan pendekatan WDEP (Want. Doing. Evaluation. Plannin. yang dilaksanakan dalam 7 pertemuan. Setiap pertemuan berlangsung selama 60 menit dengan fokus pada aspekaspek resiliensi yang berbeda. Pelaksanaan konseling kelompok dilakukan melalui empat tahapan utama, yaitu tahap awal, tahap peralihan, tahap kegiatan, dan tahap Pertemuan pertama diarahkan pada pengembangan regulasi emosi dan wants melalui pertanyaan pemantik dan media kartu emosi untuk membantu siswa mengekspresikan perasaan, yang menunjukkan bahwa sebagian besar siswa memiliki kebutuhan akan kasih sayang, perhatian, rasa aman, dan penghargaan yang belum terpenuhi secara optimal. Pertemuan kedua membahas pengendalian impuls dengan mengidentifikasi perilaku spontan saat emosi muncul serta merefleksikan kebutuhan di balik perilaku tersebut. Pertemuan ketiga berfokus pada penguatan self-efficacy melalui cerita metafora dan latihan afirmasi diri, dilanjutkan pertemuan keempat yang menumbuhkan optimisme dengan mengidentifikasi harapan siswa terhadap masa depan meskipun berada dalam kondisi yang sulit. Pertemuan kelima menekankan causal analysis melalui cerita metafora untuk membantu siswa memahami sebab-akibat Pertemuan keenam berfokus pada reaching out dengan mengidentifikasi hambatan dalam meminta bantuan serta menyusun rencana masa depan, sedangkan pertemuan ketujuh mengembangkan empati melalui role play dan cerita metafora. Selama proses konseling, siswa menunjukkan perkembangan positif, ditandai dengan meningkatnya keterlibatan aktif, kemampuan refleksi diri, serta kesadaran bahwa perilaku maladaptif merupakan bentuk pilihan bertahan yang kurang efektif. Melalui tahapan evaluasi dan perencanaan, siswa mulai menyadari konsekuensi perilaku mereka dan mampu merumuskan langkah konkret serta realistis sebagai bentuk tanggung jawab terhadap perubahan perilaku yang diinginkan. Setelah seluruh rangkaian perlakuan selesai, dilakukan pengukuran akhir . ost-tes. menggunakan instrumen yang sama dengan pre-test. Tabel. 3 Perbandingan Peningkatan Kelompok Eksperimen dan Kontrol Kelompok Mean PreMean Post- Peningkatan Eksperimen 81,25 134,25 Kontrol 83,38 100,88 Hasil post-test menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan pada kelompok eksperimen. Kelompok eksperimen memiliki rata-rata skor post-test sebesar 134,25 dengan 5 siswa berada pada kategori tinggi dan 3 siswa pada kategori sedang, sedangkan kelompok kontrol memiliki rata-rata skor post-test sebesar 100,88 dengan 7 siswa pada kategori sedang dan 1 siswa pada kategori Kelompok eksperimen mengalami peningkatan rata-rata sebesar 53,0 poin, sedangkan kelompok kontrol hanya mengalami peningkatan rata-rata sebesar 18,5 poin. Pengujian hipotesis dilakukan menggunakan uji Mann-Whitney U Test karena jumlah subjek yang relatif kecil (N = . dan data tidak mensyaratkan distribusi Gambar. 1 Uji Mann-Whitney U Test Hasil uji Mann-Whitney menunjukkan nilai Asymp. Sig. -taile. sebesar 0,001, yang lebih kecil dari taraf signifikansi 0,05. Dengan demikian, hipotesis nol (HCA) ditolak dan hipotesis alternatif (HC. Artinya, terdapat perbedaan yang signifikan tingkat resiliensi siswa antara kelompok eksperimen yang diberikan layanan konseling kelompok realita dan kelompok kontrol yang tidak diberikan perlakuan. Untuk mengetahui Tingkat efektivitas konseling kelompok realita dilakukan uji NGain. Tabel. 4 Hasil Uji N-Gaiin Kelompok N-gain (%) Kategori Eksperimen Efektif Kontrol Tidak Eefektif PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa layanan konseling kelompok dengan teknik realita berpengaruh Efektivitas Konseling Kelompok Realita untuk Meningkatkan Resiliensi Siswa dari Keluarga Broken Home di SMP signifikan terhadap peningkatan resiliensi siswa dari keluarga broken home di SMP Negeri 5 Surabaya. Hal ini ditunjukkan dari perbedaan peningkatan skor yang signifikan antara kelompok eksperimen dan kelompok Kelompok eksperimen mengalami peningkatan rata-rata sebesar 53,0 poin, sedangkan kelompok kontrol hanya mengalami peningkatan rata-rata sebesar 18,5 poin. Hasil uji Mann-Whitney menunjukkan nilai Asymp. Sig. -taile. sebesar 0,001 . < 0,. , yang mengindikasikan bahwa perbedaan peningkatan resiliensi antara kedua kelompok bersifat signifikan secara statistik. Selain itu, hasil uji N-Gain menunjukkan bahwa kelompok eksperimen memiliki tingkat efektivitas sebesar 97,7% yang termasuk dalam kategori efektif Peningkatan resiliensi yang signifikan pada kelompok eksperimen dapat dijelaskan melalui konsep resiliensi menurut Revich dan Shatte . yang mendefinisikan resiliensi sebagai kemampuan individu untuk merespons kesulitan hidup. Resiliensi terdiri dari tujuh aspek, yaitu regulasi emosi, pengendalian impuls, analisis kasual, self-efficacy, optimism, empati, dan reaching out. Siswa dari keluarga broken home cenderung mengalami defisit pada aspek-aspek tersebut akibat ketidakstabilan keluarga, konflik keluarga, konflik orang tua, dan kurangnya dukungan emosional yang konsisten (Istifarin et al. , 2. Penelitian menurut (Solimin dan Susilawati, 2. menekankan pentingnya pendekatan yang berfokus pada penguatan resiliensi pada anak-anak yang menghadapi konflik berkelanjutan pasca-perceraian orang tua. Kondisi ini menyebabkan siswa rentan mengembangkan perilaku maladaptive sebagai strategi bertahan yang tidak efektif, seperti menarik diri dari lingkungan sosial, mengekspresikan emosi secara impulsive, atau menghindari tanggung jawab akademik. Konseling mengintervensi pola perilaku maladaptive tersebut dengan membantu siswa mengidentifikasi kebutuhan dasar yang belum terpenuhi dan merumuskan perilaku alternatif yang lebih bertanggung jawab. Konseling kelompok dengan teknik realita menggunakan pendekatan WDEP (Want. Doing. Evaluation. Plannin. terbukti efektif membantu siswa dalam meningkatkan resiliensi. Pada tahap Wants, siswa mampu mengidentifikasi perasaan dominan yang dialami serta mengaitkannya dengan kebutuhan dasar yang belum terpenuhi, seperti kebutuhan akan kasih sayang, perhatian, rasa aman, dan penghargaan. Kondisi ini selaras dengan konsep choice theory yang dikemukakan Glasser, bahwa perilaku individu merupakan upaya untuk memenuhi kebutuhan dasar tersebut (Corey, 2. Pada tahap Doing, siswa mampu mengidentifikasi perilaku maladaptif yang selama ini dilakukan, seperti membolos, menarik diri, meluapkan emosi secara impulsif, atau menunda tugas. Melalui tahap Evaluation, siswa menyadari bahwa perilaku tersebut tidak efektif dan tidak selaras dengan tujuan pribadi yang diinginkan. Pada tahap Planning, siswa merumuskan alternatif perilaku yang lebih bertanggung jawab dan realistis sesuai dengan kemampuan masing-masing. Peningkatan resiliensi yang paling menonjol terlihat pada indikator regulasi emosi dan pengendalian impuls, khususnya pada subjek AAS. AAM. ADL, dan AI yang pada kondisi awal menunjukkan kecenderungan mudah marah, reaktif secara emosional, serta kesulitan mengendalikan dorongan perilaku. Setelah mengikuti konseling kelompok realita, subjek-subjek tersebut mulai mampu mengenali pemicu emosi, menunda respons impulsif, serta mempertimbangkan konsekuensi dari perilaku yang dipilih. Pada indikator optimisme dan selfefficacy, peningkatan yang relatif signifikan ditunjukkan oleh subjek ADL dan SAP yang menunjukkan perubahan dalam cara memandang kemampuan diri, dari kecenderungan meragukan potensi pribadi menjadi lebih percaya bahwa mereka mampu berupaya dan memperbaiki diri. Peningkatan yang signifikan juga terlihat pada subjek BZK dan HRY yang pada kondisi awal menunjukkan keterbatasan dalam regulasi emosi dan reaching out, namun setelah mengikuti konseling kelompok realita mulai menunjukkan kemampuan yang lebih baik dalam mengekspresikan perasaan secara terbuka dan membangun hubungan sosial yang lebih Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Khofifah . yang menunjukkan bahwa konseling kelompok realita berpengaruh terhadap peningkatan resiliensi siswa dari keluarga broken home. Penelitian tersebut menemukan adanya perbedaan dan peningkatan skor pre-test dan post-test sebelum dan sesudah intervensi konseling kelompok realita. Selain itu, penelitian Hidayatullah et al. juga menunjukkan bahwa konseling realita signifikan meningkatkan resiliensi siswa di SMK Negeri 1 Barru dengan nilai sig. -taile. sebesar 0,000. Kedua penelitian tersebut memperkuat temuan penelitian ini bahwa konseling kelompok realita merupakan pendekatan yang efektif untuk meningkatkan resiliensi siswa, khususnya siswa yang berasal dari keluarga broken home. PENUTUP Simpulan Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa layanan konseling kelompok realita efektif dalam meningkatkan resiliensi siswa dari keluarga broken home di SMP Negeri 5 Surabaya. Hal ini ditunjukkan oleh adanya peningkatan skor resiliensi yang lebih tinggi pada kelompok eksperimen dibandingkan kelompok kontrol, di Efektivitas Konseling kelompok Realita untuk Meningkatkan Resiliensi Siswa dari Keluarga Broken Home di SMP mana rata-rata skor resiliensi kelompok eksperimen meningkat secara signifikan setelah diberikan perlakuan. Hasil uji Mann-Whitney U Test menunjukkan nilai signifikansi < 0,05 yang menandakan adanya perbedaan tingkat resiliensi yang signifikan antara kedua kelompok. Selain itu, hasil uji N-Gain dengan persentase sebesar 97,7% mengindikasikan bahwa konseling kelompok realita berada pada kategori efektif dalam meningkatkan resiliensi siswa dari keluarga broken home. Saran Berdasarkan hasil penelitian, sekolah disarankan untuk mengembangkan program layanan bimbingan dan konseling yang berorientasi pada penguatan resiliensi siswa, khususnya siswa dari keluarga broken home. Guru mengimplementasikan konseling kelompok realita secara sistematis melalui pemetaan kebutuhan siswa agar layanan yang diberikan sesuai dengan karakteristik dan permasalahan yang dihadapi. Penelitian selanjutnya disarankan untuk melibatkan jumlah subjek yang lebih menggunakan desain penelitian yang lebih variatif, termasuk mengkaji variabel lain atau mengombinasikan konseling kelompok realita dengan pendekatan konseling lainnya guna memperoleh hasil yang lebih komprehensif. DAFTAR PUSTAKA