Vol 8. No 1. September 2025. org/10. 38189/jtbh. ISSN 2654-5691 . 2656-4904 . Available at: e-journal. id/index. php/jbh Antara Analogia Fidei dan Analogia Antecedents: Analisis Hermeneutika Walter C. Kaiser. Jr. dalam Dialog dengan Hermeneutika Pentakostal Otniel Kharisma Yudhistira Kurniawan1 otnielkharisma28101990@gmail. Jonar Situmorang2 situmorang@gmail. Abstract This article is written to examine the hermeneutical approach of Walter C. Kaiser. Jr. , in his critique of the use of analogy of faith . nalogia fide. as the main interpretive tool in biblical Kaiser proposed Analogia Antecedents as an alternative to interpreting the Bible based on previously revealed texts chronologically. The aim is to maintain the historical intent and the true intent . of the original author. The research in this article uses a qualitative literature study method with a comparative analysis approach to Kaiser's main works and hermeneutical literature from the Pentecostal tradition. Through comparative analysis, it was found that both still adhere to the authority of the Bible, but both offer different heuristic methodologies in interpreting the text, where one emphasizes the structure of progressive revelation, while the other gives place to pneumatologically The conclusion obtained is that these two approaches have their respective strengths and limitations, but both open opportunities for rich integration between faithfulness to the text and sensitivity to the role of the Holy Spirit in biblical interpretation. Keywords: Walter C. Kaiser. analogia fidei. analogia antecedents. Pentecostal progressive revelation Abstrak Artikel ini ditulis untuk mengkaji pendekatan hermeneutika Walter C. Kaiser. Jr. , dalam kritiknya terhadap penggunaan analogi iman . nalogia fide. sebagai alat tafsir utama dalam teologi biblika. Kaiser memberi usulan analogia antecedents sebagai alternatif untuk menafsirkan Alkitab berdasarkan teks-teks yang telah diwahyukan sebelumnya secara Tujuannya untuk menjaga maksud historis dan maksud sebenarnya . dari penulis aslinya. Penelitian dalam artikel ini menggunakan metode kualitatif melalui studi pustaka dengan pendekatan analisis komparatif terhadap karya-karya utama Kaiser dan literatur hermeneutika dari tradisi Pentakostal. Melalui analisis komparatif, didapatkan hasil bahwa keduanya tetap berpegang pada otoritas Alkitab, namun keduanya menawarkan metodologi heuristik yang berbeda dalam menafsirkan teks, dimana yang satu menekankan struktur wahyu progresif, sementara yang lain memberi tempat pada pengalaman Kesimpulan yang didapat adalah bahwa kedua pendekatan ini memiliki kekuatan dan keterbatasan masing-masing, namun keduanya membuka peluang integrasi Sekolah Tinggi Alkitab Jember Sekolah Tinggi Alkitab Jember CopyrightA 2025. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Jurnal Teologi Berita Hidup. Vol 8. No 1. September 2025 yang kaya antara kesetiaan pada teks dan kepekaan terhadap peran Roh Kudus dalam penafsiran Alkitab. Kata-kata kunci: Walter C. Kaiser. analogia fidei. analogia antecedents. Pentakostal. wahyu progresif PENDAHULUAN Salah satu prinsip yang paling berpengaruh dan diwarisi oleh tradisi Reformasi untuk membantu menafsirkan Alkitab adalah Analogia Fidei . nalogi ima. Berkhof mendefinisikan analogia fidei sebagai aturan bahwa Alkitab harus menafsirkan dirinya sendiri, dan bahwa makna teks-teks yang tidak jelas atau kabur harus ditentukan berdasarkan bagian-bagian yang lebih jelas, dan selalu selaras dengan sistem doktrin umum yang diwahyukan dalam Alkitab. 3 Senada dengan pernyataan tersebut. Grudem mendefinisikan analogia fidei dengan menyatakan bahwa Alkitab harus menafsirkan Alkitab, dan ketika mempertimbangkan satu bagian, maka penafsir harus mengingat ajaran-ajaran dari keseluruhan Alkitab4. Hal serupa juga dikemukakan oleh Vanhoozer dalam buku Dictionary for Theological Interpretation of The Bible, yang mengatakan bahwa analogia fidei adalah prinsip penafsiran bahwa teks-teks Alkitab harus ditafsirkan berdasarkan seluruh kanon dan kebenaran-kebenaran mendasar dari iman Kristen5. Dengan demikian, secara sederhana analogia fidei dapat dimaknai sebagai pemahaman bahwa tidak ada bagian dari Alkitab yang dapat ditafsirkan dengan cara yang bertentangan dengan ajaran keseluruhannya. Analogia fidei mengandaikan kesatuan dan hubungannya dengan wahyu Alkitab. Prinsip analogia fidei ini telah menjadi landasan tafsir bagi banyak aliran teologi, terutama bagi kalangan Reformed. Meski sudah dijadikan sebagai landasan tafsir oleh banyak aliran teologi, namun pendekatan ini tidaklah terlepas dari adanya kritik. Salah satu kritik yang paling berpengaruh dikemukakan oleh Walter C. Kaiser. Jr. , seorang tokoh ahli dalam Perjanjian Lama. Baginya analogia fidei memiliki risiko besar untuk memaksakan makna teologis dari teks yang belum diwahyukan pada saat dituliskan. Dalam bukunya Toward an Exegetical Theology. Kaiser menyatakan bahwa pendekatan hermeneutika seharusnya berakar pada teks-teks yang sudah lebih dahulu Louis Berkhof. Principles of Biblical Interpretation (Michigan: Baker Academic, 2. Grudem Wayne. Systematic Theology An Introduction To Biblical (Grand Rapids: Inter-Vassity Press, 1. Kevin J. Vanhoozer. Dictionary for Theological Interpretation of the Bible (Baker Academic. Walter C. Kaiser. The Uses of the Old Testament in the New (Wipf and Stock, 2. CopyrightA 2025. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Otniel Kharisma Yudhistira Kurniawan. Jonar Situmorang: Antara Analogia Fidei dan Analogia Antecedents: Analisis Hermeneutika Walter C. Kaiser. Jr. diwahyukan secara historis . nalogia antecedent. , bukan pada sistem teologi yang dibentuk dari keseluruhan Alkitab. 7 Dengan demikian. Kaiser mempertegas pentingnya wahyu progresif . rogressive revelatio. , yaitu bahwa Allah menyatakan kebenaran secara bertahap sesuai kronologi sejarah keselamatan. Di sisi lain, dalam tradisi hermeneutika Pentakostal, mereka lebih menitikberatkan pada dimensi pengalaman akan keberadaan Allah melalui kehadiran Roh Kudus. 9 Fokus tafsir tidak hanya diletakkan pada teks dan struktur wahyu, tetapi juga pada peran Roh Kudus sebagai pribadi atau perantara yang dipakai Allah untuk memberikan hikmat atau pencerahan rohani kepada manusia, yaitu untuk memungkinkan pemahaman yang benar akan kebenaran ilahi, khususnya firman Tuhan, sehingga manusia dapat menerima, memahami, dan menaati firman Allah secara rohani dan bukan hanya secara intelektual. Lebih jelasnya, hermeneutika Pentakostal sering kali menggabungkan dimensi tekstual dengan aspek naratif, profetik, dan pneumatologis, yang memberikan warna khas dalam proses penafsiran. 11 Namun pada kenyataannya pendekatan ini juga banyak dikritik karena dianggap terlalu subjektif dan minim kerangka historis-kritis. Dalam ketegangan inilah muncul beberapa pertanyaan penting yang menyatakan keraguan mengenai apakah analogia fidei masih relevan dan akurat sebagai alat heuristik utama dalam tafsir Alkitab, atau memang penggunaannya perlu digantikan atau dikoreksi dengan pendekatan yang lebih berhati-hati secara historis dan tekstual, seperti yang dikemukakan oleh Kaiser. Selain itu, pertanyaan lain yang mengiringi perkembangan ini adalah mengenai bagaimana pendekatan Pentakostal dapat berkontribusi atau justru mengontraskan metodologi Kaiser dalam memahami Alkitab. Perbedaan mendasar antara ketiga pendekatan hermeneutis ini menegaskan arah Analogia fidei, sebagaimana ditegaskan oleh Berkhof12 dan Vanhoozer13 menjaga kesatuan iman kanonik dengan prinsip Alkitab menafsirkan dirinya sendiri . criptura sui Walter C. Kaiser. Toward an Exegetical Theology: Biblical Exegesis for Preaching and Teaching (Grand Rapids: Baker Academic, 1. Walter C. Kaiser. The Promise-Plan of God: A Biblical Theology of the Old and New Testaments (Zondervan Academic, 2. Jefri H. R Katu. AuHermeneutika Teologi Pentakosta,Ay Jurnal Teologi Amreta 1, no. : 9Ae36. Kenneth Archer. A Pentecostal Hermeneutic for the Twenty First Century: Spirit. Scripture and Community (Journal of Pentecostal Theology Supplement Serie. (London: T&T Clark, 2. Amos Yong. Spirit-Word-Community: Theological Hermeneutics in Trinitarian Perspective (Burlington: Wipf and Stock, 2. Berkhof. Principles of Biblical Interpretation. Vanhoozer. Dictionary for Theological Interpretation of the Bible. CopyrightA 2025. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Jurnal Teologi Berita Hidup. Vol 8. No 1. September 2025 ipsius interpre. 14, yaitu bahwa bagian-bagian Alkitab yang kabur harus ditafsirkan oleh bagian lain yang lebih jelas dalam terang keseluruhan ajaran iman, meskipun hal ini berisiko menekan makna asli teks dengan kerangka dogmatis. Analogia antecedents yang ditawarkan Walter C. Kaiser menekankan kronologi wahyu progresif, sehingga setiap teks ditafsirkan berdasarkan wahyu sebelumnya demi historis-gramatikal Sebaliknya. Pentakostal menempatkan peran Roh Kudus dalam memberi pencerahan kontemporer bagi komunitas iman, sehingga tafsir tidak berhenti pada aspek kognitif, tetapi juga menyentuh dimensi transformatif. 16 Perbedaan ini justru membuka ruang dialog, yaitu analogia fidei memberi kerangka kanonik, analogia antecedents menjaga kronologi wahyu, dan hermeneutika Pentakostal menghadirkan kepekaan pneumatologis. Integrasi ketiganya memperkaya tafsir Alkitab dengan memadukan stabilitas tekstual, kesetiaan kanonik, dan dinamika Roh Kudus yang hidup. Dengan demikian, artikel ini menawarkan novelty dalam bentuk dialog hermeneutis antara kritik Walter C. Kaiser terhadap analogia fidei dan pendekatan pneumatologis Pentakostal. Dengan mempertemukan kesetiaan Kaiser pada teks dan penekanan Pentakostal pada pengalaman Roh Kudus, artikel ini berkontribusi pada pengembangan paradigma tafsir yang integratif, yaitu menjaga stabilitas makna historis sekaligus membuka ruang bagi dinamika iluminasi rohani. Urgensi penelitian ini terletak pada upaya menemukan titik temu antara ketepatan historis dan kesetiaan eksegesis dengan keterbukaan pada pengalaman Roh Kudus, sehingga tafsir Alkitab tidak hanya bersifat kognitif, tetapi juga transformatif. Harapannya, pendekatan ini tidak hanya memperkaya khazanah akademik hermeneutika biblika, tetapi juga memberikan kontribusi praktis bagi gereja masa kini dalam menghidupi firman secara setia dan transformatif. Philip G. Ziegler. AuOn the Present Possibility of Sola Scriptura,Ay International Journal of Systematic Theology 24, no. : 565Ae583. Kaiser. Toward an Exegetical Theology: Biblical Exegesis for Preaching and Teaching. Kaiser. The Promise-Plan of God: A Biblical Theology of the Old and New Testaments. Archer. A Pentecostal Hermeneutic for the Twenty First Century: Spirit. Scripture and Community (Journal of Pentecostal Theology Supplement Serie. Yong. Spirit-Word-Community: Theological Hermeneutics in Trinitarian Perspective. Craig S. Keener. Spirit Hermeneutics: Reading Scripture in Light of Pentecost (Grand Rapids: Eerdmans, 2. CopyrightA 2025. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Otniel Kharisma Yudhistira Kurniawan. Jonar Situmorang: Antara Analogia Fidei dan Analogia Antecedents: Analisis Hermeneutika Walter C. Kaiser. Jr. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi pustaka . ibrary researc. 17 Alasan penggunaan pendekatan kualitatif adalah karena fokus utama pada kajian ini adalah penelusuran, analisis, dan interpretasi terhadap gagasan teologis milik Walter C. Kaiser. Jr. mengenai prinsip analogia antecedents dan kritiknya terhadap analogia fidei, juga dalam menempatkannya pada dialog dengan pendekatan hermeneutika dalam tradisi Pentakostal. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk mengeksplorasi makna di balik teks dan dokumen secara mendalam dan konteks teologis historis. Studi pustaka dipilih karena sumber data utama berasal dari literatur tertulis, seperti buku, jurnal dan dokumen akademik lainnya. 19 Sumber primer yang digunakan dalam penelitian ini adalah karya-karya utama dari Walter C. Kaiser. Jr. seperti Toward an Exegetical Theology dan The Uses of the Old Testament in the New, juga tulisan-tulisan yang mewakili pendekatan hermeneutika Pentakostal, seperti tulisan Kenneth J. Archer dan Amos Yong. Sementara sumber sekunder terdiri dari buku-buku metodologi penelitian, artikel jurnal ilmiah, serta tulisan-tulisan lain yang membahas tema serupa. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis konten atau isi . ontent analysi. dengan menggunakan pendekatan hermeneutika historis-komparatif. Langkah-langkah yang dilakukan adalah dimulai dengan melakukan interpretasi terhadap pemikiran Kaiser mengenai prinsip-prinsip hermeneutikanya, khususnya kritik terhadap analogia fidei dan usulan analogia antecedents. Kemudian melakukan perbandingan dengan pendekatan hermeneutika Pentakostal yang menekankan aspek pneumatologis dan pengalaman iman dalam menafsirkan Alkitab. Analisis yang dilakukan ini tidak bertujuan untuk mencari pertentangan polemis, tetapi untuk merumuskan sebuah dialog teologis yang produktif antara dua pendekatan tersebut. Untuk memperjelas hasil pembacaan, data-data tersebut kemudian dianalisis secara tematis berdasarkan kategori, yaitu struktur wahyu, otoritas teks, peran Roh Kudus dalam tafsir, serta fungsi iman dan pengalaman dalam hermeneutika. 21 Selanjutnya, data-data Zed Mestika. Metode Penelitian Kepustakaan (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2. Lexy J. Moleong. Metodologi Penelitian Kualitatif, ed. revisi (Bandung: Remaja Rosdakarya. Mestika. Metode Penelitian Kepustakaan. Sugiyono. Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif. Kualitatif, dan R&D) (Bandung: Alfabeta, 2. Burhan Bungin. Metodologi Penelitian Kualitatif: Aktualisasi Metodologis ke Arah Ragam Varian Kontemporer (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2. CopyrightA 2025. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Jurnal Teologi Berita Hidup. Vol 8. No 1. September 2025 tersebut dijelaskan secara naratif dan dikaitkan dengan temuan-temuan literatur lainnya yang Penelitian ini juga bersifat reflektif-eksploratif, yang berarti penelitian ini tidak dimaksudkan untuk menguji hipotesis berdasarkan pengalaman, melainkan untuk menilai dan menyusun kerangka teoritis baru yang bersifat kontekstual berdasarkan telaah kritis terhadap sumber-sumber literatur yang digunakan. 22 Melalui pendekatan ini, penelitian ini diharapkan dapat memberi kontribusi terhadap pengembangan metode tafsir Alkitab yang bersifat tekstual sekaligus terbuka terhadap dinamika spiritualitas kontemporer. HASIL DAN PEMBAHASAN Struktur Pewahyuan: Antara Wahyu Progresif dan Pewahyuan Pneumatik Walter C. Kaiser. Jr. adalah salah satu tokoh penting dalam teologi Perjanjian Lama yang secara konsisten menekankan tentang wahyu progresif sebagai kunci untuk memahami Alkitab. Istilah wahyu progresif memang digunakan oleh Kaiser secara eksplisit dalam beberapa karyanya. Tujuan penggunaannya adalah untuk menjelaskan cara Allah menyatakan kebenaran secara bertahap di sepanjang sejarah Alkitab kepada umat manusia. Salah satu penggunaannya ia jelaskan dalam Toward an Exegetical Theology, dimana Kaiser menuliskan: AuThe Scriptures display a progressive revelation in which the divine will is disclosed gradually in successive stages of redemptive historyAy. 23 Artinya bahwa kebenaran Allah tidaklah diwahyukan sekaligus, melainkan secara bertahap . , sejalan dengan konteks historis dan kemampuan manusia untuk memahami. Prinsip ini menjadi dasar analogia antecedents, yaitu setiap teks ditafsirkan berdasarkan wahyu yang sudah tersedia sebelumnya bukan berdasarkan dogma teologi yang terbentuk belakangan. Kaiser menegaskan bahwa stabilitas makna terjamin apabila penafsiran tunduk pada kronologi Selain itu, ia juga memperjelasnya dengan mengatakan AuScripture has a progressive, unfolding revelation that must be interpreted in light of what had already been revealed to that pointAy. 24 (Alkitab memiliki wahyu yang progresif dan terus berkembang yang harus ditafsirkan berdasarkan apa yang telah diwahyukan hingga saat it. Pendekatan ini kemudian dikenal sebagai analogia antecedents, yaitu bahwa Alkitab harus ditafsirkan Nana S. Sukmadinata. Metode Penelitian Pendidikan (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2. Kaiser. Toward an Exegetical Theology: Biblical Exegesis for Preaching and Teaching. Kaiser. CopyrightA 2025. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Otniel Kharisma Yudhistira Kurniawan. Jonar Situmorang: Antara Analogia Fidei dan Analogia Antecedents: Analisis Hermeneutika Walter C. Kaiser. Jr. berdasarkan wahyu sebelumnya, bukan berdasarkan tafsir kemudian atau sistem teologis yang sudah terbentuk. Kaiser menyatakan bahwa analogia antecedents sangatlah penting untuk menjaga agar teks tidak ditarik keluar dari konteks aslinya. Secara eksplisit, ia juga menolak pendekatan analogia fidei, yang menafsirkan Alkitab berdasarkan kesesuaian dengan keseluruhan sistem teologis atau iman gereja. Kaiser menilai kelemahan analogia fidei terletak pada kecenderungannya memaksakan kerangka teologi yang lebih belakangan ke atas teks yang belum sampai pada tahap perkembangan itu. Karena itu, ia menawarkan analogia antecedents sebagai AukendaliAy yang lebih baik untuk menjaga makna teks sesuai kronologi wahyu. Dalam analogia antecedents, setiap teks harus dimengerti sebagaimana pemahaman pembacanya pada masa itu. Penekanan ini sejalan dengan apa yang disebut dengan historisitas teks, di mana teks Alkitab berasal dari konteks sejarah, budaya, sosial, dan linguistik tertentu, dan penafsiran harus mempertimbangkan hal-hal tersebut,26 dengan kata lain, setiap bagian Alkitab adalah bagian dari perjalanan wahyu yang bertahap dan kronologinya adalah penting dan tidak boleh diabaikan. Pada kenyataannya Analogi Antecedents ini mendapat tantangan dari kalangan Pentakostal, yang menekankan bahwa pewahyuan tidak berhenti pada teks, akan tetapi pewahyuan tersebut tetap berlanjut dalam kehidupan gereja melalui karya Roh Kudus. Hal ini dinyatakan oleh Kenneth Archer, seorang teolog Pentakostal, yang menegaskan bahwa hermeneutika Pentakostal tidak memandang Alkitab sekedar dokumen historis, melainkan firman yang hidup dan dibaca dalam terang pengalaman komunitas yang dipenuhi Roh Kudus. Dalam hal ini. Archer tidak menolak wahyu progresif, namun ia menambahkan bahwa Roh Kudus masih bekerja untuk membuka makna teks bagi umat percaya masa kini. Di sinilah terlihat adanya perbedaan fundamental, di mana Kaiser menekankan sejarah pewahyuan sebagai acuan utama, sementara pendekatan Pentakostal membuka kemungkinan penerimaan pewahyuan kontemporer melalui Roh Kudus. Di sisi lain, hermeneutika Pentakostal menekankan peran Roh Kudus dalam membuka makna teks Kaiser. Toward an Exegetical Theology: Biblical Exegesis for Preaching and Teaching, 134. Anugrah S. Zendrato. Yusuf Tandi, dan Milla W. K Wardhani. AuStudi Hermeneutika Dalam Analisis Teks Dan Konteks (Studi Pengantar Tafsir Biblik. ,Ay SERVIRE: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat 1, no. : 57Ae73, https://jurnal. id/index. php/servire/article/view/99. Archer. A Pentecostal Hermeneutic for the Twenty First Century: Spirit. Scripture and Community (Journal of Pentecostal Theology Supplement Serie. , 57. CopyrightA 2025. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Jurnal Teologi Berita Hidup. Vol 8. No 1. September 2025 secara kontemporer. Bagi Pentakostal, teks adalah firman hidup yang terus berbicara kepada komunitas melalui Roh Kudus. Dengan demikian, terlihat ketegangan antara Kaiser yang menekankan historisitas teks, sedangkan Pentakostal menekankan dinamika pneumatologis dan pengalaman iman. Senada dengan hal itu. Petersen juga mengatakan bahwa kaum Pentakosta membaca dan menafsirkan teks-teks Alkitab dengan cara melihat ke belakang dan ke depan dalam pengalaman mereka terhadap teks-teks tersebut di mana mereka menarik sebuah aplikasi praktis28 sebagai praktik spiritualis, artinya bahwa mereka mengambil tindakan nyata sebagai sarana untuk bertumbuh dalam kerohanian. Otoritas Teks dan Penafsiran: Antara Kaiser dan Hermeneutika Pneumatik Otoritas teks dipandang oleh Kaiser sebagai sumber utama dalam teologi dan Ia menyatakan bahwa maksud ilahi harus ditemukan melalui maksud penulis manusia, karena Allah memilih untuk berkomunikasi melalui instrumen bahasa manusia. Pernyataan ini menunjukkan betapa pentingnya maksud penulis . uthorial inten. dalam pendekatan Kaiser. Kaiser mempercayai bahwa Allah menyatakan diri-Nya melalui manusia dengan menggunakan struktur linguistik dan sejarah nyata, sehingga apabila menafsirkan teks tanpa memperhatikan maksud asli dari penulis maka hal itu merupakan salah satu bentuk ketidaktaatan terhadap otoritas Alkitab. Di samping itu. Amos Yong menambahkan bahwa makna Alkitab muncul di dalam komunitas ketika mereka bersama-sama belajar mendengar suara Roh melalui teks Alkitab. Dengan demikian, teks bukan hanya dilihat sebagai dokumen statis dari masa lalu atau hanya dilihat sebagai keterangan linguistik sejarah saja, namun juga sebagai tempat perjumpaan antara Roh Kudus dan pembaca masa kini. Pada akhirnya, perbandingan ini menghasilkan dua poros pendekatan. Oleh Kaiser, teks ditempatkan sebagai wahyu tertulis, diinterpretasi dari belakang ke depan, dengan penekanan logika dan historisitas. Sementara dalam pemahaman Pentakostal, teks ditempatkan sebagai ruang dialog antara Roh Kudus dan komunitas, yang diinterpretasi dengan kepekaan iman, pengalaman, dan bimbingan Roh. Meski demikian, dapat dipastikan bahwa keduanya sesungguhnya tidak saling meniadakan. Douglas Petersen. AuThree Challenges to Pentecostal Social Action,Ay Asian Journal of Pentecostal Studies (AJPS) 16, no. : 52. Kaiser. The Uses of the Old Testament in the New, hlm. Yong. Spirit-Word-Community: Theological Hermeneutics in Trinitarian Perspective, 84. CopyrightA 2025. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Otniel Kharisma Yudhistira Kurniawan. Jonar Situmorang: Antara Analogia Fidei dan Analogia Antecedents: Analisis Hermeneutika Walter C. Kaiser. Jr. Dalam tulisannya yang lain. Kaiser jelas mengakui akan peran Roh Kudus, namun ia pun menekankan bahwa iluminasi Roh31 tidak mengubah makna teks. 32 Sehingga dapat disimpulkan adanya sebuah titik temu yang dapat dikembangkan, yaitu bahwa pengalaman spiritual dapat memperkaya pemahaman, namun tetap dalam batasan makna historis yang Ini menunjukkan bahwa perbedaan antara Kaiser dan hermeneutika Pentakostal adalah bukan pada kepercayaan mereka terhadap apakah Alkitab adalah firman Allah atau bukan, juga bukan pada permasalahan mengenai Roh Kudus bekerja dalam menafsirkan atau tidak, tetapi lebih kepada bagaimana mengetahui dan memahami kebenaran dari Alkitab itu Roh Kudus dan Iluminasi dalam Hermeneutika Salah satu titik perdebatan paling sentral dalam hermeneutika Alkitab terletak pada peran Roh Kudus dalam proses penafsiran teks Alkitab. Dalam konteks ini, baik Walter C. Kaiser. Jr. maupun pendekatan hermeneutika Pentakostal sama-sama mengakui urgensi dan kehadiran Roh Kudus dalam memahami teks Alkitab. Namun, terdapat perbedaan yang sangat tajam dalam fungsi epistemologis dan aktivitas Roh Kudus antara keduanya. Hal ini sangat berkaitan dengan doktrin iluminasi . , yakni karya Roh Kudus dalam mengajar, memberikan pengetahuan dan mencerahkan hati dan pikiran pembaca untuk dapat memahami maksud ilahi dalam Alkitab. Kaiser menegaskan bahwa karya Roh Kudus dalam penafsiran tidak menciptakan makna baru, melainkan menolong pembaca menemukan makna yang sudah terkandung dalam teks, sebagaimana dimaksudkan oleh penulis aslinya. Dengan kata lain, fungsi Roh Kudus bukan sebagai pemberi wahyu, melainkan sebagai pencerah bagi akal budi yang tunduk kepada wahyu tertulis. Dalam Toward Exegetical Theology ia menuliskan bahwa Roh Kudus tidak mengesampingkan teks, juga tidak menambahkan pesan baru ke dalamnya, namun Roh Kudus menerangi apa yang sudah ada di sana. makna yang terkandung dalam Pembaca dituntun ke dalam kebenaran yang sudah terkandung dalam Firman Tuhan. Prinsip ini sejalan dengan orientasi Sola Scriptura, di mana Kaiser menempatkan teks tertulis sebagai otoritas utama dalam penafsiran. Sebaliknya, tradisi Pentakostal lebih menekankan Sola Spiritus, yaitu peran Roh Kudus sebagai pemberi terang dan pengalaman Louis Berkhof. Systematic Theology (Grand Rapids: Eerdmans Publishing, 1. Walter C. Kaiser. AuLegitimate Hermeneutics,Ay JETS 14 14, no. : 2. Benny Solihin. Tujuh Langkah Menyusun Khotbah yang Mengubah Kehidupan: Khotbah Ekspositori (Literatur Perkantas Jawa Timur, 2. Kaiser. Toward an Exegetical Theology: Biblical Exegesis for Preaching and Teaching, hlm. CopyrightA 2025. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Jurnal Teologi Berita Hidup. Vol 8. No 1. September 2025 Karena itu, sebagian kalangan Pentakostal dapat menilai pendekatan Kaiser terlalu membatasi pekerjaan Roh hanya pada teks masa lampau. Namun, di sisi lain, ada juga ruang penerimaan, yaitu progressive revelation yang ditekankan Kaiser dapat dipahami sebagai cara Roh Kudus bekerja dalam sejarah, sehingga tidak meniadakan karya-Nya untuk membuka teks bagi generasi baru. Dengan demikian, dalam kerangka Kaiser, iluminasi bersifat kognitif dan objektif, memiliki tujuan supaya makna historis-gramatikal yang melekat pada teks dapat dipahami dengan benar oleh pembaca yang saleh dan rendah hati. Ini berarti Roh Kudus memampukan penafsir untuk menghindari kesalahan akibat bias pribadi atau subjektivitas. Kerangka epistemologi Kaiser sejalan dengan prinsip analogia antecedents, yakni bahwa ayat-ayat yang lebih dahulu diwahyukan harus menjadi dasar penafsiran bagi wahyu Roh Kudus tidak bertentangan dengan teks. Ia justru meneguhkan keterpaduan progresif wahyu tersebut. Sebaliknya dalam hermeneutika Pentakostal, iluminasi Roh Kudus tidak hanya dipahami sebagai proses kognitif . erpikir dan memaham. tetapi juga sebagai perjumpaan yang transformatif. Dalam pandangan ini. Roh Kudus tidak hanya menyinari isi teks, namun juga mempertemukan pembaca dengan kehadiran Ilahi yang hidup, bahkan sebagaimana dijelaskan oleh Archer bahwa hermeneutika Pentakostal menegaskan bahwa Roh secara aktif berbicara saat ini melalui teks dalam komunitas umat percaya dan melalui pengalaman penafsir. Oleh karena itu dalam teologi Pentakostal. Alkitab dijadikan sebagai sumber dari semua keyakinan, pengalaman dan praktik keimanan. 37 Selain itu, pengalaman rohani itu sendiri juga tidak dianggap sebagai gangguan terhadap makna teks, melainkan dijadikan sebagai bagian dari dinamika pemahaman yang dibimbing oleh Roh. Fokus dari tafsiran teologi Pentakostal adalah pada pembentukan hidup melalui pengalaman subyektif atau yang dipahami dalam teologi pragmatis, yaitu pemikiran bahwa apa yang saya lakukan harus selalu dikaitkan dengan Allah yang telah menyelamatkan saya. 38 Dengan demikian, dalam teologi Pentakostal, iluminasi tidak sekedar dipahami sebagai tindakan kognitif, tetapi juga memiliki nilai karismatik dan kontekstual. Bahkan pengalaman nubuatan atau pewahyuan Keener. Spirit Hermeneutics: Reading Scripture in Light of Pentecost, 212-214. Archer. A Pentecostal Hermeneutic for the Twenty First Century: Spirit. Scripture and Community (Journal of Pentecostal Theology Supplement Serie. , hlm. William W. Menzies dan Robert P. Menzies. Roh Kudus dan Kuasa: Dasar-dasar Pengalaman Pentakostal (Batam: Gospel Press, 2. Kevin T. Rey. Singgih Prastawa, dan Esra Sitanggang. AuEpistemologi Dan Hermeneutika Teologis Dalam Tradisi Four Square: Sebuah Kajian Rasionalitas Pentakosta,Ay Journal of International Multidisciplinary Research 2, no. : 84Ae95. CopyrightA 2025. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Otniel Kharisma Yudhistira Kurniawan. Jonar Situmorang: Antara Analogia Fidei dan Analogia Antecedents: Analisis Hermeneutika Walter C. Kaiser. Jr. pribadi juga dapat dianggap sebagai Aupenerapan baruAy dari kebenaran teks dalam situasi tertentu, selama tidak bertentangan dengan prinsip dasar iman. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Paul Elbert, ia mengamati bahwa di kalangan karismatik dan Pentakostal, pengalaman akan kehadiran Roh Kudus sering kali mendahului pemahaman kognitif akan teks, dan justru membuka ruang untuk menerima terang baru atas ayat yang sudah dikenal. Dengan kata lain, iluminasi tidak hanya menyatakan makna lama, tetapi juga memperluas aplikasi makna untuk kebutuhan masa kini. Pemahaman Kaiser sendiri sebenarnya mewakili pendekatan yang sangat berhati-hati dalam membedakan antara wahyu, inspirasi, dan iluminasi, sehingga menjaga teks Alkitab sebagai satu-satunya sumber yang otoritatif. Sedangkan tradisi Pentakostal lebih terbuka terhadap pekerjaan Roh Kudus yang melampaui teks, namun tidak bertentangan dengan Alkitab, yang dipandang sebagai cara Tuhan menyapa umat-Nya dalam berbagai konteks Sebagaimana yang dijelaskan oleh Shastri dalam tulisannya, pendekatan ini lahir dari keyakinan bahwa Allah tidak berhenti berbicara, dan Roh Kudus yang sama yang menuntun pada penulis Alkitab masih bekerja hari ini di tengah jemaat. Analogia Fidei dan Analogia Antecedents Salah satu perbedaan paling mendasar dalam pendekatan hermeneutika Alkitab antara Walter C. Kaiser. Jr. dengan berbagai pendekatan tradisional, termasuk Reformed dan Pentakostal terletak pada prinsip penafsiran yang digunakan untuk memahami relasi antar bagian Alkitab. Tradisi teologi sistematika klasik menggunakan prinsip analogia fidei, sedangkan Kaiser menawarkan alternatif lain, yaitu analogia antecedents. Secara sederhana, analogia fidei diartikan sebagai penafsiran bagian Alkitab dengan terang dari keseluruhan ajaran iman. Prinsip ini didasarkan pada Roma 12:6 Au. Jika karunia itu adalah untuk bernubuat, baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita. Ay Berkaitan dengan ini, tradisi Reformed kemudian menafsirkannya sebagai AuAlkitab harus ditafsirkan oleh Alkitab, dan bagian-bagiannya dijelaskan dengan terang seluruh isi iman kristen. Akan tetapi Kaiser mengkritik prinsip ini sebagai salah satu bentuk kecenderungan mengorbankan makna asli teks demi menyelaraskan bagian-bagian yang ada dengan sistem teologi yang sudah dibentuk sebelumnya. Menurutnya ini melanggar prinsip kronologis Paul Elbert. AuPentecostal/Charismatic Themes in LukeAeacts at the Evangelical Theological Society: the Battle of Interpretivemethod,Ay Journal of Pentecostal Theology 2, no. : 181Ae215. Hermen Shastri. AuThe Holy Spirit and Revelation in Contemporary Asia,Ay Asia Journal of Theology 29, no. Berkhof. Principles of Biblical Interpretation. CopyrightA 2025. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Jurnal Teologi Berita Hidup. Vol 8. No 1. September 2025 wahyu progresif di mana teks-teks awal harus berbicara secara independen terlebih dahulu, sebelum diselaraskan dengan bagian-bagian lain yang lebih kemudian. Sebagai tanggapan terhadap kelemahan analogia fidei. Kaiser mengusulkan prinsip analogia antecedents, yaitu setiap bagian Alkitab harus ditafsirkan terlebih dahulu berdasarkan pewahyuan yang sudah ada sebelumnya . ntecedent revelatio. Artinya, pemahaman suatu teks harus mempertimbangkan urutan kronologis dan historis dari wahyu, bukan berdasarkan konsep atau sistem teologi yang sudah ada. Kaiser menjelaskan bahwa setiap teks Alkitab harus ditafsirkan dalam konteks sejarahnya sendiri dan sesuai dengan wahyu yang tersedia pada saat itu, dan inilah analogi sebenarnya dari Alkitab sebelumnya. 42 Dengan metode ini, para penafsir tidak lagi membawa pola sistematis dari masa kini ke masa lalu, tetapi memungkinkan makna asli teks berkembang dalam kerangka wahyu yang progresif dan bertahap. Menariknya, dalam beberapa kalangan Pentakostal, praktik analogia fidei tampak tidak dijalankan secara eksplisit, meski prinsip serupa tetap berlaku secara implisit. Misalnya dalam menafsirkan peristiwa Perjanjian Lama sebagai bayang-bayang dari pengalaman rohani kini. Namun, berbeda dengan Kaiser, pendekatan ini justru sangat terbuka terhadap relasi pengalaman spiritual dengan teks, seperti yang diungkapkan oleh Sidabutar dan Marbun yang mengatakan bahwa titik pokok hermeneutik pentakostalisme terletak pada penekanan pengalaman-pengalaman adikodrati melalui Roh Kudus,43 dan hermeneutik Pentakostal juga tetap menggunakan prinsip eksegesis historis,44 yaitu menafsirkan berdasarkan konteks sejarah, budaya, dan sastra saat teks itu ditulis. Pendekatan penafsiran kaum Pentakostal sebenarnya tidaklah kaku mengikuti sistem seperti analogia fidei atau analogia antecedents, tapi mereka punya cara yang khas dalam memahami Alkitab. Mereka percaya bahwa Roh Kudus masih bekerja aktif hingga hari ini, dan karena itu, teks Alkitab dapat berbicara langsung ke situasi hidup orang percaya saat Mereka memang tetap menghargai latar belakang sejarah dan budaya teks, akan tetapi tidak hanya berhenti di sana. Bagi mereka, pengalaman rohani juga dapat menjadi kunci untuk memahami makna firman Tuhan. 46 Oleh karena itu, walaupun tidak disebutkan Kaiser. The Promise-Plan of God: A Biblical Theology of the Old and New Testaments. Hasudungan Sidabutar dan Purim Marbun. AuEpistemologi Hermeneutika Dan Implikasinya Bagi Pentakostalisme Di Indonesia,Ay Jurnal Teologi Berita Hidup 5, no. : 107Ae126. Daido T. S Lumbanraja. AuImplikasi Teologis Makna Peristiwa Pentakosta Dalam Kisah Para Rasul 2: 1-13,Ay Danum Pambelum: Jurnal Teologi dan Musik Gereja 1, no. : 69Ae82. Keener. Spirit Hermeneutics: Reading Scripture in Light of Pentecost. Hasudungan Sidabutar dan Purim Marbun. CopyrightA 2025. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Otniel Kharisma Yudhistira Kurniawan. Jonar Situmorang: Antara Analogia Fidei dan Analogia Antecedents: Analisis Hermeneutika Walter C. Kaiser. Jr. secara formal, mereka juga menjalankan prinsip seperti analogia fidei, yaitu melihat keterhubungan antar bagian Alkitab melalui iman dan karya Roh Kudus dalam kehidupan sehari-hari. Inilah yang membedakan mereka dari pendekatan Kaiser yang lebih ketat hanya pada makna asli teks. Kaum Pentakostal percaya bahwa Alkitab bukan hanya dokumen masa lalu, namun juga merupakan suara Allah yang hidup, yang dapat berbicara tentang sesuatu yang baru setiap kali dibaca dalam persekutuan dengan Roh Kudus. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa meskipun tidak mengadopsi analogia fidei secara eksplisit, hermeneutika Pentakostal pun menghindari pendekatan analogia antecedents yang terlalu ketat pada literalitas dan historisitas. Dialog antara analogia fidei, analogia antecedents, dan hermeneutika Pentakostal memperlihatkan bahwa . analogia fidei menjaga kesatuan iman kanonik, tetapi berisiko memaksakan makna sistematis ke atas teks, . analogia antecedents menekankan wahyu progresif, tetapi cenderung kering dari dinamika pengalaman Roh, . hermeneutika Pentakostal menghidupkan teks melalui karya Roh Kudus, tetapi berpotensi subjektif jika tidak dikendalikan oleh teks. Integrasi ketiganya memberi peluang mempertemukan stabilitas teks (Kaise. dengan dinamika Roh (Pentakosta. , sehingga tafsir Alkitab lebih utuh dan relevan. Analogia Fidei dan Interpretasi Makna oleh Walter C. Kaiser. Jr. dan Respons Pentakostal Permasalahan utama yang membedakan antara pendekatan Walter C. Kaiser. Jr. dengan pemahaman kalangan Pentakostal dalam memahami Alkitab adalah mengenai interpretasi maknanya, yaitu bagaimana kebenaran diketahui dan dimaknai dari teks Alkitab. Dalam kerangka Kaiser, prinsip menafsirkan Alkitab dengan Alkitab menjadi sarana yang sistematis untuk memastikan konsistensi maksud Allah dalam keseluruhan kanon. Hal ini didasari oleh keyakinan terhadap historisitas teks, progresivitas wahyu, dan prinsip autoritatif dari makna gramatikal-historis. Berhubungan dengan hal ini. Kaiser menegaskan bahwa Alkitab sendiri merupakan sumber terbaik untuk menjelaskan dirinya sendiri, dan analogi iman harus tunduk pada analogi Alkitab yang dituliskan sebelumnya. 47 Pernyataan tersebut pada akhirnya menempatkan analogia fidei sebagai metode sekunder yang tunduk pada prinsip bahwa makna teks seharusnya ditarik dari konteks ayat-ayat yang telah diwahyukan sebelumnya, bukan dari sistem teologi yang telah dibangun kemudian . nalogia scriptura. Dengan kata Kaiser. Toward an Exegetical Theology: Biblical Exegesis for Preaching and Teaching, hlm. CopyrightA 2025. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Jurnal Teologi Berita Hidup. Vol 8. No 1. September 2025 lain, mengenai interpretasi makna, sumber pengetahuan teologis bukanlah pengalaman, melainkan teks itu sendiri yang dibaca secara konsisten dalam terang wahyu progresif yang Di sisi lain, pendekatan hermeneutik Pentakostal banyak dipengaruhi oleh interpretasi pengalaman, di mana Roh Kudus berperan aktif dalam mengiluminasi dan menghidupkan teks bagi pembaca di zaman ini. Dalam hal ini. Alkitab tidak dilihat sebagai sumber kebenaran yang terpisah dari pengalaman pribadi bersama Allah, tetapi sebagai bentuk dari keutuhan iman yang menghubungkan teks masa lampau dengan realitas spiritual di zaman ini. Sebagai contoh, dalam banyak gereja Pentakostal, kisah Musa dan keluarnya bangsa Israel dari tanah Mesir tidak hanya ditafsirkan sebagai sebuah kisah sejarah, tetapi juga merupakan sebuah tipologi pembebasan rohani dari dosa atau tekanan hidup, di mana pengalaman Musa menjadi sebuah refleksi dari pengalaman rohani individu masa kini. Tafsir ini bukanlah tidak alkitabiah, namun lahir dari relasi iman yang hidup, dan dipahami melalui keyakinan bahwa Allah yang sama tetap bekerja pada masa kini sebagaimana Ia bekerja pada masa lampau. Perbedaan ini menyentuh persoalan epistemologi secara mendalam. Kaiser menekankan objektivitas teks dan stabilitas makna, sementara hermeneutika Pentakostal menekankan hubungan interaktif antara teks dan pembaca dalam terang Roh Kudus. Meski demikian, ini tidak berarti pendekatan Pentakostal anti terhadap objektivitas, tetapi lebih kepada menekankan proses pewahyuan yang hidup dan transformatif. Dalam bukunya. Hodges menyatakan bahwa firman menjadi benar-benar hidup hanya ketika Roh Kudus memberikannya kehidupan kepada pembaca. Huruf saja tidak cukup. Roh Kudus harus menghembuskannya ke atasnya. 48 Pernyataan ini pada akhirnya menegaskan kembali bahwa bagi kalangan Pentakostal, makna sejati Alkitab tidak cukup berhenti pada struktur gramatikal atau teks sejarah saja, namun juga pada pengalaman yang diberikan Roh Kudus melalui teks tersebut. Dengan Kaiser Pentakostal sama-sama mengutamakan otoritas Alkitab, namun keduanya memiliki cara yang berbeda untuk menginterpretasikan makna, di mana Kaiser berdiri dalam garis tradisi historis-gramatikal yang ketat, sedangkan hermeneutika Pentakostal berada dalam tradisi pengalaman Roh yang membuka kemungkinan dinamis dalam memahami maksud Allah, dengan catatan selama tidak bertentangan dengan terang wahyu tertulis. Melvin L. Hodges. The Indigenous Church: Including The Indigenous Church and the Missionary (Gospel Publishing House, 2. CopyrightA 2025. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Otniel Kharisma Yudhistira Kurniawan. Jonar Situmorang: Antara Analogia Fidei dan Analogia Antecedents: Analisis Hermeneutika Walter C. Kaiser. Jr. KESIMPULAN Penelitian ini menyoroti tiga hal penting dalam dialog antara Walter C. Kaiser. Jr. Dan hermeneutika Pentakostal, yaitu . Kaiser dengan prinsip analogia antecedents miliknya menjaga stabilitas makna teks melalui kronologi wahyu progresif, sehingga setiap bagian Alkitab dipahami dalam konteks historis dan maksud penulis aslinya. Hermeneutika Pentakostal menekankan peran Roh Kudus yang terus menerangi teks dan memberi pengalaman iman yang hidup bagi komunitas, sehingga penafsiran tidak berhenti pada aspek kognitif . emahaman intelektua. , tetapi juga menyentuh aspek transformatif . erubahan hidu. Integrasi keduanya membuka peluang lahirnya hermeneutika yang lebih utuh, di mana teks tetap diperlakukan dengan kesetiaan historis, namun pada saat yang sama Roh Kudus diberi ruang untuk menghadirkan makna yang relevan bagi gereja masa Dengan demikian, pendekatan ini tidak hanya memperkaya khazanah akademik hermeneutik biblika, tetapi juga memberi kontribusi praktis bagi gereja untuk menghidupi firman Allah secara setia sekaligus transformatif. REFERENSI