Khazanah : Journal of Islamic Studies Volume 4. Nomor 2. Mei 2025 https://pusdikra-publishing. com/index. php/jkes/home Membentuk Aktivitas Beribadah Anak Usia Dini Perspektif Pendidikan Islam Dedi Sahputra Napitupulu STIT Al-Ittihadiyah Labuhanbatu Utara. Indonesia Corresponding Author : dedisahputra_napitupulu@stit-al-ittihadiyahlabura. ABSTRACT Menanamkan kebiasaan beribadah pada anak perlu dilakukan sejak dini, harapanya agar mereka terbiasa dan setelah dewasa dapat beribadah dengan baik. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan tentang pembentukan aktivitas beribadah pada anak usia dini. Adapun sumber dari artikel ini merujuk kepada buku dan jurnal yang otoritatif serta sesuai dengan tema yang diusung. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa dalam rangka membentuk aktivitas beribadah pada anak usia dini, orangtua dan guru perlu membiasakan anak melaksanakan saalat, melatih anak berpuasa, membiasakan bersedekah, dan manasik haji sederhana. Kata Kunci Aktivitas. Ibadah. Anak Usia Dini PENDAHULUAN AuKecil teranja-anja, sudah besar terbawa-bawaAy. Begitu salah satau bunyi peribahasa yang cukup populer. Peribahasa ini, mengindikasikan bahwa betapa pentingnya membiasakan hal baik kepada anak sedini mungkin. Kebaikan tersebut akan membekas dan kelak akan menjadi sebuah kebiasaan manakala anak telah dewasa. Diantara hal pokok yang perlu dibiasakan kepada anak adalah melaksanakan ibadah dengan benar dan ikhlas tanpa paksaan. Sudah barang tentu, bahwa dalam prosesnya pembiasaan perlu melampirkan sesuatu yang menyenangkan kepada anak . atau memberikan hukuman yang pantas . Dengan demikian diharapkan setelah anak tumbuh dewasa akan terbiasa melaksanakan ibadah dengan benar dan suka Anak usia dini merupakan fase emas . olden ag. dalam perkembangan manusia yang sangat menentukan arah pembentukan kepribadian, karakter, serta nilai-nilai spiritual dalam kehidupan seseorang (Uce, 2. Pada masa ini, anak berada dalam tahap pertumbuhan pesat baik secara fisik, kognitif, emosional, maupun spiritual. Para ahli perkembangan anak, seperti Jean Piaget dan Erik Erikson, sepakat bahwa usia dini merupakan saat paling efektif dalam menanamkan nilai-nilai dasar kehidupan, termasuk nilai-nilai keagamaan. Oleh Khazanah : Journal of Islamic Studies Volume 4. Nomor 2. Mei 2025 Halaman 51-61 karena itu, pembentukan aktivitas ibadah pada anak usia dini menjadi aspek yang sangat penting dan strategis dalam membentuk pondasi religiusitas seseorang sejak awal kehidupannya. Aktivitas ibadah tidak hanya berfungsi sebagai bentuk ketaatan kepada Tuhan, tetapi juga merupakan sarana pendidikan karakter, pengembangan disiplin, pembiasaan sosial, dan kontrol diri. Ibadah dalam Islam seperti salat, doa harian, puasa, membaca Al-Qur'an, dan bentuk-bentuk dzikir ringan dapat ditanamkan kepada anak sejak dini melalui metode yang sesuai dengan perkembangan usianya. Proses ini bukan semata-mata mengajarkan ritual, tetapi menanamkan makna dan kebiasaan religius yang melekat pada jiwa anak dan menjadi bekal sepanjang hayat (Ahmad, 2. Namun, kenyataannya di lapangan masih banyak anak usia dini yang belum mendapatkan pembinaan ibadah secara optimal (Saepudin, 2. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, seperti minimnya pengetahuan orang tua (Muazzomi, 2. , kurangnya perhatian dari lembaga pendidikan anak usia dini terhadap aspek spiritual (Widodo, 2. , serta pengaruh kuat budaya digital yang lebih menekankan hiburan daripada pendidikan (Yuliariatiningsih & Setiaty, 2. Akibatnya, potensi spiritual anak tidak terasah secara maksimal, dan nilai-nilai ibadah sering kali hanya dianggap sebagai formalitas atau rutinitas tanpa makna. Penting untuk dipahami bahwa proses pembentukan aktivitas ibadah pada anak usia dini tidak dapat dilakukan secara instan (Mutiawati, 2. memerlukan pendekatan yang lembut, konsisten, menyenangkan, dan sesuai dengan gaya belajar anak. Pendidikan ibadah pada anak harus mengedepankan keteladanan dari orang tua dan guru, karena anak pada usia dini adalah peniru yang ulung. Apa yang dilihat dan didengar oleh anak, akan direkam dan menjadi bagian dari pembentukan karakternya. Oleh karena itu, keluarga dan satuan pendidikan anak usia dini (PAUD. TK. RA) memegang peran krusial dalam hal ini. Dalam konteks pendidikan Islam, pembiasaan ibadah menjadi bagian dari kurikulum pembentukan akhlak mulia (Anwar & Mulya, 2. Lembaga pendidikan Islam sejak dahulu dikenal tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga membiasakan anak dalam aktivitas spiritual secara kontinu. Pembelajaran ibadah pada anak usia dini tidak boleh disamakan dengan orang dewasa. pendekatannya harus berbasis permainan, kisah, lagu, dan kegiatan yang menyenangkan agar nilai-nilai ibadah masuk ke dalam hati anak tanpa Pembelajaran ini hendaknya dilakukan secara integratif, antara rumah, sekolah, dan lingkungan. Khazanah : Journal of Islamic Studies Volume 4. Nomor 2. Mei 2025 Halaman 51-61 Pembentukan aktivitas ibadah sejak dini juga berdampak jangka panjang dalam pembentukan spiritualitas dan kontrol moral individu. Anak yang terbiasa melakukan ibadah akan memiliki kedekatan emosional dengan Tuhannya, yang pada akhirnya akan membentuk kesadaran moral, empati sosial, serta perilaku positif dalam interaksi sehari-hari (Anwar & Mulya, 2025. Ahmad, 2. Dalam jangka panjang, generasi yang dibentuk sejak dini melalui ibadah akan memiliki ketahanan spiritual yang kuat dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks. Beberapa penelitian yang lebih dulu membangun teori tentang pembentukan aktivitas beribadah pada anakusia dini. Misalnya penelitian yang dilakukan oleh Ananda . yang memnyimpulkan bahwa modal awal yang harus dimiliki oleh seorang anak supaya menjadi manusia yang baik dan benar adalah dengan memiliki sikap moral keagamaan yang baik. Dalam hal ini dibutuhkan peran penting sejak dini dari orangtua di rumah dan guru pada lembaga pendidikan PAUD/PIAUD. Saputra . menambahkan bahwa penanaman nilai-nilai agama pada anak usia dini perlu memiliki acuan kurikulum dan metode yang jelas. Di samping itu ketulusan guru dalam membimbing peserta didik menjadi sangat penting dan tentunya dengan dukungan sarana prasarana yang memadai. Kedua penelitian di atas belum secara spesifik menggambarkan tentang teknis pembiasaan aktivitas beribadah kepada anak usia dini. Untuk mengisi ruang kosong tersebut maka kehadiran artikel ini menjadi sangat relevan. Ibadah adalah konsumsi rohani yang sesungguhnya menjadi kebutuhan dasar Sebab manusia diciptakan dengan dua unsur yang bersamaan yaitu jasmani dan rohani. Kebutuhan jasmani selalu mendapat perhatian yang lebih melalui nutrisi yang bergizi, sering kali tidak diimbangi dengan pemenuhan terhadap kebutuhan rohani yang sering kosong dan gersang. Menciptakan orang yang pintar secara intelektual adalah hal yang mudah, yang sulit adalah bagaimana membentuk manusia yang tidak hanya sekadar pintar tetapi juga mempunyai sisi emosional dan spiritual yang baik. Hanya dengan melalui pelaksanaan ibadah yang baik, seseorang dapat memenuhi kebutuhan Dan kebiasaan melaksanakan ibadah tersebut sangat penting ditanamkan sejak dini kepada anak. Banyak pakar yang mengatakan bahwa bila anak dibesarkan dengan latihan emosional sejak kecil, maka ketika dewasa akan mampu dengan mudah beradaptasi (Santrock, 2. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pendidikan keagamaan sejak usia dini berkontribusi signifikan terhadap pembentukan karakter positif anak (Setiadi et al, 2024. Kurniawan et al, 2024. Achmad, 2. Oleh sebab itu, diperlukan strategi pendidikan yang tepat, terstruktur, dan sistematis agar Khazanah : Journal of Islamic Studies Volume 4. Nomor 2. Mei 2025 Halaman 51-61 pembentukan ibadah tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi menjelma menjadi kebutuhan jiwa anak. Hal ini bisa diwujudkan dengan penguatan peran guru PAUD yang paham ilmu agama, pelibatan aktif orang tua, serta penyediaan lingkungan belajar yang kondusif untuk perkembangan spiritual anak. Paragraf-paragraf di bawah ini akan menguraikan tentang bagaimana membentuk aktivitas ibadah pada anak usia dini. Lebih spesifik lagi tulisan ini akan mengajak pembaca kepada kiat-kiat mengajak anak salat, melatih anak berpuasa, membiasakan bersedekah, dan manasik haji pada anak. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka, yaitu suatu pendekatan penelitian kualitatif yang dilakukan dengan cara mengkaji dan menganalisis berbagai literatur, baik berupa buku, jurnal ilmiah, artikel, maupun dokumen-dokumen lain yang relevan dengan topik membentuk aktivitas ibadah pada anak usia dini. Data dalam penelitian ini diperoleh melalui telaah pustaka terhadap sumber-sumber primer dan sekunder yang membahas tentang perkembangan anak usia dini, pendidikan ibadah dalam Islam, strategi pendidikan karakter, serta pendekatan-pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan usia anak. Proses analisis dilakukan dengan cara menelaah isi . ontent analysi. dari setiap referensi yang dikaji, kemudian diklasifikasikan ke dalam tema-tema tertentu yang berkaitan dengan pembentukan ibadah, seperti metode pembiasaan, keteladanan, pendekatan psikologi anak, dan peran lingkungan. HASIL DAN PEMBAHASAN Membentuk aktivitas beribadah pada anak usia dini merupakan bagian penting dari proses pendidikan spiritual yang menjadi fondasi utama dalam pembentukan karakter seorang muslim. Dalam perspektif pendidikan Islam, usia dini dikenal sebagai masa yang sangat strategis untuk menanamkan nilainilai keimanan dan kebiasaan ibadah karena pada tahap ini anak berada dalam kondisi mental dan emosional yang sangat reseptif terhadap pembiasaan. Pendidikan ibadah bukan sekadar pengajaran tentang tata cara, tetapi juga menyangkut penanaman makna, pembentukan sikap, dan pembiasaan perilaku religius dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pembentukan aktivitas ibadah pada anak usia dini menurut perspektif pendidikan Islam menjadi langkah awal dalam melahirkan generasi yang beriman, berakhlak, dan memiliki spiritualitas yang matang sejak usia dini. Mengajak Anak Salat Berjamaah Salat merupakan inti pokok dari ibadah seorang muslim. Ibadah yang Khazanah : Journal of Islamic Studies Volume 4. Nomor 2. Mei 2025 Halaman 51-61 senantiasa dilaksanakan secara kontiniu setiap hari adalah salat. Karena ibadah ini penting dan sangat akrab dengan seorang muslim maka perlu dibiasakan kepada anak. Sejak kapan mulai diajarkan melaksanakan salat? adalah pertanyaan menarik dan mungkin banyak jawabannya. Sering kali keluarga muslim baru mulai mengajak anaknya melaksanakan salat ketika mereka berumur 7 tahun. Hal ini sesuai dengan perintah Nabi saw. Ausuruh anakanakmu mengerjakan salat ketika mereka berumur 7 tahun, pukullah mereka ketika tidak mau mengerjakan salat saat mereka telah berusia 10 tahun, dan pisahkanlah tempat tidur merekaAy. Jika mengikut petuah Nabi saw. tersebut mungkin terlalu lama. Ada juga beberapa keluarga muslim yang karena terlalu bersemangat sudah mulai mengajak anak-anak mereka ikut ke mesjid sejak 3 tahun atau bahkan kurang dari usia tersebut. Bukan malah mengajarkan salat, yang ada anak-anak tersebut cenderung mengganggu orang yang sedang beribadah. Yang terpenting adalah anak sudah dapat mulai dibiasakan mengerjakan salat ketika mereka telah AuberakalAy yakni mampu mebedakan baik dan buruk. Hal inilah yang mendasari Suwaid . mengatakan bahwa anak dapat diajari melaksanakan salat ketika sudah mulai mengerti mana arah kanan dan kiri. Jadi, yang perlu ditekankan di sini adalah kemampuan akal dari seorang anak, bukan ukuran usianya. Pertanyaan berikutnya adalah apa saja materi inti yang diajarkan?. Langkah pertama adalah mengajari anak tentang tata cara wudhu yang benar. Lebih lanjut Suwaid . menjelaskan bahwa yang diajarkan orang tua pada anak agar mereka terbiasa melaksanakan salat adalah mengajarkan rukunrukun kewajiban-kewajibannya, hal-hal Disamping itu, yang tidak kalah penting adalah anak sejak dini sudah dilatih agar tetap berkonsentrasi saat melaksanakan salat. Orang tua hendaknya memerintahkan anak supaya tidak melihat ke kanan dan ke kiri ketika sedang salat. Untuk membiasakan beberapa hal tersebut di atas cukup lama, bahkan memakan waktu sampai 10 tahun. Ketika anak sudah berusia 10 tahun maka orangtua perlu meningkatkan perintah salat. Jika anak meninggalkan salat atau mengerjakannya dengan bermalas-malasan maka orangtua boleh memukul. Agar anak tidak lalai dalam mengerjakan salat, orangtua harus sedikit Sedapat mungkin mengawasi anak dan melaksanakan salat di awal Karena diantara tips mengatasi kemalasan dalam melaksanakan salat adalah dengan menyegerakan salat di awal waktu (Rauf, 2. Selain beberapa hal di atas terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan oleh orangtua dalam membiasakan anak melaksanakan salat yaitu dengan Khazanah : Journal of Islamic Studies Volume 4. Nomor 2. Mei 2025 Halaman 51-61 mengajak mereka ke masjid salat berjamaah. Pada momen-momen tertentu misalnya ketika salat Jumat atau salat hari raya anak-anak hendaknya diikutsertakan supaya terbiasa setelah mereka dewasa. Yang perlu diperhatikan oleh orangtua adalah memastikan bahwa anak mereka tidak membuat keributan di masjid, menjaga, dan meletakkannya di saf yang paling belakang atau di saf yang paling pinggir. Para pihak yang diberi amanah untuk mengurus mesjid, tidak perlu memarahi apalagi sampai mengusir anak-anak yang ribut. Langkah terbaik adalah diberitahu, dinasehati dengan cara-cara yang santun dan dapat diterima kalangan anak-anak. Kelak mereka lah yang akan menggantikan para orangtuanya memakmurkan masjid. Melatih Anak Berpuasa Sebagai rukun Islam yang ketiga puasa adalah ibadah yang sangat penting terutama dalam pembentukan kepribadian anak. Melalui puasa seorang anak akan dapat merasakan secara langsung penderitan saudarasaudaranya yang kurang beruntung. Rasa empati inilah yang kemudian perlu selalu di asah supaya kelak ketika anak-anak tumbuh dewasa akan memiliki jiwa sosial yang tinggi dan senag berbagi terhadap sesama yang membutuhkan. Puasa sejatinya akan mengajarkan sikap dermawan seorang anak. Melalui latihan puasa sejak dini, sikap jujur, disiplin, pemaaf, sabar, dan rasa tanggung jawab sesungguhnya dapat secara tidak langsung diajarkan melalui puasa (Hayati, 2. Secara khusus Suwaid . , memberikan dua trik sederhana dalam melatih anak berpuasa yaitu menghibur anak ketika mereka berpuasa dan mengumpulkan anak berdoa bersama ketika berbuka. Sewaktu kecil dahulu, penulis masih ingat betul bagaimana orangtua memotivasi agar melaksanakan puasa dengan tuntas, diberikan hadiah sepeda baru atau sekadar diberikan uang jajan berapa rupiah setiap hariya ketika berbuka. Hemat penulis menghibur yang dimaksud oleh pakar di atas adalah memberikan motivasi dalam bentuk materi sebagai reward kepada anak untuk melaksanakan puasa sangat penting. Memang awalnya ibadah harus dipaksa dan boleh dilakukan dengan mengharapkan sesuatu. Tetapi ini merupakan anak tangga yang sangat normal dilaui setiap anak. Kedepan setelah mereka dewasa dengan penuh kesadaran dan tanpa paksaan mereka akan melaksanakan puasa dengan baik. Yang kedua adalah perlu mengumpulkan anak-anak ketika berbuka Berkumpul ketika hendak berbuka memiliki suasana batin yang menggembirakan apalagi menjelang berbuka puasa. Seperti hadis Nabi saw. bahwa Audua kegembiraan orang yang berpuasa: yaitu gembira ketika hendak berbuka dan gembira ketika kelak bertemu dengan TuhannyaAy. Arahkan anak untuk membaca doa ketika hendak berbuka. Bila perlu suruh mereka yang Khazanah : Journal of Islamic Studies Volume 4. Nomor 2. Mei 2025 Halaman 51-61 memimpin doa. Jika di tengah proses latihan berpuasa anak mulai merasakan lapar, maka orangtua mesti mempunyai alasan untuk mengalihkan rasa lapar tersebut. Orang tua dapat mengajak anaknya tidur atau bermain yang tidak menguras tenaga, mungkin juga menonton film kartun kesukaan anak, ini adalah alternatif saja. alangkah lebih bijaksana jika tengah mengetahui anak dalam kondisi yang sangat lapar memperbolehkan anaknya untuk berbuka dengan pertimbangan rasional bahwa puasa tersebut hanya sebatas latihan dan memang anak tersebut belum dibebankan kewajiban berpuasa. Betapapun anak-anak belum wajib melaksanakan puasa, akan tetapi mereka perlu dilatih. Tentu tidaklah sampai seharian penuh, tidak juga sampai setengah hari. Tetapi melatih anak usia dini dalam melaksanakan puasa bisa dilakukan untuk waktu yang singkat antara 1 sampai 3 jam saja (Hayati, 2. Hal ini dimaksudkan agar anak-anak terbiasa dengan suasana puasa. Durasi waktu tersebut dapat ditingkatkan sesuai dengan perkembangan usia mereka dan ketahanan mereka melaksanakan puasa. Membiasakan Anak Bersedekah Jiwa sosial anak perlu ditanamkan sejak dini supaya kelak ketika anak sudah dewasa akan menjadi dermawan yang mau menolong sesama yang Dua jenis ibadah yang telah diuraikan di atas merupak bentuk ibadah yang bersifat individual. Maksudnya, ibadah tersebut hanya memberikan dampak bagi individu yang melaksanakannya. Tetapi sebenarnya ada ibadah yang memberikan dampak luas kepada orang lain, dan ini yang Ibadah tersebut diberi nama dengan ibadah sosial. Ibadah sosial juga penting sebab akan membawa dampak yang cukup luas. Seorang anak dapat dilatih kepekaan sosialnya melalui pemberian sesuatu kepada orang lain. Di lembaga pendidikan misalnya, berbagi bekal makanan adalah hal bagus yang mampu memupuk sikap sosial anak. Demikian juga bergantian menggunakan mainan dengan teman juga merupakan cikal bakal penanaman jiwa sosial yang baik. Berbagi dan bergantian adalah dua hal yang sepele yang diajarkan di lembaga pendidikan anak usia dini akan tetapi akan membawa dampak positif kelak di kemudian hari. Anak yang tidak mau berbagi cenderung akan memiliki karakter yang pelit dan sikap yang sempit. Sedangkan anak yang tidak mau bergantian akan cenderung egois dan tidak memperdulikan hak-hak orang lain. Dalam konteks ibadah melatih sifat memberi dan berbagi dapat dilakukan oleh orangtua di rumah. Misalnya ketika dalam perjalanan ada orang pemintaminta berikan uang kepada anak dan biarkan anak yang memberikannya secara langsung. Setelah itu, perlu penekanan berupa nasehat-nasehat agar Khazanah : Journal of Islamic Studies Volume 4. Nomor 2. Mei 2025 Halaman 51-61 selalu berbagi terhadap orang yang tidak mampu, dan belajar serta bekerja keras supaya tidak memiliki nasib yang sama dengan orang tersebut. Ketika di tempat ibadah misalnya, orangtua dapat memberikan infak atau sedekah melalui tangan anak-anak mereka. Contohkan kepada mereka ketika singgah di masjid tetap diupayakan ada sedikit uang yang disumbangkan. Biarkan tangan mereka langsung yang memberikan sumbangan tersebut. Memang secara alamiah berbagi adalah kecenderungan seorang anak dalam bersosialisasi dengan lingkungannya. Berbagi adalah tangga awal untuk berinteraksi dengan teman-teman baru mereka. Pada saat yang sama berbagi secara tidak langsung akan mendidik anak untuk bernogosiasi dan patuh menunggu giliran. Tidak ada cara yang lebih ampuh dalam mengajarkan hal baik kepada anak kecuali orangtua telah mencontohkan terlebih dahulu (Napitupulu, 2. Demikian pula halnya dengan berbagi, orangtua yang suka berbagi biasanya sifat tersebut akan turun ke anak-anaknya, demikian pula Manasik Haji Untuk Anak Rukun Islam yang terakhir adalah melaksanakan ibadah haji bagi yang Mampu yang dimaksud adalah jika memenuhi tiga kriteria sekaligus yaitu, ada biaya untuk berangkat, aman di perjalanan, dan ada belanja untuk keluarga yang ditinggalkan. Bagi anak usia dini memang tidak ada ada kewajiban untuk melaksanakan ibadah haji karena belum memenuhi sebagaimana kriteria di atas. Akan tetapi bagi anak, perlu diperkenalkan sejak dini mengenai ibadah haji. Supaya kelak ketika mereka dewasa tidak lupa dan lalai untuk menabung dan mempersiapkan diri untuk berangkat haji. Pengenalan ibadah haji bagi anak hendaknya disederhanakan, seperti mengenal miniatur kaAobah, memakai pakaian ihram, melaksanakan tawaf dan bacaan talbiyah, melontar jumrah, saAoi, dan lainnya dilakukan dengan sederhana saja. Kesannya memang terlalu dini dan tidak terlalu penting bagi anak. Akan tetapi ini akan memberikan pengalaman berharga yang mungkin saja tidak akan pernah dilupakan anak sampai akhir hayatnya, betapa mereka harus menuntaskan rukun Islam yang terakhir. Paling tidak anak-anak menyadari bahwa melaksanakan ibadah haji tidak hanya bagi orang yang mampu saja. tetapi bagaimana seorang muslim yang baik berusaha bagaimana caranya agar mampu berangkat haji. Sehingga pola pikir lama yang cenderung pasif menganggap bahwa haji kan untuk yang mampu saja, dapat dirubah bahwa semua orang Islam harus mampu berangkat haji. Itulah mengapa belakangan ini banyak kegiatan out door yang dilakukan oleh Raudhatul Athfal (RA) tidak hanya sebatas ke taman atau ke kebun Khazanah : Journal of Islamic Studies Volume 4. Nomor 2. Mei 2025 Halaman 51-61 binatang, tetapi mereka membawa anak-anak manasik haji. Anak-anak yang imut, lucu dan menggemaskan tersebut akan tampak lebih cantik dan tampan ketika mereka memakai pakaian ihram. Sedikit banyak momen manasik haji ketika anak-anak akan membekas sampai ia dewasa, sembari guru dan orangtua yang mengantarkannya turut berdoa. AuYa Allah, jika memang Kau takdirkan aku tidak bisa berangkat haji, biarlah anak-anakku kelak yang akan mendoakan kami di sanaAy. Manasik haji bagi anak, khususnya pada jenjang usia dini atau sekolah dasar, bukan hanya kegiatan simbolis semata, melainkan merupakan bagian penting dari proses pendidikan spiritual yang dapat membentuk sikap beribadah sejak dini (Ansori et al, 2. Melalui kegiatan manasik haji, anakanak diperkenalkan pada rukun Islam kelima dalam bentuk yang nyata dan menyenangkan, sesuai dengan tahapan perkembangan psikologis mereka. Aktivitas seperti memakai ihram, thawaf mengelilingi Ka'bah buatan, sa'i antara Shafa dan Marwah, serta wukuf di Arafah, dilakukan dengan cara simulatif yang menyenangkan namun sarat makna. Proses ini sangat efektif menanamkan nilai-nilai ibadah dalam bentuk pengalaman langsung . xperiential learnin. , yang akan lebih mudah tertanam dalam ingatan dan hati anak-anak dibandingkan sekadar penjelasan verbal. Anak-anak belajar bahwa ibadah bukan sekadar perintah, tapi juga bentuk ketaatan, kesabaran, kebersamaan, dan disiplin. Lebih jauh, kegiatan manasik haji dapat menjadi sarana efektif dalam membentuk sikap religius yang melibatkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik secara seimbang (Alijaya et al, 2. Dari sisi kognitif, anak diperkenalkan dengan sejarah Nabi Ibrahim dan Ismail yang menjadi inspirasi ibadah haji. dari sisi afektif, mereka dilatih untuk merasakan kekhusyukan dan semangat spiritual bersama teman-temannya. sedangkan dari sisi psikomotorik, mereka terlibat langsung dalam praktik gerakan ibadah. Nilainilai seperti kesabaran saat antre, kedisiplinan mengikuti arahan guru, serta kepedulian saat berbagi konsumsi atau perlengkapan dengan teman, semuanya adalah refleksi dari sikap beribadah yang utuh. Dengan kata lain, manasik haji menjadi media pendidikan yang menyentuh banyak aspek dalam pembentukan karakter anak muslim yang saleh dan berakhlak. Oleh karena itu, manasik haji seharusnya menjadi kegiatan rutin yang dirancang tidak hanya sebagai seremonial, tapi juga sebagai proses edukatif yang mendalam dan Khazanah : Journal of Islamic Studies Volume 4. Nomor 2. Mei 2025 Halaman 51-61 KESIMPULAN Orangtua sangat berperan penting dalam membiasakan ibadah pada Landasan teologis di dalam Al-QurAoan menyatakan bahwa orangtua lah yang berperan penting menjaga keluarga mereka dari hal-hal yang memungkinkan anggota keluarganya masuk ke dalam neraka (QS. AtTahrim/66: . Pengenalan ibadah dilakukan dengan cara-cara yang sederhana dan sesuai dengan tingkat pengetahuan anak. Demikian pula jenis ibadah yang dimaksud adalah ibadah-ibadah pokok yang terdapat di dalam rukun Islam. Dengan demikian harapanya kelak ketika dewasa anak-anak akan memiliki sepenggal memori di masa lalu untuk kemudian menjadi pijakan dalam melaksanakan ibadah dengan sungguh-sungguh dan ikhlas. DAFTAR PUSTAKA