Integral : Jurnal Penelitian Pendidikan Matematika p - ISSN 2654-4539 e Ae ISSN 2654-8720 Vol. 3 No. Mei 2021 Page 132 of 147 Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together (NHT) untuk Meningkatkan Hasil Belajar dan Aktivitas Siswa pada Materi Persamaan Garis Lurus pada Siswa Kelas Vi G SMP Negeri 1 Pangkah Nur Ekawati SMP Negeri 1 Pangkah Abstrak Penelitian ini berangkat dari kenyataan di SMP Negeri 1 Pangkah, pada materi Persamaan Garis Lurus,hasil belajar dan aktivitas siswa kelas Vi Gyang berjumlah 34 siswa belum mencapai hasil yang diharapkan. Penelitian ini difokuskan pada pertanyaan : AuApakah penerapan model Numbered Heads Together (NHT) mampu meningkatkan hasil belajar dan aktivitas siswa kelas Vi G SMP Negeri 1 Pangkah semester gasal tahun pelajaran 2016/2017?AyMetode dalam pengumpulan data adalah teknik tes untuk nilai hasil belajar dan teknik observasi untuk merekam aktivitas siswa dalam pembelajaran. Dari hasil analisis data yang menggunakan deskripsi komparatif, dinyatakan : . Kondisi awal, bahwa daya serap klasikal yang merupakan hasil belajar seluruh siswa hanya mencapai 35,29% masih dibawah ketentuan yang telah ditetapkan 75% . ondisi idea. Pada Siklus 1, daya serap klasikal mencapai sebesar 67,65% masih dibawah ketuntasan klasikal. Pada Siklus 2, daya serap klasikal mencapai 82,35 % berada diatas ketuntasan kelas yang telah ditetapkan Dari hasil penelitian dapat disimpulkan, bahwa terdapat peningkatan hasil belajar dan aktivitassiswa dengan model Numbered Heads Together (NHT) pada siswa kelas Vi G SMP Negeri 1 Pangkah semester gasal tahun pelajaran 2016/2017. Kata Kunci: Numbered Heads Together. Hasil Belajar. Aktivitas siswa PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang terdapat dalam meningkatkan kemampuan para siswa agar mereka mampu mengembangkan diri mereka sendiri dan mampu memecahkan masalah yang muncul, maka disamping ketrampilan matematis, mereka sudah kemampuan untuk belajar mandiri dan belajar memecahkan masalah. Namun pada kenyataannya selama ini matematika masih dianggap sebagai momok yang menakutkan oleh sebagian siswa sehingga membuat matematika siswa. Indikasi yang mudah ditemukan pada matematika adalah hasil belajar siswa yang cenderung kurang memuaskan, terutama pada perolehan nilai yang rata-rata di bawah mata pelajaran yang Hal ini pula yang terjadi pada siswa SMP Negeri Pangkah. Kenyataan menunjukkan bahwa ketuntasan klasikal hasil belajar matematika untuk kompetensi Persamaan Garis Lurus bagi siswa kelas Vi dari tahun ke tahun selalu rendah. Bukti bahwa hasil belajar siswa rendah dapat dilihat dari hasil nilai ulangan harian I . es awa. yang diperoleh siswa. Nilai rata-rata ulangan harian I kelas Vi G adalah 63,47 padahal KKM mata pelajaran matematika di SMP Negeri 1 Pangkah adalah 77, maka nilai rata-rata siswa tersebut belum mencapai KKM yang telah ditetapkan. Kenyataan yang lain bahwa daya serap klasikal yang merupakan hasil belajar seluruh siswa hanya mencapai 35,29%, masih di bawah ketentuan yang telah ditetapkan 75% . ondisi idea. Berdasarkan pengamatan terhadap proses pembelajaran pada siswa kelas Vi G SMP Negeri 1 Pangkah Semester Gasal Tahun Pelajaran 2016/2017 ditemukan pula kenyataan bahwa siswa memiliki motivasi dan aktivitas belajar yang rendah pada materi Persamaan Garis Lurus. Kondisi ini ditandai pada saat pembelajaran materi Persamaan Garis Lurus : . skor siswa mendengarkan penjelasan dari guru sebesar 2,35 atau 58,82%, . skor siswa yang menanyakan hal yang belum dipahami sebesar 1,12 atau 27,94%, . skor siswa yang memberi tanggapan terhadap siswa yang memberikan saran sebesar 1,03 atau 25,74%,. skor siswa yang menyimpulkan materi bersama dengan guru sebesar 1,26 atau 31,62% sehingga rata-rata dari skor aktivitas sebesar 1,44 ada dalam kategori tidak aktif. Ada beberapa faktor yang berkaitan dengan rendahnya hasil belajar, yang paling utama adalah rendahnya minat siswa untuk mengikuti pelajaran dengan baik dan bersungguh-sungguh. Faktor lain yang ikut mempengaruhi adalah cara penyampaian matematika yang monoton. Hal ini Pada pelaksanaannya metode konvensional ini didominasi komunikasi satu arah, yaitu dari guru ke siswa dan kurang merangsang hasrat ingin tahu. Pembelajaran yang seperti ini kurang efektif karena dapat menyebabkan siswa pasif, merasa enggan, takut bahkan malu jika harus berbicara untuk menyampaikan gagasan ataupun menjawab pertanyaan guru. Guru masih mendominasi pembelajaran, interaksi timbal balik antara guru dan siswa maupun siswa dengan siswa kurang, sehingga kegiatan pembelajaran Salah satu cara untuk mengatasi permasalahan di atas, guru dapat melaksanakan strategi pembelajaran yang mampu menekankan ketrampilan proses dalam upaya peningkatan peran aktif siswa di kelas, sehingga berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Peneliti memilih salah satu model pembelajaran yang bisa pembelajaran Cooperative Learning Tipe Numbered Heads Together (NHT). Peneliti Cooperative Learning TipeNumbered Heads Together (NHT)karena tipe ini dirasa tepat untuk Persamaan Garis Lurus pada kelas Vi G karena kelebihan dari Cooperative Learning TipeNumbered Heads Together (NHT)antara lain : . mengkombinasikan antara program pengajaran individual dan pembelajaran kooperatif, . model ini memberikan efek sosial dari pembelajaran kooperatif dimana kesulitan-kesulitan dalam pembelajaran individu dipecahkan bersama-sama oleh anggota kelompok, . model ini menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama karena kesulitan individu menjadi tanggung jawab bersama anggota tim untuk memecahkannya (Slavin : 1. Bertolak dari masalah diatas maka peneliti terdorong untuk melakukan penelitian dengan judul AuPenggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together (NHT)untuk Meningkatkan Hasil Belajar Aktivitas Siswa pada Materi Persamaan Garis Lurus pada Siswa Kelas ViG SMP Negeri 1 Pangkah Semester Gasal Tahun Pelajaran 2016/2017Ay. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang masalah permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Pembelajaran matematika masih monoton berpusat pada guru. Belum ditemukan model pembelajaran matematika materi Persamaan Garis Lurus. Rendahnya motivasi belajar siswa pada Persamaan Garis Lurus. Kurang Persamaan Garis Lurus. Rendahnya penguasaan kompetensi siswa pada pembelajaran matematika materi Persamaan Garis Lurus. Rendahnya hasil belajar siswa pada Persamaan Garis Lurus. Pembatasan Masalah Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah di atas, penelitian masalahmasih rendahnya hasil belajar siswa dan kurang aktifnya siswa dalam pembelajaran materi Persamaan Garis Lurus khususnya di kelas Vi G SMP Negeri 1 Pangkah Semester Gasal Tahun Pelajaran 2016/2017. Rumusan Masalah Perumusan masalah dari penelitian ini Seberapa besarkah peningkatan hasil belajar materi Persamaan Garis Lurusmelalui pembelajaran Cooperative Learning Tipe Numbered Heads Together (NHT)siswa kelas Vi G SMP Negeri 1 Pangkah Semester Gasal Tahun Pelajaran 2016/2017 ? Seberapa aktivitas siswa pada pembelajaran materi Persamaan Garis Lurus melalui Cooperative Learning Tipe Numbered Heads Together (NHT)pada kelas Vi G SMP Negeri 1 Pangkah Semester Gasal Tahun Pelajaran 2016/2017 ? Tujuan Khusus Tujuan khususpenelitian ini adalah : Untuk meningkatkan hasil belajar PersamaanGaris Lurus melaluiCooperative Learning TipeNumbered Heads Together (NHT)padasiswa kelas Vi GSMP Negeri 1 Pangkah Semester Gasal Tahun Pelajaran 2016/2017. Untuk meningkatkan aktivitas siswa pada pembelajaran materi Persamaan Garis Lurus melalui Cooperative Learning TipeNumbered Heads Together (NHT) pada kelas Vi G SMP Negeri 1 Pangkah Semester Gasal Tahun Pelajaran 2016/2017. persamaa garis lurus dalam kehidupan sehari-hari. Hakikat Persamaan Garis Lurus Menurut Putri Suhandari . dalam Poetrysalju. com, secara sederhana persamaan garis lurus dapat didefinisikan sebagai sebuah garis lurus dimana posisinya ditentukan oleh sebuah persamaan dan apabila persamaan tersebut digambarkan pada bidang cartesius maka akan menghasilkan sebuah garis yang lurus. Setiap Tingkat kemiringan garis inilah yang disebut gradien. Pengetahuan tentang persamaan garis lurus ini sangat penting dan banyak digunakan baik dalam kegiatan yang berhubungan dengan matematika itu sendiri maupun dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak sekali bidangbidang persamaan garis lurus. Misalnya perhitungan kecepatan-jarak-waktu dalam fisika dan perhitungan harga barang dan titik impas dalam ekonomi. Konsep persamaan garis lurus juga sangat membantu untuk menyelesaikan berbagai permasalahan pada bidang riset dan penelitian contohnya ilmuwan menemukan kemiringan papan pembangkit listrik tenaga surya agar dapat menyerap secara maksimum. Pada bidang fisika, dapat dicari nilai gradien yang tepat untuk kemiringan mesin sebagai alat bantu pemindahan barang. Pada bidang teknik bangunan, yakni merancang posisi garasi mobil terhadap kemiringan jalan di depannya sehingga memudahkan kendaraan Pada transportasi udara, saat mulai lepas landas harus memperhitungkan seberapa besar mengangkat pesawat. Pada bidang kesehatan, seseorang menggunakan kursi roda maka kemiringan jalan yang hendak dilalui harus Demikianlah beberapa manfaat Numbered Heads Together (NHT) Model Pembelajaran Kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT)merupakan strategi pembelajaran yang mengutamakan adanya kerjasama antar siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran. Para siswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil dan diarahkan untuk mempelajari materi pelajaran yang telah ditentukan. Tujuan dibentuknya kelompok kooperatif adalah untuk memberikan kesempatan kepada siswa agar dapat terlibat secara aktif dalam proses berpikir dan dalam kegiatan-kegiatan Dalam hal ini sebagian besar aktivitas pembelajaran berpusat pada siswa, yakni mempelajari materi pelajaran serta berdiskusi untuk memecahkan masalah. Pembelajaran kooperatif tipe NHT merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada stuktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan memiliki tujuan Tipe ini dikembangkan oleh Spencer Kagan dalam Ibrahim . Ibrahim mengemukakan tiga tujuan yang hendak dicapai dalam pembelajaran kooperatif dengan tipe NHT yaitu : Hasil belajar akademik struktural Bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik Pengakuan adanya keragaman Bertujuan agar siswa dapat menerima teman-temannya berbagai latar belakang Pengembangan ketrampilan sosial Bertujuan ketrampilan sosial siswa. Ketrampilan yang dimaksud antara lain berbagi tugas, aktif bertanya, menghargai pendapat orang lain, mau menjelaskan idea atau pendapat, bekerja dalam kelompok dan Penerapan pembelajaran kooperatif tipe NHT merujuk pada konsep Kagan A Langkah 5. Memanggil nomor anggota atau pemberian jawaban Dalam tahap ini, guru menyebut satu nomor dan para siswa dari tiap kelompok dengan nomor yang sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban kepada siswa di kelas. A Langkah 6. Memberi kesimpulan Guru bersama siswa menyimpulkan jawaban akhir dari semua pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang Jadwal Kegiatan Penelitian dalam Ibrahim . dengan tiga langkah yaitu : . Pembentukan kelompok, . Diskusi masalah, . Tukar jawaban antar kelompok. Langkah-langkah tersebut kemudian dikembangkan oleh Ibrahim . menjadi enam langkah sebagai berikut : A Langkah 1. Persiapan Dalam tahap ini guru mempersiapkan rancangan pelajaran dengan membuat Skenario Pembelajaran (SP). Lembar Kerja Siswa (LKS) yang sesuai dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. A Langkah 2. Pembentukan kelompok Dalam disesuaikan dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Guru membagi para siswa menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 3-5 orang siswa. Guru memberi nomor kepada setiap siswa dalam kelompok dan nama kelompok yang berbeda. Kelompok yang dibentuk merupakan percampuran yang ditinjau dari latar belakang sosial, ras, suku, jenis kelamin dan kemampuan belajar. Selain itu, dalam pembentukan kelompok digunakan nilai tes awal . re te. sebagai dasar dalam menentukan masing-masing A Langkah 3. Tiap kelompok harus memiliki buku paket atau buku panduan Dalam pembentukan kelompok, tiap kelompok harus memiliki buku paket atau buku panduan agar memudahkan siswa dalam menyelesaikan LKS atau masalah yang diberikan oleh guru. A Langkah 4. Diskusi masalah Dalam membagikan LKS kepada setiap siswa sebagai bahan yang akan dipelajari. Dalam kerja kelompok setiap siswa berpikir bersama untuk menggambarkan dan meyakinkan bahwa tiap orang mengetahui jawaban dari pertanyaan yang ada dalam LKS atau pertanyaan Pertanyaan dapat bervariasi, dari yang bersifat spesifik sampai yang bersifat umum. KEGIAT Novemb Desem Oktober Minggu 1 2 3 4 5 1 2 3 4 1 2 3 4 Perencana (Plannin. Pelaksana Tindakan (Actio. Siklus 1 Siklus 2 Pengamata (Observasi Refleksi (Reflecting Siklus 1 Siklus 2 Penyusuna n Laporan PTK Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah : Tes Tes digunakan untuk mengumpulkan data tentang nilai hasil belajar siswa, tes dilakukan di akhir kegiatan pembelajaran pada setiap siklus penelitian. Instrumen tes menggunakan soal esay berjumlah lima soal. Satu soal diberi skor 20. Nilai akhir sebagai hasil belajar dihitung dengan menjumlah skor yang diperoleh pada tiap soal. Observasi Observasi mengumpulkan data tentang aktivitas siswa dalam pembelajaran pada setiap siklus penelitian. Pengamatan dilakukan Kegiatan dilakukan oleh peneliti dan teman Fokus aktivitas siswa dalam pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran Cooperative Learning. Instrumen observasi menggunakan lembar observasi . terhadap aktivitas siswa dalam pembelajaran. Lembar observasi tersebut berisi empat indikator aktivitas yang dilakukan siswa mendengarkan penjelasan guru, . semangat siswa menanyakan hal yang belum diketahui . semangat siswa memberi tanggapan terhadap siswa yang . menyimpulkan materi. Pengisian lembar observasi baik yang dilakukan peneliti maupun teman sejawat dilakukan dengan cara memberi skor 1 sampai dengan 4. Skor 4 diberikan kepada siswa yang menonjol selalu melakukan aktivitas sesuai indikator pengamatannya, skor 3 diberikan kepada siswa yang sering melakukan aktivitas sesuai indikator pengamatannya, skor 2 diberikan kepada siswa yang kadangkadang melakukan aktivitas sesuai indikator pengamatannya dan skor 1 diberikan kepada siswa yang tidak pernah melakukan aktivitas sesuai indikator Dokumentasi Dokumentasi memperoleh data pelaksanaan kegiatan penelitian meliputi : daftar nilai tes hasil belajar, contoh hasil pekerjaan siswa dan foto-foto kegiatan penelitian. Kriteria Hasil Observasi Aktivitas Siswa Kriteria Rata-rata Persentase Aktivitas Skor Siswa 3,20 Ae 80,00 Sangat Aktif 4,00 100,00 2,80 Ae 70,00 - 79,75 Aktif 3,19 2,40 Ae 60,00 - 69,75 Kurang Aktif 2,79 <2,40 < 60,00 Tidak Aktif HASIL PENELITIAN Deskripsi Kondisi Awal Pada melaksanakan pembelajaran dengan metode mengerjakan soal. Pembelajaran dengan metode ceramah ini mengakibatkan hasil belajar siswa rendah sebesar 35,29% siswa yang tuntas atau 12 siswa dari 34 siswa , dan aktivitas dalam pembelajaran pun rendah sebesar 1,44. Mencermati permasalahan di atas, perlu kiranya upaya lain yang dilakukan peneliti untuk dapat melakukan proses pembelajaran lebih kreatif, menarik dan memotivasisiswa sehingga semua siswa terlibat aktif dalam pembelajaran. Dengan demikian para siswa secara merata akan lebih mudah memahami materi pelajaran, salah satu yang dipilih peneliti untuk meningkatkan aktivitas siswa adalah dengan Cooperative Learning karena dalam Cooperative Learning adanya aktivitas siswa dalam mengajarkan kepada anggota kelompoknya. Sehingga Cooperative LearningTipe Numbered Heads Together(NHT) layak untuk digunakan dalam melakukan penelitian tindakan kelas Deskripsi Siklus I Dalam pembelajaran siklus I ini, pembelajaran matematika dilakukan pada standar kompetensi Persamaan Garis Lurus gradien persamaan garis lurus. Pembelajaran siklus I ini dilakukan dalam tiga kali pertemuan tatap muka yaitu tanggal 25 Oktober, 29 Oktober dan 1 November 2016. Uraian pokok kegiatan pembelajaran pada siklus I memuat empat tahap penelitian yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi tindakan, dan refleksi . Guru menjelaskanmateri secara singkat, bertanya jawab dengan siswa tentang menemukan pengertian gradien suatu garis dengan cara beberapa garis lurus pada kertas . Guru membagi siswa berkelompok secara heterogen dengan jumlah anggota masing-masing kelompok 5 orang, dan guru memberi nomor kepada setiap siswa dalam kelompok dan nama kelompok yang berbeda. Guru membagi materi ringkas dan Lembar Kerja Siswa (LKS) kepada tiap . Dalam kerja kelompok setiap siswa berpikir bersama untuk menggambarkan dan meyakinkan bahwa tiap orang mengetahui jawaban dari pertanyaan yang ada dalam LKS atau pertanyaan yang telah diberikan guru. Siswa memeriksa dan mengevaluasi jawaban dari setiap anggota kelompok. Jika terdapat siswa yang berkemampuan menyelesaikan soal maka siswa yang lebih pandai membantu siswa yang kurang pandai dalam memahami penyelesaian dari soal yang diberikan. Siswa dengan di bantu guru membuat kesimpulan tentang materi menemukan pengertian gradien suatu garis. Perencanaan Tindakan pada Siklus I Dalam tahap perencanaan tindakan, kegiatan yang dilakukan oleh peneliti pada pembelajaran siklus I yaitu . menyiapkan Silabus dan membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang akan dilaksanakan, . mencari dan menentukan sumber belajar sesuai dengan pokok materi pelajaran, . membuat instrumen yang digunakan untuk penilaian hasil belajar dan Pelaksanaan Tindakan pada Siklus I Pembelajaran dilaksanakan dengan berpedoman pada Silabus danRencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Kompetensi yang harus dikuasai oleh siswa pada siklus I ini siswa dapat menentukan gradien persamaan garis lurus. Pembelajaran dilaksanakan dalam enam jam pelajaran atau tiga kali pertemuan Pertemuan pertama dilaksanakan pada tanggal 25 Oktober 2016, pertemuan kedua dilaksanakan pada tanggal 29 Oktober 2016, pertemuan ketiga dilaksanakan pada tanggal 1 November 2016. Adapun langkahlangkah kegiatan pembelajaran adalah sebagai berikut. Pertemuan Kedua . Guru mengawali pembelajaran dengan salam, menyampaikan kompetensi dasar serta tujuan pembelajaran yang akan . Siswa singkat guru tentang menentukan nilai gradien garis lurus dalam berbagai bentuk dengan antusias. Siswa melaksanakan perintah guru membentuk kelompok sesuai dengan pembagian kelompok yang sudah diatur Pertemuan Pertama . Guru mengawali pembelajaran dengan salam, menyampaikan kompetensi dasar serta tujuan pembelajaran yang akan oleh guru seperti pada pertemuan . Siswa dalam kelompok secara bersama-sama mempelajari Lembar Kerja Siswa (LKS) yang diberikan oleh guru tentang materi menentukan nilai gradien garis lurus dalam berbagai hasil tes. Observasi Tindakan padaSiklus I Observasi pembelajaran pada siklus I secara garis besar dapat disampaikanmeliputi hasil pembelajaran dan hasil observasi nilai tes hasil belajar. Hasil Observasi Aktivitas Siswa padaSiklus I Aktivitas siswa pada pembelajaran siklus I antara lain pada pertemuan pertama siswa diberikan materi individual secara ringkas kemudian dilanjutkan dengan tanya jawab permasalahan pada materi yang diberikan, beberapa siswa masih mengalami kesulitan Langkah selanjutnya adalah mengelompokan 5 siswa secara heterogen, didalam kelompok inilah siswa yang telah memahami materi yang diberikan memberi bantuan dan memahamkan siswa yang masih kesulitan dalam memahami materi. Pada pertemuan kedua siswa kembali dikelompokan sesuai kelompok awal, guru memberikan soal-soal untuk diselesaikan dan melanjutkan kembali diskusi dalam satu kelompok sampai benar-benar semua anggota kelompok memahami materi yang sedang dipelajari, dalam pertemuan kedua ini juga guru sesekali membantu kelompok dalam memahami soal yang diberikan. Sedangkan pada pertemuan ketiga siswa mengerjakan tes secara individual. Dari hasil pelaksanaan siklus I diperoleh hasil observasi sebagai berikut ini : Hasil akhir observasi terhadap aktivitas siswa dalam pembelajaran sebagaimana tabel 5dan grafik 3di atas, diperoleh data bahwa rata-rata aktivitas siswa pada pembelajaransiklus I adalah sebesar 64,71 Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas siswa dalam pembelajaran tersebut masih rendah dan siswa masih kurang aktif dalam Rendahnya aktivitas siswa dalam pembelajaran tersebut berdampak terjadinya kecenderungan hasil belajar yang juga rendah. Hasil Observasi Nilai Hasil Belajar padaSiklus I . Dalam kerja kelompok setiap siswa berpikir bersama untuk menggambarkan dan meyakinkan bahwa tiap orang mengetahui jawaban dari pertanyaan yang ada dalam LKS atau pertanyaan yang telah diberikan guru. Guru menyebut satu nomor dan para siswa dari tiap kelompok dengan nomor yang sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban kepada siswa di . Guru meminta beberapa siswa yang mempresentasikan hasil diskusinya, kelompok lain menanggapi. Siswa mengumpulkan hasil diskusi kelompoknya kepada guru. Guru bersama siswa bertanya jawab menyimpulkan jawaban akhir dari semua pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang disajikan. Guru memberikan penghargaan kepada kelompok yaitu dengan predikat Good Team. Guru dikerjakan individu. Pertemuan Ketiga . Guru mengawali pembelajaran dengan salam, menyampaikan tata cara, ketentuan dan tujuan tes/ulangan. Siswa diberi kesempatan selama 10 menit untuk mempelajari kembali materi tes. Siswa mengerjakan soal tes dengan . Siswa mengumpulkan lembar jawaban Hasil observasi nilai hasil belajar merupakan nilai tes hasil belajar pada siklus I diperoleh hasil sebagaimana tabel berikut Hasil Indikator Ketuntasan Belajar Jumlah Nilai Nilai Ratarata Nilai Tertinggi Nilai Terendah Tuntas Belajar Belum Tuntas Belajar 74,71 67,65 32,35 23 siswa 11 siswa Persentase Ketuntasan Belajar Siswa Siklus I Persentase Tuntas BelumTuntas Refleksi Tindakan pada Siklus I Berdasarkan analisis hasil observasi pada siklus I, yang meliputi aktivitas dan nilai tes hasil belajar, hasil wawancara dengan teman sejawat diperoleh gambaran refleksi sebagai berikut : Kelebihan Siswa terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran sehingga pembelajaran sudah berpusat pada siswa . tudent cente. , peran guru hanya bertindak sebagai fasilitator dan membimbing kegiatan siswa. Siswa berusaha untuk mendapatkan dan kerjasama dalam kelompok, sehingga siswa merasa lebih mudah memahami Siswa mulai antusias dan bersemangat mengikuti pembelajaran, hal ini dapat dilihat dari analisis lembar pengamatan aktivitas siswa dalam pembelajaran Cooperative Learningtipe Numbered Heads Together (NHT)sebesar 2,59. urang akti. apabila dibandingkan dengan kondisi awal yaitu sebesar 1,44. idak akti. Dilihat dari sisi proses dan hasil belajar yang diperoleh siswa telah menunjukkan adanya peningkatan nilai hasil belajar siswa berupa nilai ratarata sebesar 74,71 apabila dibandingkan dengan kondisi awal sebesar 63,47. Dilihat dari sisi guru itu sendiri terlihat adanya suatu proses optimalisasi tugas dengan memberikan pembelajaran yang menarik, kreatif dan bermakna bagi pencapaian hasil belajar siswa. Kelebihan-kelebihan yang ditemukan pada siklus I ini akan tetap dipertahankan dan diupayakan untuk lebih ditingkatkan lagi. Kekurangan Upaya guru untuk meningkatkan pembelajaran Cooperative Learning tipe Numbered Heads Together (NHT)tampak adanya peningkatan aktivitas siswa dan hasil belajarnya, namun masih terdapat beberapa kekurangan, diantaranya : Dalam menjawab pertanyaan dari kelompok lain masih didominasi beberapa siswa saja terutama pertanyaan yang tidak mampu dijawab oleh teman dalam kelompoknya. Ada beberapa siswa yang masih ragu-ragu dan berani untuk menjawab kelompok lain, meskipun sudah ada Ketuntasan perseorangan naik meskipun nilai rata- rata tesnya belum mencapai nilai di atas Kriteria Ketuntasan Minimal, dan kriteria ketuntasan klasikal yang ditetapkan sesuai indikator capaian penelitian ini sebesar 75% masih belum tercapai, karena ketuntasan belajar klasikalnya baru mencapai 67,65 % Mencermati berbagai kekurangan yang ditemukan pada siklus I ini maka perlu ditindaklanjuti lagi dengan penelitian pada siklus II. Hasil refleksi ini digunakan sebagai dasar untuk menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dan pelaksanaan pembelajaran pada siklus II. Pembelajaran dilaksanakan dengan berpedoman pada silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Kompetensi yang harus dikuasai oleh siswa dalam siklus II ini adalah siswa dapat menentukan persamaan garis lurus yang melalui dua titik dan menentukan persamaan garis lurus yang melalui satu titik dengan gradien tertentu. Pembelajaran dilaksanakan dalam enam jam pelajaran atau tiga kali pertemuan Pertemuan pertama dilaksanakan pada tanggal 5 November 2016, pertemuan kedua dilaksanakan pada tanggal 8 November November2016. Adapun langkah-langkah kegiatan pembelajaran adalah sebagai Pertemuan Pertama . Guru mengawali pembelajaran dengan salam, menyampaikan kompetensi dasar serta tujuan pembelajaran yang akan . Guru menjelaskan materi secara singkat, bertanya jawab dengan siswa tentang menentukan persamaan garis lurus yang melalui dua titik. Guru membagi siswa berkelompok secara heterogen dengan jumlah anggota masing-masing kelompok 5 orang, dan guru memberi nomor kepada setiap siswa dalam kelompok dan nama kelompok yang berbeda. Guru membagi materi ringkas dan Lembar Kerja Siswa (LKS) kepada tiap . Dalam kerja kelompok setiap siswa berpikir bersama untuk menggambarkan dan meyakinkan bahwa tiap orang mengetahui jawaban dari pertanyaan yang ada dalam LKS atau pertanyaan yang telah diberikan guru. Siswa memeriksa dan mengevaluasi jawaban dari setiap anggota kelompok. Jika terdapat siswa yang berkemampuan Deskripsi Siklus II Dalam pembelajaran siklus ini, pembelajaran matematika dilakukan pada standar kompetensi Persamaan Garis Lurus persamaan garis lurus yang melalui dua titik dan menentukan persamaan garis lurus yang melalui satu titik dengan gradien tertentu. Pembelajaran siklus II ini dilakukan dalam tiga kali pertemuan tatap muka yaitu tanggal 5 November, 8 November dan 12 November 2016. Uraian pokok kegiatan pembelajaran pada siklus II memuat empat tahap penelitian yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi tindakan, dan refleksi tindakan. Perencanaan Tindakan pada Siklus II Dalam tahap perencanaan tindakan, kegiatan yang dilakukan oleh peneliti pada pembelajaran siklus II yaitu . menyiapkan silabus dan membuat rencana pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang akan dilaksanakan, . mencari dan menentukan sumber belajar sesuai dengan pokok materi pelajaran, . membuat instrumen yang digunakan untuk penilaian hasil belajar dan Pelaksanaan Tindakan pada Siklus II menyelesaikan soal maka siswa yang lebih pandai membantu siswa yang kurang pandai dalam memahami penyelesaian dari soal yang diberikan. Siswa dengan di bantu guru membuat kesimpulan tentang materi menentukan persamaan garis lurus yang melalui dua Pertemuan Kedua . Guru mengawali pembelajaran dengan salam, menyampaikan kompetensi dasar serta tujuan pembelajaran yang akan . Siswa memperhatikan penjelasan singkat guru tentang menentukan persamaan garis lurus yang melalui satu titik dengan gradien tertentu dengan antusias. Siswa melaksanakan perintah guru membentuk kelompok sesuai dengan pembagian kelompok yang sudah diatur oleh guru seperti pada pertemuan . Siswa dalam kelompok secara bersamasama mempelajari Lembar Kerja Siswa (LKS) yang diberikan oleh guru tentang materi menentukan persamaan garis lurus yang melalui satu titik dengan gradien . Dalam kerja kelompok setiap siswa berpikir bersama untuk menggambarkan dan meyakinkan bahwa tiap orang mengetahui jawaban dari pertanyaan yang ada dalam LKS atau pertanyaan yang telah diberikan guru. Guru menyebut satu nomor dan para siswa dari tiap kelompok dengan nomor yang sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban kepada siswa di . Guru meminta beberapa siswa yang mempresentasikan hasil diskusinya, kelompok lain menanggapi. Siswa mengumpulkan hasil diskusi kelompoknya kepada guru. Guru bersama siswa bertanya jawab menyimpulkan jawaban akhir dari semua pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang disajikan. Guru memberikan penghargaan kepada kelompok yaitu dengan predikat Good Team. Guru memberikan kuis untuk dikerjakan individu. Pertemuan Ketiga . Guru mengawali pembelajaran dengan salam, menyampaikan tata cara, ketentuan dan tujuan tes/ulangan. Siswa diberi kesempatan selama 10 menit untuk mempelajari kembali materi tes. Siswa mengerjakan soal tes dengan . Siswa mengumpulkan lembar jawaban hasil tes. Observasi Tindakan pada Siklus II Observasi pembelajaran pada siklus II secara garis besar meliputi hasil observasi aktivitas siswa dan nilai tes hasil belajar. Hasil Observasi Aktivitas Siswa pada Siklus II Aktivitas siswa dalam pembelajaran Siklus II diperoleh hasil observasi sebagaimana tabel 7berikut ini : Indikator Observasi Siswa penjelasan dari Siswa yang mau menanyakan hal Siswa yang mau terhadap siswa Siswa Ratarata Kriteria 3,44 86,03 Sangat Aktif 2,97 74,26 Aktif Aktif 3,09 77,21 3,15 78,68 Aktif Berdasarkan tabel 8di atas diperoleh data bahwa persentase ketuntasan belajar yang diperoleh pada pembelajaran Siklus II secara jelas dapat digambarkan pada grafik berikut : materi bersama dengan guru Rata-rata 3,16 79,05 Aktif Persentase Aktivitas Siswa Siklus II Grafik 6 Persentase Ketuntasan Belajar Siswa Siklus II Persentase Persentase Indikator 1 Indikator 2 Indikator 3 Indikator 4 Tuntas Hasil akhir observasi terhadap sebagaimana tabel 7dan grafik 5di atas, diperoleh data bahwa rata-rata aktivitas siswa pada pembelajaransiklus IIadalah sebesar 3,16 kategori Aktif. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas siswa dalam pembelajaran tersebut sudah aktif dan ini sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Hasil Observasi Nilai Hasil Belajar pada Siklus II Refleksi Tindakan pada Siklus II Berdasarkan analisis hasil observasi pada siklus II, yang meliputi aktivitasdan nilai tes hasil belajar, hasil wawancara dengan teman sejawat diperoleh gambaran refleksi sebagai berikut : Kelebihan . Siswa terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran sehingga pembelajaran sudah berpusat pada siswa . tudent cente. , peran guru hanya bertindak sebagai fasilitator dan membimbing kegiatan siswa. Siswa berusaha untuk mendapatkan dan kerjasama dalam kelompok, sehingga siswa merasa lebih mudah memahami . Siswa tambah antusias dan bersemangat mengikuti pembelajaran, hal ini dapat dilihat dari analisis lembar pengamatan aktivitas siswa dalam pembelajaran Cooperative Learning tipe Numbered Heads Together (NHT)siklus IIsebesar 3,16. dengan kondisi siklus I yaitu sebesar 2,59 . urang akti. Hasil observasi nilai hasil belajar pada siklus II diperoleh hasil sebagaimana tabel berikut ini : Indikator Hasil Belajar Ketuntasan Jumlah Nilai Nilai Rata-rata 80,15 Nilai Tertinggi Nilai Terendah Tuntas Belajar Belum Tuntas Belajar 82,35 17,65 Tidak Tuntas 28 siswa 6 siswa . Dilihat dari sisi proses dan hasil belajar menunjukkan adanya peningkatan nilai hasil belajar siswa berupa nilai ketuntasan belajara klasikal sebesar 82,35% apabila dibandingkan dengan kondisi sebelumnya sebesar 67,65%. Dilihat dari sisi guru itu sendiri terlihat adanya suatu proses optimalisasi tugas dengan memberikan pembelajaran yang menarik, kreatif dan bermakna bagi pencapaian hasil belajar siswa. Kelebihan-kelebihan ditemukan pada siklus II ini akan tetap dipertahankan dan diupayakan untuk lebih ditingkatkan lagi. Kekurangan Upaya guru untuk meningkatkan pembelajaran Cooperative Learning tipe Numbered Heads Together (NHT) tampak adanya peningkatan aktivitas siswadan hasil belajarnya, namun masih . Dalam menjawab pertanyaan dari kelompok lain masih didominasi oleh beberapa siswa saja terutama pertanyaan yang tidak mampu Ada beberapa siswa yang masih ragu-ragu dan belum berani untuk menjawab yang diberikan oleh kelompok lain, meskipun sudah ada arahan untuk menjawab secara bergantian. Masih terdapat enam siswa yang belum tuntas, perlu pemberian terhadap enam orang yang belum ketuntasan belajar klasikal sebesar 82,35 %, sehingga indikator capaian dalam penelitian tindakanini sudah tercapai, oleh karena itu penelitian sudah dianggap cukup dan tidak dilanjutkan pada siklus berikutnya. Pembahasan Antar Siklus Deskripsi data hasil penelitian tindakan kelas yang dilakukan baik pada kondisi awal maupun kedua siklus sebagaimana diuraikan pada deskripsi di atas dapat disampaikan perbandingan hasil penelitian antar siklus sebagai berikut : Hasil Observasi Aktivitas Siswa Aktivitas siswa dalam pembelajaran diobservasi menggunakan lembar observasi aktivitas siswa, hasil-hasil pengamatan aktivitas siswa dicatat dan diperbandingkan antar pengamatan. Peningkatan aktivitas siswa terbesar diperoleh pada indikator mendengarkan penjelasan guru, dimana pada kondisi awal mempunyai skor 2,35 atau 58,82%, pada siklus I mengalami peningkatan menjadi 2,88 atau 72,06% dan pada siklus II menjadi 3,44 atau 86,03% Pada indikator siswa menanyakan hal yang belum dipahami, dimana pada kondisi awal mempunyai skor hanya 1,12 atau 27,94%, pada siklus I mengalami peningkatan menjadi 2,38 atau 59,56% dan siklus II menjadi 2,97 atau 74,26%. Pada indikator siswa yang memberi tanggapan terhadap siswa yang memberikan saran, dimana pada kondisi awal hanya 1,03 siswa atau 25,74%, pada siklus I mengalami peningkatan menjadi 2,47 atau 61,76% dan siklus II menjadi 3,09 atau 77,21%. Pada indikator siswa menyimpulkan materi, dimana pada kondisi awal hanya 1,26 atau 31,62%, pada siklus I mengalami peningkatan menjadi 2,62atau 65,44% dan siklus II menjadi 3,15 atau78,68%. Secara peningkatan aktivitas siswa pada setiap siklusnya dapat dilihat dari tabel berikut ini : Hasil Observasi Aktivitas Siswa Antar Siklus Berdasarkan berbagai kelebihan dan kekurangan yang ditemukan pada siklus II dapat disimpulkan bahwa secara umum pembelajaran Cooperative Learning tipe NHTyang dilakukan peneliti telah dapat meningkatkan aktivitas siswa sebesar 3,16 atau kriteria aktif dan hasil belajar berupa N Indikat Kondisi Awal Siklus I Siklus Observ Sko Skor % Skor % Siswa 2,35 58,82 2,88 72,06 3,44 86,03 san dari Siswa 27,94 2,38 59,56 2,97 74,26 Siswa 3 terhada 25,74 2,47 61,76 3,09 p siswa Siswa 31,62 2,62 65,44 3,15 78,68 a guru Rata-rata 1,4 36,03 2,59 64,71 3,16 Skor Kriteria Tidak Kurang Aktif Aktif Aktif Berdasarkan tabel dapat dinyatakan dengan mengunakan grafik seperti dibawah Skor Aktivitas Siswa Antar Siklus Kondisi Awal Siklus I Siklus II Berdasarkan tabel dan grafik diatas diperoleh data bahwa skor rata-rata siswa yang melakukan aktivitas pembelajaran sesuai dengan keempat indikator observasi pada kondisi awal sebanyak sebesar 1,44, pada siklus I sebesar 2,59 dan pada siklus II sebesar 3,16. Jika peningkatan rata-rata skor aktivitaspembelajaran ini dibuat persentase rata-rata diperoleh data bahwa persentase rata-rata pada kondisi awal sebesar 36,03%, pada siklus I sebesar 64,71% sehingga keduanya jika dibandingkan mengalami peningkatan sebesar 28,68%. Pada siklus II aktivitas siswa mencapai persentase rata-rata sebesar 79,05% atau meningkat sebesar 14,34% jika dibandingkan dengan siklus I Besarnya peningkatan persentase ratarata aktivitas siswa dalam pembelajaran Cooperative Learningtipe NHT antar siklus akan semakin jelas sebagaimana grafik berikut ini : Persentase Rata-rata Aktivitas Siswa Antar Siklus Persentase Rata-rata Grafik 9 Persentase Ketuntasan Belajar Antar Siklus Kondisi Awal Siklus I Siklus II Kondisi Awal Siklus I Siklus II Tuntas Belajar Hasil Observasi Nilai Tes Hasil Belajar Siswa Penilaian hasil belajar siswa dalam pembelajaran diobservasi menggunakan tes terttulis, hasil-hasil perolehan tes dicatat dan diperbandingkan antar penilaian. Peningkatan hasil belajar siswa diperoleh pada kondisi awal nilai rata-rata 63,47 dengan jumlah siswa tuntas 12 siswa, pada siklus Inilai rata-rata 74,71 dengan jumlah siswa tuntas 23 siswa, pada siklus II nilai rata-rata 80,15 dan jumlah siswa tuntas berjumlah 28 siswa. Secara rinci besarnya peningkatan aktivitas siswa pada setiap siklusnya dapat dilihat dari tabel berikut ini : Tabel Nilai Hasil Belajar Siswa Antar Siklus Indikato Observa Jumlah Rata-rata Persentas Kondis i Awal Siklus Siklus 63,47 74,71 80,15 35,29% 67,65 82,35 Belum Tuntas Belajar Berdasarkan tabel diatas diperoleh data bahwa nilai hasil belajar siswapada saat kondisi awal jumlah siswa tuntas 12 siswa, pada siklus I jumlah siswa tuntas 23 siswa dan pada siklus II jumlah siswa tuntas 28 Jika peningkatan jumlah siswa persentase diperoleh data bahwa persentase jumlah siswa tuntas pada kondisi awal sebesar 35,29%, pada siklus I persentase jumlah siswa tuntas sebesar 67,65% sehingga keduanya jika dibandingkan mengalami peningkatan sebesar32,36%. Pada siklus II persentase jumlah siswa tuntas mencapai82,35% atau meningkat sebesar 14,70% jika dibandingkan dengan siklus I. Besarnya peningkatan hasil belajar siswa dalam pembelajaran Cooperative Learningtipe NHTantar siklus akan semakin jelas sebagaimana grafik berikut ini : Berdasarkan tabel nilai hasil belajar antar siklus dapat disajikan dalam bentuk grafik sebagai berikut : Bangun RuangAy. Penelitian Tindakan Kelas. http://lppm. id/htmpublikasi/11wwahyu html diakses 24 Februari 2013. Ibrahim. Muslimin. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya Unesa University Press. Kunandar. Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Pengembangan Profesi Guru. Jakarta : Raja Grafindo Persada. Lie. Anita. Cooperative Learning. Jakarta : Grasindo. Russeffendi. Pengantar kepada Membantu Guru Mengembangkan Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika untuk Meningkatkan CBSA. Bandung : Tarsito. Slameto. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rhineka Cipta. Slavin. Robert . Cooperative Learning. Massachusets: Allyn and Bacon. Soedjadi. Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia. Jakarta: Dikti. Depdiknas. Sudirman. Langkah Pembelajaran. Jakarta: Rhineka Cipta. Suhandari. Putri. Poetrysalju. Diakses 30 November 2013. Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. KamusBesar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustak Grafik 10 Persentase Ketuntasan Belajar Antar Siklus Persentase Kondisi Awal Siklus I Siklus II DAFTAR PUSTAKA