Vol. 5Vol. No. January - June 2021 1 No. Juli - Desember ISSN: 2579-9703 | ISSN: (E) (E) ISSN: 2579-9703(P)(P) | ISSN: Academica Journal of Multidisciplinary Studies Vol. Vol. 5 No. 1,2,January - June 2021 1 No. Juli-Desember ISSN: ISSN:2579-9711 ISSN: 2579-9703 (P) (P) | | ISSN: (E)(E) Academica Journal of Multidisciplinary Studies Editorial Team Editorial Team Editor-In-Chief Deri Prasetyo. IAIN Surakarta Editoral Board Mudofir. IAIN Surakarta Editor Chief Syamsul Bakri,in IAIN Surakarta Muhammad Munadi. IAIN Surakarta Agus Wahyudi (UIN RadenIAIN Mas Said Surakart. Abdul Matin bin Salman. Surakarta Endy Saputro. IAIN Surakarta Zainal Anwar. IAIN Surakarta Nur Kafid. IAIN Surakarta Akhmad Anwar Dani. IAIN Surakarta Reviewer Nur Rohman. IAIN Surakarta IAIN Surakarta MudofirAndi (UINWicaksono. Raden Mas Said Surakart. Khasan Ubaidillah. IAIN Surakarta Syamsul Bakri (UIN Raden Mas Said Surakart. Managing Editor Dewi Nur Fitriana Ahmad Saifuddin (UIN Raden Mas Said Surakart. Lulu Syifa Pratama Arif Rifanan Khoirul Latifah Eko Nur Wibowo Assistant to Editor Nurul Iffakhatul Solekah Sarah Muktiati Nurika Indah Sofantiyana Alamat Redaksi: Hana Zunia Rini Toyib Studie. Surakarta IAIN (State InstituteMaAomun for Islamic Jln. Pandawa No. 1 Pucangan. Kartasura. Layouter Sukoharjo. Central Java, 57168 website: ejournal. id/index. php/academica Della Putri Apriliana Nuur I. Lathifah e-mail: journal. academica@gmail. academica@iain-surakarta. Arlin Dwi Setyaningsih Alamat Redaksi: IAIN (State Institute for Islamic Studie. Surakarta Jln. Pandawa No. 1 Pucangan. Kartasura. Sukoharjo. Central Java, 57168 website: ejournal. id/index. php/academica e-mail: journal. academica@gmail. com | journal. academica@iain-surakarta. 1 No. 1,2,January Juli-Desember Vol. Vol. 5 No. - June 2017 ISSN: 2579-9703(P)(P)||ISSN: ISSN:2579-9711 2579-9711 (E) ISSN: (E) Academica Journal of Multidisciplinary Studies Daftar Isi Daftar Isi Pengembangan Kepribadian Konselor Melalui Kegiatan Kepramukaan di UKK Racana IAIN Surakarta Toleransi Nasaruddin Umar Sebagai Solusi Menanggulangi Radikalisme Atas Nama Nurika Indah Sofantiyana Agama Farkhan Fuady. Imanatur Rofiah. Selvia Peran Komunikasi Ayah dalam Perkembangan Mental Anak: Studi atas Santri Putri Pondok Tahfidz Karanganyar Fitri Setianingsih Strategi Pemasaran Usaha Mikro Kecil Menengah Di Masa Pandemi Fatimah Sindi Wardani. Indah Lestari. Devinna Tamaya Sari. Aspek Perkembangan AnakPuji Sekolah Dasar: Masalah dan Perkembangannya Umi Latifah NiAomatul Umamah. Tri Wulandari Pendidikan Prenatal Yahudi dan Relevansinya dengan Pendidikan Islam Mivtahul Kasana & Anggraeni NovitaUtama Sari Dalam Novel Kembara Rindu Karya Nilai-Nilai Budaya Para Tokoh 1 - 26 27 - 38 Habiburrahman El-Shirazy: Kajian Sosiologi Sastra The Various Respond of Student Toward Peer-Tutoring Method in Bilingual Program FatimahLatifah Khoirul 39 - 52 Filantropi Dakwah dan Kaum Minoritas di Indonesia Analisis Code Mixing Di Grup Whatsapp Mahasiswa UIN Raden Mas Said Surakarta Okta Nurul Hidayati Elsa Meliana. Ihsan Zainul Muttaqin. Elenia Nadila. Witdiya Ningrum. Nur Fitriyani 53 - 74 Pembelajaran dan Implementasi Etika Bisnis Islam: Studi pada Mahasiswa Akuntansi Syariah IAIN Surakarta Strategi Pertempuran Raden Mas Said Di Vorstenlanden: Sikap Patriotisme Dalam Galuh Anggraeny Menegakkan Keadilan Respons Pembiayaan Kartasura Kuncoro Masyarakat Catur Setyoterhadap Atmojo. Produk Nushrotul Khofifah,BMT DevidiNur Maharani Dimas Saputra Peran IbuPenggunaan Rumah TanggaAplikasi dalam Membangun Kesejahteraan KeluargaDi Era Modern Analisis Tiktok Sebagai Media Dakwah Septi Latifa Hanum 75 - 88 Rismaka Palupi. Umi Istiqomah. Fella Vidia Fravisdha. Nur Lail Septiana. Ailyn ModelMaharung PsikoterapiSarapil Zikir dalam Meningkatkan Kesehatan Menta 89 - 104 Daimul Ikhsan. Muhammad Irsyadi Fahmi & Asep Mafan Analisis Gaya Bahasa Dalam Kumpulan Puisi Kekasihku Karya Joko Pinurbo: Kajian Stilistika Lisa Widyaningsih 105 - 120 Analisis Perilaku Generasi Milenial Dalam Pengambilan Keputusan Investasi Saham Di Masa Pandemi Covid-19 Devindha Fitria Mahafani. Diah Maya Puspa. Nurul Khasanah. Siti Wulandari. Vivi Andriani 121 - 140 Analisis Isi Pesan Dakwah Habib Syech Bin Abdul Qodir Assegaf Melalui Media Sosial Instagram AAoourika Devi. Ulfah Dwi Hidayah. Muiz Al Barudin. Dwi Parwati 141 - 164 Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Kendaraan Bermotor Di Wilayah Solo Raya Arrum Puspita Sari. Durotun Nafisah. Fitri Susanti. Hesti Eka Setianingsih. Nur Mila Hayati 165 - 182 Analisis Akad-Akad Dalam Fintech P2P Lending Syariah di Indonesia Gilang Arvianto. Marlon Boderingan Cortez. Vela Retna Widyastuti. Zulan Ilmada 183 - 196 Vol. 5 No. January - June 2021 ISSN: 2579-9703 (P) | ISSN: 2579-9711 (E) Strategi Pertempuran Raden Mas Said Di Vorstenlanden: Sikap Patriotisme Dalam Menegakkan Keadilan Kuncoro Catur Setyo Atmojo1*. Nushrotul Khofifah2. Devi Nur Maharani3 Universitas Raden Mas Said Surakarta Abstract Raden Mas Said is a figure known in the Javanese saga as a figure who knows no This figure once challenged three forces at once, namely the Surakarta Sunanate, the Dutch colonial, and the Yogyakarta Sultanate. The purpose of this study was to determine the fighting strategy of Raden Mas Said and his attitude towards the Kartasura Palace. This study uses the historical method with books, journals, and oral The results of this study indicate that the battle strategy of Raden Mas Said is like eating jenang cartel porridge from the new edge to the middle, fighting from the new edge to the core and also using the Chakra Byuha battle title tactics which relies on its unity so as not to break and crush everything in its path. In front of him. This research is to complete. Keywords: Dutch Colonia. Struggle. Raden Mas Said. Abstrak Raden Mas Said merupakan tokoh yang dikenal dalam hikayat tutur orang Jawa sebagai sosok yang tidak mengenal rasa takut. Tokoh ini pernah menantang tiga kekuatan sekaligus, yakni Kasunanan Surakarta, kolonial Belanda, dan Kasultanan Yogyakarta. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui strategi bertempur dari Raden Mas Said dan sikap terhadap Keraton Kartasura. Penelitian ini menggunakan metode historis dengan sumber buku, jurnal, dan sumber lisan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa strategi pertempuran dari Raden Mas Said ini seperti memakan bubur jenang katul yang dari tepi baru ke tengah, melawan dari tepian baru ke inti dan juga menggunakan taktik gelar tempur Cakra Byuha yang mengandalkan kesatuannya agar tidak pecah dan menggilas segala sesuatu yang berada di depannya. Penelitian ini untuk melengkapi. Kata kunci: Kolonial Belanda. Perjuangan. Raden Mas Said. Corresponding author Email: 1*kuncatur05@gmail. com, 2nushrotul27@gmail. com, 3devmhrni40@gmail. Kuncoro Catur Setyo Atmojo. Nushrotul Khofifah. Devi Nur Maharani PENDAHULUAN Pada paruh terakhir abad ke 17 hingga awal abad ke 18. Kerajaan Mataram Islam adalah kerajaan yang makmur sentosa kertaraharja. Wilayahnya meliputi Jawa bagian tengah dan timur, beribu kota di Kartasura. Wilayah tersebut termasuk Vorstenlanden, wilayah yang dibawah otoritas empat monarki pecahan Kerajaan Mataram Islam, yakni Kasunanan Surakarta. Kasultanan Yogyakarta. Kadipaten Mangkunegaran, dan Kadipaten Pakualaman. Wilayah Vorstenlanden membentang di sepanjang sisi selatan mulai dari sekitaran Gunung Slamet. Jawa Tengah sampai dengan sekitar Gunung Kelud di Jawa Timur (Wahid, 2. Wilayah-wilayah tersebut kelak akan menjadi medan pertempuran dari Raden Mas Said. Raden Mas Said adalah putra pasangan Pangeran Arya Mangkunegara dan Raden Ayu Wulan. Ia lahir di Kota Kartasura pada tanggal 7 April 1725 M. Darah juang Raden Mas Said sudah terwariskan oleh ayahnya yang merupakan seorang pangeran terbuang karena bersikap keras terhadap kedzoliman kolonial Belanda. Saat almarhum Sunan Amangkurat IV masih bertakhta. Pangeran Arya Mangkunegara sebagai putra tertua sudah menduduki jabatan Senopati Agung Mataram, dan selayaknya menjadi raja setelah ayahandanya wafat kemudian (Hadidjojo, 2. Tetapi semua itu seakan sirna, tatkala keadaan Keraton Kartasura yang dikelilingi oleh orang-orang yang mabuk akan jabatan. Pangeran Arya Mangkunegara dibuang ke wilayah Srilanka karena sebuah permainan politik. Ia difitnah oleh Patih Danureja yang menuduh telah berbuat zina dengan selir Pangeran Prabasuyasa. Selain itu Pangeran Arya Mangkunegara juga tergabung dengan para pemberontak yaitu Pangeran Blitar dan Pangeran Purbaya, mereka melawan Keraton Kartasura karena kedekatannya dengan kolonial Belanda (Daradjadi, 2. Pada waktu itu Raden Mas Said masih kanak-kanak yang tidak tahu apa-apa. Ia pun tidak tahu apa dosa ayahandanya. Pasca diasingkannya sang ayah ke Srilanka, tidak lama kemudian ibu Raden Mas Said, yakni Raden Ajeng Wulan meninggal dunia, kemudian ia diasuh oleh neneknya. Raden Ayu Sumanarsa. Berbeda dengan putra raja pada umumnya, hidup Raden Mas Said diwarnai keprihatinan. Kehidupan yang Vol. 5 No. January - June 2021 Strategi Pertempuran Raden Mas Said di Vorstenlanden awalnya dipandang sebagai seorang bangsawan terpandang justru menjadi memprihatinkan layaknya gelandangan pinggiran di Keraton Kartasura. Bahkan kehidupan Raden Mas Said dihantui dengan ancaman pembunuhan yang terus menerus dilancarkan oleh Patih Danureja yang menginginkan agar semua keturunan Pangeran Arya Mangkunegara dihabisi (Hadidjojo, 2. Kehidupan di luar keraton telah mendidiknya sebagai pribadi yang tangguh dan kuat. Raden Mas Said lebih sering menghabiskan masa kecilnya dengan anak abdi dalem dan kawula alit. Pergaulan dengan para kalangan tersebut membuatnya mengetahui realita kehidupan masyarakat luar keraton. Raden Mas Said tumbuh remaja hingga dewasa tanpa peran kasih sayang kedua orang tua, kehidupannya dilukiskan sangat menyedihkan, hidup terlantar, serta makan dan tidur tanpa tempat yang nyaman dan kerap kali bercampur dengan para punakawan, yaitu tingkatan abdi dalem kerajaan yang paling rendah. Meski kehidupan yang dijalaninya bukan seperti semestinya. Raden Mas Said tetap memiliki orang-orang terdekat yang kelak di kemudian hari akan menjadi pendampingnya dalam perjuangan menegakkan hak-haknya. Tidak sedikit para pejabat keraton yang berpihak kepada Raden Mas Said, seperti Raden Ngabehi Rangga Jayapanembang. Ki Kudanawarsa. Ki Karyamenggala. Ki Karyasentana dan lainnya, mereka selalu bersiap sewaktu-waktu melawan Rasa cemas dan khawatir menyelimuti hati nenek Raden Mas Said, yakni Raden Ayu Sumanarsa, sebab gerak gerik cucunya mulai dicurigai di keraton dan kemungkinan sudah tercatat sebagai buronan kerajaan (Hadidjojo. Berbagai macam ketidakadilan di kerajaan akhirnya membuat Raden Mas Said memutuskan untuk mengobarkan perlawanan. Penelitian ini mengangkat dua masalah utama, yaitu pertama, bagaimana sikap Raden Mas Said terhadap Keraton Kartasura? Kedua bagaimana taktik bertempur Pangeran Sambernyawa dalam menghadapi lawan-lawannya? Penelitian ini bertujuan, pertama, untuk mengetahui sikap dari Raden Mas Said terhadap Keraton Kartasura. Kedua menjelaskan taktik cara bertempur dari pasukan Pangeran Sambernyawa dalam menghadapi lawan-lawannya. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan beberapa literatur dan referensi yang dianggap kompatibel dengan kajian yang diangkat. Perbedaan Vol. 5 No. January - June 2021 Kuncoro Catur Setyo Atmojo. Nushrotul Khofifah. Devi Nur Maharani dengan penelitian sebelumnya karya Eko Punto Hendro yang berjudul Strategi Kebudayaan Perjuangan Pahlawan Nasional Pangeran Sambernyowo yang hanya menjelaskan strategi dedemitan, wewelutan dan jejemblungan, sedangkan penelitian ini lebih menekankan kepada penjelasan strategi atau taktik cara bertempur yang menfilosofikan seperti makan bubur jenang katul dan taktik bertempur Cakra Byuha. METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah, yang terdiri dari empat tahap, yaitu heuristik, kritik sumber, interpretasi dan historiografi (Bakri, 2012. Bakri, 2016. Bakri & NajAoma, 2. Louis Gootschalk menjelaskan metode sejarah adalah proses menguji dan menganalisis secara kritis rekaman dan peninggalan bukti masa lampau (Kuntowijoyo, 2. Objek kajian penelitiannya adalah Strategi Pertempuran Raden Mas Said di Vorstenlanden dan Sikap Patriotisme Raden Mas Said. Bahan yang menjadi penulisan adalah buku, jurnal, dan sumber lisan. Adapun sumber primer Serat Babad Kemalon dan wawancara juru kunci Rumah Tiban, salah satu petilasan Raden Mas Said. Memori kolektif perjuangan Raden Mas Said masih diceritakan turun temurun warga sekitar Dusun Bubakan. Grimarto. Wonogiri. Sedangkan sumber sekunder dari literatur yang relevan dengan objek pembahasan. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Perlawanan Raden Mas Said Politik kolonial Belanda yang telah memasuki Keraton Kartasura, membuat goyah stabilitas ketentraman kerajaan. Gembong-gembong negara, hingga Mahapatih sendiri, tidak merasakan sama sekali bahwa sebenarnya mereka diperalat oleh penjajah. Mereka diiming-imingi pangkat dan perluasan Semakin tinggi pangkat, semakin besar pula kekuasaan sesorang dan juga semakin sombong dan congkak lah ia. Vol. 5 No. January - June 2021 Strategi Pertempuran Raden Mas Said di Vorstenlanden Seringkali Mahapatih Pringgalaya memanfaatkan jabatannya untuk bertindak sesuka hatinya. Termasuk dalam hal aturan pengangkatan seorang Dalam masalah pengangkatan dan penggantian pejabat, sering terjadi penyelewengan hingga menimbulkan benih permusuhan di lingkungan kepunggawaan negara. Tanpa disadari Mahapatih Pringgalaya, yang sangat besar kekuasaannya, telah menjadi alat buta si penjajah. Politk pecah belah penjajah ini sering disebut divide et impera (Hadidjojo, 2. Melihat kezaliman di depan mata membuat Raden Mas Said untuk keluar dari keraton dan berniat untuk melakukan perlawanan terhadap Keraton Kartasura dan pemerintah kolonial Belanda. Banyak pemuda-pemuda putra mantan pembesar keraton, juga para pejabat-pejabat yang sakit hati, ikut bergabung dengan Raden Mas Said. Atas saran dari neneknya. Raden Mas Said pergi ke wilayah Nglaroh. Wonogiri dan menghimpun pasukan yang kuat untuk berjuang melawan Keraton Kartasura dan pemerintah kolonial Belanda (Pambudi & Raharjo, 2. Tidak hanya menghimpun pasukan di Nglaroh. Raden Mas Said juga membangun basis kekuatan di Ngawen. Gunung Kidul, dan Desa Bubakan. Wonogiri. Menurut Mbah Goeman selaku juru kunci Rumah Tiban. AuPerjalanan Raden Mas Said dalam membangun kekuatan hingga ke pelosok desa itu selalu melewati pinggiran sungai. Jika dibandingkan dengan kekuatan lawan, pasukan Raden Mas Said masih kalah jauh jumlahnya. Tetapi kualitas dari pasukan Raden Mas Said lebih unggul daripada pasukan lawan. Ay Sikap Raden Mas Said hanyalah menuntut haknya sendiri dan temanteman seperjuangan lainnya. Pergerakannya hanya bersifat meminta keadilan raja dan merupakan suatu koreksi terhadap para pemegang kekuasaan yang sudah jauh dari ambeg paramarta . empunyai keadilan dan kebijaksanaa. dan Raden Mas Said hanya memusuhi kolonial Belanda dan para pemegang kekuasaan Kartasura. Pada tahun 1742 M. Raden Mas Said melancarkan serangan bersamaan dengan pemimpin pemberontak lainnya, yakni Raden Mas Garendi alias Sunan Kuning ke Keraton Kartasura yang membuat Sunan Pakubuwana II terdesak Vol. 5 No. January - June 2021 Kuncoro Catur Setyo Atmojo. Nushrotul Khofifah. Devi Nur Maharani dan harus melarikan diri ke Ponorogo, mengungsi di pesantren Tegalsari yang didirikan Kyai Ageng Khasan Besari. Kemenangan dari pasukan gabungan tersebut membuat Sunan Kuning diangkat menjadi raja Keraton Kartasura. Terlepas dari itu, perjuangan Raden Mas Said berada di persimpangan jalan, meskipun Sunan Pakubuwana II adalah pamannya sendiri yang ia hormati, ia tak bisa membelanya karena Kompeni Belanda berada di belakangnya. Tetapi ia pun merasa berat untuk memihak penguasa baru sebab ia merasa Sunan Kuning bukan pemimpin yang ia harapkannya (Hadidjojo, 2. Strategi Pertempuran Raden Mas Said Raden Mas Said juga dikenal sebagai ahli strategi perang. menggabungkan diri dengan Pangeran Mangkubumi yang juga pangeran yang sangat cerdas dalam siasat perang. Ia mampu mengatur gelaring yuda . iasat dalam membentuk formasi bertempu. Mereka berdua juga merasa tidak cocok dengan kolonial Belanda, bersama sama melawan kolonial Belanda dan ini merupakan perjuangan periode kedua dari Raden Mas Said. Pada usia 18 tahun. Raden Mas Said menjadi panglima perang dengan gelar Pangeran Prangwedana Pamot Besut (Santosa, 2. Kekuatan gabungan Raden Mas Said dan Pangeran Mangkubumi semakin tidak terbendung, berbagai macam pertempuran berhasil dimenangkan, dan banyak wilayah yang berhasil ditaklukan. Dua kali pasukan koalisi tersebut melakukan kontak senjata dengan Pertama di Desa Bangak, kedua di Desa Banyudana. Musuh kemudian menggeser kedudukannya ke arah timur dan pasukan koalisi mengejarnya. Keduanya berada di dekat daerah Kaliasa. Kontak senjata mereka tidak terjadi secara menyeluruh karena musuh memakai gelar tempur Emprit Aneba (Burung emprit menyerbu sawa. , menyebar berkelompok-kelompok dan jumlah prajurit dalam satu kelompok tidak terlalu besar. Gelar tempur Emprit Aneba sangat tidak menguntungkan Raden Mas Said dan Pangeran Mangkubumi karena mereka harus memecah kesatuannya sendiri (Hadidjojo, 2. Raden Mas Said dan Pangeran Mangkubumi tak mau kesatuannya Ia mengandalkan gelar tempur Cakra Byuha untuk menghadapi gelar Vol. 5 No. January - June 2021 Strategi Pertempuran Raden Mas Said di Vorstenlanden tempur Emprit Aneba. Gelar Cakra Byuha berbentuk cakra berbentuk bulat yang menggilas segala sesuatu yang berada di depannya. Ternyata Cakra Byuha ini cocok untuk mengatasi gelar Emprit Aneba yang dipakai musuh. Bulatan raksasa terus maju menerjang induk pasukan lawan yang segera berantakan, kocar-kacir, dan lari ke selatan. Bantuan yang datang dari samping pun menjadi sangat tidak berarti dan mudah diatasi dengan gerak lentur berbentuk bulat Akan celakalah penyerang dari samping jika berani melakukan serangan ke dalam cakra lentur yang sengaja dibuat sebagai jebakan. Dari posisi menyerang, mereka segera akan terserang dan mudah sekali terkurung rapat dalam lingkaran lentur itu (Hadidjojo, 2. Koalisi antara pasukan Mangkubumi dengan Raden Mas Said terbukti mampu mendesak Belanda, hingga pada akhirnya Belanda menerapkan strategi khasnya yaitu divide et impera, dengan menawarkan kekuasaan otonomi khusus kepada Pangeran Mangkubumi untuk memecah koalisi kekuatan besar tersebut. Selain itu, munculnya kerenggangan dikarenakan ketidakbijakan Pangeran Mangkubumi yang menghukum mati Tumenggung Suradimenggala yang hanya meminta tanah. Hal ini tertulis dalam Babad Giyanti dalam tembang macapat Pocung . AuTumenggung Suradimenggala ing Jipang ambeka nyuwun dipun indhaki sabinipu Sunan Kabanaran (Pangeran Mangkubum. Kyai Tumenggung kapatrapan ukum pejahAy (Ahmad, 2. Pada tanggal 13 Februari 1755 M. Pangeran Mangkubumi memutuskan untuk berhenti memerangi Belanda dan bersedia menandatangani perjanjian damai yang dilakukan di Desa Giyanti. Karanganyar dengan membagi wilayah Mataram menjadi dua bagian (Abimanyu, 2. Pangeran Mangkubumi didaulat menjadi penguasa wilayah Ngayogyakarta Hadiningrat dengan gelar Sultan Hamengkubuwana Senopati Ing Ngalogo Abdurrahman Sayidin Panatogomo. Perpecahan koalisinya dengan Pangeran Mangkubumi, kini membuat Raden Mas Said berjuang sendirian. Perjuangannya semakin berat, karena harus melawan tiga kekuatan sekaligus, yakni Kasunanan Surakarta, kolonial Belanda dan Kasultanan Yogyakarta. Pergolakan yang memecah Kerajan Mataram Islam, menjadikan Raden Mas Said sebagai sosok panglima pembelajar yang dengan Vol. 5 No. January - June 2021 Kuncoro Catur Setyo Atmojo. Nushrotul Khofifah. Devi Nur Maharani cepat mengaplikasikan berbagai strategi perang. Pengalaman dalam bertempur dan memahami medan pertempuran membuat pasukan Raden Mas Said sulit untuk ditaklukkan. Dalam pertempuran-pertempuran besar Raden Mas Said menggunakan taktik dedemitan, wewelutan dan jejemblungan, yakni taktik yang mempertimbangkan kerahasiaan, mengandalkan kecepatan dalam bergerak, layaknya demit atau hantu yang bergentayangan, dan seekor belut yang sangat licin saat ditangkap (Hendro, 2. Raden Mas Said juga sering menarik para musuh-musuhnya untuk masuk ke hutan dan gunung, strategi seperti ini yang membuat pasukan Raden Mas Said selalu unggul dalam pertempuran. Siasat Raden Mas Said hanya mengacau dalam kelompok terbatas, regu pemanah berada di muka, lalu dibuntuti prajurit berpedang, dan prajurit tombak (Hadidjojo, 2. Memakai siasat memusingkan lawan, menyerang di kala lawan lengah. Dasar-dasar yang harus dipahami adalah gaya bertempur yang hebat dan kecepatan bergerak. Mencontohkan, gerak angin puyuh, mengacau dengan dashyat dalam waktu tidak lama, lalu pergi secepat kilat. Pertempuran dahsyat terjadi ketika di Ksatriyan. Ponorogo, dimana jumlah pasukan Raden Mas Said tidak sebanding dengan pasukan Pangeran Mangkubumi. Namun semangat heroik dalam bertempur membuat pasukan Kasultanan Yogyakarta kewalahan dan dapat dibuat kocar-kacir, bahkan banyak korban jiwa yang gugur. Para prajurit Pangeran Mangkubumi yang tewas dalam perang tersebut, antara lain Wangsengsari. Kaji Tapsirodin. Ki Mukidin. Purwadipura. Ngali Muktaha, dan Pangeran Mangkukusuma (Ahmad, 2. Hal tersebut dapat dibuktikan bahwa kuantitas atau jumlah pasukan belum tentu unggul di medan pertempuran. Memang pasukan Raden Mas Said tidak banyak, tetapi mereka memiliki mental jujur dan setia. Pertempuran hebat kembali terjadi pada tahun 1756 M di Sitakepyak. Rembang. Pada pertempuran ini Raden Mas Said mengamuk dan benar-benar bertempur seperti setan. Kekuatan gabungan antara Kasunanan Surakarta. Kasultanan Yogyakarta, dan detasemen Belanda dibawah pimpinan Kapten Van Der Pol, membuat Raden Mas Said kewalahan. Memiliki daya juang dan bergerak cepat, pasukan Raden Mas Said mampu mengalahkan pasukan gabungan Vol. 5 No. January - June 2021 Strategi Pertempuran Raden Mas Said di Vorstenlanden , bahkan berhasil memenggal kepala Kapten Van Der Pol (Merle Calvin Ricklefs, 2. Disamping itu, banyak jumlah korban jiwa yang tewas dan di pihak Raden Mas Said juga tidak sedikit yang gugur. Raden Mas Said dikenal sebagai panglima perang yang tangguh, dan bertempur layaknya demit . Ia diberi julukan oleh musuh-musuhnya sebagai Pangeran Sambernyawa, karena sewaktu di medan laga selalu menyambar nyawa para musuh atau menebas lawan-lawannya. Dikisahkan oleh Mbah Goeman, juru kunci Rumah Tiban. Kedekatan Raden Mas Said dengan rakyat kecil, membuatnya tak sungkan memakan bubur jenang katul yang dihidangkan oleh Mbok Rondo, penghuni gubuk. Saat jenang katul masih panas. Raden Mas Said memakannya dan menyendok langsung di bagian tengah, tentu saja masih terasa sangat panas. Mbok Rondo yang menghidangkan bubur jenang katul tadi memberi tahu Raden Mas Said, kalau memakan jenang harus dari pinggir baru ke tengah, jika langsung di tengah masih panas. Dari sini Pangeran Sambernyawa tertegun dan terus merenungi perkataan Mbok Rondo. Kemudian setiap berperang pasukan Raden Mas Said selalu membawa bendera Pare Anom dan Setambur. Sementara senjata yang ia gunakan adalah wujud tombak bernama Tombak Kyai Limpung dan Semar Tinandu. Ternyata dibalik makanan bubur jenang katul tadi ada pesan tersirat yang disampaikan. Raden Mas Said akhirnya berpikir apabila melawan Belanda harus dari tepiannya, baru bergerak ke intinya. Hal tersebut terbukti dengan ampuhnya siasat yang selalu digunakan oleh Pangeran Sambernyawa dengan menyisiri dari tepi selalu untuk mengalahkan lawan-lawannya. Hal ini juga sesuai dengan anjuran dari Mbok Rondo saat menegur Pangeran Sambernyawa yang memakan bubur jenang katul. Melalui perbuatan sederhana seperti ini dan dari kecerdasannya, membuat Pangeran Sambernyawa berbeda dengan pemimpin-pemimpin lainnya. Vol. 5 No. January - June 2021 Kuncoro Catur Setyo Atmojo. Nushrotul Khofifah. Devi Nur Maharani Akhir Perjuangan Raden Mas Said Berkekal slogan AuTijitibehAy kependekan kata dari mati siji, mati kabeh, mukti siji mukti kabeh . ati satu, mati semua, sejahtera satu, sejahtera semu. , puncak peperangan Raden Mas Said selama 16 tahun berada di Yogyakarta. Sebelum menyerang Keraton Yogyakarta. Pangeran Sambernyawa seperti dituntun oleh kekuatan ghaib yang disampaikan melalui perantara burungburung yang jumlahnya ratusan berdiri ditepian selokan yang ada di sepanjang jalan yang dilewati Pangeran Sambernyawa. Burung-burung tersebut berdiri tanpa suara didepan barisan Pangeran Sambernyawa, dan setiap kali pangeran dan pasukannya selesai melewati mereka, burung-burung itu akan terbang mendahului dan berdiri lagi di depan barisan. Begitu seterusnya sampai tiga Hal ini tertulis di dalam Serat Babad Kemalon. AuTindakipun Kanjeng Pangeran kados tinuntun ing Ghaib. Tindakipun saking Bubakan ngidul ngilen, sareng nglangkungi Dusun Cendani, tindakipun dipun sambangi dening peksi-peksi dandang ingkang ngantos atusan cacahipun, sami mencok ing galengan sakuruting margi ingkang dipun langkungi Pangeran Adipati sakwadyabalanipun, mencokipun sami madep dateng tindakipun wadya, hamung sami kendel mboten nyuwanten. Manawi wadyabala sampung langkung, peksi-peksi wau lajeng miber, nglancangi lampahing Kanjeng Pangeran lajeng mencok Makaten ngantos rembah kaping tiga. Ay Kehadiran burung-burung tersebut dianggap Ki Kudanawarsa sebagai pertanda buruk. Beliau menyarankan kepada Pangeran Sambernyawa membatalkan penyerangan ke Keraton Yogyakarta. Bukannya mengikuti saran Ki Kudawanarsa. Pangeran Sambernyawa malah mempercepat penyerangan. AuKanthi tampi sasmita peteng ingkang makaten wau Ki Kudanawarsa sanget-sanget anggenipun menggak dateng karsanipun Pangeran Adipati nggebag Ngayogyakarta, nanging malah tampi dawuh supados lampahing wadya dipun gelak, niyating Kangejeng Pangerang arsa perang nderah patiAy. Kekuatan Raden Mas Said yang pada mulanya menguasai wilayah. Magetan. Ponorogo, dan Madiun, kini justru telah berdiri dihadapan benteng Vol. 5 No. January - June 2021 Strategi Pertempuran Raden Mas Said di Vorstenlanden Keraton Yogyakarta. Perstiwa tersebut membuat Pangeran Sambernyawa berhasil merubuhkan benteng Sultan Hamengkubuwana I pada tahun 1757 Hingga pada akhirnya di tahun yang sama Sunan Pakubuwana i, yang merupakan kawan dekat Raden Mas Said semasa belia merasa bahwa perang bukanlah solusi untuk menundukkan Raden Mas Said. Diadakanlah perjanjian untuk memukul mundur kekuatan Raden Mas Said. Perjanjian ini juga disetujui oleh kolonial Belanda dan Kasultanan Yogyakarta, karena mereka juga sama-sama rugi dan lelah dengan peperangan. Pada tahun 1757 M, perjanjian damai dilakukan di Desa Kalicacing. Salatiga dan menghasilkan kesepakatan beberapa hal, yakni Raden Mas Said diberi kekuasaan wilayah sebagian tanah Jawa yang meliputi. Wonogiri. Karangayar. Sragen, sebagian Gunung Kidul, dan sebagian Kota Surakarta (M C Ricklefs. Raden Mas Said diberi gelar sebagai Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara Senopati Ngayodyo Lelono Joyo Ambiseno Satriotomo Mataram dan ia juga diberi hak mendirikan istana untuk pusat pemerintahan, yang sekarang berada di jantung Kota Surakarta yang dikenal sebagai Pura Mangkunegaran. Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa mendeklarasikan fondasi untuk memperkokoh berdirinya Praja Mangkunegaran yaitu falsafah Tri Dharma. Rumangsa Melu Handarbeni, yang berarti merasa ikut memiliki. Wajib Melu Hangrungkepi, wajib ikut mempertahankan, dan Mulat Sarira Hangrasa Wani, yang berarti selalu mengintropeksi diri sendiri dan berani bertanggung jawab. Filofofi kepemimpinan AuTijitibehAy yang begitu luhur menunjukkan semangat kebersamaan antara pemimpin dengan kawulanya. Raden Mas Said merupakan sosok pemimpin yang mau terjun langsung ke rakyatnya dan mengesampingkan batas antara kawula dengan gusti. Tijitibeh juga diberlakukan setiap membagi harta rampasan perang, yang dimana jika setiap pemimpin diberi kebebasan hak untuk terlebih dahalu, maka hal itu berbeda dengan Raden Mas Said. Ia justru membagi harta rampasan perang dengan seluruh pasukan, tidak jarang ia meminta giliran paling akhir ketika memilih harta rampasan perang. Sikap seperti inilah yang Vol. 5 No. January - June 2021 Kuncoro Catur Setyo Atmojo. Nushrotul Khofifah. Devi Nur Maharani menunjukkan kepemimpinan sejati, lebih mengutamakan rakyatnya ketimbang dirinya sendiri. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Dari penelitian ini terdapat dua permasalahan yang diajukan, yang dapat disimpulkan sebagai berikut, pertama ketidaksukaan Raden Mas Said terhadap Keraton Kartasura yang sangat dekat dengan kolonial Belanda membuatnya angkat senjata dan mengobarkan perlawanan. Selama kurang lebih 16 tahun. Raden Mas Said bergerilya hanya menuntut haknya sendiri dan teman-teman seperjuangan lainnya. Pergerakannya hanya bersifat meminta keadilan raja dan merupakan suatu koreksi terhadap para pemegang kekuasaan yang sudah jauh dari ambeg paramarta . empunyai keadilan dan kebijaksanaa. Kedua strategi bertempur yang menfilosofikan seperti memakan jenang bubur katul yang memakannya mulai dari pinggir, artinya menghabiskan lawan-lawannya mulai dari tepi baru ke inti. Ia mengandalkan gelar tempur Cakra Byuha untuk menghadapi gelar tempur Emprit Aneba. Gelar Cakra Byuha berbentuk cakra berbentuk bulat yang menggilas segala sesuatu yang berada di depannya. Saran Perlu adanya metode penelitian lebih lanjut akan napak tilas perjuangan Raden Mas Said. Masih banyak petilasan atau pun markas yang dijadikan tempat basis kekuatan dari Raden Mas Said. Dari tradisi lisan turun temurun di berbagai juru kunci mungkin bisa dianalisis kembali. DAFTAR PUSTAKA