ARTIKEL KAJIAN MANAJEMEN STRATEGIK: STRATEGIES FOR BUILDING RESILIENCE AND AGILITY PADA PT CITILINK INDONESIA POST Ae COVID-19 Diana Setiawati1. Hisma Yuliet Abu Sopyan2. Irvan Ganeva3. Leviadi Pangaribuan4. Safira Nurmalitasari5 1,2,3,4,5 Universitas Indonesia Email: dianasdm222@gmail. Abstrak Pandemi COVID-19 memaksa perusahaan untuk beradaptasi dengan cepat terhadap tantangan dan peluang baru. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi strategi PT. Citilink Indonesia, maskapai penerbangan low-cost carrier, dalam menghadapi krisis global. Menggunakan metode kualitatif dan data sekunder, penelitian ini mengeksplorasi resilience dan agitily Citilink dalam menghadapi pandemi COVID-19. Citilink membentuk Satuan Tugas COVID19, menerapkan protokol kesehatan, dan menyesuaikan jadwal penerbangan. Di fase pemulihan, mereka meningkatkan digitalisasi layanan, mengembangkan produk baru, dan melakukan negosiasi ulang kontrak. Transformasi digital yang komprehensif dan kemampuan adaptasi yang kuat memungkinkan Citilink bertahan dan berkembang di tengah krisis seperti pandemi COVID-19, sesuai teori agility dan resilience dan memanfaatkan dynamic capabilites serta planned oportunism. Hasil kajian menunjukkan bahwa strategi-strategi ini efektif dalam meningkatkan daya saing dan ketahanan bisnis industri penerbangan nasional khususnya PT. Citilink Indonesia. Penelitian ini memberikan rekomendasi bagi perusahaan lain dalam merumuskan strategi menghadapi krisis serupa di masa depan. Kata Kunci: Strategi Bisnis. Kapabilitas Dinamis. Citilink. Resilience. Agility. Abstract The COVID-19 pandemic has necessitated rapid adaptation by companies to new challenges and opportunities. This study aims to evaluate the strategies employed by PT. Citilink Indonesia, a low-cost carrier airline, is responding to the global crisis. The research uses qualitative methods and secondary data to explore Citilink's resilience and agility during the COVID-19 pandemic. Citilink established a COVID-19 Task Force, implemented health protocols, and adjusted flight schedules. During recovery, they enhanced service digitalization, developed new products, and renegotiated contracts. Comprehensive digital transformation and robust adaptive capabilities enabled Citilink to endure and thrive amidst crises such as the COVID-19 pandemic, by theories of agility, resilience, dynamic capabilities, and planned The study findings indicate that these strategies effectively enhance competitiveness and business resilience within the national aviation industry, particularly for PT. Citilink Indonesia. This research contributes recommendations for other companies in formulating strategies to address similar crises in the future. Keywords: Business Strategy. Dynamic Capabilities. Citilink. Resilience. Agility. PENDAHULUAN Pandemi COVID-19 telah berdampak signifikan bagi jutaan perusahaan di seluruh dunia, termasuk perusahaan-perusahaan jasa. Kondisi ekonomi yang tidak menentu mengharuskan perusahaan untuk menjadi lebih tangguh dalam menghadapi tantangan yang AKSELERASI: Jurnal Ilmiah Nasional Vol. 6 No. 2 Tahun 2024 ARTIKEL muncul (Huang & Jahromi, 2. Pandemi ini mendorong perusahaan-perusahaan untuk memiliki fleksibilitas yang tinggi agar dapat dengan cepat menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi serta menangkap peluang-peluang baru yang muncul akibat dari krisis ini. Salah satu sektor yang paling terdampak adalah industri penerbangan, di mana terjadi penurunan drastis dalam permintaan perjalanan udara akibat pembatasan perjalanan yang diberlakukan di berbagai negara. PT. Citilink Indonesia, sebagai maskapai penerbangan berbiaya murah yang terkemuka di Indonesia, berhasil mengatasi tantangan global ini dengan menerapkan strategi-strategi perusahaan yang efektif, sehingga meningkatkan kemampuan adaptasi dan ketahanan perusahaan. Penelitian ini menjadi penting untuk memahami bagaimana perusahaan merumuskan strategi untuk menghadapi perubahan lingkungan, terutama tantangan-tantangan yang timbul akibat krisis global seperti pandemi COVID-19. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengevaluasi sejauh mana implementasi strategi yang dilakukan oleh PT. Citilink Indonesia dalam menghadapi tantangan-tantangan tersebut. Dalam konteks industri penerbangan, penurunan permintaan perjalanan udara akibat pandemi COVID-19 (Sugiarti, 2. telah menyebabkan penurunan pendapatan yang Hal ini mendorong perusahaan-perusahaan untuk mengevaluasi kembali biaya operasional dan mengadopsi strategi baru guna menjaga kelangsungan operasional. PT. Citilink Indonesia, misalnya, telah beradaptasi dengan cepat terhadap disrupsi teknologi dengan meningkatkan efisiensi dan pengalaman pengguna melalui akses layanan digital. Perusahaan ini juga melakukan penambahan dan modifikasi layanan, serta menerapkan strategi pengelolaan keuangan yang lebih ketat namun tetap fleksibel, sehingga dapat menyesuaikan anggaran dengan baik dalam menghadapi tantangan-tantangan lingkungan yang akan datang. Temuan dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi berharga bagi perusahaan lain dalam mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi fleksibilitas dan ketahanan perusahaan, serta strategi-strategi efektif untuk memperkuat kedua aspek ini dalam menghadapi krisis dan tantangan di masa depan. TINJAUAN PUSTAKA Resilience Ittner . menyatakan bahwa perusahaan dapat menjadi lebih resilient di era new normal dengan memanfaatkan penggunaan teknologi digital . eperti cloud computing, cyber security, dan artificial intelligenc. , fleksibilitas dalam mengatur biaya, dan agility untuk berinteraksi secara lebih efektif dengan pelanggan seiring dengan perubahan yang terjadi. Deloitte Consulting dalam Ittner . juga menjelaskan bahwa resiliensi pada dunia usaha ketika menghadapi dampak pandemi diklasifikasikan dalam 3 fase umum yaitu respond . engukur dampak pandemi terhadap perusahaa. , recover . engonsolidasikan sumber daya untuk puli. , dan thrive . erkembang atau tumbuh pesa. Aguilar dan Ittner memperluas atribut yang akan menentukan ketahanan organisasi bisnis dalam AuNext NormalAy yang meliputi: Model operasi yang didukung secara digital, sehingga mengubah cara berinteraksi dengan pelanggan, memperoleh pendapatan, serta mengelola biaya. Melakukan diferensiasi penawaran kepada pelanggan dengan menggunakan alat digital, karena pelanggan masa depan akan menuntut lebih banyak fleksibilitas dalam konsumsi produk atau layanan. Penekanan pada agility dan fleksibilitas, karena struktur biaya yang kaku tidak mampu merespon lingkungan yang tidak pasti dengan baik. Memikirkan kembali rantai pasokan . upply chain. Lebih menekankan pada perencanaan dan forecasting. AKSELERASI: Jurnal Ilmiah Nasional Vol. 6 No. 2 Tahun 2024 ARTIKEL Agility Menurut Williams. Worley, & Lawler . , agility tidak hanya didefinisikan sebagai kemampuan untuk berubah, melainkan kemampuan yang dikembangkan yang memungkinkan sebuah organisasi untuk merespons secara tepat waktu, efektif, dan berkelanjutan ketika keadaan yang berubah memerlukannya. Hal ini memungkinkan perusahaan yang berkinerja lebih baik untuk mempertahankan atau meningkatkan keunggulan relatif mereka. Terdapat empat rutinitas yang membedakan organisasi yang berkinerja tinggi dengan organisasi yang berkinerja rendah yaitu kemampuan menyusun strategi secara dinamis, memahami perubahan lingkungan eksternal secara akurat, menguji kemungkinan tanggapan, dan mengimplementasikan perubahan pada produk, teknologi, operasi, struktur, sistem, dan kemampuan secara keseluruhan (Williams. Worley, & Lawler, 2. Williams. Worley, & Lawler . juga menyebutkan beberapa tantangan utama dalam menerapkan agility di perusahaan yaitu: Budaya perusahaan, karena mengubah budaya yang sudah mapan untuk mendukung agilitas bisa sulit karena adanya resistensi karyawan. Struktur dan proses yang kaku, karena struktur hierarkis dan proses yang kaku menghambat respons yang cepat. Kekurangan keterampilan yang diperlukan untuk prinsip-prinsip agilitas. Resistensi terhadap perubahan, karena karyawan yang nyaman dengan cara kerja lama dapat resisten terhadap perubahan. Kurangnya dukungan manajemen puncak dapat menghambat upaya agilitas. Koordinasi lintas fungsi, yaitu adanya kesulitan dalam koordinasi antar tim dan Dalam meminimalisir hambatan pada perilaku agile. Rigby. Sutherland, & Takeuchi . memberikan beberapa teknik yang dapat dilakukan yaitu dengan menyamakan orientasi atau pandangan dari semua anggota. mengubah peran . , bukan langsung mengubah menunjuk satu pimpinan untuk setiap keputusan. berfokus pada tim, bukan dan memimpin dengan pertanyaan, bukan perintah. Menurut Rigby. Sutherland, & Takeuchi . , metode agile adalah sebuah pendekatan manajemen proyek yang melibatkan nilai, prinsip, praktik, dan manfaat baru yang berfungsi sebagai alternatif radikal dari manajemen gaya komando dan kontrol tradisional. Pendekatan ini menekankan kolaborasi, fleksibilitas, komunikasi yang efektif, dan peningkatan Pendekatan agile tidak hanya mempercepat pertumbuhan yang menguntungkan tetapi juga membantu menciptakan generasi baru manajer umum yang terampil. Metode inovasi agile paling efektif diterapkan dalam kondisi-kondisi tertentu, seperti inovasi software, kondisi dimana solusi awalnya tidak diketahui, persyaratan produk yang kemungkinan besar akan berubah, serta pekerjaan yang dapat dimodularisasi, menuntut kreativitas dan kolaborasi erat dengan pengguna akhir (Rigby. Sutherland, & Takeuchi, 2. Pengenalan agile yang sukses sering dimulai dari skala kecil, dengan bertumbuhnya minat dan keberhasilan, sehingga metode tersebut dapat menyebar ke fungsi-fungsi lain dalam Praktik inovasi agile perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan dipraktikkan sehingga dapat mencapai kepuasan pelanggan dan produktivitas tim. Dynamic Capability Kapabilitas dinamis mengacu pada kapasitas organisasi untuk secara sengaja menciptakan, memperluas, atau memodifikasi basis sumber dayanya (Helfat et al. , 2. Asumsi dasarnya adalah bahwa kompetensi inti harus digunakan untuk mengubah posisi kompetitif jangka pendek dan membangun keunggulan kompetitif jangka panjang. AKSELERASI: Jurnal Ilmiah Nasional Vol. 6 No. 2 Tahun 2024 ARTIKEL Komponen kapabilitas dinamis menurut Teece . Sensing (Pencitraa. : Kemampuan untuk mendeteksi perubahan dan peluang di lingkungan eksternal dan internal perusahaan. Ini melibatkan pengumpulan, pemrosesan, dan interpretasi informasi tentang tren pasar, teknologi baru, dan perubahan kebijakan. Seizing (Memanfaatka. : Kemampuan untuk mengambil tindakan cepat dan efektif dalam menangkap peluang yang teridentifikasi. Ini melibatkan pengambilan keputusan strategis, peluncuran produk baru, atau kemitraan strategis. Reconfiguring/Transforming (Rekonfiguras. : Kemampuan untuk menyesuaikan dan mengubah sumber daya, kapabilitas, dan struktur organisasi agar sesuai dengan perubahan lingkungan dan peluang. Ini melibatkan restrukturisasi proses, teknologi, dan model bisnis. Planned Opportunism Teori planned opportunism, yang didefinisikan oleh Vijay dalam Harvard Business Review . , adalah konsep yang digunakan oleh organisasi untuk merespons masa depan yang tidak dapat diprediksi dengan memperhatikan sinyal lemah. Sinyal lemah ini mencakup bukti awal dari tren yang muncul, seperti perubahan dalam demografi, teknologi, selera dan kebutuhan pelanggan, serta kekuatan ekonomi, lingkungan, regulasi, dan politik. Dengan memperhatikan sinyal-sinyal ini, organisasi dapat mengembangkan perspektif baru dan pemikiran non-linear yang membantu mereka membayangkan dan merencanakan berbagai masa depan yang mungkin terjadi. Proses ini berfokus pada tiga tujuan utama bagi perusahaan: Menciptakan sistem yang memungkinkan sirkulasi ide-ide baru. Mengembangkan kapasitas untuk memprioritaskan, menyelidiki, dan mengimplementasikan ide-ide tersebut. Membangun budaya adaptif yang mendukung perubahan terus-menerus. METODE Penelitian ini dilakukan oleh penulis menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data sekunder, yang memanfaatkan data yang tersedia dan dokumentasi yang telah lalu. Penelitian kualitatif, menurut Creswell . , adalah sarana untuk mengeksplorasi dan memahami makna yang diberikan oleh individu atau kelompok terhadap suatu masalah sosial manusia. Dalam konteks ini, pengumpulan data sekunder adalah proses mengumpulkan data yang telah dikumpulkan sebelumnya oleh orang lain atau organisasi untuk tujuan tertentu, tetapi kemudian digunakan kembali untuk menjawab pertanyaan atau penelitian baru (Vartanian, 2. Dengan menggunakan data sekunder, peneliti dapat mengeksplorasi perspektif yang berbeda dan memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang masalah sosial yang sedang diteliti, tanpa harus mengumpulkan data baru dari awal. Hal ini memungkinkan penelitian menjadi lebih efisien dalam hal waktu dan sumber daya, serta memberikan kesempatan untuk memanfaatkan data yang mungkin tidak lagi mudah diakses atau direplikasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Global Crises: Pandemi Covid-19 Krisis global akibat pandemi COVID-19 berdampak besar pada berbagai sektor ekonomi di seluruh dunia. Menurut Ittner . , survei menemukan bahwa maskapai penerbangan dan sektor perhotelan adalah yang paling parah terkena dampak oleh COVID-19. AKSELERASI: Jurnal Ilmiah Nasional Vol. 6 No. 2 Tahun 2024 ARTIKEL Beberapa mampu berkinerja lebih baik seperti perusahaan farmasi dan produsen barang tahan lama konsumen. Sekitar 60% responden dalam sektor transportasi dan perhotelan mengharapkan penurunan pendapatan dalam 12 bulan mendatang, sementara antara 57% dan 63% dari mereka dalam teknologi medis, telekomunikasi, farmasi, dan perangkat lunak & layanan TI mengharapkan pertumbuhan pendapatan positif (Ittner, 2. Menurut Melati . , dampak pandemi COVID-19 terhadap perekonomian Indonesia dapat dilihat dari pertumbuhan ekonomi yang melambat, turun dari 5,02 persen pada tahun 2019 menjadi 2,97 persen pada tahun 2020. Perlambatan ini juga disertai dengan peningkatan tingkat pengangguran, yang menurut data Bank Dunia, naik dari 5,28 persen pada tahun 2019 menjadi 7,07 persen pada tahun 2020. Pandemi ini berdampak hampir ke seluruh industri, tak terkecuali pada industri penerbangan di Indonesia. Pandemi menyebabkan banyak negara, termasuk Indonesia, memberlakukan pembatasan perjalanan internasional dan domestik untuk mengekang penyebaran virus. Kondisi ini mengakibatkan penurunan drastis dalam jumlah penumpang pesawat. Selain itu, faktor internal dari konsumen akan kekhawatiran kesehatan dengan mengurangi perjalanan udara berdampak signifikan pada industri Yarlina et al. dalam penelitiannya menemukan bahwa secara statistik, jumlah penerbangan dan penumpang domestik telah mengalami penurunan yang sangat signifikan, masing-masing hingga 86,7% untuk pesawat dan 99,7% untuk penumpang akibat pandemi COVID-19. Penurunan terbesar terjadi pada tanggal 25 April 2020, saat larangan perjalanan mulai diberlakukan. Selain aturan pembatasan physical distancing dari WHO, maskapai penerbangan seluruh dunia harus mematuhi standar protokol yang ditentukan oleh lembaga internasional seperti International Civil Aviation Organization (ICAO). Airports Council International (ACI), dan International Air Transport Association (IATA) yang memaksa industri maskapai penerbangan menutup jadwal penerbangan, sementara biaya operasional tetap berjalan (Yarlina et al. , 2. Laporan Tahunan Indonesia National Air Carries Association (INACA) tahun 2021 juga mencatat bahwa terjadi penurunan jumlah penumpang yang signifikan pada masa Pandemi COVID-19 . seperti yang terlihat pada Gambar 1 di bawah ini. Selain itu, kondisi pasar tetap stagnan dan bahkan sedikit menurun akibat lemahnya minat pengguna jasa yang disertai dengan ketatnya aturan perjalanan serta pembatasan kegiatan masyarakat (INACA. Gambar 1. Jumlah Penumpang Maskapai Penerbangan Nasional . alam juta oran. Sumber: Annual Report INACA 2021 AKSELERASI: Jurnal Ilmiah Nasional Vol. 6 No. 2 Tahun 2024 ARTIKEL PT Citilink Indonesia berupaya tetap menjaga ketangguhan . di tengah disrupsi pandemi COVID-19 ini, meskipun harus menderita penurunan pendapatan operasional karena beban operasional tetap berjalan, namun jumlah penumpang mengalami penurunan Sebagai contoh, meskipun harga bahan bakar avtur turun. Citilink tetap harus mengalami peningkatan beban bahan bakar karena utilisasi pesawat yang rendah. Selain itu, citilink juga harus tetap membayar biaya sewa pesawat meskipun penerbangan berkurang. Pada tahun 2020, penurunan drastis jumlah penumpang Citilink akibat pembatasan perjalanan dan kekhawatiran masyarakat anjlok 68,5% dibandingkan tahun 2019, dan hal ini berdampak pada penurunan pendapatan operasional seperti yang terlihat pada Gambar 2 di bawah ini. Gambar 2. Pendapatan Operasional Citilink Tahun 2018 - 2022 Sumber: Annual Report Citilink Tahun 2022 . iolah penuli. Pada tahun pertama COVID-19 . , pendapatan operasional citilink mencapai $343 juta dolar USD, atau menurun sebesar $533 juta dolar USD dari tahun 2019, demikian juga di tahun kedua COVID-19 . , meskipun mengalami sedikit kenaikan sebesar $433 juta dolar USD. Pada akhir 2021, pandemi COVID-19 masih berlangsung. Seluruh maskapai penerbangan global mengalami dampak signifikan akibat peningkatan kasus, terutama varian Delta yang sangat menular. Beberapa negara membuka perbatasan dengan persyaratan ketat, sementara yang lain, termasuk Indonesia, masih melarang kedatangan dari zona berisiko tinggi. Perbedaan pembatasan perjalanan di setiap negara berdampak besar pada ekonomi global hingga triwulan ketiga 2021. Namun, pada triwulan keempat, berbagai indikator ekonomi menunjukkan perbaikan signifikan. Jumlah trafik penumpang di Indonesia selama 2021 belum kembali normal, terutama hingga triwulan ketiga. Namun, ada peningkatan di triwulan keempat seiring dengan program vaksinasi yang meningkat. Peningkatan trafik ini membantu kinerja maskapai di Indonesia. AKSELERASI: Jurnal Ilmiah Nasional Vol. 6 No. 2 Tahun 2024 ARTIKEL Gambar 3. Jumlah Penumpang Citilink (Domestik dan Internasiona. Sumber: Annual Report Citilink Tahun 2022 The New Normal: Resilience and Dynamic Capability in the Post-Pandemic Phase Ittner . menggambarkan resilience suatu bisnis dalam menghadapi dampak pandemi melalui 3 . fase, yaitu: Respond. Recover dan Thrive. Respond: fase yang berfokus pada mengukur dampak pandemi terhadap perusahaan, serta pengendalian situasi dan meminimalisir dampak krisis. Recover: fase yang berfokus pada pemulihan operasi dan kembali ke kondisi normal dengan mengonsolidasikan sumber daya untuk bangkit. Thrive: fase yang berfokus pada memanfaatkan krisis sebagai peluang untuk meningkatkan ketahanan bisnis dan menjadi lebih kuat. Respond Selama masa pandemi. Citilink mengalami penurunan drastis penumpang di tahun 2020 hingga 2021 akibat pembatasan perjalanan. Mengatasi hal tersebut, upaya citilink dengan ditopang oleh Garuda sebagai induk perusahaan mengambil langkah-langkah sebagai berikut: Membentuk Tim Satuan Tugas COVID-19: Citilink membentuk Satuan Tugas COVID19 yang bertugas untuk memantau perkembangan situasi, membuat protokol kesehatan, dan memastikan kepatuhan terhadap regulasi pemerintah. Penerapan Protokol Kesehatan: Citilink menerapkan protokol kesehatan yang ketat di seluruh bandara dan pesawat, seperti mewajibkan penggunaan masker, menjaga jarak fisik, dan melakukan desinfeksi secara berkala. Penyesuaian Jadwal Penerbangan: Citilink melakukan penyesuaian jadwal penerbangan dengan mengurangi penerbangan ke rute-rute yang sepi dan meningkatkan penerbangan ke rute-rute yang masih diminati. Pembatasan Penumpang: Citilink merespon tantangan tersebut dengan pengurangan penerbangan internasional yang tentunya berdampak pada perusahaan. Namun. Citilink telah mengambil langkah contingency plan yaitu dengan melakukan penyesuaian kapasitas . apacity adjustmen. khususnya dalam memperhatikan supply and demand dari rute-rute yang diterbangi oleh Citilink tanpa mengurangi safety first dari citilink Recover Sumber daya dan kemampuan merupakan dasar-dasar penting yang digunakan oleh organisasi untuk membuat strategi. Kedua hal ini saling terkait, karena kemampuan organisasi berkembang dari penggunaan sumber daya dan kemampuan secara efektif dan efisiensi. AKSELERASI: Jurnal Ilmiah Nasional Vol. 6 No. 2 Tahun 2024 ARTIKEL Citilink menggunakan dynamic capabilities dengan baik karena mampu secara terus-menerus memperbarui kumpulan kemampuannya agar selalu relevan dengan perubahan yang terjadi dalam lingkungan operasionalnya. Tabel 3. 1 berikut merupakan integrasi sumber daya . dan dynamic capabilities yang dimiliki citilink agar tetap tangguh . dalam menghadapi krisis, khususnya dalam konteks ini adalah dalam menghadapi post pandemic phase adapi krisis, khususnya dalam konteks ini adalah dalam menghadapi post pandemic phase Tabel 1. Resources dan Dynamic Capabilities Citilink dalam Menghadapi Krisis Resources Dynamic Capabilities Tangible Asset: Pesawat terbang . irbus dan boein. , . endaraan menjemput penumpang dan transportasi karg. , bangunan kantor . antor pusat, kantor cabang layanan, loket check i. , teknologi, fasilitas, mesin, perlengkapan operasional . eralatan ground handling, perawatan pesawa. Program Keanggotaan LinkMiles Program keanggotaan ini menciptakan pelanggan setia Citilink. Upaya Citilink dalam membangun modal sosial dan hubungan pelanggan yang kuat sebagai bagian dari sumber daya relasional yang dimiliki perusahaan. Intangible asset: Brand . ebagai reputasi, citra merek, dan Lisensi Perizinan Penerbangan, sistem reservasi online yang terintegrasi (Integrated Flight Management Syste. dan manajemen penerbangan, kekayaan intelektual . ak paten, hak cipta, teknologi dan inovasi, sistem keamanan, dan proses operasiona. Data pelanggan. Inovasi. Kemitraan dan Aliansi. Middleware API Reservation Sales System Sistem ini memberikan kemudahan bagi mitra Citilink dalam menjalankan proses bisnis inti mereka, seperti pembelian tiket dan pembayaran. Hal ini menunjukkan bahwa Citilink memiliki kapabilitas dalam mengembangkan sistem teknologi yang kompleks untuk mendukung operasional dan kemitraan bisnisnya. Dalam fase recover, dengan mengoptimalkan resources yang ada, citilink mengambil langkah-langkah sebagai berikut: Memberikan Stimulus Promosi: Citilink memberikan berbagai stimulus promosi untuk menarik minat masyarakat untuk kembali bepergian, seperti diskon tiket pesawat, paket wisata, dan program cicilan. Digitalisasi Layanan: Citilink meningkatkan digitalisasi layanannya untuk memudahkan pemesanan tiket, check-in online, dan layanan lainnya. Pengembangan Produk Baru: Citilink mengembangkan produk baru, seperti penerbangan kargo dan charter, untuk menambah sumber pendapatan. Negosiasi Ulang Kontrak: Citilink melakukan negosiasi ulang kontrak dengan pihakpihak terkait, seperti penyedia layanan bandara dan pemasok, untuk menekan biaya. Dalam fase ini juga citilink memanfaatkan IT untuk memulihkan bisnisnya dan membangun ketahanan di masa depan sebagai bentuk resilience dalam menghadapi krisis. Penggunaan big data, dan platform digital telah membantu Citilink untuk meningkatkan efisiensi, meningkatkan kepuasan pelanggan, dan mempercepat pemulihan bisnisnya. AKSELERASI: Jurnal Ilmiah Nasional Vol. 6 No. 2 Tahun 2024 ARTIKEL Analisis Big Data untuk Memahami Perilaku Pelanggan: Melacak pola perjalanan: Citilink menggunakan big data untuk melacak pola perjalanan dan preferensi pelanggan. Data ini digunakan untuk memahami perubahan permintaan dan menyesuaikan penawaran produk dan layanannya. Menentukan target pemasaran: Citilink memanfaatkan big data untuk menargetkan kampanye pemasarannya dengan lebih efektif kepada pelanggan yang tepat. Meningkatkan personalisasi: Citilink menggunakan big data untuk memberikan pengalaman yang lebih personal kepada pelanggan, seperti rekomendasi penerbangan dan penawaran khusus. Platform Digital untuk Meningkatkan Kenyamanan Pelanggan: Aplikasi seluler: Citilink menyediakan aplikasi seluler yang memungkinkan pelanggan untuk memesan tiket, check-in online, dan mengelola perjalanan mereka. Chatbot: Citilink menggunakan chatbot untuk menjawab pertanyaan pelanggan dan memberikan bantuan secara real-time. Website: Citilink menyediakan website yang informatif dan mudah digunakan untuk membantu pelanggan menemukan informasi tentang penerbangan dan layanan lainnya. Penggunaan IT di Citilink telah membawa berbagai dampak positif yang berkontribusi pada ketahanan perusahaan. IT telah meningkatkan efisiensi operasional dan mengurangi biaya, serta meningkatkan kepuasan pelanggan dengan memberikan pengalaman yang lebih personal dan nyaman. Selain itu. IT juga berperan penting dalam mempercepat pemulihan bisnis Citilink dari krisis pandemi COVID-19, menunjukkan kemampuan perusahaan untuk beradaptasi dan bertahan dalam situasi yang sulit. Thrive Pengalaman menghadapi pandemi membuat Citilink lebih siap menghadapi tekanan, terutama dalam hal arus kas. Meski krisis pandemi melanda. Citilink belajar bahwa peluang selalu ada di tengah kesulitan. Armada yang ada, jumlah karyawan yang efisien, pasar Indonesia yang agresif pertumbuhannya, model bisnis yang sederhana, dan semakin dikenalnya merek Citilink adalah faktor penting yang membuat perusahaan tetap percaya diri menghadapi Citilink tumbuh pesat dengan berfokus pada perbaikan: Fokus pada Power of Suppliers: Semakin tinggi kekuatan atau dominasi supplier dalam hubungannya dengan perusahaan pembeli, semakin besar kemampuan mereka untuk mengendalikan kondisi perdagangan, termasuk harga dan kualitas produk yang disediakan. Supplier Komponen Pesawat: Menjaga hubungan kuat dengan supplier dengan mengembalikan beberapa armada pesawat kepada lessor, sehingga Citilink dapat melakukan revitalisasi armada untuk menyegarkan aset lama dan memodernisasi demi pertumbuhan berkelanjutan dalam industri penerbangan. Pengelolaan Bandara: Menjaga komitmen terhadap visi sebagai armada yang tepat waktu dengan pengelolaan bandara yang efisien. Hubungan dengan Pertamina: Menjaga hubungan baik dengan Pertamina untuk memastikan kelancaran sistem operasionalnya melalui pasokan bahan bakar yang . Inovasi Digital Mengadopsi teknologi digital untuk meningkatkan pengalaman pelanggan dan efisiensi operasional, seperti check-in online dan aplikasi mobile. Diversifikasi Layanan AKSELERASI: Jurnal Ilmiah Nasional Vol. 6 No. 2 Tahun 2024 ARTIKEL Mengembangkan layanan baru dan diversifikasi sumber pendapatan, seperti layanan charter, pariwisata kesehatan, dan program loyalitas. Peningkatan Kapasitas SDM Melatih karyawan dalam keterampilan baru dan memperkuat budaya inovasi dan ketahanan dalam organisasi. Agility Citilink Pasca Pandemi COVID-19 Pandemi COVID-19 telah memberikan tantangan besar bagi industri penerbangan, termasuk Citilink. Namun. Citilink telah menunjukkan agility yang kuat dalam menghadapi perubahan drastis ini. Melalui transformasi digital yang komprehensif di berbagai lini operasional. Citilink berhasil mengadaptasi dan merespons dengan cepat, efektif, serta berkelanjutan terhadap perubahan kondisi pasar. Salah satu kunci keberhasilan Citilink adalah penerapan pendekatan agile dalam pengelolaan sumber daya manusia (SDM). Tim HR Citilink bekerja dalam mode proyek yang lebih lincah, dengan siklus pengembangan yang lebih cepat dan adaptif terhadap perubahan. Misalnya, dalam merancang program pelatihan dan pengembangan karyawan. Citilink menerapkan metode design thinking untuk memastikan solusi yang ditawarkan sesuai dengan kebutuhan karyawan. Melalui digitalisasi human capital. Citilink juga berhasil meningkatkan fleksibilitas, kecepatan, dan efektivitas dalam mengelola SDM-nya. Selain itu. Citilink juga menunjukkan agility dalam mengimplementasikan berbagai solusi digital untuk mendukung operasional dan meningkatkan pengalaman pelanggan. Beberapa contoh solusi digital yang dikembangkan Citilink antara lain Middleware API Reservation Sales System for Partners. Mobile Apps as e-Commerce Platform. Chatbot dan Messaging Automation. Corporate Partner Platform, serta E-Cargo Solution Platform. Solusisolusi ini memungkinkan Citilink untuk beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan kebutuhan pasar dan preferensi pelanggan. Lebih lanjut. Citilink juga mengembangkan solusi internal digital untuk mendukung efisiensi dan produktivitas operasional, seperti Hellociti An Employee Mobile Platform. Skybreath as a Fuel Efficiency Platform. Baggage Tracing Platform. E-Aircraft Flight Log, dan Commando Platform. Solusi-solusi ini membantu Citilink untuk meningkatkan daya saing dan ketahanan bisnis di tengah kondisi pasar yang tidak Berbagai upaya dari Citilink yang menunjukkan agilitas pasca pandemi COVID-19 dapat dijelaskan sebagai berikut: Pengembangan Chatbot dan Messaging Automation Citilink mengembangkan chatbot dan sistem otomasi pesan untuk memudahkan penumpang mendapatkan informasi terkait status penerbangan dan melakukan interaksi pembelian tiket. Ini menunjukkan agility Citilink dalam merespons kebutuhan pelanggan yang semakin digital. Implementasi Baggage Tracing Platform Citilink mengembangkan platform pelacakan bagasi berbasis IoT untuk mengurangi permasalahan kehilangan bagasi penumpang. Ini menunjukkan agility Citilink dalam mengatasi tantangan operasional dengan solusi teknologi yang inovatif. Penerapan Commando Platform Citilink mengembangkan platform digital commando untuk mendukung operasional terkait crew, ground operation, fuel management, dan maintenance pesawat. Hal ini menunjukkan agility Citilink dalam meningkatkan efisiensi dan produktivitas internal. Keberhasilan Citilink dalam menunjukkan agility di tengah pandemi COVID-19 sejalan dengan teori Williams. Worley, & Lawler . yang menyatakan bahwa agility melibatkan kemampuan menyusun strategi secara dinamis, memahami perubahan lingkungan eksternal secara akurat, menguji kemungkinan tanggapan, dan mengimplementasikan perubahan pada AKSELERASI: Jurnal Ilmiah Nasional Vol. 6 No. 2 Tahun 2024 ARTIKEL produk, teknologi, operasi, struktur, sistem, dan kemampuan secara keseluruhan. Citilink telah menunjukkan kemampuan ini dengan baik, sehingga dapat bertahan dan bahkan berkembang di tengah kondisi yang penuh tantangan. Dengan berbagai inisiatif agility yang telah ditunjukkan. Citilink berhasil menghadapi pandemi COVID-19 dengan baik dan tetap mampu bertahan serta mengembangkan bisnisnya di tengah kondisi yang penuh tantangan. Dampak Resiliensi dan Agilitas Citilink pada Kinerjanya Meskipun pandemi COVID-19 telah memberikan dampak signifikan terhadap industri penerbangan secara global, termasuk Citilink, perusahaan telah menunjukkan ketahanan dengan mempertahankan operasionalnya dalam kondisi yang sangat menantang. Penurunan jumlah penumpang dan pembatasan perjalanan mempengaruhi pendapatan, namun Citilink berhasil meminimalisir kerugian dan mempersiapkan diri untuk pemulihan pasca-pandemi melalui penyesuaian strategis. Citilink juga memanfaatkan situasi ini untuk memperkuat kehadiran digitalnya dan meningkatkan layanan kepada pelanggan, termasuk peningkatan protokol kesehatan dan keamanan untuk menarik kembali kepercayaan penumpang. Dampak positif dari resiliensi dan agilitas Citilink dapat dilihat dari berbagai prestasi dan penghargaan yang diraih selama tahun 2020, seperti "Best ASEAN Tourism Photo," "Best ASEAN Airline Program" dari ASEAN Tourism Association, dan "Best Low-Cost Airline in Asia" dari TripAdvisor. Penghargaan-penghargaan ini mencerminkan pengakuan atas ketahanan dan kualitas layanan Citilink di tengah pandemi. Selain itu, sebelum pandemi. Citilink juga menunjukkan kinerja keuangan yang kuat dengan meraih net profit margin tertinggi sepanjang sejarahnya pada tahun 2019, serta mencatat tingkat ketepatan waktu penerbangan (OTP) sebesar 92,5% pada tahun 2019, menunjukkan operasi yang efisien dan Meskipun menghadapi tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya akibat pandemi COVID-19. PT Citilink Indonesia telah menunjukkan ketahanan dan agilitas dengan menyesuaikan operasionalnya, memanfaatkan teknologi digital, dan mencari sumber pendapatan alternatif. Citilink berhasil melewati krisis ini dan keluar sebagai maskapai yang lebih kuat dan siap untuk pertumbuhan selanjutnya, menunjukkan agilitas dan resiliensi yang luar biasa dalam menghadapi pandemi. Melalui diversifikasi bisnis, inovasi layanan, dan komitmen pada pengembangan rute. Citilink tidak hanya mampu bertahan tetapi juga terus berkembang dan mendapatkan pengakuan internasional. KESIMPULAN Pandemi COVID19 membawa dampak signifikan bagi Citilink, dengan penurunan drastis jumlah penumpang dan pendapatan. Citilink merespon krisis dengan membentuk Satuan Tugas COVID-19, menerapkan protokol kesehatan, menyesuaikan jadwal penerbangan, dan membatasi jumlah penumpang. Di fase pemulihan. Citilink memberikan stimulus promosi, meningkatkan digitalisasi layanan, mengembangkan produk baru, dan melakukan negosiasi ulang kontrak. Untuk berkembang di masa depan. Citilink berencana meningkatkan layanan digital, mengekspansi rute penerbangan, menambah armada pesawat, dan mengembangkan bisnis baru. Penggunaan teknologi informasi seperti big data. AI, dan platform digital menjadi kunci penting dalam strategi pemulihan dan pertumbuhan Citilink. Citilink menunjukkan komitmennya dalam menghadapi krisis dan membangun ketahanan Penggunaan IT menjadi kunci penting dalam strategi pemulihan dan pertumbuhan Citilink di masa depan. Pasca pandemi COVID-19. Citilink menunjukkan agility yang kuat dengan melakukan transformasi digital komprehensif di berbagai lini operasional, mengadaptasi pendekatan agile dalam pengelolaan sumber daya manusia, dan mengimplementasikan berbagai solusi digital untuk meningkatkan pengalaman pelanggan serta efisiensi operasional. Citilink mengembangkan berbagai platform seperti Middleware API Reservation Sales System. Mobile AKSELERASI: Jurnal Ilmiah Nasional Vol. 6 No. 2 Tahun 2024 ARTIKEL Apps as e-Commerce Platform, dan E-Cargo Solution Platform, serta solusi internal seperti Hellociti An Employee Mobile Platform dan Skybreath as a Fuel Efficiency Platform. Langkahlangkah ini mencerminkan kemampuan Citilink untuk merespons cepat terhadap perubahan pasar dan preferensi pelanggan, sekaligus meningkatkan daya saing dan ketahanan bisnisnya. Dengan demikian. Citilink berhasil bertahan dan berkembang di tengah tantangan pandemi, sejalan dengan teori agility oleh Williams. Worley, & Lawler . DAFTAR PUSTAKA