Qanun Medika vol. I no. 2 | Juli 2017 Tinjauan Pustaka TINJAUAN ANATOMI KLINIK DAN MANAJEMEN BELLAoS PALSY Nur Mujaddidah Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surabaya Submitted : May 2017 | Accepted : June 2017 | Published : July 2017 ABSTRACT Bell's Palsy is a peripheral facial nerve weakness . acial nerv. with acute onset on one side of the face. This condition causes the inability of the patient to move half of his face consciously . on the affected side. The Bell's Palsy incidence is 20-30 cases out of 000 people, and accounts for 60-70% of all cases of unilateral facial paralysis. The disease is self-limited, but causes great suffering for patients who are not treated properly. Controversy in the management is still debated, and the cause is still unknown. The underlying hypothesis are ischemic, vascular, viral, bacterial, hereditary, and immunologic. Therapy done so far is to improve facial nerve function and healing process. The management of the therapy used will be closely related to the structure of the anatomy and its functions and associated abnormalities. The modalities of Bell's Palsy therapy are with corticosteroids and antivirals, facial exercises, electrostimulation, physiotherapy and decompression operations. Approximately 80-90% of patients with Bell's palsy recover completely within 6 months, even in 50-60% of cases improved within 3 weeks. Approximately 10% experienced persistent facial muscle asymmetry, and 5% experienced severe sequelae, and 8% of cases were recurrent. Keywords : Bell's palsy, facial nerve, self-limited Korespondensi : sayamujaddidah@gmail. ABSTRAK BellAos palsy adalah kelemahan atau kelumpuhan saraf perifer wajah . ervus fasiali. secara akut pada sisi sebelah wajah. Kondisi ini menyebabkan ketidakmampuan penderita menggerakkan separuh wajahnya secara sadar . pada sisi yang sakit. Insiden BellAos Palsy adalah sebesar 20-30 kasus dari 100. 000 orang, dan merupakan 60 Ae 70% dari seluruh kasus kelumpuhan perifer wajah unilateral. Penyakit ini bersifat sembuh sendiri . elf-limite. , tetapi menimbulkan penderitaan yang besar bagi pasien jika tidak ditangani dengan sempurna. Kontroversi dalam tatalaksana masih diperdebatkan, dan penyebabnya pun masih tidak diketahui dengan pasti. Hipotesis penyebabnya antara lain iskemik, vaskular, virus, bakteri, herediter, dan imunologi. Terapi yang dilakukan selama ini adalah untuk meningkatkan fungsi saraf wajah dan proses penyembuhan. Manajemen terapi yang digunakan akan sangat terkait dengan struktur anatomi dan fungsi serta kelainan yang berhubungan dengannya. Modalitas terapi BellAos palsy yaitu dengan kortikosteroid dan antiviral, latihan fasial, elektrostimulasi, fisioterapi dan operasi dekompresi. Sekitar 80-90% pasien dengan BellAos palsy sembuh total dalam 6 bulan, bahkan pada 50-60% kasus membaik dalam 3 minggu. Sekitar 10% mengalami asimetri muskulus fasialis persisten, dan 5% mengalami sekuele yang berat, serta 8% kasus dapat rekuren. Qanun Medika vol. I no. 2 | Juli 2017 Kata kunci : BellAos palsy, nervus fasialis, self-limited Korespondensi : sayamujaddidah@gmail. PENDAHULUAN BellAos palsy merupakan kasus terbanyak dari kelumpuhan akut perifer wajah unilateral di dunia. Insidensinya adalah sebesar 20-30 kasus dari 100. BellAos palsy menempati porsi sebesar 60-70% dari seluruh kasus kelumpuhan perifer wajah unilateral (Murthy & Saxena. Data yang dikumpulkan dari 4 buah Rumah sakit di Indonesia menunjukkan bahwa frekuensi BellAos palsy sebesar 19,55 % dari seluruh kasus neuropati (Sabirin. Kontroversi dalam tata laksana masih Sebagian besar kasus . %) sembuh sempurna dalam 1-2 bulan dan rekurensi terjadi pada 8% kasus. (Lowis & Gaharu 2. Banyak perbedaan pendapat muncul dalam pemberian terapi yang tepat. Proses penyembuhan kadang lama. Rekurensi terjadi pada beberapa pasien. Beberapa hal ini memberikan beban bagi pasien secara material dan psikologis. Kelumpuhan saraf wajah pada BellAos palsy tidak diketahui dengan pasti penyebabnya hingga saat ini. Kondisi ini menyebabkan ketidakmampuan penderita menggerakkan separuh wajahnya secara sadar . pada sisi yang sakit. Walaupun BellAos palsy bersifat bisa sembuh sendiri . elf-limite. , penyakit ini bisa menyebabkan penyulit seperti kerusakan mata akibat kelopak mata tidak bisa Beberapa gejala sisa dapat muncul pada penderita akibat pengobatan yang tidak tepat. Terapi yang dilakukan selama ini adalah untuk meningkatkan fungsi saraf wajah dan proses penyembuhan (Baugh et al. , 2. Kontroversi banyak terjadi pada modalitas terapi yang dipakai. Hal ini menjadikan kesamaan persepsi mengenai manajemen BellAos palsy belum Pengetahuan tentang anatomi dasar saraf wajah . ervus faciali. dan otot-otot wajah yang diinervasinya adalah penting dalam pemahaman tentang BellAos palsy. Para ahli yang menangani harus memahami anatomi dasar yang dikaitkan dengan anatomi klinik dalam penanganan penyakit Manajemen terapi yang digunakan akan sangat terkait dengan struktur anatomi dan fungsi serta kelainan yang berhubungan PEMBAHASAN Definisi Dan Etiologi BellAos Palsy BellAos Palsy dideskripsikan pada tahun 1821 oleh seorang anatomis dan dokter bedah bernama Sir Charles Bell (Lowis & Gaharu BellAos palsy adalah kelemahan atau kelumpuhan saraf perifer wajah secara akut . cute onse. pada sisi sebelah wajah . e Almeida et al. , 2. Lima . penyebab BellAos palsy, yaitu iskemik vaskular, virus, bakteri, herediter, dan Hipotesis virus lebih banyak dibahas sebagai etiologi penyakit ini. Sebuah penelitian mengidentifikasi genom virus herpes simpleks (HSV) di ganglion genikulatum seorang pria usia lanjut yang meninggal enam minggu mengalami BellAos palsy(Lowis & Gaharu Etiologi BellAos palsy terbanyak diduga adalah infeksi virus. Mekanisme pasti yang terjadi akibat infeksi ini yang menyebabkan penyakit belum diketahui. Inflamasi dan edema diduga muncul akibat Qanun Medika vol. I no. 2 | Juli 2017 Nervus fasialis yang berjalan melewati terowongan sempit menjadi terjepit karena edema ini dan menyebabkan kerusakan saraf tersebut baik secara sementara maupun permanen (Baugh et al. Virus yang menyebabkan infeksi ini diduga adalah herpes simpleks . e Almeida et al. Beberapa BellAos disebabkan iskemia oleh karena diabetes dan aterosklerosis. Hal ini mungkin menjelaskan insiden yang meningkat dari BellAos palsy pada pasien tua. Kelainan ini analog dengan mononeuropati iskemik pada saraf kranialis lain pada pasien diabetes (Gilden, 2. Gambar 1. Innervasi sensoris wajah B. Innervasi motorik wajah . tot mimi. Arteri wajah D. Vena wajah (Snell, 2. Bagian penting lain pada tulang regio wajah adalah tulang maxilla. Tulang ini mempunyai gigi dan sinus maxillaris. Tulang lain yang ada di bawah maxilla adalah mandibula dengan gigi-giginya (Snell, 2. Saraf Fasialis dan Perjalanannya Saraf fasialis memiliki nukleus yang terletak di dalam medulla oblongata. Saraf fasialis memiliki akar saraf motorik yang melayani otot-otot mimik dan akar sensorik khusus . ervus intermediu. Saraf ini muncul di permukaan anterior antara pons . ngulus Akar sarafnya berjalan bersama nervus vestibulo-cochlearis dan masuk ke meatus akustikus internus pada pars petrosa dari tulang temporal (Snell. Saraf terletak di keseimbangan dan pendengaran yaitu cochlea dan vestibulum saat berjalan dari Saraf memasuki kanalis fasialis di dasar dari meatus dan berbelok ke arah dorsolateral. Saraf menuju dinding medial dari kavum timpani dan membentuk sudut di atas promontorium yang disebut ganglion genikulatum. Saraf kemudian berjalan turun pada dinding dorsal kavum timpani dan ke luar dari os temporal melalui foramen stylomastoideus. Saraf tetap berjalan menembus glandula parotis untuk memberi persarafan pada otot-otot mimik (Snell, 2. Gambar 2. Tempat akar saraf fasialis keluar bersama saraf vestibulocochlearis (N. pontocerebelaris (Netter, 2. Qanun Medika vol. I no. 2 | Juli 2017 Gambar 3. VII . membentuk ganglion genikulatum (Netter,2. Saraf fasialis memiliki lima percabangan penting sebagai berikut: Nervus petrosus superfisialis mayor keluar dari ganglion geniculi. Saraf ini memiliki cabang preganglionik Serat-serat saraf lakrimalis dan kelenjar pada hidung dan palatum. Saraf ini juga mengandung serat afferen yang didapat dari taste bud dari mukosa Saraf persarafan pada muskulus stapedius di telinga tengah. Korda timpani muncul di kanalis fasialis di dinding posterior kavum Bagian saraf ini langsung menuju permukaan medial dari bagian atas membran timpani dan melalui fisura petrotimpanikus dan memasuki fossa infratemporal dan bergabung dengan nervus lingualis. Korda timpani memiliki serat berupa serat sekremotorik yang memberi persarafan pada kelenjar liur submandibular dan sublingual. Korda timpani juga memiliki serat saraf taste bud dari 2/3 anterior lidah dan dasar mulut. Nervus memberi persarafan otot aurikel dan muskulus temporalis. Terdapat juga cabang muskularis yang keluar setelah saraf keluar dari foramen Cabang memberi persarafan pada muskulus digastricus posterior. Lima cabang terminal untuk otototot mimik. Cabang-cabang itu adalah cabang temporal, cabang zigomatik, cabang buccal, cabang mandibular dan cabang cervical (Snell, 2. Nervus fasialis berada di dalam kelenjar liur parotis setelah meninggalkan Saraf memberikan cabang terminal di batas anterior kelenjar parotis. Cabang-cabang ini menuju otot-otot mimik di wajah dan regio Cabang buccal untuk muskulus Cabang cervicalis untuk muskulus platysma dan muskulus depressor anguli oris. Gambar 4. Perjalanan nervus fasialis (N. VII) secara skematis (Netter, 2. Qanun Medika vol. I no. 2 | Juli 2017 Nervus perjalanannya ini mengontrol mimik wajah . acial expressio. , salivasi dan lakrimasi serta digunakan untuk sensasi rasa dari anterior lidah, dasar mulut dan palatum (Snell, 2. Gambar 5. Anatomi fungsional dari nervus fasialis (N. VII) secara skematis (Gilden, 2. Otot-otot Mimik (Facial Expression Muscle. Otot-otot mimik terdapat di dalam fascia superfisialis wajah dan muncul dari tulang pada wajah dan masuk pada kulit wajah. Lubang-lubang pada wajah yaitu orbita, hidung dan mulut dilindungi oleh kelopak mata, cuping hidung dan bibir. Fungsi otototot mimik adalah untuk menutup . dan membuka . struktur-struktur ini. Fungsi kedua otot-otot mimik adalah membuat ekspresi wajah. Semua otot ini mendapat suplai darah dari arteri fasialis (Snell, 2. Otot sphincter dari kelopak mata adalah muskulus orbikularis okuli dan otot dilatatornya adalah muskulus levator Muskulus occipitofrontalis membentuk bagian dari scalp. Muskulus mengkerutkan dahi (Snell, 2. Otot sphincter dari cuping hidung adalah muskulus kompresor naris dan otot dilatatornya adalah muskulus dilatator Muskulus procerus digunakan untuk mengerutkan hidung (Snell, 2. Otot sphincter dari mulut adalah muskulus orbicularis okuli. Serat-seratnya mengelilingi lubang mulut dalam bagian dari bibir. Serat-seratnya sebagian muncul dari garis tengah maxilla di atas dan mandibula di bawah. Serat lain muncul dari bagian dalam kulit dan menyilang pada membran mukosa membentuk garis dalam Banyak dari serat berasal muskulus Otot dilatator dari mulut terdiri dari banyak serat otot yang bergabung dan fungsinya adalah memisahkan bibir. Gerakan ini lalu diikuti pemisahan rahang Serat-serat otot dilatator mulut ini muncul dari tulang dan fascia di sekitar mulut dan bersatu untuk membentuk bibir. Nama kelompok otot itu adalah sebagai C Muskulus levator labii superioris alaqua nasi C Muskulus levator labii superioris C Muskulus zygomaticus minor C Muskulus zygomaticus major C Muskulus levator anguli oris C Muskulus risorius C Muskulus depressor anguli oris C Muskulus depressor labii inferioris C Muskulus mentalis(Snell, 2. Muskulus buccinator berorigo di batas alveolar dari maxilla dan mandibula pada gigi molar oposisinya dan juga dari ligamen Otot berjalan ke depan dan membentuk lapisan otot-otot pipi. Otot dikaitkan dengan kelenjar parotis. Otot buccinator menyilang pada serat utamanya di sudut mulut. Otot buccinator berfungsi untuk kompresi pipi dan bibir untuk mencegah pipi tergigit saat mengunyah (Snell, 2. Qanun Medika vol. I no. 2 | Juli 2017 Tabel 1. Origo, insersi, persarafan dan fungsi otot-otok mimik (Snell, 2. Patofisiologi BellAos Palsy Saraf fasialis keluar dari otak di angulus ponto-cerebelaris memasuki meatus akustikus internus. Saraf selanjutnyaberada di dalam kanalis fasialis memberikan cabang untukganglion pterygopalatina sedangkan cabang kecilnya kemuskulus stapedius dan bergabung dengan korda Pada bagian awal dari kanalis fasialis, segmen labirinmerupakan bagian yang tersempit yang dilewati saraf fasialis. Foramen meatal pada segmen ini hanya memiliki diametersebesar 0,66 mm(Lowis & Gaharu, 2. Otot-otot wajah diinervasi saraf Kerusakan pada saraf fasialis di meatus akustikus internus . arena tumo. , di telinga tengah . arena infeksi atau operas. , di kanalis fasialis . BellAos pals. atau di kelenjar parotis . arena tumo. akan menyebabkan distorsi wajah, dengan penurunan kelopak mata bawah dan sudut mulut pada sisi wajah yang terkena. Ini terjadi pada lesi lower motor neuron (LMN). Lesi upper motor neuron (UMN) akan menunjukkan bagian atas wajah tetap normal karena saraf yang menginnervasi bagian ini menerima serat kortikobulbar dari kedua korteks serebral (Snell, 2. Murakami, dkk menggunakan teknik virus,dikenal sebagai HSV tipe 1 di dalam cairan endoneural sekeliling saraf ketujuh pada 11 sampel dari 14 kasus BellAospalsy yang dilakukan dekompresi pembedahan pada kasus yang berat. Murakami, dkk menginokulasi HSV dalam telinga dan lidah tikus yang menyebabkan paralisis pada wajah tikus tersebut. Antigen virus tersebut kemudian ditemukan pada saraf fasialis dan ganglion genikulatum. Dengan adanya temuan ini, istilah paralisis fasialis herpes simpleks atau herpetika dapat Gambaran demielinisasi, edema, dan gangguan vaskular saraf (Lowis & Gaharu, 2. Manifestasi Klinis dan Diagnosis BellAos Palsy Manifestasi klinis BellAos palsy dapat berbeda tergantung lesi pada perjalanan saraf fasialis. Bila lesi di foramen stylomastoideus, dapat terjadi gangguan Qanun Medika vol. I no. 2 | Juli 2017 komplit yang menyebabkan paralisis semua ototekspresi wajah. Saat menutup kelopak mata, kedua matamelakukan rotasi ke atas (BellAos phenomeno. Selain itu,mata dapat terasa berair karena aliran air mata ke sakuslakrimalis yang dibantu muskulus orbikularis okuli terganggu. Manifestasi komplit lainnya ditunjukkan dengan makanan yang tersimpan antara gigi dan pipi akibat gangguan gerakan wajah dan air liur keluar dari sudut mulut(Lowis & Gaharu, 2. Lesi di kanalis fasialis . i atas persimpangan dengan korda timpani tetapi di bawah ganglion genikulatu. akan menunjukkan semua gejala seperti lesi di foramen stylomastoid ditambah pengecapan menghilang pada dua per tiga anterior lidah pada sisi yang sama (Lowis & Gaharu. Lesi yang terjadi di saraf yang menuju mengakibatkan hiperakusis . ensitivitas nyeri terhadapsuara kera. Selain itu, lesi menimbulkan lakrimasi dan berkurangnya salivasi sertadapat melibatkan saraf kedelapan (Lowis & Gaharu, 2. Pasien dengan BellAos palsy juga dapat mengalami mata dan mulut yang kering, kehilangan atau gangguan rasa . , hiperakusis dan penurunan . kelopak mata atau sudut mulut (Baugh et al. Penegakan diagnosis BellAos palsy memerlukan anamnesis . istory-takin. dan pemeriksaan fisik yang cermat pada pasien yang dicurigai terkena penyakit ini. American Otolaryngology-Head and Neck Surgery . memberikan beberapa hal ini sebagai pertimbangan untuk diagnosis BellAos palsy: C Onset BellAos palsy cepat . C Diagnosa BellAos dilakukan ketika tidak ada etiologi medis lain yang bisa penyebab kelemahan wajah. C BellAos palsybilateral adalah C Kondisi paralisis fasial meliputi stroke, tumor otak, tumor parotis atau fossa intratemporal, kanker fasialis, dan penyakit sistemik serta infeksius seperti zoster, sarcoidosis, atau penyakit Lyme. C BellAos palsy biasanya sembuh sendiri . elf-limite. C BellAos palsy bisa muncul pada pria dewasa, wanita dewasa dan anak-anak tetapi lebih umum pada orang dengan usia 15-45 tahun dan dengan penyakit diabetes, penyakit saluran pernafasan atas atau imun sistem yang lemah atau selama kehamilan (Baugh et al, 2. Anamnesa dan pemeriksaan fisik adalah hal yang paling vital pada diagnosa pasien dengan BellAos palsy. Kebanyakan kasus adalah idiopatik. Penggunaan imaging diagnostik tidak direkomendasikan pada saat pasien pertama kali datang. MRI agnetic resonance imagin. mungkin menunjukkan pembesaran pada saraf fasialis terutama di daerah ganglion geniculi, tetapi penemuan ini tidak berpengaruh pada proses terapi. (Baugh et al, 2. Paralisis fasialis mudah didiagnosis dengan pemeriksaanfisik yang lengkap untuk menyingkirkan kelainansepanjang penyebab lain. Adapun pemeriksaan yang Qanun Medika vol. I no. 2 | Juli 2017 dilakukan adalah pemeriksaangerakan dan ekspresi wajah sesuai dengan otot yang Pemeriksaan menemukankelemahan pada seluruh wajah sisi yang terkena. Kemudian, pasien diminta menutup mata dan mata pasienpada sisi yang terkena memutar ke atas. Bila terdapat hiperakusis, saat stetoskop diletakkan padatelinga pasien maka suara akan terdengar lebih jelas padasisi cabang muskulus stapedius yang paralisis (Lowis & Gaharu, 2. Gambar 6. Parese wajah perifer dan sentral (Gilden, 2. Kelainan sentral dapatmerupakan stroke bila disertai kelemahan anggota gerak sisiyang sama dan ditemukan proses patologis di hemisfer serebri kontralateral. Kelainan tumor dapat didiagnosis apabila onset gradualdan disertai perubahan mental status atau riwayat kanker dibagian tubuh sklerosis multipel bila disertai kelainanneurologis lain seperti hemiparesis atau neuritis optika. Diagnosis trauma diberikan bila terdapat fraktur os temporalis pars petrosus, basiskranii, atau terdapat riwayat trauma sebelumnya (Lowis & Gaharu, 2. Kelainan perifer yang ditemukan dapat merupakan suatuotitis media supuratif dan mastoiditis apabila terjadi reaksiradang dalam kavum timpani dan foto mastoid menunjukkan suatu gambaran infeksi. Herpes zoster otikus menunjukkan adanya tuli perseptif, tampak vesikel yang terasa amat nyeridi pinna dan/atau pemeriksaan darah menunjukkan kenaikantiter antibodi virus varicella-zoster. Sindroma Guillain- Barre menunjukkan adanya paresis bilateral dan akut. Kelainan miastenia gravis berupa gangguan gerak mata kompleks dan kelemahan otot orbikularis okuli bilateral. Tumor serebello-pontin . terjadi apabila disertai kelainan nervus kranialis V dan Vi. Diagnosis tumorkelenjar parotis diberikan bila ditemukan massa di wajah . ngulus Sarcoidosis tanda-tanda perembesan kelenjar limfe hilus, uveitis, parotitis,eritema nodosa, dan kadang hiperkalsemia(Lowis & Gaharu, 2. Tatalaksana BellAos Palsy Peran dokter umum sebagai lini terdepan pelayanan primer berupa identifikasi dini dan merujuk ke spesialis saraf. ika tersedi. apabila terdapat kelainan lain pada pemeriksaan neurologis yang mengarah pada penyakit yang menjadi diagnosis banding BellAos palsy. Jika tidak tersedia, dokter umumdapat menentukan terapi Qanun Medika vol. I no. 2 | Juli 2017 diagnosis banding lain. Terapi yang diberikan dokter umum dapat berupa non-farmakologis farmakologis . e Almeida et al. , 2. Canadian Society of OtolaryngologyHead and Neck Surgery dan Canadian Neurological Sciences Federation melakukan review terhadap beberapa modalitas terapi BellAos palsy. Mereka membuat review tentang bukti penanganan BellAos palsy dengan kortikosteroid dan antiviral, latihan fasial, elektrostimulasi, fisio terapi dan operasi dekompresi. Mereka juga membahas terapi perlindungan mata, rujukan spesialis, dan investigasi lebih jauh pada pasien yang memiliki kelemahan wajah yang persisten dan progresif. Mereka memberikan beberapa hal berikut sebagai hasil review: C Diagnosa awal pasien BellAos menyingkirkan penyebab lain C kelemahan, untuk terapi lebih Kortikosteroid kontraindikasi pada pasien dengan BellAos palsy. Antiviral mungkin bisa digunakan pada pasien dengan parese komplit atau parah. Pasien dengan penutupan mata yang inkomplit harus diberi proteksi mata dengan lubrikasi dan salep untuk menghindari kerusakan kornea. Pasien dengan kelemahan wajah fasial yang persisten atau progresif membutuhkan Pasien ini juga membutuhkan rujukan ke ahli saraf dan fisioterapis . e Almeida et al, 2. Tabel 2. Rumusan rekomendasi terapi BellAos palsy menurut Canadian Society of Otolaryngology-Head and Neck Surgery dan Canadian Neurological Sciences Federation . e Almeida et al, 2. Sistem penilaian nervus fasialis HouseBrackmann dipakai untuk menunjukkan kemajuan perbaikan saraf fasialis pada proses terapi. Sistem ini tidak dapat dipakai di awal pasien didiagnosa dengan BellAos palsy, namun dapat menunjukkan kemajuan hasil terapi dapat pasien (Baugh et al. Qanun Medika vol. I no. 2 | Juli 2017 Tabel 3. Sistem grading nervus fasialis House-Brackmann (Baugh et al, 2. Komplikasi BellAos Palsy Sekitar 5% pasien setelah menderita BellAos palsymengalami sekuele berat yang tidak dapat diterima. Beberapakomplikasi yang sering terjadi akibat BellAos palsy, adalah sebagai berikut: C Regenerasi motor inkomplit yaitu menyebabkan paresis seluruh atau beberapa muskulus fasialis. C Regenerasi sensorik inkomplit . angguan pengecapa. , ageusia . , dan disestesia . angguan sensasiyang tidak sama dengan stimuli norma. C Reinervasi yang salah dari saraf fasialis (Lowis & Gaharu, 2. Reinervasi yang salah dari saraf fasialis dapat menyebabkan beberapa kondisi sebagai berikut: C Sinkinesis yaitu gerakan involunter yang mengikutigerakan volunter, contohnya timbul gerakan elevasi involunter dari sudut mata, kontraksi platysma, atau pengerutan dahi saat memejamkan mata. Crocodile tearphenomenon, yang timbul beberapa bulan setelah paresisakibat regenerasi yang salah dari serabut otonom, contohnyaair mata pasien keluar pada saat mengkonsumsi makanan. Clonic facial spasm . emifacial spas. , yaitu timbulkedutan secara tiba-tiba . hock-lik. pada wajah yang dapatterjadi pada satu sisi wajah saja pada stadium awal, kemudianmengenai sisi lainnya . esi bersamaa. (Lowis & Gaharu. Prognosis BellAos Palsy Perjalanan alamiah BellAos palsy bervariasi dari perbaikankomplit dini sampai cedera saraf substansial dengan sekuelepermanen. Sekitar 80-90% pasien dengan BellAos palsy sembuhtotal dalam 6 bulan, bahkan pada 50-60% kasus membaik dalam 3 Sekitar 10% mengalami asimetri muskulusfasialis persisten, dan 5% mengalami sekuele yang berat, serta 8% kasus dapat rekuren (Lowis & Gaharu. Qanun Medika vol. I no. 2 | Juli 2017 Faktor yang dapat mengarah ke prognosis buruk adalahpalsi komplit . isiko diabetes,adanya nyeri hebat post-aurikular, gangguan pengecapan,refleks stapedius, wanita hamil dengan BellAos palsy,bukti . enyembuhan lamba. ,dan kasus dengan penyengatan kontras yang jelas (Lowis & Gaharu, 2. Faktor yang dapat mendukung ke prognosis baik adalah paralisis parsial inkomplit pada fase akut . enyembuhan tota. , pemberian kortikosteroid dini, penyembuhan awal dan/atau perbaikan fungsi pengecapan dalam minggu pertama (Lowis & Gaharu, 2. KESIMPULAN BellAos palsy adalah kelemahan atau kelumpuhan saraf perifer wajah . ervus fasiali. secara akut pada sisi sebelah Penyakit ini bersifat sembuh sendiri . elf-limite. Kontroversi tatalaksana masih diperdebatkan, dan penyebabnya pun masih tidak diketahui dengan pasti. Hipotesis penyebabnya antara lain iskemik, vaskular, virus, bakteri, herediter, dan imunologi. Terapi yang dilakukan selama ini adalah untuk meningkatkan fungsi saraf wajah dan proses penyembuhan. Modalitas terapi BellAos palsy yaitu dengan kortikosteroid dan antiviral, latihan fasial, elektrostimulasi, fisioterapi dan operasi dekompresi. Sekitar 80-90% pasien dengan BellAos palsy sembuh total dalam 6 bulan. DAFTAR PUSTAKA