191 INOVASI : Jurnal Hasil Pengabdian Masyarakat. Vol. No. 2, 2024 Pelatihan Peningkatan Kapasitas Dosen Pembimbing Akademik Fitriana1. Farida Aryani2. Yusri3. Maslina4. Nuraini Yusuf5 Universitas Negeri Makassar. Indonesia1,2,3,4,5 Email: farida. aryani@unm. Abstrak. Pelatihan Peningkatan Kapasitas Dosen Pembimbing Akademik (PA) di Fakultas Teknik Universitas Negeri Makassar bertujuan untuk memperkuat peran dosen dalam mendukung keberhasilan akademik dan non-akademik mahasiswa. Pelatihan yang dilaksanakan pada 20 Oktober 2024 di Hotel Remcy. Makassar, dihadiri oleh sekitar 50 dosen dan menggunakan metode workshop, diskusi, dan simulasi, dengan fokus pada pengembangan keterampilan komunikasi, dukungan psikologis awal, dan praktik self-care untuk mencegah burnout. Hasil pelatihan menunjukkan bahwa peserta mampu mengenali permasalahan mahasiswa dan memberikan dukungan psikologis yang diperlukan, serta menunjukkan antusiasme dalam menerapkan pendekatan 3L (Look. Listen. Lin. dalam studi kasus. Diharapkan pelatihan ini dapat meningkatkan kompetensi dosen PA dalam memberikan layanan bimbingan akademik yang holistik, mencakup aspek akademik, emosional, dan sosial mahasiswa, sehingga peran dosen PA dapat dimaksimalkan untuk mendukung keberhasilan mahasiswa dalam menghadapi tantangan di dunia pendidikan tinggi saat ini. Kata Kunci: Dosen Pembimbing Akademik. Self Care. Keterampilan Komunikasi. PENDAHULUAN Dalam sistem pendidikan tinggi di Indonesia, keberhasilan akademik mahasiswa bukan hanya ditentukan oleh kemampuan akademik semata tetapi juga oleh dukungan lingkungan yang mendukung, termasuk peran dosen Pembimbing Akademik (PA). Menurut Permendikbud No. Tahun 2020 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi, layanan pembimbingan akademik menjadi bagian tak terpisahkan dari upaya institusi pendidikan tinggi untuk memastikan kesejahteraan mahasiswa baik secara akademik maupun non-akademik. Pembimbing akademik (PA) memegang peran strategis dalam mendukung keberhasilan mahasiswa di perguruan tinggi. PA tidak hanya bertanggung jawab untuk memandu mahasiswa dalam penyusunan rencana studi, tetapi juga membantu mereka mengatasi berbagai tantangan akademik dan non-akademik yang dapat memengaruhi proses pembelajaran. Dalam konteks pendidikan tinggi, peran PA semakin kompleks, mencakup pendampingan karier, pengembangan potensi diri, hingga memberikan dukungan psikologis dan emosional kepada mahasiswa juga memfasilitasi mahasiswa dalam mengatasi berbagai tantangan emosional, sosial, dan psikologis yang sering kali menjadi hambatan bagi keberhasilan mereka. Namun, realitas menunjukkan bahwa banyak dosen yang belum sepenuhnya memahami tugas dan fungsi PA secara komprehensif. Sebagian besar dosen lebih fokus pada aspek pengajaran atau penelitian, sehingga peran sebagai PA seringkali tidak dijalankan secara optimal. Kurangnya pelatihan dan pengembangan kapasitas dalam bidang pembimbingan akademik menjadi salah satu faktor penyebab rendahnya efektivitas PA dalam mendampingi mahasiswa. Dosen PA belum Pelatihan Peningkatan Kapasitas Dosen Pembimbing Akademik 192 sepenuhnya dilatih untuk memberikan dukungan yang holistik, terutama dalam identifikasi masalah dan pemberian dukungan psikologis awal terhadap mahasiswa. Hal ini didukung oleh penelitian sebelumnya (Mohanna, 2. menunjukkan bahwa mahasiswa sering merasa tidak ingin mendiskusikan masalah mereka karena kurangnya pendekatan yang empatik dari dosen, menunjukkan kebutuhan pelatihan dalam keterampilan komunikasi interpersonal. Selain itu, tekanan kerja yang tinggi pada dosen sering kali mengurangi kapasitas mereka untuk mendampingi mahasiswa secara optimal. Burnout yang dialami dosen PA, sebagaimana diidentifikasi oleh Halbesleben . , dapat berdampak negatif pada kualitas bimbingan yang mereka berikan. Mahasiswa, khususnya di fakultas teknik, sering menghadapi tekanan akademik yang signifikan, termasuk beban kurikulum yang berat, tuntutan proyek yang tinggi, serta kesulitan komunikasi interpersonal. Penelitian dalam lima tahun terakhir menyoroti pentingnya peran PA dalam mendukung mahasiswa mengidentifikasi dan mengatasi berbagai masalah, mulai dari kendala akademik hingga persoalan pribadi yang dapat menghambat perkembangan mereka. Penelitian Wu et al. ini menunjukkan bahwa mahasiswa teknik sering kali menghadapi kesulitan dalam komunikasi interpersonal dan presentasi, yang dapat menghambat kolaborasi tim dan kemampuan untuk menyampaikan ide teknis secara jelas. Smith dan Brown . menunjukkan bahwa interaksi mahasiswa dengan dosen dalam bimbingan akademik sering kali terhambat karena kurangnya kepercayaan diri mahasiswa dalam menyampaikan ide secara verbal. Penelitian ini mengungkapkan bahwa 64% mahasiswa merasa ragu berbicara dengan dosen, terutama dalam situasi formal seperti konsultasi akademik atau pembimbingan proyek. Faktor utama yang memengaruhi adalah kurangnya keterampilan komunikasi interpersonal yang terlatih sejak dini, serta adanya persepsi hierarki antara dosen dan mahasiswa yang memperburuk kecanggungan komunikasi (Smith & Brown, 2. Mahasiswa teknik sering kali lebih fokus pada keterampilan teknis dan analitis dibandingkan dengan pengembangan komunikasi interpersonal. Sebuah studi menunjukkan bahwa interaksi mahasiswa dengan dosen dalam kegiatan bimbingan akademik maupun pembelajaran sering kali rendah, karena mahasiswa merasa tidak percaya diri dalam menyampaikan ide mereka secara verbal. Hal ini dapat berdampak pada rendahnya partisipasi aktif dalam diskusi kelas, pembimbingan proyek, dan pengembangan kreativitas akademik. Secara keseluruhan, peran dosen PA dalam mengungkap dan mengatasi masalah mahasiswa teknik sangat penting untuk memastikan keberhasilan akademik dan profesional mahasiswa, terutama dalam mengatasi keterbatasan komunikasi mereka yang sering menjadi penghambat dalam kolaborasi dan karier. Ini membutuhkan sinergi antara dosen, kurikulum, dan kebijakan pendidikan tinggi untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang lebih mendukung bagi mahasiswa teknik. Untuk itu, sangat penting bagi perguruan tinggi untuk memberikan pelatihan berkelanjutan kepada para PA, termasuk dalam hal keterampilan komunikasi, pendekatan konseling, serta pemahaman lintas budaya. Pengembangan kapasitas ini tidak hanya akan meningkatkan kualitas pembimbingan, tetapi juga memperkuat peran PA dalam mendukung keberhasilan mahasiswa, baik secara akademik maupun non-akademik. Dalam konteks ini. Pelatihan yang komprehensif tidak hanya mendukung kesejahteraan mahasiswa tetapi juga meningkatkan kapasitas dosen untuk berkontribusi dalam menciptakan lingkungan akademik yang inklusif. Dengan demikian, peran PA dapat dimaksimalkan untuk 193 INOVASI : Jurnal Hasil Pengabdian Masyarakat. Vol. No. 2, 2024 menghadapi tantangan pendidikan tinggi saat ini, terutama dalam mendukung mahasiswa teknik yang membutuhkan pendekatan khususnya. Melalui pendekatan berbasis data, pelatihan ini memberikan panduan praktis dan teori terkini untuk memastikan dosen PA tidak hanya menjadi pengarah akademik tetapi juga fasilitator perkembangan mahasiswa secara menyeluruh. Implementasi pelatihan semacam ini juga selaras dengan kebijakan pendidikan tinggi yang mengutamakan bimbingan personal sebagai bagian integral dari keberhasilan sistem pendidikan. METODE YANG DIGUNAKAN Pelatihan Peningkatan Kapasitas Dosen Pembimbing Akademik akan dilaksanakan menggunakan pendekatan partisipatif dan berbasis praktik. Kegiatan dimulai dengan sesi pembukaan yang melibatkan paparan materi dari para narasumber ahli, seperti praktisi pendidikan tinggi dan konselor profesional, yang akan memberikan pemahaman mendalam tentang peran dan tanggung jawab dosen pembimbing akademik. Metode ceramah interaktif akan digunakan untuk menjelaskan konsep-konsep utama, seperti strategi pendampingan mahasiswa, pengelolaan konflik, dan pengembangan soft skills. Peserta juga akan diajak untuk mendiskusikan studi kasus nyata yang relevan dengan tantangan pembimbingan akademik, sehingga materi dapat lebih aplikatif dan kontekstual. Selanjutnya, pelatihan ini akan difokuskan pada sesi praktik melalui simulasi dan roleplaying, di mana peserta akan berperan sebagai dosen pembimbing dan mahasiswa dalam berbagai skenario pembimbingan akademik. Metode ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan komunikasi interpersonal, kemampuan mendeteksi masalah mahasiswa, dan penyusunan rencana pembimbingan yang efektif. Setelah setiap sesi simulasi, peserta akan menerima umpan balik dari fasilitator dan rekan sejawat untuk memperbaiki strategi pembimbingan mereka. Kegiatan ditutup dengan refleksi bersama dan penyusunan rencana tindak lanjut untuk diterapkan di lingkungan kampus masing-masing, dengan harapan pelatihan ini dapat meningkatkan kualitas hubungan antara dosen pembimbing dan mahasiswa. HASIL DAN PEMBAHASAN KEGIATAN Beyond Guidance: Evaluasi Peran Dosen Penasihat Akademik Menuju Pembimbingan yang Holistik dan Humanis. Pelatihan Penasihat Akadeik ini dilakukan di Makassar pada hari Minggu, 20 Oktober 2024 tepatnya di Hotel Remcy. Lt. Kegiatan yang di laksanakan oleh Fakultas Teknik Universitas Makassar ini, dihadiri dan dibuka langsung oleh Bapak Rektor UNM. Dekan Fakultas Teknik. Wakil dekan, serta kurang lebih 50 Dosen yang didominasi oleh dosen muda yang baru bertugas sebagai Pembimbing Akademik. Narasumber yang terdiri 4 Narasumber Utama untuk materi inti dan 2 narasumber untuk Praktek dan Simulasi. Tujuan dari pelatihan ini adalah sebagai upaya peningkatan kapasitas dosen sebagai pembimbing akademik yang tentunnya meningkatkan kompetensi dosen dalam memberikan layanan bimbingan akademik berbasis pendekatan holistik yang mencakup aspek akademik, emosional, dan sosial mahasiswa. Melalui pelatihan ini, dosen diharapkan mampu mengidentifikasi kebutuhan mahasiswa, baik yang bersifat eksplisit seperti kendala belajar, maupun implisit seperti masalah psikologis atau keterbatasan komunikasi interpersonal. Pelatihan juga bertujuan untuk membekali dosen PA dengan keterampilan komunikasi efektif, sehingga Pelatihan Peningkatan Kapasitas Dosen Pembimbing Akademik 194 mereka dapat menciptakan hubungan yang kolaboratif dan mendukung mahasiswa dalam proses pengambilan keputusan akademik dan pribadi secara mandiri. Di sisi lain, pelatihan ini bertujuan memperkuat kapasitas dosen dalam memahami isu kesehatan mental mahasiswa, memberikan dukungan awal, serta merujuk mereka ke layanan profesional jika diperlukan. Elemen pelatihan seperti penguatan self-care juga menjadi prioritas untuk mencegah kelelahan emosional . di kalangan dosen PA, yang dapat berdampak pada kualitas layanan mereka. Pelaksanaan Pelatihan ini secara umum melalui tiga tahap yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan (Int. , simulasi dan penutup. Adapun uraian kegiatan ini adalah sebagai berikut: Persiapan Kegiatan ini di awali dengan asesmen masalah untuk mengetahui karakteristik mahasiwa fakultas teknik secara umum. Alat asesmen yang di gunakan adalah instrument AUM (Alat Ungkap Masala. , yang di sebarkan kepada mahasiwa teknik memalui G-Form. Hasil dari AUM mengungkapkan beberapa masalah yang tidak terprediksikan oleh dosen dan ternyata dialamai oleh mahasiswanya. Selanjutnya memastikan bahwa materi yang dipaparkan relevan sesuai dengan kebutuhan peserta, seperti dosen PA. serta mpersiapkan alat dan bahan, seperti alat ATK untuk pelaksanaan aktifita serta melakukan koordinasi dengan tim fasilitator, untuk memastikan peran setiap anggota jdalma pelaksanaan. Tahap Pelaksanaan (Int. Pelaksanaan dilakukan dalam 4 sesi materi yang menggabungkan teori dan praktek. Adapun rincian kegiatan adalah sebagai berikut: Identifikasi Masalah Mahasiswa dan Peran PA. Narasumber dalam hal memberikan pengantar tentang tujuan pelatihan, dan menjelaskan bagaimana identifikasi masalah menjadi langkah penting dalam mendukung kesejahteraan dan perkembangan mahasiswa. Pemaparan karakteritik masalah oleh narasumber berdasarkan AUM, dijadikan sebagai pemantik untuk membahas terkait berbagai jenis masalah mahasiswa, seperti masalah akademik . esulitan belajar, manajemen wakt. , psikososial . solasi, kecemasa. , dan masalah interpersonal . onflik dengan teman atau Peserta kemudian aktifitas AuPohon MasalahAy dengan mengidentifikasi permasalah yang biasa muncul pada mahasiwa kemudian di latih untuk menganalisis Sebab-Akibat. Gambar 1. Presentase Pohon Masalah Kelompok 195 INOVASI : Jurnal Hasil Pengabdian Masyarakat. Vol. No. 2, 2024 Gambar 2. Pohon Masalah lainnya Dukungan Psikologis Awal bagi Mahasiswa. Materi terkait Dukungan Psikologi Awal ini terkait dengan pertolongan pertama bagi mahasiswa yang sedang bermasalah. Pada tahap awal pelatihan, penting untuk menciptakan rasa aman dan kepercayaan antara penasehat akademik dengan mahasiswa. Kepercayaan ini membantu mahasiswa merasa nyaman untuk berbicara mengenai tantangan akademik atau personal yang mereka hadapi. Penasehat akademik harus mampu menunjukkan empati dan kemampuan mendengarkan secara aktif, sehingga mahasiswa merasa dihargai dan dipahami. Ada 3 Prinsip utama dari DPA (Schumann, 2. , yaitu 3L (Look. Listen dan Lin. Dengan menerapkan pendekatan 3L dalam pelatihan penasehat akademik, penasehat dapat memberikan dukungan yang lebih efektif, komprehensif, dan terarah. Look membantu penasehat memahami kondisi mahasiswa. Listen memungkinkan penasehat untuk lebih memahami masalah yang mereka hadapi, dan Link memberikan solusi atau dukungan yang tepat untuk membantu mahasiswa mengatasi hambatan psikologis atau akademik mereka. Gambar 3. Pemaparan Penggunaan 3L dalam Contoh Kasus Keterampilan Komunikasi Materi keterampilan komunikasi sangat penting dalam pelatihan penasehat akademik, karena penasehat akademik berperan sebagai pendamping utama bagi mahasiswa dalam merencanakan jalur pendidikan mereka, memberikan bimbingan akademik, dan memberikan dukungan dalam mengatasi masalah pribadi. Melatih keterampilan komunikasi membantu penasehat akademik dalam mengelola situasi sulit atau konflik yang mungkin timbul selama Pelatihan Peningkatan Kapasitas Dosen Pembimbing Akademik 196 interaksi dengan mahasiswa 9Robinson, 2. Ini penting dalam memastikan bahwa mahasiswa mendapat dukungan yang tepat, sehingga mereka dapat berkembang baik secara akademik maupun pribadi (Brownell, 2. Penasehat akademik harus mampu mendengarkan dengan penuh perhatian untuk memahami apa yang sebenarnya dialami mahasiswa. Kemampuan untuk mendengarkan secara aktif memungkinkan penasehat untuk mengidentifikasi kebutuhan atau masalah yang mendalam, yang mungkin tidak diungkapkan secara langsung. Keterampilan ini juga penting dalam mengatasi hambatan komunikasi yang sering muncul, seperti mahasiswa yang ragu untuk berbicara tentang masalah pribadi mereka (Corey, 2. Dalam pelatihan penasehat akademik, pelatihan keterampilan mendengarkan yang empatik adalah langkah awal untuk memastikan penasehat dapat memberikan dukungan yang tepat. Gambar 4. Pemaparan Komunikasi Efekti dengan Pemutaran Video Self Care dan Kesehatan Mental Self Care merupakan praktik penting untuk menjaga kesehatan mental, terutama dalam konteks bimbingan akademis dan bagi dosen yang mungkin menghadapi kelelahan. Butterfly Hug merupakan teknik perawatan diri sederhana yang sering digunakan dalam pertolongan pertama psikologis untuk meningkatkan pengaturan emosi dan mengurangi kecemasan. Teknik ini melibatkan menyilangkan lengan di dada dalam bentuk kupu-kupu, mengetuk dengan lembut setiap tangan di lengan atas yang berlawanan dalam irama yang Tindakan ini telah terbukti membantu menenangkan sistem saraf, mengurangi stres, dan menumbuhkan rasa aman dan nyaman (Briere, 2. Butterfly Hug dapat menjadi alat yang mudah dan dapat diakses oleh fasilitator untuk dimasukkan ke dalam interaksi mereka dengan peserta terutama ketika membahas topik sensitif yang terkait dengan tekanan akademis, perjuangan kesehatan mental, atau kesulitan pribadi. Dalam konteks bimbingan akademis, khususnya dengan para dosen, kelelahan merupakan masalah signifikan yang memengaruhi kemampuan mereka untuk mendukung mahasiswa secara efektif. Kelelahan di antara staf akademis sering dipicu oleh stres yang berkepanjangan, beban kerja yang berlebihan, dan kelelahan emosional. Aspek utama dalam mengatasi kelelahan adalah praktik perawatan diri, yang dapat membantu menjaga keseimbangan kehidupan kerja yang berkelanjutan (Maslach, 2. 197 INOVASI : Jurnal Hasil Pengabdian Masyarakat. Vol. No. 2, 2024 Gambar 5. Ekpresi Setelah ButterFly Hug. Simulasi Simulasi penasehat akademik dalam pelatihan fokus pada mengembangkan keterampilan praktis yang diperlukan oleh penasehat akademik untuk memberikan bimbingan efektif kepada siswa, baik secara pribadi maupun dalam pengaturan kelompok. Dalam konteks pelatihan ini, peserta dilatih untuk mengidentifikasi berbagai isu akademik dan pribadi yang dihadapi siswa, serta menerapkan pendekatan yang tepat untuk membantu mereka mengatakan masalaha yang dialami. Simulasi layanan individu dan kelompok sangat penting dalam pelatihan penasehat akademik karena membantu mereka mempersiapkan diri menghadapi berbagai situasi yang mungkin muncul dalam pekerjaan sehari-hari. Dengan latihan ini, penasehat akademik dapat memahami bagaimana menyesuaikan pendekatan mereka sesuai dengan kebutuhan individu dan dinamika kelompok. Ini juga membantu mereka dalam mengidentifikasi potensi masalah sejak dini dan memberikan intervensi yang efektif untuk mendukung kesejahteraan akademik dan emosional mahasiswa (Gysbers & Henderson, 2. Gambar 6. Kegiatan Pra_Simulasi Pemetaan Masalah Penutup Kegiatan diakhiri dengan sesi Evaluasi dan refleksi. Testimoni peserta pelatihan, dan mengisi posttest yang ada. Kemudian ada Rencana Tindak Lanjut dengan menugaskan setiap dosen di prodi masing-masing untuk mengisi laporan kegiatan Dosen Pembimbingan Akademik dan diberi tantangan selama 2 minggu untuk melakukan kegitan AuCurhat AkademikAydan bertemu dengan mahasiswa masing-masing. Pelatihan Peningkatan Kapasitas Dosen Pembimbing Akademik 198 Gambar 7. Para Peserta Pelatihan. KESIMPULAN Dosen mampu mengenal permasalahan mahasiwa, memberi dukungan psikologis awal. Serta keterampilan komunikasi efektif dengan mahasiswa. Meskipun secara umum, para peserta kesulitan dalam memetakan pohon masalah, tapi setelah pelatihan mereka mampu memahami dan memetakan. Para peserta paltihan juga sangant antusias dalam menjelaskan penerapan 3 L dalam contoh studi kasus. Prosesi Butterfly hug sangat khidmat, dan terlihat bahwa beberapa peserta memberikan testimoni postitif terkait metode tersebut. Dalam praktek simulasi, bisa dikatakan tidak terlalu efektf karena keterbatasan waktu, tapi peserta sudah punya Gambaran uum terkait praktif baik nkmunikasi efektif dan penerapan 3 DAFTAR PUSTAKA