SIPISSANGNGI Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat https://journal. lppm-unasman. id/index. php/sipissangngi SIPISSANGNGI: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat is licensed under a Creative Commons AttributionShareAlike 4. 0 International License. ISSN. : 2775-2054 PELATIHAN ANALISIS BUTIR SOAL DENGAN PENERAPAN TEORI KLASIK Article history Received: 23 Juni 2025 Revised: 23 Agustus 2025 Accepted: 5 September 2025 DOI: 10. 35329/jp. 1Syahrul, 1Iwan Suhardi, 1Patahuddin, 1Arwin Dama, 1*Suryadi Ishak 1Penelitian Evaluasi Pendidikan. Pascasarjana. Universitas Negeri Makassar Program *Corresponding Author Suryadi. ishak@unm. Abstrak Kegiatan pelatihan analisis butir soal berbasis teori klasik yang dilaksanakan di Kabupaten Kepulauan Selayar merupakan bagian dari upaya peningkatan kualitas evaluasi pembelajaran di daerah kepulauan. Program ini bertujuan untuk membekali guru dengan keterampilan menyusun dan menganalisis soal berdasarkan teori klasik seperti analisis tingkat kesukaran, daya pembeda, dan efektivitas distraktor. Pelatihan ini juga memperkenalkan pemanfaatan teknologi berbasis AI untuk membantu guru dalam menyusun soal secara efisien dan sistematis. Artikel ini membahas proses pelatihan, tantangan yang dihadapi, solusi yang ditawarkan, serta dampak terhadap peningkatan kompetensi guru dan kualitas pembelajaran. Kata kunci: Evaluasi Pembelajaran. AI dalam Pendidikan. Rekonstruksi Soal. Pelatihan Guru. Daerah Kepulauan Gambar 1. Dokumentasi kegiatan PKM Pelatihan Analisis Butir Soal Dengan Penerapan Teori Klasik Volume 5. Nomor 3. September . | eISSN: 2775-2054 Syahrul, dkk. / Pelatihan Analisis Butir Soal dengan Penerapan Teori A PENDAHULUAN Kabupaten Kepulauan Selayar merupakan wilayah yang memiliki kekayaan budaya dan potensi sumber daya manusia, namun juga menghadapi tantangan serius dalam bidang Sebagai daerah kepulauan, kondisi geografis yang terpencil dan terpisah-pisah menjadikan akses terhadap layanan pendidikan berkualitas menjadi tidak merata. Infrastruktur pendidikan seperti jaringan internet, perangkat teknologi, dan fasilitas laboratorium komputer masih sangat terbatas. Hal ini berdampak langsung pada proses pembelajaran dan evaluasi yang dilakukan di sekolah-sekolah, khususnya dalam aspek asesmen yang membutuhkan akurasi dan keandalan instrumen (Arikunto, 2. Kondisi ini menyebabkan guru di Kepulauan Selayar kesulitan dalam menyusun soal-soal evaluasi yang valid dan reliabel. Ketiadaan pelatihan berkelanjutan yang fokus pada teknik penyusunan dan analisis butir soal membuat sebagian besar guru masih mengandalkan pengalaman pribadi tanpa acuan ilmiah yang memadai. Padahal, dalam sistem pendidikan modern, validitas dan reliabilitas merupakan dua pilar utama dalam menjamin bahwa instrumen evaluasi benar-benar mengukur capaian kompetensi siswa secara objektif (Suharsimi, 2. Ketidaktepatan dalam penyusunan soal dapat menyebabkan hasil evaluasi yang bias dan tidak mencerminkan kemampuan siswa yang Selain itu, keterbatasan literasi digital menjadi tantangan tersendiri bagi guru dalam mengakses sumber-sumber pembelajaran maupun perangkat bantu penyusunan soal. Di era digital saat ini, kemampuan untuk mengintegrasikan teknologi dalam proses pembelajaran dan evaluasi menjadi suatu keharusan. Namun realitas di lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar guru di daerah 3T seperti Selayar belum memiliki kesempatan untuk mengikuti pelatihan terkait penggunaan teknologi pendidikan, termasuk dalam membuat dan menganalisis soal berbantuan perangkat lunak (OECD, 2. Hal ini menciptakan kesenjangan yang semakin melebar antara wilayah pusat dan daerah terpencil. Sebagai respons terhadap tantangan tersebut, pelatihan penyusunan dan analisis butir soal berbasis teori klasik dirancang sebagai salah satu solusi strategis. Teori klasik (Classical Test Theor. memungkinkan guru untuk menilai karakteristik kualitas soal melalui indikator seperti tingkat kesukaran, daya pembeda, dan efektivitas pengecoh. Melalui pendekatan ini, guru tidak hanya diajarkan menyusun soal, tetapi juga mengevaluasi apakah soal tersebut mampu mengukur kompetensi siswa secara tepat. Pelatihan ini memberikan landasan konseptual dan praktis yang kuat bagi guru untuk meningkatkan kualitas asesmen yang mereka kembangkan (Nitko & Brookhart, 2. Tidak hanya berfokus pada pendekatan teori klasik, program pelatihan ini juga memperkenalkan pemanfaatan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) dalam menyusun Teknologi ini memungkinkan guru untuk membuat soal secara otomatis dengan mempertimbangkan indikator pembelajaran dan tingkat kognitif tertentu. Kehadiran AI sebagai alat bantu memberikan efisiensi waktu dan meningkatkan variasi soal, sekaligus membekali guru dengan pemahaman teknologi yang relevan dengan tuntutan pendidikan abad ke-21 (UNESCO, 2. Dengan kata lain, guru tidak hanya mendapatkan peningkatan keterampilan manual, tetapi juga transformasi pola pikir terhadap penggunaan teknologi dalam evaluasi pembelajaran. Pelaksanaan pelatihan ini diharapkan mampu mendorong transformasi pendidikan yang lebih adaptif dan kontekstual, khususnya di daerah-daerah tertinggal seperti Selayar. Transformasi ini mencakup pergeseran paradigma dari evaluasi yang bersifat administratif ke evaluasi sebagai alat pembelajaran yang reflektif dan berbasis data. Melalui integrasi teori klasik dan teknologi AI, guru diharapkan tidak hanya menjadi penyusun soal, tetapi juga menjadi analis data pendidikan yang mampu memetakan capaian dan kebutuhan belajar siswa secara lebih presisi. Dengan demikian, pelatihan ini menjadi titik tolak penting dalam mewujudkan pendidikan yang merata dan berkualitas di seluruh pelosok negeri (Mourshed. Chijioke, & Barber, 2. Volume 5. Nomor 3. September . | eISSN: 2775-2054 Syahrul, dkk. / Pelatihan Analisis Butir Soal dengan Penerapan Teori A METODE Program pengabdian kepada masyarakat ini dirancang dengan pendekatan bertahap dan sistematis guna menjawab tantangan nyata yang dihadapi guru di Kabupaten Kepulauan Selayar dalam menyusun soal evaluasi yang berkualitas. Lima tahapan utama yang menjadi fondasi pelaksanaan program adalah: sosialisasi kepada mitra, pelatihan teori klasik dalam analisis butir soal, pelatihan penggunaan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI), praktik langsung pembuatan soal, serta pendampingan dan evaluasi Setiap tahapan disusun tidak hanya untuk mentransfer pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga untuk membentuk ekosistem belajar yang kolaboratif dan adaptif terhadap perkembangan zaman (Darling-Hammond et al. , 2. Adapun lima tahapan dala pelaksanaan program pengabdian, antara lain. Sosialisasi Program kepada Mitra Tahap awal program ini adalah sosialisasi yang bertujuan membangun pemahaman bersama dan komitmen kolektif antara tim pelaksana dan para mitra, yaitu guru, kepala sekolah, dan pengawas. Sosialisasi dilaksanakan secara partisipatif, tidak hanya menyampaikan informasi teknis program, tetapi juga mendengarkan tantangan yang dihadapi guru dalam menyusun soal evaluasi yang bermutu. Dengan melibatkan para pemangku kepentingan sejak awal, sosialisasi ini menumbuhkan rasa memiliki terhadap program dan mendorong partisipasi aktif Tahapan pertama ini sangat penting sebagai landasan awal keberhasilan program. Sosialisasi dilakukan untuk membangun pemahaman bersama mengenai tujuan, ruang lingkup, dan urgensi program pelatihan analisis butir soal. Pada tahap ini, guru, kepala sekolah, dan pejabat dinas pendidikan diundang untuk berdialog secara terbuka mengenai tantangan nyata yang mereka hadapi dalam menyusun dan menggunakan instrumen evaluasi pembelajaran. Sosialisasi tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membangun ikatan emosional dan rasa kepemilikan terhadap program. Dengan berbagi cerita dari lapangan misalnya bagaimana guru harus menyusun soal dalam kondisi terbatas tanpa dukungan teknologi para peserta diajak untuk melihat bahwa perubahan adalah kebutuhan yang nyata dan mendesak. Kegiatan ini sesuai dengan prinsip pemberdayaan partisipatif yang menyatakan bahwa program akan efektif ketika dilandasi oleh keterlibatan aktif penerima manfaat sejak awal (UNESCO, 2. Pelatihan Teori Klasik dalam Analisis Butir Soal Tahapan kedua adalah pemberian pelatihan teoritis mengenai prinsip-prinsip dasar dalam menyusun dan menganalisis butir soal. Guru diajak memahami konsep-konsep seperti tingkat kesukaran, daya pembeda, efektivitas pengecoh, dan reliabilitas soal. Pelatihan ini menggunakan pendekatan teoritis yang dikombinasikan dengan contoh soal nyata yang diambil dari praktik guru sehari-hari. Dengan pemahaman teori klasik (Classical Test Theory/CTT), guru memperoleh bekal untuk mengevaluasi kualitas soal secara kuantitatif dan obyektif. Pelatihan ini penting karena sebagian besar guru sebelumnya hanya menyusun soal berdasarkan intuisi, tanpa melakukan analisis mendalam atas hasil Konsep-konsep yang diajarkan juga menjadi dasar untuk memahami analisis data hasil ujian siswa secara lebih bermakna (Nitko & Brookhart, 2. Pelatihan Penggunaan Teknologi Berbasis AI Tahapan ketiga memperkenalkan peserta pada penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk menyusun soal secara otomatis. Dalam konteks keterbatasan waktu dan fasilitas, penggunaan AI menjadi alternatif yang sangat membantu guru dalam menghasilkan soal-soal berkualitas dengan efisiensi tinggi. Guru dilatih untuk memasukkan indikator pembelajaran dan memilih level kognitif tertentu berdasarkan taksonomi Bloom. Volume 5. Nomor 3. September . | eISSN: 2775-2054 Syahrul, dkk. / Pelatihan Analisis Butir Soal dengan Penerapan Teori A lalu membiarkan sistem AI menyusun butir soal yang sesuai. Selain mempercepat proses kerja, penggunaan AI juga meningkatkan variasi soal dan memungkinkan guru fokus pada penyesuaian konteks lokal. Namun demikian, pelatihan ini tetap menekankan bahwa AI hanyalah alat bantu, bukan pengganti. Guru diajak untuk tetap mengevaluasi dan menyunting hasil dari sistem agar sesuai dengan nilai-nilai pedagogis dan kebutuhan siswa (OECD, 2. Gambar 2. Dokumentasi Pelatihan Penggunaan Teknologi Berbasis AI Praktik Langsung Pembuatan Soal Setelah mendapatkan bekal teori dan teknologi, guru melakukan praktik langsung menyusun soal. Kegiatan ini dilaksanakan dalam suasana yang kolaboratif baik secara individual maupun berkelompok. Guru menyusun kisi-kisi soal, menuliskan butir soal berdasarkan indikator, dan langsung menggunakan platform AI untuk menghasilkan soal Hasilnya kemudian dianalisis bersama dengan fasilitator dan peserta lain. Praktik ini memungkinkan guru mengalami proses belajar berbasis pengalaman . xperiential Kesalahan dan keberhasilan dalam praktik menjadi bahan refleksi bersama. Guru diajak berpikir kritis terhadap hasil karyanya, termasuk sejauh mana soal tersebut benarbenar mengukur kompetensi siswa. Aktivitas ini juga memperkuat solidaritas antar guru dalam berbagi metode dan saling memberikan umpan balik (Anderson & Krathwohl, 2. Gambar 2. Dokumentasi Praktek Pembuatan dan Analisis Butir Soal Volume 5. Nomor 3. September . | eISSN: 2775-2054 Syahrul, dkk. / Pelatihan Analisis Butir Soal dengan Penerapan Teori A Pendampingan dan Evaluasi Berkelanjutan Tahap akhir, dan sekaligus yang paling menentukan keberlanjutan dampak program, adalah pendampingan intensif serta evaluasi atas penerapan hasil pelatihan. Guru tidak hanya dibiarkan menerapkan hasil pelatihan secara mandiri, tetapi diberikan dukungan teknis dan pedagogis secara berkelanjutan. Pendampingan dilakukan melalui kunjungan ke sekolah mitra, pemantauan daring, dan refleksi rutin atas penggunaan soal di kelas. Evaluasi dilakukan terhadap kualitas soal yang dihasilkan guru setelah pelatihan, termasuk analisis tingkat kesukaran dan daya pembeda berdasarkan data hasil ulangan Dalam beberapa kasus, hasilnya digunakan untuk memperbaiki pendekatan pengajaran guru agar lebih responsif terhadap kebutuhan siswa. Tahap ini memperkuat posisi guru sebagai praktisi reflektif yang mampu menggunakan data untuk mengambil keputusan instruksional yang lebih tepat (Mourshed. Chijioke, & Barber, 2. Kelima tahapan dalam pelaksanaan program pelatihan analisis butir soal berbasis teori klasik ini membentuk satu kesatuan strategi yang berkelanjutan dan berorientasi pada perubahan sistemik. Mulai dari membangun kesadaran dan keterlibatan awal melalui sosialisasi, memperkuat dasar konseptual dengan pelatihan teori klasik, memfasilitasi adopsi teknologi melalui pelatihan AI, menyediakan ruang praktik langsung untuk membentuk keterampilan, hingga memastikan keberlanjutan melalui pendampingan dan Keberhasilan program tidak hanya diukur dari ketercapaian output pelatihan, tetapi dari transformasi cara berpikir guru terhadap evaluasi pembelajaran. Dari yang semula bersifat administratif menjadi reflektif dan berbasis data. Dengan dukungan pendekatan teoritis, teknologi tepat guna, serta pendampingan yang humanis, program ini mampu menjawab tantangan nyata di lapangan dan menjadi model intervensi pendidikan yang kontekstual dan berkelanjutan di daerah kepulauan seperti Selayar. HASIL DAN PEMBAHASAN Peningkatan Pemahaman Guru terhadap Indikator Kualitas Soal Pelatihan analisis butir soal yang dilakukan di Kabupaten Kepulauan Selayar telah memberikan pemahaman baru bagi para guru mengenai pentingnya menyusun instrumen evaluasi yang tidak hanya lengkap secara kuantitas, tetapi juga berkualitas secara isi dan fungsional. Salah satu aspek yang mendapat perhatian serius adalah validitas, yakni sejauh mana suatu soal benar-benar mengukur kemampuan atau kompetensi yang hendak dicapai dalam pembelajaran. Dalam praktik sebelumnya, guru sering kali menyusun soal berdasarkan pengalaman subjektif tanpa merujuk pada indikator yang jelas. Melalui pelatihan ini, guru didorong untuk merancang kisi-kisi terlebih dahulu sebelum membuat soal, agar setiap butir memiliki dasar yang kuat dan tepat sasaran. Pemahaman terhadap validitas ini menjadi fondasi penting dalam memastikan bahwa hasil evaluasi mampu menggambarkan capaian belajar siswa secara objektif. Selain validitas, guru juga diperkenalkan dengan konsep tingkat kesukaran dan daya pembeda, dua indikator penting dalam teori klasik analisis butir soal. Tingkat kesukaran membantu guru mengetahui seberapa mudah atau sulit suatu soal bagi mayoritas siswa. Soal yang terlalu mudah atau terlalu sulit umumnya tidak memberikan informasi diagnostik yang berguna. Sementara itu, daya pembeda menunjukkan sejauh mana suatu soal mampu membedakan siswa yang menguasai materi dan yang belum. Melalui latihan dan analisis langsung terhadap data hasil ujian siswa, guru mulai menyadari bahwa soal yang baik bukan hanya yang dapat dijawab banyak siswa, tetapi juga yang memiliki kemampuan untuk menyaring dan memetakan kemampuan mereka. Pemahaman ini penting agar evaluasi dapat digunakan sebagai alat pemantau mutu pembelajaran yang akurat dan adil. Sebelum pelatihan, ketiga indikator tersebut sering kali diabaikan, sehingga proses evaluasi cenderung bersifat administratif dan kurang bermakna dalam Volume 5. Nomor 3. September . | eISSN: 2775-2054 Syahrul, dkk. / Pelatihan Analisis Butir Soal dengan Penerapan Teori A meningkatkan kualitas pembelajaran. Namun setelah mengikuti pelatihan, guru mulai menunjukkan perubahan yang signifikan dalam praktik mereka. Mereka tidak hanya menyusun soal secara lebih terencana, tetapi juga melakukan analisis hasil ujian untuk memperbaiki instrumen di masa depan. Pelatihan ini telah mendorong guru menjadi lebih reflektif dan ilmiah dalam menyikapi proses evaluasi pembelajaran. Hal ini sejalan dengan pandangan Nitko & Brookhart . yang menyatakan bahwa evaluasi tidak hanya bertujuan untuk mengukur hasil belajar, tetapi juga sebagai alat untuk memperbaiki proses belajar-mengajar secara berkelanjutan dan berbasis data. Efisiensi Penyusunan Soal dengan Bantuan Teknologi AI Pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam pelatihan analisis butir soal di Kabupaten Kepulauan Selayar menjadi salah satu inovasi penting yang berdampak langsung pada efisiensi kerja guru. Sebelum pelatihan, guru membutuhkan waktu hingga empat hingga lima jam untuk menyusun satu paket soal ujian secara manual, mulai dari merancang kisi-kisi hingga menulis butir soal berdasarkan level kognitif tertentu. Setelah diperkenalkan dengan aplikasi berbasis AI, durasi tersebut berkurang drastis hingga lebih dari 50%. Melalui sistem yang telah diprogram untuk merespon input seperti indikator pembelajaran, kompetensi dasar, dan level taksonomi Bloom, guru dapat menghasilkan soal secara otomatis hanya dalam hitungan menit. Hal ini sangat membantu guru yang selama ini terbebani oleh tuntutan administratif dan terbatasnya waktu, khususnya di daerah dengan sumber daya manusia dan teknologi yang terbatas. Lebih dari sekadar efisiensi waktu, teknologi AI juga memberikan nilai tambah dalam hal kualitas dan variasi soal yang dihasilkan. Guru tidak lagi hanya terpaku pada soal pilihan ganda sederhana, melainkan dapat mengeksplorasi berbagai bentuk soal, seperti uraian kontekstual atau soal berbasis stimulus. Namun demikian, pelatihan ini tetap menekankan bahwa AI hanyalah alat bantu, bukan pengganti profesionalitas guru. Guru tetap memiliki peran penting sebagai editor dan evaluator akhir, yang bertanggung jawab memastikan bahwa soal yang dihasilkan oleh sistem benar-benar sesuai dengan karakteristik siswa, konteks budaya sekolah, serta capaian pembelajaran yang diharapkan. Hal ini sejalan dengan peringatan OECD . bahwa dalam implementasi teknologi pendidikan, peran manusia sebagai pengambil keputusan utama tetap harus dijaga untuk menghindari kesenjangan dan dehumanisasi dalam proses belajar. Tantangan: Keterbatasan Infrastruktur dan Literasi Digital Meskipun pelatihan analisis butir soal dengan dukungan teknologi AI membawa angin segar dalam inovasi pendidikan, pelaksanaannya di Kabupaten Kepulauan Selayar tidak terlepas dari tantangan yang cukup kompleks, terutama terkait keterbatasan infrastruktur dan literasi digital. Beberapa sekolah mitra yang berada di pulau-pulau kecil mengalami kesulitan dalam mengakses jaringan internet yang stabil, bahkan masih terdapat sekolah yang belum memiliki perangkat komputer yang memadai. Keterbatasan infrastruktur ini menjadi hambatan serius dalam proses pelatihan maupun implementasi hasil pelatihan di lingkungan sekolah. Dalam konteks ini, transformasi digital dalam pendidikan sering kali tampak lebih mudah diterapkan di wilayah perkotaan, namun tidak semudah itu di daerah 3T . ertinggal, terdepan, dan terlua. seperti Selayar, yang masih berjibaku dengan persoalan dasar akses teknologi. Selain persoalan teknis, tantangan besar lainnya adalah rendahnya literasi digital di kalangan guru, terutama mereka yang telah lama mengajar dan belum terbiasa menggunakan perangkat lunak modern. Banyak dari mereka merasa canggung bahkan takut salah dalam mengoperasikan aplikasi berbasis AI. Hal ini berdampak pada kecepatan adopsi teknologi dan rasa percaya diri guru dalam mengikuti pelatihan. Untuk mengatasi tantangan ini, pendekatan yang dilakukan tim pengabdian bersifat personal dan bertahap, yaitu melalui pemetaan kebutuhan dan kemampuan awal peserta, kemudian membentuk kelompok belajar berdasarkan tingkat literasi digital masing-masing. Guru yang lebih mahir Volume 5. Nomor 3. September . | eISSN: 2775-2054 Syahrul, dkk. / Pelatihan Analisis Butir Soal dengan Penerapan Teori A ditugaskan menjadi mentor bagi rekan-rekan mereka yang membutuhkan bimbingan lebih Pendekatan ini sejalan dengan panduan UNESCO . yang menekankan pentingnya dukungan diferensial dalam pelatihan teknologi agar inklusif dan menghargai keunikan kemampuan peserta didik dewasa. Efektivitas Pendekatan Kontekstual dan Pendampingan Intensif Salah satu faktor kunci yang mendorong keberhasilan program pelatihan analisis butir soal di Kabupaten Kepulauan Selayar adalah pendekatan yang kontekstual dan interaktif, bukan semata-mata pada kekuatan materi yang disampaikan. Materi pelatihan memang penting, namun bagaimana materi tersebut disampaikanAidan kepada siapaAijauh lebih menentukan efektivitasnya. Program ini dirancang untuk menjawab kebutuhan nyata guru di lapangan, sehingga setiap sesi pelatihan disesuaikan dengan konteks geografis, kultural, dan kemampuan peserta. Pelatihan dilaksanakan secara tatap muka dengan metode diskusi, studi kasus, simulasi, dan praktik langsung, sehingga guru tidak hanya menjadi pendengar pasif, tetapi terlibat aktif sebagai pelaku dalam proses belajar. Pendekatan ini terbukti meningkatkan keterlibatan, rasa percaya diri, dan motivasi guru dalam mengikuti pelatihan secara utuh. Lebih dari itu, program ini juga menerapkan pendampingan berkelanjutan sebagai strategi untuk memastikan keberhasilan implementasi di sekolah. Guru tidak hanya dilatih pada tahap awal, tetapi juga didampingi dalam proses penyusunan soal, penerapan di kelas, hingga analisis hasil ujian. Pendampingan dilakukan dalam dua bentuk: kunjungan langsung ke sekolah mitra oleh tim pengabdian, dan bimbingan daring melalui grup diskusi dan mentoring personal. Interaksi yang konsisten ini membantu guru mengatasi kebingungan teknis, memperbaiki soal berdasarkan masukan, serta mengembangkan refleksi terhadap hasil asesmen yang dilakukan. Pendekatan ini juga mencegah guru kembali pada praktik konvensional lama yang kurang efektif. Seperti yang dikemukakan oleh Mourshed. Chijioke, & Barber . , intervensi pendidikan yang berhasil bukan hanya menyediakan pelatihan, tetapi juga menjamin adanya sistem pendukung yang mengawal perubahan praktik hingga benar-benar tertanam dalam budaya kerja sehari-hari. 5 Terbentuknya Komunitas Belajar Guru Salah satu dampak paling bermakna dari pelatihan ini adalah munculnya komunitas belajar guru yang tumbuh secara organik selama dan setelah pelaksanaan program. Komunitas ini terbentuk dari kebutuhan bersama akan ruang berbagi dan saling belajar di antara para guru yang memiliki semangat untuk terus berkembang. Di dalam komunitas ini, guru tidak hanya bertukar soal dan materi ajar, tetapi juga berbagi pengalaman praktis mengenai penyusunan soal, hasil analisis evaluasi, serta pemanfaatan teknologi AI dalam Forum ini menjadi ruang aman dan produktif bagi guru untuk bertanya, menyampaikan tantangan, dan mendapatkan solusi dari rekan sejawat. Melalui interaksi yang konsisten, komunitas ini berhasil meminimalkan rasa terisolasi yang sering kali dialami oleh guru di daerah kepulauan, sekaligus menumbuhkan rasa solidaritas profesi yang kuat. Lebih dari sekadar forum diskusi, komunitas belajar guru ini telah berkembang menjadi sarana dukungan moral dan pengembangan profesional berkelanjutan. Guru yang sebelumnya enggan menggunakan teknologi kini lebih percaya diri karena mendapatkan bimbingan dan contoh langsung dari teman sejawat. Pola interaksi yang terbentuk dalam komunitas ini mendorong terjadinya kolaborasi antar sekolah, lintas jenjang, bahkan lintas Semangat gotong royong yang muncul memperkuat pemahaman bahwa perubahan pendidikan tidak bisa dilakukan secara individual, melainkan membutuhkan komitmen kolektif dan jejaring yang saling menguatkan. Sejalan dengan gagasan Darling-Hammond et al. , komunitas profesional semacam ini memiliki potensi besar untuk menjadi motor penggerak inovasi pendidikan di daerah 3T secara mandiri dan berkelanjutan, terutama jika difasilitasi secara strategis oleh dinas pendidikan dan institusi pengampu. Volume 5. Nomor 3. September . | eISSN: 2775-2054 Syahrul, dkk. / Pelatihan Analisis Butir Soal dengan Penerapan Teori A Salah satu capaian paling signifikan dari pelaksanaan program pelatihan analisis butir soal di Kabupaten Kepulauan Selayar adalah terbentuknya komunitas belajar guru yang tidak hanya bersifat informal, tetapi telah menjadi ekosistem profesional yang hidup dan Komunitas ini lahir dari semangat kolektif para guru yang merasakan bahwa transformasi pembelajaran tidak dapat berlangsung dalam kesendirian, melainkan harus dibangun bersama melalui ruang-ruang dialog, refleksi, dan kolaborasi. Melalui komunitas ini, guru saling berbagi praktik baik, saling memberi umpan balik terhadap soal yang disusun, serta saling membantu dalam memahami dan memanfaatkan teknologi AI yang sebelumnya terasa asing. Komunitas ini menjadi jembatan yang mengatasi kesenjangan literasi digital antar generasi guru, sekaligus menjadi wadah penguatan kapasitas yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Tidak hanya itu, komunitas ini juga menciptakan budaya belajar yang lebih cair dan egaliter, di mana pengalaman lapangan dihargai setara dengan teori akademik. Dalam konteks geografis seperti Selayar yang terdiri dari banyak pulau, keberadaan komunitas ini menjadi solusi nyata terhadap isolasi profesional yang sering dirasakan guru, dan mendorong terbentuknya jaringan kolaboratif antar sekolah yang sebelumnya tidak saling terhubung. Ketika guru-guru mulai menyadari bahwa mereka tidak berjalan sendiri dalam menghadapi tantangan pembelajaran, di situlah tumbuh optimisme baru untuk terus berinovasi dan memperkuat kualitas pendidikan dari bawah ke atas, dengan kesadaran penuh bahwa perubahan bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau lembaga luar, tetapi dimulai dari solidaritas antar guru sebagai pelaku utama di ruang SIMPULAN Pelatihan analisis butir soal berbasis teori klasik yang dilaksanakan di Kabupaten Kepulauan Selayar telah menunjukkan keberhasilan nyata dalam meningkatkan kompetensi profesional guru, khususnya dalam merancang dan mengevaluasi instrumen asesmen pembelajaran yang bermutu. Dengan memahami konsep dasar seperti validitas, tingkat kesukaran, dan daya pembeda, guru tidak hanya mampu menyusun soal secara teknis, tetapi juga menjadi lebih reflektif dalam menilai efektivitas instrumen yang mereka Pendekatan ini mengubah cara pandang guru terhadap evaluasiAidari sekadar alat administratif menjadi sarana diagnostik yang mendalam terhadap capaian belajar Ketika dipadukan dengan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI), pelatihan ini tidak hanya mendorong peningkatan kualitas soal, tetapi juga efisiensi dalam waktu, variasi bentuk soal, dan pendokumentasian hasil belajar. Dengan demikian, integrasi antara teori klasik dan AI telah membentuk model evaluasi pembelajaran yang responsif terhadap tantangan zaman, namun tetap berpijak pada prinsip pedagogi yang kuat. Namun demikian, agar dampak dari pelatihan ini tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, diperlukan strategi keberlanjutan yang terencana dan kolaboratif. Pertama, dukungan infrastruktur seperti jaringan internet yang stabil dan ketersediaan perangkat komputer di sekolah harus menjadi prioritas, khususnya di wilayah kepulauan yang selama ini mengalami keterbatasan. Kedua, program ini perlu dikembangkan menjadi pelatihan lanjutan yang mencakup integrasi asesmen dengan pembelajaran diferensiasi, analisis data hasil evaluasi, dan pengembangan bank soal digital kolaboratif. Ketiga, perlu adanya kebijakan afirmatif dari pemerintah daerah dan dinas pendidikan dalam bentuk regulasi, insentif, serta pengakuan formal terhadap komunitas guru inovatif yang telah terbentuk. Hanya dengan sinergi antara pelatihan teknis, dukungan sistem, dan kebijakan yang berpihak pada transformasi pendidikan, maka inovasi seperti ini dapat ditransformasikan menjadi gerakan sistemik yang berkelanjutan dan mampu menjangkau seluruh pelosok wilayah kepulauan dengan cara yang adil dan merata. DAFTAR PUSTAKA