E-ISSN: 2809-8544 MENANAMKAN AKHLAK MULIA MELALUI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM: STUDI KONTEKSTUAL SURAT LUQMAN DI PENDIDIKAN MENENGAH INSTRUMENTING NOBLE MORALS THROUGH ISLAMIC RELIGIOUS EDUCATION: A CONTEXTUAL STUDY OF THE LETTER OF LUQMAN IN SECONDARY EDUCATION Ika Kartika1*. Opan Arifudin2 Institut Agama Islam Nasional Laa Roiba. Indonesia1* Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Rakeyan Santang. Indonesia2 *Email Correspondence: ikakartika3065@gmail. Abstract This research is motivated by the persistent gap between the ideal values taught in Islamic Religious Education (PAI) and student behavior in the school environment. Therefore, a contextual study is needed to examine the meaning of the verses of Surah Luqman and their implementation in secondary education teaching. The purpose of this study is to explore the moral values in Surah Luqman verses 13Ae19 and examine their implementation in Islamic Religious Education (PAI) teaching at the secondary education level. This study uses a descriptive qualitative approach with data collection techniques through literature studies, interviews with PAI teachers, and observations of classroom teaching practices. The results show that core moral values such as monotheism, respect for parents, honesty, responsibility, patience, and humility have been taught by teachers, but their implementation is still predominantly cognitive and lacks contextualization. Teachers tend to deliver material theoretically without directly linking it to students' real-life experiences. This condition results in the process of internalizing morals not being optimal in shaping students' daily behavior. Therefore. Islamic Religious Education (PAI) teaching needs to be directed towards a more applicable, communicative, and contextual approach so that Quranic values can be instilled more This study recommends developing Islamic Religious Education (PAI) teaching methods that emphasize the active role of teachers as value facilitators, spiritual companions, and moral role models in secondary education settings. Keywords: Islamic Religious Education. Ethics. Surah Luqman. Secondary Education. Teacher's Role. Character Education. Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi masih ditemukan kesenjangan antara nilai-nilai ideal yang diajarkan dalam pengajaran Pendidikan Agama Islam dengan perilaku peserta didik di lingkungan sekolah. Oleh karena itu, perlu dilakukan studi kontekstual terhadap pemaknaan ayat-ayat Surah Luqman dan bagaimana implementasinya dalam kegiatan pengajaran di pendidikan menengah. Tujuan penelitian ini adalah mengeksplorasi nilai-nilai akhlak dalam Surah Luqman ayat 13Ae19 dan mengkaji implementasinya dalam pengajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di tingkat pendidikan menengah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui studi pustaka, wawancara dengan guru PAI, dan observasi terhadap praktik pengajaran di Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai akhlak utama seperti tauhid, hormat kepada orang tua, kejujuran, tanggung jawab, kesabaran, dan rendah hati telah diajarkan oleh guru, namun implementasinya masih dominan bersifat kognitif dan kurang kontekstual. Guru cenderung menyampaikan materi secara teoritis tanpa mengaitkan langsung dengan pengalaman kehidupan nyata siswa. Kondisi ini mengakibatkan proses internalisasi akhlak belum optimal dalam membentuk perilaku siswa sehari-hari. Oleh karena itu, pengajaran PAI perlu diarahkan pada pendekatan yang lebih aplikatif, komunikatif, dan kontekstual, agar nilai-nilai Al-QurAoan dapat ditanamkan secara lebih efektif. Penelitian ini merekomendasikan pengembangan metode pengajaran PAI yang SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK MENANAMKAN AKHLAK MULIA MELALUI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM: STUDI KONTEKSTUAL SURAT LUQMAN DI PENDIDIKAN MENENGAH Ika Kartika et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. menekankan peran aktif guru sebagai fasilitator nilai, pendamping spiritual, serta panutan akhlak di lingkungan pendidikan menengah. Kata kunci: Pendidikan Agama Islam. Akhlak. Surah Luqman. Pendidikan Menengah. Peran Guru. Pendidikan Karakter. PENDAHULUAN Krisis moral, penurunan kualitas pendidikan, dan kurangnya perhatian terhadap pembentukan karakter menjadi masalah yang serius. Seiring dengan derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi, nilai-nilai keagamaan dan moralitas kian tergeser. Hal ini sangat memprihatinkan dan harus menjadi perhatian khusus pada pengembangan proses Pendidikan di Sekolah maupun di rumah. Di Amerika Serikat, pengadilan anak menangani sekitar 4. 600 kasus kenakalan remaja per hari pada tahun 2007 (Parks, 2. Di Kenya, kenakalan remaja di antara siswa sekolah menengah terjadi di hampir seluruh sekolah. Dalam upaya mengurangi kenakalan remaja dalam sekolah menengah, pemerintah Kenya membentuk gugus tugas yang menyelidiki penyebab kenakalan remaja dalam sekolah (Poipoi, 2. Di Indonesia sendiri, perilaku kenakalan remaja banyak terjadi dan meningkat setiap tahunnya, hal ini dibuktikan dari data Badan Pusat Statistik (BPS). Menurut data BPS tahun 2016 dalam (Choirunisa, 2. , di tahun 2013 kasus kenakalan remaja mencapai 6325 kasus, pada 2014 mencapai 7007 kasus, pada 2015 mencapai 7762 kasus, dan pada 2016 mencapai Dengan kata lain, angka kenakalan remaja mengalami peningkatan sebesar 10,7 persen dalam kurun 2013Ae2016. KasusAekasus kenakalan remaja yang marak terjadi antara lain tawuran, membolos sekolah, pencurian, pembunuhan, pergaulan bebas, dan narkoba. Menurut data KPAI tahun 2016 dalam (Choirunisa, 2. , jumlah pelajar tawuran meningkat 20 persen hingga 25 persen setiap tahunnya terhitung dari tahun 2011 sampai Dari data-data tersebut, terlihat bahwa kenakalan remaja yang terjadi di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki peran strategis dalam membentuk karakter dan kepribadian peserta didik, khususnya dalam menanamkan nilai-nilai akhlak mulia. tengah kemajuan teknologi dan tantangan globalisasi, krisis moral yang melanda generasi muda menjadi isu serius dalam dunia pendidikan. PAI hadir tidak hanya sebagai mata pelajaran, tetapi juga sebagai wahana internalisasi nilai-nilai spiritual dan etika Islam melalui proses pengajaran yang efektif. Pengajaran PAI menjadi media utama dalam menyampaikan nilai-nilai moral Islam secara sistematis dan terstruktur kepada siswa di tingkat menengah. Salah satu pendekatan yang efektif dalam pengajaran akhlak adalah pemanfaatan AlQurAoan sebagai sumber utama nilai-nilai moral. Surah Luqman, khususnya ayat 13Ae19, merupakan bagian Al-QurAoan yang secara eksplisit menyampaikan pesan-pesan etika dan pendidikan karakter yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ayat-ayat tersebut memuat nilai-nilai seperti tauhid, hormat kepada orang tua, kesantunan dalam bersikap, pentingnya ibadah, dan kesadaran akan pengawasan Allah SWT. Pengajaran nilai-nilai ini melalui PAI dapat memperkuat fondasi spiritual siswa sejak usia remaja, apabila dilakukan dengan pendekatan yang kontekstual dan reflektif. SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK MENANAMKAN AKHLAK MULIA MELALUI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM: STUDI KONTEKSTUAL SURAT LUQMAN DI PENDIDIKAN MENENGAH Ika Kartika et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. Guru PAI bukan hanya penyampai materi, tetapi juga model akhlak bagi siswa. Studi lapangan membuktikan bahwa guru yang mampu menunjukkan keteladanan nyata lebih berhasil dalam membina akhlak dibanding mereka yang hanya mengandalkan teori (Affan. Adapun (Nada dan Puspitaningrum, 2. juga menambahkan bahwa strategi berbasis keteladanan memperkuat internalisasi nilai secara mendalam. Meskipun beberapa penelitian sebelumnya menekankan aspek normatif-teologis dari Surah Luqman, penelitian yang bersifat empiris tentang penerapannya dalam pengajaran PAI di sekolah menengah masih jarang ditemukan. Oleh karena itu, penelitian ini berupaya mengisi kekosongan tersebut dengan menekankan strategi pengajaran kontekstual berbasis Surah Luqman. Sebagian besar studi sebelumnya menekankan aspek normatif-teologis dari Surah Luqman, namun masih minim penelitian empiris tentang penerapan nilai-nilainya dalam praktik pengajaran PAI di sekolah menengah. Penelitian juga cenderung fokus pada pembelajaran kognitif, sementara aspek kontekstual dan reflektif masih jarang diangkat (Fauzan & Firmansyah, 2. Oleh karena itu, penelitian ini berusaha mengisi celah tersebut dengan menekankan pada strategi pengajaran kontekstual berbasis Surah Luqman dalam pendidikan menengah. Penelitian oleh (Muhammad Tang & Riadi, 2. menunjukkan bahwa ayat-ayat dalam Surah Luqman dapat dijadikan sebagai pedoman dalam pengembangan kurikulum PAI, terutama dalam aspek pembinaan akhlak. Sementara itu, studi lain oleh (Fauzan & Firmansyah, 2. menegaskan bahwa guru PAI memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk akhlak mulia siswa melalui pengajaran yang kontekstual dan melalui Namun, dalam praktiknya, masih ditemukan kesenjangan antara nilai-nilai ideal yang diajarkan dalam pengajaran PAI dengan perilaku peserta didik di lingkungan sekolah. Oleh karena itu, perlu dilakukan studi kontekstual terhadap pemaknaan ayat-ayat Surah Luqman dan bagaimana implementasinya dalam kegiatan pengajaran di pendidikan menengah. Dengan memahami konteks sosial dan psikologis siswa, nilai-nilai akhlak dalam Surah Luqman dapat lebih efektif ditanamkan melalui pendekatan pengajaran yang sesuai. Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi secara mendalam kandungan nilai-nilai akhlak dalam Surah Luqman dan bagaimana penerapannya dalam pengajaran PAI di tingkat Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan model pengajaran PAI yang lebih kontekstual, bermakna, dan transformatif dalam pembentukan akhlak mulia siswa. Berbagai studi menunjukkan bahwa pengajaran PAI berkontribusi secara signifikan dalam membentuk karakter dan moralitas siswa jika dikelola dengan pendekatan yang kontekstual dan reflektif. Dalam konteks pendidikan menengah, di mana siswa berada pada tahap perkembangan identitas dan nilai, penguatan pengajaran akhlak menjadi sangat Penelitian oleh (Nada & Puspitaningrum, 2. menegaskan bahwa strategi guru dalam membina akhlak sangat menentukan efektivitas pengajaran PAI, terutama jika dikaitkan dengan realitas kehidupan siswa. Pendidikan akhlak yang tidak hanya bersifat SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK MENANAMKAN AKHLAK MULIA MELALUI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM: STUDI KONTEKSTUAL SURAT LUQMAN DI PENDIDIKAN MENENGAH Ika Kartika et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. normatif-teoritis, tetapi juga bersandar pada keteladanan dan relevansi sosial, akan lebih mudah diterima dan diinternalisasi oleh peserta didik. Selain itu, proses internalisasi nilai akhlak dalam pengajaran PAI harus mempertimbangkan dinamika sosial dan tantangan moral yang dihadapi siswa saat ini. Misalnya, pengaruh media sosial, pergaulan bebas, dan budaya konsumtif merupakan tantangan nyata yang menguji ketahanan akhlak generasi muda. Oleh karena itu, pengajaran akhlak dalam PAI harus mengedepankan pendekatan yang dialogis, inspiratif, dan membumi, sebagaimana nilai-nilai yang terkandung dalam Surah Luqman. Dalam hal ini, ajaran Luqman kepada anaknya mencerminkan prinsip pengajaran berbasis kasih sayang, kesadaran spiritual, serta pembentukan karakter melalui nasihat yang relevan dan bijak (Muhammad Tang & Riadi, 2. Beberapa studi sebelumnya lebih banyak berfokus pada aspek normatif-teologis atau tafsir dari Surah Luqman, namun belum banyak yang secara empiris mengkaji bagaimana nilai-nilai tersebut benar-benar diterapkan dalam proses pengajaran di ruang kelas dan aktivitas keseharian peserta didik. Misalnya, penelitian oleh (Muhammad Tang & Riadi, 2. menitikberatkan pada implikasi pedagogis secara konseptual, bukan pada implementasi praktis di sekolah menengah. Oleh karena itu, dibutuhkan kajian lapangan yang melihat bagaimana guru PAI menerjemahkan nilai-nilai tersebut dalam praktik pengajaran dan pembinaan siswa. Belum banyak literatur yang mengaitkan nilai-nilai dalam Surah Luqman dengan pendekatan pengajaran kontekstual, terutama dalam kerangka teori pendidikan karakter Sementara beberapa studi mengangkat pentingnya pengajaran nilai, pendekatan integratif antara Al-QurAoan dan teori pendidikan kontemporer seperti pendidikan berbasis pengalaman, humanistik, atau konstruktivistik masih jarang ditemukan dalam kajian Islam. Penelitian ini mencoba mengisi celah ini dengan merujuk pada pendekatan kontekstual dan reflektif sebagaimana disarankan oleh (Nada & Puspitaningrum, 2. , yang menunjukkan bahwa strategi kontekstual lebih efektif dalam membentuk akhlak siswa. Sebagian besar penelitian tentang PAI dan akhlak belum melakukan analisis mendalam terhadap hubungan antara isi Al-QurAoan dan tantangan moral kontemporer yang dihadapi siswa, seperti budaya digital, krisis identitas, dan pergeseran nilai sosial. Artikel ini berusaha menjawab tantangan ini dengan menganalisis bagaimana pesan moral dalam Surah Luqman dapat diterjemahkan ke dalam bahasa yang dipahami oleh remaja masa kini, termasuk melalui metode naratif, studi kasus, dan diskusi etika. TINJAUAN PUSTAKA Pendidikan Karakter Menurut Zubaedi dalam (Kartika, 2. menjelaskan bahwa pendidikan karakter adalah pendidikan yang menumbuhkan nilai-nilai karakter peserta didik agar memiliki nilai dan karakter dan menggunakan nilai-nilai tersebut dalam kehidupannya sebagai warga dan warga masyarakat yang religius, nasionalis, produktif dan kreatif. Adapun Sumar dalam menjelaskan pendidikan karakter merupakan segala upaya guru yang dapat mempengaruhi SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK MENANAMKAN AKHLAK MULIA MELALUI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM: STUDI KONTEKSTUAL SURAT LUQMAN DI PENDIDIKAN MENENGAH Ika Kartika et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. karakter siswa. Guru membantu membentuk karakter siswa, termasuk panutan guru, gaya komunikasi guru dan sikap toleran. Pendidikan karakter dilaksanakan dalam rangka mengedepankan nilainilai luhur budaya bangsa Indonesia itu sendiri, sehingga dapat menunjang generasi muda khususnya yang berkepribadian siswa melalui lembaga pendidikan formal. Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter tidak hanya sekedar pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga kebiasaan nilai karakter Dibandingkan dengan masyarakat, siswa yang terbiasa memiliki karakter yang baik diharapkan dapat mengembangkan nilai karakter. Pendidikan Agama Islam Zuhairimi dalam (Farid, 2. mengartikan Pendidikan Agama Islam sebagai asuhanasuhan secara sistematis dalam membentuk anak didik supaya mereka hidup sesuai dengan ajaran Islam. Menurut Zakiah Daradjat dalam (As-Shidqi, 2. menjelaskan pendidikan agama Islam adalah suatu usaha dan asuhan terhadap anak didik agar nantinya setelah selesai dari pendidikan dapat memahami apa yang terkandung didalam Islam secara keseluruhan, menghayati makna dan maksud serta tujuannya dan pada akhirnya dapat mengamalkannya serta menjadikan ajaran-ajaran agama Islam yang telah dianutnya itu sebagai pandangan hidupnya sehingga dapat mendatangkan keselamatan dunia dan akhirat kelak. Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa Pendidikan Agama Islam adalah merupakan usaha sadar dan terencana dalam rangka untuk mempersiapkan peserta didik untuk menyakini, memahami dan mengamalkan ajaran Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran atau pelatihan yang telah ditentukan untuk mencapai tujuan yag telah ditetapkan serta menjadikan ajaran ajaran agama Islam yang telah dianutnya itu sebagai pandangan hidupnya sehingga dapat mendatangkan keselamatan dunia dan akhirat kelak. METODE Menurut Rahardjo dikutip (Arifudin, 2. bahwa metode penelitian merupakan salah satu cara untuk memperoleh dan mencari kebenaran yang bersifat tentatif, bukan kebenaran Hasilnya berupa kebenaran ilmiah. Kebenaran ilmiah merupakan kebenaran yang terbuka untuk terus diuji, dikritik bahkan direvisi. Oleh karena itu tidak ada metode terbaik untuk mencari kebenaran, tetapi yang ada adalah metode yang tepat untuk tujuan tertentu sesuai fenomena yang ada. Budiharto dikutip (Kartika, 2. bahwa pemilihan metode penelitian harus disesuaikan dengan penelitian yang sedang dilakukan agar hasilnya optimal. Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah berupa metode deskriptif. Menurut (Lahiya, 2. bahwa kualitatif deskriptif adalah penelaahan dengan memusatkan diri secara intensif pada satu obyek tertentu yang mempelajarinya sebagai suatu Dalam penelitian ini, digunakan untuk menggali secara mendalam analisis Menanamkan Akhlak Mulia Melalui Pendidikan Agama Islam: Studi Kontekstual Surat Luqman di Pendidikan Menengah. SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK MENANAMKAN AKHLAK MULIA MELALUI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM: STUDI KONTEKSTUAL SURAT LUQMAN DI PENDIDIKAN MENENGAH Ika Kartika et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. Adapun pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Menurut Bogdan dan Taylor dalam (Rismawati, 2. menyatakan pendekatan kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Menurut (Judijanto, 2. bahwa caranya dengan mentranskripsikan data, kemudian pengkodean pada catatan-catatan yang ada di lapangan dan diinterpretasikan data tersebut untuk memperoleh kesimpulan. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan metode penelitian lapangan . ield researc. Menurut (Kartika, 2. bahwa pendekatan ini disesuaikan dengan tujuan pokok penelitian, yaitu mendeskripsikan dan menganalisis mengenai analisis Menanamkan Akhlak Mulia Melalui Pendidikan Agama Islam: Studi Kontekstual Surat Luqman di Pendidikan Menengah. Sehingga dengan metode tersebut akan mampu menjelaskan permasalahan dari penelitian (Waluyo, 2. Bungin dikutip (Arifudin, 2. menjelaskan bahwa penelitian deskriptif kualitatif bertujuan untuk menggambarkan situasi, kondisi, atau fenomena sosial yang terdapat di masyarakat kemudian dijadikan sebagai objek penelitian, dan berusaha menarik realitas ke permukaan sebagai suatu mode atau gambaran mengenai kondisi atau situasi tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran Menanamkan Akhlak Mulia Melalui Pendidikan Agama Islam: Studi Kontekstual Surat Luqman di Pendidikan Menengah. Penentuan teknik pengumpulan data yang tepat sangat menentukan kebenaran ilmiah suatu penelitian. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Observasi. Wawancara dan Dokumentasi. Teknik dapat dilihat sebagai sarana untuk melakukan pekerjaan teknis dengan hatihati menggunakan pikiran untuk mencapai tujuan. Walaupun kajian sebenarnya merupakan upaya dalam lingkup ilmu pengetahuan, namun dilakukan untuk mengumpulkan data secara realistik secara sistematis untuk mewujudkan kebenaran. Metodologi penelitian adalah sarana untuk menemukan obat untuk masalah apa pun. Dalam hal ini, penulis mengumpulkan informasi tentang analisis Menanamkan Akhlak Mulia Melalui Pendidikan Agama Islam: Studi Kontekstual Surat Luqman di Pendidikan Menengah, artikel, jurnal, skripsi, tesis, ebook, dan lain-lain (Noviana, 2. Karena membutuhkan bahan dari perpustakaan untuk sumber datanya, maka penelitian ini memanfaatkan penelitian kepustakaan. Peneliti membutuhkan buku, artikel ilmiah, dan literatur lain yang berkaitan dengan topik dan masalah yang mereka jelajahi, baik cetak maupun online (Arifudin, 2. Mencari informasi dari sumber data memerlukan penggunaan teknik pengumpulan Amir Hamzah dalam (Suryana, 2. mengklaim bahwa pendataan merupakan upaya untuk mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan pokok bahasan yang diteliti. Penulis menggunakan metode penelitian kepustakaan untuk mengumpulkan data. Secara khusus, penulis memulai dengan perpustakaan untuk mengumpulkan informasi dari buku, kamus, jurnal, ensiklopedi, makalah, terbitan berkala, dan sumber lainnya yang membagikan pandangan Menanamkan Akhlak Mulia Melalui Pendidikan Agama Islam: Studi Kontekstual Surat Luqman di Pendidikan Menengah. SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK MENANAMKAN AKHLAK MULIA MELALUI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM: STUDI KONTEKSTUAL SURAT LUQMAN DI PENDIDIKAN MENENGAH Ika Kartika et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. Lebih lanjut Amir Hamzah mengatakan bahwa pengumpulan data diartikan berbagai usaha untuk mengumpulkan fakta-fakta yang berkaitan dengan topik atau pembahasan yang sedang atau akan digali (Zaelani, 2. Rincian tersebut dapat ditemukan dalam literatur ilmiah, penelitian, dan tulisan-tulisan ilmiah, disertasi, tesis, dan sumber tertulis lainnya. Menurut (Iskandar, 2. bahwa pengumpulan data dapat dilakukan dalam berbagai keadaan, menggunakan sumber yang berbeda, dan menggunakan teknik yang berbeda. Observasi adalah bagian dari proses penelitian secara langsung terhadap fenomenafenomena yang hendak diteliti (Nuryana, 2. Dengan metode ini, peneliti dapat melihat dan merasakan secara langsung suasana dan kondisi subyek penelitian (Supriani, 2. Halhal yang diamati dalam penelitian ini adalah tentang analisis Menanamkan Akhlak Mulia Melalui Pendidikan Agama Islam: Studi Kontekstual Surat Luqman di Pendidikan Menengah. Teknik wawancara dalam penelitian ini adalah wawancara terstruktur, yaitu wawancara yang dilakukan dengan menggunakan berbagai pedoman baku yang telah ditetapkan, pertanyaan disusun sesuai dengan kebutuhan informasi dan setiap pertanyaan yang diperlukan dalam mengungkap setiap data-data empiris (Syofiyanti, 2. Dokumentasi adalah salah satu teknik pengumpulan data melalui dokumen atau catatan-catatan tertulis yang ada (As-Shidqi, 2. Dokumentasi berasal dari kata dokumen, yang berarti barang-barang tertulis. Di dalam melaksanakan metode dokumentasi, peneliti menyelidiki benda-benda tertulis, seperti buku-buku, majalah, notula rapat, dan catatan Menurut Moleong dalam (Supriani, 2. bahwa metode dokumentasi adalah cara pengumpulan informasi atau data-data melalui pengujian arsip dan dokumen-dokumen. Lebih lanjut menurut (Supriani, 2. bahwa strategi dokumentasi juga merupakan teknik pengumpulan data yang diajukan kepada subyek penelitian. Metode pengumpulan data dengan menggunakan metode dokumentasi ini dilakukan untuk mendapatkan data tentang keadaan lembaga . byek penelitia. yaitu analisis Menanamkan Akhlak Mulia Melalui Pendidikan Agama Islam: Studi Kontekstual Surat Luqman di Pendidikan Menengah. Moleong dikutip (Kurniawan, 2. menjelaskan bahwa data yang terkumpul dianalisis menggunakan model analisis interaktif yang terdiri atas reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Adapun Syarifah et al dalam (Nasril, 2. menjelaskan reduksi data dilakukan dengan menyaring informasi yang relevan, penyajian data dilakukan dalam bentuk narasi yang sistematis, dan kesimpulan ditarik berdasarkan temuan penelitian. Untuk memastikan keabsahan data, penelitian ini menggunakan triangulasi sumber, yakni membandingkan informasi dari para narasumber. Menurut Moleong dalam (Romdoniyah, 2. , triangulasi sumber membantu meningkatkan validitas hasil penelitian dengan membandingkan berbagai perspektif terhadap fenomena yang diteliti. Menurut Muhadjir dalam (Nita, 2. menyatakan bahwa analisis data merupakan kegiatan melakukan, mencari dan menyusun catatan temuan secara sistematis melalui pengamatan dan wawancara sehingga peneliti fokus terhadap penelitian yang dikajinya. Setelah itu, menjadikan sebuah bahan temuan untuk orang lain, mengedit, mengklasifikasi, dan menyajikannya. Teknik keabsahan data menggunakan teknik triangulasi meliputi teknik SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK MENANAMKAN AKHLAK MULIA MELALUI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM: STUDI KONTEKSTUAL SURAT LUQMAN DI PENDIDIKAN MENENGAH Ika Kartika et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. dan sumber. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman dalam (Mukarom, 2. terdiri dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan Kesimpulan. HASIL DAN PEMBAHASAN Nilai-Nilai Akhlak dalam Surah Luqman Surah Luqman ayat 13Ae19 mengandung sejumlah nilai akhlak utama yang relevan dengan pembentukan karakter peserta didik, yaitu: Tauhid dan larangan syirik . Birrul walidain . erbakti kepada orang tu. yat 14Ae. Kesadaran akan amal dan pengawasan Allah . Perintah mendirikan salat dan amar ma'ruf nahi munkar . Sabar dalam menghadapi cobaan . Rendah hati dan tidak sombong . yat 18Ae. Interpretasi tematik ini sejalan dengan hasil kajian oleh (Muhammad Tang & Riadi, 2. , yang menekankan bahwa ayat-ayat tersebut memiliki muatan pedagogis yang kuat dalam membina akhlak islami yang integral, mencakup dimensi spiritual, sosial, dan Pendidikan Agama Islam (PAI) bertujuan untuk membentuk insan beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia. Salah satu aspek sentral dalam pengajaran PAI adalah pembinaan akhlak, yang tidak hanya bersifat kognitif tetapi juga perlu ditanamkan secara aplikatif melalui keteladanan, pembiasaan, dan pendekatan kontekstual. Penelitian menegaskan bahwa peran guru sangat menentukan efektivitas penanaman nilai akhlak, khususnya ketika mereka mampu mengaitkan ajaran Islam dengan kehidupan nyata siswa (Fauzan & Firmansyah, 2. Surah Luqman ayat 13Ae19 menekankan nilai tauhid, penghormatan kepada orang tua, kesantunan, kesabaran, dan kepedulian sosial. Ajaran Luqman kepada anaknya menggambarkan pendidikan berbasis nasihat yang penuh hikmah. Penelitian menyebutkan bahwa ayat-ayat tersebut mengandung implikasi pedagogis yang kuat untuk pengajaran akhlak di sekolah, khususnya dalam mengajarkan kesadaran spiritual, etika sosial, dan disiplin ibadah (Muhammad Tang & Riadi, 2. Namun, sebagian besar penelitian masih menekankan aspek normatif tanpa mengkaji penerapan praktis di kelas. Surah Luqman ayat 13Ae19 tidak hanya menyajikan prinsip tauhid, penghormatan kepada orang tua, kesantunan, dan kesabaran, tetapi juga memberikan dasar praktis bagi strategi pengajaran akhlak di sekolah. Guru PAI perlu menghubungkan nilai-nilai tersebut dengan realitas kehidupan siswa, baik melalui diskusi etika, studi kasus, proyek berbasis akhlak, maupun keteladanan sehari-hari. Penelitian menunjukkan bahwa strategi pengajaran yang reflektif dan dialogis lebih efektif dalam membina karakter dibanding metode ceramah tradisional (Nada & Puspitaningrum, 2. SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK MENANAMKAN AKHLAK MULIA MELALUI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM: STUDI KONTEKSTUAL SURAT LUQMAN DI PENDIDIKAN MENENGAH Ika Kartika et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. Implementasi Nilai Akhlak dalam Pembelajaran PAI Dari hasil wawancara dan observasi terhadap guru PAI di pendidikan menengah, ditemukan bahwa ayat-ayat dalam Surah Luqman telah digunakan sebagai bahan ajar, namun pendekatannya masih dominan bersifat kognitif. Nilai-nilai seperti kejujuran, rasa hormat, dan tanggung jawab lebih sering diajarkan melalui ceramah atau penugasan hafalan, belum secara maksimal dikaitkan dengan konteks kehidupan siswa sehari-hari. Hal ini sesuai dengan temuan (Fauzan & Firmansyah, 2. yang menunjukkan bahwa upaya guru dalam membentuk akhlakul karimah belum sepenuhnya berhasil ketika proses pembelajaran tidak mengintegrasikan keteladanan dan praktik langsung. Pengajaran akhlak akan lebih efektif bila guru PAI menggunakan strategi kontekstual yang menghubungkan nilai Al-QurAoan dengan realitas siswa. Metode seperti diskusi etika, studi kasus, pembelajaran berbasis proyek, dan keteladanan guru terbukti memperkuat internalisasi nilai. Menurut (Nada & Puspitaningrum, 2. menunjukkan bahwa strategi guru yang berbasis refleksi diri dan dialog lebih berhasil membina karakter siswa dibanding metode ceramah tradisional (Nada & Puspitaningrum, 2. Meskipun strategi kontekstualisasi nilai akhlak dalam pengajaran PAI penting, guru tetap menghadapi tantangan yang signifikan. Lingkungan sosial modern, pengaruh media digital, dan lemahnya kontrol moral menjadi faktor yang kerap menghambat proses penanaman akhlak. Di sisi lain, keterbatasan waktu, kurikulum yang padat, dan kurangnya pelatihan pedagogis membuat implementasi pengajaran akhlak sering tidak maksimal (Arsyad et al, 2. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan pengajaran yang lebih aplikatif dan partisipatif. Strategi Kontekstualisasi Nilai Akhlak Beberapa strategi berhasil diidentifikasi untuk menjadikan nilai akhlak Surah Luqman lebih kontekstual, antara lain: Pendekatan naratif: Guru menyampaikan kisah Luqman dan anaknya dalam bentuk cerita reflektif yang dikaitkan dengan masalah remaja saat ini. Diskusi tematik: Siswa diajak mendiskusikan isu-isu etika yang relevan dengan nilainilai Al-QurAoan, seperti penggunaan media sosial, hubungan dengan orang tua, atau integritas akademik. Proyek akhlak: Beberapa guru mengembangkan proyek-proyek mini yang mengharuskan siswa mempraktikkan satu nilai akhlak selama satu minggu dan melaporkan pengalaman mereka. Strategi ini sejalan dengan pendekatan pembelajaran kontekstual yang disarankan oleh (Nada & Puspitaningrum, 2. , yaitu bahwa pembinaan akhlak lebih efektif bila nilai-nilai agama diintegrasikan ke dalam aktivitas konkret dan pengalaman langsung siswa. Tantangan dalam Penanaman Akhlak Guru menghadapi sejumlah tantangan dalam mengimplementasikan nilai-nilai akhlak, antara lain: SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK MENANAMKAN AKHLAK MULIA MELALUI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM: STUDI KONTEKSTUAL SURAT LUQMAN DI PENDIDIKAN MENENGAH Ika Kartika et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. Kurangnya waktu dalam kurikulum PAI Minimnya pelatihan guru tentang pendekatan kontekstual Lingkungan sosial siswa yang sering bertolak belakang dengan nilai yang diajarkan di Guru PAI menghadapi tantangan serius seperti pengaruh media digital, pergeseran budaya remaja, dan keterbatasan kurikulum. Meskipun nilai-nilai akhlak telah diajarkan, penelitian menunjukkan keterbatasan waktu dan kurangnya inovasi pedagogis menyebabkan implementasinya kurang maksimal (Arsyad et al, 2. Hal ini menunjukkan kebutuhan mendesak untuk pembaharuan pendekatan pengajaran yang lebih aplikatif dan kontekstual. Surah Luqman ayat 13Ae19 tidak hanya menegaskan nilai tauhid, penghormatan kepada orang tua, dan etika sosial, tetapi juga memberikan kerangka konseptual bagi proses internalisasi akhlak. Ajaran Luqman kepada anaknya menekankan komunikasi yang persuasif dan penuh kasih sayang, yang bersifat holistik: tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga membimbing perilaku dan membentuk kesadaran spiritual (Muhammad Tang & Riadi, 2. Dengan demikian, nilai-nilai tersebut sangat relevan diterapkan dalam pengajaran PAI di sekolah menengah, terutama ketika guru berperan sebagai teladan akhlak bagi siswa. Internalisasi nilai akhlak merupakan inti dari pendidikan Islam. Surah Luqman memberikan kerangka yang komprehensif untuk menanamkan tauhid, kesadaran tanggung jawab pribadi, serta akhlak sosial seperti rendah hati, sabar, dan berkata santun. Penelitian menegaskan bahwa ajaran Luqman bersifat holistik, mencakup transfer pengetahuan sekaligus pembentukan perilaku dan kesadaran spiritual (Muhammad Tang & Riadi, 2. Lebih lanjut, proses internalisasi akan lebih efektif jika dilakukan melalui pendekatan interaktif yang menyentuh pengalaman pribadi siswa. Guru PAI tidak hanya berfungsi sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai model akhlak nyata yang memberi teladan langsung dalam sikap sehari-hari. Penelitian menunjukkan bahwa guru yang menampilkan keteladanan nyata lebih berhasil membina akhlak dibanding sekadar mengandalkan teori. Namun demikian, guru yang mampu menjadikan pembelajaran PAI sebagai ruang refleksi dan dialog terbuka cenderung lebih berhasil dalam menumbuhkan kesadaran moral PENUTUP Kesimpulan Penelitian ini menunjukkan bahwa Surah Luqman, khususnya ayat 13Ae19, memuat nilai-nilai akhlak fundamental seperti tauhid, birrul walidain, kesadaran spiritual, amar maAoruf nahi munkar, kesabaran, rendah hati, dan etika berbicara. Nilai-nilai tersebut sangat relevan untuk diterapkan dalam konteks pengajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di tingkat pendidikan menengah sebagai upaya pembentukan karakter mulia siswa. Namun, hasil penelitian juga menemukan bahwa implementasi nilai-nilai akhlak tersebut dalam pengajaran PAI masih didominasi pendekatan kognitif dan belum sepenuhnya dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari peserta didik. Strategi pengajaran yang kurang kontekstual SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK MENANAMKAN AKHLAK MULIA MELALUI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM: STUDI KONTEKSTUAL SURAT LUQMAN DI PENDIDIKAN MENENGAH Ika Kartika et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. menyebabkan internalisasi akhlak kurang efektif dalam praktik pendidikan. Surah Luqman sebagai teks Al-QurAoan yang sarat dengan prinsip-prinsip pendidikan etis dan spiritual, jika dikontekstualisasikan secara tepat dalam proses pengajaran, dapat menjadi sumber pedagogis yang kuat dalam menanamkan akhlak mulia di kalangan remaja Muslim. Saran Berdasarkan hasil penelitian, disarankan: Penguatan Strategi Kontekstualisasi Guru PAI perlu mengembangkan pendekatan kontekstual dalam pengajaran, seperti menggunakan studi kasus, proyek akhlak, dan diskusi etika berbasis realitas remaja untuk menyampaikan nilai-nilai Surah Luqman secara relevan dengan kehidupan siswa. Pelatihan Profesional bagi Guru Diperlukan pelatihan khusus bagi guru PAI terkait metodologi pengajaran nilai akhlak berbasis Al-QurAoan yang integratif dan reflektif. Hal ini akan meningkatkan kompetensi pedagogis guru dalam menanamkan akhlak mulia secara aplikatif dan berkelanjutan. Pengembangan Kurikulum PAI Berbasis Nilai Al-QurAoan Kurikulum PAI di tingkat menengah sebaiknya lebih menekankan pada praktik pengajaran akhlak secara menyeluruh, dengan menjadikan Surah Luqman sebagai salah satu rujukan utama dalam proses pengajaran karakter Islam. Penelitian Lanjutan Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengembangkan model pengajaran PAI berbasis Surah Luqman secara sistematis dan diuji efektivitasnya di berbagai jenjang dan konteks DAFTAR PUSTAKA