Al-Bahjah Journal of Mathematics Education Volume 3. No. December 2025 p-ISSN 3025-1273 eAeISSN 3025-0048 https://doi. org/10. 61553/abjme. Analisis Kemampuan Peserta Didik Dalam Pemecahan Masalah SPLDV Ditinjau Dari Kemampuan Berpikir Kreatif Putri Rahayu1. Aryo Andri Nugroho2. M Saifuddin Zuhri3 Universitas PGRI Semarang. Semarang. Indonedia, email: putrirahayu0818@gmail. Article Info Article history: Received Jul 01, 2025 Revised Dec 06, 2025 Accepted Dec 13. Keywords: Problem Solving Ability. Creative Thinking. Mathematics. SPLDV. Polya Indicators. ABSTRACT Solving mathematical problems is an activity carried out by someone to overcome various difficulties that arise during the learning process. According to Polya, the problem-solving process consists of several stages, including understanding the problem, planning a strategy, implementing the chosen strategy, and reviewing the results obtained. This study to examine studentsAo ability to solve mathematical problems based on the level of creative thinking skills. The research uses a qualitative descriptive method and involves eighth-grade students of MTs Negeri 1 Demak, who selected based on the results of a creative thinking ability test. Data were collected through written mathematics problem-solving tasks and individual interviews to gain deeper insight into studentsAo thinking The findings indicate that: . students with high creative thinking skills are able to meet all indicators of mathematical problem-solving, starting from understanding the problem to reviewing their answers. students with moderate creative thinking skills are less able to review and evaluate their solutions. students with low creative thinking skills tend not to recheck their responses and often show a lack of accuracy in solving problems. These results emphasize the importance of developing studentsAo creative thinking abilities, as creativity significantly influences the quality of problem-solving. The study suggests that consistent practice, exposure to diverse problem types, and guided reflection can contribute to the growth of creative thinking in daily learning activities. ABSTRAK Pemecahan masalah matematika merupakan kegiatan yang dilakukan seseorang untuk mengatasi berbagai kesulitan yang muncul selama proses Menurut Polya, pemecahan masalah meliputi tahap memahami masalah, merancang strategi, melaksanakan strategi, dan mengevaluasi hasil. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dan melibatkan siswa kelas Vi MTs Negeri 1 Demak yang dipilih melalui tes kemampuan berpikir kreatif. Data dikumpulkan melalui tes tertulis pemecahan masalah matematika dan wawancara individu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: . siswa dengan kemampuan berpikir kreatif tinggi mampu memenuhi seluruh indikator pemecahan masalah matematika. siswa dengan kreativitas sedang belum optimal dalam meninjau kembali dan . siswa dengan kemampuan berpikir kurang kreatif tidak melakukan pengecekan ulang serta cenderung kurang teliti dalam menyelesaikan masalah. How to Cite: Rahayu. Nugroho. A, & Zuhri. Analisis Kemampuan Peserta Didik Dalam Pemecahan Masalah SPLDV Ditinjau Dari Kemampuan Berpikir Kreatif . AB-JME: Al-Bahjah Journal of Mathematics Education, 3 . , 97-110. https://doi. org/10. 61553/abjme. Rahayu. Nugroho. A, & Zuhri. Analisis Kemampuan Peserta Didik Dalam Pemecahan Masalah SPLDV Ditinjau Dari Kemampuan Berpikir Kreatif. AB-JME: Al-Bahjah Journal of Mathematics Education, 3 . , 97-110. PENDAHULUAN Era abad ke-21 dikenal masa ini sering disebut sebagai tahun pengetahuan, di mana ekonomi yang didasarkan pada informasi, perkembangan teknologi informasi, perkembangan teknologi informasi yang massif, dan arus globalisasi menjadi karakteristik utama dalam berbagai aspek kehidupan dan era digital dan otomatisasi industri (Redhana, 2. Dalam menghadapi abad ini, telah muncul pergeseran yang berangsung secara cepat dan tidak terduga dalam berbagai aspek kehidupan. Pergeseran di masyarakat berbasis . nowledge ag. telah membawa dampak terhadap beragam aspek, termasuk budaya dan sistem Pendidikan yang dijalani oleh masyarakat (Etistika Yuni Wijaya, 2. Kehidupan pada abadke-21 menuntut menguasai berbagai keterampilan penting. Pendidikan memiliki peran yang semakin penting dalam memastikan teknologi serta media informasi, dan memiliki kecakapan untuk bekerja serta bertahan hidup melalui penguasaan keterampilan hidup. Sejalan dengan tuntutan tersebut. Lembaga Kementrian untuk Keterampilan Abad ke-21 yang berbasis di Amerika Serikat menyatakan bahwa keterampilan pemecahan masalah termasuk dalam bagian dari keterampilan penting esensial yang diperlukan peserta didik pada meghadapi tantangan dunia saat ini. Pernyataan ini selaras dengan temuan penelitian yang menyatakan bahwa keterampilan dan kemampuan untuk berinovasi merupakan bagian penting dari kemampuan abad ke21. Hasil kajian terhadap subvariabel keterampilan dan inovasi memperoleh skor tertinggi pada aspek berpikir kritis dan pemecahan masalah, dengan persentase mencapai 96,21% (Etistika Yuni Wijaya, 2. International commission on education for the 21st century atau komisi global untuk pendidikan masa kini mengemukakan empat focus utama dalam interaksi belajar, yakni aspek kognitif, afektif, dan keterampilan dalam rangka menjalani kehidupan, serta kemampuan dalam mengambil tindakan. Selain itu, dinyatakkan pula empat utama dasar yang dikenal sebagai empat pilar dalam pendidikan, yaitu belajar untuk mengetahui, belajar untuk melakukan, belajar untuk menjadi diri sendiri, dan belajar untuk hidup bersama. Gagasan ini menjadi dasar dalam memandang tujuan pendidikan secara menyeluruh dianggap tetap sesuai kebutuhan pendidikan masa kini serta mampu Volume 3. No 2. December 2025, pp. terus ditingkatkan agar sejalan dengan tuntutan yang dihadapi oleh orang di abad ke-21 (Scott, 2. Kemampuan memecahkan masalah termasuk ke dalam bagian dari keterampilan dalam learning to do, yang meliputi pula kecakapan lainnya seperti kecakapan dalam orang dalam mengidentifikasi, menulusuri, menentukan, menilai, mengorganisasi, serta menganalisis alternatif yang ada dan mengkaji informasi secara mendalam (Zubaidah, 2. Selain itu, keterampilan dalam proses mencari solusi juga mencakup: . kemampuan orang untuk menyelesaikan berbagai jenis permasalahan yang tidak bersifat rutin, dan . kemampuan dalam mengidentifikasi serta mengajukan pertanyaan yang dapat memperjelas berbagai pandangan guna memperoleh penyelesaian yang lebih optimal (Redhana, 2. Hasil penilaian PISA tahun 2022 menunjukkan bahwa Indonesia menempati urutan ke-14 dari bawah dalam kategori matematika . ari 68 negar. , dengan skor rata-rata sebesar 366. Posisi Indonesia menepati posisi sedikit lebih tinggi dari Maroko yang memperoleh skor rata-rata 365. Skor pada bagian matematika dalam PISA menggambarkan kemampuan orang dalam memahami empat komponen, yaitu: materi matematika mencakup topik-topik seperti perubahan dan hubungan, ruang dan bentuk, serta bilangan serta Ketidakpastian dan Data (Uncertainty and Dat. Sementara itu, posisi peringkat pertama masih ditempati oleh Singapura dengan skor rata-rata 575. Pemecahan masalah sangat dibutuhkan oleh orang dalam mendiskusikan konsep serta menjalin keterkaitan antara suatu konsep dengan bidang lain (F. Van Galen, 2. Peserta didik yang menguasai keterampilan dalam memecahkan masalah akan lebih mudah dalam menerapkan konsep-konsep matematika (Rohmana et al. , 2. Sehingga kemampuan ini perlu dimiliki oleh siapa pun di masa sekarang. Meskipun masih ditemukansering terjadi kekeliruan, paling tidak orang telah dipersiapkan untuk menghadapi berbagai jenis permasalahan melalui kegiatan pemecahan masalah (M. Maulyda, 2. Pemecahan masalah menuntut peserta didik untuk berpikir secara aktif dalam menemukan langkah-langkah yang tepat guna memperoleh solusi dari permasalahan yang dihadapi (E. Waluyo, 2. Berpikir adalah aktivitas mental yang dilakukan oleh seserang dalam rangka mengerti sebuah permasalahan, memilih cara tepat, sampai menemukan jawaban sebagai 100 Rahayu. Nugroho. A, & Zuhri. Analisis Kemampuan Peserta Didik Dalam Pemecahan Masalah SPLDV Ditinjau Dari Kemampuan Berpikir Kreatif. AB-JME: Al-Bahjah Journal of Mathematics Education, 3 . , 97-110. bentuk pemenuhan rasa ingin tahu (J. Purwanto, 2. Ketika menganalisis suatu masalah, orang bisa memperoleh beragam gagasan untuk menemukan jawaban yang paling cocok, yang akhirnya terbentuk kebiasaan dalam menghadapi masalah dengan berbagai langkah yang berbeda, serta mampu menghasilkan beberapa alternatif jawaban (F. Febrianingsih, 2. Salah satu bagian pelajaran SPLDV merupakan salah satu materi yang memuat pemecahan masalah sebagai tujuan utama, proses pembelajaran, sekaligus keterampilan dasar yang perlu dikuasai. Materi ini memiliki peran penting karena sering dikaitkan dengan berbagai situasi yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari dan pelajaran matematika lainnya. situasi kehidupan keseharian, serta menjadi dasar awal dari memahami topik tentang bahasan mengenai program linier maupun sistem persamaan maupun soal pertidaksamaan dua variabel dalam bentuk linier yang hendak dipelajari di jenjang SMA (Wulandari S. , 2. Untuk menyelesaikan masalah dalam pelajaran matematika, terutama yang berkaitan dengan SPLDV, peserta didik memerlukan kemampuan untuk berpikir secara kreatif Di sisi lain. Penilaian dan pengembangan keterampilan penting di abad ke-21 mengelompokkan keterampilan, pengetahuan, sikap, nilai, dan etika yang dibutuhkan di abad ke dua puluh satu dikelompokkan dikelompokkan menjadi empat tipe utama: pola pikir, metode kerja, sarana untuk bekerja, serta cara menjalani berperan aktif dalam kehidupan bermasyarakat. Berpikir kreatif serta kemampuan dalam menyelesaikan masalah termasuk digolongkan sebagai aspek termasuk dalam kategori cara berpikir. Kreativitas peserta didik sangat dibutuhkan dalam menyelesaikan permasalahan dalam matematika seringkali membutuhkan cara berpikir yang kreatif. Ini didukung oleh temuan penelitian menunjukkan bahwa ketika seseorang tidak memiliki kemampuan berpikir kreatif yang memadai, mereka cenderung mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soalsoal matematika secara cepat, akurat, dan benar (Desti E. , 2. Selain itu. Peneliti juga berdiskusi dengan salah satu pendidik matematika yang berada di MTs Negeri 1 Demak terkait kemampuan cara menghadapi dan menyelesaikan persoalan. Dari wawancara, terungkap bahwa di madrasah tersebut belum pernah dilakukan analisis mengenai kemampuan kemampuan siswa-siswi Volume 3. No 2. December 2025, pp. ketika berhadapan dengan masalah matematis. Selain itu, kemampuan orang dalam menggunakan kreativitas saat menyelesaikan soal matematika pun belum pernah ditelusuri secara mendalam. Sehingga, peneliti ingin mengetahui secara lebih pasti seperti apa kemampuan siswa-siswi saat menghadapi persoalan matematika di MTs Negeri 1 Demak jika dilihat berdasarkan cara berpikir kreatif yang dimiliki. Beberapa penelitian yang relevan dengan studi ini menunjukkan hasil yang sejalan, dimana peserta didik belum terbiasa sepenuhnya menghadapi berbagai pertanyaan yang menuntut pemecahan masalah, dan secara umum kurang mampu dalam menuliskan langkah-langkah penyelesaiannya, terutama pada materi persamaan linear satu variabel (Harahap, 2. Pembelajaran matematika pada umumnya masih berlangsung secara tradisional dengan pendekatan yang berpusat pada guru melalui metode ekspositori, sehingga kegiatan belajar di kelas lebih banyak dikendalikan oleh guru, sementara cenderung pasif selama proses belajar. Selain itu, latihan yang diberikan kebanyakan berupa soal-soal rutin yang kurang mendorong kemampuan bernalar, khususnya dalam konteks menyelesaikan masalah. Fakta yang ditemui menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kreatif dalam matematika tergolong belum memadai, sebagaimana tercermin dalam hasil PISA dalam beberapa tahun sebelumnya masih belum memuaskan. Studi terakhir pada tahun 2015 mencatat skor 386 untuk kompetensi matematika, sedikit lebih tinggi dibandingkan tahun 2012 yang hanya mencapai 375 (Rasnawati, 2. Meski ada peningkatan, skor tersebut masih jauh di bawah rata-rata internasional yang berada di angka 490. Hal ini menunjukan peserta didik masih perlu ditingkatkan kemampuannya dalam matematika tingkat tinggi, salah satunya adalah Kemampuan berpikir kreatif menjadi fokus utama dalam penelitian ini. Kemampuan berpikir kreatif yaitu sebuah proses mental yang sangat berguna dan perlu dimiliki oleh setiap orang untuk mencapai kesuksesan dalam setiap pemecahan masalah (Susilawati, 2. Terdapat empat indikator, yaitu kelancaran . , keluwesan . , keaslian . , dan elaborasi . (Susilawati et al. , 2. Hasil penelitian Santi et al. menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kreatif matematis peserta didik masih sangat rendah, dengan rata-rata persentase seluruh indikator sebesar 39%. Rincian persentase menunjukkan bahwa indikator 102 Rahayu. Nugroho. A, & Zuhri. Analisis Kemampuan Peserta Didik Dalam Pemecahan Masalah SPLDV Ditinjau Dari Kemampuan Berpikir Kreatif. AB-JME: Al-Bahjah Journal of Mathematics Education, 3 . , 97-110. keluwesan memiliki capaian tertinggi yaitu 48%, yang mengindikasikan bahwa sebagian peserta didik mampu berpikir fleksibel dalam menyelesaikan soal. kelancaran sebesar 36%. keaslian sebesar 22%. dan elaborasi memiliki capaian terendah, yaitu hanya 3%, yang menunjukkan bahwa sebagian besar orang belum bisa memberikan jawaban pada indikator tersebut. Penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kreatif dalam matematika pada orang masih tergolong sangat rendah. Dari hasil wawancara peneliti dengan beberapa guru matematika di SMK Kota Pekanbaru, diketahui bahwa orang di tingkat SMK sering mengalami kesulitan ketika harus menjawab soal-soal matematika yang bertipe HOTS (Higher Order Thinking Skill. Berdasarkan hasil dari penelitian sebelumnya, terdapat kesamaan fokus kajian dengan penelitian ini, yaitu mengenai tingkat keterampilan siswa-siswi dalam memecahkan soal atau persoalan matematis serta kemampuan berpikir kreatif. Meskipun begitu, ada beberapa perbedaan, salah satunya terletak pada variabel kontrol yang digunakan, yaitu materi Sistem Persamaan Linier Dua Variabel (SPLDV), subjek penelitian yang merupakan peserta didik dari jenjang SMP kelas Vi, serta variabel bebas yang ditinjau berdasarkan tingkat kemampuan berpikir kreatif peserta siswa-siswi. Merujuk pada penjelasan awal yang telah di jelaskan sebelumnya, peneliti bermaksud sebagai sarana melaksanakan sebuah penelitian dengan judul AuAnalisis Kemampuan Peserta Didik Dalam Pemecahan Masalah SPLDV Ditinjau Dari Kemampuan Berpikir Kreatif". METODE Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptf kualitatif yaitu metode peneltian yang memiliki tujuan menggambarkan, menjelaskan, serta memotret secara endalam suatu fenomena apa adanya, dengan lokasi pengambilan data di MTs Negeri 1 Demak. Peserta didik yang memiliki subjek penelitian dilakukan berdasarkan hasil ujian mengukue kreativitas berpikir yang telah disampaikan kepadapeserta didik kelas Vi MTs Negeri 1 Demak. Dari 33 responden, ditetapkan tiga yang berperan sebagai subjek utama, yang mewakili Tiap subjek dikelompokkan ke dalam kategori kemampuan berpikir: sangat kreatif, cukup kreatif, dan kurang Volume 3. No 2. December 2025, pp. Dalam hal ini, peneliti berperan langsung sebagai instrumen utama dalam proses pengumpulan dan analisis data. Selama proses dalam proses pengambilan data di lapangan, peneliti turun tangan secara aktif sebagai pihak yang mengumpulkan data sepanjang jalannya penelitian, kemudian melakukan analisis terhadap data tersebut, serta menyusun laporan hasil penelitian. (Meleong, 2. Instrumen pendukung yang digunakan dalam penelitian ini berupa tes uraian tertulis yang berjumlah 2 soal yang dirancang untuk mengukur kemampuan berpikir kreatif peserta didik. Tes ini mengacu pada indikator yang dikemukakan oleh Silver . ,yaitu kefasihan . , keluwesan . , dan kebaruan . , yang digunakan sebagai dasar dalam menentukan orang yang akan dijadikan subjek penelitian. Selain itu, instrumen ini membantu menyaring individu berdasarkan tingkat kreativitas berpikirnya. Bahkan juga digunakan pula tes uraian dengan materi Sistem Persamaan Linier Dua Variabel untuk menilai kemampuan orang dalam menyelesaikan masalah matematis, serta pedoman wawancara sebagai alat bantu pengumpulan data tambahan. HASIL DAN PEMBAHASAN Subjek yang menjadi penelitian ini melibatkan 3 orang sebagai subjek dari kelas Vi MTs Negeri 1 Demak pada semester genap. Ketiganya terdiri dari peserta didik yang menunjukkan pemikiran sangat kreatif, cukup kreatif, hingga tidak kreatif sama sekali. Pemilihan peserta didik sebagai subjek penelitian ilakukan dengan menggunakan alat bantu awal berupa soal tertulis yang disampaikan dengan cara langsung di dalam kelas. Tes tersebut diberikan kepada siswa kelas Vi MTs Negeri 1 Demak dengan jumlah total responden 33 peserta didik, dan hasil pengamatannya ditampilkan dalam Grafik 1. Tabel 1. Pengelompokan Kategori Kemampuan Berpikir Kreatif Peserta Didik Sangat Kreatif Kreatif Cukup Kreatif Kurang Kreatif Tidak Kreatif 30,3% 36,4% 6,1% 24,2% Dari jumlah responden yang telah mengikuti tes, peneliti memilih tiga peserta didik untuk diteliti lebih lanjut. Ketiga peserta didik tersebut terdiri dari satu siswasiswi dengan cara berpikir yang sangat kreatif, satu orangyang berpikir cukup kreatif, 104 Rahayu. Nugroho. A, & Zuhri. Analisis Kemampuan Peserta Didik Dalam Pemecahan Masalah SPLDV Ditinjau Dari Kemampuan Berpikir Kreatif. AB-JME: Al-Bahjah Journal of Mathematics Education, 3 . , 97-110. dan satu lagi yang tidak menunjukkan kreativitas dalam berpikir. Pemilihan orangorang ini sebagai subjek penelitian dilakukan berdasarkan kriteria yang sudah ditentukan oleh peneliti. Peneliti sebagai fokus kajian, mendapat rekomendasi dari guru matematika kelas Vi MTs Negeri 1 Demak, serta mempertimbangkan tingkat komunikasi yang baik dan kemudahan dalam proses wawancara, sehingga informasi yang diperoleh dapat lebih akurat. Adapun peserta didik yang terpilih sebagai subjek disebutkan dalam Tabel 2. Tabel 2. Kode Yang Terpilih Sebagai Subjek Penelitian terpilih Kode Subjek Kategori Kemampuan Berpikir Kreatif MSA Sangat Kreatif VKA Cukup Kreatif NAA Tidak Kreatif Tabel 3. Kemampuan Peserta Didik Dalam Pemecahan Masalah Matmatis Indikator Memahami Masalah Subjek MSA Tercapai, peserta didik dapat memaparkan dengan ditanyakan dari soal. Merencanakan Tercapai. Pemecahan peserta didik dapat Masalah matematika melalui memilih strategi yang tepat, yaitu metode Melaksanakan Rencana Pemecahan Masalah Tercapai, menjelaskan langkahlangkah Subjek VKA Subjek NAA Tercapai, karena Tercapai, dapat peserta didik dapat memaparkan dengan memaparkan dengan yang benar dan diketahui ditanyakan dari soal. ditanyakan dari soal. Tercapai, karena Tercapai, peserta didik dapat peserta didik mampu model menyusun matematika melalui matematika dengan dan membuat perkiraan memilih strategi yang dan memilih cara sesuai, yaitu dengan penyelesaian sesuai yaitu metode metode eliminasi dan eliminasi. Tercapai, karena Tercapai, peserta didik dapat peserta didik dapat dan langkah-langkah menjelaskan langkah- metode metode dengan benar, namun Volume 3. No 2. December 2025, pp. Memeriksa Kembali Solusi yang Diperoleh Tercapai, dan eliminasi dan substitusi masih kurang tepat dengan dengan tepat. dalam perhitungan. peserta didik dapat memberikan alasan terhadap hasil yang secara benar. Tidak tercapai, karena peserta didik belum hasil yang diperoleh dan tidak mampu menarik kesimpulan. Tidak tercapai, karena peserta didik tidak hasil, sehingga terjadi kesalahan perhitungan yang berakibat pada hasil akhir yang salah, dan peserta didik tidak Peserta didik yang terpilih sebagai subjek oleh peneliti diberi tes tertulis untuk melihat kemampuan dalam menyelesaikan masalah matematika, lalu dilanjutkan dengan wawancara. Dari hasil tes tersebut, tiap orang menunjukkan ciri kemampuan yang berbeda-beda dalam memecahkan masalah matematika. Hasil akhirnya bisa dilihat pada Tabel 3. Dalam tabel itu terlihat bahwa orang yang memiliki cara berpikir sangat kreatif bisa menyelesaikan soal dengan berbagai metode yang tepat dan benar. Peserta didik tersebut juga memiliki kecenderungan untuk meninjau melihat kembali jawaban yang ditemukan melalui memeriksa ulang hasil jawabannya. Peristiwa ini jarang dilakukan oleh peserta didik lain dalam penelitian ini. Temuan tersebut konsisten dengan hasil penelitian yang menyatakan bahwa peserta didik dengan tingkat tingkat kreativitas berpikir yang tinggi cenderung tidak mengalami kesulitan dalam menyelesaikan masalah di semua aspek. Namun demikian, hal ini berbeda dengan temuan (Zubaidah, 2. , yang mengungkapkan bahwa secara umum kemampuan peserta didik dalam mengerjakan soal berbentuk cerita pada materi Sistem Persamaan Linier Dua Variabel masih tergolong rendah. Rendahnya kemampuan tersebut disebabkan oleh kesulitan dalam memahami informasi soal . enuliskan data yang ada dan pertanyaan yang harus dijawa. , kemudian merancang langkah penyelesaian strategi . embuat model matematik. , menjalankan rencana, serta memeriksa kembali prosedur dan hasil penyelesaiannya, 106 Rahayu. Nugroho. A, & Zuhri. Analisis Kemampuan Peserta Didik Dalam Pemecahan Masalah SPLDV Ditinjau Dari Kemampuan Berpikir Kreatif. AB-JME: Al-Bahjah Journal of Mathematics Education, 3 . , 97-110. yang akhirnya membuat peserta didik kesulitan menyelesaikan permasalahan, terutama dalam bentuk soal cerita. Peserta didik yang mempunyai kemampuan berpikir dengan level kreativitas cukup kreatif dapat menjawab soal dengan beragam pendekatan, tetapi tidak melakukan pemeriksaan ulang terhadap jawabannya. Hasil penelitian terhadap peserta didik dengan kategori ini menunjukkan bahwa penyelesaian masalah dilakukan dengan lancar dan tepat, meskipun tidak disertai dengan pengecekan ulang terhadap tugas yang telah diselesaikan. Temuan ini sama halnya dengan penelitian Arumanita et al. , yang menyatakan bahwa peserta didik dengan kemampuan pemecahan masalah pada kategori baik umumnya dapat menyelesaikan soal dengan langkah-langkah yang sistematis, namun masih merasa kurang yakin terhadap jawabannya karena tidak melakukan verifikasi ulang terhadap hasil yang diperoleh. Berbeda halnya dengan peserta didik yang menguasai keterampilan berpikir tidak kreatif. Peserta didik ini hanya hanya menerapkan satu pendekatan, yakni metode eliminasi, serta tidak melakukan pemeriksaan ulang terhadap solusi yang Banyak peserta didik hanya memeriksa satu persamaan saja, atau bahkan tidak melakukan pengecekan ulang sama sekali. Ada pula yang menganggap bahwa jika hasil pemeriksaan terhadap satu persamaan benar, maka persamaan lainnya pasti juga benar. Temuan tersebut diperkuat oleh (Rasnawati, 2. , yang menjelaskan bahwa kesalahan dalam menjawab pertanyan muncul karena orang cenderung kurang cermat dalam memahami soal, hanya menggunakan satu metode penyelesaian, serta keliru saat menghitung. Hal ini menunjukkan bahwa siswa-siswi belum Sering berlatih mengerjakan soal yang membantu mengasah kemampuan berpikir kreatif. Kemampuan pola pikir kreatif dan strategi penyelesaian masalah memiliki hubungan yang berkolerasi tinggi (Mahmudi, 2. Penyelesaian masalah menuntut adanya keterampilan dalam menciptakan solusi kreatif untuk mencari dan mempertimbangkan sejumlah alternatif pemecahan. Sementara itu, kegiatan pemecahan masalah juga dapat menciptakan permasalahan yang dihadapi dapat memicu pertumbuhan kemampuan berpikir kreatif dalam diri peserta didik. Sehubungan dengan hal itu, (Desti E. , 2. menyatakan kemampuan berpikir kreatif Volume 3. No 2. December 2025, pp. merupakan salah satu kompetensi esensial yang perlu dimiliki oleh orang dalam menghadapi permasalahan matematika, khususnya soal-soal yang memungkinkan adanya lebih dari satu solusi. Dengan kata lain, apabila seseorang tidak memiliki kemampuan berpikir kreatif yang memadai, maka besar kemungkinan ia akan mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal matematika secara cepat, tepat, dan KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa: . peserta didik dengan kemampuan berpikir sangat reatif mampu memenuhi seluruh tahapan dalam proses pemecahan masalah, yakni memahami masalah, merancang solusi, menjalankan strategi penyelesaian, dan memeriksa kembali hasil yang diperoleh. peserta didik dengan tingkat kreativitas berpikir yang cukup mampu mencapai tiga tahap, yaitu memahami persoalan, merencanakan solusi, dan melaksanakan langkah penyelesaian, namun belum sampai pada tahap memeriksa kembali jawabannya. peserta didik dengan kemampuan berpikir yang kurang kreatif juga hanya mampu memenuhi tiga tahap, namun dengan kualitas pemahaman dan pelaksanaan yang lebih terbatas. Saran yang disampaikan : Pendidik diharapkan dapat memberikan perhatian terhadap perbedaan kemampuan peserta didik dalam memecahkan masalah matematis. peserta didik didorong untuk meningkatkan ketelitian dan intensitas latihan dalam menyelesaikan soal matematika agar kemampuan pemecahan masalah semakin baik. Peneliti berikutnya yang akan menyusun kajian serupa disarankan mengevaluasi aspek matematika yang berbeda guna memperluas cakupan kajian mengenai kemampuan matematis peserta didik. DAFTAR PUSTAKA