PENGARUH MANAJEMEN LABA TERHADAP NILAI PERUSAHAAN DENGAN VARIABEL PEMODERASI PENGUNGKAPAN TATA KELOLA PERUSAHAAN Sri Wahyuningsih . & Aloysius Harry Mukti 2*) Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Bhayangkara Jakarta Raya *Coresponding Author Email: aloysius. harry@dsn. Abstract The purpose of this study is to determine the effect of earnings management on firm value and the effect of corporate governance disclosure as a moderating variable in the relationship between earnings management and firm value. Information and data in this study include secondary data. Secondary data is obtained from the company's annual report that has been published. The approach used in this research is a quantitative approach. The sampling method in this study is purposive sampling, namely sampling using certain criteria and obtained as many as 75 data samples. The analytical method used is simple regression analysis and moderated regression analysis with residual test. The test results prove that earnings management has a positive and significant effect on firm value, but the disclosure of corporate governance as a moderation is not able to moderate the relationship between earnings management and firm value. The results of this study can be information for the public, especially for investors to be more careful in assessing companies that have good corporate values. Keywords: Earnings Management. Company Value and Corporate Governance Disclosure PENDAHULUAN perusahaan yang baik dan stabil. Nilai perusahaan dapat diartikan sebagai persepsi investor terhadap harga saham (Laksmi Dewi & Dharma Suputra, 2. Nilai perusahaan dapat dilihat dari harga saham, perusahaan yang menunjukkan bahwa perusahaan tersebut mampu dalam segi keuangan dan dapat menunjukkan juga kepada para investor bahwa perusahaan tersebut dapat memberikan pengembalian investasi yang memadai (Wahyuni, 2. Nilai perusahaan sangat penting bagi keberlangsungan perusahaan karena dengan meningkatnya nilai perusahaan dengan sangat mudah untuk menarik para modalnya pada perusahaan tersebut. Nilai perusahaan dapat menjadi suatu tolak ukur Perusahaan bergerak di bidang pembangunan jalan, gedung, bandara, dan lain-lain tentunya rentan dengan persaingan dalam dunia Melihat adanya persaingan ketat membuat manajemen perusahaan harus menunjukkan kinerja perusahaan terbaik, dimana hal tersebut menjadi salah satu komponen dalam menunjukkan nilai suatu Bagi para investor, nilai perusahaan digunakan untuk persepsi dalam melihat prospek suatu perusahaan untuk mengoptimalkan kekayaan dari para pemegang sahamnya (Fatimah, dkk. dalam (Soge & Brata, 2. Sehingga penting bagi perusahaan khususnya infrastruktur untuk memiliki nilai keberhasilan suatu perusahaan dalam menjalankan operasional perusahaan kepercayaan bagi para investor. Ketidakkonsistenan hasil pengujian terdahulu, vmanajemen laba terhadap nilai perusahaan, menurut (Riswandi & Yuniarti, 2. menunjukkan hasil manajemen laba berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan, sementara menurut (Rahmadiani & Barry, 2. menunjukkan hasil manajemen laba tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai Hasil yang berbeda ini juga ditunjukkan dalam penelitian (Putri, 2019. menunjukan hasil manajemen laba berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan, sedangkan menurut (Sari et , 2. menunjukkan hasil manajemen laba tidak berpengaruh terhadap nilai Kinerja manajemen perusahaan dapat dilihat pada laba di dalam laporan laba Menurut Statement of Financial Accounting concept (SFAC) No. Informasi laba adalah perhatian utama pertanggungjawaban dari manajemen. Jumlah laba suatu perusahaan adalah informasi terpenting yang terdapat dalam laporan keuangan. Laba merupakan hasil kegiatan atau usaha dalam memajukan perusahaan ke depan. Laba dapat menjadi target rekayasa yang dilakukan oleh pihak manajemen untuk meminimalkan atau memaksimalkan laba. (Fahmi & Prayoga. Menurut Philips, et al . dalam (Fahmi & Prayoga, 2. terdapat dua faktor utama yang mendorong perusahaan untuk melakukan manajemen laba, yaitu untuk menghindari terjadinya penurunan laba dan menghindari terjadinya kerugian. Faktor yang pertama bertujuan untuk menghindari terjadinya penurunan laba agar laba yang disajikan di dalam laporan keuangan tidak berfluktuasi karena akan menimbulkan dampak yang kurang baik bagi perusahaan terutama bagi para Jurnal Eksos. Juni 2023. Th XIX. No. Faktor yang kedua bertujuan untuk menghindari terjadinya kerugian, karena jika terjadi kerugian maka akan berpotensi menurunnya harga saham dan akan kehilangan kepercayaan para pemerintah untuk melakukan pemeriksaan Manajemen laba dapat dipandang sebagai estimasi laba agar terhindar dari hal-hal negatif dari para investor, serta dapat digunakan untuk melindungi perusahaan dari yang tidak terduga atas keuntungan dari pihak yang terlibat di dalam kontrak (Rahmadiani & Barry. dalam (Wibowo, 2. Sehingga dengan memaksimalkan nilai perusahaan melalui nilai keuangan yang dibuat menarik oleh manajemen perusahaan, agar para investor akan mudah tertarik berinvestasi di perusahaan tersebut. Terdapat manajemen laba yang terjadi pada beberapa perusahaan besar di Indonesia, salah satunya seperti kasus pada PT Waskita Karya. PT Waskita Karya termasuk perusahaan subsektor konstruksi PT Waskita Karya yang mana sebanyak lima orang petinggi perusahaan ini melakukan manipulasi data terhadap pendapatan mereka dengan membuat suatu proyek fiktif. Hal ini tentu menyebabkan kerugian bagi Negara yang memberikan dana untuk pengerjaan proyek fiktif yang ditandatangani oleh Waskita Karya beserta subkontraktor lainnya yaitu sebanyak 41 proyek dengan kerugian Negara sebesar Rp. Berdasarkan kasus ini, terdapat tindakan manipulasi laba yang dilakukan manajemen demi keuntungan diri mereka sendiri agar investor semakin yakin dengan kinerja perusahaan ini karena banyaknya proyek yang dikerjakan dan kurangnya pengawasan dari pihak internal dan eksternal sehingga terjadi tindakan manajemen laba oleh pihak manajemen perusahaan tersebut . Untuk memaksimalkan kualitas laba yang tercermin dalam laporan keuangan dan untuk menghindari adanya praktik earning management yang dilakukan manajemen perusahaan perlu dilakukan pengungkapan tata kelola perusahaan yang baik atau yang sering dikenal juga sebagai tata kelola perusahaan atau corporate governance (CG). Tata kelola perusahaan adalah suatu sistem yang dibentuk guna mengontrol dan mengatur Sistem ini membatasi kebebasan manajemen untuk melakukan manajemen laba (Winarta. et al, 2. Dengan adanya pengungkapan tata kelola perusahaan yang baik maka akan memberikan sinyal pada para pemegang saham bahwa laba yang dihasilkan perusahaan akan baik dan berkualitas. Hal ini dapat disebabkan oleh adanya pengungkapan tata kelola perusahaan yang baik maka akan memotivasi dan mengontrol para manajemen dalam melakukan segala aktivitas operasional Dengan demikian dampak pengungkapan tata kelola perusahaan yang baik di suatu perusahaan diduga akan mempengaruhi hubungan manajemen laba dengan nilai perusahaan (Rifani, 2. dalam (Nanang & Tanusdjaja, 2. Tata kelola perusahaan yang bertujuan untuk mengurangi konflik keagenan, kepemilikan manajerial, komite audit dan komisaris independent. diharapkan dapat mengurangi kegiatan manajemen laba yang dilakukan oleh manajemen dan berdampak pada meningkatnya kualitas laba suatu perusahaan (Nanang & Tanusdjaja, 2. Namun dalam penelitian kali ini tata kelola perusahaan merujuk kepada SE OJK Nomor 16/SE OJK. 04/2021. Beberapa penelitian telah dilakukan mengenai pengaruh manajemen laba terhadap nilai perusahaan dengan variabel pemoderasi pengungkapan tata kelola Penelitian (Rahmawati & Putri, 2. melakukan penelitian yang dimana hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa manajemen laba perusahaan, kepemilikan manajerial mampu memperkuat manajemen laba terhadap nilai perusahaan, kepemilikan Dan penelitian sejalan yang menguji manajemen laba terhadap nilai perusahaan dengan variabel pemoderasi tata kelola perusahaan juga oleh (Nersiyanti et al. , 2. yang dimana hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa manajemen laba mempengaruhi nilai perusahaan, variabel kepemilikan manajerial tidak mampu memoderasi hubungan antara manajemen laba terhadap nilai perusahaan, variabel kepemilikan institusional tidak mampu memoderasi hubungan antara manajemen laba terhadap nilai perusahaan, variabel dewan komisaris independen tidak mampu memoderasi hubungan antara manajemen laba terhadap nilai perusahaan dan komite audit memiliki kemampuan memoderasi hubungan antara manajemen laba terhadap nilai perusahaan. Di dalam penelitian ini akan diuji secara bersamaan variabel X yaitu Manajemen Laba terhadap variabel Y yaitu Nilai perusahaan dengan variabel pemoderasi Pengungkapan Tata Kelola Perusahaan, penelitian ini juga akan menggunakan sektor Infrastruktur dengan pengamatan KAJIAN LITERATUR DAN PEGEMBANGAN HIPOTESIS Teori Keagenan (Agency Theor. Jensen Meckling . menjelaskan hubungan keagenan timbul karena adanya kontrak antara manajer . dengan investor . dalam Pengaruh Manajemen Laba terhadap Nilai Perusahaan dengan Variabel Pemoderasi Pengungkapan Tata Kelola Perusahaan melakukan pekerjaan untuk kepentingan dengan cara delegasi kan kebijakan pengambilan keputusan kepada agen. Persoalan keagenan . gency cos. merupakan salah satu efek dari tindakan suatu manajemen laba. Pemicu dari semua ini ialah terjadinya benturan kepentingan antara pemegang saham . dengan manajemen . (Christiana & Ardila, 2. Nilai Perusahaan Nilai perusahaan adalah persepsi investor terhadap suatu perusahaan pada tahun berjalan, yang dimana sering dikaitkan dengan harga saham. Harga saham yang tinggi membuat nilai perusahaan juga semakin tinggi. Karena harga saham merupakan harga yang berlaku pada saat saham perusahaan dijual (Moniaga, 2013 dalam (Kholis et al. Semakin tinggi harga saham berarti semakin tinggi pula pengembalian kepada para investor dan itu berarti pula semakin tinggi nilai di suatu perusahaan yang terkait dengan tujuan dari perusahaan itu tersendiri seperti untuk memaksimalkan kemakmuran bagi para pemagang saham. Defnisi lain disampaikan oleh Franita . menunjukkan bahwa nilai perusahaan adalah kesepakatan harga antara harga yang dapat dijual dan harga yang akan dibayar oleh pembeli. Manajemen Laba Manajemen laba merupakan tindakan seorang manajer untuk melaporkan laba yang akan memaksimalkan kepentingan pribadi atau kepentingan perusahaan dengan menggunakan kebijakan akuntansi hal ini bertentangan dengan kondisi Laba yang berkualitas adalah laba yang dapat mencerminkan laba di masa yang akan datang, yang ditentukan oleh komponen akrual dan aliran kas (Mar atun Kariimah. Manajemen laba juga dapat diartikan sebagai pilihan yang dilakukan oleh manajer terkait dengan kebijakan Jurnal Eksos. Juni 2023. Th XIX. No. akuntansi atau tindakan nyata dalam mempengaruhi laba untuk mencapai suatu tujuan tertentu (Kisno & Sastrodiharjo. Pengungkapan Tata Kelola Perusahaan Tata kelola perusahaan merupakan sistem yang dibentuk untuk mengontrol serta mengatur perusahaan agar nilai perusahaan tersebut dapat meningkat (Herawety, 2008 dalam (Winarta. et al. Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa tata kelola perusahaan adalah perangkat pengaturan yang mengatur hubungan antara pihak dalam perusahaan dengan hak dan kewajiban dengan tujuan untuk mencapai suatu Konsep Tata Kelola perusahaan bertujuan untuk menciptakan perusahaan bagi seluruh pengguna laporan kepentingan bagi para pemegang saham dan kreditur (Istianingsih, 2. Pengembangan Hipotesis Pengaruh Manajemen Laba terhadap Nilai Perusahaan Para pemegang saham hanya mengandalkan laporan dari manajemen perusahaan untuk mengetahui keadaan perusahaan saat ini, sedangkan seorang mengetahui informasi dan prospek di masa yang akan datang sehingga dapat menimbulkan kesenjangan informasi, dimana kondisi ini sering disebut sebagai asimetri informasi. Pada dasarnya manajer melakukan manajemen laba untuk meningkatkan suatu nilai perusahaan, yang dimana kegiatan ini dapat meningkatkan nilai perusahaan pada tahun tertentu tetapi juga dapat menurunkan nilai perusahaan di masa mendatang. Menurut penelitian (Putri, 2019. dan (Riswandi Yuniarti, menunjukkan bahwa manajemen laba signifikan terhadap nilai perusahaan. Berdasarkan hasil kajian empiris, maka hipotesis yang dikemukakan adalah: H1: Manajemen laba berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan Pengaruh Pengungkapan Tata Kelola Perusahaan Dalam Memoderasi Manajemen Laba terhadap Nilai Perusahaan Konsep tata kelola perusahaan diajukan demi tercapainya pengelolaan perusahaan yang baik dan secara transparan bagi semua pengguna laporan keuangan, bila konsep tata kelola perusahaan ini digunakan dengan baik maka akan memberikan perlindungan bagi investor sehingga dengan mudah mereka mendapatkan informasi yang benar tentang nilai perusahaan pada sebenarnya. Penelitian (Rahmawati & Putri, 2. menunjukan bahwa tata kelola perusahaan mampu memoderasi manajemen laba terhadap nilai perusahaan. Berdasarkan hasil kajian empiris, maka hipotesis yang dikemukakan adalah: H2: Pengungkapan Tata perusahaan mampu memoderasi hubungan antara manajemen laba terhadap nilai perusahaan METODE PENELITIAN Tempat Penelitian Untuk mendapatkan data yang diperlukan dalam penelitian ini, penulis melakukan penelitian pada perusahaan infrastruktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2018-2020 dengan mengakses melalui situs resminya yaitu w. id dan melalui situs com serta situs dari masing-masing perusahaan. infrastruktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan laporan tahunan atau annual report periode 2018-2020 yang berjumlah 105 tahun perusahaan . irm year. Teknik Pengambilan Sampel Sampel pada penelitian ini diambil infrastruktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2018-2020. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling yaitu pengambilan sampel yang dilakukan perusahaan yang menggunakan mata uang rupiah dan tidak mengalami kerugian. Total final sampel penelitian yang diperoleh adalah 72 firm years. Kriteria Pengambilan sampel Penelitian terdapat sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak Dikarenakan penyesuaian saat peneliti melakukan pengolahan data dan sampel tersebut tidak dapat dilakukan pengolahan datanya, maka peneliti melakukan penghapusan data outlier tersebut sehingga rincian perolehan sampel perusahaan sebagai Tabel 1. Kriteria Pengambilan sampel Populasi Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan sektor Kriteria pemilihan sampel Jumlah populasi awal pada infrastruktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2018-2020 Data perusahaan sektor infrastruktur yang tidak Perusahaan infrastruktur yang laporan menggunakan mata uang Rupiah Perusahaan mengalami kerugian selama Jumlah . Pengaruh Manajemen Laba terhadap Nilai Perusahaan dengan Variabel Pemoderasi Pengungkapan Tata Kelola Perusahaan periode penelitian yaitu Total sampel penelitian Data Outlier Jumlah akhir sampel penelitian . Operasional Variabel Variabel Terikat (Dependent Variabl. PBV dipilih menjadi rumus untuk dapat menunjukkan seberapa jauh perusahaan mampu menciptakan nilai yang relatif terhadap jumlah modal yang diinvestasikan oleh para investor (Putri, ycAycaycycoyceyc ycEycycnycayce ycyyceyc ycIEaycaycyce ycEyaAycO = yaAycuycuyco ycOycaycoycyce ycyyceyc ycIEaycaycyce Variabel Bebas (Independent Variabl. Manajemen laba dapat diukur dengan cara discretionary accruals model modified Jones yang dihitung dengan cara menyelisihkan total akrual dan nondiscretionary accrual. Model modified Jones merupakan perkembangan dari model Jones yang dapat mendeteksi manajemen laba lebih baik dibanding dengan model-model lainnya (Dechow et , 1. Menghitung total akrual (TAC) yaitu laba bersih tahun t dikurangi arus kas operasi t dengan rumus: Persamaan 1 TACit = NIit Ae CFOit Keterangan: TACit = Total akrual perusahaan i di periode ke t NIit = Laba bersih perusahaan i di periode ke t CFOit = Arus kas dari aktivitas operasi perusahaan i di periode ke t. Selanjutnya. Ordinary Least Squares dengan rumus sebagai berikut: Jurnal Eksos. Juni 2023. Th XIX. No. Persamaan 2 ycNyayaycnyc yuuycIyaycO ycEycEya = 1 . a ) 2 ( ya ycnyc ) 3 ( ya ycnyc ) ya ycnycOe1 ycnycOe1 ycnycOe1 ycnycOe1 Keterangan: = koefisien regresi TACit = Total akrual periode i di periode Ait-1 = Total aset perusahaan i di periode t-1 OIREVit = Selisih pendapatan perusahaan i di periode ke t dengan t-1 PPEit = Jumlah aset tetap perusahaan i di periode ke t = error term perusahaan i di periode ke t Dengan koefisien regresi seperti pada rumus di atas, maka non-discretionary accruals (NDA) ditentukan dengan rumus sebagai berikut: Persamaan 3 OIycIyaycO OIycIyaya NDAit = 1 . a ) 2 ( ya ycnyc Oe ya ycnyc ) ycEycEyaycnyc 3 ( ya ycnycOe1 ycnyc ycnycOe1 ycnycOe1 Keterangan: = koefisien regresi NDAit = Non-Discretionary Accrual perusahaan i di periode t Ait-1 = Total aset perusahaan i di periode t-1 OIREVit = Selisih pendapatan perusahaan i di periode ke t dengan t-1 OIRECit = selisih piutang perusahaan i di periode ke t dengan t-1 PPEit = Jumlah aset tetap perusahaan i di periode ke t = error term perusahaan i di periode ke t Terakhir, discretionary accruals (DA) ditentukan dengan rumus berikut: Persamaan 4 ycNyaya DAit = ya ycnyc Ae NDAit ycnycOe1 Keterangan: DAit = Discretionary perusahaan i di periode ke t TACit = Total akrual perusahaan i di periode ke t Ait-1 = Total aset perusahaan i di periode ke t NDAit = non-discretionary perusahaan i di periode ke t Variabel Moderasi Variabel moderasi dalam penelitian ini adalah pengungkapan tata Tata kelola perusahaan merupakan sistem yang dibentuk untuk mengontrol, serta mengatur perusahaan agar nilai perusahaan tersebut meningkat (Herawety, 2008 dalam (Winarta. et al. Dalam pengungkapan tata kelola perusahaan diukur dengan menggunakan 42 indikator SE OJK Nomor 16 / SEOJK. 04/2021. Pengungkapan Tata kelola perusahaan yang mengungkapkan dengan SE OJK Nomor 16/SE OJK. 04/2021 akan diberi nilai 1 . , sedangkan tata kelola perusahaan yang tidak mengungkapkan dengan SE OJK Nomor 32/SE OJK. 04/2015 diberi nilai 0 . Teknik Analisis Data Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah analisis regresi sederhana dan analisis regresi berganda. Analisis berganda digunakan untuk mengetahui seberapa kuat pengaruh beberapa variabel bebas terhadap variabel terikat. Penelitian ini menggunakan program IBM SPSS Statistic 25 untuk menganalisis data. Model penelitian untuk pengujian hipotesis sebagai berikut: Y = o 1X1 2X2 3 X1*X2 A Keterangan: : Nilai Perusahaan : Konstanta 1 2 3 : Koefisien Regresi : Earning Management : Pengungkapan Tata Perusahaan X1*X2 : Moderasi EM*TK : error Kelola HASIL Hasil Analisis Deskriptif Uji analisis statistik deskriptif diaplikasikan untuk menunjukkan berapa jumlah data yang digunakan untuk minimum, nilai maximum, dan nilai ratarata, serta standar deviasi dari masingmasing variabel. Berdasarkan table 1 jumlah data (N) yang dipakai dalam penelitian ini sebanyak 72 sampel. Berikut hasil uji analisis statistik deskriptif dari variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini: Tabel 2. Hasil Analisis Deskriptif NilaiP Manaj GCG_ Valid . istwis Min Std. Deviati Uji Asumsi Klasik Hasil Uji Normalitas Dalam model regresi, uji normalitas digunakan untuk menguji nilai residual yang dihasilkan apakah berdistribusi dengan normal atau tidak. Dalam penelitian ini menggunakan uji One Sample Kolmogorov-Smirnov dengan dari pengambilan keputusan, yaitu: Nilai signifikansi Asymp. Sig. < 0,05 maka distribusi datanya tidak normal Nilai signifikansi Asymp. Sig. > 0,05 maka distribusi datanya Pengaruh Manajemen Laba terhadap Nilai Perusahaan dengan Variabel Pemoderasi Pengungkapan Tata Kelola Perusahaan Berikut hasil uji normalitas menggunakan uji One Sample Kolmogorov-Smirnov: Tabel 3. Hasil Uji Normalitas Sample Kolmogorov-Smirnov Test Normal Parametersa,b Most Extreme Differences Mean Std. Deviation Absolute Positive Negative Tabel 4. Uji multikolinearitas Model Tolerance Unstand Residual 1 (Constan. ManajemenLaba GCG _Z Test Statistic Asymp. Sig. -taile. Sumber: Data Sekunder Diolah Peneliti, 2022 Setelah dilakukan penghapusan data outlier, maka berdasarkan tabel 4. 3 model regresinya memenuhi asumsi normalitas. Dilihat dari nilai signifikansinya sebesar 0,200, artinya nilai signifikansinya lebih besar dari 0,05, sehingga data tersebut dinyatakan telah terdistribusi dengan Uji multikolinearitas Uji multikolinearitas digunakan untuk mengetahui apakah ditemukan adanya korelasi dari variabel independen dalam model regresi. Untuk mengetahui ada atau tidaknya gejala multikolinearitas dapat dilihat dari Variance Inflation Factor (VIF) dan tolerance. Tidak adanya gejala multikolinearitas dalam model regresi ini dinyatakan apabila nilai VIF lebih kecil dari 10 dan nilai tolerance lebih besar dari 0,1. Hasil uji multikolinearitas dapat dilihat dalam tabel berikut: Jurnal Eksos. Juni 2023. Th XIX. No. Collinearity Statistics VIF Dependent Variable: NilaiPerusahaan_Y Sumber: Data Sekunder Diolah Peneliti, 2022 Berdasarkan table diatas, nilai tolerance dari variabel Manajemen Laba sebesar 0,912, dan Pengungkapan Tata Kelola Perusahaan sebesar 0,912. Masingmasing variabel telah menunjukan nilai tolerance yang lebih besar dari 0,10. Sedangkan nilai VIF dari Variabel Manajemen laba sebesar 1,097, dan Pengungkapan Tata Kelola perusahaan sebesar 1,097. Masing-masing dari variabel tersebut menunjukan nilai VIF yang lebih kecil dari 10, maka dapat disimpulkan bahwa dalam penelitian ini tidak terdapat gejala multikolinearitas antar variabel. Uji Heteroskedastisitas Uji Heteroskedastisitas digunakan untuk menguji apakah terjadi adanya ketidaksamaan varians dari residual suatu pengamatan dengan pengamatan lain Uji Hetetoskedastisiras dalam penelitian ini menggunakan metode uji ScatterPlot, yaitu dengan melihat pola titik-titik pada scatterplot regresi. Model regresi heteroskedastisitas apabila titik-titik dalam scatterplot menyebar di atas dan di bawah angka 0 dan tidak membentuk suatu pola tertentu yang teratur. Hasil uji heteroskedastisitas dapat dilihat pada gambar berikut: ini tidak terjadi autokorelasi karena DU < DW < 4-DU . ,675 < 1,728 < 2,. Gambar 1. Uji Heteroskedastisitas Sumber: Data Sekunder Diolah Peneliti, 2022 Berdasarkan gambar di atas, dapat terlihat titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0, dan titik-titik tersebut tidak membentuk pola yang teratur dan Maka dapat disimpulkan bahwa model regresi dalam penelitian ini tidak terjadi heteroskedastisitas. Uji Autokorelasi Uji Autokorelasi digunakan untuk menguji apakah terjadi korelasi kesalahan pengganggu pada periode t dengan pengganggu pada periode t sebelumnya Pengujian menggunakan metode Durbin-Watson (DW tes. Model regresi dalam penelitian ini dinyatakan tidak terjadi autokorelasi apabila nilai DU < DW < 4-DU. Hasil uji korelasi dapat dilihat dalam tabel berikut: Tabel 5. Uji Autokorelasi Model Durbin-Watson Predictors: (Constan. LAG_Y. ManajemenLaba_X. GCG_Z Dependent Variable: NilaiPerusahaan_Y Sumber: Data Sekunder Diolah Peneliti, 2022 Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat nilai Durbin Watson sebesar 1,728. DW ini akan dibandingkan dengan nilai tabel dengan menggunakan derajat kepercayaan () 5%, jumlah sampel . sebanyak 72 sampel dan variabel bebas . sebanyak 2 variabel. Nilai DU yang didapat sebesar 1,675 sehingga dapat simpulkan model regresi dalam penelitian Analisis Regresi Linier Berganda Pengujian Secara Simultan (Uji F) Hasil dari pengujian hipotesis dengan menggunakan Uji F dapat dilihat dalam tabel berikut: Tabel 6. Hasil Uji F Persamaan 1 Model Sum Mean Sig. Squar Squ 1 Reg Resi Tot Dependent Variable: NilaiPerusahaan_Y Predictors: (Constan. ManajemenLaba_X Sumber: Data Sekunder Dioleh Peneliti, 2022 Berdasarkan table diatas, terlihat bahwa nilai F-hitung adalah sebesar 27,903 dan F-tabel sebesar 3,13. Karena Fhitung 27,903 > F-tabel 3,13 dan nilai signifikansi 0,000 < 0,05, maka Ho ditolak dan Ha diterima. Hal ini membuktikan bahwa variabel manajemen laba (X) berpengaruh signifikan terhadap nilai (Y). disimpulkan bahwa variabel manajemen laba (X) dalam penelitian ini dinyatakan sudah layak digunakan atau dimasukkan ke dalam model penelitian. Tabel 7. Hasil Uji F Persamaan 2 Model Sum of Squares Mean Squa Regre Resid Total Dependent Variable: NilaiPerusahaan_Y Sig Predictors: (Constan. ManLaba*GCG. GCG_Z. ManajemenLaba_X Sumber: Data Sekunder Dioleh Peneliti, 2022 Pengaruh Manajemen Laba terhadap Nilai Perusahaan dengan Variabel Pemoderasi Pengungkapan Tata Kelola Perusahaan Pada tabel persamaan kedua diatas, terlihat bahwa nilai F-hitung adalah sebesar 10,254 dan F-tabel sebesar 3,13. Karena F-hitung 10,254 > F-tabel 3,13 dan nilai signifikansi 0,000 < 0,05, maka Ho ditolak dan Ha diterima. Hal ini membuktikan bahwa variabel interaksi manajemen laba dengan pengungkapan tata kelola perusahaan berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. sehingga dapat disimpulkan bahwa model yang digunakan untuk menguji pengaruh manajemen laba (X), interaksi manajemen laba dengan pengungkapan tata kelola (XZ) perusahaan (Y) dinyatakan sudah layak digunakan atau dimasukkan ke dalam model penelitian. Uji Koefisien secara parsial (Uji . Hasil pengujian hipotesis dengan menggunakan uji koefisien secara parsial . dapat dilihat dalam tabel berikut: Tabel 8. Hasil Uji t persamaan 1 Model Unstandardized Coefficients Std. Error Stand Coeff Beta (Consta Manaje menLab Dependent Variable: NilaiPerusahaan_Y Sig. dilakukan maka semakin baik terhadap nilai perusahaan. Hasil pengujian pengaruh Manajemen Laba terhadap Nilai perusahaan dapat dilihat pada tabel 4. 8 di atas, terlihat bahwa nilai t-hitung adalah sebesar 5,282 dan t-tabel sebesar 1,995. Sehingga thitung > t-tabel yaitu 5,282 > 1,995. Nilai signifikansi variabel manajemen laba (X) sebesar 0,000 < 0,05. H1 diterima. Hal ini berarti bahwa manajemen laba (X) berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan (Y). Tabel 9. Hasil Uji t Persamaan 2 Model Unstandardized Coefficients (Constan. Manajeme nLaba_X GCG_Z Std. Erro Standar Coeffici Beta ManLaba *GCG Dependent Variable: NilaiPerusahaan_Y Sig. Sumber: Data Sekunder Diolah Peneliti, 2022 Sumber: Data Sekunder Diolah Peneliti, 2022 Berdasarkan menunjukkan bahwa nilai koefisien konstanta adalah 6,022, menunjukkan bahwa jika nilai variabel manajemen laba (X) sama dengan nol, maka tingkat nilai perusahaan (Y) adalah sebesar 6,022. Nilai koefisien regresi manajemen laba (X) bertanda positif sebesar 0,159. Hal ini menunjukan jika terjadi kenaikan satu satuan dalam variabel manajemen laba (X) akan meningkatkan nilai perusahaan sebesar 0,159 yang artinya semakin meningkat manajemen laba yang Jurnal Eksos. Juni 2023. Th XIX. No. Berdasarkan hasil uji parsial t di atas, maka dapat ditarik suatu model persamaan regresi sebagai berikut: Y = 0 1X1 2X2 3X1*X2 A NP = -7,625 0,177 EM 15,622 GCG Ae 0,004 EM*GCG Berdasarkan tabel di atas Persamaan kedua menunjukkan bahwa nilai konstanta adalah -7,625, menunjukkan bahwa jika nilai variabel manajemen laba (X), pengungkapan tata kelola perusahaan (Z), dan moderasi ManLaba*GCG sama dengan nol, maka nilai perusahaan (Y) akan cenderung berkurang sebesar -7,625. Nilai koefisien regresi manajemen laba (X) bertanda positif sebesar 0,177 terhadap nilai perusahaan yang artinya semakin meningkat manajemen laba maka semakin baik juga terhadap nilai Sedangkan jika ditambah dengan pengungkapan tata kelola perusahaan sebagai variabel moderasi maka menghasilkan nilai sebesar -0,004 terhadap nilai perusahaan. Hasil pengujian pengaruh manajemen laba terhadap nilai perusahaan dengan variabel pemoderasi pengungkapan tata kelola perusahaan dapat dilihat pada tabel 10 dari persamaan kedua diatas terdapat nilai t-hitung interaksi manajemen laba dengan pengungkapan tata kelola perusahaan (XZ) adalah sebesar -0,024 dan t-tabel 1,995. Sehingga t-hitung < ttabel yaitu -0,024 < 1,995. Dengan nilai signifikansi sebesar 0,981 > 0,05, maka H2 ditolak. Hal ini berarti bahwa interaksi manajemen laba dengan pengungkapan tata kelola perusahaan (XZ) tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan (Y). Uji koefisien determinasi Uji koefisien determinasi dilakukan untuk mengetahui seberapa besar kemampuan variabel independen dalam menerangkan variabel dependen. Apabila dalam penelitian menggunakan analisis regresi sederhana, maka yang digunakan sebagai pertimbangan adalah nilai R Square. Namun, apabila menggunakan analisis regresi berganda, maka yang digunakan sebagai pertimbangan adalah nilai Adjusted R Square. Besarnya nilai koefisien determinasi yaitu antara 0 Jika nilai tersebut mendekati angka 0, maka menunjukkan variabelvariabel bebas dalam menjelaskan Sedangkan jika nilai tersebut mendekati angka 1, maka variabel bebas hampir memberikan semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variabel Hasil uji koefisien determinasi dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 10. Hasil Uji Koefisien Determinan (R. persamaan 1 Model Square Adjusted R Square Std. Error Estimate Predictors: (Constan. ManajemenLaba_X Sumber: Data Sekunder Diolah Peneliti, 2022 Tabel 11. Hasil Uji Koefisien Determinan (R. persamaan 2 Model Square Adjusted R Square Std. Error Estimate Predictors: (Constan. ManajemenLaba_X ManLaba*GCG. Sumber: Data Sekunder Diolah Peneliti, 2022 Berdasarkan tabel di atas, hasil program SPSS 25 dapat disimpulkan sebagai berikut: Hasil perhitungan persamaan pertama diatas menunjukan nilai koefisien determinan (R. antara variabel Manajemen Laba (X) terhadap Nilai perusahaan (Y) adalah sebesar 0,285 atau 28,5%, artinya bahwa kontribusi variabel Manajemen Laba (X) terhadap Nilai Perusahaan (Y) adalah sebesar 28,5% dan sisanya 71,5% . % - 28,5% = 71,5%) berasal dari variabel-variabel lain yang tidak termasuk dalam model penelitian ini. Hasil Perhitungan persamaan kedua nilai koefisien determinasi (R. antara variabel Manajemen Laba (X) dan interaksi antara Manajemen Laba dengan Pengungkapan Tata Kelola Perusahaan (XZ) terhadap Nilai Perusahaan (Y) adalah sebesar 0,281 atau 28,1%, artinya bahwa besarnya kontribusi variabel Manajemen Laba dengan Pengungkapan Tata Kelola perusahaan (XZ) terhadap Nilai Pengaruh Manajemen Laba terhadap Nilai Perusahaan dengan Variabel Pemoderasi Pengungkapan Tata Kelola Perusahaan _Z. Perusahaan (Y) adalah sebesar 28,1% dan sisanya 71,9% . % - 28,1% = 71,9%) berasal dari variabel-variabel lainnya yang tidak termasuk dalam model penelitian ini. PEMBAHASAN Pengaruh Manajemen Laba terhadap Nilai Perusahaan Berdasarkan hasil pengujian statistik, hasil penelitian pada persamaan pertama menunjukkan bahwa manajemen laba berpengaruh positif terhadap nilai Hal ini dapat dilihat pada 9 diperoleh nilai koefisien manajemen laba sebesar 0,159 dengan nilai t hitung sebesar 5,282 dengan tingkat signifikansi 0,000. Dengan demikian hal ini membuktikan bahwa tindakan manajemen laba yang dilakukan manajer akan berdampak pada kelangsungan nilai Maka dari itu semakin tinggi manajemen laba yang dilakukan oleh perusahaan semakin tinggi pula nilai Dimana para investor akan memberikan reaksi yang nantinya akan berdampak pada nilai di suatu perusahaan. Hal ini berarti bahwa pemilik perusahaan menyerahkan kepada manajer untuk melakukan manajemen laba untuk Manajemen laba yang dilakukan manajer dilakukan dengan cara intervensi pada penyusunan laporan keuangan dengan menggunakan kebijakan akuntansi. Setelah pengujian hipotesis yang dilakukan maka dapat ditemukan bahwa manajemen laba berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan. Hasil dalam penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh ((Putri, manajemen laba berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan. Hasil ini juga didukung penelitian dari (Riswandi & Yuniarti, 2. yang menyatakan bahwa manajemen laba berpengaruh positif terhadap nilai Jurnal Eksos. Juni 2023. Th XIX. No. Hasil penelitian ini juga dapat didukung oleh penelitian dari (Alvionita, . Agussalim. , 2. yang menyatakan bahwa manajemen laba berpengaruh signifikan terhadap nilai Manajemen adalah pihak yang paling mengetahui bagaimana kondisi perusahaan dan laporan keuangan yang terjadi, kondisi tersebut yang melakukan manajemen laba dengan tujuan laporan keuangan yang disajikan berisi informasi mendapatkan reaksi positif dari para investor. Karena investor akan tertarik berinvestasi pada perusahaan sehingga akan meningkatkan nilai Manajemen laba dalam penelitian ini dapat dimungkinkan manajemen laba yang bersifat perspektif informatif, yaitu pandangan yang menyatakan bahwa manajemen laba merupakan harapan pribadi manajer tentang arus kas perusahaan di masa Pengaruh Pengungkapan Tata kelola Perusahaan pemoderasi dalam Hubungan antara Manajemen Laba terhadap Nilai Perusahaan. Berdasarkan hasil pengujian statistik, hasil penelitian pada persamaan kedua menunjukkan bahwa Pengungkapan tata kelola perusahaan sebagai variabel memoderasi hubungan manajemen laba terhadap nilai perusahaan. Hal ini dapat dilihat pada tabel 4. 10 diperoleh nilai koefisien sebesar -0,004 dengan nilai thitung sebesar -0,024 dengan tingkat signifikansi 0,981. Dengan kata lain Pengungkapan tata kelola perusahaan tidak membantu peningkatan nilai perusahaan dan peningkatan kepercayaan bagi para investor terhadap perusahaan yang melakukan manajemen laba. Hal ini tidak sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa dengan adanya pengungkapan tata kelola perusahaan yang baik akan memberikan sinyal bagi para pemegang saham bahwa laba yang dihasilkan perusahaan akan baik dan Dapat disimpulkan bahwa perusahaan belum mengurangi tindakan manajemen laba yang dilakukan perusahaan. Hal ini pengungkapan tata kelola perusahaan mungkin bersifat pelaporan saja, pengukuran dalam penelitian ini tidak implementasi pengungkapan tata kelola Setelah pengujian hipotesis yang dilakukan maka dapat ditemukan bahwa pengungkapan tata kelola perusahaan sebagai variabel moderasi tidak mampu memoderasi hubungan manajemen laba terhadap nilai perusahaan. Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Rahmawati & Putri, 2. yang menyatakan bahwa tata kelola Hasil dalam penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Aulia Hendra & NR, 2. yang menyatakan bahwa tata kelola perusahaan tidak mampu memoderasi pengaruh perusahaan, karena tata kelola perusahaan kurang efektif dalam perekayasaan laba. Pengungkapan tata kelola adalah sistem yang mengawasi dan mengatur perusahaan, dengan adanya pengungkapan tata kelola perusahaan yang baik maka akan memberikan sinyal pada para investor bahwa laba yang dihasilkan perusahaan akan jelas dan baik. SIMPULAN. IMPLIKASI. DAN KETERBATASAN Simpulan Berdasarkan hasil pengujian dan manajemen laba terhadap nilai perusahaan pengungkapan tata kelola perusahaan pada perusahaan sektor infrastruktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2018-2020, maka peneliti menyimpulkan Variabel manajemen laba berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Hal ini menunjukkan bahwa praktik manajemen laba dapat meningkatkan nilai perusahaan. Semakin tinggi manajemen laba yang dilakukan manajemen perusahaan semakin tinggi nilai perusahaan. Variabel pemoderasi pengungkapan tata kelola perusahaan tidak mampu manajemen laba terhadap nilai Hal ini berarti peran pengungkapan tata kelola perusahaan belum optimal untuk mengurangi tindakan manajemen laba yang dilakukan manajemen perusahaan. Keterbatasan Penelitian Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, penelitian ini memiliki keterbatasan-keterbatasan yang menjadi kelemahan penelitian ini. Keterbatasan penelitian ini antara lain: Dalam penelitian ini, tidak semua perusahaan sektor infrastruktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia digunakan sebagai sampel, karena penelitian ini menggunakan purposive Hasil penelitian ini masih sangat terbatas karena hanya menggunakan rentang waktu yang masih terlalu singkat yaitu selama 3 tahun dengan jumlah sampel yang masih terbatas juga, yaitu 72 sampel. Pengaruh Manajemen Laba terhadap Nilai Perusahaan dengan Variabel Pemoderasi Pengungkapan Tata Kelola Perusahaan Penelitian ini hanya menguji beberapa variabel yaitu: Manajemen Laba. Pengungkapan Tata kelola Perusahaan sehingga penelitian ini belum mencakup keseluruhan faktor-faktor yang mempengaruhi nilai perusahaan yang tercermin dalan nilai adjusted r sqaure sebesar 28. Implikasi Manajerial Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, implikasi manajerial serta pembahasan dan kesimpulan yang diperoleh adalah sebagai berikut: Bagi Perusahaan diharapkan untuk meningkatkan kepercayaan kepada stakeholder dan menyampaikan informasi mengenai informasi mengenai laba pengungkapan tata kelola perusahaan terhadap para pemegang saham. Bagi investor sebelum melakukan investasi sebaiknya mencari terlebih dahulu tentang profil perusahaan dalam menjamin keakuratan data informasi keuangan serta informasi lainnya yang dapat membantu dalam pengambilan keputusan. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan infrastruktur dengan sampel yang lebih banyak, tahun pengamatan yang lebih lama sehingga analisis lebih jelas dan terperinci. REFERENSI