AL-KHIDMAH: Jurnal Pengabdian Masyarakat , 2025, 70-77 Available at: https://w. id/index. php/khidmah Gerakan sosial pemuda Gunggungan Lor dalam melestarikan budaya perawatan jenazah ala Ahlussunnah wal JamaAoah Ainol1*. Rofiatul Adawiyah2. Diva Kartika3. Siti Aisah4. Umi Kulsum5. Zulfiyah Puteri NurAoaini6 1,2,3,4,5,6 Universitas Islam Zainul Hasan Genggong. Indonesia e-mail: Ainol1968@gmail. *Corresponding Author. Abstract: Not many Muslim communities have the courage to care for corpses. Only a handful of people dare to wash, shroud and enter the grave during the burial process for the This phenomenon cannot be separated from the existence of dead people who are still mythical as tuyul embryos or child kuntils. As a result, many teenagers do not master the skills of caring for corpses and their specifications during the shroud process. In fact, it is on the shoulders of teenagers to preserve the culture of shrouding corpses. If this phenomenon is allowed to continue, there will be a cadre crisis in preserving the culture of caring for corpses in the style of ahlusunnah wal congregation, so it is feared that there will be a scarcity of young Muslim cadres who are experts in shrouding corpses. It is in this dimension that this research offers significance. The main aim is to describe the concern of Gunggungan Lor teenagers in raising funds when a death occurs in their community, continuing to dig the grave, bathe them, give prayers to finish the funeral. The method used is Accet Base Community Development which is packaged in the form of Community Service. The ABCD approach is a critical approach within the scope of development based on the strengths and assets owned by the community. This approach places great emphasis on community independence and the establishment of rules. The ABCD approach focuses on the assets you want to develop. The results of the research show the creation of an increase in understanding in caring for corpses ala ahlus sunnah wal jamaah for the youth of Gungungan Lor. the realization of skills and abilities in bathing, shrouding, praying and burying the dead. Keywords: Skill. Teenagers. Caring for the Dead Abstrak: Tidak banyak komunitas muslim mempunyai nyali besar merawat mayat. Hanya segelintir orang saja yang berani memandikan, mengkafani dan masuk ke liang kubur saat proses peguburan mayyit. Fenomena ini tidak lepas dari keberadaan orang mati yang masih dimitoskan sebagai embrio tuyul atau kuntil anak. Akibatnya banyak remaja tidak menguasi skill perawatan jenazah, sfesifikasinya saat proses pengkafanan. Padahal di pundak remaja pelestarian budaya mengkafani mayat dibebankan. Apabila fenomena ini dibiarkan berkelanjutan maka akan terjadi krisis kaderisasi dalam melestarikan budaya merawat jenazah ala ahlusunnah wal jemaah, sehingga dikhawatirkan akan terjadi kelangkaan kader remaja muslim yang ahli dalam mengkafani jenazah. Pada dimensi inilah penelitian ini menawarkan signifikansinya. Tujuan utamanya, untuk mendeskripsikan pemberdayaan remaja Gunggungan Lor dalam penggalangan dana saat terjadi kematian di tengan penggalian kubur, memandikan, menshalati hingga merampungkan Metode yang digunakan berupa Accet Base Community Development (ABCD) yang dikemas dalam bentuk Pengabdian Kepada Masyarakat. Pendekatan ABCD merupakan suatu pendekatan kritis dalam lingkup pengembangan berbasis kekuatan dan aset yang dimiliki oleh masyarakat. Tahapan dimulai dari inkulturasi, transectorial, descovery, design, define dan diakhiri dengan tahapan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan terciptanya peningkatan kompetensi dalam merawat jenazah ala ahlus sunnah wal jemaah bagi remaja Gunggungan Lor. serta terwujudnya skill dan kemampuan dalam memandikan, mengkafani, menshalati serta menguburkan jenazah. Kata kunci: Skill. Remaja. Merawat Jenazah How to Cite: Ainol. Adawiyah. Aisyah. Kulsum. NurAoaini. , . Gerakan sosial pemuda Gunggungan Lor dalam melestarikan budaya perawatan jenazah ala Ahlussunnah wal JamaAoah. Khidmah: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 5. , 70-77. https://doi. org/10. 55210/khidmah. This is an open access article under the CCAeBY license. https://doi. org/10. 55210/khidmah. AL-KHIDMAH: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 5. , 2025, 70-77 Ainol. Rofiatul Adawiyah. Diva Kartika. Siti Aisah. Umi Kulsum. Zulfiyah Puteri NurAoaini Pendahuluan Gunggungan Lor merupakan sebuah Desa terletak di Kecamatan Pakuniran Kabupaten Probolinggo Provinsi Jawa Timur. Berada di perbatasan Desa Kecik dan Desa Alasnyiur, desa ini membentangkan lima dusun mencakup Dusun Nagkah. Dusun Arah. Dusun Ketegghina. Dusun Bungsera dan Dusun Krajan. Desa ini menawarkan kedamaian, guyub dan rukun antar komunitas masyarakatnya serta menampakkan keasrian dan kekompakan warganya. Di Desa Gunggungan Lor ini sebagian besar penduduknya bekerja sebaga petani, seperti petani cabai, jagung, tembakau dan padi (Qorib, 2. , tidak hanya itu penduduk di Desa ini memiliki kekuatan sosial yang cukup kuat, hal ini terbukti dengan adanya organisasi yang bergerak di bidang sosial untuk meringankan beban masyarakat yang sedang berduka, yakni dikenal sebagai organisasi GespeG (Gerakan Sosial Pemuda Gunggungan Lo. GespeG merupakan salah satu organisasi yang cukup populer di kalangan masyarakat Desa Gunggungan Lor. Popularitas ini dapat terbangun berkat agenda kegiatannya yang bisa mendatangkan dampak positif dan produktif bagi kalangan remaja. Melalui pendekatan gotong royong GespeG tak jarang mengimplementasikan slogan A Oaei yaIAdalam wujud bersih-bersih jalan, bersih-bersih kuburan, penggalangan dana sosial program PDSM (Peyaluran Dana Sosial Masyaraka. dan program STG (Santunan Tunai GESPEG). (Anwar, 2025b, 2025. Kekompakkan melahirkan nuansa guyub rukun di tengah komunitas remaja sehingga organisasi ini efekti menjadi wadah dalam menginisiasi suatu program kegiatan, pemersatu remaja serta sebagai forum perberdayaan potensi remaja. Meskipun program unggulan Gespeg berupa penggalangan dana dan perawatan jenazah, tidak semua anggotanya memiliki skill dan kemampuan dalam memandikan dan mengkafani jenazah sesuai dengan ajaran Ahlussunnah Wal JamaAoah. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari image yang berkembang di masyarakat yang mempersepsikan mayat sebagai embrio tuyul dan kuntilanak, sehingga tidak banyak remaja yang mempunyai nyali untuk melakukan profesi ini. Di Samping itu, hukum fiqh hanya menempatkan perawatan jenazah bagi umat islam pada tataran fardlu kifayah, dimana ketika ada satu atau beberapa orang yang telah melakukan kewajiban tersebut maka kewajiban untuk orang lain menjadi (M. Hamdi et al. , 2. Ketidaktahuan anggota GespeG dalam hal perawatan jenazah tidak boleh dibiarkan terus berlanjut, agar tidak terjadi krisis pengkaderan dalam tubuh organisasi Gespeg. Dianggap urgen melakukan suatu tindakan konkrit untuk menemukan solusi dalam mengatasi masalah tersebut. Satu alternatif yang dijadikan pilihan dalam mengatasi masalah tersebut, dengan cara memberikan pelatihan perawatan jenazah bagi remaja Gespeg dalam bentuk workshop. Pelatihan dilakukan secara kolaboratif antara remaja Gespeg dengan mahasiswa Universitas Islam Zainul Hasan yang sedang menjalani KKN di desa ini. Diharapkan dengan adanya kegiatan workshop ini, dapat membantu meningkatkan pemahaman pemuda dalam mengurus jenazah yang sesuai dengan ajaran Ahlussunnah Wal JamaAoah mulai tahap pemandian mayat, pengafanan sampai tahap penguburan. Dalam banyak kasus pelatihan acapkali dijadikan solusi dalam upaya meningkatkan kualitas SDM (Sumber Daya Manusi. , terutama dalam aspek kemampuan intelektual, keterampilan dan kepribadian masyarakat. (Irawan, 2. Temuan Hamdi, dkk. dalam penelitiannya menyimpulkan urgensi pelatihan ataupun pendidikan informal dalam memberikan skill dan kemampuan merawat jenazah komunitas ibu-ibu Dalam penelitian lain yang dilakukan oleh Arif Burhanuddin, dkk. menemukan terjadinya peningkatan kesadaran masyarakat akan kewajiban merawat jenazah, peningkatan pengetahuan perawatan jenazah, sehingga terbentuk tim perawat jenazah yang mandiri. Sayangnya penelitian tersebut hanya menyasar kaum dewasa. tidak banyak melibatkan partisipasi aktif generasi Pada dimensi inilah penelitian ini menampakkan urgensinya di mana remaja dijadikan subjek dalam pengembangan sumber daya manusia utamanya dalam memberikan layanan perawatan jenazah. AL-KHIDMAH: Jurnal Pengabdian Masyarakat. ISSN 2776-0901 . | 2807-7024 . AL-KHIDMAH: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 5. , 2025, 70-77 Ainol. Rofiatul Adawiyah. Diva Kartika. Siti Aisah. Umi Kulsum. Zulfiyah Puteri NurAoaini Untuk mensukseskan program pengabdian tersebut, metode yang digunakan berupa Accet Base Community Development (ABCD) yang dikemas dalam bentuk Pengabdian Kepada Masyarakat. Pendekatan ABCD merupakan suatu pendekatan kritis dalam lingkup pengembangan berbasis kekuatan dan aset yang dimiliki oleh masyarakat. Tahapan dimulai dari inkulturasi, transectorial, descovery, design, define dan diakhiri dengan tahapan refleksi. Pada tahap akhir pelaksanaan pengabdian, diharapkan para remaja Desa Gunggungan Lor dapat memiliki skill dan kemampuan dalam merawat jenazah mulai dari memandikan, mengkafani, menshalati hingga proses pemakaman. Metode Penelitian ini dilakukan dari tanggal 11 Januari sampai 11 Februari 2025 tepatnya di Desa Gunggungan Lor Pakuniran Probolinggo. Pelaksanaan pendampingan dan pengabdian kepada masyarakat terutama remaja organisasi GespeG dalam melestarikan budaya perawatan jenazah ala ahlusunnah wal jamaAoah ini menggunakan pendekatan ABCD (Asset Base Community Developmen. Pendekatan ABCD adalah suatu usaha yang memastikan bahwa kegiatan pembangunan menempatkan posisi manusia selayaknya dapat berkembang sesuai dengan kapasitas aset dan potensi yang dimiliki (Buku Pedoman KKN Unza. Dengan menggunakan pendekatan ABCD diharapkan masalah yang terdapat di desa Gunggungan Lor dapat terealisasi dengan tujuan yang telah direncanakan. Pendekatan ABCD tahapannya dapat digambarkan sebagaimana diagram berikut: Gambar 1. Tahapan Pendekatan ABCD ABCD merupakan strategi pengembangan masyarakat yang bermula dari aset-aset yang dimiliki beserta kapasitas, asosiasi dan kelembagaannya, bukan berfokus pada aset yang tidak ada atau didasarkan pada kebutuhan atau permasalahan masyarakat. (Afandi et al. , 2. Inkulturasi sebagai tahap awal dari pendekatan ABCD sangat penting untuk dilakukan agar dapat membangun kepercayaan Melalui tahap ini, akan terbangun kedekatan emosional sehingga masyarakat lebih terbuka dan dapat memudahkan dalam proses pemetaan aset sebagai dasar pengembangan komunitas. Penggunaan keterampilan dan bahasa dalam berkomunikasi menjadi sangat penting pada tahap ini. (Rubaidi et al. , 2. Tahap kedua yaitu discovery, langkah untuk mengenali dan menemukan aset untuk di identifikasi peluang dan potensi yang dimiliki. (Maulana, 2. Discovery merupakan proses menemukan aset atau sumber daya yang ada, dicapai melalui wawancara apresiatif (Appreciate Inquir. (Rubaidi et al. , 2. Informasi yang diperoleh dari tahap sebelumnya ditelaah lebih dalam untuk mengetahui pencapaian yang pernah diraih oleh komunitas tersebut. Hal ini dilakukan untuk mengidentifkasi potensi serta peluang yang ada. Selanjutnya tahap design, dimana masyarakat mulai menyusun strategi, proses, sistem dan membuat bersama serta mengembangakan kolaborasi dengan masyarakat dengan tujuan mewujudkan perubahan (Buku Pedoman KKN Unza. Sehingga rencana kerja yang didasarkan dengan kesepakatan bersama dapat terwujud. Tahap define merupakan tahapan untuk mendukung terealisasinya program kerja. Komunitas maupun masyarakat bergerak bersama menggunakan aset yang telah ditemukan sebelumnya untuk AL-KHIDMAH: Jurnal Pengabdian Masyarakat. ISSN 2776-0901 . | 2807-7024 . AL-KHIDMAH: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 5. , 2025, 70-77 Ainol. Rofiatul Adawiyah. Diva Kartika. Siti Aisah. Umi Kulsum. Zulfiyah Puteri NurAoaini mencapai visi misi yang telah ditentukan. (Rubaidi et al. , 2. Yang terakhir tahap refleksi. Refleksi merupakan tahapan yang fokus pada sejauh mana dampak yang diberikan oleh tahap define, serta memberikan gambaran antusiasme masyarakat dalam mengembangkan aset yang dimiliki setelah mengetahui peluang serta manfaat yang dapat di optimalkan untuk kesejahteraan masyarakat itu (Rubaidi et al. , 2. Hasil dan Pembahasan Hasil yang diperoleh dari penelitian yang telah dilakukan dengan menggunakan pendekatan ABCD adalah sebagai berikut: Inkulturasi Langkah awal yang dilakukan oleh mahasiswa dalam penelitian ini yaitu proses inkulturasi dilakukan 3 hari dari tanggal 11 Januari Ae 13 Januari 2025. Tahap ini dilakukan agar masyarakat mengetahui tujuan pelaksanaan KKN (Kuliah Kerja Nyat. serta dapat menyatu dan masuk dalam kehidupan masyarakat Desa. Sehingga dapat membuahkan kepercayaan masyarakat tentang programprogram yang akan diplanning. Inkulturasi direalisasiakan dengan cara bersilaturrahmi kepada perangkat desa, tokoh masyarakat dan beberapa warga di kediaman rumahnya, seperti mengikuti acara polindes di kantor Desa, membantu mengajar ngaji di Masjid Al-Hidayah, mengajar di RA. Raudatul Ihsan dan MI. Nurul Qodir dan mengikuti kegiata sarwah. Kegiatan tersebut dilakukan untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap rencana kerja Kuliah Kerja Nyata Mahasiswa yang sedang melaksanakan pendampingan di Desa Gunggungan Lor. Target dan tujuan dari inkulturasi ini untuk menjalin hubungan yang baik antara masyarakat Desa Gunggungan Lor dengan mahasiswa KKN, sehingga dapat bekerjasama untuk mengembangkan aset milik masyarakat. Setelah proses inkulturasi kami mendapatkan kepercayaan dari masyarakat di Desa Gunggungan Lor. Sehingga kami selalu diberi kesempatan untuk memimpin acara sarwah, mengajar di MI Nurul Qodir. RA Raudlatul Ihsan. KB Dewi Sartika dan mengajar di serta dipercayai untuk mengajar RA. Dan dipercayai takmir masjid Al-Hidayah. Discovery Pada tahap ini memiliki tujuan untuk mengetahui potensi dan mengidentifikasi aset yang di miliki oleh Desa Gunggungan Lor. Tahap discovery dilaksanakan pada tanggal 14 Januari Ae 17 Januari Komunitas yang mewakili pada tahap ini yaitu seluruh anggota dari Organisasi GespeG dengan menentukan skala prioritas agar pengetahuan tentang perawatan jenazah ala ahlussunnah wal jamaah dapat meningkat. Kegiatan FGD (Focus Group Discussio. dan wawancara digunakan mahasiswa untuk mencari informasi dan mengetahui lebih dalam aset yang dimiliki oleh desa Gunggungan Lor. Dari cerita beberapa orang ditemukan bahwa, tidak semua anggota organisasi GespeG ini mengetahui tata cara perawatan jenazah yang baik dan benar sesuai dengan ajaran alhlussunnah wal jamaah. (Shodek, 2. Maka dari itu kami berinisiatif untuk mengadakan workshop yang bertujuan untuk menambah pengetahuan anggota GespeG menganai tata cara perawatan jemazah. Desa Gunggungan Lor mempunyai banyak aset yang perlu dikembangkan, salah satunya organisasi GespeG ini. Karena jarang sekali kita temui di dalam suatu desa ada organisasi seperti ini, apalagi anggotanya terdiri dari beberapa pemuda dari yang masih duduk di bangku sekolah sampai yang sudah menikah. Mereka tetap teguh pendirian untuk bergabung di organisasi ini tanpa di bayar sepeserpun, ini merupakan sesuatu hal yang tidak semua orang bisa dan mau melakukan. Pada tahap ini memperoleh output berupa gambar Transect seperti gambar di bawah ini : AL-KHIDMAH: Jurnal Pengabdian Masyarakat. ISSN 2776-0901 . | 2807-7024 . AL-KHIDMAH: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 5. , 2025, 70-77 Ainol. Rofiatul Adawiyah. Diva Kartika. Siti Aisah. Umi Kulsum. Zulfiyah Puteri NurAoaini Gambar. 2 Tabel Penelusuran Wilayah (Transectora. Pada gambar di atas terdapat lima zona di wilayah tersebut yakni dataran rendah pertama, pinggiran sungai pertama, sungai, pinggiran sungai kedua dan dataran rendah kedua. Pada dataran rendah pertama lahannya digunakan untuk sawah, rumah warga, mushollah dan RA. Raudlatul Ihsan sedangakan pohon dan tanaman yang tumbuh di lahan tersebut yakni pohon buah manggis, rambutan, kelengkeng, asam jawa, singkong dan pete. Pada pinggiran sungai pertama lahannya digunakan untuk lahan pohon sengan serta tanah lapang sedangkan pohon dan tanaman yang tumbuh di lahan tersebut pohon buah pisang dan pakis. Di tengah-tengah ada sungai yang membentang sebagai sumber air masyarakat desa Gunggungan Lor dan terdapat tanaman kangkung liar. Untuk pinggiran sungai yang kedua lahannya digunakan untuk sarang burung dan padang rumput adapun pohon dan tanaman yang ada yaitu pohon pete, pepaya, pakis, pisang dan sukun. Zona yang terakhir datara rendah kedua, lahannya digunakan untuk sekolah MI Nurul Qodir, sawah, rumah warga kuburan dll, serta terdapat banyak pohon dan tanaman yang tumbuh seperti pohon jambu, rambutan, mangga dll. Setelah melakukan penelusuran wilayah, selanjutnya pemetaan aset dan potensi yang ada di Desa terutama Dusun Nangkah. Tanpa disadari ternyata desa Gunggungan Lor terutama dusun Nangkah memiliki banyak sekali aset, mulai dari aset sumber daya manusia, aset organisasi, aset fisik dan sumber daya alam, aset budaya dan agama serta aset ekonomi. Sehingga dapat diperoleh output berikut ini : Tabel 1. Pemetaan Aset MI Nurul Qodir RA Raudhatul Insan Ponkesdes Sarwah GespeG Dusun Nangkah Rias Pengantin Mebel Pertanian Peternak Sapi Peternak Kambing Pengrajin Gypsum Pembuat Marlenggang Pembuat Kripik Sawah Sungai Design Tahap ini dilakukan pada tanggal 24 Januari Ae 27 Januari 2025. Pada tahap ini kami melakukan pemetaan aset dan mengidentifikasi peluang yang mudah untuk dilakukan. Berdasarkan hasil FGD yang kami lakukan sebelumnya bersama anggota GespeG maka terpilihlah skala prioritas perawatan jenazah ala ahlussunnah wal jamaah. Pada tahap ini, anggota GespeG dan Mahasiswa KKN akan mengadakan acara workshop terkait perawatan jenazah ala ahlussunnah wal jamaah yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan pengetahuan pemuda mengenai tata cara perawatan jenazah meliputi, memandikan jenazah, mengkafani jenazah, mengsholatkan jenazah dan menguburkan jenazah yang baik dan benar. Dengan adanya workshop ini diharapkan para pemuda dapat memperoleh dan mempraktekkan pengetahuan yang didapatkan, sehingga organisasi ini dapat lebih berkembang dan bermanfaat bagi banyak orang. AL-KHIDMAH: Jurnal Pengabdian Masyarakat. ISSN 2776-0901 . | 2807-7024 . AL-KHIDMAH: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 5. , 2025, 70-77 Ainol. Rofiatul Adawiyah. Diva Kartika. Siti Aisah. Umi Kulsum. Zulfiyah Puteri NurAoaini Define Pada tahap ini, merupakan rangkaian kegiatan yang akan dilakukan dalam kegiatan workshop yang telah diputuskan bersama untuk meningkatkan pengetahuan pemuda dalam perawatan jenazah ala ahlussunnah wal jamaah. Program ini dilakukan pada tanggal 28 Januari 2025 yang bertempat di Mushollah Al-Furqon, yakni mengadakan acara workshop pelatihan perawatan jenazah ala ahlussunnah wal jamaah dengan pemateri dari mahasiswa KKN. Pada pelatihan ini dihadiri oleh pemuda anggota organisasi GespeG di Desa Gunggungan Lor. Kecamatan Pakuniran. Kabupaten Probolinggo. Dengan adanya kegiatan ini kami berharap dapat menambah pengetahuan para pemuda mengenai perawatan jenazah sehingga mereka dapat mengimplementasikannya di kehidupan nyata. Tahap pertama yang dilakukan pada saat workshop yakni pemberian materi terkait tata cara perawatan jenazah yang sesuai dengan ajaran ahlusunnah wal jamaah. Dilanjut dengan tahap praktek mengkafani jenazah, meliputi beberapa langkah di bawah ini: A Pemotongan kain kafan, kain kafan di potong sesuai dengan kebutuhan jenazah, jika jenazah lakilaki maka menggunakan tiga lembar kain kafan, jika jenazah perempuan maka menggunakan lima lembar kain kafan untuk talinya sama yaitu lima tali (Rahman, 2. Lima lembar kain kafan jenazah perempuan terdiri dari kain lembar pertama dan kedua serta khimar, izar, gamis (Annabawi, 2. Kain kafan yang sudah di potong di letakkan pada tempat datar, dimulai dari tali di bagian atas kepala, leher, dada, lutut dan kaki. Kain pertama di hamparkan agak serong ke kanan, kain kedua agak serong ke kiri lalu kain gamis . ari dada sampai kak. , kain izar . ari pusar sampai lutu. dan terakhir khimar . Jika laki laki maka perbedaan hanya terletak pada banyaknya kain kafan yang di gunakan. A Pengangakatan jenazah, jenazah yang telah dimandikan di angkat dengan hati-hati menuju ke tempat yang telah di beri kain kafan dan wewangian, jenazah di tutupi dengan kain yang bercorak agar auratnya tetap tertutup. A Menutup seluruh lubang, setelah jenazah berada di atas kain kafan yang terhampar, selanjutnya mengikat kedua jempol menggunakan kain kafan agar kaki jenazah tidak bergeser dan merapikan tangan jenazah. Lalu menutup lubang-lubang, seperti lubang kemaluan, dzubur, hidung, telinga, pusar, mata dan mulut tanpa mengangkat keseluruhan kain yang menutupi jenazah agar auratnya tetap terjaga. (Rahmiati, 2. A Mengkafani jenazah, dalam proses mengkafani jenazah ini, dimulai dari mengikat kain bagian khimar, melipat bagian izar, lanjut ke bagian gamis, pada saat melipat kain kafan tersebut pastikan dengan penuh hati-hati dan rapi agar aurat jenazah tidak terlihat. Setelah itu ambil kain bercorak yang menutupi jenazah secara peralahan, lalu rapikan lagi penutup lubangnya. Setelah itu lipat kain kedua dengan hati-hati dan pastikan tubuh jenazah tertutup rapat tanpa ada bagian yang terbuka. Yang terakhir lipat kain pertama dan ikat seluruh kain kafan menggunakan lima tali yang telah dipersiapkan sebelumnya. (Nashr, 2. Pastikan ikatan tidak terlalu ketat agar kain kafan tetap rapat dan tidak terbuka selama proses penguburan. AL-KHIDMAH: Jurnal Pengabdian Masyarakat. ISSN 2776-0901 . | 2807-7024 . AL-KHIDMAH: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 5. , 2025, 70-77 Ainol. Rofiatul Adawiyah. Diva Kartika. Siti Aisah. Umi Kulsum. Zulfiyah Puteri NurAoaini Gambar 3. Penjelasan Materi dari Mahasiswa KKN Gambar 4. Praktek dan Tanya Jawab oleh Pemuda GespeG Refleksi Selanjutnya tahap refleksi, pada tahap ini berfokus pada dampak yang diberikan melalui rangkaian tahapan yang sudah dilaksanakan. Dengan adanya workshop perawatan jenazah ala ahlussunnah wal jamaah ini memberikan dampak yang positif bagi pemuda GespeG. Dimana organisasi mampu merawat jenazah dengan benar memberikan dukungan kepada masyarakat berduka dengan rasa empati penuh. Workshop ini mampu meningkatkan pengetahuan pemuda GespeG dalam melaksanakan perawatan jenazah ala ahlussunnah wal jamaah. Tidak hanya itu pemuda GespeG juga memperoleh pengalaman praktis mengenai tata cara memandikan, mengkafani, mengsholatkan dan menguburkan jenazah, sehingga hal ini dapat menambah keyakinan dan keberanian mereka untuk ikut serta dalam menagani jenazah ketika ada masyarakat yang sedang berduka. Kami berharap agar apa yang telah didapatkan dari kegiatan workshop ini dapat di implementasikan oleh para pemuda GespeG baik di dalam Desa Gunggungan Lor maupun di luar Desa. Penutup Berdasarkan hasil dan pembahasan yang dijelaskan di atas, menunjukkan bahwa workshop perawatan jenazah ala ahlussunnah wal jamaah yang diadakan di Desa Gunggungan Lor berhasil meningkatkan pengetahuan anggota organisasi GespeG mengenai perawatan jenazah yang sesuai dengan ajaran ahlussunnah wal jamaah. Melalui pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD), kegiatan ini tidak hanya memberikan pemahaman yang lebih baik tentang tata cara perawatan jenazah tetapi juga dapat memperkuat organisasi GespeG sehingga dapat berkembang ke arah yang lebih baik lagi. Dengan adanya kegiatan ini menajadi bukti bahwa pendampingan masyarakat melalui pendekatan ABCD ini dapat terealisasi dengan baik. Daftar Pustaka