JURNAL BIOLOGI PAPUA Vol 13. No 1. Halaman: 19Ae27 April 2021 ISSN 2086-3314 E-ISSN 2503-0450 DOI: 10. 31957/jbp. http://ejournal. id/index. php/JBP Keanekaragaman Vegetasi Strata Herba di Bukit Gatan Kabupaten Musi Rawas EVA KUSUMA1. MERTI TRIYANTI2*. SEPRIYANINGSIH2 1Alumni Program Studi Pendidikan Biologi. STKIP-PGRI Lubuklinggau. Sumatera Selatan 2Program Studi Pendidikan Biologi. STKIP-PGRI Lubuklinggau. Sumatera Selatan Diterima: 04 Maret 2020 Ae Disetujui: 17 Januari 2021 A 2021 Jurusan Biologi FMIPA Universitas Cenderawasih ABSTRACT This study aims to determine the Importance Value Index (IVI). Vegetation Diversity Index, and abiotic factors in herbal strata in Bukit Gatan. Musi Rawas Regency. Determination of Herbs Strata Vegetation Diversity in Bukit Gatan Musi Rawas Regency using the point intercept method, which uses herbal touch rods that are below the touch point line. This research was made into 3 research study areas, namely study area A . -10 stand. B . -10 stand. and C . -10 stand. , then the data were analyzed descriptively by using the quantitative data. The highest IVI of area was Caladium sp . 33%). B was Maranta arundiciae . %), and C was Ageratum conyzoidez . %). The average diversity index of area A was 0. B was 0. 26, and C was 0. Abiotic factors in the Bukit Gatan Region. Musi Rawas Regency, greatly affect the life of herbaceous strata in the Bukit Gatan Forest Area. Musi Rawas Regency. The air temperature in the Bukit Gatan protection forest area ranges . 3 oC) with soil moisture . while the humidity . 6%), the soil temperature . 1 oC) and soil pH . Key words: vegetation. herb strata. Bukit Gatan. PENDAHULUAN Sumatera merupakan salah satu wilayah yang kaya akan sumber daya alam (SDA) khususnya SDA tersebut merupakan salah satu sumber daya penting bagi kehidupan manusia, sehingga memiliki eksistensi yang harus tetap Hutan merupakan lapangan yang keseluruhan merupakan sekumpulan makhluk hidup beserta alam lingkungan dan ekosistem. Hutan didominasi oleh pohon, semak dan herba (Purwanti, 2016. dos Santos-Junior et al. , 2. Hutan juga dimanfaatkan sebagai objek * Alamat korespondensi: Program Studi Pendidikan Biologi. STKIP-PGRI Lubuklinggau. Jl. Mayor Toha Kel. Ar Kuti Kecamatan Lubuklinggau Timur 1. Musi Rawas. E-mail: mertitriyanti28@gmail. wisata/lahan kunjungan, tempat perlindungan dan pelestarian (Purwanti, 2. Bukit Gatan merupakan kawasan hutan lindung di bawah kewenangan Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Benakat Bukit Cogong yang berada di Megang Sakti Kabupaten Musi Rawas. Wilayah kabupaten Musi Rawas memiliki luas A 1,2 juta ha yang sebagian besar berupa kawasan hutan seluas A 599. %). Luas kawasan hutan tersebut termasuk juga luas kawasan hutan Bukit Gatan. Bukit Gatan terletak di Kabupaten Musi Rawas Kecamatan Suku Tengah Lakitan (STL) Ulu Terawas. Desa Sukorejo dan Kota Lubuklinggau (Kecamatan. Lubuklinggau Utara I) (Cahyono, 2. Bukit Gatan merupakan bagian dari kelompok hutan Bukit Cogong. Bukit Gatan memiliki luas 563 ha. Bukit Gatan tebagi menjadi dua bagian yaitu Hutan Desa atau Hutan Kemasyarakatan . dan Hutan Perlindungan . J U RN A L B I OL OGI PA PU A 13. : 19Ae27 Herba adalah tumbuhan pendek . ,3-2 mete. tidak berkayu dan batang basah karena banyak mengandung air. Menurut Syahbudin . , herba merupakan tumbuhan tidak berkayu yang tersebar dalam bentuk kelompok individu atau soliter pada berbagai kondisi habitat seperti tanah yang lembab atau berair, tanah yang kering, batubatuan dan habitat dengan naungan yang rapat. Tujuan mengetahui keanekaragaman vegetasi strata herba di Bukit Gatan. Kabupaten Musi Rawas. Hasil penelitian sangat bermanfaat terkait proses suksesi di kawasan Bukit Gatan. Keragaman herba juga dapat dijadikan sebagai sumber informasi awal manfaatnya bagi masyarakat. Herba mempunyai manfaat yang beragam, sehingga informasi ini dapat dijadikan sebagai sumber pengetahuan dan potensi pemanfaatannya. METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni sampai Juli 2019 di Hutan Perlindungan Bukit Cogong Kabupaten Musi Rawas yaitu. Bukit Cogong i (Bukit Gata. Penentuan analisis vegetasi strata herba masing-masing area kajian dengan cara meletakkan 10 stand yaitu pada area kajian A. B, dan C. Pengamatan menggunakan metode point intercept atau metode titik sentuh. Pada setiap stand penelitian diletakkan garis transek utama dan dibuat 10 titik sampling yang memotong garis transek utama. Metode Pengambilan Sampel Alat-alat yang digunakan adalah kantong plastik, meteran . ita uku. , tali rafia, rangka besi, pasak, soil tester, thermohygrometer, log book dan tabel pengamatan. Bahan-bahan yang digunakan Tabel 1. Nilai INP tumbuhan strata herba di area kajian A. Bukit Gatan. Musi Rawas. Spesies Nama ilmiah Stand Keladi Anting-anting Bayam Ciplukan Minjangan Meniran Pagoda Pegagan Pacar air Bluntas Ketumbang air Balsam Garut Kunyit Kenop Laos Bakung Bayam berduri Ajeran Keji beling Air mata pengantin Caladium sp Acalypha australis Amaranthus tricolor Physalis angulata Chromolaena odorata Phyllanthus niruri Clerodendrum paniculatum Centella asiatica Impatiens balsamina Plucea indica Peperomia pellucida Polygala paniculata Maranta arundinaceae Curcuma longa Gomphrena globosa Alpinia galanga Crynum asiaticum Amarantus spinosus Bidens pilosa Strobilanthes crispus Antigonon leptopus 2, 7, 9 1, 2, 3, 5, 7 4,8,9 4,5,7,9 1,7,8 2,4,6,7 3,4,6,10 4,5,8 2,7,10 3,6,9 2,6,7,10 3,4,6 5,10 1,3,6 5,8,10 2,6,9 3,6,9 Nilai INP (%) 50,33 38,50 37,73 36,70 33,80 33,40 33,10 32,50 32,10 31,32 31,50 30,50 29,25 29,70 28,60 27,90 27,00 26,20 25,50 24,40 18,70 KUSUMA et al. Keanekaragaman Jenis Vegetasi Strata Herba dalam penelitian ini adalah peta Bukit Gatan, semua jenis vegetasi strata semak ditemukan di lokasi penelitian. Sampel penelitian diambil 3 area kajian, yaitu area kajian A . aerah pangka. , area kajian B . aerah tenga. , dan area kajian C . aerah ujun. Pada masing-masing titik sampling diletakkan point frequency frame. Herba yang terpegat itulah yang kemudian akan dicatat. Secara keseluruhan luas Bukit Gatan sekitar 563 ha. Luas area penelitian mencakup 145 ha yang merupakan hutan perlindungan. Luas tersebut diambil 20% sehingga luas area kajian adalah 29 ha atau 290. 000 m2 (Irawati, 2. Selanjutnya menentukan luas 3 area kajian, masing-masing luas area kajian A. B dan C yang akan diamati seluas 9,66 ha atau 96. 600 m2. Pada masing-masing area kajian diletakkan 10 stand. Pada setiap stand penelitian diletakkan garis transek utama sepanjang 960 m dengan jarak antar stand yaitu 9,6 m dan dibuat 10 titik sampling yang memotong garis transek utama yang masing- masing berjarak 96 m. Selanjutnya, identifikasi herba dilakukan dengan menggunakan buku van Steenis . Analisis Data Menurut Fachrul . , data vegetasi yang dikumpulkan di analisis untuk mendapatkan nilai frekuensi relatif (FR), dominansi relatif (DR), indeks nilai penting (INP), dan indeks keanekaragaman (HA). Frekuensi i = jumlah titik terpegat x 10 Frekuensi relatif = Dominansi relatif = INP= FR DR Indeks keanekaragaman (HA) HA= Keterangan: Ni = jumlah individu dari suatu jenis Tabel 2. Rerata indeks keanekaragaman pada area kajian B. Bukit Gatan. Nama Daerah Nama ilmiah Keladi Anting-anting Bayam Ciplukan Minjangan Meniran Pagoda Pegagan Pacar air Bluntas Ketumbang air Balsam Garut Kunyit Kenop Laos Bakung Bayam berduri Ajeran Keji beling Air mata pengantin Caladium sp Acalypha indica Amaranthus tricolor Physalis angulata Chromolaena odorata Phyllantus niruri Clerodendrum paniculatum Centella asiatica Impatiens balsamina Plucea indica peperomia pellucida Polygala paniculata Maranta arundinaceae Curcuma longa Gompherena globosa Alpinia galanga Crynum asiaticum Amarantus spinosus Bidens pilosa Strobilentes crispa Antigonon leptopus Rerata HAo HAo 0,55 J U RN A L B I OL OGI PA PU A 13. : 19Ae27 Tabel 3. Nilai INP tumbuhan strata herba di area kajian B. Bukit Gatan. Spesies Nama ilmiah Stand Garut Temu wiyang Keladi Air mata pengantin Talas Bakung Nampu hijau Ketul kebo Bandotan Bidara upas Landep Miana Bangle Tasbih Ketumbang air Binahong Pagoda Pegagan Bluntas Tempuyung Balsam Anting-anting Getang Sembung Tepusar Kunyit putih Sintrong Keci beling Bayam berduri Keladi merah Patikan kebo Legetan Kerokot Marantha arundinacea Curcuma zedoaria Caladium sp Antigonon leptopus Colocasia esculenta Cynum asiaticum Alocasia cucculata Bidens pilosa Ageratum conyzoidez Merremia mammosa Barleria prionitis Coleus benth Zingiber purpureum Canna indica Piperomea pellucida Anredera cordifolia Clerodendrum paniculatum Centella asiatica Pluchea indica Sonchus arvensis Polygala paniculata Acalypha indica Acmella paniculata Blumea balsamifera Impatiens balmira Curcuma zedoaria Crassocephalum crepidioides Strobilentes crispa Amaranthus spinosus Lasia spinosa Euphorbia hirta Acmella oleraceae Portullaca oleraceae N = Jumlah total individu seluruh jenis. Menurut Fachrul . , besarnya Indeks Keanekaragaman jenis menurut Shannon-Wiener didefinisikan sebagai berikut: 2,5,7,8 1,4,9 6,10 3,10 Nilai INP (%) Nilai HAo > 3 menunjukkan bahwa keanekaragaman spesies pada suatu transek adalah melimpah tinggi. Nilai HAo < HAo O 3 menunjukkan bahwa keanekaragaman spesies pada suatu transek adalah sedang melimpah. KUSUMA et al. Keanekaragaman Jenis Vegetasi Strata Herba Tabel 4. Rerata indeks keanekaragaman pada area kajian B. Bukit Gatan. Nama daerah/ Indonesia Nama ilmiah Marantha arundinacea Garut Curcuma zedoria Temu wiyang Keladi Caladium sp Antigonon leptopus Air mata pengantin Colacasia esculenta Talas Cynum asiticum Bakung Alocasia culcuta Nanfu hijau Bideris dilosal Ajeran Ageratum conyzoidez Bandotan Merremia mammosa Bidara upas Barleria erionitis Landep Coleus benth Miana Zingiber purpureum Bangle Canna indica Tasbih Peporimia pullocida Ketumbang air Andredera cordilalia Binahong Clerondendrum Pagoda Centella asiatica Pegagan Plucea indica Bluntas Sonchus arvensis Tempuyung Polygala paniculata Balsam Acalypha nutralis Anting-anting Fortullaca oleraceae Getang Inpatiens balmira Tepusar Curcuma zedoria Kunyit putih Cross phalum Sintrong Strobilentes crispa Keji beling Amarantus spinosus Bayam berduri Lasia spinosa Keladi merah Euphorbia hirta Patikan kebo Acmella oleraceae Legetan Portullaca oleraceae Kerokot Rerata HAo Nilai HAo < 1 menunjukkan bahwa keanekaragaman spesies pada suatu transek adalah sedikit atau rendah. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian secara keseluruhan di areal Bukit Gatan. Kabupaten Musi Rawas dilakukan menggunakan metode point intercept atau metode HAo 0,12 0,26 titik sentuh. Keunggulan dari metode point intercept adalah memiliki tingkat pengukuran yang lebih akurat dan efisien dibandingkan dengan metode line intercept, terutama untuk jenis tumbuhan herba. Sebaliknya, kelemahan dari metode line intecept adalah sulit untuk menganalisis spesies minor yang ada pada suatu komunitas tanpa menggunakan jumlah point transek yang sangat banyak (Purwanti, 2. J U RN A L B I OL OGI PA PU A 13. : 19Ae27 Tabel 5. Rerata INP strata herba di area kajian C. Bukit Gatan. Nama daerah/Indonesia Nama spesies Ageratum conyzoidez Bandotan Lantana camara Tembelekan Acmella oleraceae Legetan Centella asiatica Pegagan Biden pilosa Ketul kebo Caladium sp Keladi Amaranthus spinosus Bayam berduri Coleus benth Miana Acmella puniculata Getang Euphorbia hirta Patikan kebo Gompherena globosa Kenop Gynura divaricata Daun dewa Aerva sanguinolenta Sambang Bidens pilosa Ajeran Laurentia longiflora Katarak Eclipta alba Urang aring Acorus calamus Dingo Impatiens balsamina Pacar air Stand 2,4,5,7 1,2,9 3,4,7 1,6,8,10 1,4,8 6,7,10 3,4,7 1,2,6,8 4,6,8 3,5,10 4,10 INP (%) Tabel 6. Rerata indeks keanekaragaman pada area kajian C. Bukit Gatan. Nama Daerah/Indonesia Nama ilmiah . Ageratum conyzoidez Bandotan Lantana camara Tembelekan Acmelia oleraceae Legetan Centella asiatica Pegagan Biden pilosa Ketul kebo Caladium sp Keladi Amarantus spinosus Bayam berduri Coleus benth Miana Acmella puniculata Getang Euphorbia hirta Patikan kebo Gompherena globosa Kenop Gynura divaricata Daun dewa Aerva sanguinolenta Sambang Gynura divaricata Ajeran Laurentia longiflora Katarak Eclipta alba Urang aring Acorus calamus Dingo Blumea indica Sembung Acorus calamus Dingo Impatient balsamina Pacar air Rerata HAo HAo 0,33 KUSUMA et al. Keanekaragaman Jenis Vegetasi Strata Herba Indeks Nilai Penting (INP) Area Kajian A Berdasarkan hasil penelitian di area kajian A memiliki jenis vegetasi tanaman herba yang berjumlah 21 jenis tumbuhan herba dan memiliki indeks nilai penting (INP) tertinggi adalah tumbuhan keladi (Caladium s. yang memiliki rerata indeks nilai penting tertinggi sebesar 50,33%, tumbuhan keladi ini memiliki tumbuhan ciri-ciri daun berbentuk hati, bulat panjang, seperti daun bambu dan daunnya biasanya licin dan memiliki tangkai daun berukuran 20-50 cm. Pada area kajian A Caladium sp banyak ditemukan di tepi aliran sungai dan tempat yang lembab. Tumbuhan Caladium sp biasanya tumbuh di tempat yang lembab seperti pada tepi sungai. Sehingga caladium sp dapat tumbuh semakin cepat dan menempati INP tertinggi pada area kajian A. Tumbuhan yang memiliki indeks nilai penting (INP) terendah adalah tumbuhan air mata pengantin 18,7%. Tumbuhan air mata pengantin memiliki ciri-ciri helaian daun yang berbentuk oval elips atau bulat telur dengan pangkal daun yang runcing dan memiliki tepi daun yang bergigi selain itu juga tumbuhan bluntas merupakan tanaman perdu, memiliki tinggi 1-2 meter, memiliki pertulangan menyirip, warna hijau sampai hijau tua (Fitriansyah, 2. Area Kajian B Berdasarkan hasil penelitian pada area kajian B merupakan daerah yang terdapat jenis vegetasi yang berjumlah 31 jenis vegetasi strata herba yang memiliki nilai indeks penting (INP) tertinggi adalah tumbuhan garut (Maranta arundinace. 69,5% yang merupakan tumbuhan herba yang termasuk dalam famili Manantaceae dan tumbuhan garut ini memiliki tangkai daun yang berpelepah pada pangkalnya dengan helaian daun berbentuk bulat telur hingga lonjong dan habitat tumbuhan garut yaitu pada tempat yang lembab dan tanah yang subur dan ternaungi. Hal tesebut senada dengan Nurhayati . tumbuhan garut dapat tumbuh pada tempat yang ternaungi. Sehingga tumbuhan garut dapat tumbuh dengan cepat dan menempati INP tertinggi pada Area Kajian B. Untuk vegetasi yang mempunyai rerata indeks nilai penting yang terendah adalah tumbuhan kerokot (Portulaca olerace. 12%, yang merupakan tumbuhan memiliki batang yang berbentuk bulat, tumbuhnya tegak dan sebagian terletak di atas permukaan tanah tanpa mengeluarkan akar, dan merupakan tumbuhan yang berair dan hidup pada habitat yang lembab serta tumbuhan ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan masakan, obat herbal, dan bisa juga digunakan untuk tanaman hias karena memiliki keindahan bunganya (Irmawati, 2. Area Kajian C Berdasarkan hasil penelitian pada area kajian C terdapat jenis tumbuhan herba yang berjumlah 20 jenis tumbuhan herba. Pada area kajian C didominasi oleh tumbuhan bandotan (Ageratum conyzoides yang memiliki indeks nilai penting (INP) tertinggi pada area kajian C adalah tumbuhan bandotan (A. 39%, tumbuhan ini merupakan tumbuhan yang dapat digunakan sebagai obat untuk menurunkan demam dan untuk mengobati sakit perut. Ciri-ciri dari tumbuhan bandotan yaitu memiliki daun yang lonjong seperti telur dan memiliki pinggir daun yang bergerigi dan tumbuhan A. tumbuhan liar yang ada di kebun dan ladang. Hal ini senada dengan pernyataan (Retno, 2. conyzoides merupakan tumbuhan liar sebagai tumbuhan penganggu . yang hidup di tanah yang terbuka. Sehingga menyebabkan tumbuhan A. conyzoides cepat tumbuh pada Area Kajian. Sedangkan indeks nilai penting (INP) terendah pada area kajian C adalah tumbuhan pacar air (Impatiens balsamin. 18% yang memiliki ciri-ciri berbatang basah, bertangkai pendek, berbentuk lanset, tepi bergerigi, memiliki pertulangan yang menyirip. Tumbuhan ini dapat digunakan sebagai obat antikanker yang mengandung senyawa bersifat toksik (Ikawati. Indeks Keanekaragaman (HA. Area Kajian A Indeks keanekaragaman (HA. tumbuhan herba pada area kajian A sebesar 0,55 dan termasuk dalam kategori sedikit melimpah. Nilai HAo tertinggi yaitu tumbuhan Caladium sp. Chromolaena odorata. Centella asiatica. Physalis angulata. J U RN A L B I OL OGI PA PU A 13. : 19Ae27 Tabel 7. Hasil pengukuran faktor lingkungan abiotik di Bukit Gatan. Area Waktu Suhu udara Kelembaban Suhu tanah . C) udara (%) (AC) Pagi Siang Sore Pagi Siang Sore Pagi Siang Sore Amarantha arundinacea. Clerodendrum paniculatum. Antigonon leptopus dan Strobilentes crispa sebesar 0,4. Sedangkan jenis herba yang memiliki HAo terendah yaitu tumbuhan Acalypha nutralis dan Gompherena globosa sebesar 0,2. Area Kajian B Rerata indeks keanekaragaman (HA. pada area kajian B adalah sebesar 0,26 dan termasuk kedalam kategori sedang melimpah. Indeks keanekaragaman (HA. tertinggi adalah tumbuhan Emilia sonchiforia. Maranta arundinacea,Caladium sp dan Colocasia esculenta sebesar 0,4% Sedangkan keanekaragaman terendah pada area kajian B adalah tumbuhan Curcuma zedoria sebesar 0,12%. Area Kajian C Rerata indeks keanekaragaman (HA. pada area kajian C adalah sebesar 0,33% termasuk dalam kategori sedang melimpah. Tumbuhan yang memiliki indeks keanekaragaman tertinggi yaitu tumbuhan Acmelia oleraceae. Centella asiatica. Bidens pilosa. Acorus calamus. Laurentia longiflora. Eclipta alba dan Aerva sanguinolenta sebesar 0,4% Dan tumbuhan yang memiliki indeks keanekaragaman terendah yaitu tumbuhan Impatiens balsamina. Gynura divaricata, dan Eclipta alba yaitu sebesar 0,2%. Faktor Lingkungan Abiotik Faktor lingkungan sangat berpengaruh terhadap sturktur dan komposisi vegetasi (Willie et al. , 2017. Gymez-Dyz et al. , 2. Termasuk tipe habitat (Willie et al. , 2. , dan ketinggian tempat pH tanah Kelembaban tanah (%) (Willie et al. , 2. Ketinggian lokasi berpengaruh terhadap suhu dan kelembaban, sehingga secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi struktur vegetasi, termasuk kelompok tumbuhan Area Kajian A Pada area kajian A memiliki suhu udara berkisar 28-30 oC, dengan kelembaban udara berkisar 86-92 %, sedangkan suhu tanah berkisar antara 27-29 oC dengan kelembaban tanah 10 -16, dan pH tanah dalam keadaan asam . ,2-6,. Pertumbuhan Caladium sp. tidak terlepas dari berbagai faktor, misalnya habitat dan faktor Hal ini senada dengan pernyataan Steenis . Caladium sp tumbuh baik di tempat yang lembab dan tumbuhan Caladium dapat hidup pada suhu 21-31 oC sehingga Caladium dominan pada area kajian A. Berkebalikan dengan tumbuhan bluntas yang hidup pada suhu 30-35 oC dan menyukai tempat yang terkena sinar matahari langsung (Dalimarta, 2. Hal tersebut menyebabkan tumbuhan bluntas hanya sedikit ditemukan pada area kajian A. Area Kajian B Pada area kajian B suhu udara berkisar . ,630 oC, dengan kelembaban udara berkisar 86-93 %. Suhu tanah berkisar 27-29 oC dengan kelembaban tanah 8 -16 oC, dan pH tanah dalam keadaan asam 6,3-6,7. Pertumbuhan M. arundinaceae tidak terlepas dari berbagai faktor misalnya habitat dan faktor abiotik. Hal tersebut senada dengan pernyataan (Hidayati, 2. , tumbuhan M. KUSUMA et al. Keanekaragaman Jenis Vegetasi Strata Herba arundinacea dapat hidup pada suhu 20-30 oC dan di bawah naungan, sehingga M. arundinacea dominan pada area kajian B. Sebaliknya dengan tumbuhan kerokot yang hidup pada suhu 30-40 oC dan terkena cahaya matahari langsung (Dalimarta. Area Kajian C Pengukuran faktor abiotik pada area kajian C berkisar 28-30 oC dengan kelembaban udara berkisar 86-92 % sedangkan suhu tanah 27-29 oC dengan kelembaban tanah 1-16 dan pH tanah dalam keadaan asam berkisar . ,2-6,. Pada saat pengukuran faktor abiotik didapatkan hasil suhu udara yang cukup tinggi. Secara keseluruhan, keberadaan tumbuhan herba dalam suatu kawasan berpengaruh terhadap perkembangan stand keragaman hayati (Willie et al. , 2017. Gymez-Dyz et al. , 2. Tumbuhan herba memiliki manfaat yang beragam (Thuppil et al. , 2. , termasuk sumber pangan dan obat-obatan (Zhou et al. , 2. , hingga berfungsi secara ekologi dalam kemapanan komunitas hutan . os Santos-Junior et al. , 2. KESIMPULAN Indeks Nilai Penting (INP) vegetasi strata herba di Bukit Gatan tertinggi pada area kajian A yaitu keladi (Caladium s. 50,33%, area kajian B adalah tumbuhan garut (M. sebesar 69%, sedangkan pada area kajian C adalah tumbuhan bandotan (A. sebesar 39%. Rerata indeks keanekaragaman jenis vegetasi strata herba pada ketiga area kajian, pada area A mempunyai rerata HAo sebesar 0,55%, area kajian B 0,26% dan area kajian C sebesar 0,33%. Pengaruh faktor lingkungan abiotik pada vegetasi strata herba di Bukit Gatan seperti pH tanah, suhu udara, kelembaban tanah, dan suhu tanah sangat mempengaruhi jenis vegetasi yang hidup pada area kawasan Bukit Gatan Kabupaten Musi Rawas. Derajat keasaman . H) tanah pada area kajian sekitar 6,6. , kelembaban tanah 15, kelembaban udara 92,6%, suhu tanah 27,1 oC, dan suhu udara sekitar 28,3 oC. DAFTAR PUSTAKA