Penerapan Teknik Checklist sebagai Asesmen Perkembangan Peserta Didik di KB Hidayah Desa Rowosari Laeli Nurhasanah1. Umah Amrela2 Universitas KH Acmad Muzakky Syah e-mail: 1laelinurhasanah17@gmail. Uamrela@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan teknik checklist sebagai asesmen perkembangan peserta didik di KB Hidayah Desa Rowosari Kecamatan Sumberjambe. Teknik checklist digunakan sebagai alat bantu dalam menilai aspek perkembangan anak usia dini secara sistematis dan terstruktur. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan teknik checklist membantu pendidik dalam memantau perkembangan peserta didik secara lebih terarah, terutama dalam aspek motorik, kognitif, bahasa, dan sosial-emosional. Selain itu, teknik ini memudahkan proses pencatatan dan pelaporan perkembangan anak secara berkala. Dengan demikian, teknik checklist efektif digunakan sebagai alat asesmen formatif dalam pendidikan anak usia dini. Kata kunci: Checklist. Asesmen. Perkembangan Anak. PAUD Abstract This study aims to describe the implementation of the checklist technique as an assessment of student development at KB Hidayah. Rowosari Village. Sumberjambe District. The checklist technique is used as a tool to systematically and structurally assess the developmental aspects of early childhood. This research employed a qualitative approach with a descriptive method. Data were collected through observation, interviews, and documentation. The results showed that the application of the checklist technique assists educators in monitoring students' development more effectively, especially in motor, cognitive, language, and socio-emotional Additionally, this technique facilitates regular recording and reporting of children's progress. Therefore, the checklist technique is effective as a formative assessment tool in early childhood education. Keywords: Checklist. Assessment. Development. Early Childhood Education JOECES Journal of Early Childhood Education Studies Volume 2. Nomor 2 . Penerapan Tehnik Chelist PENDAHULUAN Pendidikan anak usia dini merupakan fondasi penting dalam membentuk karakter, kecerdasan, dan keterampilan sosial anak sejak dini(Pembiasaan & Keteladanan, n. Oleh karena itu, asesmen perkembangan peserta didik di lembaga pendidikan anak usia dini menjadi bagian yang tak terpisahkan dari proses Asesmen ini tidak hanya berfungsi untuk mengukur capaian perkembangan anak, tetapi juga sebagai dasar perencanaan pembelajaran yang tepat sesuai dengan kebutuhan dan potensi anak. (HARTATI, 2. Salah satu teknik asesmen yang dapat digunakan secara praktis dan sistematis dalam konteks pendidikan anak usia dini adalah teknik checklist. Checklist merupakan salah satu bentuk asesmen formatif yang memungkinkan pendidik untuk mencatat dan memantau perkembangan anak berdasarkan indikator-indikator tertentu yang telah ditetapkan. Teknik ini bersifat objektif, efisien, dan mudah digunakan, terutama dalam lingkungan kelas dengan jumlah peserta didik yang relatif banyak. Melalui checklist, pendidik dapat mendokumentasikan capaian perkembangan anak dalam berbagai aspek, seperti motorik kasar dan halus, bahasa, kognitif, sosial-emosional, serta nilai-nilai agama dan moral. (Irawati et al. , 2. Di KB Hidayah. Desa Rowosari. Kecamatan Sumberjambe, asesmen perkembangan anak menjadi perhatian penting dalam mendukung keberhasilan proses pembelajaran. Namun, dalam praktiknya, masih ditemukan kendala dalam pencatatan dan pelaporan perkembangan anak secara sistematis. Oleh karena itu, penerapan teknik checklist dipandang sebagai solusi yang tepat untuk meningkatkan efektivitas asesmen perkembangan peserta didik. Dengan penerapan teknik ini, pendidik dapat memperoleh gambaran perkembangan anak secara menyeluruh dan berkesinambungan, serta memberikan umpan balik yang bermakna bagi orang tua maupun lembaga. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana teknik checklist diterapkan sebagai asesmen perkembangan di KB Hidayah serta mengevaluasi manfaat dan tantangan yang dihadapi dalam implementasinya. Dengan demikian, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi peningkatan kualitas asesmen perkembangan anak usia dini secara praktis dan Di era Kurikulum Merdeka saat ini, asesmen dalam pendidikan anak usia dini tidak lagi hanya menekankan pada hasil akhir, tetapi lebih pada proses dan keterlibatan aktif anak dalam setiap kegiatan pembelajaran. Prinsip asesmen yang bersifat autentik, berkelanjutan, dan kontekstual menjadi landasan utama dalam menilai perkembangan anak. Teknik checklist menjadi salah satu instrumen asesmen yang sesuai dengan prinsip tersebut karena mampu memberikan informasi yang akurat, mudah diakses, dan dapat dibandingkan secara periodik. Selain itu, penggunaan checklist juga mendukung dokumentasi portofolio anak sebagai bagian dari laporan perkembangan yang holistik. (Arisanti et al. , 2. Penggunaan checklist yang efektif sangat bergantung pada pemahaman pendidik terhadap indikator perkembangan yang dinilai serta konsistensi dalam Penting adanya pelatihan dan pembinaan berkelanjutan agar pendidik mampu menerapkan teknik ini dengan tepat. KB Hidayah sebagai salah satu lembaga PAUD di wilayah pedesaan, menghadapi tantangan tersendiri dalam hal JOECES Vol. No. Laeli Nurhasanah sumber daya dan akses informasi. Namun, komitmen lembaga dalam meningkatkan mutu pembelajaran mendorong perlunya penerapan strategi asesmen yang efisien dan mudah diterapkan, salah satunya melalui teknik checklist. Pendidik PAUD masih banyak yang mengalami kesulitan dalam melakukan asesmen perkembangan peserta didik secara terstruktur dan Sebagian besar asesmen dilakukan secara umum dan kurang terdokumentasi, sehingga hasilnya tidak dapat dijadikan acuan yang tepat dalam merancang pembelajaran selanjutnya. Hal ini berdampak pada kurang optimalnya stimulasi perkembangan anak yang seharusnya bersifat individual dan sesuai dengan tahap perkembangannya masing-masing. Teknik checklist hadir sebagai solusi praktis untuk mencatat observasi harian secara langsung dalam kegiatan belajarmengajar, (ULKHATIATA, 2. Peran asesmen yang tepat menjadi semakin penting untuk menjamin kesetaraan kualitas pendidikan. Pendidik di daerah ini memerlukan strategi penilaian yang mudah dipahami, tidak rumit dalam pelaksanaan, serta mampu memberikan gambaran perkembangan anak secara menyeluruh. Checklist menjadi pilihan karena selain efisien, alat ini juga dapat disesuaikan dengan kondisi dan karakteristik peserta didik lokal. Dengan demikian, penerapan teknik checklist bukan hanya sebagai bentuk asesmen, tetapi juga sebagai sarana untuk mendorong refleksi pendidik terhadap proses pembelajaran yang berlangsung. (Islam et al. , 2. KAJIAN PUSTAKA Teori Perkembangan Anak Usia Dini Perkembangan anak usia dini merupakan proses perubahan yang kompleks dan berkesinambungan, yang melibatkan pertumbuhan fisik, kemampuan kognitif, sosial-emosional, bahasa, serta kreativitas atau seni. Menurut Santrock, anak usia dini berada dalam masa perkembangan pesat, yaitu rentang usia 0Ae6 tahun, di mana mereka mengalami lompatan besar dalam kemampuan berpikir, bergerak, berbicara, serta menjalin hubungan sosial dengan lingkungan sekitar. Dalam periode ini, stimulasi yang diberikan secara tepat akan memberikan dampak besar terhadap perkembangan otak dan kecakapan hidup anak di masa depan. Stimulasi yang dimaksud mencakup rangsangan yang bersifat edukatif, emosional, sosial, dan fisik yang diberikan secara konsisten dan sesuai tahap usia anak. Ketika anak mendapatkan pengalaman belajar yang bermakna sejak dini, maka sinapsis-sinapsis otak akan terbentuk secara optimal, yang berdampak pada peningkatan kemampuan kognitif, kontrol emosi, dan kecakapan Oleh karena itu, masa usia dini kerap disebut sebagai golden age, yakni masa keemasan yang tidak akan terulang dan menjadi pondasi penting bagi perkembangan selanjutnya. (Mustikhatul et al. , 2. Peran lingkungan belajar baik di rumah maupun di lembaga pendidikan anak usia dini menjadi sangat signifikan. Lingkungan yang kaya akan interaksi, eksplorasi, dan aktivitas bermain edukatif akan membantu anak dalam mengembangkan berbagai kecakapan dasar. Erik JOECES Vol. No. Penerapan Tehnik Chelist Erikson, melalui teori psikososialnya, menyebutkan bahwa pada usia dini anak berada dalam tahap "autonomy vs. shame and doubt" serta "initiative guilt", yaitu fase ketika anak mulai belajar mandiri, mencoba berbagai hal baru, dan membentuk rasa percaya diri. (Mustikhatul et al. , 2. Guru dan orang tua memiliki peran penting untuk menciptakan suasana belajar yang mendukung agar anak mampu tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, mandiri, dan bertanggung jawab Pemahaman terhadap karakteristik perkembangan anak sangat penting bagi pendidik dalam merancang proses pembelajaran maupun asesmen yang sesuai. Proses belajar yang terlalu menekankan aspek kognitif tanpa memperhatikan kebutuhan bermain, eksplorasi, dan emosional anak justru dapat menghambat pertumbuhan Oleh karena itu, penting bagi guru untuk senantiasa memperhatikan indikator perkembangan yang sesuai dengan tahapan usia, serta melakukan asesmen secara sistematis untuk memantau pencapaian anak dan menyusun intervensi yang tepat. Salah satu pendekatan asesmen yang relevan dengan prinsip perkembangan anak usia dini adalah asesmen autentik yang bersifat naturalistik, seperti teknik observasi dan checklist yang dilaksanakan dalam kegiatan bermain sehari-hari anak. Perkembangan anak usia dini harus dilihat sebagai proses yang menyeluruh dan Guru tidak hanya bertugas mengajarkan pengetahuan dasar, tetapi juga menjadi fasilitator yang memahami kebutuhan perkembangan anak, memberikan stimulasi yang sesuai, serta menilai capaian anak secara utuh dan berkesinambungan. Asesmen perkembangan menjadi sarana penting untuk mengukur sejauh mana anak telah mencapai tugas-tugas Dengan memahami teori perkembangan, guru dapat mengidentifikasi indikator yang sesuai dengan tahap perkembangan anak, serta menyusun strategi yang tepat untuk membantu anak tumbuh secara optimal dalam aspek fisik, kognitif, sosial, emosional, dan bahasa. Hal ini sejalan dengan pendekatan pendidikan anak usia dini yang holistik dan integratif, yang menempatkan anak sebagai subjek utama dalam proses (Rohmah, 2. Konsep Asesmen dalam Pendidikan Anak Usia Dini Asesmen pada pendidikan anak usia dini memiliki karakteristik yang berbeda dari asesmen pada jenjang pendidikan dasar maupun Hal ini dikarenakan anak usia dini berada pada tahap perkembangan awal, di mana proses belajar lebih menekankan pada pengalaman konkret, kegiatan bermain, dan interaksi sosial, bukan pada capaian akademik formal. Oleh karena itu, pendekatan asesmen yang digunakan harus menyesuaikan dengan karakteristik anak, yakni fleksibel, tidak menekan, dan berlangsung secara natural dalam keseharian mereka. Asesmen dalam pendidikan anak usia dini harus bersifat autentik, berkelanjutan, dan dilaksanakan dalam konteks alami, artinya guru tidak boleh melakukan asesmen hanya sesekali atau dalam situasi yang dibuatbuat, melainkan secara rutin melalui observasi dalam aktivitas nyata anak. JOECES Vol. No. Laeli Nurhasanah seperti saat bermain, berdiskusi, bernyanyi, atau menyusun balok. Asesmen seperti ini memungkinkan guru memperoleh data perkembangan anak secara lebih akurat dan objektif, karena anak tidak merasa sedang diuji atau diamati secara formal. Asesmen juga memiliki fungsi yang sangat penting dalam proses perencanaan pembelajaran. Data asesmen dapat digunakan oleh guru untuk mengetahui sejauh mana anak telah berkembang sesuai dengan indikator capaian perkembangan yang telah ditentukan dalam kurikulum, seperti dalam Permendikbud PAUD Nomor 137 Tahun 2014 tentang Standar Nasional PAUD. Dengan mengetahui kemampuan aktual anak, guru dapat merancang kegiatan pembelajaran yang sesuai tingkat perkembangan dan kebutuhan masing-masing anak . evelopmentally appropriate practic. , serta menghindari pendekatan seragam yang tidak efektif. Asesmen berfungsi sebagai sarana komunikasi antara guru dan orang tua dalam memahami kemajuan serta tantangan perkembangan anak. (Nugra & Suparno, 2. Melalui hasil asesmen yang terdokumentasi dengan baik, guru dapat memberikan laporan perkembangan anak secara berkala dan berdiskusi dengan orang tua mengenai stimulasi yang perlu dilakukan di Hal ini memperkuat sinergi antara lembaga pendidikan dan keluarga sebagai dua lingkungan utama dalam tumbuh kembang anak(Kholidah et al. , n. Asesmen anak usia dini sebaiknya tidak hanya terfokus pada aspek kognitif semata, tetapi juga mencakup seluruh aspek perkembangan, seperti motorik halus dan kasar, sosial emosional, bahasa, moral, dan nilai agama(Indiarsih & Purhasanah, 2. Asesmen yang ideal mencakup observasi sistematik, catatan anekdot, checklist, portofolio, dan hasil karya anak, yang dilaksanakan secara terpadu dalam kegiatan harian. Pendekatan ini dikenal sebagai asesmen holistik, karena memperhatikan keunikan dan potensi setiap anak secara menyeluruh. Guru perlu memiliki kompetensi dalam melakukan observasi yang objektif, mencatat hasil asesmen secara tertib, dan menginterpretasikan data perkembangan anak secara profesional. Asesmen bukan sekadar mencatat apa yang tampak, melainkan juga memahami makna dari perilaku anak dan merancang intervensi pendidikan yang relevan(Hasanah & Latif, 2. Oleh karena itu, pelatihan guru dalam melakukan asesmen anak usia dini sangat diperlukan agar data yang diperoleh benar-benar valid dan bermanfaat. Asesmen dalam pendidikan anak usia dini bukan hanya alat ukur, tetapi juga menjadi bagian integral dari proses pembelajaran yang bermakna dan berpusat pada anak. Asesmen menjadi jembatan antara perkembangan anak yang aktual dan tujuan perkembangan yang diharapkan, serta menjadi dasar dalam membangun pengalaman belajar yang kontekstual dan menyenangkan(Sembiring et al. JOECES Vol. No. Penerapan Tehnik Chelist Teknik Checklist dalam Asesmen Perkembangan Checklist adalah salah satu teknik asesmen yang umum digunakan dalam pendidikan anak usia dini. Teknik ini berupa daftar indikator perkembangan yang telah disusun secara sistematis berdasarkan aspekaspek perkembangan anak, seperti kognitif, bahasa, motorik, sosialemosional, dan nilai agama dan moral. Guru mengisi checklist dengan memberikan tanda pada indikator yang menunjukkan keterampilan atau perilaku yang sudah atau belum ditampilkan oleh anak dalam keseharian. Checklist dibuat berdasarkan hasil observasi langsung dalam konteks alami, sehingga anak tidak merasa tertekan atau terganggu dalam aktivitas Teknik checklist memberikan gambaran umum yang cepat dan efisien mengenai capaian perkembangan anak. Formatnya yang sederhana dan mudah digunakan memungkinkan guru untuk melakukan asesmen secara berkelanjutan, baik harian, mingguan, maupun bulanan. Penggunaan checklist juga memudahkan guru dalam mendokumentasikan perkembangan anak tanpa harus meninggalkan proses pembelajaran, karena observasi dapat dilakukan bersamaan dengan aktivitas anak, seperti saat bermain, bercerita, atau bekerja kelompok. Checklist memiliki keunggulan dari sisi kepraktisan dan konsistensi pengumpulan data. Setiap indikator perkembangan yang dicantumkan dalam checklist biasanya telah disusun berdasarkan kurikulum dan standar capaian perkembangan nasional, seperti yang tercantum dalam Permendikbud No. 137 Tahun 2014. (Nugra & Suparno, 2. Dengan demikian, checklist juga berfungsi sebagai alat bantu bagi guru untuk memastikan bahwa proses pembelajaran telah mengarah pada pencapaian indikator yang diharapkan. Teknik checklist membantu guru dalam menyusun profil perkembangan individu setiap anak. Data dari checklist dapat dijadikan dasar dalam menyusun laporan perkembangan, merancang program pembelajaran individual, dan memberikan informasi yang tepat kepada orang tua. Checklist juga bermanfaat untuk mendeteksi kebutuhan khusus atau keterlambatan perkembangan sejak dini. Ketika seorang anak menunjukkan hasil yang tidak sebanding dengan usianya pada beberapa indikator, guru dapat mengambil tindakan lanjutan seperti merancang stimulasi tambahan, melakukan asesmen lebih lanjut, atau bekerja sama dengan pihak lain seperti psikolog anak atau terapis perkembangan. Checklist menjadi alat identifikasi dini yang sangat penting dalam layanan pendidikan anak usia dini. Penggunaan checklist tetap memiliki keterbatasan. Di antaranya, informasi yang diperoleh cenderung bersifat permukaan . urface leve. , sehingga kurang menggambarkan proses berpikir atau dinamika emosional JOECES Vol. No. Laeli Nurhasanah anak secara mendalam. Oleh karena itu, checklist sebaiknya tidak digunakan secara tunggal, melainkan dikombinasikan dengan teknik asesmen lain seperti catatan anekdot, portofolio, atau rekaman audio-visual untuk mendapatkan gambaran perkembangan anak secara lebih menyeluruh dan akurat. Di lembaga PAUD seperti KB Hidayah, teknik ini sangat sesuai untuk mendokumentasikan pertumbuhan dan perkembangan peserta didik secara konsisten dan informatif. Kelebihan dan Keterbatasan Checklist Checklist sebagai salah satu teknik asesmen dalam pendidikan anak usia dini memiliki sejumlah kelebihan yang membuatnya banyak digunakan oleh para pendidik di berbagai satuan PAUD. Salah satu keunggulan utamanya adalah efisiensi dalam pengumpulan data perkembangan anak. Formatnya yang sederhana, berupa daftar indikator perkembangan, memungkinkan guru untuk melakukan pencatatan secara cepat, sistematis, dan tidak mengganggu proses belajar anak. Guru dapat menandai pencapaian anak secara berkala dalam berbagai konteks kegiatan, baik saat anak bermain, berdiskusi, bercerita, maupun melakukan aktivitas rutin lainnya. Selain efisien, teknik checklist juga mudah digunakan oleh guru, termasuk mereka yang belum memiliki latar belakang psikologi perkembangan anak secara mendalam. Checklist bersifat praktis dan dapat dikustomisasi sesuai kebutuhan lembaga, usia anak, serta kurikulum yang Karena checklist bersifat berulang . , guru dapat membandingkan perkembangan anak dari waktu ke waktu dan menyusun profil perkembangan individual secara longitudinal. Hal ini memudahkan pendidik dalam membuat keputusan pedagogis dan menyusun intervensi pembelajaran yang lebih tepat sasaran. Checklist dapat dijadikan alat komunikasi yang objektif antara guru dan orang tua. Melalui laporan perkembangan berbasis checklist, orang tua dapat memahami perkembangan anak secara konkret dan berdasarkan data. Hal ini memperkuat kolaborasi rumah dan sekolah dalam mendukung tumbuh kembang anak. Teknik checklist juga memiliki keterbatasan yang perlu diperhatikan. Salah satu kekurangan utamanya adalah minimnya informasi kualitatif yang mendalam mengenai proses berpikir, emosi, dan cara anak menyelesaikan tugas atau berinteraksi dengan lingkungan. Checklist cenderung hanya menunjukkan apakah suatu perilaku sudah muncul atau belum, tanpa menjelaskan bagaimana atau dalam kondisi apa perilaku itu ditampilkan. Dengan demikian, teknik ini kurang mampu menangkap konteks situasional yang penting dalam memahami perkembangan anak secara menyeluruh. JOECES Vol. No. Penerapan Tehnik Chelist Kelemahan lainnya adalah potensi bias dalam pengisian, terutama jika guru tidak melakukan observasi secara sistematis atau mengandalkan ingatan semata. Jika checklist diisi tanpa dukungan bukti nyata atau dokumentasi lain, maka validitas hasil asesmen dapat diragukan. Selain itu, jika indikator dalam checklist disusun terlalu umum atau tidak sesuai tahap perkembangan, maka data yang diperoleh menjadi kurang bermakna. Para ahli merekomendasikan agar penggunaan checklist tidak berdiri sendiri, melainkan dikombinasikan dengan teknik asesmen lain, seperti catatan anekdot, portofolio, rekaman observasi, atau hasil karya anak. Kombinasi teknik ini akan memberikan gambaran perkembangan anak secara holistik, baik dari sisi kuantitatif . eperti frekuensi kemunculan perilak. maupun kualitatif . eperti konteks, emosi, dan motivasi di balik perilak. Dengan demikian, pendidik dapat menyusun program pembelajaran yang lebih personal, adaptif, dan efektif dalam mengembangkan potensi anak. Hidayah Desa Rowosari, memanfaatkan tehnik checklist secara maksimal supaya dapat membantu guru mendeteksi potensi maupun hambatan perkembangan secara dini. Namun, efektivitasnya akan lebih tinggi jika didukung dengan pelatihan guru dalam teknik observasi, pencatatan, dan interpretasi data perkembangan secara profesional. (HARTATI, 2. Relevansi Teknik Checklist di KB Hidayah Desa Rowosari KB Hidayah sebagai salah satu satuan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Desa Rowosari. Kecamatan Sumberjambe, mengusung pendekatan pembelajaran yang holistik dan berpusat pada anak. Pendekatan ini menempatkan perkembangan anak sebagai fokus utama, yang mencakup seluruh aspekAibaik fisik, sosial-emosional, bahasa, kognitif, moral, maupun nilai-nilai spiritual. Untuk memastikan bahwa setiap anak berkembang secara optimal, guru perlu melakukan pemantauan perkembangan yang terarah dan berkelanjutan. Dalam konteks inilah teknik checklist memiliki peran yang sangat relevan dan strategis. Guru-guru di KB Hidayah memanfaatkan checklist sebagai alat utama dalam asesmen formatif, yaitu asesmen yang dilakukan untuk memantau dan mengevaluasi capaian perkembangan anak secara berkala. Checklist yang digunakan disusun berdasarkan indikator-indikator capaian perkembangan yang mengacu pada Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak (STPPA) sesuai dengan Permendikbud Nomor 137 Tahun 2014. Dengan demikian, asesmen yang dilakukan bukan hanya sistematis, tetapi juga memiliki dasar hukum dan acuan kurikulum nasional. Penggunaan checklist di KB Hidayah terbukti mempermudah guru dalam mendokumentasikan hasil pengamatan terhadap aktivitas anak. Guru tidak harus menunggu momen formal untuk menilai, melainkan bisa langsung mencatat capaian perkembangan saat anak bermain, melakukan kegiatan rutinitas harian, bekerja kelompok, atau berinteraksi sosial. Hal ini membuat proses asesmen menjadi autentik, kontekstual, dan tidak JOECES Vol. No. Laeli Nurhasanah membebani anak, karena dilakukan secara alami dan tanpa tekanan. Hasil dari pengisian checklist digunakan guru untuk menyusun laporan perkembangan anak secara berkala kepada orang tua. Laporan ini tidak hanya menyajikan data statistik, tetapi juga menjelaskan aspek-aspek yang sudah berkembang dan yang masih perlu ditingkatkan. Dengan informasi tersebut, orang tua dapat lebih memahami kondisi anak secara objektif, serta dapat memberikan dukungan yang selaras di rumah. Praktik ini memperkuat hubungan kolaboratif antara sekolah dan keluarga, yang merupakan bagian dari prinsip pendidikan anak usia dini yang integratif. Checklist juga membantu guru dalam menyesuaikan program pembelajaran sesuai kebutuhan individual anak. Ketika hasil asesmen menunjukkan bahwa seorang anak belum mencapai indikator tertentu, guru dapat merancang aktivitas yang lebih terarah dan memberikan stimulus Sebaliknya, jika anak sudah melampaui capaian perkembangan, guru bisa memberikan tantangan belajar yang lebih tinggi. Dengan kata lain, checklist membantu proses diferensiasi pembelajaran di dalam kelas, agar setiap anak mendapatkan pengalaman belajar yang sesuai dengan Teknik checklist juga berguna untuk identifikasi dini terhadap keterlambatan perkembangan atau kebutuhan khusus anak. Guru dapat mendeteksi anak-anak yang mengalami kesulitan dalam aspek tertentu, seperti bahasa, motorik, atau interaksi sosial, dan melakukan koordinasi dengan kepala sekolah atau pihak lain yang berkompeten untuk penanganan lebih lanjut. Dengan langkah ini. KB Hidayah telah menjalankan fungsinya sebagai lembaga PAUD yang responsif dan inklusif terhadap kebutuhan semua peserta didik. Penerapan teknik checklist di KB Hidayah Desa Rowosari bukan hanya memenuhi tuntutan administratif, tetapi benar-benar menjadi alat yang berdaya guna dalam meningkatkan kualitas pembelajaran dan pelayanan terhadap perkembangan anak. Relevansi dan efektivitas checklist di lembaga ini menunjukkan bahwa asesmen yang sederhana pun dapat menghasilkan dampak besar apabila digunakan secara tepat dan konsisten oleh pendidik yang memahami karakteristik anak usia dini. Penelitian Terdahulu Beberapa penelitian sebelumnya mendukung efektivitas teknik checklist dalam asesmen perkembangan anak usia dini: Fitria F. Hasanah & M. Latif . dalam jurnal Golden Age menyimpulkan bahwa teknik checklist dominan digunakan oleh guru RA dalam mencatat perkembangan sosial-emosional anak karena praktis dan tidak mengganggu alur kegiatan. Rodhotul Islamiah dkk. dalam Jurnal Pendidikan Tambusai menemukan bahwa checklist harian efektif mencatat perkembangan JOECES Vol. No. Penerapan Tehnik Chelist berdasarkan skala BBAeBSB dan sangat membantu dalam dokumentasi IdAoha Tutfi Ulkhatiata . dalam Journal of Islamic Education for Early Childhood menyatakan bahwa teknik checklist digunakan sebagai alat observasi yang akurat dalam menilai capaian perkembangan secara berkelanjutan. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, yaitu pendekatan yang bertujuan untuk memahami dan mendeskripsikan fenomena secara mendalam melalui pengumpulan data yang bersifat naturalistik, tanpa manipulasi terhadap variabel. (Negeri et al. , 2. Dalam konteks ini, fokus penelitian adalah penggunaan teknik checklist sebagai instrumen asesmen perkembangan anak usia dini di lembaga PAUD, dengan menitikberatkan pada bagaimana guru menerapkan teknik ini dalam praktik sehari-hari, tantangan yang dihadapi, serta manfaat yang dirasakan baik oleh guru maupun peserta didik. Pendekatan ini dipilih karena penelitian kualitatif deskriptif sangat cocok digunakan untuk mengeksplorasi proses, makna, dan pemahaman dalam situasi nyata, khususnya dalam lingkungan pendidikan anak usia dini, di mana interaksi sosial dan pengalaman belajar anak berlangsung secara kompleks dan unik. Pendekatan kualitatif digunakan ketika peneliti ingin memahami makna dari suatu fenomena yang dialami oleh subjek secara alamiah, dalam konteks khusus, dan melalui berbagai teknik seperti observasi, wawancara, dan dokumentasi. (Negeri et al. , 2. Dengan pendekatan ini, data yang dikumpulkan tidak berupa angka, tetapi narasi deskriptif yang memberikan gambaran menyeluruh tentang realitas yang terjadi di lapangan. Teknik checklist sebagai objek kajian juga memerlukan pemahaman konteks pelaksanaannya yang tidak bisa diungkap hanya dengan angka atau statistik. Oleh karena itu, pendekatan kualitatif memungkinkan peneliti untuk mengamati bagaimana guru menggunakan checklist dalam proses pembelajaran, bagaimana keterlibatan anak saat proses asesmen berlangsung, serta bagaimana data asesmen digunakan dalam perencanaan pembelajaran selanjutnya. Proses ini memerlukan deskripsi yang mendalam dan reflektif, yang hanya dapat diperoleh melalui metode kualitatif deskriptif. HASIL & PEMBAHASAN Penelitian ini dilakukan di KB Hidayah Desa Rowosari. Kecamatan Sumberjambe, dengan tujuan utama untuk mengeksplorasi secara mendalam bagaimana teknik checklist diterapkan dalam proses asesmen perkembangan peserta KB Hidayah dipilih sebagai lokasi penelitian karena merupakan salah satu JOECES Vol. No. Laeli Nurhasanah lembaga PAUD yang telah menggunakan teknik checklist secara rutin dalam kegiatan pembelajaran, namun belum banyak dievaluasi secara sistematis mengenai efektivitas dan konsistensinya. Penelitian ini difokuskan pada cara guru menggunakan checklist dalam praktik sehari-hari, serta bagaimana instrumen tersebut memberikan kontribusi terhadap pemahaman guru terhadap capaian perkembangan anak. Teknik checklist sendiri merupakan bagian dari asesmen autentik, yaitu pendekatan penilaian yang menekankan pada observasi terhadap perilaku nyata anak dalam konteks kegiatan sehari-hari. Dalam asesmen ini, guru tidak sekadar menilai produk akhir dari hasil belajar anak, tetapi juga memperhatikan prosesnya. Checklist digunakan sebagai alat bantu untuk mencatat pencapaian indikator perkembangan anak, yang meliputi berbagai aspek seperti motorik halus dan kasar, bahasa, kognitif, sosial emosional, serta nilai agama dan Penggunaan checklist memungkinkan guru melakukan penilaian yang sistematis, terstruktur, dan berkesinambungan, karena didasarkan pada daftar indikator yang telah ditetapkan sesuai dengan Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak (STPPA). (Panduan Pengembangan IKM Di RA. Kemenag RI . Pdf, n. Dalam pembelajaran di KB Hidayah, checklist digunakan tidak hanya sebagai alat pemantau perkembangan, tetapi juga sebagai acuan dalam menyusun perencanaan pembelajaran selanjutnya. Guru melakukan observasi terhadap perilaku anak selama aktivitas berlangsung, kemudian mencatat capaian anak pada kolom checklist yang telah disediakan. Penilaian ini dilakukan secara berkala dan digunakan untuk menyusun laporan perkembangan anak secara individu. Penelitian ini penting untuk dilakukan mengingat asesmen perkembangan anak usia dini harus bersifat menyeluruh dan tidak bersifat menghakimi. Checklist menjadi solusi yang relatif sederhana, praktis, dan dapat disesuaikan dengan konteks lembaga pendidikan di wilayah pedesaan. Oleh karena itu, melalui penelitian ini diharapkan dapat ditemukan gambaran yang utuh mengenai bagaimana teknik checklist dapat diimplementasikan secara efektif di KB Hidayah, serta faktor-faktor pendukung dan penghambat yang mungkin muncul dalam proses penerapannya. Untuk mengetahui bagaimana penerapan teknik checklist sebagai bentuk asesmen perkembangan peserta didik di KB Hidayah Desa Rowosari. Metode yang digunakan mencakup observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Ketiga teknik ini saling melengkapi untuk menghasilkan gambaran utuh dan menyeluruh mengenai praktik asesmen di lapangan. Guru secara aktif dan konsisten menggunakan lembar checklist pada berbagai aktivitas harian seperti bermain balok, mewarnai, bercerita, menyanyi, serta kegiatan sosial yang melibatkan interaksi antar anak. Checklist digunakan sebagai alat untuk mencatat ketercapaian indikator perkembangan anak secara langsung dan (Wena, 2. Guru tidak langsung mengisi checklist setiap selesai aktivitas, melainkan merekap data observasi harian dan mencatatnya di akhir Hal ini mendukung pendekatan asesmen formatif yang bersifat reflektif dan Kegiatan yang paling banyak diamati dalam penggunaan checklist adalah JOECES Vol. No. Penerapan Tehnik Chelist aktivitas bermain balok . otorik halu. , bernyanyi . , dan kerja kelompok sederhana . osial emosiona. Hal ini menunjukkan bahwa guru mampu memanfaatkan aktivitas pembelajaran untuk menilai aspek perkembangan secara Data checklist yang dianalisis menunjukkan bahwa sebagian besar peserta didik telah mencapai indikator perkembangan sesuai dengan usia 4Ae5 tahun. Pencapaian ini mengindikasikan bahwa pembelajaran dan asesmen yang dilakukan sudah mengarah pada penguatan kompetensi anak sesuai tahapan perkembangannya. Aspek perkembangan dengan pencapaian tertinggi adalah nilai agama dan moral, yakni sebesar 90%. Ini menunjukkan efektivitas kegiatan pembiasaan seperti doa pagi, cerita keagamaan, dan kegiatan berbasis karakter yang rutin dilakukan setiap Aspek sosial emosional menjadi indikator dengan pencapaian terendah, yakni Hal ini dapat disebabkan oleh latar belakang sosial anak-anak yang beragam dan kurangnya aktivitas terstruktur yang secara khusus menstimulasi kecakapan sosial dan pengendalian emosi. Berdasarkan wawancara, guru KB Hidayah Rowosari Jember menyatakan bahwa checklist sangat membantu dalam mendokumentasikan perkembangan anak secara objektif. Guru merasa lebih mudah memantau capaian setiap anak karena indikator sudah dirinci secara sistematis sesuai STPPA. Guru juga mengungkapkan bahwa salah satu manfaat besar checklist adalah dalam penyusunan laporan perkembangan anak yang disampaikan kepada orang tua. Laporan tersebut menjadi alat komunikasi penting antara sekolah dan rumah. Guru juga menyampaikan tantangan dalam pelaksanaannya, yaitu keterbatasan waktu dan beban administratif lain yang membuat pengisian checklist tidak selalu optimal. Guru menyarankan adanya pembagian tugas atau jadwal yang lebih fleksibel. Dokumen yang dianalisis menunjukkan bahwa lembar checklist yang digunakan telah menyesuaikan dengan indikator kurikulum PAUD. (Panduan Pengembangan IKM Di RA. Kemenag RI . Pdf, n. ) Ini berarti bahwa KB Hidayah sudah menjalankan asesmen berbasis kurikulum nasional secara tepat. Peneliti juga menemukan bahwa asesmen lebih efektif saat dikombinasikan dengan portofolio . asil karya ana. dan catatan anekdot. Penggunaan ketiga teknik ini memperkaya informasi yang diperoleh dan memperkuat validitas asesmen. Asesmen autentik seperti checklist menghasilkan data tentang perilaku dan perkembangan anak dalam konteks alami, bukan buatan atau artifisial. Asesmen berbasis observasi sangat sesuai untuk anak usia dini karena tidak menimbulkan tekanan dan mencerminkan kemampuan anak secara realistic. Guru memanfaatkan hasil checklist untuk menyesuaikan perencanaan kegiatan belajar berikutnya. Dengan demikian, asesmen tidak hanya menjadi alat ukur, tetapi juga sebagai dasar perbaikan pembelajaran . ssessment for learnin. Asesmen digunakan untuk menentukan zona perkembangan proksimal dan menyediakan scaffolding yang tepat untuk mendorong anak ke tahap berikutnya. JOECES Vol. No. Laeli Nurhasanah Berdasarkan hasil wawancara dan observasi, ditemukan bahwa aspek motorik halus berkembang baik karena adanya kegiatan seperti meronce, melipat, dan mewarnai. Guru KB Hidayah secara sadar merancang aktivitas ini dengan mempertimbangkan indikator checklist. Kegiatan ini memberi efek positif terhadap perhatian guru pada individualitas anak. Guru KB Hidayah menjadi lebih peka terhadap capaian anak yang semula terlihat pasif atau kurang menonjol dalam Meski manfaat checklist sangat dirasakan, guru menyadari bahwa asesmen akan lebih bermakna jika dibarengi dengan refleksi pedagogis dan bukan sekadar pengisian lembar rutin. Oleh karena itu, pelatihan lanjutan diperlukan, dukungan kelembagaan juga sangat menentukan. Kepala sekolah mendukung penuh praktik asesmen dengan menyediakan format, melatih guru secara internal, serta memfasilitasi evaluasi rutin setiap bulan. Teknik checklist bukan hanya menjadi instrumen dokumentasi, tetapi telah terintegrasi dalam budaya pembelajaran. Ini menunjukkan bahwa lembaga telah memahami pentingnya asesmen sebagai bagian dari proses pendidikan, bukan sekadar pelaporan. Teknik checklist efektif digunakan di KB Hidayah. Keberhasilan penerapannya bergantung pada kualitas guru sebagai pengamat, dukungan kelembagaan, dan integrasi asesmen ke dalam pembelajaran yang reflektif dan berpusat pada anak. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh melalui teknik observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi, dapat disimpulkan bahwa penerapan teknik checklist sebagai asesmen perkembangan peserta didik di KB Hidayah Desa Rowosari Kecamatan Sumberjambe telah berjalan secara sistematis, terstruktur, dan cukup efektif. Teknik ini digunakan secara konsisten oleh guru untuk mencatat ketercapaian indikator perkembangan anak, khususnya dalam aspek motorik halus, bahasa, kognitif, sosial emosional, serta nilai agama dan moral. Guru memanfaatkan checklist tidak hanya sebagai alat administrasi, tetapi juga sebagai refleksi pedagogis untuk menyesuaikan strategi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak. Guru merasa terbantu dengan adanya checklist karena memberikan panduan konkret dalam mengamati perkembangan anak serta menyusun laporan kepada orang tua. Namun demikian, beberapa tantangan seperti keterbatasan waktu dan konsistensi dalam pengisian menjadi hambatan yang masih perlu diselesaikan. Data yang diperoleh dari dokumen checklist menunjukkan bahwa pencapaian indikator perkembangan anak usia 4Ae5 tahun di KB Hidayah menunjukkan hasil yang positif. Persentase tertinggi tercatat pada aspek nilai agama dan moral . %), sementara aspek sosial emosional menempati posisi terendah . %). Penyajian hasil dalam bentuk grafik dan tabel memberikan gambaran visual yang jelas mengenai capaian perkembangan anak dan membantu dalam interpretasi data oleh guru dan pemangku kepentingan lainnya. Penerapan checklist juga terintegrasi dengan pendekatan pembelajaran yang bersifat holistik dan kontekstual. Guru tidak hanya mengandalkan checklist, tetapi juga mengombinasikannya dengan catatan anekdot dan dokumentasi portofolio untuk menghasilkan penilaian yang lebih komprehensif dan autentik. Hal ini sejalan dengan teori asesmen dalam JOECES Vol. No. Penerapan Tehnik Chelist pendidikan anak usia dini yang menekankan pentingnya asesmen berbasis observasi langsung dalam konteks alami. Penerapan teknik checklist di KB Hidayah memberikan kontribusi signifikan dalam memantau, merefleksikan, dan merancang pembelajaran yang sesuai dengan tahapan perkembangan anak. Untuk meningkatkan kualitas asesmen di masa depan, disarankan agar lembaga terus memberikan pelatihan bagi guru, meninjau kembali format checklist secara berkala, serta mendorong integrasi asesmen ke dalam proses pembelajaran secara menyeluruh dan DAFTAR PUSTAKA