PENERAPAN METODE INQUIRY DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA SISWA KELAS VI SDN 002 NONGSA Victoria SDN 002 Nongsa. Batam victoriasdn2@gmail. How to cite . n APA Styl. : Victoria. Penerapan Metode Inquiry dalam Meningkatkan Hasil Belajar IPA Siswa Kelas VI SDN 002 Nongsa. LENTERA: Jurnal Ilmiah Kependidikan, 14 . , pp. Abstract: This research is a classroom action research. It consists of several aspects of action and main observations, namely the improvement of student learning outcomes using the Inquiry method. The purpose of this study was to improve student learning outcomes in science learning at SDN 002 Nongsa by applying the inquiry method. The research was conducted at SDN 002 Nongsa, involving 35 students. This study used a research design by Kemmis and Mc. Taggart, which consists of two cycles. Where in each cycle a class meeting is held and each cycle consists of four stages, namely planning, implementing, observing, and reflecting. The results showed that in the action cycle I obtained 14% classical completeness and 71. 43% classical absorption. In the second cycle of action, the classical completeness was obtained 85. 71% and the classical absorption rate was 91. This means that learning in cycle II has met the indicators of success with a minimum classical learning completeness value of 85% and casical absorption of 65%. Based on the average value of classical absorption and classical learning completeness in cycle II learning activities, it can be concluded that learning using the inquiry approach can improve student science learning outcomes at SDN 002 Nongsa. Keywords: Learning Outcomes. Inquiry Methods Abstrak: Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Terdiri beberapa aspek tindakan dan pengamatan utama yaitu peningkatan hasil belajar siswa dengan menggunakan metode Inkuiri. Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPA di SDN 002 Nongsa dengan penerapan metode Inkuiri. Penelitian dilaksanakan di SDN 002 Nongsa, melibatkan 35 orang siswa. Penelitian ini menggunakan desain penelitian Kemmis dan Mc. Taggart yang terdiri atas dua siklus. Di mana pada setiap siklus dilaksanakan satu kali pertemuan di kelas dan setiap siklus terdiri empat tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tindakan siklus I diperoleh ketuntasan klasikal 57,14% dan daya serap klasikal 71,43%. Pada tindakan siklus II diperoleh ketuntasan klasikal 85,71% dan daya serap klasikal 91,43%. Hal ini berarti pembelajaran pada siklus II telah memenuhi indikator keberhasilan dengan nilai Penerapan Metode Inquiry dalam Meningkatkan Hasil Belajar IPA Siswa Kelas VI SDN 002 Nongsa ketuntasan belajar klasikal minimal 85% dan daya serap kasikal 65% . Berdasarkan nilai rata-rata daya serap klasikal dan ketuntasan belajar klasikal pada kegiatan pembelajaran siklus II, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan pendekatan inkuiri dapat meningkatkan hasil belajar IPA siswa di SDN 002 Nongsa. Kata Kunci: Hasil Belajar. Metode Inkuiri PENDAHULUAN IPA merupakan ilmu yang membahas tentang gejala-gejala alam yang disusun secara sistematis yang didasari oleh fakta yang empiral pada hasil percobaan dan pengamatan yang dilakukan oleh manusia. IPA adalah ilmu pengetahuan yang telah diuji kebenarannya melalui metode ilmiah. Dengan kata lain, metode ilmiah merupakan ciri khusus yang menjadi identitas IPA. Oleh karena itu. Ilmu Pengetahuan Alam sebagai produk tidak dapat dipisahkan dari hakikatnya sebagai proses. Produk IPA adalah fakta, konsep-konsep, prinsipprinsip, hukum-hukum, dan teori-teori. Namun pada kenyataannya, pendidikan di Sekolah Dasar khususnya untuk pembelajaran IPA belum sesuai harapan. Hal ini disebabkan oleh masih banyak guru-guru Sekolah Dasar menyelenggarakan pembelajaran secara tidak menarik seperti dominasi metode ceramah yang menuntut peserta didik untuk mendengar, memperhatikan, dan mencatat penjelasan guru. Padahal proses pembelajaran merupakan peristiwa yang menyediakan berbagai kesempatan bagi peserta didik untuk terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran, karena proses belajar itu sendiri adalah perubahan perilaku yang menyangkut pengetahuan, sikap, dan keterampilan atau aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Pembelajaran inquiry adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analisa untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan. Proses berpikir itu sendiri biasanya dilakukan melalui tanya jawab antara guru dan Strategi pembelajaran ini biasa juga dinamakan strategi heuristic, yang berasal dari bahasa Yunani, yaitu heuriskein yang berarti saya menemukan (Sanjaya, 2006: . Sagala . 9: . yang mendefinisikan pendekatan inquiry merupakan strategi pembelajaran yang berupaya menanamkan dasar-dasar berfikir ilmiah pada diri siswa yang berperan sebagai subjek belajar, sehingga dalam proses pembelajaran ini siswa lebih banyak belajar sendiri, mengembangkan kreativitas dalam memecahkan masalah. Sedangkan Piaget (Mulyasa, 2008: . mendefinisikan pendekatan inquiry sebagai berikut: Pendekatan inquiry adalah pendekatan pembelajaran yang mempersiapkan siswa pada situasi untuk melakukan eksperimen sendiri secara luas agar melihat apa yang terjadi, ingin melakukan sesuatu, mengajukan pertanyaan- pertanyaan, dan mencari jawabannya sendiri, serta menghubungkan penemuan yang satu dengan penemuan yang lain, membandingkan apa yang ditemukannya dengan yang Victoria LENTERA: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. , 115-124 ditemukan peserta didik lain. Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa pendekatan inquiri adalah pendekatan pembelajaran di mana siswa didorong untuk belajar melalui keterlibatan aktif mereka sendiri dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip, dan guru mendorong siswa untuk memiliki pengalaman dan melakukan percobaan yang memungkinkan siswa menemukan prinsip untuk diri mereka sendiri. Menurut Sanjaya . 6: . , ada beberapa hal yang menjadi karakteristik utama dalam pendekatan pembelajaran inquiri, yaitu: menekankan kepada aktivitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan. Dalam proses pembelajaran, siswa tidak hanya berperan sebagai penerima pelajaran melalui penjelasan guru secara verbal, tetapi mereka berperan untuk menemukan sendiri inti dari materi pelajaran itu sendiri. Seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sikap percaya diri . elf Dengan demikian, pendekatan pembelajaran inquiry menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar akan tetapi sebagai fasilitator dan motivator belajar Tujuan dari penggunaan pendekatan inquiry dalam pembelajaran adalah mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis dan kritis atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental. Pendekatan pembelajaran inquiry memiliki beberapa komponen. Sebagaimana yang dikemukakan Garton . alam Mulyasa, 2008: . bahwa pembelajaran inquiry memiliki 5 komponen yang umum sebagai berikut. Question. Pembelajaran biasanya dimulai dengan sebuah pertanyaan pembuka yang memancing rasa ingin tahu siswa dan atau kekaguman siswa akan suatu Student Engangemen Dalam pendekatan inquiry, keterlibatan aktif siswa merupakan suatu keharusan dalam menciptakan sebuah produk dalam mempelajari suatu Cooperative Interaction Siswa diminta untuk berkomunikasi, bekerja berpasangan atau dalam kelompok, dan mendiskusikan berbagai gagasan. Performance Evaluation Dalam menjawab permasalahan, biasanya siswa diminta untuk membuat sebuah produk yang dapat menggambarkan pengetahuannya mengenai permasalahan yang sedang dipecahkan. Melalui produk-produk ini guru melakukan evaluasi. Variety of Resources Siswa dapat menggunakan bermacam-macam sumber belajar, misalnya buku teks, website, televisi, video, poster, wawancara dengan ahli, dan lain sebagainya. Penerapan Metode Inquiry dalam Meningkatkan Hasil Belajar IPA Siswa Kelas VI SDN 002 Nongsa Sanjaya . 6: . mengemukakan beberapa keunggulan dan kelemahan dalam pendekatan pembelajaran inquiry Keunggulan Pendekatan inquiry merupakan pembelajaran yang banyak dianjurkan karena strategi ini memiliki beberapa keunggulan, di antaranya: . Pendekatan inquiry merupakan strategi pembelajaran yang menekankan kepada pengembangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor secara seimbang, sehingga pembelajaran melalui strategi ini dianggap lebih bermakna. Pendekatan inquiry dapat memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya belajar mereka. Pendekatan inquiry merupakan strategi yang dianggap sesuai dengan perkembangan psikologi belajar modern yang menganggap belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya . Keuntungan lain adalah pendekatan ini dapat melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan diatas rata-rata. Artinya, siswa yang memiliki kemampuan belajar bagus akan terhambat oleh siswa yang lemah dalam belajar. Kelemahan Disamping memiliki keunggulan, pendekatan inquiry juga memiliki kelemahan, diantaranya: . jika pendekatan inquiry digunakan sebagai strategi pembelajaran, maka akan sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa. Strategi ini sulit dalam merencanakan pembelajaran oleh karena terbentur dengan kebiasaan siswa dalam belajar. Kadang-kadang dalam mengimplementasikannya, memerlukan waktu yang panjang sehingga sering guru sulit menyesuaikannya dengan waktu yang telah ditentukan. Selama kriteria keberhasilan ditentukan oleh kemampuan siswa menguasai materi pelajaran, maka pendekatan inquiry akan sulit diimplementasikan oleh setiap Sumaji (Bundu & Kasim, 2007: . memandang hasil belajar dari dua aspek, yakni aspek kognitif dan nonkognitif. Aspek kognitif adalah hal-hal yang berkaitan dengan pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan intelektual lainnya, sedangkan aspek nonkognitif erat kaitannya dengan sikap, emosi . , serta keterampilan fisik atau kerja otot . Hasil belajar pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil interaksi dengan lingkungan hasil belajar. Seseorang dikatakan belajar jika terjadi perubahan dalam dirinya yang meliputi aspek kognitif, afektif, dan Hasil belajar dapat dilihat pada proses maupun hasil . Tingkah laku sebagai hasil belajar juga tidak terlepas dari proses pembelajaran di kelas dan berbagai bentuk interaksi belajar lainnya di lingkungan sekolah. Proses belajar mengajar yang berotientasi pada keberhasilan tujuan memberikan rangsangan kepada siswa untuk berpartisipasi secara aktif, karena siswa merupakan subyek utama dalam belajar. Victoria LENTERA: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. , 115-124 Proses belajar mengajar di kelas mempunyai tujuan yang bersifat transaksional, artinya diketahui secara jelas dan operasional oleh guru dan siswa. Tujuan tercapai jika siswa memperoleh hasil belajar seperti yang diharapkan di dalam proses belajar mengajar tersebut. Oleh sebab itu, hasil belajar harus dirumuskan dengan baik untuk dapat dievaluasi pada akhir pembelajaran. Belajar adalah aktivitas mental yang berlangsung dalam interaksi anak dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan, sikap, dan nilai. Jadi hasil belajar adalah tingkat penguasaan yang dicapai siswa dalam mengikuti program belajar mengajar sesuai dengan tujuan pendidikan yang ditetapkan meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Jika ditelaah tujuan pendidikan IPA di Sekolah Dasar, dapat disimpulkan bahwa tujuan tersebut telah berorientasi pada teori hasil belajar tersebut diatas yakni pada pencapaian IPA dari segi produk, proses, dan sikap keilmiaan. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, karena peneliti melihat keefektifan pembelajaran IPA tentang energidengan menggunakan pendekatan Penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif yang diungkapkan Licon dan Guba dalam Mulyadi . 7: . mempunyai ciri-ciri yaitu: . latar alamiah, . manusia sebagai alat,. metode kualitatif, . analisis atau secara induktif, . teori dan dasar, . deskriptif, . lebih mementingkan proses dari pada hasil, . adanya: batasAy yang ditentukan oleh: fokusAy, . adanya kriteria khusus untuk keabsahan data, . desain yang bersifat sementara, . hasil penelitian dirunding dan disepakati bersama. Jenis Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Kemmis dan Taggart yang menyatakan bahwa proses penelitian dalam tindakan ini merupakan sebuah siklus atau proses daur ulang yang terdiri dari empat aspek fundamental. Diawali dari aspek mengembangkan perencanaan kemudian melakukan tindakan perencanaan, observasi/pengamatan terhadap tindakan, evaluasi dan diakhiri dengan melakukan refleksi. Penelitian tindakan kelas (PTK) ini dilaksanakan dengan mengambil lokasi atau tempat di SDN 002 Nongsa. Pemilihan sekolah tersebut dilatarbelakangi oleh: . lokasi sekolah terjangkau. sudah terjalin komunikasi yang harmonis antara kepala sekolah, guru, calon peneliti dan personil lainnya. Penelitian ini direncanakan selama 2 . Subyek penelitian ini adalah guru kelas VI. A dan seluruh siswa kelas VI. A SDN 002 Nongsa. Adapun jumlah siswa Kelas VI. A sebanyak 35 orang dengan rincian laki-laki 15 orang dan perempuan 20 orang. Memilih siswa kelas VI sebagai responden dengan alasan . tingkat perkembangan kongnitif usia 11-12 tahun sudah mempunyai kemampuan, . adanya variasi siswa, dilihat dari status sosial, pendidikan, dan pekerjaan orang tua mereka, adanya masalah yang dihadapi siswa Kelas VI dalam meningkatkan hasil belajar mereka dalam pelajaran IPA. Penerapan Metode Inquiry dalam Meningkatkan Hasil Belajar IPA Siswa Kelas VI SDN 002 Nongsa Sumber data dalam penelitian ini adalah siswa dan guru kelas VI SDN 002 Nongsa. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif dan kualitatif. Data tersebut diperoleh dengan menggunakan tehnik tes, wawancara, observasi dan dokumentasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Tindakan Siklus I Kegiatan yang dilaksanakan pada pembelajaran mengenai energi dengan menggunakan metode inkuiri pada tindakan siklus I meliputi perencanaan, pelaksanaan, observasi, evaluasi, dan analisis refleksi. Pelaksanaan pembelajaran mengenai energi menggunakan metode inkuiri di kelas VI SDN 002 Nongsa untuk tindakan siklus I dilaksanakan dua jam pelajaran dengan alokasi waktu 2 x 35 menit. Dalam pelaksanaan tindakan siklus I ini peneliti bertindak sebagai praktisi . yang melaksanakan pembelajaran. Guru dalam mengajarkan materi Energi, berorientasi pada langkah-langkah pembelajaran yang menggunakan metode inkuiri dalam rangka meningkatkan pemahaman siswa yang antara lain: . orientasi siswa kepada masalah, . merumuskan masalah, . mengajukan hipotesis, . mengumpulkan data, . menguji hipotesis, dan . menarik kesimpulan. Keenam langkah pembelajaran metode inkuiri tersebut tersebut terbagi dalam 3 tahapan pembelajaran yaitu tahap kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir pembelajaran. Temuan penelitian tentang keberhasilan guru dalam menggunakan metode inkuiri dalam pembelajaran materi energi, pada tindakan siklus I menunjukkan bahwa, dari 20 indikator yang direncanakan terdapat 11 . %) indikator yang dapat dilaksanakan dengan baik, yaitu: . Mengkondisikan siswa untuk siap mengikuti pelajaran sains, . Menyampaikan materi yang akan dipelajari, . Menjelaskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai, . Memberikan beberapa pertanyaan, . Memberi kesempatan kepada setiap siswa untuk menjawab pertanyaan, . Menjelaskan kepada siswa untuk melakukan kegiatan percobaan, . Membagi siswa menjadi beberapa kelompok, . Menjelaskan alat dan bahan yang akan diperlukan dalam percobaan, . Menjelaskan langkah-langkah dari percobaan, . Memberi kesempatan kepada setiap kelompok untuk mengemukakan hasil percobaannya, . Guru melaksanakan penilaian. Berdasarkan hasil observasi terhadap kegiatan peneliti ada 9 . %) butir indikator yang belum dilaksanakan secara optimal. Guru tidak melaksanakan keseluruhan indikator yang telah ditetapkan, dikarenakan guru belum mengimplementasikan rencana pembelajaran mengenai energi dalam suatu metode inkuiri secara maksimal. Berdasarkan data dari tindakan siklus I, dapat disimpulkan bahwa pencapaian implementasi rencana pembelajaran mengenai konsep energicair dengan menggunakan metode inkuiri pada aspek guru adalah dari 20 indikator Victoria LENTERA: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. , 115-124 yang direncanakan dapat dilaksanakan, guru dapat melaksanakan 12 indikator. Berdasarkan hal tersebut maka kinerja yang dilakukan oleh guru selama proses pembelajaran berlangsung dapat dikategorikan cukup. Secara rinci aktivitas guru melaksanakan pembelajaran pada tindakan siklus I. Aktivitas guru pada tindakan siklus I berpengaruh pada keberhasilan siswa dalam melakukan aktivitas belajar, serta bepengaruh pada peningkatan pemahaman siswa mengenai energi. Pada tindakan siklus I diharapkan siswa mampu melakukan 10 indikator yang telah ditetapkan untuk keseluruhan siswa kelas VI. A SDN 002 Nongsa yang berjumlah 35 orang siswa. Berdasarkan observasi tersebut, aktivitas siswa Kelas VI selama proses pembelajaran mengenai energi dapat dikategorikan kurang. Hal ini disebabkan karena siswa belum terbiasa dengan metode inkuiri yang dilaksanakan oleh guru sehingga siswa kurang memberikan respon. Oleh karena itu, data observasi siswa tersebut akan dianalisis sehingga akan menjadi bahan refleksi pada pembelajaran mengenai energi pada tindakan siklus II. Hasil kerja siswa pada tindakan siklus I, menunjukkan bahwa tingkat pemahaman siswa dalam memahami energi belum sesuai dengan yang diharapkan. Hal ini terlihat dari pemahaman siswa dalam mengemukakan jawaban dari soal yang diberikan secara tertulis, belum sesuai dengan indikator keberhasilan yang telah ditetapkan yaitu apabila siswa secara keseluruhan memperoleh nilai rata-rata kelas 70 % dengan nilai masing-masing setiap subjek penelitian memperoleh nilai paling Dari data hasil jawaban siswa tersebut terungkap bahwa siswa belum dapat memahami materi dengan baik. Data hasil tes formatif tindakan siklus I yang diberikan untuk materi energi yakni semua tidak tuntas. Sehingga nilai ratarata yang diperoleh siswa hanya 6,08%. Berdasarkan data dari tindakan siklus I, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa dalam memahami materi energi dikategorikan Cukup (C). Hal ini dikarenakan guru belum mengimplementasikan rencana pembelajaran secara maksimal, olehnya itu pembelajaran dilanjutkan kesiklus berikutnya . iklus II). Tindakan Siklus II Pelaksanaan pembelajaran mengenai materi energi dengan menggunakan metode inkuiri di kelas VI SDN 002 Nongsa untuk tindakan siklus II dilaksanakan dua jam pelajaran dengan alokasi waktu 2 x 35 menit. Dalam pelaksanaan tindakan siklus II ini peneliti bertindak sebagai praktisi yang melakukan pembelajaran . bertindak sebagai pengamat. Guru dalam mengajarkan materi energi, berorientasi pada langkah-langkah pembelajaran yang menggunakan metode inkuiri dalam rangka meningkatkan pemahaman siswa yang antara lain: . orientasi siswa kepada masalah, . merumuskan masalah, . mengajukan hipotesis, . mengumpulkan data, . menguji hipotesis, dan . menarik kesimpulan. Keenam langkah pembelajaran metode inkuiri tersebut tersebut terbagi dalam 3 kegiatan pembelajaran yaitu kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir pembelajaran. Penerapan Metode Inquiry dalam Meningkatkan Hasil Belajar IPA Siswa Kelas VI SDN 002 Nongsa Temuan penelitian tentang keberhasilan peneliti menggunakan metode inkuiri dalam pembelajaran mengenai energi, pada tindakan siklus II menunjukkan bahwa, dari 20 indikator yang direncanakan terdapat 20 . %) indikator yang dapat dilaksanakan dengan baik. Guru dapat mampu melaksanakan 20 indikator disebabkan karena guru telah memahami secara mendalam tentang penerapan metode inkuiri dalam permbelajaran mengenai konsep energi cair. Selain itu, kemampuan menguasai diskusi kelas membuat guru lebih mudah dalam membimbing siswa dalam proses pembelajaran. Berdasarkan data dari tindakan siklus II, dapat disimpulkan bahwa pencapaian implementasi rencana pembelajaran mengenai konsep energicair dengan menggunakan metode inkuiri pada aspek guru adalah dari 20 indikator yang direncanakan dapat dilaksanakan, guru dapat melaksanakan 18 indikator. Berdasarkan hal tersebut maka kinerja yang dilakukan oleh guru selama proses pembelajaran berlangsung dapat dikategorikan sangat baik. Secara rinci keberhasilan aktivitas guru melaksanakan proses pembelajaran pada tindakan siklus II. Aktivitas guru pada tindakan siklus II berpengaruh pada keberhasilan siswa dalam melakukan aktivitas belajar, serta bepengaruh pada peningkatan pemahaman siswa mengenai konsep energicair. Pada tindakan siklus II diharapkan siswa mampu melakukan 10 indikator yang telah ditetapkan untuk keseluruhan siswa kelas VI SDN 002 Nongsa yang berjumlah 35 orang siswa. Berdasarkan data hasil observasi pengamat terhadap siswa Kelas VI sebagai subjek penelitian yang berjumlah 35 orang siswa pada pembelajaran mengenai konsep energicair pada tindakan siklus II menunjukkan bahwa dari 10 indikator yang direncanakan, siswa telah dapat melaksanakan ke sepuluh indikator tersebut dengan baik. Berdasarkan observasi siswa tersebut, maka aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung dapat dikategorikan Sangat Baik (SB). Hasil kerja siswa pada tindakan siklus II, menunjukkan bahwa pemahaman siswa dalam memahami perpindahan energi sudah sesuai dengan yang diharapkan. Hal ini terlihat dari pemahaman siswa dalam mengemukakan jawaban dari soal yang diberikan secara tertulis, telah sesuai dengan indikator keberhasilan yang telah ditetapkan yaitu apabila siswa secara keseluruhan memperoleh nilai rata-rata kelas 70 % dengan nilai masing-masing setiap subjek penelitian memperoleh nilai paling rendah 7. Dari data hasil jawaban siswa tersebut terungkap bahwa siswa telah memahami materi energi dengan baik. Data hasil tes formatif tindakan siklus II yang diberikan untuk materi mengenai konsep energicair, yakni 8 orang siswa memperoleh nilai 7, 12 orang siswa memperoleh nilai 8, 10 orang siswa memperoleh nilai 9, dan 5 orang siswa memperoleh nilai 10. Dengan nilai rata-rata yang diperoleh siswa mencapai 8,34. Berdasarkan data dari tindakan siklus II, hasil belajar siswa dalam memahami energi dikategorikan sangat baik. Hal ini dikarenakan guru telah mampu mengimplementasikan rencana pembelajaran secara maksimal sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran metode inkuiri sehingga pemahaman Victoria LENTERA: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. , 115-124 siswa mengenai materi energi telah mengalami peningkatan. Analisis dan refleksi di atas dan mengacu pada indikator keberhasilan yang ditetapkan. Disimpulkan bahwa pembelajaran sudah berhasil. Dengan demikian tujuan pembelajaran yang ditetapkan sudah tercapai. Hal ini bahwa kegiatan pada penelitian ini dilanjutkan dengan pemberian tes akhir dari keseluruhan tindakan yang mencakup pokok bahasan mengenai energi. Soal tes akhir sama dengan soal yang diberikan pada tes awal penelitian. Hasil tes akhir siklus II menunjukan bahwa siswa memperoleh peningkatan pemahaman yang baik tentang energi. Hal ini ditunjukan dari soal yang tidak dapat dikerjakan pada tes awal, ternyata setelah tes akhir semua soal tersebut dikerjakan dengan benar. Pembahasan Sebelum melaksanakan pembelajaran, peneliti memberikan tes awal yang diikuti oleh siswa kelas VI SDN 002 Nongsa yang berjumlah 35 orang siswa. Tes awal dimaksudkan untuk mengetahui seberapa jauh tingkat pemahaman siswa terhadap materi. Dari hasil tes awal ini diperoleh informasi bahwa secara umum siswa belum memahami materi. Kurangnya pemahaman siswa terhadap materi disebabkan oleh pola pembelajaran sebelumnya. Pola pembelajaran yang dilakukan selama ini, guru lebih banyak mendominasi pembelajaran dengan menjelaskan materi sedangkan siswa lebih sering sebagai hanya sebagai pendengar dari penjelasan guru. Akibat pembelajaran ini, sebagian besar siswa cenderung menghafal sehingga pengetahuan yang diterima mudah dilupakan. Melalui belajar hafalan siswa tidak dapat mengaitkan informasi yang diperoleh ke dalam struktur kognitifnya, sehingga informasi ini tidak dapat diendapkan. Selain itu siswa hanya dapat mengingat fakta- fakta yang sederhana. Kegiatan orientasi siswa merupakan langkah untuk membina suasana atau iklim pembelajaran yang responsif sehingga siswa siap mengikuti proses pembelajaran di dalam kelas. Pada setiap akhir tindakan, guru memberikan tes formatif guna mengetahui sejauh mana tingkat pemahaman siswa mengenai materi. Hasil kinerja siswa dalam mengerjakan tes formatif pada tindakan siklus I rata-rata nilai siswa hanya mencapai 6,08 dengan kualifikasi cukup (C). Berdasarkan hasil tersebut, maka disimpulkan bahwa pelaksanaan tindakan siklus I belum berhasil. Pada tindakan siklus II pembelajaran mengenai konsep energicair mengalami peningkatan. Dalam pembelajaran tindakan skilus II guru sudah mampu melaksanakan pembelajaran dengan enam langkah metode inkuiri dengan baik. Keberhasilan siklus II mencapai kualifikasi Baik (B), hal ini dilihat dari kemampuan siswa dalam mengemukakan jawaban dari pertanyaan yang diberikan guru selama proses pembelajaran sudah mencapai indikator keberhasilan yang diharapkan yakni 8,34. Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa siswa dalam mengikuti pembelajaran mengenai energi melalui pembelajaran yang menggunakan metode Penerapan Metode Inquiry dalam Meningkatkan Hasil Belajar IPA Siswa Kelas VI SDN 002 Nongsa inkuiri menunjukan hasil yang positif. Para siswa termotivasi untuk belajar sehingga siswa lebih memahami konsep energi cair. Hal ini disebabkan karena siswa selama pembelajaran terlibat secara aktif dalam rangka mencari dan menemukan sendiri berda-benda yang menghasilkan energi. Hal ini sejalan dengan apa yang dinyatakan oleh pendapat Piaget (Sanjaya, 2006:. yang mengemukakan bahwa Pengetahuan itu akan bermakna manakala dicari dan ditemukan sendiri oleh siswa, sehingga konsep yang telah dipelajari oleh akan tertanam kuat dalam benak siswa. Dengan demikian, tujuan pembelajaran dalam upaya membantu mengatasi kesulitan siswa dalam memahami materi. SIMPULAN Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah diuraikan, dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan metode inkuiri dapat meningkatkan pemahaman konsep pada siswa kelas VI SDN 002 Nongsa. Hal ini dapat dilihat dari kemampuan siswa dalam menjawab soal dimana pada setiap siklusnya mengalami peningkatan yang cukup signifikan, yakni pada tes awal tingkat pemahaman siswa hanya mencapai 4,30 dengan kualifikasi Kurang (K), pada tindakan siklus I tingkat pemahaman siswa mencapai 6,08 dengan kualifikasi Cukup (C) sedangkan pada tindakan siklus II tingkat pemahaman siswa mencapai mencapai 8,34 dengan kualifikasi Baik (B). Selanjutnya pada pelaksanaan tes akhir tingkat pencapaian siswa mencapai 9,5 dengan kualifikasi Sangat Baik (SB). DAFTAR PUSTAKA