PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 6 No. Februari 2024 ISSN . ISSN . FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI PENGUNGKAPAN DIRI REMAJA DI MEDIA SOSIAL FACTORS AFFECTING ADOLESCENTSAo SELF DISCLOSURE ON SOCIAL MEDIA Ni Ketut Oka Chandra Gayatri & Made Padma Dewi Bajirani Program Studi Psikologi Universitas Udayana okachandra304@gmail. com*, bajirani@unud. ABSTRAK Penggunaan media sosial telah menjadi hal yang normatif di berbagai kalangan, termasuk Salah satu kegiatan yang kerap dilakukan remaja di media sosial adalah melakukan pengungkapan diri. Pada dasarnya, pengungkapan diri merupakan keterampilan penting yang perlu dimiliki oleh remaja, namun tidak bisa dipungkiri bahwa melakukan pengungkapan diri di media sosial berpotensi menimbulkan sejumlah Remaja diharapkan dapat melakukan pengungkapan diri dengan bijak saat bersosial media. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi pengungkapan diri remaja di media sosial. Adapun metode yang digunakan adalah literature review. Sumber literatur diakses menggunakan database Google Scholar dan SpringerLink dengan tahun penerbitan artikel antara tahun 20192023. Berdasarkan telaah literatur terhadap 9 artikel, diperoleh sejumlah faktor yang memengaruhi pengungkapan diri remaja di media sosial, yakni faktor personal . tatus pubertas, status identitas diri, kepribadian ekstraversi, harga diri, kontrol diri, dan persepsi risiko privas. faktor interpersonal . ntimasi pertemanan, kepercayaan, dan kenyamanan pemeliharaan hubunga. faktor motivasional . ujuan sosial dan motif dan faktor afektif . ecerdasan emosional dan kesepia. Kata Kunci: pengungkapan diri, remaja, media sosial, literature review. ABSTRACT The use of social media has become commonplace in various groups, including adolescents. One of the activities that adolescents often do on social media is self disclosure. Basically, self disclosure is an important skill that adolescents need to have, but it can not be denied that doing self disclosure on social media has the potential to cause a number of risks. Therefore, adolescents are expected to do self disclosure wisely when using social media. This study aims to examine the factors that influence adolescents' self disclosure on social The method used in this research is literature review. Literature sources were accessed using Google Scholar and SpringerLink databases with article publication years between 2019-2023. Based on a literature review of 9 articles, a number of factors influencing adolescents' self-disclosure on social media were obtained, namely personal factors . ubertal status, self identity status, extraversion personality, self esteem, self control, and perception of privacy ris. interpersonal factors . ntimate friendship, trust, and convenience of relationship maintenanc. motivational factors . ocial goals and affiliation motiv. and affective factors . motional intelligence and lonelines. Keywords: self disclosure, adolescents, social media, literature review. http://journal. id/TIT PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 6 No. Februari 2024 ISSN . ISSN . PENDAHULUAN Media sosial telah menjadi kebutuhan primer setiap orang di era digital (Drakel et , 2. Seiring dengan perkembangannya, penggunaan media sosial di kalangan masyarakat kian meningkat. Mengacu pada laporan We Are Social . secara global jumlah pengguna media sosial telah mencapai 4,88 miliar jiwa per Juli 2023 yang mengindikasikan bahwa jumlah adopsi media sosial menunjukkan peningkatan sebesar 3,7% sejak tahun 2022. Pengguna aktif media sosial berasal dari berbagai kalangan, termasuk remaja. Menurut Monks et al. remaja merupakan individu dengan kisaran usia 12-21 tahun yang secara lebih spesifik dapat digolongkan menjadi remaja awal . -15 tahu. , remaja pertengahan . -18 tahu. , dan remaja akhir . -21 tahu. Berdasarkan survei Common Sense pada tahun 2021, dari 84% remaja pengguna media sosial yang menjadi partisipan, sebanyak 62% diantaranya menyampaikan bahwa mereka menggunakan media sosial setiap hari (Common Sense, 2. Dalam menggunakan media sosial, remaja biasanya memposting kegiatan pribadi, curhatan, dan foto bersama teman-temannya (Cahyono, 2. Selain itu, remaja pengguna media sosial juga melakukan beberapa aktivitas lain, seperti memberi tahu nama asli, memposting tanggal lahir, memasang foto, memposting video tentang diri, memposting nama sekolah, memberi tahu kota asal, memposting status hubungan pacaran, dan memposting hal-hal yang disukai, seperti musik, buku, dan film (Madden et , 2. Adanya tindakan membagikan informasi diri di media sosial menunjukkan bahwa remaja telah melakukan pengungkapan diri. Pengungkapan diri adalah proses mengungkapkan informasi tentang diri sendiri kepada orang lain (Abubakar, 2. Taylor et al. mengemukakan bahwa pengungkapan diri dapat bersifat deskriptif dan evaluatif. Deskriptif artinya seseorang mengungkapkan fakta mengenai dirinya yang bersifat tersembunyi, seperti usia, alamat, dan jenis pekerjaan, sedangkan evaluatif artinya mengungkapkan opini pribadi ataupun perasaan terdalam yang berkaitan dengan penilaian personal terhadap pihak lain, seperti perasaan terhadap orang lain, baik berupa kebencian maupun rasa suka (Taylor et al. Pengungkapan diri merupakan salah satu keterampilan sosial penting yang perlu dimiliki oleh remaja agar dapat diterima oleh lingkungan sosial (Nawafilaty, 2. Melakukan pengungkapan diri dengan membagikan informasi mengenai diri sendiri http://journal. id/TIT PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 6 No. Februari 2024 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 merupakan proses interpersonal mendasar yang memfasilitasi pencapaian tugas perkembangan utama selama masa remaja (Vijayakumar & Pfeifer, 2. Saat ini, mengungkapkan diri di media sosial telah menjadi hal yang wajar dilakukan oleh remaja (Wiyono & Muhid, 2. Sebagaimana yang disampaikan Kasmani et al. generasi muda cenderung mengungkapkan lebih banyak informasi di media sosial daripada di situasi nyata. Berdasarkan penelitian Widiyawati & Wulandari . kebanyakan remaja mengaku merasa lebih senang untuk mengungkapkan diri di media sosial. Remaja cukup terbuka dalam menunjukkan identitas di media sosial yang ditandai dengan adanya keinginan untuk tetap eksis dengan mengupload aktivitas melalui status maupun foto dan mengungkapkan masalah yang dialami secara tersirat (Afriluyanto, 2. Kendati menjadi salah satu keterampilan penting bagi remaja yang kini telah didukung pula oleh keberadaan media sosial, perlu diperhatikan bahwa aktivitas dalam mengungkapkan informasi dan perasaan kepada pihak lain berpotensi memicu sejumlah bahaya dan risiko (Akbar & Faryansyah, 2. Pengungkapan diri akan menjadi lebih berisiko ketika dilakukan melalui media sosial (Paramithasari & Dewi, 2. Secara keseluruhan, konsekuensi negatif akibat pengungkapan diri dapat terjadi dalam jangka pendek maupun panjang, mulai dari adanya umpan balik negatif dari orang lain, permusuhan, kerentanan terhadap penyalahgunaan konten, hingga gangguan privasi (Ostendorf & Brand, 2. Mengacu pada kondisi ini, maka sangat penting untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai pengungkapan diri di media sosial. Oleh karena itu, kajian ini bertujuan mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi pengungkapan diri remaja di media sosial. Melalui adanya penelitian ini, khususnya faktor-faktor memengaruhi pengungkapan diri sehingga mampu bersikap bijak saat mengungkapkan informasi mengenai diri di media sosial. METODE PENELITIAN Metode penulisan artikel ini adalah literature review dengan menggunakan kata kunci Aupengungkapan diri media sosialAy. Auself disclosure media sosialAy, dan Auonline self disclosureAy. Pencarian literatur dilakukan melalui database pencarian Google Scholar dan SpringerLink berdasarkan pertimbangan atas aksesibilitas artikel penelitian serta http://journal. id/TIT PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 6 No. Februari 2024 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 tersedianya kajian dari berbagai bidang ilmu, termasuk Ilmu Sosial dan Humaniora. Setelah dilakukan pencarian, diperoleh 48 artikel jurnal yang membahas mengenai topik yang hendak diteliti. Pemilihan artikel penelitian untuk literature review ini telah melalui tahap inklusi, diantaranya menggunakan artikel-artikel yang mengkaji faktor-faktor pengungkapan diri, menjadikan remaja sebagai subjek penelitian, dan penelitian yang dilakukan pada rentang tahun 2019-2023 agar hasil temuan yang dikaji relevan dengan perkembangan terkini sekaligus mengandung informasi terbaru. Kriteria eksklusi yang ditetapkan, yakni artikel dengan variabel yang tidak memiliki keterkaitan dengan pengungkapan diri dalam konteks penggunaan media sosial, literatur berbentuk skripsi dan tesis, serta tidak dapat diakses full text. Setelah melakukan evaluasi dengan mengacu pada kriteria inklusi dan eksklusi, terdapat 9 artikel yang dikaji dalam literature review ini. Semua artikel dapat diunduh serta menggunakan bahasa Inggris atau bahasa Indonesia. HASIL PENELITIAN Berdasarkan hasil akhir 9 artikel yang ditemukan, maka dilakukan proses ekstraksi literatur yang hasilnya dapat dilihat pada tabel 1 di bawah ini: Tabel 1. Hasil Literature Review Nama Peneliti dan Subjek Hasil Penelitian Tahun Terbit Artikel Penelitian Hikmawati et al. santri Ditemukan adanya pengaruh status identitas remaja berusia diri dan motif afiliasi terhadap pengungkapan 15-16 tahun. diri santri remaja di media sosial. Hasil analisis regresi linier berganda menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0. 026 (< 0. untuk variabel status identitas diri dan 0. 002 (< 0. untuk variabel motif afiliasi. Swirsky et al. siswa Berdasarkan penelitian ini, terdapat dua variabel yang berkaitan dengan tujuan sosial, yakni tujuan popularitas dan tujuan rata- penerimaan yang ditemukan berkorelasi rata usia 12. 91 positif dengan pengungkapan diri remaja awal di media sosial. Adapun nilai koefisien korelasi untuk variabel tujuan popularitas adalah 0. <0. <0. untuk variabel tujuan penerimaan. Selain itu, ditemukan pula http://journal. id/TIT PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 6 No. Februari 2024 ISSN . ISSN . Rahmawati . berusia 16-24 Nuraini . Satwika 80 berusia 13-21 Siregar Andriani 97 berusia 18-22 Fitriyani . Rinaldi 58 berusia 15-18 Utomo & Laksmiwati 228 siswa-siswi . kelas X. XI, dan XII. Febriani et al. 147 siswa kelas XI. Rahardjo et al. berusia 13-22 http://journal. id/TIT korelasi positif antara variabel status pubertas dengan pengungkapan diri . = 0. 14, p<0. Berdasarkan hasil uji hipotesis, diperoleh koefisien korelasi senilai 0. 302 dengan nilai . <0. mengindikasikan adanya korelasi positif yang sangat signifikan antara variabel kecerdasan emosional dengan pengungkapan diri remaja pengguna TikTok. Berdasarkan hasil uji hipotesis, diperoleh nilai signifikansi sebesar 0. 000 (<0. yang mengindikasikan adanya korelasi yang signifikan antara variabel kesepian dengan pengungkapan diri remaja yang menggunakan media sosial Instagram. Korelasi ini bersifat kuat dan positif yang dibuktikan dengan nilai pearson correlation sebesar 0. Terdapat hubungan positif yang signifikan Instagram perolehan koefisien korelasi senilai 0. 193 dan signifikansi sebesar 0. < 0. Ditemukan adanya korelasi negatif yang signifikan antara variabel kontrol diri dengan pengungkapan diri remaja pengguna jejaring sosial Instagram yang dibuktikan dengan nilai koefisien korelasi sebesar -0. 419 dan signifikansi sebesar 0. < 0. Penelitian ini menemukan adanya hubungan positif yang signifikan dari variabel harga diri dengan pengungkapan diri siswa-siswi pengguna Instagram. Hal ini dapat dilihat dari perolehan koefisien korelasi sebesar 0. dengan signifikansi 0. <0. Ditemukan adanya hubungan positif yang signifikan pada variabel intimasi pertemanan yang dikorelasikan dengan pengungkapan diri siswa pengguna Instagram. Temuan ini dibuktikan melalui perolehan koefisien korelasi sebesar 0. 165 dengan nilai Berdasarkan penelitian ini, semua variabel independen yang diteliti ditemukan memiliki pengaruh terhadap pengungkapan diri online remaja, kecuali variabel presentasi diri. Secara lebih rinci, hasil uji regresi linier berganda dari PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 6 No. Februari 2024 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 masing-masing pengungkapan diri online dapat dijabarkan sebagai berikut. Nilai kepribadian ekstraversi adalah 0. = Nilai koefisien regresi variabel persepsi risiko privasi adalah -0. = 0. Nilai kenyamanan pemeliharaan hubungan 718 . = 0. Nilai koefisien regresi variabel presentasi diri adalah 0. = 0. DISKUSI Di era informasi saat ini, situs jejaring sosial telah populer di kalangan remaja dan menjadi sarana utama untuk menjaga hubungan sosial (Liu et al. , 2. Kehadiran media sosial telah meleburkan ruang privat dengan ruang publik (Ayun, 2. Kini, orangorang lebih merasakan kenyamanan saat mengungkapkan diri di media sosial dibandingkan saat bertatap muka secara langsung (Latifah & Daliman, 2. Ini sejalan dengan hasil survei terhadap 802 remaja mengenai manajemen privasi di media sosial yang menunjukkan bahwa remaja semakin banyak membagikan informasi pribadinya di media sosial dibandingkan dengan periode sebelumnya (Madden et al. , 2. Berdasarkan telaah literatur yang telah dilakukan terhadap 9 artikel, ditemukan faktor-faktor yang memengaruhi pengungkapan diri remaja di media sosial. Faktorfaktor tersebut dapat dikelompokkan menjadi 4 jenis, yakni faktor personal . tatus pubertas, status identitas diri, kepribadian ekstraversi, harga diri, kontrol diri, dan persepsi risiko privas. faktor interpersonal . ntimasi pertemanan, kepercayaan, dan kenyamanan pemeliharaan hubunga. faktor motivasional . ujuan sosial dan motif dan faktor afektif . ecerdasan emosional dan kesepia. Berikut merupakan penjabaran dari masing-masing faktor tersebut. Faktor Personal Status Pubertas Remaja merupakan tahap perkembangan yang erat kaitannya dengan masa Penelitian Swirsky et al. menyoroti implikasi dari perubahan status pubertas yang diduga dapat memotivasi keterlibatan remaja awal di media http://journal. id/TIT PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 6 No. Februari 2024 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 sosial karena terbukanya kesempatan untuk terhubung dengan individu dalam jaringan online. Sebagaimana pendapat Minarto et al. proses pematangan dan pubertas akan mendorong upaya remaja dalam membentuk hubungan baru, serta meningkatkan perilaku pengungkapan diri. Pendapat ini menunjukkan keselarasan dengan hasil temuan Swirsky et al. yang menemukan adanya korelasi positif antara status pubertas dan pengungkapan diri remaja awal di media sosial . = 0. 20, p<0. Status Identitas Diri Dalam konteks status identitas menurut Marcia . terdapat empat kategori status identitas yang digolongkan berdasarkan dimensi eksplorasi dan komitmen, yakni identity achievement, identity foreclosure, identity moratorium dan identity Penelitian yang dilakukan oleh Hikmawati et al. menemukan adanya pengaruh dari status identitas diri terhadap pengungkapan diri santri remaja di media sosial yang diperoleh berdasarkan nilai signifikansi sebesar 0. (< 0. Temuan ini mengindikasikan bahwa proses eksplorasi dan komitmen terhadap predikat sebagai santri akan mendorong para santri untuk lebih membuka diri di media sosial. Terlebih lagi, penggunaan situs jejaring sosial memang dapat memberikan peluang untuk melakukan pengungkapan diri yang berperan dalam pengembangan identitas remaja (Upreti, 2. Kepribadian Ekstraversi Ekstraversi dicirikan dengan sifat kepribadian multifaset dan kecenderungan untuk peduli serta memperoleh kepuasan dari hal-hal yang berada di luar diri (Costa & McCrae, 1. Berdasarkan penelitian Rahardjo et al. diperoleh nilai koefisien regresi sebesar 0. = 0. untuk variabel kepribadian ekstraversi dengan pengungkapan diri online yang mengindikasikan adanya pengaruh positif dari kepribadian ekstraversi terhadap pengungkapan diri online Selaras dengan penelitian sebelumnya. Wang & Stefanone . juga pengungkapan diri yang ditunjukkan melalui adanya hubungan positif antara kedua variabel tersebut. Lebih lanjut. Gosling et al. mengemukakan bahwa ekstraversi paling akurat apabila ditinjau dari profil sosial media karena orangorang ekstrovert cenderung konsisten dengan sosialisasi online selayaknya dalam http://journal. id/TIT PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 6 No. Februari 2024 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 konteks offline dan mereka juga lebih terlibat dalam pengalaman sosial secara Harga Diri Harga diri merupakan karakteristik khusus yang bersifat evaluatif dan reflektif terhadap konsep diri, memiliki variasi dari tinggi ke rendah, dan berkaitan dengan penarikan sebagian evaluasi orang lain terhadap diri sendiri (Gillibrand et al. Berdasarkan penelitian Zulkifli . harga diri tergolong sebagai salah satu faktor yang memengaruhi pengungkapan diri remaja di media sosial. Temuan tersebut selaras dengan hasil penelitian (Utomo & Laksmiwati, 2. yang menemukan adanya korelasi yang positif dan signifikan antara harga diri dengan pengungkapan diri pada siswa pengguna Instagram . = 0. 924, p = 0. Artinya, semakin tinggi harga diri siswa, maka pengungkapan diri melalui Instagram akan semakin tinggi, begitupun sebaliknya. Individu dengan harga diri tinggi cenderung mampu menunjukkan pengungkapan diri yang efektif dalam berkomunikasi, seperti mampu berempati, bersikap terbuka, menunjukkan sikap positif selama proses komunikasi, serta merasa setara dengan pihak yang diajak berkomunikasi (Santi & Damariswara, 2. Di sisi lain, individu yang harga dirinya rendah akan memproteksi diri sehingga kurang terbuka dalam mengungkapkan diri, namun ketika melakukan pengungkapan diri individu ini justru akan mengekspresikan lebih banyak emosi negatif dan pengalaman negatif yang dapat berisiko secara interpersonal (Wood & Forest, 2. Kontrol Diri Kontrol diri meliputi tiga konsep berbeda yang mencakup kompetensi untuk memodifikasi perilaku, mengendalikan informasi dengan menginterpretasi informasi yang tidak sesuai, dan memutuskan tindakan serta perilaku yang berlandaskan pada keyakinan diri (Averill, 1. Semakin tinggi kontrol diri, maka pengungkapan diri remaja akan semakin rendah (Sari & Kustanti, 2. Temuan tersebut sejalan dengan hasil penelitian Fitriyani & Rinaldi . yang menemukan adanya korelasi negatif antara kontrol diri dan pengungkapan diri remaja di Instagram . = -0. 419, p = 0. Berdasarkan temuan ini, sebagaimana pendapat Huda . , maka bisa dikatakan bahwa remaja dengan kontrol diri http://journal. id/TIT PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 6 No. Februari 2024 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 yang baik akan dapat membatasi pengungkapan diri negatif di media sosial sehingga terhindar dari risiko merugikan. Persepsi Risiko Privasi Kinasih & Albari . mengemukakan bahwa persepsi privasi berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk mendapatkan, mengontrol, serta memanfaatkan informasi pribadi. Berdasarkan penelitian Rahardjo et al. persepsi risiko privasi merupakan salah satu faktor yang turut memainkan peran esensial dalam memengaruhi pengungkapan diri online remaja. Hal ini dibuktikan melalui perolehan koefisien regresi sebesar -0. = 0. yang mengindikasikan adanya pengaruh negatif dari persepsi risiko privasi terhadap pengungkapan diri online remaja. Artinya, apabila persepsi risiko privasi remaja tinggi, maka pengungkapan diri online akan menurun, dan sebaliknya. Temuan ini selaras dengan hasil penelitian Tsay-Vogel et al. yang menyebutkan bahwa individu dengan sikap privasi yang lebih santai memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk melakukan pengungkapan diri, baik secara offline maupun online. sisi lain, apabila suatu informasi dipersepsikan sebagai sesuatu yang bersifat privat, maka pengguna media sosial akan mengelola pengungkapan diri dengan membagikan informasinya lebih sedikit sampai hampir tidak sama sekali (Masur & Scharkow, 2. Faktor Interpersonal Intimasi Pertemanan Intimasi pertemanan merupakan sebuah hubungan yang mengharuskan individu bergantung terhadap teman, saling berbagi pengalaman ataupun memiliki kesamaan minat, dan memiliki kualitas dalam melakukan pengungkapan diri sehingga bisa saling terbuka ketika membicarakan perasaan maupun pemikiran masing-masing (Sharabany, 1. Dalam penelitian Rizal & Rizal . intimasi pertemanan berkorelasi positif dengan pengungkapan diri subjek penelitian, termasuk pada kelompok usia remaja akhir. Febriani et al. menyampaikan bahwa intimasi pertemanan atau kedekatan pertemanan tergolong dalam faktor perasaan menyukai yang terkait dengan pengungkapan diri. Lebih lanjut. Febriani et al. kemudian menemukan bahwa intimasi pertemanan berkorelasi positif dan signifikan dengan pengungkapan diri siswa di media sosial Instagram http://journal. id/TIT PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 6 No. Februari 2024 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 . = 0. 165, p = 0. Hal ini menunjukkan bahwa remaja cenderung akan mengungkapkan diri ketika merasakan adanya kedekatan dengan orang lain, seperti teman. Kepercayaan Kepercayaan dapat menjadi pembentuk hubungan dan komunikasi interpersonal yang mana bila seorang individu yakin dan percaya bahwa orang lain tidak akan merugikannya, maka individu tersebut akan lebih menunjukkan keterbukaan (Andriani et al. , 2. Kepercayaan sangat penting dalam memengaruhi kesediaan seseorang untuk melakukan pengungkapan diri (Green et al. , 2. Siregar & Andriani . menemukan bahwa kepercayaan . memiliki hubungan yang bersifat positif dengan pengungkapan diri remaja pengguna media sosial Instagram . = 0. 193, p < 0. Hal ini selaras dengan temuan Xie & Kang . yang juga memperoleh hasil serupa, yakni adanya hubungan positif antara kepercayaan dan pengungkapan diri online remaja. Blanchard et al. menyebutkan apabila kepercayaan dirasa masih kurang, maka pengungkapan informasi dan pengalaman pribadi kepada teman-teman online akan cenderung Kenyamanan Pemeliharaan Hubungan Pemeliharaan hubungan menjadi motivasi utama bagi banyak orang dalam menggunakan situs jejaring sosial, pengungkapan diri pun mencerminkan serta meningkatkan hubungan sosial sehingga orang-orang cenderung lebih puas dengan situs yang kemudian mendorong pengungkapan diri (Wang et al. , 2. Dalam penelitian Rahardjo et al. ditemukan adanya nilai koefisien regresi yang bersifat positif sebesar 0. = 0. antara variabel kenyamanan pemeliharaan hubungan dengan pengungkapan diri online yang menunjukkan bahwa remaja melakukan pengungkapan diri online untuk pemeliharaan Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian Hollenbaugh & Ferris . yang memperoleh adanya hubungan positif antara pemeliharaan hubungan dengan pengungkapan diri. http://journal. id/TIT PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 6 No. Februari 2024 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 Faktor Motivasional Tujuan Sosial Dalam penelitian Swirsky et al. terdapat dua tujuan sosial remaja yang dijadikan sebagai fokus penelitian, yakni tujuan popularitas dan tujuan Remaja merupakan kelompok usia yang seringkali menginginkan dan aktif mengejar popularitas (Rubin et al. , 2. Tujuan popularitas berkaitan dengan keinginan individu untuk dianggap populer oleh rekan-rekannya dan mencerminkan keinginan untuk mendapatkan keuntungan yang berhubungan dengan popularitas (Dawes & Xie, 2. Berdasarkan penelitian Swirsky et al. terdapat korelasi positif antara tujuan popularitas dan pengungkapan diri remaja awal di media sosial . = 0. 20, p<0. Sebagaimana pendapat Casas et al. , maka temuan ini merepresentasikan bahwa tindakan membagikan informasi pribadi, gambar, video, maupun data lainnya secara terus-menerus telah menjadi bagian penting dari perilaku dunia maya sehingga anak muda dapat dengan mudah memprioritaskan keinginan mereka untuk populer dengan mengorbankan privasinya. Selain tujuan populer, remaja awal juga menginginkan Penerimaan teman sebaya menjadi signifikan bagi kehidupan sosial remaja karena memberikan perasaan saling memiliki (Li & Wright, 2. Sehubungan dengan ini. Swirsky et al. menemukan pula adanya korelasi positif antara tujuan penerimaan dan pengungkapan diri remaja awal di media sosial . = 0. 14, p<0. Mengacu pada pendapat Runions et al. , maka hasil ini menunjukkan bahwa pengungkapan diri remaja di media sosial mencerminkan intensi remaja untuk membangun identitas dan tujuan komunal, salah satunya diterima oleh orang lain. Motif Afiliasi Motif afiliasi merupakan kebutuhan untuk menjalin hubungan hangat dengan orang lain (McClelland, 1. Dalam penelitian Hikmawati et al. disebutkan bahwa adanya dorongan untuk memenuhi kebutuhan afiliasi akan membuat santri remaja lebih terbuka dalam menceritakan diri di media sosial. Hal ini terbukti melalui adanya temuan terkait pengaruh motif afiliasi terhadap pengungkapan diri santri remaja di media sosial yang ditunjukkan dengan perolehan nilai signifikansi sebesar 0. 002 (< 0. Temuan ini sejalan dengan http://journal. id/TIT PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 6 No. Februari 2024 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 hasil penelitian Zahra & Kustanti . yang menemukan adanya korelasi positif yang signifikan antara kebutuhan afiliasi dengan pengungkapan diri di media Faktor Afektif Kecerdasan Emosional Kecerdasan emosional berkaitan dengan kemampuan untuk mengenali dan mengekspresikan emosi, memahami emosi, menyesuaikan emosi dalam pemikiran, serta mengelola emosi positif maupun negatif dalam diri sendiri dan orang lain (Matthews et al. , 2. Kecerdasan emosional menjadi determinan atau kapasitas yang menunjukkan kontrol respons seseorang terhadap suatu kondisi (Lonyka & Ambarwati, 2. Berdasarkan penelitian Rahmawati et al. kecerdasan emosional memiliki korelasi positif yang sangat signifikan dengan pengungkapan diri, khususnya jika ditinjau dari segi pengelolaan individu dalam melakukan pengungkapan diri di media sosial Tiktok . = 0. 302, p<0. sehingga dapat dikatakan bahwa remaja dengan kecerdasan emosional yang tinggi akan memiliki pengelolaan dalam pengungkapan diri yang tinggi, begitupun Semakin tinggi kecerdasan emosional, maka seseorang akan semakin bijak dalam menggunakan media sosial (Utomo & Alvionita, 2. Kesepian Kesepian merupakan perasaan yang kerap dialami remaja (Baron & Byrne, 2. Kesepian ditandai dengan keadaan mental dan emosional yang mengarah pada rasa terasing dan berkurangnya hubungan interpersonal yang bermakna (Ainunsiah et al. , 2. Seorang individu yang kesepian memiliki kecenderungan yang lebih baik dalam berinteraksi dan mengekspresikan diri di media sosial dibandingkan di situasi nyata (Muliati et al. , 2. Kesepian memiliki hubungan yang signifikan dengan pengungkapan diri online remaja (Ulfah & Aviani, 2. Sebagaimana penelitian Nuraini & Satwika . yang juga menemukan bahwa kesepian memiliki hubungan positif dengan pengungkapan diri remaja di Instagram . = 0. 734, p < 0. Berdasarkan temuan ini, dapat dikatakan bahwa pengungkapan diri yang dilakukan remaja di media sosial merepresentasikan suatu coping untuk mengatasi kesepian yang dirasakan (Gentina & Chen, 2. http://journal. id/TIT PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 6 No. Februari 2024 ISSN . ISSN . KESIMPULAN DAN SARAN Temuan dalam literature review ini menyoroti faktor-faktor yang memengaruhi aktivitas pengungkapan diri remaja sehingga kini telah bertransformasi ke ranah online, khususnya melalui media sosial. Mengacu pada telaah literatur yang telah dilakukan, diperoleh sejumlah faktor yang dapat memengaruhi terjadinya pengungkapan diri remaja di media sosial. Secara lebih spesifik, faktor-faktor tersebut dapat digolongkan menjadi 4 jenis, yakni faktor personal, faktor interpersonal, faktor motivasional, dan faktor afektif. Faktor personal mencakup beberapa faktor, yaitu status pubertas, status identitas diri, kepribadian ekstraversi, harga diri, kontrol diri, dan persepsi risiko privasi. Selanjutnya, faktor interpersonal mencakup faktor intimasi pertemanan, kepercayaan, dan kenyamanan pemeliharaan hubungan. Di sisi lain, terdapat pula faktor motivasional yang terdiri atas tujuan sosial dan motif afiliasi. Kemudian, ada juga faktor afektif, yakni kecerdasan emosional dan kesepian. Keberadaan temuan ini dapat dijadikan sebagai sarana untuk memahami aktivitas pengungkapan diri remaja, utamanya dalam konteks bermedia sosial. Remaja diharapkan dapat bersikap bijak dalam mengungkapkan diri di media sosial sebab aktivitas dalam dunia maya, termasuk diantaranya melakukan pengungkapan diri di media sosial berpotensi menimbulkan bahaya dan risiko yang semakin berkembang seiring dengan kemajuan teknologi. Remaja sebaiknya berhati-hati serta memilah informasi mana yang sekiranya aman untuk diungkapkan dan mana yang tergolong berisiko. Bagi peneliti selanjutnya yang hendak memfokuskan kajian pada identifikasi faktor-faktor yang memengaruhi pengungkapan diri remaja di media sosial, dapat mengembangkan penelitian ini dengan meninjau tendensi pengungkapan diri remaja dalam konteks yang lebih spesifik, seperti berdasarkan jenis kelamin. DAFTAR PUSTAKA