Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Analisis Keterampilan Penyelesaian Tugas Siswa Kelas XI. Berdasarkan Angket di SMA N 1 Talang Kelapa Yesi Amelinda1. Nova Tri Wulan Wahyu Ningsih2. Amelia Putri3. Hany Natari Adha4. Silvia AR5 Universitas Sriwijaya. Indonesia Email: novacantik2324@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat keterampilan penyelesaian tugas belajar siswa kelas XI di SMA Negeri 1 Talang Kelapa berdasarkan hasil angket. Metode yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif, melibatkan 25 siswa yang dipilih secara purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah angket tertutup yang mencakup indikator kemampuan memahami instruksi, manajemen waktu, kedisiplinan, kualitas hasil tugas, dan kemandirian. Hasil analisis menunjukkan bahwa 72% siswa berada pada kategori sedang, 24% pada kategori rendah, dan hanya 4% pada kategori tinggi. Temuan ini mengindikasikan bahwa sebagian besar siswa memiliki keterampilan dasar yang memadai, meskipun masih perlu pengembangan lebih lanjut. Penelitian ini memberikan dasar bagi guru untuk merancang strategi pembelajaran yang lebih efektif dalam meningkatkan keterampilan belajar siswa secara mandiri. Kata Kunci: Keterampilan tugas, siswa, manajemen waktu, kedisiplinan, pembelajaran. PENDAHULUAN Pendidikan adalah hak setiap warga negara Indonesia tanpa terkecuali, dan untuk mencerdaskan bangsa diperlukan peningkatan mutu pendidikan. Sistem pendidikan, kurikulum, materi, metode pembelajaran, media, serta kualitas pendidik sangat memengaruhi mutu pendidikan suatu bangsa (Kamsi, 2. Menurut UU No. 20 Tahun 2003, pendidikan merupakan upaya sadar dan terencana untuk mengembangkan potensi peserta didik (Tambun et al. , 2. Namun, dalam pelaksanaannya, berbagai tantangan dan hambatan kerap muncul. Salah satu masalah di tingkat SMA adalah sistem penjurusan, di mana stereotip bahwa jurusan IPA dianggap lebih unggul daripada IPS dan Bahasa menyebabkan jurusan IPA lebih diminati, sementara jurusan lain sering kali terpinggirkan (Nugraheni et al. , 2. Dalam konteks pendidikan, belajar merupakan proses yang memungkinkan seseorang mencapai kompetensi dan kemampuan tertentu, yang berlangsung sepanjang hayat, mulai dari lahir hingga akhir hayat. Aktivitas belajar ini sering kali diidentikkan dengan kegiatan di sekolah atau lembaga bimbingan belajar. Di dalam kelas, guru memegang peranan yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan pembelajaran. Keberhasilan tersebut tidak hanya bergantung pada kemampuan, motivasi, keaktifan peserta didik, dan ketersediaan fasilitas, tetapi juga pada kecakapan guru dalam mengembangkan keterampilan mengajarnya, yang wajib dikuasai oleh setiap guru (Andriyani, 2. Salah satu indikator keberhasilan proses belajar mengajar di sekolah adalah sejauh mana siswa mampu menyelesaikan tugas-tugas belajar yang diberikan secara mandiri dan bertanggung jawab. Keterampilan penyelesaian tugas mencerminkan tidak hanya penguasaan materi, tetapi juga kemampuan siswa dalam merencanakan, mengatur waktu, dan mematuhi Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 tenggat waktu yang telah ditetapkan. Dengan memiliki keterampilan ini, siswa diharapkan dapat belajar lebih efektif, membentuk sikap disiplin, dan meningkatkan kemampuan berpikir Sayangnya, dalam kenyataan di lapangan, tidak semua siswa memiliki tingkat keterampilan penyelesaian tugas yang memadai. Beberapa di antaranya masih mengalami kesulitan dalam memahami instruksi tugas, mengatur waktu, atau menyelesaikannya secara tepat waktu. Kondisi ini tentu menjadi perhatian dalam dunia pendidikan, karena keterampilan tersebut merupakan bagian penting dari keberhasilan akademik siswa. Menurut Nasihudin dan Hariyadin . , keterampilan akan berkembang secara maksimal jika terus dilatih dan diasah melalui proses belajar dan pengalaman yang Hal ini menunjukkan bahwa proses belajar mengajar harus didesain sedemikian rupa agar dapat mendukung pengembangan keterampilan siswa, termasuk dalam penyelesaian tugas. Dalam hal ini, guru sebagai fasilitator memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan adaptif terhadap kebutuhan peserta didik. Untuk mengetahui sejauh mana keterampilan penyelesaian tugas siswa telah berkembang, diperlukan data yang akurat dan objektif. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif melalui penyebaran angket kepada siswa kelas XI. 1 di SMA Negeri 1 Talang Kelapa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat keterampilan penyelesaian tugas siswa berdasarkan beberapa indikator, seperti kemampuan memahami instruksi, manajemen waktu, disiplin dalam mengerjakan tugas, serta tingkat kemandirian siswa. Dengan adanya data ini, diharapkan dapat memberikan gambaran nyata tentang kondisi keterampilan belajar siswa, sehingga dapat menjadi acuan bagi guru dan pihak sekolah dalam merancang strategi pembelajaran yang lebih tepat dan efektif. Selain itu, hasil ini juga dapat mendorong pengembangan metode pembelajaran yang lebih inovatif guna membantu siswa dalam meningkatkan kemampuannya menyelesaikan tugas belajar secara mandiri dan optimal. METODE Metode penelitian yang digunakan ialah metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Pendekatan kuantitatif dipilih karena mampu memberikan gambaran statistik secara objektif dan sistematis terhadap fenomena yang diteliti, dalam hal ini adalah tingkat keterampilan penyelesaian tugas siswa. Sedangkan metode deskriptif digunakan untuk menggambarkan keadaan atau karakteristik individu atau kelompok berdasarkan fakta-fakta yang tampak sebagaimana adanya. Menurut Abdullah, et al. , . Penelitian kuantitatif deskriptif biasanya hanya mengukur tingkat suatu variable pada populasi atau sampel, sementara korelasi dan asosiatif melihat hubungan antara dua variabel atau lebih. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI di SMA Negeri 1 Talang Kelapa tahun ajaran 2024/2025. Sampel yang digunakan berjumlah 25 siswa yang dipilih secara purposive sampling. Teknik ini digunakan untuk memastikan bahwa responden yang dijadikan sampel benar-benar mewakili variasi keterampilan penyelesaian tugas di sekolah tersebut, seperti siswa dengan prestasi tinggi, sedang, maupun rendah. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket atau kuesioner tertutup yang disusun berdasarkan indikator Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 keterampilan penyelesaian tugas, meliputi: . kemampuan memahami instruksi tugas, . kemampuan merencanakan dan mengatur waktu, . kedisiplinan dalam menyelesaikan tugas tepat waktu, . kualitas hasil tugas, dan . kemandirian dalam menyelesaikan tugas tanpa ketergantungan pada orang lain. Data dikumpulkan melalui pengisian angket oleh siswa secara langsung di sekolah, di bawah pengawasan peneliti. Sebelum pengisian, siswa diberi pengarahan tentang maksud dan tujuan penelitian serta petunjuk pengisian angket untuk memastikan pemahaman yang Data yang telah dikumpulkan dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Langkah-langkah analisis meliputi: Penjumlahan skor total masing-masing siswa dari 24 item. Pengelompokan siswa ke dalam kategori rendah, sedang, dan tinggi. Perhitungan frekuensi dan persentase dari masing-masing kategori. Visualisasi hasil dalam bentuk tabel distribusi dan grafik batang. Analisis dilakukan secara manual dan didukung oleh perangkat lunak Microsoft Excel untuk perhitungan statistik dasar. HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1. Persentase Keterampulan Penyelesaian Tugas Interpretasi Frekuensi Presentase Tinggi Sedang Rendah Total Diagram 1. Keterampilan Penyelesaian Tugas Belajar Berdasarkan Tabel 1, terdapat 25 siswa yang mengisi angket keterampilan penyelesaian tugas dengan 24 pernyataan. Setelah skor masing-masing siswa dijumlahkan, hasil diklasifikasikan ke dalam tiga kategori. Rangkuman distribusi frekuensi keterampilan penyelesaian tugas siswa ditampilkan pada tabel berikut: Sebagian besar siswa, yaitu sebanyak 18 orang . %), termasuk dalam kategori sedang. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas siswa sudah memiliki keterampilan dasar dalam menyelesaikan tugas, meskipun belum pada tingkat yang optimal. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Sebanyak 6 siswa . %) berada pada kategori rendah, yang menunjukkan adanya hambatan dalam aspek seperti kedisiplinan, manajemen waktu, atau pemahaman instruksi. Hanya satu siswa . %) yang masuk kategori tinggi, yang menunjukkan adanya potensi kuat untuk dijadikan teladan atau pembimbing sebaya. Dari pernyataan diatas kemampuan dalam menyelesaikan tugas-tugas belajar di kelas XI. 1 sudah berada pada kategori cukup baik. Kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian besar siswa telah memiliki kemampuan dalam merencanakan, mengatur, dan menuntaskan tugas yang diberikan secara mandiri. Keterampilan ini sangat penting dalam mendukung proses belajar, karena dengan kemampuan menyelesaikan tugas secara efektif, siswa dapat mengembangkan sikap disiplin, bertanggung jawab, serta meningkatkan daya pikir analitis yang berguna dalam menghadapi tantangan akademik maupun non-akademik. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) keterampilan berasal dari kata AuterampilAy yang berarti cakap dalam menyelesaikan tugas, mampu dan cekatan. Sedangkan keterampilan adalah kecakapan untuk menyelesaikan tugas. Keterampilan pada dasarnya akan berkembang lebih baik jika terus dilatih dan diasah guna meningkatkan kemampuan, sehingga seseorang dapat menjadi ahli atau lebih menguasai suatu bidang. Untuk mencapai tingkat keterampilan dengan keahlian khusus dalam bidang tertentu, diperlukan proses belajar dan latihan yang tekun agar mampu menguasai bidang tersebut serta memahaminya dan mampu mengaplikasikannya (Nasihudin & Hariyadin, 2. Setiap siswa memiliki keterampilan belajar yang berbeda-beda, terutama jika dibandingkan antara siswa berprestasi tinggi dan yang berprestasi rendah. Perbedaan tersebut terlihat dalam hal kesiapan sebelum memulai proses pembelajaran, kemampuan bertanya dan menjawab, keterampilan mengatur serta memanfaatkan waktu belajar, penggunaan fasilitas, sarana, dan lingkungan sebagai sumber belajar, kemampuan berinteraksi dengan dosen, keterampilan mencatat, kemampuan mengingat dan berkonsentrasi, serta kesiapan dalam menghadapi ujian Prayitno dkk, 2002:2 dalam Khairuddin . Dalam situasi seperti ini, pendidik dituntut untuk lebih menggali dan merancang pembelajaran yang menarik serta mampu menyesuaikan dengan perkembangan zaman, bukan hanya terus menggunakan metode lama hingga mengabaikan perubahan dan perkembangan yang terus terjadi (Mardiyah et al. , 2. Dengan demikian hasil yang didapat dari keterampilan penyelesaian tugas siswa kelas XI. 1 menunjukkan potensi yang cukup baik namun tetap menyisakan ruang untuk Sebanyak 72% siswa berada pada kategori sedang, yang mencerminkan bahwa sebagian besar dari mereka sudah memiliki kemampuan dasar dalam merencanakan dan menyelesaikan tugas, meskipun belum sepenuhnya optimal. Sementara itu, 24% siswa masih berada pada kategori rendah, mengindikasikan adanya tantangan dalam aspek seperti kedisiplinan, pengelolaan waktu, atau pemahaman instruksi. Hanya 4% siswa yang masuk dalam kategori tinggi, yang menunjukkan adanya individu dengan potensi besar yang dapat dijadikan contoh atau pembimbing sebaya. Guru sebagai tenaga pendidik bisa menggunakan metode pembelajaran yang lebih inovatif agar memudahkan peserta didik untuk paham mengenai materi yang di ajarkan. Hal ini sebanding dengan yang di jelaskan oleh Sitohang et , . bahwa semakin baik metode kerja dalam belajar maka semakin baik pula hasil Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 belajar siswa. Demikian, hasil ini menjadi dasar bahwa upaya peningkatan keterampilan belajar siswa harus terus dilakukan secara merata. Guru memiliki peran sentral dalam menciptakan suasana belajar yang mendukung perkembangan keterampilan ini melalui pendekatan yang adaptif dan inovatif, guna memastikan bahwa semua siswa memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang secara optimal. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat keterampilan penyelesaian tugas belajar siswa kelas XI di SMA Negeri 1 Talang Kelapa berada pada kategori yang cukup baik, dengan 72% siswa tergolong dalam kategori sedang. Meskipun sebagian besar siswa telah memiliki keterampilan dasar yang memadai, masih ada 24% siswa yang berada pada kategori rendah, yang menunjukkan adanya tantangan dalam kedisiplinan, manajemen waktu, dan pemahaman Hanya 4% siswa yang menunjukkan keterampilan tinggi, mencerminkan potensi yang dapat dijadikan teladan. Oleh karena itu, perlu adanya upaya dari pihak guru untuk mengembangkan metode pembelajaran yang lebih inovatif dan adaptif guna meningkatkan keterampilan siswa dalam menyelesaikan tugas belajar secara mandiri. Pengembangan keterampilan ini penting untuk mendukung keberhasilan akademik dan mempersiapkan siswa menghadapi tantangan di masa depan. DAFTAR PUSTAKA